Home / Pendekar / Si Buta Dari Sungai Ular / Chapter 241 - Chapter 250

All Chapters of Si Buta Dari Sungai Ular: Chapter 241 - Chapter 250

1284 Chapters

241. Part 19

“Mungkin ini akhir dari Gantar Angin….” gumam salah seorang patih pelan.“Bagaimana tindakan kita?” tanya salah seorang lainnya.“Tidak perlu ikut campur. Kita semua, hanya jabatannya saja yang patih. Tapi tugas dan pekerjaan sudah ditangani orang-orang Prabu Abiyasa. Kita lihat saja. Siapapun yang duduk di atas tahta, dialah junjungan kita.”“Setuju!”“Kalian tidak bisa bersikap demikian.”Lima orang patih itu terkejut, dan hampir bersamaan menoleh. Wajah mereka langsung pucat pasi begitu melihat Raden Sangga Alam tahu-tahu sudah berada diruangan ini. Pemuda tampan bagai wanita itu melangkah pelan menghampiri. Sikapnya lembut dan bibirnya tidak pernah lepas dari senyuman.“Kalian adalah orang-orang yang dulu berjanji setia pada Prabu Abiyasa. Sebelumnya, kalian juga mengaku setia pada Ratu Kunti Boga. Dan kini, kalian pasti akan mengatakan setia pada orang yang mungkin
last updateLast Updated : 2023-11-25
Read more

242. Part 20

“Aku memang sudah memperkirakan. Cepat atau lambat, semuanya pasti terbongkar,” desah Paman Nampi.“Saat ini benteng istana sudah dikepung para pemberontak. Kalian tidak mungkin dapat meninggalkan kamar ini,” kata Raden Sangga Alam memberi tahu.Paman Nampi dan Bantar Gading terkejut. Hanya Manggala yang kelihatannya tenang-tenang saja.“Tidak perlu dicemaskan. Mereka berjuang untukku, untuk keadilan di Gantar Angin ini,” sambung Raden Sangga Alam.“Tapi…” Bantar Gading teringat Ki Maruta.“Mereka adalah para penglima dan prajurit setia Ibunda Ratu Kunti Boga yang sempat melarikan diri ketika itu. Aku berhasil menghimpun mereka dalam waktu dua hari ini bersama Si Buta dari Sungai Ular, dan sama sekali tidak melibatkan rakyat. Tapi, aku tidak bisa menolak kehadiran pada pemuda yang rela berkorban demi keadilan.”“Bagaimana dengan kaum pemberontak di Hutan Danaraja?&rdquo
last updateLast Updated : 2023-11-25
Read more

243. Part 21

“Rasanya tidak ada lagi yang harus kusampaikan,” kata Manggala.“Tunggu dulu, Tuan Pendekar,” cegah Ki Raban ketika Manggala akan berbalik.Manggala mengurungkan niatnya untuk kembali ke dalam benteng istana.“Apa yang tengah dilakukan Raden Sangga Alam di dalam?” tanya Ki Raban ingin tahu.“Menarik kembali orang-orang yang masih setia padanya,” sahut Manggala.Setelah berkata demikian, Manggala langsung berbalik dan melesat ke atas tembok benteng. Setelah melewati tembok, langsung meluruk ke bawah. Dengan manis kakinya kembali menjejak tanah di dalam tembok Istana Gantar Angin. Namun baru saja hendak melesat lagi, sebuah tombak meluruk ke arahnya.“Eit!” Manggala menarik tubuhnya ke samping, maka tombak itu hanya lewat, menyambut tempat kosong. Belum juga Si Buta dari Sungai Ular itu menarik tubuhnya kembali, sebuah bayangan meluruk ke arahnya. Buru-buru Manggala menjatuhkan diri d
last updateLast Updated : 2023-11-26
Read more

244. Part 22

“Hhh…!” Manggala mendengus berat seraya memalingkan kepalanya.Tampak beberapa puluh prajurit Gantar Angin berlarian ke arah pertarungan itu. Rupanya mereka mendengar suara pertarungan, sehingga mengundang mereka untuk ke sana. Kembali Manggala mendengus berat. Segera diangkat tangan kanannya ke atas kepala. Senjata Tongkat yang tengah melayang-layang, menyerang seorang jago dari tanah seberang, melesat balik dan langsung ditangkap oleh Manggala.“Nyawamu masih terampuni kali ini, orang asing!” kata Manggala dingin.Setelah berkata demikian, Manggala langsung melompat cepat ke arah atap bangunan istana. Dan begitu jari kakinya menjejak atap, tubuhnya kembali meluruk turun ke balik tembok istana itu. Beberapa prajurit yang mengejar, kini kehilangan jejak. Sedangkan jago dari seberang yang tersisa, hanya berdiri mematung dengan napas kembang-kempis.-o0o-Manggala langsung menutup jendela kamar pribadi Raden Sangga Alam
last updateLast Updated : 2023-11-26
Read more

245. Part 23

Di antara para prajurit dan pemuda rakyat yang tengah bertempur menyabung nyawa, tampak Manggala sedang menghadapi dua orang jago dari seberang. Tidak jauh dari tempat pertarungan itu, terlihat tiga orang jago dari seberang tergeletak dengan tubuh bersimbah darah. Rupanya Si Buta dari Sungai Ular telah berhasil membinasakan tiga dari lima jago dari seberang yang tersisa.Jumlah yang banyak dengan ditambah semangat berkobar-kobar, membuat mereka yang setia pada Ratu Kunti Boga berada di atas angin. Semangat mereka semakin berkobar begitu para panglima, patih, dan prajurit yang ditawan telah dibebaskan Bantar Gading. Mereka langsung menerjunkan diri dalam kancah pertempuran. Suasana jadi semakin tidak menentu. Tidak terhitung lagi, berapa para prajurit setia Prabu Abiyasa yang tewas berlumuran darah.“Mampuslah kalian!” terdengar bentakan keras Si Buta dari Sungai Ular.“Aaa…!” satu jeritan melengking mengantarkan kematian salah seor
last updateLast Updated : 2023-11-27
Read more

246. Part 24

“Aku memang bisa melihat Seruni. Hanya kau satu-satunya wanita yang kuberitahukan tentang hal itu”Seruni sempat tertegun mendengar kata-kata Manggala, tapi kemudian dia menyadari kata-kata terakhir Manggala untuk dirinya. Dan bibirnya tersenyum. Entah apa arti senyumannya itu.“Seharusnya kau menghentikan pembantaian itu, Kakang,” kata Seruni seraya memalingkan pandangannya kembali ke arah pertempuran.“Percuma! Mereka tidak memerlukan aku lagi. Mereka sudah dikendalikan hawa nafsu dan rasa dendam yang mendalam di dalam hati. Raden Sangga Alam sendiri tidak mampu mengendalikannya.”“Lalu, bagaimana dengan Kakang Bantar Gading?” tanya Seruni teringat kekasihnya.“Aku tidak melihat sejak terjadi pertempuran.”“Oh…..” Seruni mendesah lirih.Manggala memalingkan kepalanya. Jelas, ada rasa cemas terpancar pada wajah wanita itu. Sangat jelas terlihat, meskipun w
last updateLast Updated : 2023-11-27
Read more

247. Bangkitnya Iblis Mara Kayangan

RAYAPAN ANGIN berhembus perlahan, dengan dingin yang menusuk, menghampar ke tempat yang sunyi itu. Dan sungguh aneh, di tempat yang cukup luas itu hanya terdapat lima buah pohon berjarak satu tombak yang saling berdekatan. Merentang dari barat ke timur. Berjajar dan di sekelilingnya di tumbuhi semak belukar, yang karena tergesek oleh angin hingga menimbulkan suara mencekam dipadu dengan suara jengkerik dan kodok.Sinar rembulan di atas sana hanya bisa menembus sedikit dari gumpalan awan hitam yang menggayuti di bawahnya. Namun kejap kemudian, semuanya berubah. Angin yang merayap perlahan, berhembus dahsyat. Menggugurkan dedaunan dan menerbangkan semak belukar.Sinar rembulan yang masih mampu menembus gumpalan awan hitam tadi, kini benar-benar tak mampu lagi pancangkan sinar terangnya yang lembut. Tempat itu mendadak saja menjadi gelap gulita. Suara binatang malam bagai lenyap begitu saja.Dalam kegelapan malam dan suasana mencekam, mendadak saja satu bayangan hijau berkelebat ke tempa
last updateLast Updated : 2023-11-27
Read more

248. Part 2

Kejap kemudian, terlihat perempuan baju hijau monyongkan mulutnya. Dan perlahan keluar angin dari mulutnya itu. Meskipun hanya angin kecil saja, namun mampu membongkar semak belukar yang ada di sebelah kanan dari hadapannya. Tercabut hingga akhirnya dalam hanya dua tarikan napas saja, tempat di sebelah kanannya yang dipenuhi oleh semak belukar itu sudah rata dengan tanah.Hanya lima buah pohon yang masih terpancang dan berdiri angkuh. Tak hanya sampai disana yang telah terjadi. Tanahtanah itupun terbongkar setelah terdengar suara berderak cukup keras. Muncrat ke atas dan luruh kembali dalam jarak lima belas tombak.Dari apa yang dilakukan perempuan berbaju hijau muda tipis, kini nampak lubang panjang yang menganga. Kedua tangannya disorongkan ke depan, dan tak mengurangi cahaya terang yang memancar dari sana!"Hmmm... tak ada tanda-tanda mayat manusia Sialan itu berada di bagian kanan. Aku akan mencoba ke bagian kiri."Sama dengan yang dilakukan sebelumny
last updateLast Updated : 2023-11-28
Read more

249. Part 3

Mendadak tangan kanannya bagai mengalirkan darah yang sangat kental. Dalam keadaan tangan seperti itu, perempuan berbaju hijau muda tipis itu menghampiri mayat Iblis Mara Kayangan yang masih terbujur. Lalu diusapkan tangan kanannya yang seperti mengeluarkan darah kental pada wajah mayat yang terbujur di hadapannya.Setelah itu, ditungguinya beberapa saat dengan tatapan tak berkedip."Gila! Mengapa tak ada reaksinya?" Dengus perempuan berbaju hijau muda tipis itu setelah menunggu dengan tak sabar."Apakah manusia keparat ini sebenarnya belum mati hingga usapan tangan kananku yang telah dibaluri mantera tak berfungsi sama sekali? Celaka kalau begini! Rembulan sebentar lagi akan masuk ke peraduannya. Aku tak boleh membuang waktu sampai sang fajar melepaskan panah merahnya. Sebaiknya ku ulangi sekali... Okhhh!” perempuan berbaju hijau muda tipis itu tersentak. Tanpa sadar surut satu langkah. Tetapi sejurus kemudian di bibirnya tersungging sebuah senyuman.
last updateLast Updated : 2023-11-28
Read more

250. Part 4

Di sela-sela gulingan tubuhnya dan lolongannya yang setinggi langit, terdengar suaranya keras."Akkku aakkaaan meenuuruutii peeerintaahmuuu..""Bagus! Kau mengerti gelagat juga, Iblis Mara Kayangan!""Beeebbaaaskkaaan aakkuu ceeeppaatth.'"Perempuan berambut seperti terdapat pernik perak, mengusapkan kedua tangannya. Kalau sejak tadi yang nampak seperti darah keluar hanya dari salah satu tangannya, kini kedua tangannya seperti teteskan darah.Dalam keadaan tangan seperti itu, Blorong bergerak cepat.Wuuus!Tangannya mengusap wajah Iblis Mara Kayangan yang sedang kelojotan bergantian. Tangan kanan, lalu tangan kiri. Setelah itu, dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata, perempuan berbaju hijau muda tipis telah berdiri tegak pada jarak tiga tombak pada tubuh Iblis Mara Kayangan yang kini terdiam.Tarikan napasnya terdengar bagai ringkikan kuda. Setelah itu, perlahan-lahan dia bangkit. Tegak berdiri dengan kedua mata bagai mema
last updateLast Updated : 2023-11-28
Read more
PREV
1
...
2324252627
...
129
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status