Home / Fantasi / KERUMUNAN ADALAH NERAKA / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of KERUMUNAN ADALAH NERAKA: Chapter 31 - Chapter 40

52 Chapters

BAB 31 PERSIMPANGAN JALAN

Setelah perbincangan panjang tentang The High Priest, malam itu mereka bertiga tidak langsung kembali ke rumah. Pikiran mereka masih dipenuhi oleh perdebatan yang tak kunjung selesai. Langit bertabur bintang, tetapi ada sesuatu yang mengganggu hati mereka, seperti kabut yang menghalangi cahaya rembulan.Mudra berjalan lebih dulu, diikuti oleh Sari dan Vanua yang berjalan berdampingan di belakangnya. Ki Rajendra berjalan santai di depan Mudra. Mereka tiba di kebun di pinggir desa, tempat bunga-bunga liar bermekaran dalam keheningan. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Di bawah pohon besar yang menaungi mereka, Ki Rajendra kembali membalik kartu berikutnya.Sebuah kartu bergambar sepasang kekasih muncul. Seorang pria dan wanita berdiri di taman yang dipenuhi bunga, sementara di atas mereka, seorang malaikat memandang dengan tangan terulur, seolah memberkati ikatan mereka. Sang pria dan wanita saling menatap, dan di antara mereka, ada api kecil yang berkobar, s
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 32 KEMENANGAN BERDARAH

Ki Rajendra dengan perlahan membalik kartu berikutnya, mengungkapkan gambar seorang pria berseragam baja, berdiri gagah di atas kereta perang emas dan perak, ditarik oleh dua ekor kuda: satu hitam, satu putih."The Chariot," ujar Ki Rajendra dengan nada berat. "Simbol kemenangan, disiplin, dan kendali atas kekuatan besar."Mudra, Sari, dan Vanua menatap kartu itu dengan sorot mata penuh pertanyaan. Setelah pembahasan panjang tentang The High Priest dan sistem yang membimbing manusia, kini mereka dihadapkan pada kartu yang berbeda, yang tampak lebih berkaitan dengan pergerakan dan ambisi."Apa yang membedakan The Chariot dari pemimpin sebelumnya yang telah kita bahas?" tanya Mudra.Ki Rajendra menarik napas dalam. "Jika The Emperor menetapkan aturan dan The High Priest memberi ajaran, maka The Chariot adalah sosok yang bertindak. Ia tidak hanya memahami dunia, tetapi juga mengendalikan kekacauan dengan kekuatan kemauannya."Vanua mengangkat alis. "Jadi ini tentang ego? Keinginan untuk
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 33 KERUMUNAN ELPIJI HIJAU

Malam di Desa Kampung Tujuh terasa berat. Kabut tipis menyelimuti tanah, sementara api unggun di tengah balai desa berkedip-kedip, seolah berjuang untuk tetap hidup. Di dalam lingkaran cahaya obor, Ki Rajendra membalik kartu berikutnya. Kali ini, gambar seorang wanita berambut cokelat yang duduk dengan tenang di samping seekor singa besar muncul di hadapan mereka."Kartu Strength," ujar Ki Rajendra, suaranya dalam dan mantap. "Ini bukan kekuatan otot, bukan kekuatan senjata, tetapi kekuatan yang lebih dalam—kekuatan untuk menjinakkan kekacauan tanpa harus menghancurkannya."Mudra, Sari, dan Vanua menatap kartu itu dengan penuh perhatian. Setelah pertempuran melawan makhluk-makhluk gaib beberapa waktu lalu, kini mereka dihadapkan pada tantangan yang lebih nyata—kerumunan yang mulai tak terkendali."Apa hubungannya dengan desa kita?" tanya Sari, matanya penuh tanya. "Kami butuh cara untuk mengatasi kekacauan yang muncul dari kerumunan, bukan hanya menghadapi satu atau dua makhluk gaib."
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 34 PENCARIAN DI TENGAH KESEPIAN

Malam merayap pelan di Kampung Tujuh, menyelimuti jalanan desa dengan kesunyian yang tidak biasa. Warung-warung tutup lebih awal, suara tawa para wisatawan yang biasanya menghangatkan sepanjang hari kini lenyap. Papan pengumuman bertuliskan "TEMPAT WISATA DITUTUP SEMENTARA - COVID-19" terpasang di pintu masuk jalur pendakian Gunung Api Purba.Di balai desa, suasana panas. Para pedagang dan pemilik warung berkumpul, wajah mereka menyiratkan keputusasaan. Sumber penghidupan mereka telah terhenti seketika."Bu Ros, kami harus bagaimana? Kami menggantungkan hidup dari wisatawan!" seru Pak Samin, pemilik warung kopi di jalur pendakian."Kami paham situasi ini sulit," jawab Bu Ros, kepala desa, berusaha tetap tenang. "Tapi kita harus mengikuti aturan dari pemerintah. Pandemi ini bukan main-main.""Lalu kami mau makan apa?!" seorang ibu penjual suvenir menimpali. "Sudah dua bulan sepi, sekarang ditutup total! Kami butuh solusi!"Dari sudut ruangan, Mudra mengamati. Matanya tajam membaca dina
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 35 PESAN DARI GUNUNG API PURBA

Langit di atas Kampung Tujuh dipenuhi awan tipis yang bergerak perlahan, seolah mengikuti tarian takdir yang tidak terlihat. Di kejauhan, siluet Gunung Api Purba berdiri megah, menandakan bahwa tanah ini telah menyimpan sejarah dan misteri jauh sebelum manusia pertama kali menapakkan kaki di sana. Malam sebelumnya, Ki Rajendra telah membalik kartu berikutnya—Wheel of the Year—sebuah simbol perubahan, siklus kehidupan, dan kejutan yang datang tanpa peringatan."Gunung ini menyimpan lebih dari sekadar legenda," kata Ki Rajendra dengan suara berat. "Di dalamnya, ada keseimbangan antara yang lama dan yang baru, antara kehancuran dan penciptaan. Roda takdir tidak pernah berhenti berputar, dan kita semua adalah bagiannya."Mudra, Sari, dan Vanua mengamati jalan setapak yang mengarah ke puncak gunung. Sejak pandemi, gunung ini ditutup dari para wisatawan, tetapi bagi mereka bertiga, ada sesuatu yang lebih dari sekadar pelarangan administratif. Seolah-olah gunung ini sendiri menanti orang-ora
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 36 KEADILAN DI TANAH COKELAT

Langit Kampung Tujuh tampak muram, seolah memahami bahwa ketegangan yang menggelayuti desa semakin memuncak. Gunung Api Purba menjulang di kejauhan, menyimpan lebih dari sekadar tanah subur—ia menyimpan sejarah, legenda, dan kini menjadi pusat pertentangan yang membara.Sejak dahulu, tanah vulkanik Gunung Api Purba menghasilkan cokelat terbaik, dengan cita rasa khas yang tidak ditemukan di tempat lain. Para petani di Kampung Tujuh telah merawat kebun kakao ini selama bertahun-tahun, menjaga warisan nenek moyang mereka dengan penuh dedikasi. Namun, kini masa depan mereka terancam.Kelompok pengusaha besar, yang dipimpin oleh seorang pria bernama Surya Darma, telah datang membawa janji investasi besar. Mereka ingin membangun pabrik cokelat skala industri, menjanjikan kesejahteraan bagi desa. Tapi harga yang harus dibayar terlalu tinggi—hak kepemilikan tanah harus dialihkan kepada perusahaan mereka.Di balai desa, penduduk berkumpul dalam kerumunan yang gaduh. Sebagian mendukung investas
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 37 PEMBALIKAN TAKDIR

Kabut menyelimuti Kampung Tujuh pagi itu, lebih pekat dari biasanya, seolah alam sendiri enggan menunjukkan jalan. Para petani cokelat berkumpul di balai desa, masih dibayangi peristiwa semalam ketika para penjaga gaib gunung mengusir Surya Darma dan orang-orangnya. Namun, meskipun ancaman eksploitasi tanah mereka berhasil ditolak, ketegangan belum sepenuhnya mereda."Kita menang semalam, tapi sampai kapan?" tanya salah seorang petani."Benar. Jika mereka kembali dengan kekuatan hukum, apa yang bisa kita lakukan?" tambah yang lain.Sari, Mudra, dan Vanua saling berpandangan. Mereka tahu, kemenangan mereka bukanlah akhir, melainkan awal dari ujian baru. Ketika semua orang terdiam, Ki Rajendra melangkah maju, mengeluarkan satu kartu Tarot dan membaliknya perlahan di atas meja kayu.Kartu itu memperlihatkan seorang pria tergantung terbalik di pohon, dengan ekspresi tenang dan lingkaran cahaya di kepalanya."The Hanged Man. Lelaki yang digantung terbalik.""Apa artinya, Ki?" tanya Vanua d
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 38 GAMELAN DAN BAYANGAN KEMATIAN

Bulan pucat menggantung di langit, mengintip di antara celah-celah awan yang bergerak malas. Angin dingin menyapu tanah, membawa bisikan dari masa lalu. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda, penduduk desa bersiap untuk sebuah perhelatan istimewa—pementasan seni gamelan yang telah lama mereka rindukan. Namun, di balik denting saron dan gong yang akan segera bergema, ketegangan mengintai di setiap sudut.Balai desa yang biasanya menjadi tempat pertemuan kini disulap menjadi panggung sederhana. Kursi-kursi diatur berjarak, masker wajib dikenakan, dan hanya sedikit warga yang diizinkan menonton langsung. Sebagian besar penduduk harus puas menyaksikan acara ini melalui siaran langsung dari layar kecil di rumah mereka.“Kita harus tetap menjalankan tradisi, tetapi dengan cara yang lebih aman,” ujar Sari sambil memastikan semua alat musik telah disterilkan.Mudra mengangguk, tetapi matanya memandang ke kejauhan. “Aku tahu ini penting, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 39 PENJAGA HARMONI

Malam di Kampung Tujuh masih diselimuti suasana mistis setelah pertunjukan gamelan yang penuh keheningan. Namun, perubahan belum berakhir. Seperti pesan kartu tarot Temperance, keseimbangan harus dicapai. Desa ini telah melalui banyak ujian: pandemi, kelangkaan bahan pokok, konflik di antara warganya sendiri. Kini, tantangan baru hadir dalam bentuk modernisasi yang mengancam akar budaya mereka.Pagi itu, warga desa berkumpul di balai desa untuk membahas langkah selanjutnya. Sejak pandemi melandai, beberapa investor dari kota mulai melirik Kampung Tujuh sebagai destinasi wisata budaya. Salah satu daya tarik utama yang mereka incar adalah pementasan gamelan, tetapi dengan sentuhan modern: tata panggung yang lebih megah, sistem suara canggih, bahkan kemungkinan menggabungkan musik tradisional dengan teknologi digital.Namun, tidak semua warga setuju dengan ide ini.“Ini kesempatan besar bagi desa kita!” kata Raka, pemuda yang selama ini bersemangat mempromosikan Kampung Tujuh sebagai des
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 40 MALAM PENGHAKIMAN

Udara yang lembab membawa bisikan keresahan, menyusup ke rumah-rumah warga. Masalah yang selama ini ditutup-tutupi kini meledak di hadapan mereka—usaha simpan pinjam BUM Desa Kampung Tujuh mengalami kemacetan. Banyak warga yang kesulitan membayar pinjaman mereka, terutama setelah pandemi menghancurkan sumber penghasilan utama desa.Pagi itu, balai desa penuh sesak. Wajah-wajah cemas menghiasi ruangan. Para pedagang kecil, petani, hingga pengelola warung kopi berkumpul, saling berbisik tentang masa depan yang tak pasti."Saya sudah berusaha, tapi jualan saya menurun drastis," ujar Pak Ruban, seorang penjual hasil bumi."Kami para perajin cokelat gunung juga mengalami penurunan pesanan," sahut Bu Ranti. "Padahal, kami mengandalkan hasil penjualan untuk membayar cicilan."Di sisi lain ruangan, para pengurus BUM Desa, termasuk Raka dan Pak Wirya, berusaha meredakan situasi. "Kami sedang mencari solusi terbaik," kata Raka. "Tapi kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa jika banyak pinjaman
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status