Home / Romansa / KAKEK TUA itu SUAMIKU / Chapter 121 - Chapter 130

All Chapters of KAKEK TUA itu SUAMIKU : Chapter 121 - Chapter 130

162 Chapters

Bab 121 Selalu adu mulut

"Aku kira tadi culik Va," ucap Riska saat baru masuk ke mobil. "Mana ada culik pakai mobil kaya gini," sahutku "Iya Non Riska, mana ada culik sopirnya ganteng kaya Pak Agus." "Calon istri suka becanda deh," timpal Tristan. "Ngebet banget jadikan aku istri, memang pernah ngomong cinta sama aku?" "Aku cinta kamu Aulia Riska Dewi putri dari Pak Dede dan Ibu Winarti," jawab Tristan spontan. "Wow, sampai hafal nama Bapak sama Ibu." "Bukan hafal lagi, bahkan sudah dapat lampu hijau dari calon mertua." "Bodo amat, mau lampu hijau, pink, kuning, ungu, bahkan lampu disko sekalian itu nggak ngaruh! Aku masih betah sendiri." "Kalian ngerasa kalau kalian cocok nggak sih?" tanyaku. "Aku sih iyes, aku ngerasa cocok dunia akhirat sama Riska," jawab Tristan. "Kamu cocok, aku nggak!" "Bisakah kalian berhenti?" titah suamiku. "Riska, apa kamu mau jadi istrinya Tristan?" Mendengar pertanyaan dari suamiku, Riska langsung diam. "Bagaimana Ris?" "A—aku belum punya jawabannya," jawab Riska
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 122 Riska trauma

Naik ke lantai lima aku disuguhi dengan pemandangan anak-anak yang sedang berenang. Mereka terlihat sangat gembira. Sementara di samping kolam renang terlihat Seno juga Mas Ivan sedang asyik bercengkrama."Pak Bambang, makanan sudah siap," ucap Bude Ratmi."Panggil semua orang, kita makan bersama," jawab suamiku.Di samping kolam renang memang tersedia meja panjang dan kursi yang lumayan banyak jumlahnya. Mungkin memang disiapkan jika berkumpul seperti ini."Bunda … kapan kita bermain pasir di pantai?" tanya Alvina yang baru keluar dari kolam renang. "Biar saya saja, Bi," pintaku pada Bi Ratih yang saat itu sedang mengeringkan tubuh Alvina dengan handuk."Bunda nggak jawab pertanyaan Al." Bibir anak perempuanku mengerucut, dan tangannya sudah bertolak pinggang. Lucunya dia kalau lagi ngambek."Aduh, maafkan Bunda, Sayang … Bunda sampai lupa belum jawab pertanyaan Alvina. Nanti tanya Papah ya …."Lima belas menit kemudian semua sudah siap di meja makan, aneka hidangan dari makanan pe
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 123 Pengakuan Tristan

Delapan jam perjalanan akhirnya sudah kami tempuh. Anak-anak sudah tidur dalam gendongan Tristan dan Pakde Parmin begitu juga dengan Lily, dia tidur di gendong oleh Mas Ivan.Pukul sepuluh malam rombongan sudah masuk ke kamar masing-masing.Di kamar ini aku berada, kamar penuh kenangan, kamar penuh nostalgia antara aku dan suamiku. Kamar pertama kali aku melepas mahkotaku untuk suamiku.Aku duduk di samping kolam renang, menikmati udara malam yang semakin lama semakin menusuk tulang."Nanti sakit kalau terus berlama-lama disini," ucap suamiku. Selimut kini sudah membungkus tubuhku dari bagian belakang. "Kanda ingat tempat ini?"Kursi di sampingku di tariknya kemudian suamiku duduk di hadapanku meraih tanganku dan menciumnya."Kanda selalu mengingatnya, tak akan pernah lupa."Aku tersenyum mendengarnya. "Aku mencintaimu Bambang Hendromoyo."Suamiku merengkuhku membawaku dalam pelukannya. Terasa ada kecupan hangat di keningku kemudian turun ke hidung dan bermuara pada bibi*ku. "Ayo m
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 124 Apa kamu cemburu?

"Dulu Pak Bagas juga bicara seperti itu, tapi nyatanya dia menyakiti Riska. Dia berpaling dengan mantannya yang menurutnya lebih cantik." "Jangan samakan aku dengan Bagas Va … aku suka Riska apa adanya." "Kamu pernah punya mantan?" "Pernah dan itu hanya satu, tapi dia meninggalkanku untuk laki-laki lain," jawab Tristan. Malam itu akhirnya Tristan mengungkapkan perasaannya, bercerita bagaimana kehidupannya di Australia yang sesungguhnya kesepian. Makannya waktu bertemu dengan Riska dia jadi merasa lebih bersemangat. Tristan itu sesungguhnya tampan, pawakanya yang tinggi, putih dan hidungnya yang mancung menjadi daya tarik tersendiri olehnya. *** Tiga hari sudah kami bersenang-senang di Jogja. Hari ini, saatnya kami kembali lagi ke rumah. Sebelum kembali ke rumah, kita mengantar Mbak Nisa dulu ke bandara. Ya, Mbak Nisa, Mas Ivan serta Lily akan kembali lagi hidup di Australia. Si kembar dan Lily tampak sedih harus berpisah. Bagaimanapun juga mereka selama ini selalu bersama. Past
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 125 Mode pasrah

Hari ini kami tengah berkemas. Rumah ini akan dikosongkan untuk pindah ke rumah yang baru. Sebenarnya bukan dalam artian dikosongkan yang sebenarnya, perabot tetap ada hanya barang-barang tertentu yang dibawa dan rumah ini juga nantinya akan di renovasi. Suamiku meminta untuk pindah dulu ke rumah yang ada di kebun teh, sebelum rumah yang baru tertata dengan sempurna, sekalian refreshing dan menghindari debu buat anak-anak katanya.Urusan kantor aku serahkan sama Tristan dan Riska. Anggap saja ini quality time bareng suami dan anak-anak. "Berapa lama kalian disana, Va?" tanya Riska saat aku akan berangkat."Mungkin satu minggu, Ris," jawabku."Yah, bakalan kangen sama si kembar.""Kamu kan tau rumahnya, Ris. Kamu bisa datang kesana.""Iya sih, tapi kan aku tiap hari ke kantor. Lagian kamu tega banget malah nyerahin urusan kantor sama aku dan Tristan," keluh Riska.Sebenarnya ada tujuan juga kenapa aku menyerahkan urusan kantor sama Riska dan Tristan. Apalagi tujuannya kalau bukan memb
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 126 Di mana kalian?

Pagi ini sebelum subuh semua penghuni rumah sudah bangun, tanpa terkecuali kedua anakku. Mereka berdua memakai pakaian hangat, hawa dingin di pegunungan menjadi hal yang baru buat mereka. "Anak-anak Bunda sudah siap?" tanyaku saat mereka sudah memakai peci dan mukena."Sudah Bunda …."Subuh kali ini, Pakde Parmin yang jadi imamnya. Nggak harus orang yang paling tinggi jabatannya yang harus sebagai imam."Kanda, nanti kita jalan-jalan sekitar kebun teh ya," pintaku pada suamiku saat selesai sarapan."Boleh," jawab suamiku. "Kalian mau ikut?" tanya suamiku pada kedua anakku. Mereka berdua mengangguk dan bersorak gembira dengan tawaran dari Papahnya.Pukul delapan pagi aku dan suamiku telah siap untuk berjalan-jalan."Va, anak-anak malah tidur," ucap Bude Ratmi."Semalam memang tidurnya nggak nyenyak Bude pantas saja sekarang mereka tidur.""Mau dibangunkan?""Nggak usah Bude, kasihan. Seva titip mereka ya, biar besok aku ajak jalan-jalannya."Aku kemudian menemui suamiku yang sudah be
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 127 Hilang

Waktu menunjukkan pukul tiga sore, langit juga menunjukkan awan hitam. Dari tadi belum ada satupun orang-orang suamiku yang melapor menemukan kedua anakku. Aku sudah berusaha mengelilingi area kebun teh, berharap mereka sedang bermain di area kebun tapi tetap saja mereka belum ketemu. "Tenanglah Va, mereka pasti baik-baik saja," ucap Bude Ratmi. "Tidak Bude, mereka selama ini tak pernah terpisah denganku bahkan mereka tak pernah bermain jauh dariku. Aku khawatir Bude …." Pikiran negatif sudah mulai menghantuiku, bagaimana kalau mereka diculik, bagaimana kalau mereka terpeleset, bagaimana kalau mereka tersesat. Bagaimana kalau … ah, aku nggak sanggup membayangkan itu semua. Akhirnya langit menunjukkan kehebatannya, tanpa kompromi hujan turun dengan derasnya. Aku semakin panik, jalan pasti semakin licin dengan turunnya hujan. Arthur … Alvina, dimana kalian, Nak? Aku berlari menuju ke pintu belakang rumah, barangkali mereka akan pulang melewati pintu yang sama. Di samping pintu
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 128 Hanyut?

"Bi, siapkan air panas untuk Tuan mandi." Bagaimanapun juga aku tidak boleh egois, aku harus memikirkan kondisi suamiku.Ting!Pesan masuk ke ponsel yang ada di atas meja.[ Baru satu hari nggak ketemu si kembar, aku sudah kangen. ] Pesan dari Riska. Andaikan kamu tahu mereka hilang, Ris.[ Sudah tidur ya? Padahal aku pengen video call ] Lanjut Riska.Drrrt Drrrt DrrrtKini ponsel dalam genggaman tanganku justru terus bergetar. Terlihat nama Riska di layar ponselku.'Bales dong pesan aku, mana si kembar?' Tanpa mengucap salam, Riska langsung menanyakan kedua anakku.'Mereka … mereka nggak tahu lagi dimana Ris' 'Lagi main petak umpet? Malem-malem main petak umpet nggak bisa apa mainnya besok?''Mereka hilang dari pagi, semua orang sudah mencari tapi belum ketemu. Aku takut Ris' Akhirnya tangisku kembali pecah saat menjawab pertanyaan Riska.'Diculik maksudmu? Kamu jangan bercanda, Va''Siapa yang bercanda? Apa mungkin anakku hilang dijadikan bahan candaan?''Aku kesana sekarang!'Tuuu
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 129 Bantuan

"Dinda, tenang dulu. Mungkin saja Alvina melepas sepatunya kemudian melemparnya ke sungai, atau mungkin Alvina tanpa sengaja membuangnya ke sungai," ucap suamiku. "Tidak! Alvina bukan anak yang suka melempar barang miliknya!" sanggahku. "Aku ibunya, aku tau persis tabiat anakku!" "Kanda akan memastikannya kesana, Dinda di rumah saja ya," usul suamiku. "Aku ikut." "Dinda … biar Kanda dan Tristan saja yang kesana," bujuk suamiku. "Nggak! Pokoknya aku mau ikut! Titik!" Akhirnya suamiku mengijinkanku ikut memeriksa ke sungai tempat dimana sepatu anakku ditemukan. Sepanjang perjalanan aku tak fokus dengan jalan yang aku lewati sampai beberapa kali aku terpeleset. Jalan justru lebih licin daripada semalam saat aku melewatinya. Untung saja Tristan ikut serta, jadi dia bisa membantu suamiku melewati turunan yang licin. "Hati-hati, Dinda …," pesan suamiku saat melihatku kesulitan untuk turun. Melihat suamiku datang, orang-orang yang sedang mencari di pinggir sungai langsung mengha
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 130 Salah sangka

Mendengar teriakkan Riska, suamiku kembali berbalik, melihat arah yang ditunjukkan Riska begitupun denganku."Ya Tuhan anakku," ucapku lirih. Terlihat di seberang sungai Alvina dan Arthur di gendong oleh Pakde Parmin dan Pak Agus. Berjalan di belakang mereka bodyguard dan juga seorang anak laki-laki dan perempuan serta seorang laki-laki dengan memakai peci warna putih.Melihat kedatangan mereka polisi dan bodyguard dengan sigap membantu menyeberangkan mereka.Aku memeluk Riska erat. "Anakku selamat Ris, alhamdulilah," ucapku haru. Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipiku. Aku menunggu mereka menyebrang, rasanya bahkan sangat lama. Aku berjalan kedepan mendekat ke tepian sungai menyambut kedatangan anak-anakku."Bunda … Papah," ucap mereka serempak. Segera aku meraih sambutan tangan dari Alvina dan memeluknya erat, sedangkan Arthur berada dalam pelukan suamiku.Riska yang tadinya berdiri kini ikut memeluk Alvina erat. Rasanya sangat lega melihat kedua anakku kembali."Kalian k
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more
PREV
1
...
1112131415
...
17
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status