Victor, ketua Black Mamba, duduk di ruang kerjanya yang megah namun suram. Dinding ruangan dihiasi lukisan abstrak bernuansa gelap, sementara meja kayu besar di depannya dipenuhi dokumen dan segelas wiski yang hampir kosong. Suasana tenang dipecahkan oleh ketukan pintu."Masuk," perintah Victor dengan suara rendah dan dingin.Pintu terbuka, dan Komisaris John melangkah masuk. Pria paruh baya itu mengenakan jas hitam rapi, namun sorot matanya yang tajam menunjukkan ada hal mendesak yang membebani pikirannya."Victor," sapa John sambil menutup pintu dengan hati-hati. "Kau terlihat terlalu santai untuk situasi sebesar ini."Victor tersenyum tipis, menunjuk kursi di depannya. "John, kau selalu dramatis. Duduklah dan katakan apa yang membuatmu datang malam-malam begini."John duduk tanpa basa-basi, meletakkan topinya di atas meja. Ia menghela napas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kasus lama itu... kasus Letnan Quenza. Kau tahu? Itu sedang diungkit lagi."Senyum Victor langsung memu
Komisaris John pulang ke rumahnya yang megah di kawasan elite. Begitu masuk ke ruang tamu, dia disambut oleh raut wajah kesal putrinya, Isabel, yang duduk di sofa.John melepas jasnya dan menggantungnya di dekat pintu. "Ada apa dengan wajahmu, Sayang? Siapa yang membuatmu kesal?" tanyanya dengan nada penuh perhatian, seperti biasa ketika menghadapi putrinya.Isabel mendesah keras, lalu menjentikkan rambutnya ke belakang dengan gerakan dramatis. "Papa, aku benar-benar tidak tahan lagi. Wanita itu... wanita bernama Eliza. Dia mengganggu hidupku!" John, yang tadinya hendak melangkah ke dapur untuk mengambil minuman, mengurungkan niatnya. Wajahnya berubah serius. Ia berjalan mendekati Isabel dan duduk di sebelahnya di sofa. "Eliza, kau bilang? Ceritakan lebih banyak. Apa yang dia lakukan padamu?" tanyanya sambil menatap putrinya dengan penuh perhatian.Isabel mengerutkan alisnya, jelas terganggu. "Dia muncul di rumah Renzo, Papa. Entah dari mana, seperti hantu! Kelvin jadi lengket padany
Victor datang ke rumah Diego dengan langkah penuh perhitungan. Pintu terbuka dengan gesekan halus, dan di hadapannya berdiri Eliza, mengenakan ekspresi yang sulit dibaca. Kali ini, dia tahu Diego tidak ada di rumah, memberikan Victor kesempatan untuk masuk tanpa gangguan."Kau datang lagi," ujar Eliza, suaranya datar, tetapi ada rasa tajam yang terkandung dalam kata-katanya.Victor tersenyum ramah, meski di balik senyum itu, ada ketegangan yang tertahan. "Nyonya Eliza, saya ingin bertemu dengan Yoona," jawabnya sopan, namun penuh makna.Eliza mendengus, nada suaranya dingin dan tajam. "Sudah sepantasnya kau bawa putrimu yang tak tahu malu itu," sindirnya tanpa berpikir panjang.Victor tetap tenang dan melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Eliza yang tampak tidak senang, namun tak menghalangi. "Ini rumahku, anda bisa keluar sekarang!" kata Eliza, suaranya sedikit meninggi, mencoba menegaskan dominasi.Victor menatapnya dengan senyum miring yang seolah mengandung tawa yang tersem
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Daniel memasuki gedung perusahaan besar milik Renzo. Dengan langkah mantap, dia membawa sebuah map tebal di tangannya, ekspresinya penuh tekad. Daniel meminta untuk bertemu Renzo, dan meskipun awalnya Renzo enggan menerima tamu di jam kerja, asistennya menyebut nama Letnan Quenza. Nama itu menghentikan Renzo sejenak.“Bawa dia masuk,” perintahnya singkat.Tak lama kemudian, Daniel berdiri di depan Renzo, mengulurkan tangan. "Pak Renzo, terima kasih sudah mau meluangkan waktu. Saya Daniel, sahabat Letnan Quenza sekaligus rekan kerjanya di divisi yang sama."Renzo tak menyembunyikan raut dingin di wajahnya. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya tanpa basa-basi, tangannya terlipat di dada.Daniel menatap Renzo serius. "Saya mau membicarakan sesuatu yang sangat penting. Saya sedang membuka kembali kasus kematian Letnan Quenza. Saya yakin, dia adalah korban konspirasi besar, dan—""Berhenti." Suara Renzo memotong tajam, membuat Daniel terdiam. Mata Ren
Isabel berdiri di ambang pintu kamar Kelvin, memperhatikan bocah kecil itu yang tengah duduk di kursi, menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Ada sesuatu dalam ekspresi Kelvin yang membuat Isabel menarik napas panjang, seolah menyusun rencana di kepalanya.Dengan senyum manis yang tampak dibuat-buat, Isabel melangkah masuk. "Kelvin," panggilnya dengan suara lembut. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"Kelvin menoleh perlahan, wajah polosnya menunjukkan sedikit kebingungan. "Tidak apa-apa, Tante Isabel. Aku cuma melihat burung di pohon itu."Isabel tersenyum, lalu jongkok di hadapan Kelvin, agar bisa menatapnya langsung. "Kau pasti bosan di dalam kamar terus, ya? Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain? Tante bisa mengajakmu main ayunan atau perosotan."Mata Kelvin berbinar, antusiasme mulai tumbuh di wajah kecilnya. "Benarkah, Tante? Kita bisa pergi sekarang?""Tentu saja," jawab Isabel sambil mengusap lembut kepala Kelvin. "Tapi kau harus berjanji akan menjadi anak yang man
Renzo berdiri di samping ranjang rumah sakit, menatap tubuh kecil Kelvin yang terbaring lemah dengan perban melilit di keningnya. Wajah putranya pucat, napasnya terdengar pelan, membuat dada Renzo terasa sesak. Ia mengepalkan tangannya, lalu menoleh ke arah Isabel yang berdiri di pojok ruangan dengan kepala tertunduk."Jelaskan padaku, Isabel!" Renzo berkata dengan suara bergetar, campuran antara amarah dan kesedihan. "Bagaimana ini bisa terjadi?!"Isabel mengangkat wajahnya, matanya merah seperti habis menangis. Ia mengambil napas dalam, dan mulai memberikan penjelasan palsu. "Renzo... aku benar-benar minta maaf... Ini semua salahku."Renzo melangkah maju, sorot matanya tajam menusuk. "Salahmu? Maksudmu apa? Kau janji akan menjaga Kelvin, Isabel! Kau tahu dia segalanya bagiku!"Isabel mulai menangis, air matanya mengalir deras di pipinya. "Aku tidak tahu, Renzo! Aku hanya meninggalkannya sebentar... ada panggilan telepon penting... Aku tidak sadar kalau Eliza tiba-tiba membawa Kelvin
Di sudut kafe yang tenang, Daniel dan Eliza duduk berhadapan. Suara pelan obrolan pengunjung lain bercampur dengan aroma kopi segar. Daniel menatap Eliza serius, mencoba membaca ekspresi wanita di depannya."Eliza," Daniel memulai dengan nada hati-hati, "apakah kamu bisa mengingat sesuatu atau punya ingatan tentang Letnan Quenza?"Eliza menghela napas dalam-dalam, mencoba mengurai kekacauan di pikirannya. Matanya tampak menerawang jauh, berusaha merangkai kepingan-kepingan mimpi yang terus membayangi."Aku coba," katanya akhirnya, suara sedikit bergetar. "Tapi aku kesulitan. Entah mengapa, aku tidak pernah bermimpi lagi. Tapi..." Eliza berhenti sejenak, menatap meja di depannya, lalu menatap Daniel penuh keyakinan. "Aku merasa... akulah Quenza."Daniel menegakkan tubuh, keningnya berkerut. Kata-kata itu menggantung di udara, menyisakan kebisuan yang berat. Ia terdiam cukup lama, antara percaya dan tidak. Namun, semua keterangan yang pernah diberikan Eliza, detail-detail kecil yang ia
Sesampainya di rumah, Diego membanting pintu dengan amarah yang meledak-ledak. Ia menatap Eliza dengan tatapan tajam, suaranya meninggi."Kau pikir kau bisa bertingkah seperti wanita jalang? Mendekati Daniel, dan sekarang mengganggu Renzo!" bentaknya.Eliza, yang masih berdiri dengan tenang, menatap Diego dingin. "Apa buktinya?" tanyanya tajam.Diego menggeram, melangkah mendekat hingga wajahnya hampir sejajar dengan Eliza. "Baru saja Renzo datang ke rumah. Kau mencelakai putranya hanya untuk mendapatkan perhatian darinya! Apa kau sudah gila?!"Eliza tersentak mendengar tuduhan itu, tetapi dia tidak mundur. "Jaga mulutmu, Diego. Renzo adalah suamiku, sementara kau? Kau bukan siapa-siapa bagiku!" teriaknya lantang.Diego terpaku, matanya membelalak marah. "Apa yang kau katakan? Aku ini suamimu, bukan Renzo! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!"Eliza mendekat, menantang Diego dengan penuh keberanian. "Percaya atau tidak, aku tidak peduli! Kau tidak akan pernah bisa memaksaku untuk t
Eliza berdiri mematung di bawah langit senja, warna keemasan menyelimuti halaman rumah Renzo. Karangan bunga memenuhi halaman rumah Renzo. membawa aroma kesedihan yang bercampur dengan rasa hormat. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan."Kau senang? Ini yang kau inginkan?" tanya Diego, suaranya datar, namun sorot matanya penuh tanya.Eliza menoleh perlahan, menatap Diego. Untuk sesaat, tak ada jawaban yang terucap. Kata-kata terasa seperti beban yang sulit diungkapkan. Benarkah ini yang ia inginkan? Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan selama ini."Aku tidak tahu, Diego," jawab Eliza akhirnya, suaranya lirih. "Aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku. Takdir ini... bukan pilihanku."Diego menghela napas, matanya menatap jauh ke arah bunga-bunga itu, seolah mencoba membaca makna yang tersembunyi di baliknya. "Takdir memang bukan pilihan, El. Tapi apa yang kau lakukan setelahnya, yang akan menentukan segalanya
Di tengah keheningan mencekam, hanya terdengar suara sirene mobil polisi dan percakapan samar melalui radio petugas. Asap tebal membubung dari reruntuhan gedung, menyelimuti area dengan aura suram dan menyesakkan.Diego dan Renzo terduduk lemas di tanah, wajah mereka memancarkan keputusasaan yang mendalam. Namun, di tengah keputusasaan itu, mereka menangkap gerakan kecil di rerumputan yang bergoyang tak jauh dari mereka."Apa itu?" Renzo bergumam, matanya penuh harapan bercampur rasa tak percaya.Tiba-tiba, sebuah penutup logam perlahan terangkat dari bawah tanah. Asap mengepul keluar dari dalam, dan detik berikutnya, kepala Eliza menyembul keluar, wajahnya berlumur darah dan debu, matanya penuh tekad meski lelah."Eliza!"Diego dan Renzo berteriak serempak, seruan mereka memecah keheningan. Dengan cepat, mereka berlari ke arahnya, tak peduli dengan luka di tubuh mereka.Mereka membantu Eliza keluar dari pintu bawah tanah. Eliza terbatuk-batuk, tubuhnya limbung, tetapi senyumnya tipis
"Ibu!" teriak Kelvin, suaranya penuh kebahagiaan dan kelegaan."Mama!" seru Miko, matanya bersinar cerah meskipun situasi masih mencekam.Eliza menatap kedua anaknya dengan lembut. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.Keduanya mengangguk dengan senyum kecil, meskipun masih tampak cemas."Kita harus pergi dari sini!" kata Diego tegas, wajahnya serius."Victor sudah memasang bom di gedung ini!" Sela Renzo.Kekhawatiran langsung melintas di mata Eliza. Waktu mereka sangat terbatas. "Kalian bawa anak-anak!" perintah Eliza, sambil menyentuh bahu Diego. "Aku akan melindungi kalian. Cepat!"Diego tanpa ragu menggendong Miko, dan Renzo segera menggendong Kelvin. Dengan langkah cepat dan hati-hati, mereka berlari keluar dari ruangan, menuju pintu utama. Eliza tetap berada di belakang, memastikan mereka aman, sembari mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun yang ada di depan. Tembakan terdengar di kejauhan, namun Eliza hanya fokus pada satu tujuan, melindungi keluarganya dan memastika
Damon tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pria berjas hitam di belakangnya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan ke meja dan menekan tombol yang memulai proses di layar monitor. Monitor besar itu menyala, menampilkan berbagai gambar dan data yang berpindah dengan cepat."Lihatlah," kata Damon, suara rendah namun penuh ketenangan. Dia memperhatikan ekspresi Eliza yang berubah saat layar memperlihatkan rekaman markas yang meledak, diikuti dengan gambaran tubuh Letnan Quenza yang terluka parah, tergeletak tanpa nyawa. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria bertubuh kekar, salah satu anak buah Damon, muncul membawa tubuh Letnan Quenza yang sekarat ke rumah sakit terdekat. Proses transfer memori yang menegangkan terlihat jelas di layar, alat-alat medis canggih digunakan untuk memindahkan semua ingatan Quenza ke tubuh Eliza yang telah dinyatakan mati."Tidak mungkin!" teriak Eliza, wajahnya berubah kaget dan marah. Dengan cepat, ia mengangkat senjata
Sesampainya di pusat kota, Eliza dengan cekatan menyembunyikan senjatanya di balik jaket panjang yang ia kenakan. Diego dan Renzo melakukan hal yang sama, memastikan tak ada yang mencurigai mereka.Mereka melangkah keluar dari mobil yang diparkir di sudut jalan, tubuh mereka sudah bersih dari luka-luka yang sempat mereka rawat seadanya. Hiruk-pikuk kota menyambut mereka, dengan keramaian manusia yang memadati jalan untuk merayakan hari kemerdekaan Mazatlán.Karnaval Mazatlán berlangsung meriah. Jalanan penuh dengan parade warna-warni, musik tradisional mengalun keras, dan sorak-sorai warga menambah semarak suasana. Polisi tampak berjaga di setiap sudut kota, mengawasi kerumunan dengan ketat.Eliza mengedarkan pandangannya dengan hati-hati. Matanya menelusuri setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan yang terasa sedikit janggal. Renzo dan Diego berjalan di belakangnya, sikap mereka sama waspadanya.Namun, suasana meriah itu berubah dalam sekejap.DUAR!Sebuah ledakan keras mengguncang
Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membuat jalanan sepi di depan terasa semakin sempit. Diego mengepalkan tangan di setir, matanya fokus ke mobil musuh yang melaju dari arah berlawanan."Aku akan adu banteng dengan mereka!" serunya."Diego, kau gila! Kita bisa mati!" Renzo berteriak, suaranya penuh kepanikan. la memegang dashboard dengan erat, keringat mengucur di wajahnya."Menunduk!" perintah Diego tanpa ragu, suaranya tegas.Eliza langsung merunduk, tapi matanya tetap memperhatikan situasi, rahangnya mengatup rapat. Sementara Renzo hanya bisa berteriak lagi. "Diego! Aku belum mau mati!"Mobil Diego dan musuh semakin mendekat, jarak di antara mereka hanya hitungan detik.BRAK!!Tabrakan keras terjadi. Mobil Diego menghantam mobil musuh dengan kekuatan penuh. Bunyi logam beradu memekakkan telinga, pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Benturan itu begitu hebat hingga mobil Diego terlempar ke luar jalur, berputar beberapa kali di udara sebelum menghantam tanah dengan keras.Tub
Eliza duduk di kursi belakang mobil, pandangannya tajam menatap ke luar jendela. Diego mengemudi dengan fokus, sementara Renzo duduk di kursi penumpang depan, menggenggam senjatanya dengan cemas. Ketiganya telah siap dengan senjata masing-masing, meninggalkan markas Antonio dan Daniel tanpa banyak bicara. Eliza tahu mereka tak bisa terus melibatkan orang lain dalam urusannya. Ia hanya berjanji akan menghubungi Antonio jika benar-benar dalam keadaan terdesak.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang ramai oleh kendaraan lain. Tujuan mereka adalah perbatasan kota, tetapi perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam. Suasana di dalam mobil terasa tegang, dan setiap suara dari luar terdengar lebih nyaring dari biasanya."Sepertinya kepergian kita ada yang membocorkannya lagi," kata Eliza tiba-tiba, matanya menatap kaca spion dengan waspada.Diego melirik spion tengah. "Kau yakin?"Renzo, yang penasaran, menyembulkan kepalanya keluar jendela, mencoba memastikan. "Sial! Tiga
Dari kejauhan, suara deru mobil mendekat, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh gemuruh api dari puing-puing markas Victor. Eliza, Diego, dan Renzo segera bangkit, tubuh mereka menegang dengan kewaspadaan tinggi.Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua pria muncul dari dalam—Antonio dan Daniel. Wajah mereka penuh kekhawatiran saat mereka bergegas menghampiri."Eliza, kau tidak apa-apa?" tanya Daniel, suaranya penuh kekhawatiran.Diego dengan cepat memotong, suaranya terdengar kesal. "Hei, jangan terlalu banyak bicara. Istriku terluka. Cepat bantu!"Daniel hanya mengangguk, memahami situasi tanpa membantah. Bersama Antonio, mereka membantu Eliza ke mobil, sementara Diego dan Renzo tetap berada di sisi Eliza, memastikan dia tidak semakin terluka.Di perjalanan, Eliza hanya diam, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dari lukanya. Renzo, yang duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan penuh perhatian, sementara Diego menggenggam tanga
Dentuman tembakan bergema, memantul di sepanjang koridor sempit dengan dinding-dinding beton. Eliza, Diego, dan Renzo bersembunyi di balik pilar besar, dada mereka naik turun seiring napas yang tak beraturan. Bau mesiu memenuhi udara, bercampur dengan keringat dan darah."Mereka semakin dekat," bisik Diego, matanya melirik ke arah lorong tempat musuh terus menembakkan peluru secara membabi buta."Diam!" bisik Eliza, wajahnya penuh dengan konsentrasi meskipun bahunya berdarah. Dia mengintip sedikit, cukup untuk melihat posisi musuh tanpa terlalu terekspos.Dor! Dor! Peluru menghantam pilar, serpihan beton terbang ke segala arah, memercik seperti hujan kecil."Kita tidak bisa terus di sini," Renzo berkata, tangannya menggenggam pistol erat-erat, suaranya gemetar tetapi penuh tekad.Eliza menyeka keringat di dahinya, rasa sakit dari luka tembak di pahanya hampir membuatnya lumpuh, tapi dia menolak menyerah. "Kita akan maju. Aku di depan, kalian di belakangku. Hitung sampai tiga, lalu kit