All Chapters of Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal: Chapter 321 - Chapter 330

470 Chapters

321. Pesta Ulang Tahun

Tanpa terasa waktu terasa berlalu begitu cepat. Hari-hari bahagia mereka lalui, meski kadang ada saja ujian dan pertengkaran kecil yang mewarnai keluarga kecil mereka. Tetapi mereka mampu menghadapinya dengan tetap rukun dan harmonis.Kini, Sean dan Lila tengah merayakan ulang tahun kelima putra mereka, Brilian Anugrah Wismoyojati. Rumah mereka yang luas dipenuhi balon warna-warni dan dekorasi bertema favorit Brilian, dinosaurus.Tawa riang anak-anak terdengar mengisi udara, sementara para tamu, yang sebagian besar adalah kolega dan rekan kerja Sean, berbincang sambil mengawasi anak-anak mereka yang berlarian.Sean dan Lila, sebagai tuan rumah, tampak kompak dan mempesona. Sean mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, memberi kesan santai namun tetap karismatik. Di sisinya, Lila mengenakan gaun sederhana berwarna pastel yang mempertegas keanggunannya. Keduanya selalu tersenyum hangat saat menyambut tamu yang datang, memastikan semua merasa nyaman.“Terima kasih sudah datang,”
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

322. Pergi Sebelum Pesta Usai

Rangga menggendong Malika yang masih sesenggukan, langkahnya mantap menuju meja di sudut taman, tempat Nadya duduk menikmati hidangan.Perut Nadya yang membesar membuatnya duduk dengan sedikit bersandar, sesekali mengusap perutnya seolah menenangkan bayi di dalam kandungannya. Saat melihat suaminya datang dengan wajah lelah dan putrinya yang masih terisak, Nadya mengangkat alis penuh tanya."Malika kenapa, Mas?" tanyanya lembut, tangannya terulur mengusap kepala gadis kecil itu.Rangga duduk di sebelah Nadya sambil memangku putrinya. Dengan nada ringan, seolah ini bukan masalah besar, ia berkata, "Dia sedih karena Brilian ngasih potongan pertama kuenya ke temannya, bukan ke dia."Nadya terdiam sejenak. Matanya beralih dari putrinya ke arah tengah pesta, tempat Brilian kini tertawa bersama teman-temannya. Wajahnya tampak polos dan ceria, seolah tak menyadari ada hati kecil yang terluka karena perbuatannya.Nadya kemudian melirik Sekar, yang berdiri tak jauh dari Brilian. Sejak tahu bah
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

323. Adik untuk Brilian

Pesta ulang tahun telah usai, menyisakan kehangatan di rumah besar keluarga Wismoyojati. Para tamu sudah pulang, dan kini hanya keluarga inti yang tersisa, menikmati momen-momen kebersamaan setelah hari yang penuh keceriaan.Waluya dan Inayah, orang tua Lila dan Delisa, duduk di ruang keluarga bersama Sekar dan beberapa anggota keluarga lainnya. Mereka sengaja datang dari jauh demi merayakan ulang tahun cucu kesayangan mereka.Waluya bangga melihat cucunya yang masih sibuk bermain dengan beberapa hadiah ulang tahunnya. "Dulu waktu lihat dia baru lahir sangat kecil. Sekarang sudah sebesar ini."Waluya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya bisa berkumpul dengan cucunya. Selama ini dia hanya bisa menghubungi Brilian melalui ponsel. Bukan karena tidak sayang, Waluya jarang mengunjungi cucunya. Selain kesibukannya, dia juga tidak ingin terlalu merepotkan Sean, yang akan memberi banyak bawaan saat pulang.Inayah tersenyum dan mengusap lembut kepala Brilian yang duduk di dekatnya. "Dia pa
last updateLast Updated : 2025-02-02
Read more

324. Aksi Nekat Delisa

Sean diam saat melihat bayangan Delisa di cermin. Dia tahu arah pembicaraan ini, dan dia tidak ingin mendengarnya.Tangannya masih di bawah air, air terus mengalir. Dia tidak menoleh, hanya berharap Delisa pergi sebelum ada yang melihat mereka di sini dan menyebabkan kesalahpahaman.Tapi Delisa tetap di tempatnya, seolah ada pesan yang belum dia sampaikan.“Aku tahu kalau Mas Sean sangat mendambakan anak perempuan,” lanjut Delisa pelan. “Dan aku juga tahu Mbak Lila tidak bisa lagi melahirkan anak untuk Mas Sean.”Sean mematikan keran. Hening. Hanya suara tetesan air yang jatuh ke wastafel.Dia menarik napas dalam, lalu berbalik. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam.“Delisa ….” Suaranya dingin, nyaris berbisik. Kalimat itu tidak berlanjut karena Sean terlihat bingung untuk merangkai kata.Delisa menatapnya, senyum kecil di sudut bibirnya, seakan dia sudah tahu reaksi ini sejak awal.“Aku bisa mewujudkan keinginan Mas Sean ….”Sean mengangkat tanganya seolah memberi tanda kepada
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

325. Dicintai dan Diratukan

Lila diam, merasakan kehangatan di pelukan Sean, tetapi ada sesuatu dalam kata-katanya yang membuatnya ragu.Dia menarik napas pelan, lalu menoleh sedikit, mencoba melihat wajah suaminya. “Sean … kau yakin ingin punya anak lagi?”Sean mengendurkan pelukannya, memberi ruang untuk Lila berbalik menghadapnya. Mata Lila mencari sesuatu di wajahnya, sesuatu yang bisa meyakinkannya bahwa ini bukan sekadar keinginan sesaat.“Aku yakin,” jawab Sean mantap penuh rasa yakin.Lila mengalungkan lengannya ke leher Sean. “Kita bisa mulai sekarang?”Sean tertawa renyah mendengar betapa bersemangat istrinya. Tetapi dia tidak ingin gegabah. Ada banyak hal harus dia pertimbangkan.Sean menggenggam tangan istrinya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Lila dengan lembut.“Kita tidak harus buru-buru,” ucap Sean dengan lembut. “Aku ingin kita konsultasi dulu ke dokter. Aku ingin tahu bagaimana kondisimu, apakah kau siap untuk hamil lagi.”Lila mengangguk pelan. “Kau sekhawatir itu?”“Tentu saja,” kata Se
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

326. Ancaman Sekar

Pagi itu, meja makan keluarga Wismoyojati penuh dengan aroma hangat dari nasi goreng, omelet, dan teh hangat. Lila memastikan segala sesuatu tersaji dengan baik untuk kedua orang tuanya sebelum mereka pulang.“Kakek beneran mau pulang hari ini?” tanya Brilian seolah belum sembuh rasa rindunya kepada sang kakek.Waluya mengangguk sambil mengambil sepotong roti. “Iya, Nak. Ayam-ayam kakek nanti tidak ada yang memberi makan,” jawabnya sambil menatap Brilian yang sedang menikmati susu hangatnya.“Mengapa orang dewasa lebih sayang pekerjaannya daripada anaknya, Oma?”Semua yang berada di ruang makan tertawa mendengar pertanyaan polos dari Brilian. Bagi bocah itu hanya, sang oma yang menyayanginya sepenuhnya, karena selalu ada untuknya.“Bukan begitu Brili,” ucap Sekar dengan lembut. “Orang dewasa bekerja untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anak mereka. Dengan bekerja mereka bisa memberi makan, menyekolahkan, liburan bersama. Kalau mereka tidak bekerja, anak-anaknya akan kelaparan
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

327. Menyingkirkan Duri dalam Daging

Lila berdiri di depan pintu, matanya sedikit berkaca-kaca saat memelik tubuh sang ayah."Jaga dirimu baik-baik, Nak," ucap Waluya membisikkan doa serta nasihat yang selalu ia berikan sejak Lila kecil. "Jangan lupa berdoa. Tetap rendah hati, jadilah ibu dan istri yang baik. Jangan lupa tetap hormati ibu mertuamu!”“Ya, Pak,” jawab Lila lirih sambil menahan air mata.Lila mengangguk, menggenggam tangan ayahnya untuk terakhir kali sebelum memasuki mobil. Waluya menurunkan kaca jendela, lalu melambaikan tangan sambil tersenyum hangat.Sementara itu, Inayah hanya diam. Wajahnya muram, pikirannya masih dipenuhi dengan ancaman Sekar di kafe tadi. Ia bahkan tak memberikan pesan apa pun untuk Lila, sesuatu yang membuat putrinya sedikit heran.Setelah mobil mereka tak terlihat lagi, Lila menghela napas dan berbalik menuju rumah. "Aku ke kamar dulu, bersiap ke kantor," ucap Lila kepada Sean dan Sekar sebelum melangkah menaiki tangga.Sean hanya mengangguk sambil melirik jam tangannya. "Aku juga
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

328. Kegalauan Lila

Di kantor, Lila tampak gelisah. Tatapannya kosong meski layar laptop di depannya penuh dengan angka dan laporan. Pikirannya melayang, tak bisa fokus pada pekerjaan.Tadi, sebelum pulang, Inayah menemuinya dengan wajah sedih. Kata demi kata yang diucapkan sang ibu seolah sulit untuk Lila abaikan begitu saja."Kau tahu apa yang dilakukan ibu mertuamu saat kami mengantar Brili tadi? Tadi dia melabrak Ibu."Lila mengerutkan kening. "Melabrak? Kenapa?" Tentu Lila sangat terkejut, karena keduanya berangkat terlihat rukun dan akrab."Ibu juga kaget. Dia menuduh Delisa merayu Sean." Inayah menatap Lila, suaranya mengandung kemarahan yang tertahan. "Tapi coba pikir, Li … apa masuk akal? Bisa saja justru Sean yang menggoda adikmu."Lila terdiam, dadanya sesak. Kata-kata Inayah menancap tajam di pikirannya, memunculkan keraguan yang berusaha dia tepis."Sean nggak mungkin begitu, Bu," bisiknya, tapi suaranya terdengar ragu.Inayah menepuk tangan Lila lembut. "Ibu cuma ingin kamu waspada. Jangan
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

329. Kepercayaan

Sore itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung Mahendra Securitas. Pintu mobil terbuka, dan Sean melangkah keluar dengan langkah mantap. Setelan jasnya rapi, kemeja putih tanpa cela berpadu dengan dasi berwarna gelap yang menambah aura kharismanya. Tatapan matanya tenang, penuh percaya diri, memancarkan pesona yang sulit diabaikan.Saat Sean memasuki lobi kantor, beberapa karyawan wanita tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Bisikan pelan terdengar di sudut-sudut ruangan.“Itu suaminya Bu Lila, kan?” bisik salah satu staf.“Iya, ya ampun, ganteng banget. Mereka pasangan serasi banget,” sahut yang lain sambil tersenyum kagum.Sean melangkah melewati mereka tanpa banyak bicara, hanya memberikan anggukan singkat yang membuat beberapa orang semakin terpesona. Aura dingin dan tenangnya justru menambah daya tariknya.Delisa, yang kebetulan sedang berada di salah satu sudut ruangan, melihat semua pemandangan itu dengan tatapan sulit diartikan. Senyum tipis menghiasi wa
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more

330. Konsultasi dengan Dokter Amira

Di klinik yang bernuansa hangat dan tenang, Lila dan Sean duduk berdampingan di ruang tunggu. Tak butuh waktu lama, setelah seorang pasien keluar dari ruang praktik, nama Lila segera dipanggil.Sean berdiri lebih dulu, lalu meraih tangan Lila dengan lembut, seolah-olah menggandeng harta paling berharga dalam hidupnya.Saat mereka memasuki ruangan, Dokter Amira yang duduk di balik mejanya tersenyum lebar. Matanya berbinar begitu melihat Lila.“Wah, Lila! Aku hampir nggak mengenalimu. Semakin cantik saja,” seru Dokter Amira, berdiri untuk menyambut mereka.Lila tersipu, sementara Sean melemparkan pandangan penuh kebanggaan ke arah istrinya.“Tubuhmu tetap terjaga dengan baik. Pasti karena pengorbanan Sean, ya? Aku dengar dia yang memutuskan untuk KB, bukan kamu. Itu tandanya dia benar-benar sayang sama kamu.”Ucapan itu membuat Sean tertawa kecil, lalu meremas pelan tangan Lila. Bagi Sean apa yang dia lakukan bukanlah pengorbanan yang layak dibanggakan. Toh dia masih bisa menikmatinya,
last updateLast Updated : 2025-02-05
Read more
PREV
1
...
3132333435
...
47
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status