Home / Romansa / ISTRI SIRI TENTARA ALIM / Chapter 321 - Chapter 330

All Chapters of ISTRI SIRI TENTARA ALIM: Chapter 321 - Chapter 330

348 Chapters

Bab 316. Keputusan Senja

."Sebentar, ya. Kamu duluan ke belakang, nanti Tante nyusul," bisik Elmi. "Tante ssolat duluh."Rumah Lani perlahan mulai lengang setelah acara aqiqah selesai. Aroma sate yang masih menguar bercampur dengan angin sore yang semakin dingin. Beberapa tamu masih bercakap-cakap di teras, menunggu giliran beranjak pulang untuk sholat Maghrib.Di halaman, beberapa anak kecil berlarian, tertawa-tawa sambil menggenggam permen yang dibagikan tadi. Suara sendok dan piring masih beradu di dapur, pertanda beberapa ibu-ibu sedang membereskan sisa hidangan."Dilanjut nanti saya, Yu. Ayo sholat duluh," ajak Towirah."Iya, giliran, Yu," jawab salah satu tetangganya.Di sudut lain, setelah sholat, Senja duduk di bawah pohon jeruk yang rindang. Matanya menerawang ke langit, memandangi warna jingga yang mulai memudar. Sejak tadi, ia merasa dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang belum tuntas dalam pikirannya."Senja!"Sebuah suara mengagetkannya. Azra datang berlari kecil, membawa sisa permen yang tadi i
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 317. Menguatkan

Aqiqah hampir usai. Usai makan, tamu-tamu mulai berpamitan, beranjak pulang untuk Maghrib. Di teras, anak-anak masih berlarian, tertawa. Di pojok ruangan, Mira masih menggendong Excel. Bayi itu tertidur pulas, tubuh mungilnya hangat di dada Mira, terbungkus selendang yang dililit dengan rapi. Towirah tadi yang mengajarinya cara menggendong dengan benar. Towirah memang masih suka cara lama, menggendong bayi dengan selendang. Makanya dia selalu pakai gendong Excel, selendang yang dihadiai Marni itu.Rey menyandarkan punggungnya ke tiang, memperhatikan Mira yang terlihat begitu alami sebagai seorang ibu. Ia menyilangkan tangan di dada.“Kamu udah cocok, Mir,” ujarnya pelan.Mira menoleh dengan alis terangkat. “Cocok apanya?”Rey mendekat, melirik bayi dalam gendongan Mira. “Gendong bayi. Jadi ibu.”Mira mencibir. “Jadi ibu tuh nggak sekadar bisa gendong bayi, Rey.”Rey mengangguk, masih tersenyum. “Tapi kamu cocok. Aku serius.”Mira menghela napas, berusaha tak menggubris. Tapi Rey tak
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more

Bab 318. Fiting baju

Rumah Bu Gita pagi itu ramai dengan suara tawa kecil dan percakapan pelan. Dupa membakar di sudut ruangan, bercampur aroma bunga kenanga yang menggantung di pintu masuk. Ukiran kayu jati di dinding dan rak berisi kain-kain batik lawas memberi nuansa klasik yang khas.Mira melangkah ragu ke dalam, sementara Rey berjalan di belakangnya dengan santai. Matanya menelusuri berbagai kebaya yang tergantung rapi di balik lemari kaca besar."Sudah siap fitting?" suara Bu Gita terdengar ramah, wajahnya berseri. Wanita setengah baya yang masih cantik di usianya itu tersenyum ramah.Mira mengangguk, sementara Rey hanya tersenyum tipis."Wah, bener kata kamu, Marni. Ngak tanggung-tanggung besarnya menantumu ini.""Iya, Bu. Ngak tau dikasih makan apa sama bapaknya sampai bisa sebesar itu."Semua terkekeh. Kecuali MIra yang menunduk malu.Bu Gita menepuk-nepuk tangannya, memberi isyarat agar Rey lebih mendekat. "Nak Rey, coba pasangkan beskapnya. Biar kelihatan cocok atau nggak di badanmu. Kapan hari
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 319. Pengganti

Siang itu, hawa panas terasa menusuk kulit. Angin hanya berhembus pelan, tak cukup untuk mengusir rasa gerah yang menempel. Agna duduk di ruang tamu, tangannya menggenggam ponsel, menekan layar berulang kali.Nada sambung berbunyi.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Tetap tidak ada jawaban.Agna menghela napas, menempelkan ponsel ke dada. Ada rasa kesal bercampur gelisah. Sejak tadi, Arhand tidak mengangkat teleponnya."Aduh, ke mana sih dia?" gumamnya.Ia melirik meja di hadapannya. Ada semangkuk sup yang masih mengepul, tapi tak menarik perhatiannya sama sekali. Lidahnya ingin yang lain. Bukan makanan yang sudah disiapkan di rumah.Perut terasa aneh, seperti menuntut sesuatu.Mbok Minah, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarganya sendiri, datang membawa segelas es jeruk. "Nona, kok dari tadi sibuk teleponan terus?""Nyari Arhand, Mbok," jawab Agna, masih merajuk. "Aku pengen makan rujak, tapi harus dia yang nyuapin."Mbok Minah tertawa pelan. "Lho, kenapa harus Tuan Arhand? Kan b
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

Bab 320. Saat sudah memilihmu

Arhand berdiri dengan rahang mengeras. Napas berat, tangan mengepal, dada bergejolak. Kata-kata Arya menusuk, membuat amarah membuncah."Kamu pikir aku bisa membiarkan Agna melahirkan tanpa suami?" suara Arya tegas. "Orang-orang akan menertawakan keluarga kita. Mereka akan bertanya siapa bapaknya. Kamu siap melihat dia menanggung beban itu?"Arhand mengalihkan pandangan, menatap Agna yang duduk di sofa empuk itu dengan wajah menunduk. Mata perempuan itu berkaca-kaca, ragu, takut."Dia tidak sendiri," suara Arhand rendah, tapi penuh ketegasan. "Aku akan ada untuknya. Sampai kapan pun.""Omong kosong!" Arya membentak. "Kalau kamu benar-benar peduli, kamu akan menikahinya! Bukan membiarkan dia melahirkan sebagai perempuan tanpa status!"Arhand mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku ingin memperbaiki semua. Kita tidak bisa menutup kesalahan dengan kesalahan baru.""Kesalahan?" Sandra menatap tajam. "Kamu pikir menikahi Agna adalah kesalahan?""Kalau caranya seperti ini, ya!"Arya menekan pe
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 321. Di mana kamu?

Agna menyesap air putih, lalu menatap hidangan sahur yang tersaji. Nasi hangat, lauk menggugah selera dengan berbagai jenis masakan, dan teh manis. Ini hari pertama ia berniat berpuasa setelah sekian lama meninggalkan kebiasaan itu.Sandra mengunyah pelan sambil menatapnya. "Kamu yakin mau puasa?"Agna tersenyum kecil. "InsyaAllah.""Jangan sampai terjadi apa-apa lagi dengan kandungan kamu. Kamu sekarang sudah baikan dan sudah mau berangkat kerja kan?""Aku akan coba., jika masih tak nyaman, aku akan berhenti. Ini juga tinggal beberpaa hari, Mi.""Bagaimana, kamu apa sudah menghubungi Arhand kembali?"Sejenak kata-kata Arya membuat Agna menatapnya.Beri aku waktu, Pi." Arya mendengus."Aku semalaman sedang berfikir, Papi yang salah atau Arhand kah yang salah?""Papi tak pernah salah, Agna. Semua itu demi kebaikanmu. Demi kariermu.""Tapi Arhand juga benar, Pi. Dan Agna yang beberapa hari ini ingin belajar banyak tentang agama, tau bahwa Arhand benar."Sandra diam sesaat. Matanya taj
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

Bab 322. Aku telah mencintanya

Dari tadi Sandra mondar-mandir di depan jendela, melirik ke luar, berharap melihat Agna pulang. Namun, langit mulai menggelap, tanda waktu berbuka puasa semakin dekat, dan Agna masih belum juga tiba.“Ke mana sih anak itu?” gumam Sandra.Di sofa, Arya duduk dengan ekspresi yang tak kalah cemas. Ia mencoba tetap tenang, namun gerak-gerik resah Sandra membuatnya ikut waspada.“Jangan-jangan dia mencari Arhand?”Sandra menoleh cepat. Tatapan tajamnya menyiratkan ketidaksukaan. “Kalau benar, ini salah siapa? Kamu yang buat ide gila itu, kan?”Arya menghela napas. “Aku hanya ingin menyelamatkan reputasi keluarga.”Sandra menatapnya sinis. “Menyelamatkan? Atau memperburuk? Agna jelas masih berharap pada Arhand, tapi kamu malah mengancam menikahkannya dengan orang lain!”Arya menajamkan rahangnya. “Lalu, apa kau tahu apa yang kudengar dari seorang teman yang mnelponku?”Sandra mengerutkan dahi.Arya menarik napas panjang sebelum berkata, “Siang tadi, seorang teman memberitahu kalau dia melih
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 323. Memastikan

Arhand menggeser ponselnya ke ujung meja, menatap layar yang baru saja ia buka kembali setelah beberapa hari dia blokir. Nama Agna terpampang jelas di sana.Pesan itu masuk seketika."Arhand, ku di mana? Aku telah mencarimu dan menghubungimu berkali kali tapi kamu tak dapat dihubungi."Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu, cepat atau lambat, perbincangan ini harus terjadi. Ia tak bisa terus menghindar.Tangannya bergerak lambat, mengetik balasan. ",Kenapa?"Tak sampai lima detik, panggilan masuk. Arhand menatap layar sebentar sebelum akhirnya mengangkat.Suara Agna terdengar lemah, namun penuh desakan. “Kenapa kamu blokir aku? Kamu tahu betapa susahnya aku mencarimu?”Arhand mengusap wajah, mencoba meredam emosi. “Aku butuh waktu.”“Tapi aku nggak punya waktu, Arhand.”Hening.Agna menarik napas dalam. “Kita harus menikah.”Arhand menutup mata. Ia sudah menduga ini. “Karena tekanan keluarga atau karena kamu benar-benar ingin?”“Kalau aku bilang dua-duanya?” suara Agna merendah.Ar
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

Bab 324. Kenapa saya?

Sandra melipat tangan, bersandar di meja makan. Mata beningnya menatap Arya yang tengah bersiap mengenakan jam tangan."Papi tahu itu Sendang Agung?" tanyanya.Arya menghentikan gerakannya sejenak, melirik ke arah istrinya. "Duluh sih pernah ke sana. Cuma sekarang sudah lupa-lupa ingat."Sandra menggeleng kecil. "Kalau nggak tahu, tanya Agna. Dia pasti tahu daerah itu. Itu daerah terbesar yang mendukung Agna saat pemilu.""Baiklah. Aku lebih baik tanya dia daripada tanya Geoglemap."Dari arah ruang tengah, Agna yang baru saja keluar dari kamarnya mendengar percakapan itu. Alisnya mengernyit."Siapa yang ada di Sendang Agung?"Arya menoleh. "Tamsir tonggal di sana. Dia mengajar di perguruan terbesar di desa itu."Agna terdiam. Nama itu tak familiar di telinganya. "Mengajar? Dia guru?"Arya melanjutkan, nada suaranya datar. "Iya. Aku mau bicara dengannya soal pernikahanmu."Jeda singkat.Agna melipat tangan di dada. "Papi yakin dengan anak itu?""Yang penting bisa menutup aib. Setelah an
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 326. Butuh jawaban

Malam turun ketika Tamsir melangkah ke tepi jalan. Ransel digendong erat, tubuh sedikit lelah setelah seharian penuh aktivitas. Udara terasa lembap, aroma tanah setelah hujan masih terasa. Lampu jalan berpendar redup, sesekali bayangan kendaraan melintas cepat di depan matanya."Kak, mau ke mana?" Senja dan Azra yang mau pergi darusan ke mushola, menyapanya."Kakak mau pulang, Senja. Kan pembelajaran sudah selesai," ucap Tamsir sambil tengok berkali- kali barangkali ada angkot yang lewat."Tapi habis lebaran, kembali kan?"Azra menyikut sahabatnya itu."Ya, tentu. Kan belum libur sekolahnya.""Aku nanti sekolah pindah ke sini lho, Kak," ucap Senja sambil lebih dekat dengan Tamsir. Gadis yang akan genap sebelas tahun di hari lebaran dengan tinggi badan sudah 160cm itu, tak jauh tingginya dari Tamsir. Tamsir bahkan merasa kikuk didekati Senja."Kalau gitu selamat. Dan seharusnya mulai sekarang kamu latihan panggil aku, Pak.""Ntar deh. Kan belum juga resmi pindahnya. Nunggu tahun ajaran
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more
PREV
1
...
303132333435
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status