Home / Romansa / ISTRI SIRI TENTARA ALIM / Chapter 311 - Chapter 320

All Chapters of ISTRI SIRI TENTARA ALIM: Chapter 311 - Chapter 320

348 Chapters

Bab 306. Bayi yang ditunggu

Langit masih gelap ketika Alzam menggoyang pelan bahu Senja. "Ayo bangun, nanti keburu sholat Subuh datang," suaranya lembut, tapi cukup tegas.Senja menggeliat pelan di atas sofa kecil yang disediakan di kamar rumah sakit. Kelopak matanya masih berat, tapi suara Alzam membuatnya berusaha sadar sepenuhnya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, dia mendengus kecil."Lima menit lagi..." gumamnya sambil menarik selimut.Alzam tersenyum kecil, lalu menepuk bahu anak tiri sekaligus keponakannya itu, sekali lagi. "Nanti kesiangan. Kakak mau belikan buat sahur. Kamu mau apa? "Senja yang tadinya malas-malasan langsung membuka mata. "Bubur ayam, tapi jangan pakai seledri!" katanya cepat."Oke, nanti Kakak carikan. Tapi sekarang, ayo bangun."Dengan sedikit ogah-ogahan, Senja akhirnya bangkit. Setelah wudhu, dia sholat tahajut di sebelah Alzam. Suasana di kamar rumah sakit masih sepi. Hanya terdengar suara lembut lantunan doa dari bibir mereka. "Jangan tidur lagi, sebentar lagi Kakak be
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 307. Cemas

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun ketika Senja mengayuh sepedanya melewati jalan desa. Udara segar mengisi paru-parunya, membawa aroma khas sawah yang luas membentang. Roda sepeda berdecit pelan saat ia mengerem di depan rumah yang sudah lama tak disinggahinya.Pintu kayu terbuka, dan dari dalam, seorang gadis kecil dengan kerudung ungu berlari keluar. Wajahnya berbinar, lalu tanpa ragu, dia memeluk Senja erat.“Senja!”Tawa renyah mereka bercampur, membawa kembali kenangan lama.“Kamu tambah tinggi!” seru Azra, matanya penuh rasa ingin tahu.“Ah, biasa aja! Kamu juga tambah cantik,” balas Senja.Azra tertawa kecil, lalu menarik tangan sahabatnya masuk ke dalam rumah. Mereka langsung duduk di beranda, seperti dulu saat mereka menghabiskan sore dengan menghafal ayat-ayat pendek.“Gimana sekolah di kota? Seru nggak?” tanya Azra sambil merangkul sahabatnya itu.Senja meletakkan tangan sahabatnya sebelum menjawab. “Seru, tapi beda banget sama di sini. Semua serba internet.
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 308. Kapan kamu bisa kupeluk?

Malam turun perlahan, membawa keheningan yang diselingi suara binatang malam. Lani berbaring gelisah, tangannya menekan dada yang mulai terasa panas dan kencang. Napasnya tak beraturan, keringat dingin membasahi pelipis."Bulek, badannya panas dingin." Mira berbisik pada Towirah yang masih sibuk mencatat siapa saja yang datang tilik bayi.Towirah mengangkat wajah. "Sudah minum obatnya tadi?"Lani menggeleng pelan. "Nggak ada hubungannya, Bu. Ini cuma karena asi terlalu deras."Towirah menatapnya dalam-dalam. Ia tahu anaknya selalu punya asi yang berlimpah. Sejak hamil, Lani rajin minum kuah kacang hijau yang direbus lama, membuat tubuhnya terbiasa menghasilkan asi lebih banyak. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Bayinya tak ada, sedangkan tubuhnya tetap memproduksi asi seperti biasa.Mira menatap Lani dengan raut bingung. "Kenapa nggak dipompa aja, Lani?"Lani menutup matanya sebentar, mencoba menahan nyeri yang semakin menusuk. "Nggak kepikiran beli pompa asi waktu beli perlengkapan b
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 309. Kangen

"Mir, bayi Alzam gimana?" tanya Rey begitu Mira mengangkat telpon.Mira menahan sendok yang hendak masuk ke mulutnya. Suara Rey terdengar datar, tapi ada sesuatu di balik nada itu."Telpon itu bilang salam duluh kek, ngak langsung gini."Rey terkekeh. "O iya, lupa. Assalamualaikum, Cayangku!""Hm, manis sekali ujungnya.""Tuh, nggak jawab salam malah bilang begitu.""Iya, sampai lupa juga denger terakhirnya." Mira menatap Mbok Sarem yang makan bersamanya. "Walaikumussalam, Raksasa Darat!""Tuh, kan, nggak enak didengernya. Aku bilang Cayang, kamu bales gitu.""Habisnya aku sebel ingat kamu kalau bilang cayang begitu.""Kenapa? Ingat tatapan mesraku ya?""Ingat tatapanmu yang membuatku takut.""Kok takut?"Mira menyimpan senyumnya. Takut jadi makin sayang kamu, Rey, bathinnya. Walau Rey tidak tampan, entah kenapa Mira suka senyumnya yang kharismatik dan penuh ketulusan."Hey, pertanyaanku belum kamu jawab ya?""Yang mana?""Itu tentang bayi Alzam.""Masih di rumah sakit. Tadi sore Lani
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 310. Adik, jangan nangis!

"Azra, ayo!" teriak Senja di depna rumah Azra dengan maaih menaiki sepedanya."Sebentar, kamu kok pagi-pagi banget sih? Nggak sabar mau renang ya?"godanya."Iya, cepetan!""Sebentar, aku masih pakai babydoll."Azra lalu masuk lagi ke rumahnya."Sudah siap?" tanya Senja lagi. Dia menyandarkan tubuh ke dinding, menunggu Azra yang masih sibuk di dalam kamar. Matanya melirik ke arah sepeda yang sudah terparkir rapi di halaman."Hampir," sahut Azra dari dalam.Mata Senja melirik jam di pergelangan tangannya. "Kalau kelamaan, matahari keburu naik."Azra keluar dengan handuk yang masih menggantung di bahu. "Santai, air sendang tetap ada."Mereka tertawa kecil.Baju yang mereka kenakan sekarang jauh berbeda dibanding waktu kecil. Dulu asal lompat, asal main. Sekarang mereka lebih memilih pakaian yang tetap nyaman, tapi tidak memperlihatkan lekuk tubuh.Aminah, ibu Azra, muncul dari dapur. "Kalian masih suka berenang di sendang?"Senja tersenyum. "Ini suda kepingin sekali, Bu. Rasanya nostalgia
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 311. Bubur bayi

Agna berdiri di depan gerobak bubur bayi yang berwarna kuning dengan tulisan tangan di papan kayu: "Bubur Sehat untuk Buah Hati". Uap hangat mengepul dari panci besar, menebarkan aroma beras yang lembut bercampur kaldu ayam.Tukang bubur, seorang ibu berkerudung dengan senyum ramah, mengusap tangannya ke celemek sebelum menyapa. "Mbak, berapa umur bayinya?"Agna membeku. Otaknya berputar, tapi tidak ada jawaban yang terasa benar. Dia menelan ludah. "Eh... umur bayi?"Ibu penjual tersenyum lebih lebar. "Iya, Mbak. Biasanya bayi mulai makan bubur setelah enam bulan."Sial. Kenapa dia tidak kepikiran kalau orang akan bertanya seperti ini? Bukankah dia hanya ingin membeli bubur? Jantungnya berdegup lebih cepat."Memangnya ada batasan umur bayi untuk makan bubur?" tanya Agna akhirnya, mencoba terdengar santai."Enggak juga, sih. Tapi kalau terlalu kecil, lebih baik ASI saja. Sampai enam bulan, kan?"Agna mengangguk cepat, padahal dia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Dia juga tidak b
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 312. Ujian

"Ibu ini siapa, ya?"Agna mengerjapkan mata, berusaha menetralkan perasaan yang tiba-tiba saja bergejolak. Seorang ibu memakai gamis berdiri di hadapannya, mata penuh selidik menelusuri wajahnya dari ujung kepala sampai ujung kaki."Bu Agna, kan?"Sekujur tubuh Agna menegang. Tangannya mencengkeram tas kecil yang dibawanya, jari-jari terasa dingin."Eh, iya. Saya Agna, Bu," jawabnya dengan suara setenang mungkin.Ibu tua itu menyipitkan mata, seakan-akan tengah membandingkan sesuatu dalam ingatannya. "Kok beda, ya? Kamu sekarang nggak pakai hijab, juga nggak serapi dulu. Dulu kalau datang ke sini wangi, pakai make up. Sekarang... duh, hampir nggak kenal."Beberapa ibu yang berdiri di sekitar langsung menoleh, menatap Agna dari kepala hingga kaki. Bisik-bisik mulai terdengar, beberapa bahkan terang-terangan menunjuk ke arahnya."Makanya, aku tadi juga ragu. Beneran Bu Agna? Wah, kirain orang lain.""Berubah banget, ya? Dulu anggun, sekarang malah kayak...""Jangan-jangan karena stres d
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 313. Menoreh luka

Marni menimang bayi Lani, senyumnya lebar, matanya berbinar. Jemarinya yang mulai berkerut mengelus pipi bulat bayi itu. Bayi mungil itu bergerak sedikit, seolah merasa nyaman dalam dekapan Marni."Aduh, anak ganteng," ujar Marni dengan nada penuh kasih sayang. "Lihat ini, hidungnya mancung, rambutnya lebat, matanya coklat. Persis bapaknya."Seorang ibu yang berdiri di dekatnya ikut berseru, "Iya, ya! Ibunya cantik, bapaknya ganteng, anaknya juga tampan. Iya, kan?"Suasana menjadi riuh dengan tawa kecil. Beberapa ibu lain mendekat, berusaha mengintip wajah mungil bayi itu lebih jelas."Hidungnya mirip Lani," sahut ibu yang lain."Tapi bentuk wajahnya Alzam banget," timpal yang lain lagi."Kayaknya nanti kalau besar bakal jadi idola perempuan-perempuan di desa ini," tambah seorang ibu dengan nada menggoda.Bayi itu tiba-tiba membuka matanya, bola matanya yang coklat tampak berkilau di bawah sinar matahari. Dia menggerakkan kepalanya perlahan, seolah memperhatikan semua orang yang menge
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

bab 314. Problema

Suara air sendang beriak pelan ketika seorang anak kecil datang berlar mendekati sendang. wajahnya cerah. "Kak, mau ikut renang juga?" tanyanya polos, sebelum langsung melompat ke dalam air bersama teman-temannya. Arhand dan Agna tersenyum kecil, melihat anak-anak itu bercanda dan bermain. Namun, ada yang mengganjal di hati Agna. Ia melirik Arhand, berharap laki-laki itu menjawab pertanyaannya tadi. Namun, Arhand tetap tenang, hanya melambai kepada anak-anak yang berenang. Agna mendengus, merasa dongkol. Tak lama, langkah kaki terdengar. Senja dan Azra datang dengan wajah cerah. "Kak, kok masih di sini!" seru Senja, berjalan santai ke arah mereka. "Kebetulan, ayo renang, Kak " Azra menyahut. Arhand mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Kayaknya asik juga." "Jangan-jangan takut basah?" goda Senja. Arhand menatap sendang. Airnya tampak jernih, menenangkan. Namun, bukan itu yang memenuhi pikirannya sekarang. Ia lalu melirik Agna. "Kamu mau ikut nggak?" tanyanya dengan nada menggod
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 315. Excel Al Farizi

Suasana rumah Lani lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, halaman depan sudah dipenuhi sanak saudara yang datang dari berbagai tempat. Beberapa tetangga membantu di dapur, memasak daging kambing yang sudah disembelih pagi tadi. Para lelaki duduk di bawah tenda sederhana, menyiapkan tusuk sate dengan cekatan.Towirah menggendong bayi mungil yang baru selesai dimandikan. Pipinya merona, rambutnya yang hitam dan lebat terlihat kontras dengan kulitnya yang masih kemerahan."MasyaAllah, lihat rambutnya ini! Persis rambut ibunya," seru Marni, yang tengah duduk di dekat pintu sambil mengipasi wajahnya karena kepanasan habis masak di tungku. Orang sini kalau masak besar memang masih pakai tungku dengan kayu yang banyak terdapat di desa itu.Salma terkekeh. "Kalau nanti timbang rambutnya, pasti berat. Bisa-bisa lebih mahal dari harga kambingnya," godanya.Towirah tertawa kecil, membetulkan selendang yang ia gunakan untuk menggendong bayi itu. "Kalau mirip bapaknya gimana?" tanyanya."Tuh!" Tuk
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
1
...
303132333435
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status