Home / Fantasi / KERUMUNAN ADALAH NERAKA / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of KERUMUNAN ADALAH NERAKA: Chapter 21 - Chapter 30

52 Chapters

BAB 21 PERTEMUAN MUDRA DAN SARI

Kabut tipis menyelimuti Desa Gayam, menyembunyikan sebagian rumah dan jalan setapak. Udara dingin menyusup hingga ke sumsum, membawa serta keheningan yang aneh. Mudra duduk di beranda rumahnya, matanya kosong menatap kabut yang menggantung di cakrawala. Pikirannya melayang, mencoba merangkai kepingan peristiwa yang telah terjadi.Di dalam rumah, Vanua masih tertidur lelap di atas kasur dengan napas yang teratur. Aroma dupa cendana bercampur dengan dingin pagi menciptakan suasana yang mistis. Mudra menghela napas, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia tahu ada sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang masih mengendap di dasar pikirannya.Tak ingin larut dalam kebimbangan, Mudra memutuskan untuk mencari ketenangan di petilasan desa. Tempat itu selalu menjadi peraduan batinnya ketika kebingungan melanda. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak, hingga akhirnya tiba di bawah pohon beringin tua yang berdiri kokoh di petilasan.Di sana, ia melihat Sari duduk bersila dengan mata terpejam
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

BAB 22 RAJA BATU

Vanua berdiri di depan rumah bambunya, menatap Kampung Tujuh yang dahulu tenang, kini dipenuhi kecemasan. Panen yang gagal, bencana alam yang merusak ladang, dan wabah penyakit yang merenggut nyawa, semuanya seperti gejala dari ketidakseimbangan yang lebih besar. Tapi ada satu hal yang lebih mencemaskan: kehadiran sosok misterius yang disebut Raja Batu.Mereka bergegas menuju balai desa, tempat para tetua berkumpul. Bu Ros, kepala desa Kampung Tujuh, berdiri di tengah ruangan dengan wajah penuh keprihatinan."Vanua, Mudra, Sari, kami sangat membutuhkan bantuan kalian," katanya dengan suara berat. "Tanah ini semakin tidak subur, hujan turun tanpa henti, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Kami khawatir sesuatu telah mengganggu keseimbangan desa."Sari melangkah maju, tatapannya penuh keyakinan. "Kita harus melakukan ritual penyatuan," katanya mantap. "Kekuatan spiritual dan duniawi harus bersatu. Keseimbangan telah terganggu, dan kita harus memanggil kembali harmoni yang hilan
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

BAB 23 SEGITIGA EROS

Di balik kebersamaan dan keberhasilan mereka di Kampung Tujuh, ada benih konflik emosional yang mulai tumbuh di hati Sari. Malam itu, ketika seluruh desa telah terlelap, ia berjalan seorang diri, mencari ketenangan di bawah langit yang bertabur bintang. Perasaan yang selama ini ia pendam mulai menyesakkan dada. Antara Mudra dan Vanua, ada sesuatu yang tak bisa ia pahami sepenuhnya, sesuatu yang membuat hatinya gamang.Langkahnya tanpa sadar membawanya ke depan rumah bambu Vanua. Dari celah jendela yang sedikit terbuka, ia melihat kehangatan yang tak pernah ia duga. Di dalam, Mudra dan Vanua duduk berdekatan di atas tikar anyaman, saling menatap dengan penuh pengertian. Vanua menyandarkan kepalanya di bahu Mudra, dan Mudra mengusap rambutnya dengan lembut. Suara mereka lirih, namun cukup bagi Sari untuk menangkap maknanya."Mudra, aku tak pernah merasa seutuh ini," bisik Vanua. "Kau selalu ada di saat aku paling membutuhkan."Mudra tersenyum, mengeratkan genggamannya pada tangan Vanua.
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 24 NYI LORONG

KKKPeristiwa aneh terjadi di Kampung Tujuh. Pohon beringin di petilasan desa, yang selama ini dianggap sebagai penjaga keseimbangan alam, tiba-tiba layu dan mati. Warga desa panik, merasa perlindungan dari leluhur dan alam telah hilang. Suasana menjadi tegang, seakan ada sesuatu yang mengintai dalam bayang-bayang.Bu Ros segera memanggil Sari, Mudra, dan Vanua ke balai desa. Dengan wajah penuh kecemasan, ia berkata, "Ada sesuatu yang salah. Energi desa kita terasa berubah. Aku merasa ada kekuatan gelap yang mulai merayap."Sari menatap sisa-sisa pohon beringin yang menghitam di kejauhan. "Ini bukan kejadian biasa," gumamnya. "Alam sedang memberikan tanda."Vanua yang memiliki kepekaan spiritual merasakan sesuatu yang berbeda. "Ada kehadiran yang mengganggu keseimbangan. Aku merasa kita sedang diawasi."Mudra mengepalkan tangannya. "Kita harus mencari tahu sumbernya. Kita tak bisa membiarkan desa ini jatuh dalam ketakutan."Mereka bertiga sepakat untuk mencari jawaban. Malam itu, di b
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 25 KI RAJENDRA

KKKSenja merayap turun, menyelimuti Kampung Tujuh dengan bayang-bayang yang semakin panjang. Di bawah naungan pohon akasia yang rindang, Sari, Mudra, dan Vanua duduk membentuk lingkaran, wajah mereka diliputi kegelisahan. Bu Ros telah mempertemukan mereka dengan Ki Rajendra, seorang guru tarot dan pemikir spiritual yang memilih menyendiri, menjauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Tidak dikenal di dunia media sosial tapi dihormati di media dedemit. Mereka mencari jawaban atas kegelisahan yang menghantui desa, sebuah ketidakpastian yang menjelma menjadi ancaman yang tak kasat mata.Ki Rajendra duduk bersila di hadapan mereka, tangannya perlahan-lahan mengocok dek tarot yang tampak lusuh namun memancarkan energi misterius. Mata tuanya menatap mereka satu per satu, seolah bisa menembus lapisan ketakutan yang mereka simpan dalam hati."Setiap perjalanan meninggalkan jejak," ujar Ki Rajendra, suaranya dalam dan berat. "Tarot bukan ramalan. Tarot adalah cermin. Ia hanya akan menunjukkan apa yan
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 26 KEKUATAN KERUMUNAN

Ki Rajendra meletakkan kartu The Fool kembali ke dalam tumpukannya dengan gerakan yang tenang. Kemudian, ia menarik satu kartu lagi dari dek Tarotnya dan membaliknya. Kali ini, gambar yang muncul adalah sosok yang berdiri tegak di depan meja altar yang dipenuhi berbagai simbol: tongkat, cawan, pedang, dan pentakel. Tangannya terangkat, satu menunjuk ke atas, seolah menarik energi dari langit, dan yang lain menunjuk ke bawah, menyalurkannya ke bumi."Sekarang," kata Ki Rajendra dengan senyum yang lebih dalam, "mari kita lihat pesan dari kartu berikutnya yang hadir untuk kalian: The Magician."Sari dan Mudra mencondongkan tubuh ke depan, tertarik dengan kartu tersebut. Vanua, meskipun masih tampak sedikit ragu, ikut mengamati dengan saksama."Kartu ini," lanjut Ki Rajendra, "muncul sebagai pesan bahwa kekuatan yang kalian cari sebenarnya telah ada dalam diri kalian sendiri. The Magician mengajarkan tentang pentingnya menyeimbangkan elemen-elemen alam dan memanfaatkan kekuatan yang terse
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 27 KEHENINGAN DALAM KERUMUNAN

Ki Rajendra menyentuh setumpuk kartu, seolah membelai benang-benang takdir yang terjalin rumit. Dengan khidmat, dibukanya sebuah kartu, menampilkan seorang wanita bermahkota bulan, duduk di antara pilar-pilar bisu, menggenggam gulungan rahasia. Wajahnya laksana danau tenang, menyimpan misteri di balik riak kerumunan yang tak pernah benar-benar sunyi."The High Priestess," bisik Ki Rajendra, suaranya mengalun lirih, "hadir membawa sunyi di tengah hingar. Ia adalah penjaga gerbang jiwa. Bayang-bayang kerumunan tak mampu menjangkau, sebuah benteng terakhir dari riuhnya dunia luar."Sari, Mudra, dan Vanua menatap kartu itu, terpana oleh aura keheningan yang terpancar, seolah bisikan angin malam yang membawa rahasia kuno. Di mata Vanua, kerumunan yang selama ini tampak sebagai lautan riuh, kini terlihat memiliki kedalaman sunyi yang tak terduga, sebuah labirin jiwa yang tersembunyi di balik wajah-wajah yang berdesakan."Jadi," kata Vanua dengan suara lirih, "kerumunan bukan hanya bising da
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 28 MERAWAT KERUMUNAN

Setelah keheningan panjang yang tercipta dari kebijaksanaan The High Priestess, Ki Rajendra menutup matanya sesaat. Seolah merasakan ritme alam yang bergerak di sekelilingnya, ia menghembuskan napas panjang, lalu meraih kartu berikutnya dengan gerakan yang penuh hormat. Kartu itu dibalik, menampilkan sosok seorang wanita anggun yang duduk di atas singgasana berhias emas. Ia mengenakan mahkota bintang dan memegang tongkat kerajaan di tangannya. Di sekelilingnya, taman yang rimbun dan penuh kehidupan membingkai sosoknya, seolah alam pun tunduk pada kehadirannya."The Empress," ucap Ki Rajendra pelan, seolah memperkenalkan seorang tokoh besar yang telah lama dinantikan. "Ia adalah simbol kesuburan, kelimpahan, dan kebijaksanaan yang tumbuh dari pengalaman. Seperti bumi yang selalu memberi, ia adalah sumber kehidupan yang terus mengalir."Sari menatap kartu itu dalam-dalam, merasakan sesuatu yang mengalir di dalam dirinya. "Jadi, ini tentang kelahiran kembali? Tentang bagaimana kita bisa
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 29 BENTENG KERUMUNAN

Ki Rajendra meletakkan kartu The Empress dengan gerakan penuh hormat, seolah melepaskan kehangatan musim semi. Kini, tangannya yang keriput menjangkau kartu berikutnya, menghadirkan aura yang berbeda, seolah pergantian musim dari kelembutan ke ketegasan. Gambar yang muncul adalah sosok pria dewasa yang duduk dengan gagah di atas takhta batu, laksana gunung karang yang kokoh. Ia mengenakan jubah merah, warna keberanian dan otoritas, memegang tongkat kerajaan dan bola dunia, simbol kekuasaan dan tanggung jawab yang dipikulnya. Wajahnya laksana pahatan batu, menunjukkan ketenangan dan otoritas, namun menyimpan kebijaksanaan di balik garis-garis tegasnya."Sekarang," kata Ki Rajendra dengan nada mantap, suaranya berat seperti gema langkah kaki di lantai batu. "Kita akan melihat pesan dari kartu The Emperor."Mudra menatap kartu itu dengan rasa hormat, merasakan aura kepemimpinan yang memancar kuat. Sosok dalam gambar itu memancarkan kekuatan dan ketegasan, sesuatu yang menurutnya sangat d
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

BAB 30 MENJINAKKAN KERUMUNAN

Ki Rajendra menarik napas dalam sebelum meraih kartu berikutnya. Tangannya yang kokoh namun berkeriput meletakkan kartu The Emperor dengan hormat, seolah mengakui peran kepemimpinan yang kuat. Lalu, dengan gerakan perlahan, ia membalik kartu baru. Di hadapan mereka kini terbentang sosok seorang pria tua berwibawa yang duduk di atas bangku batu, mengenakan jubah merah dengan sulaman emas, di dadanya tersemat lambang bintang perak. Di satu tangan, ia menggenggam tongkat bertingkat tiga, sementara tangan lainnya terangkat dalam gestur ajaran, dua jari menunjuk ke langit dan dua lainnya ke bumi."The High Priest," ujar Ki Rajendra, suaranya rendah namun bergema dalam ruangan, "penjaga pengetahuan dan pemimpin spiritual. Ia adalah jembatan antara dunia manusia dan dunia yang lebih tinggi, mengajarkan disiplin dan tradisi kepada mereka yang mencarinya."Sari, Mudra, dan Vanua menatap kartu itu dengan perasaan bercampur aduk. Setelah pembahasan tentang The Emperor, kini mereka dihadapkan den
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status