All Chapters of Suami Baruku Ternyata Paman Mantan Suamiku: Chapter 141 - Chapter 150

310 Chapters

Bab 141

Kilatan sedingin es melintasi mata Andre. Jadi, Maudi sudah dimanfaatkan oleh Jeni?Walaupun dia tidak menyetujui tindakan Maudi, tetapi bagaimanapun juga, wanita itu melakukan hal seperti itu demi dirinya."Kelak jangan melakukan hal seperti ini lagi. Gaya bertindak Arieson sangat aneh, dia menghadapi siapa saja tanpa pandang bulu. Kalau melawannya, hanya akan rugi."Melihat Andre memasang ekspresi muram, Maudi menggigit bibir bawahnya, lalu berkata dengan hati-hati, "Andre ... jelas-jelas hari ini Nona Rhea sama sekali nggak terluka. Selama aku meminta maaf, masalah ini sudah bisa dianggap selesai ....""Tapi, Nona Rhea malah nggak bersedia melepaskanku. Mungkinkah karena ... Nona Weni?"Andre menyipitkan matanya, lalu berkata dengan dingin, "Maksudmu, dia sedang membantu Weni melampiaskan kekesalan?""Selain kemungkinan ini, aku nggak bisa memikirkan alasan lain mengapa dia enggan melepaskanku."Rhea dan Weni adalah teman baik, ditambah lagi Weni salah paham mengenai hubungannya den
Read more

Bab 142

"Kalau aku sudah nggak mencintaimu lagi, apa kamu bersedia untuk melepaskanku?"Sorot mata Jerico langsung berubah menjadi dingin. "Nggak.""Kalau begitu, apa artinya kamu menanyakan hal itu? Lagi pula, bukankah kamu yang menggunakan ayahku untuk mengancamku pindah kembali?"Menatap sorot mata tenang Rhea, Jerico tertawa seperti sedang mengejek dirinya sendiri, lalu mengalihkan pandangannya dan tidak berbicara lagi.Memang benar, dia yang memaksa wanita itu untuk kembali.Lagi pula, sejak hari dia berselingkuh, seharusnya dia sudah bisa menduga akan ada hari ini. Hanya saja, dia terlalu percaya diri. Dia mengira Rhea mencintainya, saking mencintainya wanita itu bersedia untuk memaafkannya.Tidak ada yang berbicara lagi, suasana di antara mereka hening. Tak lama kemudian, sopir sudah melajukan mobil kemari."Naiklah."Rhea menundukkan kepalanya dan melirik ponselnya sekilas. Karena belum menemukan pengemudi, dia pun memutuskan untuk membatalkannya.Sepanjang perjalanan pulang, mereka be
Read more

Bab 143

Sepulang kerja, Rhea naik taksi ke kediaman lama Keluarga Thamnin.Begitu pelayan membawanya masuk ke ruang tamu, Nyonya Besar Thamnin langsung berkata dengan dingin, "Berlutut!"Rhea menghentikan langkah kakinya, menatap Nyonya Besar Thamnin dengan ekspresi datar."Nenek, kesalahan apa yang sudah kulakukan sampai harus berlutut?"Siska yang duduk di samping Nyonya Besar Thamnin, mencibir. Nada bicara menyindir terdengar jelas dalam ucapannya."Bisa-bisanya kamu menanyakan kesalahan apa yang telah kamu lakukan?! Mengapa semalam kamu memaksa Nona Maudi untuk berlutut di hadapanmu di depan begitu banyak orang? Coba kamu pikirkan sendiri, apa identitasmu dan apa identitas Nona Maudi.""Pagi hari ini, Perusahaan Farmasi Haion dan Grup Tessa sudah membatalkan kerja sama dengan Grup Thamnin, menyebabkan Grup Thamnin kehilangan triliunan. Para pemegang saham lainnya sangat nggak puas pada Jerico, mengadakan rapat dewan direksi, bersiap untuk menurunkannya dari posisi manajer umum. Dasar pemba
Read more

Bab 144

Rhea tersenyum getir, bagaimana mungkin hari ini dia masih bisa pulang?"Nggak perlu. Lokasi pertemuan lebih dekat dengan rumah Weni. Malam ini aku akan menginap di tempatnya."Orang di ujung telepon hening sejenak. Beberapa saat kemudian, terdengar suara rendah dan dalam Jerico. "Rhea, apa kamu masih marah padaku karena kejadian tadi malam?""Nggak, hanya saja aku juga sudah sangat lama nggak mengobrol bersama Weni. Jadi, malam ini aku berencana untuk menginap di tempatnya."Orang di ujung telepon kembali terdiam cukup lama. Pada akhirnya, Jerico berkata, "Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, telepon aku, ya.""Oke, aku mengerti."Setelah memutus panggilan telepon, tiba-tiba muncul pemberitahuan di layar ponsel Rhea, menunjukkan bahwa baterai ponselnya hanya tersisa dua puluh persen, harus segera diisi daya.Rhea mengerutkan keningnya. Saat inilah dia baru teringat, tadi malam sepulang ke rumah dan selesai mandi, dia langsung tidur. Hari ini dia terlalu sibuk bekerja, tidak punya
Read more

Bab 145

Begitu Tuan Besar Thamnin selesai berbicara, suasana di dalam ruang pertemuan itu berubah menjadi sangat hening. Semua orang menundukkan kepala mereka, tidak berani berbicara.Bagaimanapun juga, mereka ingin mencopot Jerico dari jabatan sebagai manajer umum, sedikit banyak pasti memiliki motif tersendiri.Setelah suasana hening cukup lama, akhirnya ada pemegang saham yang tidak tahan lagi dengan suasana tegang itu. Dia berkata, "Pak, kami hanya terlalu cemas ... bagaimanapun juga, hanya dalam waktu sepanjang pagi saja, Grup Thamnin sudah mengalami kerugian mencapai triliunan ...."Tuan Besar Thamnin mendengus dingin dan berkata, "Memangnya triliunan itu sangat banyak. Dalam waktu kurang dari satu tahun, dia bisa menghasilkannya kembali. Bagi siapa pun yang ingin menduduki posisi sebagai manajer umum, tunjukkan pencapaian sendiri!"Selesai berbicara, tanpa memedulikan reaksi para pemegang saham, Tuan Besar Thamnin langsung bangkit dan pergi.Berjalan keluar dari ruang pertemuan, dia lan
Read more

Bab 146

Melihat Rhea meringkuk di sudut ruangan, matanya terpejam dengan rapat, wajahnya memerah dengan tidak normal, tubuhnya juga terus gemetaran, sorot mata Arieson langsung berubah menjadi dingin.Saat dia hendak melangkah dengan cepat ke arah wanita itu, tiba-tiba saja Jerico mendorongnya, lalu bergegas menghampiri Rhea dan langsung menggendong istrinya.Melihat Rhea dalam kondisi tak sadarkan diri, Nyonya Besar Thamnin tidak bisa menahan diri dan mengerutkan keningnya.Dia hanya ingin mengurung Rhea selama satu malam untuk memberi Rhea pelajaran. Dia tidak menyangka situasi bisa berkembang seperti ini.Api amarah menyelimuti hati Jerico, tetapi dia tidak berani melampiaskan amarahnya pada Nyonya Besar Thamnin. Dia hanya berkata dengan suara dalam, "Nenek, aku bawa Rhea ke rumah sakit dulu."Tanpa menunggu Nyonya Besar Thamnin berbicara, dia langsung melangkah pergi dengan cepat sambil menggendong Rhea.Melihat punggung Jerico yang kian menjauh, tangan di kedua sisi tubuh Arieson langsung
Read more

Bab 147

"Makan sarapan."Suaranya terdengar agak dingin, sangat jelas dia marah karena sikap Rhea yang dingin padanya."Sekarang aku nggak selera makan, nanti saja aku makan. Kamu kembali bekerja saja."Amarah yang sedari tadi Jerico tahan, tidak bisa ditahannya lagi. Dia menatap Rhea dengan tatapan dingin dan berkata dengan nada bicara mempertanyakan, "Kamu nggak bisa makan, atau nggak selera makan karena melihatku?"Rhea mengerutkan keningnya dan berkata, "Aku nggak bermaksud seperti itu.""Kulihat kamu memang bermaksud seperti itu. Tadi malam Nenek memanggilmu ke kediaman lama, mengapa kamu berbohong padaku dengan bilang ada acara makan dengan rekan kerja?"Kalau bukan karena dia menyadari ada yang tidak beres dan menelepon Weni, mungkin hingga sekarang dia masih tidak tahu Rhea telah membohonginya.Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah dan berkata dengan ekspresi tenang, "Aku takut kamu khawatir."Jerico mencibir dan berkata, "Rhea, jangan menganggapku seperti orang bodoh, sebenarnya kamu
Read more

Bab 148

Saat Rhea mengalihkan pandangannya ke arah Jerico dan melihat sorot mata sedingin es pria itu, dia mencibir. Kemudian, dia langsung merebut tonik dan bunga dalam genggaman pria itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.Kilatan terkejut melintasi mata Tio. Kemudian, dia berkata dengan sedikit marah, "Bagaimana Nona Rhea bisa seperti itu? Pak Arieson datang menjenguknya, tapi dia malah ...."Namun, sebelum dia selesai berbicara, Arieson sudah berbalik dan pergi. Punggung sang presdir memancarkan aura yang sangat menakutkan, sampai-sampai membuat orang merinding.Dengan diliputi perasaan kesal, Tio buru-buru mengejar Arieson."Pak Arieson, apa kita akan pergi begitu saja?"Ya, ini benar-benar mengesalkan.Apalagi sebelumnya Arieson sudah membantu Rhea berkali-kali. Siapa sangka wanita itu begitu tidak tahu diri? Bisa-bisanya dia menginjak-injak ketulusan yang diberikan oleh Arieson padanya begitu saja?!"Apa lagi? Menerobos masuk ke dalam bangsal dan menanyakan mengapa dia bertindak seperti
Read more

Bab 149

Namun, Arieson tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebagai seorang sekretaris, dia juga tidak berhak untuk berkomentar.Rhea mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang berdiri di samping Tio. Wanita itu memiliki paras muda, rambut pendek sebahu, serta saat dia tersenyum matanya terlihat seperti bulan sabit. Kelihatan sangat manis."Nona Rhea, aku Ivory Zilwan, baru lulus kuliah, mohon bimbingan dan arahannya, ya.""Halo, namaku Rhea."Pekerjaan di dalam laboratorium sangat banyak, Rhea memang sedikit kewalahan mengerjakannya sendirian. Ada orang yang membantunya, tentu saja sangat bagus."Pak Tio, terima kasih."Tio berkata dengan ekspresi dingin, "Nggak perlu berterima kasih, ini adalah pekerjaanku. Aku kembali dulu. Kalau ada apa-apa, kirimkan aku pesan di nomor kantor saja."Tahu Tio merasa Arieson telah diperlakukan dengan tidak adil, karena itulah sosok sekretaris yang biasanya baik itu tidak puas padanya dan bersikap dingin padanya, Rhea juga tidak marah. Dia mengangguk dan be
Read more

Bab 150

Jeni mengobrol dengan Arieson sambil tersenyum. Walaupun Arieson hanya sesekali menanggapinya dengan sepatah dua patah kata, tetapi suasana di antara mereka boleh dibilang harmonis.Sejak dua insan itu duduk di samping mereka, Rhea hanya menundukkan kepalanya, makan dalam diam. Dia hanya ingin segera selesai makan, lalu pergi.Tiba-tiba saja, terdengar suara seseorang yang sedikit malu dari arah sampingnya."No ... Nona Rhea ...."Rhea mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia melihat seorang pria dengan tinggi badan sekitar 170 sentimeter dan bertubuh tegap sedang membawa sebuket bunga mawar merah dan berdiri berjarak beberapa langkah darinya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi sedikit kaku.Dia mengerutkan keningnya, merasakan firasat buruk.Benar saja, detik berikutnya, pria itu menyodorkan bunga mawar tersebut ke hadapannya."Halo, namaku Dion Tilmus, sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Bisakah kamu memberiku kesempatan ... untuk mengejarmu?"Dulu,
Read more
PREV
1
...
1314151617
...
31
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status