Home / Romansa / Ajari Aku Salat / Chapter 141 - Chapter 150

All Chapters of Ajari Aku Salat: Chapter 141 - Chapter 150

222 Chapters

Lamaran 2

“Aduh, ada apa, ya?” Ziya kaget karena tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Hampir saja dia terguling.   ***MEYYIS*** “Kak Zahra? Bikin kaget aja. Hm, Kak, mereka ngapain ke kamar tamu?” ujar Ziya. “Hayotebak ngapain?” Zahra malah menggoda Ziya. Dia mengelus punggung jelita yang memang sudah mengantuk. “Ih, ditanya malah baik nanya?” cibik Ziya. “Menghitung weton kamu dan Jason,” ucap Zahra. Dada Ziya tambah bergemuruh. Dia merasakan ada seluruh balok yang menindih dadanya. Takut, bingung dan resah. Sebab banyak kasus tidak jadi menikah karena weton tersebut dianggap tidak bagus.  “Kenapa? Nggak usah khawatir. Kalau jodoh pasti nggak akan kemana.” Zahra bangkit dan duduk di samping Ziya. “Kak, apakah kira-kira kami berjodoh?” Zahra sedikit mendekat ke arah Ziya, sehingga m
last updateLast Updated : 2021-12-12
Read more

Kotak Kosong 1

“Sekarang, akan kami umumkan kesepakatan untuk tanggal pernikahan.” Seorang sesepuh mengatakannya kemudian. Kali ini tidak hanya Ziya yang deg-degan. Zahra dan beebrapa orang yang tidak ikut hitungan tadi juga ikut menahan. Mereka semua berandai dan bertanya-tanya. Kira-kira kapan tepatnya pernikahan akan dilaksanakan? Ah, selalu saja bikin penasaran. Ini lebih sulit dari pada menahan napas saat berenang.***Meyyis*** Sesepuh itu menarik napasnya dengan lembut. Dia membuka tulisan yang tadi ditulis oleh dia saat berembuk. Dia menunjuk deretan angka-angka itu kemudian ketemu kesimpulan. Lelaki yang dapat ditaksir usianya hampir tujuh puluhan itu menunjuk-nunjuk kertas tersebut. “Ada dua tanggal yang paling mendekati sebegai hari baik. Yaitu Jumat depan dan bulan Rajab setelah melangkahi bulan Suro. Silakan mau pilih yang mana?” Jason tersenyum. Dia tentus aja memilih yang sangat dekat. “Saya pilih Jumat de
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Kotak Kosong 2

“Terima kasih juga, Mas. Sudah mau meminangku. Aku tidak sesempurna itu. Kalau kau temukan cacatku? Apa kau akan menyesal?” Ziya perlahan-lahan melihat ke arah Jason dia memandang lekat lelakinya tersebut. “Kita perbaiki bersama. Kita saling melengkapi. Sekarang adik bobo’ sudah malem,” ucap Jason. Sehingga Ziya mengangguk dan bangkit membawa nampan yang tadi dibuat tatakan makanan dan kopi. “Mari, Mas dan Kak Marc.” Jason mengangguk kemudian kembali menyulut rokoknya. Datanglah ayahnya Ziya. Dia sambil membawa kopi. “Enggak dingin malam-malam begini di teras?” tanya ayahnya Ziya. “Enggak, Yah. Dia Prancis kalau musim dingin bisa beku. Ini masih biasa. Ayah mau berkunjung ke sana? Kalau iya, kapan-kapan mampir ke sana,” tukas Jason. “Hahaha, biayanya mahal naik pesawat.” Marc dan Jason ikutan terkekeh.
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Terlambat Selangkah 1

Ziya tersenyum sendiri saat mengingat masa-masa begitu getolnya cari perhatian lelaki itu. Dia menutup wajahnya sendiri karena merasa malu. Bagaimana saat itu dia menjadi seorang yang tidak punya harga diri. “Ziya,” “Iya, Ma!” Panggilan mamanya menyadarkan dari lamunan. ***Meyyis***Malam ini Kyai Syafi’i benar-benar datang dengan putra mereka. Bersama dengan Bu Ntai juga. Mereka membawa banyak barang sebagai oleh-oleh katanya. Dua sahabat itu berpelukan melepas rindu. Mereka kemudian dipersilakan duduk. Ziya mengintip dari dalam. Tidak berselag lama, mamanya Ziya datang denganpasugatan di nampannya. “Rohman, ente masih gagah saja. Ana sudah tua,tapi Fatih belum juga mau menikah. Pondok juga jadi terbengkelai tidak ada yang mengurur, karena dia asik di Kairo,” ucap Kyai Syafi’i. “Yi, kita sudah sama-sama tua. Harusnya s
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Terlambat Selangkah 2

Walau bukan purnama, namun cahayanya sangat indah. Seandainya satu minggu yang lalu atau tiga hari yang lalau, bersama Fatih di bawah sinar bulan seperti ini membuat hatinya penuh sesak dijejali kebahagiaan. Namun sekarang? Keadaan sudah berbeda. Bukan lagi penuh sesak dengan kebahagiaan, tapi kegalauan. “Jadi? Apa benar berita itu?” Fatih membuka pembicraan. ***MEYYIS*** Ziya menoleh ke arah Fatih kemudian kembali menunduk lagi. Bibirnya terasa kelu.tapi dia harus bicara. Ziya menarik napasnya pelan kemudian mengembuskannya nyaris tanpa suara. “Mas Fatih tidak salah dengar. Semalam aku memang sudah di khitbah.” Bagai lolos tulang-tulang Fatih. Dia menghadap ke arah lain agar tidak terlihat. Jika memapu, saat ini dia akan terbang dan mengadu kepada siapa pun yang mengetahui perjalanan hatinya untuk menahan cintanya selama ini. “Kau melupakanku?” Ziya menetap lekat
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Sun Dikit 1

“Jadi, sudah tidak ada ruang untukku? ... maafkan aku, Ziya. Seharusnya aku tidak menyimpannya. Aku ... aku minta maaf akhirnya membuatmu lelah. Semoga kau bahagia. Bolehkah kado-kado ini aku miliki sebagai kenang-kenangan?” Ziya hanya mengangguk. Sedangkan Fatih meninggalkan cincin yang memang sejatinya untuk Ziya di atas meja. Cincin itu dia buat khusus dari batu mulia. Dia membuatnya di Kairo. “Ini untukmu. Kita kubur cinta kita. Semoga kau bahagia.” Fatih bangkit dengan lemas. ***Meyyis*** Jason dan rombongan sudah sampai rumah. Zubaedah memang menyuruh Jason agar tinggal di rumahnya saja supaya koordinasinya mudah. Nikahan kilat memang sedikit ribet. Zahra sudah kilat ditentukan selama tiga minggu. Ini lebih kilat lagi satu minggu. Duh, mana cowok pula harus persiapan tetek bengek untuk lamaran dan lain sebagainya. Untung saja, sang adik sebagai besan tidak begitu mengagungkan adat istiadat. Jadi tidak begitu rib
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Sun Dikit 2

“Tapi, Pak. Orang yang sakit mental, mana mungkin akan lurus kembali dan memimpin dengan baik sebuah perusahaan besar?” Marc memejamkan matanya. “Sebenarnya, apa maksud Anda?” Marc menjadi sedikit geram pada lelaki itu. Dia sebelumnya juga mengompori Zoya. Sekarang rapat ini. Apa maunya?  ***MEYYIS*** Marc sangat marah ada orang tersebut. Dia hanya memiliki sedikit saham tapi repotnya sangat tidak ketulungan. Jason menggeleng tanda Marc untuk merendah dan diam. Dia yang akan menghadapi partner yang sangat memuakan seperti itu. “Mohon maaf, Tuan Mahendra. Bisa diperjelas tujuan Anda?” tanya Jason. Sedangkan Marc mengepalkan tangannya seraya mengucap istigfar. “Maksud saya sudah jelas, bukankah Pak Raehan itu gila, apakah orang gila akan bisa memimpin perusahaan?” Marc membelalakan matanya. Tidak pantas seorang berpendidikan mengatakan hal itu. 
last updateLast Updated : 2021-12-13
Read more

Titip Cinta 1

“Sun dulu dikitlah, baru aku tutup.” Jason memulainya dulu dan dibalas oleh Ziya. Lelaki itu merasa bahagia tidaqk terkira kemudian menelpon bences Benny yang menggerap gaun pengantinnya. “Heh, Ben, Lo apa-apaan, sih? Kenapa kotaknya kosong? Malu-maluin aja, Lo!” Benny tertawa mendnegar kemarahan Jason.***Meyyis*** “Sorry, gue salah bawa kotak. Tapi hari ini gue sudah nyuruh orang untuk kirim paket. Tinggal tunggu saja. Mungkin sore, Jas.baru sampai. Jangan marah-marah. Entar cepet keriput didandani nggak macho lagi.” Benny masih terkekeh. “Oke. Kalau salah lagi, gue pastiin kamu akan beneran jadi perempuan. Gue sunat sampai habis.” Benny malah tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. Sebelum mendengar ejekan Benny lebih dalam, Jason memutuskan sambungannya, berganti menghubungi Ziya. Namun tidak diangkat. Karena pesanan makanan sudah datang, maka dia memeilih untuk
last updateLast Updated : 2021-12-16
Read more

Titip Cinta 2

“Jas, aku harap kamu tidak menyia-nyiakan adikku. Dia sudah memilihmu. Apa kamu tahu, malam berikutnya saat kita ke sana, Gus Fatih cowok masa lalu dia yang sudah dia sayangi dari SMP datang ingin melamar juga.” Jason tersedak air putih. “Oh, sorry.” Zahra meminta maaf.  Jason meloloskan tisu untuk membersihkan bekas makanan di mulutnya. ***MEYYIS*** Pukul tiga pagi rumah Zahra sudah penuh dengan para sesepuh yang akan mengiringkan manten untuk ijab ke rumah mempelai. Jelita bahkan hanya dilap saja tubuhnya karena masih terlal pagi sehingga Marc melarang untuk memandikannya. Dia juga masih terlelap tadi. Mereka mulai melakukan perjalanan. Tidak beda jauh, Ziya juga harap-harap cemas. Temen-teman kampusnya juga ikut menemaninya malam ini. Ada dua teman Ziya yang paling setia. Ulfa dan Dina. Keduanya kini masih terlelap. Tapi tidak dengan Ziya. Semalam suntuk dia benar-benar tidak
last updateLast Updated : 2021-12-16
Read more

Pelajaran Berharga 1

“Tunggu! Boleh kita bicara? Sepertinya kamu juga tamu terakhir yang aku temui yang sudah hadir.” Maka Fatih menganggu.***Meyyis***“Fatih, aku minta maaf telah hadir di antara kalian.” Jason langsung to the point. Mereka berada di sebuah tempat sekarag di pekarangan belakang. Ada meja dan kursi yang memang digunakan bersantai saat keluarga tengah jenuh dengan aktivitas. “Jangan merasa bersalah, Dude. Aku yang datang terlambat. Aku berharap, kau tidak menyia-nyiakannya. Aku tahu hatiku hancur,tapi tidak sampai tahap frustrasi, kok.” Gus fatih terkekeh menertawakan dirinya sendiri. “Aku akan ingat pesanmu. Aku benar-benar minta maaf.” Jason menangkupkan tangannya. Mereka diam sejenak dengan seluruh pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Abi Fatih Mustofa Syafi’i mendekati mereka dan mengajak Fatih pulang. Jason dan Fatih saling berpelukan kemudian terlepas. Jason hanya mem
last updateLast Updated : 2021-12-16
Read more
PREV
1
...
1314151617
...
23
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status