Pagi di rumah keluarga Andreas di Menteng terasa dingin, meski matahari sudah menyelinap melalui celah-celah jendela. Aroma teh dan roti bakar dari dapur tak mampu mencairkan ketegangan yang masih menggantung sejak malam sebelumnya. Andreas duduk di meja makan, tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin, matanya sayu menatap ponsel di depannya. Lara berdiri di dekat jendela ruang tamu, memandang taman kecil yang dipenuhi bunga mawar putih—bunga yang mengingatkannya pada cerita Andreas tentang Maya. Rina sibuk di dapur, berusaha menciptakan suasana normal dengan menggoreng telur, sementara Maharani duduk di sofa, tangannya mencengkeram buku doa tua yang tak dibuka.“Andreas,” panggil Maharani pelan, suaranya serak tapi tegas. “Kamu udah telepon Bima? Soal investor sama surat dari Hartono, kita nggak boleh diem aja.”Andreas menoleh, mengangguk lelet. “Udah, Bu. Bima bilang rapat sama investor bisa diatur besok pagi. Soal surat Hartono, aku minta dia cek ke pengacara perusahaan.
Sore itu, kantor Andreas di Kuningan terasa hening setelah kepergian Pak Hartono, Bu Siska, dan pengacara mereka. Ruang rapat yang tadi penuh ketegangan kini kosong, hanya menyisakan aroma kopi dingin dan kertas-kertas yang berceceran di meja. Andreas duduk di kursi utama, tangannya mencengkeram sisi meja, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung Jakarta di bawah langit kelabu. Lara berdiri di sampingnya, tangannya memegang pundak Andreas lembut, memberikan kekuatan tanpa kata.“Kamu baik-baik aja?” tanya Lara pelan, suaranya hati-hati tapi penuh perhatian.Andreas menarik napas dalam, lalu menoleh ke Lara dengan senyum lemah. “Aku nggak tahu, Sayang,” katanya jujur, suaranya serak. “Aku pikir aku udah siap hadepin mereka, tapi denger Bu Siska bilang aku berubah … itu ngena banget.”Lara duduk di kursi sebelah, tangannya kini menggenggam tangan Andreas erat. “Kamu nggak berubah, Andreas. Kamu cuma lanjut hidup, dan itu nggak salah. Mereka lagi
Pagi di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Langit abu-abu tebal menyelimuti kota, seolah mencerminkan beban yang kini Andreas pikul. Di kantornya di Kuningan, ruang rapat besar dipenuhi suasana tegang. Meja panjang dikelilingi tim hukum perusahaan, Bima, dan beberapa staf senior, sementara Andreas duduk di ujung, tangannya mencengkeram pena dengan tatapan tajam. Lara duduk di sampingnya, kali ini tak hanya sebagai pendamping, tapi sebagai bagian dari perjuangan yang kini mereka hadapi bersama. Di depan mereka, layar proyektor menampilkan dokumen-dokumen lama terkait saham Maya—bukti yang akan menjadi senjata mereka.“Pak Andreas,” mulai Rudi, kepala tim hukum, dengan suara tenang tapi tegas. “Kami udah cek semua dokumen. Saham yang diminta Pak Hartono dan Bu Siska memang awalnya atas nama Alm. Maya Wirawan, tapi itu udah dilebur ke aset perusahaan tiga tahun lalu atas persetujuan tertulis dari beliau. Secara hukum, posisi kita kuat. Tapi mereka bisa bawa ini ke ranah emosional
Langit Jakarta sore itu kelabu. Mendung tebal bergantung seperti rahasia yang tak ingin terucap. Hujan baru reda meninggalkan genangan di trotoar dan aroma tanah basah. Di sebuah kafe, di sudut Thamrin, Andreas Wirawan duduk sendirian dekat jendela. Pria 38 tahun itu mengenakan kemeja putih digulung hingga siku, dasi birunya terlepas dan tergeletak di meja. Mata menatap kosong ke arah cangkir kopi yang dingin. Pikirannya terperangkap diantara laporan keuangan perusahaan.Pintu kafe berderit pelan saat seorang wanita masuk. Usianya sekitar 29 tahun, dengan rambut yang sedikit basah menempel di pipi karena sisa hujan. Ia mengenakan mantel cokelat tua dan celana jeans sederhana, namun ada sesuatu dalam caranya berjalan—anggun dan penuh percaya diri—yang membuat Andreas melirik sekilas. Wanita itu memesan sesuatu di kasir, lalu berjalan kea rah meja kosong tak jauh dari Andreas. Kursi bergoyang saat wanita itu duduk. Secarik kertas jatuh dari tas-nya tanpa disadari.Andreas memungutnya, la
Pagi itu udara Jakarta terasa lebih dingin daripada biasanya. Andreas melangkah masuk ke dalam Lorong steril rumah sakit swasta di bilangan Senayan. Kamera keamanan berdengung pelan di sudut plafon, aroma antiseptic menusuk hidungnya. Andreas mengenakan jas abu-abu tua yang sedikit kusut setelah dipakai rapat direksi. Di tangannya terdapat buket mawar putih—yang merupakan favorit Maya, istrinya.Kamar 407, ruangan khusus yang menjadi bagian hidup Andreas lima tahun terakhir, terletak di ujung koridor. Dua perawat berpapasan dengannya mengangguk sopan. Mata Andreas tertuju lurus ke depan, pikirannya bergulat dengan perkataan dokter kemarin sore.Dokter Rudi, spesialis saraf yang menangani Maya sejak awal mengajak Andreas duduk di ruang konsultasi yang dipisahkan meja kayu sederhana. “Sudah lima tahun, dan aktivitas otak istri Anda terus menurun. Alat bantuan hidup ini mungkin hanya memperpanjang penderitaannya. Saya sarankan Bapak pertimbangkan melepasnya saja. Kami selaku tim medis sud
Sore itu langit Jakarta mulai memerah di ufuk barat, menyisakan cahaya lembut yang menyelinap melalui jendela kamar 407 di RS Medika Senayan. Andreas baru saja meninggalkan ranjang Maya setelah kunjungan singkat. Kini ia duduk di balik kursi kemudi sedan hitamnya. Andreas berhenti di lampu merah di kawasan Sudirman. Tak jauh dari rumah sakit. Jas hitamnya tergeletak di balik kursi penumpang. Kemeja putih Andreas agak berkeringat setelah hari yang panjang. Ia menyalajan musik klasik, mencoba mengusir keheningan ketika ponsel dalam dashboard bergetar keras.“Nomor rumah sakit?” batin Andreas. Tak seperti biasanya, jantung Andreas pun berdebup kencang. Dia mencoba menenangkan diri sebelum menekan tombol accept. “Mungkin cuma laporan rutin. Tapi … kenapa nggak secara offline tadi?”“Halo?” kata Andreas.“Halo, Pak Andreas?” suara perawat di ujung telepon terdengar canggung dan penuh hati-hati. “Ini dari RS Medika Senayan. Saya … saya perlu bicara soal Ibu Maya.”“Apa kabarnya?” tanya Andre
Seminggu setelah kematian Maya, apartemen Andreas di kawasan Menteng terasa lebih sunyi daripada biasanya. Di meja makan, laporan keuangan perusahaan yang seharusnya ia tandatangani masih terbuka, pena tergeletak begitu saja di samping kopi. Andreas duduk di balkon, memandang lampu kota yang berkelap-kelip, segelas whiski di tangannya hampir kosong. Andreas tak ingat kapan terakhir tidur lebih dari dua jam.Di kantor efek duka tersebut terlihat nyata. Andreas yang biasanya tegas nan penuh kendali, kini sering membatalkan rapat tanpa alasan jelas. Asistennya, Bima sudah tiga kali mengingatkan presentasi penting dengan investor minggu depan, tapi Andreas hanya menjawab dengan tatapan kosong. “Nanti saja,” katanya.Email-email kantor menumpuk di kotak masuk. Telepon dari mitra bisnis hanya dijawab dengan pesan singkat oleh Bima: “Pak Andreas sedang tak bisa diganggu.”Pagi itu pintu apartemen diketuk keras, dan Andreas mengabaikannya. Namun, ketukan itu berubah menjadi dering bel yang tak
Langit Jakarta cerah untuk pertama kalinya dalam seminggu, meski kabut tipis masih menggantung di udara. Andreas melangkah masuk ke kantor di gedung bertingkat di kawasan Kuningan. Setelah absen lama, ia mengenakan jas abu-abu tua sedikit longgar—berat badannya turun beberapa kilo sejak kematian Maya. Dasi biru tua yang dipilih Rina tadi pagi ikut dipakai. Mata Andreas masih sayu dengan lingkar hitam di bawahnya tak bisa disembunyikan. Andreas memaksa diri melangkah, dan kata-kata Maharani serta Rina terus bergema di kepalanya: Kamu harus bangkit perlahan-lahan.Lift terbuka di lantai 23, pada markas perusahaan teknologi yang ia pimpin. Karyawan yang biasanya menyapa antusias kini hanya mengangguk hati-hati. Mereka tak yakin bagaimana harus menyambut bos yang baru kembali. Bima, asistennya langsung mendekat dengan tablet di tangan. “Pak Andreas, selamat pagi! Senang Bapak akhirnya masuk lagi. Jadwal hari ini—”“Nanti aja, Bim,” potong Andreas, suaranya serak tapi tegas. “Aku mau duduk
Pagi di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Langit abu-abu tebal menyelimuti kota, seolah mencerminkan beban yang kini Andreas pikul. Di kantornya di Kuningan, ruang rapat besar dipenuhi suasana tegang. Meja panjang dikelilingi tim hukum perusahaan, Bima, dan beberapa staf senior, sementara Andreas duduk di ujung, tangannya mencengkeram pena dengan tatapan tajam. Lara duduk di sampingnya, kali ini tak hanya sebagai pendamping, tapi sebagai bagian dari perjuangan yang kini mereka hadapi bersama. Di depan mereka, layar proyektor menampilkan dokumen-dokumen lama terkait saham Maya—bukti yang akan menjadi senjata mereka.“Pak Andreas,” mulai Rudi, kepala tim hukum, dengan suara tenang tapi tegas. “Kami udah cek semua dokumen. Saham yang diminta Pak Hartono dan Bu Siska memang awalnya atas nama Alm. Maya Wirawan, tapi itu udah dilebur ke aset perusahaan tiga tahun lalu atas persetujuan tertulis dari beliau. Secara hukum, posisi kita kuat. Tapi mereka bisa bawa ini ke ranah emosional
Sore itu, kantor Andreas di Kuningan terasa hening setelah kepergian Pak Hartono, Bu Siska, dan pengacara mereka. Ruang rapat yang tadi penuh ketegangan kini kosong, hanya menyisakan aroma kopi dingin dan kertas-kertas yang berceceran di meja. Andreas duduk di kursi utama, tangannya mencengkeram sisi meja, matanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung Jakarta di bawah langit kelabu. Lara berdiri di sampingnya, tangannya memegang pundak Andreas lembut, memberikan kekuatan tanpa kata.“Kamu baik-baik aja?” tanya Lara pelan, suaranya hati-hati tapi penuh perhatian.Andreas menarik napas dalam, lalu menoleh ke Lara dengan senyum lemah. “Aku nggak tahu, Sayang,” katanya jujur, suaranya serak. “Aku pikir aku udah siap hadepin mereka, tapi denger Bu Siska bilang aku berubah … itu ngena banget.”Lara duduk di kursi sebelah, tangannya kini menggenggam tangan Andreas erat. “Kamu nggak berubah, Andreas. Kamu cuma lanjut hidup, dan itu nggak salah. Mereka lagi
Pagi di rumah keluarga Andreas di Menteng terasa dingin, meski matahari sudah menyelinap melalui celah-celah jendela. Aroma teh dan roti bakar dari dapur tak mampu mencairkan ketegangan yang masih menggantung sejak malam sebelumnya. Andreas duduk di meja makan, tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin, matanya sayu menatap ponsel di depannya. Lara berdiri di dekat jendela ruang tamu, memandang taman kecil yang dipenuhi bunga mawar putih—bunga yang mengingatkannya pada cerita Andreas tentang Maya. Rina sibuk di dapur, berusaha menciptakan suasana normal dengan menggoreng telur, sementara Maharani duduk di sofa, tangannya mencengkeram buku doa tua yang tak dibuka.“Andreas,” panggil Maharani pelan, suaranya serak tapi tegas. “Kamu udah telepon Bima? Soal investor sama surat dari Hartono, kita nggak boleh diem aja.”Andreas menoleh, mengangguk lelet. “Udah, Bu. Bima bilang rapat sama investor bisa diatur besok pagi. Soal surat Hartono, aku minta dia cek ke pengacara perusahaan.
Malam di rumah Andreas terasa lebih hidup dari biasanya. Aroma udang saus asam manis dan nasi goreng buatan Lara mengisi udara. Denting piring dan gelak tawa dari Rina membuat suasana makin meriah. Andreas berdiri di samping Lara untuk memotong bawang dengan gerakan canggung. Sesekali lelaki itu melirik Lara dengan senyuman. Maharani duduk di meja makan, mengamati mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara kaku dan agak melunak.“Kamu beneran jago masak, ya,” komentar Rina, mencicipi sambal dari ujung sendok. “Kak Andreas beruntung banget, aku aja nggak bisa bikin gini.”Lara pun tertawa kecil. “Makasih, Rina. Ini cuma resep sederhana, kok. Kalau mau, aku ajarin kamu kapan-kapan,” katanya.Di sisi lain Andreas melirik ibunya, mencoba membaca apa yang Maharani pikirkan. “Bu, kalau tertarik coba rasanya ini enak banget,” katanya.Namun Maharani hanya menanggapi singkat. “Ibu makan kalau udah jadi,” jawabnya, lantas tedengar bunyi bel di pintu. Rina pun mengerutkan kening sambil
Bab 22:Pesawat mendarat di Jakarta membawa Andreas dan Lara kembali ke hiruk-pikuk kota yang kontras dengan ketenangan Bali. Langit kelabu menyambut mereka, seolah mencerminkan ketegangan menanti. Di dalam mobil yang dikemudikan Pak Hadi, Andreas duduk di samping Lara sambil menggenggam tangannya. Ia memberi isyarat bahwa betul-betul di sisi sang kekasih. Lara memandangnya dari samping dengan mata penuh kecemasan.“Kamu yakin nggak apa-apa ketemu Ibu sekarang?” tanya Andreas. “Aku nggak mau kamu jadi sasaran karena Ibu lagi sensi. Tapi kalau sanggup pasti kubantuin mengobrol.”Lara tersenyum kecil. “Aku yakin, Andreas. Aku nggak mau jadi pacar yang disembunyiin. Kalau Ibu sama Rina nggak terima aku, biar aku hadepin sendiri. Aku nggak takut,” katanya tegasAndreas menatapnya lekat. Ada kelegaan bercampur kekaguman di matanya. “Makasih, Lara. Aku cuma nggak m
Pagi di Bali terasa segar dengan aroma laut bercampur embun. Andreas dan Lara menginap duduk di balkon, menghadap pemandangan pantai yang masih sepi. Di meja kayu dua cangkir kopi hitam mengepul pelan. Lara mengenakan kaus longgar dengan motif bunga dan rambutnya dikuncir. Andreas masih memakai kemeja putih yang kusut dari malam sebelumnya.Andreas memandang laut dengan tangan memutar cangkir kopi miliknya.Lara memperhatikan. “Kamu kenapa dari tadi diam aja?” tanyanya. “Capek apa kangen sama Jakarta?”Andreas menoleh. “Bukan,” katanya. “Cuma … tadi malem Rina telepon dan kamunya udah tidur.”Lara mengerutkan kening. “Rina? Ada apa? Semuanya baik-baik aja?”Andreas menggeleng. “Sepertinya ada masalah di rumah yang membuat Ibu sama Rina ribut besar. Mereka nggak menyangka aku ke Bali sama kamu tanpa bilang ke
Malam di Bali terasa lembut, ditemani suara ombak yang terdengar dari jendela kamar hotel. Angin laut menyelinap masuk, membawa aroma garam bercampur bunga kamboja taman bawah. Lampu kamar sengaja diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu meja. Suasana itu menciptakan ketenangan yang membungkus Andreas dan Lara, seolah dunia di luar sana berhenti berputar untuk mereka.Lara masih duduk di tepi ranjang, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Pensil bergerak lincah, menggoreskan garis-garis halus yang perlahan membentuk sesuatu. Andreas yang sudah melepas kemeja luar kini hanya mengenakan kaus sederhana. Sang kekasih duduk di sampingnya sambil memandang penuh perhatian. Andreas tahu Lara suka memberi kejutan, dan ia menikmati momen menunggu.“Jadi, besok pagi ke pantai lagi?” tanya Lara sambil tetap fokus pada gambar.“Ya, aku pengen lihat sunrise bareng kamu,” jawab Andreas. Ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat. “Terus abis itu kita cari sarapan. Ada tempat bagus katany
Langit Bali sore membentang luas dengan gradasi oranye dan ungu, menyatu sempurna di ufuk barat. Pantai Kuta ramai oleh suara ombak bergulung diiringi tawa wisatawan dan deru angin laut membawa aroma garam. Andreas dan Lara duduk berdampingan di atas tikar sederhana yang mereka sewa. Di depan mereka, kotak makanan buatan Lara sudah terbuka. Udang saus asam manis tinggal beberapa potong, sementara cumi goreng hampir habis. Andreas memegang tusuk sate kecil, matanya berbinar kagum setiap kali menyuap. “Lara, ini beneran enak banget,” katanya sambil mengunyah, suaranya. “Aku nggak nyangka kamu jago masak gini. Kalau tiap hari dikasih bekal aku bisa lupa makan di restoran.” Lara tersenyum kecil. “Jangan alay, Andreas,” balasnya sambil memainkan ujung rambut. “Aku cuma takut rasanya kurang pas, makanya bikin simpel aja. Lagian, ini pertama kalinya aku masak buat … pacar.” Kata terakhir hampir seperti bisik.
Langit Bali sore membentang luas dengan gradasi oranye dan ungu, menyatu sempurna di ufuk barat. Pantai Kuta ramai oleh suara ombak bergulung diiringi tawa wisatawan dan deru angin laut membawa aroma garam. Andreas dan Lara duduk berdampingan di atas tikar sederhana yang mereka sewa. Di depan mereka, kotak makanan buatan Lara sudah terbuka. Udang saus asam manis tinggal beberapa potong, sementara cumi goreng hampir habis. Andreas memegang tusuk sate kecil, matanya berbinar kagum setiap kali menyuap.“Lara, ini beneran enak banget,” katanya sambil mengunyah, suaranya. “Aku nggak nyangka kamu jago masak gini. Kalau tiap hari dikasih bekal aku bisa lupa makan di restoran.”Lara tersenyum kecil. “Jangan alay, Andreas,” balasnya sambil memainkan ujung rambut. “Aku cuma takut rasanya kurang pas, makanya bikin simpel aja. Lagian, ini pertama kalinya aku masak buat … pacar.” Kata terakhir hampir