All Chapters of Suami Baruku Ternyata Paman Mantan Suamiku: Chapter 151 - Chapter 160

310 Chapters

Bab 151

Mendapatkan jawaban pasti dari Arieson, Jeni tampak sangat senang. Saat dia ingin lanjut menyindir Rhea, Ivory tiba-tiba buka suara. "Nona Jeni, kamu sedikit salah. Kak Rhea cantik dan berkemampuan, orang lain nggak bisa iri padanya."Ekspresi Jeni menegang, kilatan amarah melintasi matanya."Aku juga nggak bilang Nona Rhea nggak berkemampuan, aku hanya bilang wajahnya membawa banyak keuntungan baginya."Mendengar Jeni terus menerus menyindirnya, Rhea tidak berencana untuk bersabar lagi.Dia mengalihkan pandangannya ke arah Jeni, lalu berkata dengan penuh penekanan, "Nona Jeni bilang wajahku membawa banyak keuntungan untukku, bukankah latar belakang keluargamu juga membawa banyak keuntungan untukmu? Kalau nggak, sekarang kamu juga nggak bisa makan dengan duduk berhadapan dengan Pak Arieson, bukan?"Dunia ini memang tidak adil, kalau seseorang menginginkan segala sesuatu, bukankah sudah terlalu serakah?Jeni langsung terdiam, tetapi ekspresinya juga berubah menjadi sangat masam.Sambil
Read more

Bab 152

Dengan memasang ekspresi kebingungan, Tio berkata, "Pak Arieson, untuk apa selidiki karyawan ini?""Aku mempekerjakanmu untuk bekerja, bukan untuk mengajukan pertanyaan padaku."Melihat sorot mata sedingin es Arieson, Tio segera menundukkan kepalanya dan berkata, "Aku akan segera menyelidikinya."Tak lama kemudian, Tio membawakan data-data Dion yang telah dicetaknya kepada Arieson.Selesai melihat data-data tersebut, Arieson berkata pada sekretarisnya itu dengan ekspresi datar, "Dalam waktu dekat, cari kesempatan untuk mengirimnya dinas. Aku nggak ingin melihatnya di perusahaan dalam setengah tahun."Walaupun perasaan Tio diliputi tanda tanya, tetapi memetik pembelajaran dari kejadian sebelumnya, dia juga tidak berani bertanya. Dia mengangguk dan berkata, "Oke, akan segera kuatur."Di sisi lain, setelah meninggalkan kantin, Dion menatap sebuket bunga dalam genggamannya itu dengan ekspresi kesal. Dia ingin membuangnya, tetapi kalau dibuang, dia merasa sangat rugi.Setelah berpikir sejen
Read more

Bab 153

Setelah berpikir demikian, dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan perlahan, "Oke, aku akan mendengarkanmu."Karena penelitian sore hari ada sedikit masalah, Rhea sibuk di laboratorium hingga jam sepuluh lewat.Selesai membereskan barang-barang, dia meninggalkan laboratorium. Saat berada di lift, dia menerima panggilan telepon dari Jerico.Begitu panggilan telepon terhubung, terdengar suara Jerico yang agak dingin dari ujung panggilan telepon. "Mengapa sudah selarut ini kamu masih belum pulang juga?""Sudah selesai, aku akan segera pulang."Tepat pada saat Rhea sedang berbicara, pintu lift terbuka.Dia hendak melangkah masuk ke dalam lift, tetapi begitu melihat Arieson berdiri di dalam lift, secara naluriah langkah kakinya terhenti sejenak.Saat mereka bertatapan, sorot mata Arieson tampak sedingin es, aura yang luar biasa dingin menyelimuti tubuh pria itu.Rhea mengatupkan bibirnya dengan rapat, ragu apakah dia harus masuk ke dalam lift atau tidak.Bagaimanapun juga, diliha
Read more

Bab 154

Rhea menepis tangan Jerico, lalu berkata dengan ekspresi dingin, "Kamu sudah berpikir banyak."Menghadapi tanggapan malas dari Rhea ini, Jerico sangat tidak puas. Sorot matanya berubah menjadi dingin.Jerico menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya yang bergejolak. Kemudian, dia berkata dengan lembut, "Rhea, aku tahu kamu kesal, tapi bagaimanapun juga, Nenek sudah lanjut usia. Aku harap kamu bisa lebih banyak menoleransinya."Rhea merasa ucapan ini sangat konyol, seakan-akan setiap kali ada urusan yang menyangkut Keluarga Thamnin, satu-satunya solusi Jerico adalah memintanya untuk bersabar.Dulu, karena dia mencintai pria itu, dia mengabaikan hal-hal ini. Sekarang dia baru mengerti, di hati pria itu, dirinya tidak akan bisa melampaui posisi Keluarga Thamnin, juga tidak akan bisa melampaui posisi karier pria itu."Jangan khawatir, aku nggak punya prasangka apa pun terhadapnya."Bagaimanapun juga, sekarang dia bahkan sudah tidak peduli lagi pada Jerico, bagaimana mungkin di
Read more

Bab 155

"Kamu bilang aku mengganggunya, apa kamu punya bukti? Kalau nggak punya bukti, percaya atau nggak, aku akan melaporkanmu memukul orang tanpa sebab, kamu pasti akan dikurung selama beberapa hari!"Menghadapi ancaman itu, tentu saja sama sekali tidak dianggap serius oleh Jerico."Boleh saja, hanya saja takutnya saat itu tiba, orang yang akan dikurung adalah kamu."Melihat lawan bicaranya sama sekali tidak takut pada ancamannya, Dion yang awalnya memang sudah merasa sangat bersalah itu, berkata dengan gigi terkatup, "Kamu ... kamu tunggu saja! Jangan sampai menunjukkan batang hidungmu itu di hadapanku lagi!"Selesai berbicara, dia langsung melarikan diri.Melihat pria itu melarikan diri dengan ketakutan, sorot mata Jerico terlihat sedingin es.Berani-beraninya sampah seperti itu mengganggu Rhea!Dia mengalihkan pandangannya ke arah istrinya, lalu berkata dengan ekspresi yang sangat masam, "Kenapa kamu nggak bilang ada orang yang mengganggumu?"Dilihat dari ekspresi Rhea tadi, seharusnya p
Read more

Bab 156

Sizur tidak bisa menahan diri dan menggelengkan kepalanya. "Dengan temperamenmu ini, nggak tahu wanita mana yang bisa tahan padamu kelak."Arieson tidak berbicara, dia menundukkan kepalanya, fokus membereskan bidak caturnya."Ayo, pergi makan."Saat di meja makan, Sizur terus berbicara dengan Arieson. Saking ramahnya, dia terkesan sedikit menjilat adiknya.Rhea hanya makan sedikit. Kemudian, dia meletakkan alat makannya dan berkata, "Aku sudah selesai makan, kalian lanjutkan saja."Begitu dia selesai berbicara, orang-orang di meja makan langsung mengalihkan perhatian mereka ke arahnya.Siska mengerutkan keningnya, sorot mata tidak puas tampak jelas di matanya, tetapi dia tidak berbicara.Jerico mengalihkan pandangannya ke arah Rhea, lalu berkata dengan lembut, "Apa makanan malam ini nggak sesuai dengan seleramu?"Rhea menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak, aku benar-benar sudah kenyang. Aku ingat saat datang ke sini sebelumnya, aku menaruh beberapa pakaian di dalam kamarmu. Aku p
Read more

Bab 157

Melihat wanita di hadapannya itu hanya menggigit bibir bawah tanpa berbicara, Arieson mencibir. Dia langsung mendorong wanita itu, bersiap untuk membuka pintu dan pergi.Rhea buru-buru menghentikannya. Dalam situasi genting seperti ini, dia langsung menggenggam tangan Arieson.Tubuh Arieson membeku sejenak, sorot matanya terhadap Rhea juga berubah menjadi gelap dan berbahaya."Lepas!"Rhea mengatupkan giginya dan berkata, "Paman, apa kamu harus memaksaku seperti ini?"Arieson menyunggingkan seulas senyum dingin, dia berkata, "Rhea, tahukah kamu apa konsekuensi yang akan kamu hadapi kalau kakakku mendapati kamu berada di dalam ruang bacanya?"Wanita ini bahkan tidak tahu karakter asli Sizur, tetapi malah berani menyelinap masuk ke dalam ruang baca pria berbahaya itu.Kalau tadi keberadaannya sampai ketahuan oleh Sizur, mungkin tidak lama lagi, dia akan menghilang dari muka bumi ini.Bagaimanapun juga, hal seperti ini juga bukannya tidak pernah terjadi.Tanpa Rhea sadari, genggamannya pa
Read more

Bab 158

Setelah Jerico pergi, Rhea baru bisa menghela napas lega. Boleh dibilang masalah kal ini sudah berlalu, kelak dia harus lebih berhati-hati lagi.Dia beranjak dari ranjang, merapikan pakaiannya yang kusut akibat tindakan Jerico, lalu mengambil pakaian dari dalam lemari dan segera turun.Di ruang tamu lantai bawah, Jerico dan Sizur sedang duduk berhadapan. Ekspresi keduanya tampak sedikit masam.Melihat Rhea sudah turun, Sizur berkata dengan ekspresi datar, "Sudah, sudah, sekarang sudah sangat larut, kalian pulang saja dulu."Jerico mengangguk, lalu bangkit dan berkata, "Oke."Dia mengalihkan pandangannya ke arah Rhea dengan memasang ekspresi datar, sama sekali tidak ada kehangatan terlihat di matanya."Ayo pergi."Sepanjang perjalanan pulang, Jerico tetap memasang ekspresi muram dan tidak berbicara dengan Rhea. Sangat jelas dia masih marah mengenai kejadian kamar tidur tadi.Sekembalinya ke vila, Rhea hendak turun dari mobil, Jerico berkata dengan dingin, "Apa nggak ada yang ingin kamu
Read more

Bab 159

"Dia yang membuat Keluarga Lugan bangkrut, anggota Keluarga Lugan mencarinya untuk membalas dendam, apa hubungannya denganku?"Melihat Jerico sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, Yurik mengerutkan keningnya."Baik, aku sudah mengerti."Setelah Yurik pergi, muncul niat membunuh di mata Jerico.Karena Arieson sudah menargetkan istrinya lagi dan lagi, maka dia hanya bisa memberi pria itu sedikit pelajaran.Beberapa hari berikutnya, Dion selalu pergi ke laboratorium setiap hari untuk mengantarkan berbagai macam barang untuk Rhea. Namun, Rhea selalu menolaknya.Sambil memasang meja penelitian bersama Rhea, Ivory berkata, "Aku benar-benar nggak mengerti, mengapa jelas-jelas setiap kali ditolak olehmu, keesokan harinya Dion masih saja datang menemuimu dengan gigih, apa mungkin dia mengidap semacam masokis?"Rhea menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak tahu, nggak perlu memedulikannya. Ini kamu pasang terbalik."Ivory segera membenarkan apa yang dipasangnya terbalik itu, dia juga tida
Read more

Bab 160

Rhea yang seharusnya masih dalam kondisi tak sadarkan diri, langsung meraih labu di sampingnya dan menghantam kepala pria itu dengan keras. Pecahan labu yang tajam itu langsung menggores dahi pria tersebut. Dalam sekejap, darah segar mulai mengalir.Tepat pada saat pria itu sedang lengah, Rhea langsung mendorongnya, lalu berlari keluar dengan terhuyung-huyung.Namun, seluruh tenaganya sudah dikerahkannya untuk menghantam Dion tadi. Sekarang, dia hanya merasa sekujur tubuhnya sudah tak bertenaga lagi. Dia berjalan dengan terhuyung-huyung. Sebelum dia bisa mencapai pintu, rambutnya sudah dijambak oleh Dion."Dasar wanita jalang! Berani-beraninya kamu memukulku!"Dion menarik Rhea dengan satu tangan, melayangkan beberapa tamparan beruntun ke wajah Rhea dengan tangan lainnya.Luka di dahinya masih belum sempat ditangani. Darah segar yang mengalir ke bawah mengikuti alisnya, membuat wajahnya terlihat makin aneh dan menakutkan.Rhea ingin meronta, tetapi dia sama sekali tidak bertenaga lagi.
Read more
PREV
1
...
1415161718
...
31
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status