Beranda / Romansa / DOSA TERINDAH / Bab 261 - Bab 270

Semua Bab DOSA TERINDAH: Bab 261 - Bab 270

476 Bab

Bab 261

Konsentrasiku buyar memikirkan bagaimana mengurai benang kusut ini. Aku ingin bertanya, ingin tau banyak hal tentang bocah itu, tapi tak tau harus mulai dari mana. Aku bahkan sudah mengingkari janjiku pada Aya untuk mengajaknya ke dealer mobil memilih kendaraan yang diinginkannya. Seminggu ini benar-benar kuhabiskan hanya dengan memikirkan dan mengawasi bocah itu dari jauh, meski setelah tiba di rumah, aku tak pernah menceritakan apa pun pada Aya.Ketukan di depan pintu ruanganku membuatku menoleh.“Ada apa, Tiara?”“Bapak ada rapat tiga puluh menit lagi.”Kuhela napasku yang terasa berat. Tak menemukan sosok bocah itu membuat hariku terasa kurang menyenangkan hari ini. Maka, aku memutuskan untuk kembali lagi ke sana sore nanti, dan aku harus mengabarkan Aya lebih dulu.“Ya, Sayang.” Suara Aya dari dari speaker ponselku berhasil membuat mood ku membaik.“Lagi ngapain?”“Nggak ngapa-ngapain. Aku bosan!” keluhnya.Aku terkekeh membayangkan bibir Aya pasti mengerucut mengucapkan itu.“Ka
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-06
Baca selengkapnya

Bab 262

Namanya Wira Atmaja. Ibunya bernama Farida Lestari dan ayahnya bernama Deni Atmaja. Lahir tanggal 25 Maret 6 tahun silam. Itu informasi awal yang kuperolah dari gadis yang mengaku adalah guru dari bocah itu. Namun informasi berikutnya dari gadis yang bernama Intan itu membuatku terkejut.“Wira anak yatim. Ayahnya baru saja meninggal dunia seminggu yang lalu.”“Ini hari pertama Wira kembali masuk sekolah setelah seminggu berkabung.”“Hari ini dia sangat berbeda, tak bersemangat seperti biasanya. Sampai-sampai tadi siang ibunya harus datang menemaninya sebentar.”Oh, kurasa Tari ke sini di jam istirahat tadi.“Anak itu memang dekat sekali dengan ayahnya.”“Bahkan sejak selama setahun terapi di sini, baru belakangan ini dia diantar jemput ibunya. Biasanya, ayahnya lah yang mengantar jemput. Sepertinya dia sangat terpukul karena kepergian ayahnya, sayangnya dia tak bisa mengatakannya dengan baik.”Aku terdiam mengumpulkan potongan-potongan kalimat yang menurutku janggal. Kenapa gadis ini
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-06
Baca selengkapnya

Bab 263

“Maafin aku, Ay. Iya, tadi aku nggak lembur, tapi mencari tau tentang bocah itu. Bukan bemaksud tak jujur, tapi aku hanya nggak mau kamu kepikiran. Tadi aku hanya berniat mampir sebentar melihatnya dari jauh seperti kemarin-kemarin. Tapi ternyata aku malah mendapatkan beberapa informasi penting.”“Apa itu?” Tatapan Aya menuntut penjelasan.Lalu kuceritakan semua informasi yang kudapatkan hari ini. Semuanya. Tak ada yang kusembunyikan darinya. Ini sudah menjadi komitmenku pada Aya, akan selalu jujur padanya. Kuharap dengan kejujuran, apa pun rintangan yang ada di hadapan bisa kami lalui bersama.“Apa yang harus kulakukan, Aya?” gumamku lirih. Kudekap erat wanita itu, berharap mendapat kekuatan darinya.“Temui ibunya, tanyakan langsung padanya.”“Kamu ... nggak apa-apa?”“Aku bisa apa? Apa aku bisa menentang hubungan darah yang tampak jelas ini?” Suaranya lirih.“Aya.”Dia tak menjawab.“Harusnya waktu itu kamu biasa saja, dia hanya anak dari karyawanku. Harusnya waktu itu kamu nggak us
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-07
Baca selengkapnya

Bab 264

“Bu Tari nya sudah datang, Pak.” Suara Tiara.“Suruh masuk.”“Baik, Pak.”Kuhela napas berkali-kali untuk mengurangi rasa gugup yang menyeruak. Tak mudah menggali masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam bertahun-tahun yang lalu. Tapi ada fakta yang harus dicari kebenarannya demi sebuah hak dan kewajiban, juga pengakuan.“Hai, gimana kabarmu?” tanyaku kaku ketika wanita itu duduk.“Baik, Pak.” Dia terlihat lebih santai dibanding aku.“Ng- kamu ... boleh memanggilku seperti dulu.”“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Dia bergeming, tak memedulikan tawaranku tadi.Aku kembali menghela napas.“Baiklah, Tari. Aku akan langsung pada intinya.”Aku terdiam sesaat, entah kenapa rasanya sangat berat menanyakan ini. Kucengkram pangkal dasiku lalu menariknya, rasanya udara di ruangan ini tiba-tiba saja terasa menyesakkan.“Siapa dia?” Kusodorkan ponselku yang layarnya menampakkan foto putra sulungnya.“Wira Atmaja, putra sulungku.”“Siapa nama ayahnya?”“Deni Atmaja.” Ada bulir bening mengalir di su
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-07
Baca selengkapnya

Bab 265

“Bukan selembar kertas yang kuinginkan, tapi pengakuan darimu, ibunya. Tatap aku, Tari. Katakan sejujurnya. Kalau pun kamu berkata tidak, masih banyak cara untuk menggalinya. Aku hanya ingin kejujuranmu sebagai ibunya.”Dia memberanikan diri menatapku. Mata merahnya membuatku iba. Wanita ini baru saja kehilangan suaminya, lalu kini kubuat dia menangis seperti ini.“Aku nggak tau, Kak.” Bahunya terguncang.“Waktu itu ... aku langsung pergi dan bersembunyi. Aku takut, aku malu, aku marah. Lalu aku meminum berbagai obat-obatan agar ... agar tak sampai hamil.” Kulihat dia menggigit bibirnya.“Seminggu setelahnya pacarku ngajakin balikan, bahkan langsung melamarku. Hanya selang dua minggu dari kejadian di rumah Kakak waktu itu kami menikah.”Aku mengeryitkan kening. Waktu itu aku masih tinggal di rumah orang tuaku, tapi aku tak mendengar kabarnya menikah.“Aku nggak tau kamu nikah, Tar.”“Waktu itu Kak Ivan dan Kak Dian juga sudah jarang kelihatan, kan? Pulang ke rumah kadang tengah malam
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-08
Baca selengkapnya

Bab 266

“Tak apa, aku menerima semuanya sebagai takdirku. Hanya saja kumohon Kak Ivan jangan muncul di hadapannya, karena jika Kakak ada di sekitarnya semua orang akan mengetahui semua kebusukanku selama ini. Aku menyembunyikan identitas putraku demi menyembunyikan dosa-dosaku.”“Kamu nggak salah, Tar. Dari awal kamu nggak tau kalau kamu hamil. Mungkin ini cara Tuhan bicara pada kita, karena jika saja wajah anak itu tak benar-benar mirip denganku, aku yakin kamu pun tak akan menyadari jika dia adalah anakku.”Hening menguasai.“Aku akan mengusahakan pengobatan dan terapi yang baik untuknya.”Wanita itu spontan mendongakkan kepalanya menatapku.“Jangan, Kak. Kumohon jangan. Biarkan kami seperti ini.”Kuhela napasku kasar.“Kamu tak ingin mengatakan yang sejujurnya pada anak itu?”“Mungkin suatu saat, jika Wira sudah dewasa aku akan mengatakan padanya.”“Sampai suamimu wafat dia nggak tau kalau Wira bukan putranya?”Wanita itu kembali menyeka matanya, berbicara tentang suaminya selalu membuatny
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-08
Baca selengkapnya

Bab 267

PoV CahayaHari ini suamiku memenuhi janjinya mengajak kami semua ke villa. Ibu dan susternya Lisa berada di mobil Candra, sedangkan kedua adik perempuanku ikut denganku di mobil Ivan. Sedangkan Kak Dian sekeluarga akan menyusul nanti. Dengan kedua adik perempuanku, Ivan belum begitu akrab. Berbeda dengan keakraban mereka dengan mantan suamiku terdahulu. Aku pun tak memaksakan karena paham akan keengganan kedua adikku itu. Dulu, mereka memang tak setuju dengan kehadiran Ivan di tengah keluarga kami. Cindy, adik keduaku bahkan sampai sekarang enggan bergabung jika ada suamiku.“Kenapa, Sayang?” Ivan bertanya saat melihatku hanya diam dan memejamkan mata.“Agak pusing,” jawabku singkat.Sebenarnya aku memang ingin menolak bepergian kali ini. Karena seminggu belakangan badanku sering terasa pegal-pegal meskipun tak melakukan kegiatan apa pun. Setiap hari pula dalam seminggu ini aku akan kembali ke dalam kamar dan tidur setelah melepas suamiku bekerja. Seminggu ini aku selalu merasa menga
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-08
Baca selengkapnya

Bab 268

Malamnya, kami semua benar-benar menikmati kebersamaan keluarga. Kunikmati senyuman bahagia yang terpancar dari wajah ibuku ketika melihat aku dan adik-adikku bercanda. Cindy pun sudah mulai mencair dan bergabung bersama mengelilingi api unggun. Sesekali kulihat dia juga mulai tersenyum saat Ivan mengajaknya bercanda. Aku tahu, suamiku itu terlihat berusaha mendekatkan diri pada adik-adikku, terutama Cindy yang dari awal terlihat tidak terlalu menyukainya.Candra sendiri masih setia menempel pada Lisa, sedangkan Lisa tak pernah lepas dari sisi ibu untuk menjaganya. Kak Dian dan Bang Malik tampak sibuk dengan urusan barbeque dan tak mengizinkan kami mendekat. Sesekali kulihat mereka berdua saling mencolek sementara kedua anaknya sibuk bermain kembang api. Ah, sungguh pemandangan yang benar-benar indah dan sanggup menghapus memori tak nyaman di hatiku tentang villa ini.“Suka?” Napas hangat itu tiba-tiba saja sudah menerpa leher belakangku.“Suka sekali. Bahagia sekali melihat mereka s
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-08
Baca selengkapnya

Bab 269

“Pergilah, dia mungkin sedang membutuhkanmu.”Entah untuk siapa kata ‘dia’ yang kuucapkan. Entah untuk anaknya, atau untuk ibunya. Yang pasti hatiku sedang menahan rasa yang tak biasa. Ivan masih mendekapku beberapa saat sebelum berjalan ke arah mobilnya. Tak satu pun yang menyadari kepergiannya selain aku, karena aku sudah berjanji padanya untuk mencari alasan yang tepat pada keluarga kami.Kupandangi mobilnya hingga menghilang dalam pekatnya malam. Ada rasa sesak, ada rasa kehilangan, ada rasa cemburu di dada ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ada seorang bocah, ada bagian dari dirinya yang sedang membutuhkannya.Hingga aku kembali bergabung dengan keseruan ibuku dan yang lainnya, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari dan menanyakan keberadaan suamiku. Sampai Kak Dian memanggil kami semua untuk bergabung menikmati hasil barbeque dengan suaminya, barulah wanita itu mencari adiknya.“Bayi besarmu mana, Ay?” tanya Kak Dian.Kupasang wajah sesantai mungkin agar mereka semua t
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-09
Baca selengkapnya

Bab 270

Aku masih memeluk lutut, meratapi nasib yang tak tau harus kubagi pada siapa ketika pintu kamarku diketuk dari luar. Buru-buru kususut mata, kubersihkan sisa-sisa tangisku sebisanya sambil bertanya-tanya siapa yang ada di balik pintu itu. Lalu, tubuhku merosot saat membuka pintu, kakiku merasa tak sanggup lagi menopang tubuhku.Dia! Suamiku! Dia yang baru saja kutangisi kini berdiri tegak di hadapanku. Tak dapat kulihat dengan jelas bagaimana ekspresinya berdiri di sana karena mataku telah berkabut oleh air mata.“Maafkan aku, Sayang.”Aku hanya pasrah ketika ia menahan tubuhku lalu menggendongku, menutup pintu kamar dengan kakinya kemudian membaringkanku di atas tempat tidur yang terasa sangat dingin.“Maaf, Sayang.” Dia mendekap erat.“Kenapa kembali?” Kuberanikan bertanya.“Aku salah. Tak seharusnya aku meninggalkanmu seperti ini. Apalagi, kamu pasti merasa trauma karena pernah mengalami ini. Maafkan aku yang tak peka.”Suaranya begitu lembut, selembut belaiannya menyisir helai-hel
last updateTerakhir Diperbarui : 2023-01-09
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
2526272829
...
48
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status