"Dia yang membuat Keluarga Lugan bangkrut, anggota Keluarga Lugan mencarinya untuk membalas dendam, apa hubungannya denganku?"Melihat Jerico sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, Yurik mengerutkan keningnya."Baik, aku sudah mengerti."Setelah Yurik pergi, muncul niat membunuh di mata Jerico.Karena Arieson sudah menargetkan istrinya lagi dan lagi, maka dia hanya bisa memberi pria itu sedikit pelajaran.Beberapa hari berikutnya, Dion selalu pergi ke laboratorium setiap hari untuk mengantarkan berbagai macam barang untuk Rhea. Namun, Rhea selalu menolaknya.Sambil memasang meja penelitian bersama Rhea, Ivory berkata, "Aku benar-benar nggak mengerti, mengapa jelas-jelas setiap kali ditolak olehmu, keesokan harinya Dion masih saja datang menemuimu dengan gigih, apa mungkin dia mengidap semacam masokis?"Rhea menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak tahu, nggak perlu memedulikannya. Ini kamu pasang terbalik."Ivory segera membenarkan apa yang dipasangnya terbalik itu, dia juga tida
Rhea yang seharusnya masih dalam kondisi tak sadarkan diri, langsung meraih labu di sampingnya dan menghantam kepala pria itu dengan keras. Pecahan labu yang tajam itu langsung menggores dahi pria tersebut. Dalam sekejap, darah segar mulai mengalir.Tepat pada saat pria itu sedang lengah, Rhea langsung mendorongnya, lalu berlari keluar dengan terhuyung-huyung.Namun, seluruh tenaganya sudah dikerahkannya untuk menghantam Dion tadi. Sekarang, dia hanya merasa sekujur tubuhnya sudah tak bertenaga lagi. Dia berjalan dengan terhuyung-huyung. Sebelum dia bisa mencapai pintu, rambutnya sudah dijambak oleh Dion."Dasar wanita jalang! Berani-beraninya kamu memukulku!"Dion menarik Rhea dengan satu tangan, melayangkan beberapa tamparan beruntun ke wajah Rhea dengan tangan lainnya.Luka di dahinya masih belum sempat ditangani. Darah segar yang mengalir ke bawah mengikuti alisnya, membuat wajahnya terlihat makin aneh dan menakutkan.Rhea ingin meronta, tetapi dia sama sekali tidak bertenaga lagi.
"Lepaskan!"Melihat sorot mata penuh amarah Arieson itu, saat ini Rhea baru merasa lega, seolah-olah baru saja terselamatkan dari ajal, kedua matanya pun memerah.Perlahan-lahan, dia mengendurkan genggamannya, menunjukkan telapak tangannya yang telah berdarah, serta ... pecahan kaca yang tertancap pada telapak tangannya itu.Ekspresi Arieson tampak sangat muram, dia langsung menggendong Rhea dan berjalan menuju ke luar.Rhea mencengkeram kerah baju Arieson, berkata dengan suara yang sangat rendah, "Pak Arieson ... kamu minta seseorang untuk mengantarkan pakaian untukku saja."Kalau Arieson menggendongnya meninggalkan perusahaan seperti ini, mungkin hari ini juga rumor-rumor mengenai mereka berdua sudah tersebar hingga ke seluruh pelosok perusahaan.Arieson menundukkan kepalanya, menatap wanita dalam pelukannya itu dengan ekspresi sedingin es. Melihat wajah kecil wanita itu tampak pucat pasi, terlihat sangat menyedihkan, sorot matanya pun berubah menjadi makin gelap."Tanganmu terluka,
Jerico mengalihkan pandangannya, lalu berkata dengan suara dalam, "Hmm, ayo pergi."Saat mereka berdua berbalik, diam-diam Stella menghela napas lega.Selagi Stella menjalani pemeriksaan, Jerico menghubungi Rhea.Namun, setelah mencoba untuk menghubungi Rhea berkali-kali, Jerico tetap tidak mendapatkan jawaban. Pada akhirnya, perlahan-lahan kesabarannya juga sudah terkuras habis. Dia tidak mencoba untuk menghubungi Rhea lagi.Setelah membayar tagihan dan menerima suntikan, saat Rhea hendak pulang, dia menerima panggilan telepon dari kantor polisi yang memintanya memberi kesaksian di kantor polisi.Di sisi lain, Jeni juga sudah tahu rencana Dion gagal.Ekspresi anak buahnya tampak sedikit muram, anak buahnya itu berkata dengan nada bicara sedikit cemas, "Nona, mungkinkah Dion mengkhianati kita?"Jeni mencibir dan berkata, "Tenang saja, dia nggak akan berani, kecuali dia ingin keluarganya hancur."Dion benar-benar bodoh. Dia sudah membantu pria itu untuk merencanakan segalanya dengan bai
Perlahan-lahan, seulas senyum mengejek mengembang di wajah Jerico. Dia berkata tanpa gejolak emosi sama sekali, "Yah, benar-benar kasihan, ya ... dia pasti sangat membenci orang yang telah menghancurkan keluarganya dan membuatnya kehilangan segala-galanya, bukan?"Mendengar suara tenang sang atasan, secara naluriah tubuh Yurik gemetaran sejenak."Pak Jerico ... apa perlu mengeluarkannya?""Tentu saja, aku mau melihatnya dalam tiga hari."Yurik terdiam selama beberapa detik, dia ingin membujuk Jerico, tetapi dia tahu jelas Jerico tidak akan mendengarkannya, jadi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya itu.Setelah panggilan telepon berakhir, Yurik menghela napas. 'Ah, perlukah aku segera ganti pekerjaan?' pikirnya.Bagaimanapun juga, begitu hal-hal yang Jerico minta dia lakukan ini ketahuan, tamat sudah riwayatnya.Rhea tetap berada di dalam kamar tidurnya, dia baru turun ke lantai bawah saat jam makan malam tiba. Setelah menghabiskan makan malamnya dalam diam, dia juga tidak ingin berla
Rhea mengatupkan bibirnya dengan rapat, lalu menundukkan kepalanya dan berkata, "Hmm."Sudut mat Jerico menangkap ponsel Rhea yang terletak di atas meja. Dia berkata, "Aku percaya padamu. Aku membawakan salep untukmu, aku bantu kamu oleskan, ya."Setelah Stella melahirkan anak, dia akan langsung mengusir wanita itu pergi, tidak akan membiarkan wanita itu muncul di hadapan Rhea lagi. Dengan begitu, mereka baru ada kesempatan untuk bersatu kembali.Dia melangkah maju, tetapi Rhea malah melangkah mundur satu langkah."Nggak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."Melihat ekspresi menjauh yang menghiasi wajah Rhea, Jerico berusaha menekan kekecewaan yang menyelimuti hatinya. Dengan seulas senyuman paksa, dia menyerahkan obat salep itu kepada Rhea."Kalau begitu, kamu oleskan sendiri, ya. Oleskan masing-masing sekali sekarang dan sebelum tidur, seharusnya besok bengkaknya sudah reda."Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, melihat obat salep yang disodorkan oleh pria itu, dia pun mengulurka
Arieson: [Ayo pergi minum malam ini.]Rhein Gutawa: [?]Winko Tirta: [Belakangan ini kamu sangat sulit diajak keluar, hari ini kamu malah begitu bersemangat. Kenapa? Sedang patah hati, ya?]Arieson: [Enyah sana!]Winko: [Oke, oke, oke, aku nggak akan mengatakannya lagi, aku nggak akan membuka luka hatimu itu lagi. Kebetulan, ada bar yang baru dibuka di Jalan Utam. Aku akan memesan sebuah ruang pribadi.]Arieson: [...]Di sisi lain, begitu Rhea kembali ke laboratorium, Ivory langsung menghampirinya."Kak Rhea, hari ini mengapa kamu begitu telat datang? Eh ... ada apa dengan tanganmu? Apa terluka tanpa sengaja saat melakukan penelitian?"Rhea tidak ingin terlalu banyak orang tahu tentang kejadian kemarin, jadi dia hanya mengikuti alur pembicaraan Ivory. Dia mengangguk dan berkata, "Hmm.""Kalau begitu, selama beberapa waktu ini, aku saja yang melakukannya. Kamu beri aku arahan dan bimbingan saja.""Nggak apa-apa, lukaku ini nggak akan memengaruhiku melakukan penelitian."Setelah berbinca
Dia memaksakan seulas senyum, lalu beranjak dari sofa dan berkata, "Oke. Belakangan ini ada restoran makanan barat yang sangat enak. Setelah kamu selesai bekerja, kita pergi ke restoran itu bersama, ya.""Hmm."Setelah Maudi pergi, sambil menggenggam ponselnya dengan erat, Andre menatap ponselnya sejenak. Pada akhirnya, dia tetap menghubungi Weni.Tanpa butuh waktu lama, terdengar nada panggilan sibuk dari ujung telepon. Saat itu juga, ekspresinya langsung berubah menjadi sepenuhnya muram...."Kak Rhea, Kak Rhea?"Rhea tersentak kembali dari lamunannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Ivory yang tengah menatapnya dengan ekspresi ingin tahu, lalu berkata, "Maaf, barusan kamu bilang apa?""Kak Rhea, apa ada masalah yang mengganggumu? Kamu sudah melamun untuk kesekian kalinya."Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah. Setelah terdiam selama beberapa detik, dia tiba-tiba bangkit dan berkata, "Ivory, aku tiba-tiba teringat aku ada sedikit urusan. Nanti setelah selesai makan, kamu kemba
Ekspresi Arieson langsung membeku. "Kapan kamu mengetahuinya?"Rhea berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Saat kamu pergi ke restoran pasangan dengannya."Keduanya terdiam. Saking heningnya, mereka bisa mendengar napas satu sama lain.Belasan detik kemudian, melihat pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bicara, Rhea langsung berbalik, membuka pintu mobilnya, berencana untuk masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.Tiba-tiba, Arieson menggenggam pergelangan tangannya."Rhea, salahku karena nggak memberitahumu hal ini. Maaf."Rhea menoleh menatapnya. Di bawah kegelapan malam, dia tidak bisa melihat ekspresi pria itu dengan jelas.Dia langsung menarik tangannya dan berkata, "Kalau kamu ingin balikan dengannya, aku bisa pindah malam ini juga."Arieson mengerutkan keningnya. "Aku nggak berencana untuk balikan dengannya. Aku nggak memberitahumu hal ini karena takut kamu salah paham. Aku tahu jelas orang yang kusukai sekarang adalah kamu."Rhea merasa ucapan Arieson agak konyol, di
Saat ini, Arieson sedang berjalan menghampirinya dengan perlahan sambil tersenyum.Namun, indranya yang tajam bisa merasakan saat ini suasana hati Arieson sangat buruk.Gerald menoleh, mengikuti arah pandang Rhea. Saat tatapannya bertemu dengan tatapan Arieson, secara naluriah dia menyipitkan matanya.Sepertinya pria ini memancarkan aura permusuhan yang sangat besar terhadap dirinya.Arieson langsung duduk di samping Rhea, lalu berkata sambil tersenyum, "Rhea, kamu makan bersama kakakmu, mengapa kamu nggak memberitahuku? Aku bisa datang bersamamu."Gerald juga mengalihkan pandangannya ke arah Rhea, lalu berkata dengan sorot mata kebingungan, "Ini adalah?"Ditatap oleh dua orang pria pada saat bersamaan, Rhea mengerutkan keningnya. Saat dia hendak memperkenalkan mereka pada satu sama lain, Arieson sudah mengalihkan pandangannya ke arah Gerald sambil tersenyum."Halo, Tuan Gerald, aku adalah Arieson, pacar Rhea, juga presdir Perusahaan Teknologi Hongdam."Sorot mata Gerald berkedip, dia
"Lama nggak bertemu."Gerald berjalan menghampiri Rhea, menundukkan kepalanya untuk menatap wanita itu. Dengan seulas senyum menghiasi wajahnya, dia berkata, "Hmm, lama nggak bertemu."Kalau dihitung-hitung, mereka berdua sudah tidak bertemu sekitar lima atau enam tahun, juga sangat jarang menghubungi satu sama lain, jadi Rhea merasa agak canggung."Ayo masuk dulu."Setelah duduk di dalam restoran dan memesan makanan, Rhea baru menatap pria itu dan berkata, "Mengapa kamu tiba-tiba berencana untuk mengembangkan kariermu di dalam negeri. Aku dengar dari Bibi Vani, gajimu di luar negeri cukup tinggi. Kalau kamu bekerja di sana beberapa tahun lagi, seharusnya kamu sudah bisa menetap di luar negeri, bukan?"Melihat sosok wanita yang sangat dirindukannya kini berada tepat di hadapannya, Gerald hampir melamun.Dia mengalihkan pandangannya dengan tenang, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku nggak terbiasa dengan makanan di luar negeri."Rhea agak terkejut, sangat jelas tidak terlalu percaya.
"Tuan Besar Thamnin, ada urusan apa kamu datang mencariku?"Melihat sikap Rhea yang tidak merendah, juga tidak arogan itu, Tuan Besar Thamnin mengerutkan keningnya, berkata dengan nada bicara arogan, "Sebut saja harganya, selama kamu bersedia melepaskan Sizur."Rhea menatap pria itu dengan ekspresi acuh tak acuh. "Kamu berencana memberi berapa?""Itu tergantung berapa yang ingin kamu minta. Kejadian itu sudah berlalu selama bertahun-tahun. Biarpun kamu benar-benar memasukkan Sizur ke penjara, aku juga punya cara untuk mengeluarkannya. Keras kepala nggak ada untungnya untukmu."Rhea bangkit, lalu berkata dengan nada bicara tanpa gejolak emosi, "Karena kamu sudah berbicara demikian, kita juga nggak perlu membicarakan hal ini lagi."Raut wajah Tuan Besar Thamnin langsung berubah menjadi sedingin es. "Apa maksudmu?""Nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya merasa kita nggak akan bisa mencapai kesepakatan. Aku masih ada kerjaan, pergi dulu."Selesai berbicara, Rhea langsung berbalik dan pergi.M
Arieson menatap wanita itu tanpa ekspresi dan berkata, "Erika, kamu bukanlah tipe orang yang akan memainkan trik-trik seperti ini."Tangan Erika yang terulur terhenti sejenak. Kemudian, dia menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Dulu kamu juga nggak akan menolakku.""Sudah kubilang, aku sudah punya pacar."Erika menatap pria itu, berkata dengan penuh penekanan, "Apa kamu mencintainya?"Melihat Arieson terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Erika merasakan sedikit kepercayaan diri."Lihatlah, kalau kamu mencintainya, kamu pasti akan mengakuinya tanpa ragu."Arieson mengerutkan keningnya dan berkata, "Erika, aku nggak mengakuinya hanya karena nggak ingin menyakitimu."Senyuman di wajah Erika langsung membeku. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan suara rendah, "Walau kamu mencintainya, juga nggak masalah. Kamu pasti akan jatuh cinta kembali padaku."Awalnya Arieson ingin mengatakan dia tidak akan jatuh cinta kembali pada wanita itu, ka
Ucapan ini adalah bentuk isyarat yang sudah sangat jelas antara pria dan wanita dewasa.Arieson berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Sudah larut, nggak perlu lagi. Kamu istirahatlah lebih awal."Erika agak kecewa, tetapi dia tetap memaksakan seulas senyum, mengangguk dan berkata, "Oke, kalau begitu, hati-hati di jalan, ya."Saat Arieson kembali ke vila, sudah jam sepuluh lewat malam.Dia baru saja berganti sepatu dan berjalan memasuki ruang tamu, pelayan sudah menghampirinya dan berkata, "Tuan Muda, malam ini Nona Rhea menunggumu pulang makan malam sangat lama. Pada akhirnya, dia langsung naik ke atas tanpa makan malam.""Oke, aku mengerti, kamu istirahat saja dulu.""Baiklah."Arieson menggulung lengan jasnya, lalu pergi ke dapur untuk membuat semangkuk mi dan membawakannya ke lantai atas.Mendengar suara ketukan pintu, Rhea mengira itu adalah pelayan vila. Dia segera bangkit untuk membuka pintu.Begitu melihat sosok bayangan yang tinggi di hadapannya itu, dia tertegun sejenak. Kem
Kalau mereka bukan mengunjungi restoran pasangan, kalau mereka bukan duduk di sisi yang sama di meja makan, kalau Arieson tidak mengambilkan sayuran untuk wanita itu, mungkin ... dia masih bisa membohongi dirinya sendiri bahwa wanita itu adalah mitra Perusahaan Teknologi Hongdam.Dia mematikan layar ponselnya, menundukkan kepalanya, ekspresinya tampak muram.Saat dia melihat foto tersebut, dia sempat terdorong untuk menelepon Arieson, mempertanyakan pria itu. Namun, pada akhirnya dia tetap tenang kembali.Dia juga hanya memanfaatkan Arieson. Biarpun pria itu benar-benar menjalin hubungan tidak jelas dengan wanita lain, apa haknya untuk mempertanyakan pria itu?Lagi pula, bukankah dia juga tidak berencana untuk bersama pria itu selamanya?Ponselnya kembali berbunyi, Weni mengirimkan beberapa pesan untuknya.[Aku sudah meminta orang untuk menyelidiki wanita itu. Nama wanita itu adalah Erika Kilbis, cinta pertama Arieson. Setelah dia mendapatkan beasiswa penuh, dia pergi ke luar negeri un
Rhea mengalihkan pandangannya ke bawah, lalu berkata dengan perlahan, "Nggak apa-apa. Kamu semalaman nggak pulang ke vila, aku hanya ingin menanyakan apa urusanmu sudah selesai ditangani."Orang di ujung telepon hening sejenak sebelum terdengar suara rendah Arieson. "Sudah hampir selesai ditangani, malam ini aku akan pulang."Tanpa Rhea sadari, cengkeramannya pada ponselnya makin erat. "Oke, kalau begitu nanti malam kita makan malam bersama.""Hmm, tunggu aku pulang."Setelah mengakhiri panggilan telepon, Arieson mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang tengah duduk di seberangnya sambil menangis. Dia berkata dengan dingin, "Erika, hubungan kita sudah berakhir, nanti aku akan memesan tiket pesawat untukmu."Pergerakan menyeka air mata Erika terhenti. Dengan berlinang air mata, dia menatap Arieson dan berkata, "Aku nggak mau! Kali ini aku sudah pulang, aku nggak berencana untuk pergi lagi."Arieson mengerutkan keningnya, hawa di sekelilingnya berubah menjadi sedingin es."Terserah k
Arieson mengusap-usap kepalanya, berkata dengan suara rendah, "Nggak bisa membuatmu memercayaiku sepenuhnya, itu artinya aku masih kurang baik."Rhea mendongak, menatap pria itu. Saat dia hendak berbicara, tiba-tiba ponsel Arieson berdering."Kamu sudah mengubah nada deringmu?"Dulu Rhea sudah pernah mendengar nada dering ponsel Arieson, sepertinya berbeda dengan nada dering hari ini.Arieson tidak berbicara, dia mengambil ponselnya dan berjalan ke samping sebelum menjawab panggilan telepon tersebut.Tidak tahu mengapa, hati Rhea diliputi oleh kegelisahan, keningnya juga berkerut.Tak lama kemudian, Arieson sudah mengakhiri panggilan telepon itu, lalu berbalik dan berjalan menghampirinya."Aku ada sedikit urusan, perlu keluar sebentar, kamu tidur saja dulu."Selesai berbicara, dia berbalik, hendak pergi. Secara naluriah, Rhea menarik tangannya."Apa urusan itu sangat penting? Bisakah kamu tetap di sini untuk menemaniku ... aku ...."Rhea juga tidak tahu harus menggunakan alasan seperti