Share

Kau bukan suamiku

Penulis: Reinz Jr
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-16 12:39:09

Sesampainya di rumah, Diego membanting pintu dengan amarah yang meledak-ledak. Ia menatap Eliza dengan tatapan tajam, suaranya meninggi.

"Kau pikir kau bisa bertingkah seperti wanita jalang? Mendekati Daniel, dan sekarang mengganggu Renzo!" bentaknya.

Eliza, yang masih berdiri dengan tenang, menatap Diego dingin. "Apa buktinya?" tanyanya tajam.

Diego menggeram, melangkah mendekat hingga wajahnya hampir sejajar dengan Eliza. "Baru saja Renzo datang ke rumah. Kau mencelakai putranya hanya untuk mendapatkan perhatian darinya! Apa kau sudah gila?!"

Eliza tersentak mendengar tuduhan itu, tetapi dia tidak mundur. "Jaga mulutmu, Diego. Renzo adalah suamiku, sementara kau? Kau bukan siapa-siapa bagiku!" teriaknya lantang.

Diego terpaku, matanya membelalak marah. "Apa yang kau katakan? Aku ini suamimu, bukan Renzo! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!"

Eliza mendekat, menantang Diego dengan penuh keberanian. "Percaya atau tidak, aku tidak peduli! Kau tidak akan pernah bisa memaksaku untuk t
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Eliza sudah gila

    "Diego! Buka pintunya sekarang!" Eliza berteriak sambil menghantam pintu kayu sekuat tenaga. Napasnya memburu, tangannya mulai memerah, tapi ia tidak peduli."Diego! Kalau kau tidak buka pintu, aku bersumpah akan menghancurkan semuanya!" teriaknya lagi, suaranya pecah oleh amarah.Dari luar, Diego menjawab dengan nada tajam, "Aku tidak akan membiarkanmu keluar, Eliza! Kau hanya akan membuat masalah lagi. Apa kau mau lari ke Daniel, pria yang sama gilanya denganmu?""Diego, kau tidak mengerti!" Eliza memukul pintu lebih keras, hampir putus asa. "Kelvin, anakku, dia dalam bahaya! Aku harus keluar sekarang!"Diego tertawa sinis, meskipun matanya menyiratkan kebingungan. "Kelvin? Anak yang mana, hah? Kau bahkan tidak punya anak, Eliza! Apa kau benar-benar sudah kehilangan akal?"Eliza berhenti sejenak, suaranya gemetar, tapi tekadnya tetap kuat. "Kau tidak akan pernah mengerti, Diego. Tapi aku tahu, Kelvin adalah anakku. Aku bisa merasakannya. Dan aku tahu dia membutuhkan aku!"Diego meng

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Rintangan

    Daniel sudah bekerja keras selama berbulan-bulan, menyelidiki keterlibatan Letnan Quenza dengan Black Mamba. Namun, tidak ada bukti yang mengarah pada pembelotan Quenza. Penyelidikannya justru berhenti di Viktor, Komisaris John, dan beberapa anggota dewan pemerintah kota.Sebuah konspirasi besar tengah dijalankan dalam senyap. Siapa pun yang mencoba mengungkap kebenarannya, taruhannya adalah nyawa. Daniel yakin Letnan Quenza bukanlah pengkhianat, melainkan korban dari sistem yang korup."Aku harus menemui Eliza. Dia pasti tahu sesuatu tentang ini," gumam Daniel sambil mengetukkan jarinya ke meja.Di dalam ruang kerjanya yang kecil, Daniel mengumpulkan semua dokumen yang telah dia telusuri. Wajahnya terlihat letih, tapi tekadnya masih membara. Sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan—atasannya, Kapten Mahendra, muncul di depan pintu."Daniel, aku dengar kau masih terus mengorek kasus Quenza," ujar Kapten Mahendra, nada suaranya dingin.Daniel menoleh. "Saya hanya ingin kebenaran, Pak.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Eliza atau Quenza

    Eliza menatap Diego dengan tajam, menunjuk wajahnya dengan penuh keberanian.“Kau tidak bisa terus mengurungku, Diego!” bentaknya, suaranya tegas meskipun ia tahu situasi tidak berpihak padanya.Diego mendengus marah, langkahnya mendekat, matanya menatap Eliza seperti bara api.“Aku tidak peduli apa pun yang kau katakan. Aku benci melihatmu terlalu dekat dengan Daniel!” balasnya, nadanya penuh kecemburuan.Eliza mengangkat dagunya, tidak menunjukkan rasa takut.“Aku tak memiliki hubungan apa-apa dengan Daniel. Aku hanya ingin membalaskan dendamku pada Victor!” ucapnya dengan nada penuh penegasan.Diego tertawa sinis, berkata dengan nada mengejek.“Kau gila, Eliza. Ini sudah di luar nalar,” katanya sambil melipat tangan di depan dada, mencoba terlihat berkuasa.Eliza memutar matanya, menatap Diego tanpa gentar.“Aku tidak gila, Diego! Ini kenyataan yang harus kau terima!” serunya, suaranya semakin meninggi.Diego menatapnya tajam, kali ini wajahnya menunjukkan kebingungan bercampur ama

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Kejutan

    Apa yang kau sembunyikan?" suara Yoona memecah keheningan ruang tamu. Matanya tajam menatap Eliza, yang baru saja masuk dengan napas tersengal-sengal, menggenggam erat dokumen dari rumah Daniel."Bukan urusanmu!" Eliza menjawab kasar, tubuhnya sedikit bergetar, entah karena marah atau masih terpengaruh ketegangan sebelumnya.Yoona mendekat dengan langkah pasti, wajahnya penuh kecurigaan. "Aku harus tahu! Kau mencurigakan, Eliza. Apa yang sebenarnya kau bawa?"Eliza memutar badannya, mencoba menghindari Yoona yang berusaha merebut dokumen dari tangannya. "Kau tidak punya hak ikut campur dalam urusanku!" bentaknya.Yoona tak menyerah, tangannya terulur mencoba meraih dokumen tersebut. Tapi sebelum dia berhasil, plak!Tamparan keras Eliza mendarat di pipi Yoona, membuat langkahnya terhenti. Mata Yoona melebar karena kaget, sementara pipinya mulai memerah akibat tamparan tersebut.Jangan buat aku marah, Yoona," suara Eliza rendah namun penuh ancaman. Matanya menatap tajam ke arah Yoona. "

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Kelvin dalam bahaya

    Eliza memandangi dokumen yang terhampar di meja, membaca setiap detail yang sudah dikumpulkan oleh Daniel. Fakta tentang komisaris John yang memiliki seorang putri bernama Isabel semakin membuat pikirannya berkecamuk. Hubungan dekat Isabel dengan Renzo, ditambah dengan percobaan pembunuhan terhadap Kelvin, membuat Eliza tidak tenang.Dia menghela napas, mencoba menghubungkan semua potongan informasi. "Apa sebenarnya motif Isabel? Kenapa Kelvin menjadi target?" pikirnya.Naluri Letnan Quenza di dalam dirinya mengatakan ada sesuatu yang besar di balik ini. Meskipun belum jelas apa rencana Isabel, Eliza merasa Kelvin dalam bahaya."Aku harus menemui Renzo," gumam Eliza, suaranya tegas meski penuh kekhawatiran. "Aku khawatir Isabel akan berbuat lebih berani terhadap Kelvin."Namun, langkah itu tidak mudah. Dia tahu pertemuan dengan Renzo akan membawa banyak pertanyaan. Bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya? Apakah Renzo akan percaya jika dia mengatakan fakta yang dia temukan?"Tapi, bag

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Aku ingin bicara

    Eliza menepikan mobilnya tepat di pintu gerbang rumah Renzo yang masih tertutup. Dia keluar dan berdiri memandang sekitar rumah. Pandangannya tertuju ke arah jendela kamar Kelvin di lantai dua, tapi suasana rumah tampak sepi."Sepi..." gumam Eliza sambil mengerutkan dahi. "Apa aku harus ke kantornya Renzo? Tapi di mana kantornya?"Eliza menarik napas dalam-dalam, mencoba memutuskan langkah selanjutnya. Namun, tiba-tiba perhatian Eliza tertuju pada pintu rumah yang terbuka. Isabel muncul di ambang pintu, menatap tajam ke arahnya."Isabel? Sepagi ini di rumah Renzo?" Eliza berbicara pada dirinya sendiri, merasa heran.Isabel berjalan ke arah gerbang dengan wajah penuh amarah. Langkahnya tegas, dan matanya tidak pernah lepas dari Eliza."Sedang apa kau di sini?" tanya Isabel dengan nada ketus, berhenti di depan gerbang tanpa berniat membukanya."Bukan urusanmu!" balas Eliza singkat, suaranya tegas.Isabel mendengus, melipat tangannya di dada. "Dasar sialan, tak tahu malu! Berani-beraniny

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Mari bercerai

    Eliza keluar dari dalam mobil dengan langkah berat, perasaan kesal dan marah bercampur jadi satu di wajahnya. Ia mendengus kesal, menatap kosong ke depan sambil meremas kunci mobil di tangannya."Ah, sial!" umpatnya pelan, mengusap wajah dengan kasar, seolah ingin menghapus semua beban yang menekan pikirannya.Ia berdiri di depan pintu rumah, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun, pikirannya terus berputar. "Bagaimanapun caranya, aku harus bisa dekat dengan Kelvin," gumamnya dengan nada penuh tekad.Ketika pintu rumah terbuka, Eliza terkejut mendapati Yoona dan Diego berdiri di ruang tamu. Keduanya memandangnya dengan tatapan curiga, seolah-olah Eliza baru saja melakukan sesuatu yang memancing perhatian mereka."Kau dari mana?" suara Diego memecah keheningan, nada tegas penuh tuntutan.Eliza, tanpa ragu, menjawab dengan nada datar, "Bukan urusanmu."Diego menyipitkan mata, langkahnya maju mendekati Eliza. "Aku suamimu!" bentaknya, suaranya penuh amarah. "Aku yang ber

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Mertua gila harta

    "Ma, kau harus bantu aku," kata Yoona dengan nada mendesak, wajahnya penuh harap.Jasmina, yang sedang memandangi cermin, perlahan mengalihkan pandangannya pada Yoona, memperhatikan gerak bibir Yoona, tanpa ekspresi."Jangan lupa, Ma," lanjut Yoona sambil melipat tangan di dada. "Kau masih punya hutang padaku. Kali ini, buat Eliza tak nyaman di rumah ini. Aku tidak peduli bagaimana caranya."Jasmina tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Yoona dengan lembut, seolah mencoba menenangkan kegelisahannya."Tenang saja," katanya dengan nada penuh keyakinan. "Aku akan melakukannya. Tapi…" Jasmina menatap Yoona tajam. "Asal kau mentransfer uang ke rekeningku. Mama lagi butuh, tahu?"Yoona memutar bola matanya dengan kesal, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah, akan aku transfer. Tapi pastikan dia merasa tidak betah di sini."Jasmina mengangguk sambil tersenyum sinis. "Serahkan saja pada Mama. Eliza tak akan bertahan lama di rumah ini."Jasmina keluar dari kamarnya dengan langkah cepat, diikuti ole

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16

Bab terbaru

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Akhir segalanya.

    Eliza berdiri mematung di bawah langit senja, warna keemasan menyelimuti halaman rumah Renzo. Karangan bunga memenuhi halaman rumah Renzo. membawa aroma kesedihan yang bercampur dengan rasa hormat. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan."Kau senang? Ini yang kau inginkan?" tanya Diego, suaranya datar, namun sorot matanya penuh tanya.Eliza menoleh perlahan, menatap Diego. Untuk sesaat, tak ada jawaban yang terucap. Kata-kata terasa seperti beban yang sulit diungkapkan. Benarkah ini yang ia inginkan? Dia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dia harapkan selama ini."Aku tidak tahu, Diego," jawab Eliza akhirnya, suaranya lirih. "Aku hanya menjalani apa yang ada di hadapanku. Takdir ini... bukan pilihanku."Diego menghela napas, matanya menatap jauh ke arah bunga-bunga itu, seolah mencoba membaca makna yang tersembunyi di baliknya. "Takdir memang bukan pilihan, El. Tapi apa yang kau lakukan setelahnya, yang akan menentukan segalanya

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Berkumpul lagi

    Di tengah keheningan mencekam, hanya terdengar suara sirene mobil polisi dan percakapan samar melalui radio petugas. Asap tebal membubung dari reruntuhan gedung, menyelimuti area dengan aura suram dan menyesakkan.Diego dan Renzo terduduk lemas di tanah, wajah mereka memancarkan keputusasaan yang mendalam. Namun, di tengah keputusasaan itu, mereka menangkap gerakan kecil di rerumputan yang bergoyang tak jauh dari mereka."Apa itu?" Renzo bergumam, matanya penuh harapan bercampur rasa tak percaya.Tiba-tiba, sebuah penutup logam perlahan terangkat dari bawah tanah. Asap mengepul keluar dari dalam, dan detik berikutnya, kepala Eliza menyembul keluar, wajahnya berlumur darah dan debu, matanya penuh tekad meski lelah."Eliza!"Diego dan Renzo berteriak serempak, seruan mereka memecah keheningan. Dengan cepat, mereka berlari ke arahnya, tak peduli dengan luka di tubuh mereka.Mereka membantu Eliza keluar dari pintu bawah tanah. Eliza terbatuk-batuk, tubuhnya limbung, tetapi senyumnya tipis

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Akhir sebuah dendam

    "Ibu!" teriak Kelvin, suaranya penuh kebahagiaan dan kelegaan."Mama!" seru Miko, matanya bersinar cerah meskipun situasi masih mencekam.Eliza menatap kedua anaknya dengan lembut. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya, khawatir.Keduanya mengangguk dengan senyum kecil, meskipun masih tampak cemas."Kita harus pergi dari sini!" kata Diego tegas, wajahnya serius."Victor sudah memasang bom di gedung ini!" Sela Renzo.Kekhawatiran langsung melintas di mata Eliza. Waktu mereka sangat terbatas. "Kalian bawa anak-anak!" perintah Eliza, sambil menyentuh bahu Diego. "Aku akan melindungi kalian. Cepat!"Diego tanpa ragu menggendong Miko, dan Renzo segera menggendong Kelvin. Dengan langkah cepat dan hati-hati, mereka berlari keluar dari ruangan, menuju pintu utama. Eliza tetap berada di belakang, memastikan mereka aman, sembari mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun yang ada di depan. Tembakan terdengar di kejauhan, namun Eliza hanya fokus pada satu tujuan, melindungi keluarganya dan memastika

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Damon

    Damon tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pria berjas hitam di belakangnya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berjalan ke meja dan menekan tombol yang memulai proses di layar monitor. Monitor besar itu menyala, menampilkan berbagai gambar dan data yang berpindah dengan cepat."Lihatlah," kata Damon, suara rendah namun penuh ketenangan. Dia memperhatikan ekspresi Eliza yang berubah saat layar memperlihatkan rekaman markas yang meledak, diikuti dengan gambaran tubuh Letnan Quenza yang terluka parah, tergeletak tanpa nyawa. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria bertubuh kekar, salah satu anak buah Damon, muncul membawa tubuh Letnan Quenza yang sekarat ke rumah sakit terdekat. Proses transfer memori yang menegangkan terlihat jelas di layar, alat-alat medis canggih digunakan untuk memindahkan semua ingatan Quenza ke tubuh Eliza yang telah dinyatakan mati."Tidak mungkin!" teriak Eliza, wajahnya berubah kaget dan marah. Dengan cepat, ia mengangkat senjata

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Teroris

    Sesampainya di pusat kota, Eliza dengan cekatan menyembunyikan senjatanya di balik jaket panjang yang ia kenakan. Diego dan Renzo melakukan hal yang sama, memastikan tak ada yang mencurigai mereka.Mereka melangkah keluar dari mobil yang diparkir di sudut jalan, tubuh mereka sudah bersih dari luka-luka yang sempat mereka rawat seadanya. Hiruk-pikuk kota menyambut mereka, dengan keramaian manusia yang memadati jalan untuk merayakan hari kemerdekaan Mazatlán.Karnaval Mazatlán berlangsung meriah. Jalanan penuh dengan parade warna-warni, musik tradisional mengalun keras, dan sorak-sorai warga menambah semarak suasana. Polisi tampak berjaga di setiap sudut kota, mengawasi kerumunan dengan ketat.Eliza mengedarkan pandangannya dengan hati-hati. Matanya menelusuri setiap wajah di kerumunan, setiap gerakan yang terasa sedikit janggal. Renzo dan Diego berjalan di belakangnya, sikap mereka sama waspadanya.Namun, suasana meriah itu berubah dalam sekejap.DUAR!Sebuah ledakan keras mengguncang

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Ide gila Diego

    Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membuat jalanan sepi di depan terasa semakin sempit. Diego mengepalkan tangan di setir, matanya fokus ke mobil musuh yang melaju dari arah berlawanan."Aku akan adu banteng dengan mereka!" serunya."Diego, kau gila! Kita bisa mati!" Renzo berteriak, suaranya penuh kepanikan. la memegang dashboard dengan erat, keringat mengucur di wajahnya."Menunduk!" perintah Diego tanpa ragu, suaranya tegas.Eliza langsung merunduk, tapi matanya tetap memperhatikan situasi, rahangnya mengatup rapat. Sementara Renzo hanya bisa berteriak lagi. "Diego! Aku belum mau mati!"Mobil Diego dan musuh semakin mendekat, jarak di antara mereka hanya hitungan detik.BRAK!!Tabrakan keras terjadi. Mobil Diego menghantam mobil musuh dengan kekuatan penuh. Bunyi logam beradu memekakkan telinga, pecahan kaca beterbangan ke segala arah. Benturan itu begitu hebat hingga mobil Diego terlempar ke luar jalur, berputar beberapa kali di udara sebelum menghantam tanah dengan keras.Tub

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Pantang mundur

    Eliza duduk di kursi belakang mobil, pandangannya tajam menatap ke luar jendela. Diego mengemudi dengan fokus, sementara Renzo duduk di kursi penumpang depan, menggenggam senjatanya dengan cemas. Ketiganya telah siap dengan senjata masing-masing, meninggalkan markas Antonio dan Daniel tanpa banyak bicara. Eliza tahu mereka tak bisa terus melibatkan orang lain dalam urusannya. Ia hanya berjanji akan menghubungi Antonio jika benar-benar dalam keadaan terdesak.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang ramai oleh kendaraan lain. Tujuan mereka adalah perbatasan kota, tetapi perjalanan itu akan memakan waktu berjam-jam. Suasana di dalam mobil terasa tegang, dan setiap suara dari luar terdengar lebih nyaring dari biasanya."Sepertinya kepergian kita ada yang membocorkannya lagi," kata Eliza tiba-tiba, matanya menatap kaca spion dengan waspada.Diego melirik spion tengah. "Kau yakin?"Renzo, yang penasaran, menyembulkan kepalanya keluar jendela, mencoba memastikan. "Sial! Tiga

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Musuh atau sahabat

    Dari kejauhan, suara deru mobil mendekat, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh gemuruh api dari puing-puing markas Victor. Eliza, Diego, dan Renzo segera bangkit, tubuh mereka menegang dengan kewaspadaan tinggi.Sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua pria muncul dari dalam—Antonio dan Daniel. Wajah mereka penuh kekhawatiran saat mereka bergegas menghampiri."Eliza, kau tidak apa-apa?" tanya Daniel, suaranya penuh kekhawatiran.Diego dengan cepat memotong, suaranya terdengar kesal. "Hei, jangan terlalu banyak bicara. Istriku terluka. Cepat bantu!"Daniel hanya mengangguk, memahami situasi tanpa membantah. Bersama Antonio, mereka membantu Eliza ke mobil, sementara Diego dan Renzo tetap berada di sisi Eliza, memastikan dia tidak semakin terluka.Di perjalanan, Eliza hanya diam, mencoba menahan rasa sakit yang menjalar dari lukanya. Renzo, yang duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan penuh perhatian, sementara Diego menggenggam tanga

  • ISTRI YANG TAK DIAKUI   Lolos dari maut

    Dentuman tembakan bergema, memantul di sepanjang koridor sempit dengan dinding-dinding beton. Eliza, Diego, dan Renzo bersembunyi di balik pilar besar, dada mereka naik turun seiring napas yang tak beraturan. Bau mesiu memenuhi udara, bercampur dengan keringat dan darah."Mereka semakin dekat," bisik Diego, matanya melirik ke arah lorong tempat musuh terus menembakkan peluru secara membabi buta."Diam!" bisik Eliza, wajahnya penuh dengan konsentrasi meskipun bahunya berdarah. Dia mengintip sedikit, cukup untuk melihat posisi musuh tanpa terlalu terekspos.Dor! Dor! Peluru menghantam pilar, serpihan beton terbang ke segala arah, memercik seperti hujan kecil."Kita tidak bisa terus di sini," Renzo berkata, tangannya menggenggam pistol erat-erat, suaranya gemetar tetapi penuh tekad.Eliza menyeka keringat di dahinya, rasa sakit dari luka tembak di pahanya hampir membuatnya lumpuh, tapi dia menolak menyerah. "Kita akan maju. Aku di depan, kalian di belakangku. Hitung sampai tiga, lalu kit

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status