Ki Rajendra menyentuh setumpuk kartu, seolah membelai benang-benang takdir yang terjalin rumit. Dengan khidmat, dibukanya sebuah kartu, menampilkan seorang wanita bermahkota bulan, duduk di antara pilar-pilar bisu, menggenggam gulungan rahasia. Wajahnya laksana danau tenang, menyimpan misteri di balik riak kerumunan yang tak pernah benar-benar sunyi."The High Priestess," bisik Ki Rajendra, suaranya mengalun lirih, "hadir membawa sunyi di tengah hingar. Ia adalah penjaga gerbang jiwa. Bayang-bayang kerumunan tak mampu menjangkau, sebuah benteng terakhir dari riuhnya dunia luar."Sari, Mudra, dan Vanua menatap kartu itu, terpana oleh aura keheningan yang terpancar, seolah bisikan angin malam yang membawa rahasia kuno. Di mata Vanua, kerumunan yang selama ini tampak sebagai lautan riuh, kini terlihat memiliki kedalaman sunyi yang tak terduga, sebuah labirin jiwa yang tersembunyi di balik wajah-wajah yang berdesakan."Jadi," kata Vanua dengan suara lirih, "kerumunan bukan hanya bising da
Last Updated : 2025-04-02 Read more