All Chapters of Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal: Chapter 351 - Chapter 360

470 Chapters

351. Luka Hati Lila

Lila menatap layar laptopnya dengan fokus, jari-jarinya lincah mengetik di atas keyboard. Tumpukan dokumen yang perlu ia periksa semakin menggunung, tapi pikirannya terusik oleh sesuatu yang tak biasa.Biasanya, mendekati jam makan siang, Delisa akan datang ke ruang kerjanya. Kadang mengajak makan siang bersama, kadang hanya sekadar meminta uang jajan.Tetapi sejak Delisa tidak lagi bekerja di Mahendra Securitas, kebiasaan itu tidak ada lagi. Tidak ada ketukan di pintu, tidak ada suara Delisa yang selalu ceria mengganggunya.Lila menghela napas dalam-dalam. Mungkin saat ini Delisa sedang sibuk dengan urusannya sendiri.Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka dengan tergesa-gesa. Nadya masuk dengan ekspresi panik sambil membawa ponselnya."Lila, kamu lihat ini?" Nadya bertanya tanpa basa-basi, lalu menyodorkan layar ponselnya.Lila mengernyit. "Apa?"Ia mengambil ponsel itu dan melihat sebuah unggahan di media sosial. Matanya membelalak saat melihat foto yang terpampang di layar.Delisa be
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

352. Hadiah

Sean menggenggam tangan Lila dengan lembut, menuntunnya ke sofa. Ia membiarkan istrinya duduk terlebih dahulu sebelum duduk di sampingnya.“Tarik napas dulu,” ucap Sean pelan, mengusap punggung Lila dengan lembut.Lila menutup matanya sejenak, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Sekarang, ceritakan padaku,” Sean berkata dengan nada tenang, menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata.Lila menelan ludah sebelum membuka suara. “Lisa pergi ke Australia, Sean,” ucap Lila dengan suara bergetar. “Dia pergi tanpa memberitahuku. Aku baru tahu dari media sosialnya! Bahkan, Ayah dan Ibu tidak memberi tahuku apa pun.”Sean terdiam sejenak, membiarkan Lila mengeluarkan isi hatinya.“Aku tidak mengerti, Sean. Selama ini aku yang selalu membantu mereka. Aku yang selalu ada untuk mereka. Tapi kenapa aku yang terakhir tahu tentang kepergian Delisa? Apa aku benar-benar tidak dianggap di keluarga sendiri? Bahkan aku tahunya juga secara tidak sengaja. Aku lihat di status me
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

353. Istirahat Sejenak

Nadya menatap amplop cokelat itu, lalu dengan ragu menyodorkannya kembali kepada Sekar. “Maaf, Bu. Tapi saya benar-benar tidak bisa menerimanya.”Sekar menghela napas, menatap Nadya dengan lembut namun tegas. “Kamu pantas menerimanya, Nadya. Kamu sudah bertaruh nyawa untuk menyingkirkan benalu dalam rumah tangga putraku. Itu bukan hal kecil.”Nadya menggeleng. “Saya melakukan itu dengan ikhlas, Bu. Saya memang sudah berencana untuk memberi peringatan pada Delisa. Tetapi saya tidak menyangka semuanya akan menjadi masalah besar.”Sekar tersenyum tipis. “Justru karena kamu melakukannya dengan ikhlas, aku ingin memberimu ini. Aku sangat menghargai apa yang sudah kamu lakukan. Jika bukan kamu yang bertindak mungkin Delisa belum pergi dari kehidupan Sean.”Namun, Nadya tetap bersikeras. “Sebagai sahabat, saya hanya ingin melindungi Lila. Saya tidak berharap imbalan apa pun.”Bagi Nadya sudah terlalu banyak pemberian dari keluarga Wismoyojati untuk dia dan keluarga. Meski sudah lama, Nadya s
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

354. Keluarga Bahagia

Lila menyandarkan kepalanya di dada Sean, mendengar detak jantung suaminya yang selalu berhasil menenangkannya. Sesekali dia melabuhkan kecupan singkat di sana.Tangan Sean membelai rambutnya dengan lembut, sesekali menelusuri punggung polos Lila dalam gerakan menenangkan.“Kau nyaman?” tanya Sean pelan.Lila mengangguk, membiarkan kehangatan di antara mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Hening sesaat sebelum Sean menarik napas panjang dan berkata, “Maaf, aku harus jujur tentang sesuatu.”Lila mengangkat kepalanya, menatap wajah Sean yang tampak serius. “Tentang apa?”Sean menatap langit-langit kamar, seolah mencari keberanian sebelum akhirnya berkata, “Aku tahu ada yang aneh dengan Delisa sejak awal. Aku melihat cara dia memandangku, cara dia bersikap. Tapi aku memilih diam. Aku tak ingin menghancurkan hubungan kalian.”Lila terdiam, dadanya terasa sedikit sesak mendengar itu.Sean melanjutkan, suaranya sedikit berat. “Aku pikir jika aku pura-pura tidak tahu, semuanya a
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

355. Pelajaran Hidup dari Istri Simpanan

Ryan duduk bersila di lantai ruang tamu, menemani Renasha yang sibuk mewarnai gambar bunga di bukunya. Bocah kecil itu tampak serius, menggenggam krayon dengan kedua tangan kecilnya. Sesekali, dia menoleh ke arah ayahnya, memastikan warna yang dipilihnya sudah benar.“Papa, ini bagus nggak?” tanya Renasha, menunjukkan kelopak bunga yang sudah diwarnai campuran merah dan oranye.Ryan tersenyum, mengangguk. “Bagus sekali. Rena pintar.”Renasha tertawa kecil, lalu kembali melanjutkan mewarnai. Tapi belum separuh gambarnya selesai, dia mulai menguap. Kelopak matanya terlihat berat, dan kepalanya terangguk-angguk kecil.“Papa …” gumamnya dengan suara mengantuk. “Gendong …”Tanpa ragu, Ryan segera meraih putrinya, mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Renasha menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya, tangan kecilnya melingkar di leher Ryan.Saat melangkah melewati kamar ibunya, Ryan melihat Rina yang duduk di tepi ranjang, telaten menyeka wajah Risda yang sedang sakit. Istrinya t
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

356. Terlambat

Lila duduk di tepi ranjang, membolak-balik halaman buku sambil tersenyum pada Brilian yang sudah siap mendengarkan. Malam ini, dia mengikuti saran Sean untuk tidak membacakan dongeng tentang putri dan pangeran, karena Brilian kurang menyukainya."Baiklah, bagaimana kalau malam ini kita baca The Lorax?" tanya Lila sambil menunjukkan buku di hadapan Brilian.Brilian mengangguk antusias. "Tentang apa itu, Ma?"Lila mulai membaca dengan suara lembut, “Dulu, di tempat yang indah dengan rumput hijau dan langit biru, hiduplah Lorax, makhluk kecil yang berusaha melindungi pohon Truffula. Tapi suatu hari, datanglah Once-ler, orang yang menebang pohon untuk membuat Thneeds, barang yang katanya dibutuhkan semua orang …”Brilian menyela, matanya membulat. “Kenapa dia menebang semua pohon, Bunda?”Lila tersenyum, senang melihat rasa ingin tahu putranya. “Karena dia hanya memikirkan keuntungannya sendiri. Padahal, Lorax sudah memperingatkannya bahwa jika semua pohon ditebang, maka para hewan yang h
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

357. Tentang Kepercayaan

Sean memasuki kamarnya dengan langkah pelan. Lampu kamar hanya menyala temaram, cukup untuk membuatnya melihat sosok Lila yang sudah tertidur lelap di sisi ranjang. Napas istrinya terdengar teratur, wajahnya tampak damai dalam tidur.Matanya lalu beralih ke meja di samping ranjang. Di sana, Lila telah menyiapkan pakaian tidur untuknya. Senyum tipis terukir di wajah Sean. Meski lelah, Lila masih menyempatkan diri untuk mengurusnya.Tanpa ingin membuang waktu, Sean segera menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dengan cepat, membiarkan air hangat mengalir di tubuhnya, mencoba meredakan lelah yang menggelayuti pikirannya.Setelah selesai, ia mengenakan pakaian tidur yang telah disiapkan Lila dan kembali ke kamar.Ia berbaring di sisi ranjang, menatap langit-langit. Namun, matanya sulit terpejam. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun, termasuk Lila.Akhirnya, ia menyerah. Dengan lembut, Sean meraih tubuh Lila dan memeluknya erat. Kehangat
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

358. Mencoba Mencari Tahu

Lila menatap layar laptopnya, tetapi pikirannya melayang. Kata-kata Sekar terus terngiang di kepalanya, menciptakan kegelisahan yang sulit ia abaikan.Tangan Lila menggenggam pena, tetapi ia tidak menulis apa pun. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kecemasan, tetapi semakin ia berusaha, semakin pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.Sekar memang ibu mertuanya, tetapi perlakuannya kepada Lila lebih seperti seorang ibu kandung. Justru Sean yang sering mendapat sikap dingin dari ibunya sendiri.Mungkin itu karena trauma pernikahan Sekar di masa lalu yang membuatnya sulit percaya kepada putranya sendiri. Tapi jika seorang ibu saja meragukan anaknya, bagaimana dengan Lila?Pintu ruangannya diketuk, lalu Nadya masuk tanpa menunggu jawaban. Sahabat sekaligus asistennya itu membawa beberapa dokumen, tetapi alisnya berkerut begitu melihat ekspresi Lila."Kamu kenapa?" tanya Nadya sambil meletakkan dokumen di meja.Lila menghela napas, menimbang sejenak sebelum akhirnya
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

359. Pusing Lagi

Lila duduk di sofa ruang keluarga, berusaha melawan kantuk dengan membaca buku The Intelligent Investor karya Benjamin Graham. Matanya mulai terasa berat, tetapi ia memaksakan diri untuk tetap terjaga.Pikirannya terus dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang membuat hatinya gelisah. Dia tidak bisa membayangkan jika sampai Sean tergoda perempuan lain, bagaimana dengan Brilian yang selama ini sangat mengidolakan papanya.Jarum jam terus bergerak melewati tengah malam. Saat akhirnya suara pintu utama terbuka, Lila mendongak. Sean baru saja masuk, wajahnya tampak lelah, tetapi keterkejutannya jelas terlihat saat melihat Lila masih terjaga.“Kamu belum tidur?” tanya Sean, suaranya terdengar kaget sekaligus khawatir.Lila menutup bukunya perlahan dan menaruhnya di meja. “Aku menunggumu.”Sean berjalan mendekat, melepas jasnya dan duduk di samping istrinya. Tatapannya menyapu wajah Lila yang terlihat sedikit pucat karena kelelahan. “Kamu nggak perlu begadang hanya untuk menungguku, Lil.”
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

360. Sesuatu yang Buruk Telah Terjadi

Lila berjalan menuju kamar Brilian dengan hati sedikit gelisah. Sean pergi pagi-pagi sekali, bahkan lebih awal dari biasanya, tanpa sempat pamit kepada siapa pun.Brilian masih duduk di tempat tidurnya, rambutnya berantakan setelah bangun tidur. Saat melihat Lila masuk, bocah itu langsung bertanya, "Mama, Papa ke mana? Aku nggak ketemu Papa lagi, ya?"Biasanya Sean yang akan membangunkan Brilian. Dan Setelah Brilian mandi, barulah gentian Lila yang mengurus putranya, membantunya merapikan diri sebelum berangkat sekolah. Dan akhir-akhir ini Sean sangat sering berangkat lebih awal, atau bahkan saat Brilian belum bangun dari tidurnya.Lila menghela napas, berusaha tersenyum agar tidak terlihat khawatir. "Papa sudah berangkat kerja, sayang. Papa sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini."Brilian mengerucutkan bibirnya, matanya menunjukkan rasa kecewa. "Tapi kemarin juga Papa pulangnya malam. Aku udah tidur. Sekarang Papa pergi lagi sebelum aku bangun."Lila duduk di tepi ranjang dan mengus
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more
PREV
1
...
3435363738
...
47
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status