Share

Bab 4. Para benalu.

Penulis: Kencana Ungu
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-29 20:49:04

Karena kejadian semalam aku lebih memilih diam rasanya hatiku masih dongkol. Mas Danu sudah berkali-kali meminta maaf padaku, aku tetap bergeming.

Mas Danu bilang dia bingung harus bagaimana apa lagi si Maya menyusulnya ke Masjid. Saat lewat Masjid masih ramai orang dan lihat suamiku ada di sana.

Mas Danu tidak ada maksud lain hanya murni menolongnya. Sebenarnya aku percaya pada suamiku, tapi hatiku masih dongkol jadilah aku diam saja sampai pagi ini.

Mas Danu paling tidak bisa jika istrinya merajuk. Dia akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Semalam saja kuperhatikan tidurnya tidak nyenyak.

Aku memang marah, tapi aku tidak akan membiarkan suamiku untuk tidur sendiri apa lagi tidur di luar itu tidak ada dalam kamus hidupku. Pagi ini pun seperti biasa aku siapkan baju kerjanya juga sarapannya aku temani.

Mas Danu menyesal dan bilang tidak akan pernah mengulanginya lagi. Dia berjanji akan meminta pendapatku apa pun itu.

“Kia, Nenek takut loh ... kalau di rumah ini ada perang dunia ke tiga. Kita yang jadi imbasnya,” ujar Mamah Atik mengajak bicara Kia yang sedang aku suapi.

Kia menanggapi dengan celotehannya dan mengikuti bahasa yang diucapkan Mamah Atik. Menggemaskan sekali. Mas Danu hanya tersenyum kecut sedang aku lebih memilih diam.

“Kia, gimana ya, kalau perang dunianya lama usainya? Pasti kita berdua tambah merana,” ucap Mamah Atik lagi.

Kali ini Mas Danu tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Kia yang mengangguk-anggukan kepala seraya mengikuti bahasa yang diucapkan Mamah Atik.

“Meyana ... meyana, Nek,” katanya.

“Maafin Ayah, ya, Nak. Gara-gara Ayah kalian jadi ....”

“Nanan, maf. Nanan edih,” sahut Kia seraya mengusap-ngusap pipi Mas Danu. Aku terharu sekali Kia ternyata sudah punya rasa peduli.

“Danu, enak enggak masakan Ita pagi ini?” tanya Mamah Atik.

“Emh ... E—nak kok, Mah. Masakan istriku selalu enak dan terbaik di dunia,” jawab Mas Danu gelagapan kalau sudah begitu ekspresinya maka aku yakin pasti masakanku tak enak.

Pantas saja Mamah Atik dan Mas Danu makannya lama sekali. Kalau ada paman dan Evi pasti mereka akan terus terang. Sayangnya mereka masih tidur bak big bos.

“Enak? Kata Mamah juga enak, tapi tidak seenak biasanya. Kamu tahu kenapa Danu?” Mas Danu hanya menggeleng seraya menatapku, tapi aku langsung buang muka.

“Itu karena hati istrimu sedang tidak baik-baik saja. Hatinya sakit dan mungkin juga akan lama sembuhnya. Makanya kamu sebagai suami harus dengar dan ingat kata istri. Seperti yang sudah Mamah bilang semalam. Istri itu jantungnya rumah tangga kalau jantungnya sudah sakit maka semua akan sakit,” jelas Mamah Atik.

Diam-diam aku menyipi sayur yang kumasak hari ini. Orek tempe, sambal balado telur dan lalapan. Orek tempenya super asin aku sampai meringis berasa minum air laut, sedang sambal balado telurnya tidak ada rasa. Anyep alias hambar.

“I—ya, Mah. Aku tahu dan aku sudah berkali-kali meminta maaf pada istriku, tapi seperti yang Mamah lihat sendiri dia belum mau memaafkanku,” jawab Mas Danu sendu.

“Beri waktu barang kali memang Ita masih ingin diam. Kamu lain kali jangan ceroboh lagi. Kamu memang baik, Nak, tapi di luar sana banyak sekali orang yang berusaha memanfaatkan kebaikanmu. Mamah tidak melarang kamu baik pada siapa pun, tapi kamu harus tahu mana yang tulus dan mana yang modus.”

“I—ya, Mah. Terima kasih banyak ya, sudah mengingatkan aku. Sudah jadi ibu yang baik untukku dan juga istriku.” Mamah Atik tersenyum bahagia mendengar ucapan Mas Danu.

“Ita, nanti kita jalan-jalan, yuk, ke mol atau ke mana gitu, Mamah suntuk di rumah terus,” ajak Mamah Atik. Aku tahu sebenarnya beliau tidak suntuk hanya saja ingin mengajakku untuk refreshing agar aku tidak terus-menerus ngambek.

“Iya, Mah. Nanti aku temani, tapi kan, kita hari ini mau masak-masak untuk acara syukuran besok,” jawabku.

“Gampang itu, kamu kan, sudah minta tolong sama istrinya Joko, kita serahkan semuanya saja sama dia. Kamu temani Mamah, ya?” Aku mengiyakan saja.

“Taa, Ita! Danu! Assalamualaikum!” teriak ibu mertuaku dari pintu samping.

“Duh, Nenek rombeng mau apa pagi-pagi ke sini! Wa’alaikumsalam masuk!” jawab Mamah Atik teriakannya tak kalah dengan toa Masjid. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa, tapi aku tahan.

“Ta, itu siapa yang tinggal di gubuk kecil rumah kalian? Pagi-pagi nyetel musik pakai HP kenceng banget dangdutan pula sudah gitu goyang-goyang di terasnya. Ibu tegur katanya lagi senam jangan ganggu gitu. Ih, enggak sopan!” Mendengar cerita ibu aku jadi bete lagi. Ah, itu orang ternyata banyak tingkah.

“Sekarang masih senam?” tanya Mamah Atik.

“Enggak sudah dari tadi masuk karena aku tegur. Siapa sih, Mabes? Apa art baru?”

“Bukan art. Dia itu teman Danu dan kerja di toko, tapi semalam katanya kabur dari rumah karena diusir suami dan keluarganya. Makanya minta tolong tinggal di sini,” jelas Mamah Atik.

“Loh, kok, gitu. Haduh, ini sudah enggak benar. Biasanya begitu hanya modus saja mau dekatin Danu. Ini anak juga polos atau bloon sih!” Ibu kesal dipukulnya pundak mas Danu kuat sekali.

“Ya, begitulah! Namanya juga Danu,” sahut Mamah Atik.

“Ibu sekalian ikut sarapan ya, Asih belum selesai masaknya Ibu sudah lapar gegara tadi teriak-teriak negur teman Danu itu.” Tangan ibu cekatan mengambil nasi dan kawan-kawannya. Hap! Suapan pertama masuk ke mulut muka ibu berubah jadi merah dan melirik ke Mamah Atik.

“Ha-ha- gimana rasanya masakan mantumu pagi ini. Enak sekali bukan? Itu gara-gara Danu,” kelakar Mamah Atik. Kia sampai ikutan ketawa.

“Ck, Ita kamu itu kalau masak makanya dicicip dulu. Kalau begini kan, sayang mubazir,” bentak ibu. Aku diam saja malas menanggapi.

“Ini salahku, Bu. Sampai Ita masaknya begini. Sudah kita nikmati saja, dari pada dibuang mubazir,” sahut Mas Danu.

“Kita? Kamu aja kali, Ibu mah ogah! Bisa-bisa darah tinggi Ibu kambuh! Mending ibu tunggu Asih beres masak aja,” jawab ibu.

“Benar! Mamah juga malas ngabisin. Mending Mamah makan di rumah ibumu aja, Dan. Nah, karena ini ulahmu maka kamu yang harus habisin. Cepat!”

Mas Danu hanya pasrah saja dia dengan susah payah menelan setiap suapan makanan yang masuk ke mulutnya. Sebenarnya aku kasihan, tapi biarlah anggap aja hukuman untuknya.

“Minum, Dan. Nah, kan, kalau gitu kamu hebat, Alhamdulillah habis,” ucap Mamah Atik. Ibu cekikikan bahagia aku pun sebetulnya menahan tawa sejak tadi.

“Hari ini aku libur dulu ya, Mah? Enggak usah ke toko.” Izinnya ke Mamah Atik, tapi meliriknya padaku.

“Enggak bisa! Kenapa juga mesti libur, sudah tenang aja urusan Ita biar Mamah yang tangani,” jawab Mamah Atik. Mas Danu langsung lesu.

“Istrimu masih ngambek, Dan? Biarin aja enggak usah diladeni. Perempuan di luar yang lebih cantik dari istrimu juga banyak. Sudah tidak usah ambil pusing laki-laki itu harus dihormati bukan diambeki. Kamu harus punya harga diri, dong!” sahut paman. Dia menghidupkan kompor untuk menyulut putung rokok kemudian duduk di depan pintu samping. Pas-pus sambil ceramah.

“Wong edan! Kalau nasihati anak itu yang bener! Kamu siapa di sini enggak usah ikut campur! Jam segini baru bangun memang kamu bos!” bentak ibu mertuaku.

“Aku ini ya, pamannya Danu. Sebagai lelaki harus punya harga diri!” cicit paman lagi.

“Berisik kamu! Tahu masalahnya enggak sok, ikut campur! Pulang sana ke asalmu!” bentak ibu lagi.

“Memang aku yang salah, Man. Di luar memang banyak wanita cantik, tapi tidak ada yang secantik dan sesempurna istriku. Ini murni kesalahanku. Menghormati istri bukan berarti kita tidak punya harga diri. Justru karena kita lelaki maka tugas kita memuliakan istri,” jawab Mas Danu seraya mengambil putung rokok paman yang masih menyala dan membuangnya keluar.

“Apa-apan sih, kamu, Dan! Enggak sopan!” Paman emosi.

“Paman kan, tahu di rumahku di larang merokok kenapa masih melanggar?” Mas Danu dengan santai menghampiriku dan mencium pucuk kepalaku lama sekali.

“Maaf ya, Sayang. Aku janji tidak akan ceroboh lagi. Doakan suamimu ini ya, semoga hari ini rezeki kita banyak, lancar, berkah. Mas berangkat dulu.”

Kuraih tangannya dan kucium takzim. Meski aku masih merajuk aku harus tetap melakukannya. Ini bentuk baktiku pada suami.

Kami mengantar Mas Danu sampai teras depan. Mas Danu ke garasi mobil. Tiba-tiba dari samping rumah muncul Maya dengan tergesa dia jalan menghampiri suamiku.

“Danu! Kok, kamu udah mau berangkat kan, masih jam setengah tujuh? Ini aku bawain sarapan. Aku dengar masakan istrimu enggak enak. Jadi, tadi aku buru-buru beli ke warung. Nanti kita sarapan bareng, ya?”

Bukan hanya Mas Danu yang bengong aku pun terperangah tidak percaya dengan kenekatan Maya. Aku masih diam saja mau ngetes sejauh mana Mas Danu merasa tidak enak. Mamah Atik hanya menyenggol sikuku.

“Danu, kamu cocok sekali pakai kaus warna navi begini terlihat sangat ganteng. Kamu memang dari dulu gantengnya enggak ilang-ilang,” puji Maya, tangannya berusaha meraih bahu Mas Danu, tapi Mas Danu menghindar.

“Bocah gendeng! Nguping obrolan orang! Sana pergi, anakku enggak doyan masakan orang lain apa lagi beli begitu. Kamu makan sendiri saja!” bentak ibu mertuaku seraya menghampiri Maya dan menunjuk-nunjuk muka Maya.

“Kata siapa enggak doyan? Dulu waktu kami kecil Danu sering kok, makan bareng aku. Makan bekalku karena sama Ibu enggak pernah dikasih makan,” bantah Maya. Bukan main, perempuan itu kenangan masa kecilnya dengan Mas Danu pun masih ingat.

“Owalah, makanya ini otak di taruh di tempatnya yang bener! Itu kan, dulu. Lain dulu, lain sekarang! Danu sejak sudah punya istri jangankan masakan orang lain masakan ibunya saja dia tidak mau! Sudah sana enyah. Hus! Husss!” bentak ibu seperti mengusir ayam.

“Benar yang dikatakan ibuku, May. Aku memang tidak suka masakan orang lain. Bagiku masakan istriku adalah yang terenak dan terbaik. Kamu bawa pulang saja,” sahut Mas Danu seraya tersenyum padaku.

“Mas, berangkat dulu, ya, Dik, assalamualaikum ....”

“Wa’alaikumsalam,” jawab kami bersamaan.

“Danu, tunggu! Kamu kan, mau berangkat ke toko, sekalian saja bareng. Aku lagi hemat uang karena semua uangku diminta ibu mertuaku katanya untuk anakku di sana,” pinta Maya lagi dengan wajah memelas.

“Maaf May, enggak bisa. Aku mau ke kantor Samsat dulu. Kamu berangkat jalan kaki saja tidak terlalu jauh, kok, atau bareng Joko saja. Sebentar lagi Joko ke sini mengantar istrinya,” tolak Mas Danu. Lagi-lagi Maya hanya bisa tersenyum kecut.

Tak lama Joko datang bersama istrinya. Memang aku meminta tolong pada istri Joko untuk bantu masak, nanti malam kami akan mengadakan acara syukuran dan mengundang anak-anak panti asuhan.

“Yuk, bareng sekalian! Kalau telat gaji dipotong sama Bu Bos!” ajak Joko seraya menunjukku.

“Pak’e hati-hati awas kalau macam-macam aku sunat lagi, kamu!” ucap istri Joko.

“Siap, Bune! Hati Pak’e selamanya untuk Bune. Pak’e enggak doyan sama ondel-ondel,” jawab Joko terkekeh. Istrinya tersipu malu seraya mencubit gemas pipi Joko. Kami yang melihat pun ikut tertawa.

Benar juga kata Joko, Maya dandannya menor sekali. Mending kalau rapi, itu berantakan mungkin karena tadi buru-buru pergi ke warung beli sarapan untuk Mas Danu. Duh!

“Danu! Tunggu!” Kali ini Paman yang berteriak memanggil Mas Danu. Sepertinya Mas Danu tidak dengar mobilnya tetap melaju.

“Dasar Danu budek sekali dipanggil enggak dengar. Ita, Paman minta duit ya, ini istri Paman mau kondang, tapi enggak ada uang nunggu transferan dari Paman sedang Paman nunggu dikasih Danu.”

“Pingin uang? Kerja sana. Minta enak amat memang situ siapa!?” jawabku kesal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 5. Tetangga baru.

    Mungkin paman tersinggung dengan ucapanku, beliau pergi sepagi ini entah ke mana tahu-tahu pulang bawa uang lembaran 50 ribu rupiah sebanyak 3 lembar. “Ta, lihat ini aku sudah dapat duitnya. Aku tadi ambil kopi coklat di sekitaran rumahmu langsung aku jual Alhamdulillah dapat 100 ribu rupiah. Ini yang 50 ribu rupiah lagi dapat dari bantu tetangga sebelah beres-beres berangnya mereka baru pindah dari Jakarta,” cerocos paman tanpa aku minta. Sebenarnya kesal. Kopi coklat dijual masih dalam keadaan basah, tapi semua sudah terjadi biar saja. Padahal kalau sudah kering harganya mahal.“Orangnya kaya, Ta. Rumahnya juga bagus dalamnya. Barangnya mewah-mewah. Sudah gitu baik dan tidak pelit,” ujar paman lagi. Aku diam saja malas menanggapi. Aku paham paman sedang menyindirku.“Paman, setelah ini tolong carikan daun singkong, daun pepaya yang muda untuk bikin urapan. Sekalian daun pisang untuk bikin kue lambang sari,” kataku lagi.“Dibayar, kan, Ta?”“Iya, tenang saja nanti aku bayar.” Paman

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 6. Benalu harus dikasih pelajaran.

    "Jangan coba-coba membangunkan singa tidur kalau kamu ingin selamat!” kataku seraya menatap tajam mata Maya.Maya mundur lalu dia bergabung dengan Joko dan yang lainnya untuk makan siang.“Mas, aku mau Maya pindah hari ini juga." Mas Danu menautkan ke dua alisnya lalu tersenyum.“Senangnya aku, ternyata istriku bisa secemburu ini padaku.“Mas, aku bukan sedang bercanda jadi, jangan senyum-senyum begitu,” rajukku.“Iya, Sayang. Aku akan menyuruh pindah si Maya.” Lega hatiku mendengar kepastian dari Mas Danu.Aku heran dengan perempuan seperti Maya. Dia katanya baru saja bercerai dengan suaminya, tapi kenapa dia tidak menghabiskan masa iddah di rumahnya. Jika seorang perempuan bercerai sebelum habis masa Iddah maka harus tetap berdiam diri di rumah. Dilarang keluar kecuali dengan alasan yang sangat penting.Apa lagi Maya masih proses perceraian. Surat cerai belum keluar artinya belum ketuk palu, maka dia pun tidak boleh ke luar dari rumah suaminya sebelum keputusan mutlak dari hakim.

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 7. Dikira pembantu.

    Tak kuhiraukan paman. Terserah saja mau marah atau enggak. Nayata emang begitu. Udah numpang, maling pula!Sampai dalam aku dikejutkan dengan kehadiran ibu dan juga bapakku. Memang aku memberi tahu mereka tentang acara syukuran yang akan aku gelar, tapi aku tidak tahu kalau mereka akan datang ke sini dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kedatangan Wira dan Dina. Bukan aku tidak senang saudaraku datang, tapi aku masih trauma dan juga takut Wira akan berulah seperti dulu lagi. Mas Danu pun sama sepertiku terkejut melihat kedatangan Wira. Wira menyambut kami membawakan kardus berisi aneka jajanan yang kujinjing. Senyumnya terus mengembang. Dina pun demikian. Perutnya buncit Alhamdulillah Dina sudah hamil lagi. Ini merupakan kehamilannya yang ke dua karena yang pertama dulu keguguran.“Apa kabar Bu, Pak? Aku kangen,” kataku seraya kupeluk ibuku. Aku sengaja enggan menyapa Wira dan istrinya. Rasanya setiap melihat mereka kenangan buruk berkelebat di mataku.“Alhamdulillah Ibu baik, Bap

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 8. Tingkah absurd para benalu.

    "Mbak, aku ada perlu sama Mbak, bisa kita bicara berdua saja?” Wira mencekal tanganku saat aku baru saja mau masuk kamar.Hari ini lelah sekali karena yang mengurus semuanya aku. Mas Danu selesai mengantar langsung ke toko.“Mbak capek Wir, nanti saja, ya?” tolakku.Aku memang sengaja menghindar dari Wira. Bukannya sombong, tapi entah kenapa hatiku belum sreg sama anak itu.Wira terlihat menahan marah, dia balik badan dan mengepalkan tangannya meninju ke udara. Ck, masih belum berubah.Kutidurkan Kia aku pun ikut rebahan. Enak sekali meluruskan pinggang.“Mbak, sudah belum ganti bajunya aku mau bicara sebentar saja,” tanya Wira tangannya sibuk mengetuk pintuku. Untung saja pintunya aku kunci kalau tidak mungkin dia akan nyelonong masuk begitu saja.Ting!Anda telah ditambahkan.Sebuah notifikasi dari grup WA baru."Kece. Kajian emak-emak colehah."Duh, ini grup apaan si, enggak nyambung sekali. Aku berniat keluar, tapi Ustazah Fatimah sedang mengetik pesan.Oh, ternyata ini grup dibuat

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 9. Sindiran tetangga baru.

    "Iya, ya ampun, aku sampai lupa! Ini Mbak aku mau minta uang, mau pergi main sebentar sama pacarku.” Evi menengadahkan tangannya padaku.“Tidak ada, Vi. Kamu ini minta uang kayak minta apa aja, kamu kira cari uang gampang apa!”“Pelit amat sih, Mbak! 50 ribu rupiah saja Mbak?” pinta Evi memelas.“Baik, tapi tolong kamu lap kaca jendela bagian depan sama samping rumah kalau enggak mau ya, udah,” kataku memberi pilihan.“Iya, baik!” jawab Evi kesal.Baguslah, aku sekarang punya beberapa orang yang bantu-bantu di rumah. Lumayan meringankan pekerjaanku.~k~u🌸🌸🌸Sore ini aku ke rumah Bu RT untuk menyerahkan donasi. Sebenarnya besok juga bisa, tapi aku menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Bu Jum bersama gengnya pasti akan banyak mulut.Kata suamiku, jika tangan kanan memberi lebih baik tangan kiri tidak tahu, tapi kalau mau secara terang-terangan pun tidak apa-apa.“Ta, mau ke mana, sore-sore gini?” tanya Novi dia sedang di teras rumahnya bersama suaminya.“Ke rumah Bu RT, ada perl

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 10. Mengusir Maya.

    “Kita bicara di dalam, Mas!” Mas Danu tanpa membantah langsung masuk ke dalam.“Kamu kemasi barangmu sekarang juga, dan pergi dari sini!” titahku pada Maya.“Hhh ... aku tidak akan pernah pergi dari sini kalau bukan Danu yang meminta. Semua ini milik Danu kamu hanya berstatus istri dan tidak bawa apa-apa ke sini jadi tidak usah berlagak Nyonya,” jawab Maya sinis dia menyilangkan ke dua tangannya di dada.“Percuma ngomong sama manusia tidak punya otak. Kita lihat saja aku pastikan kamu akan kutendang dari sini!” Kutatap matanya yang penuh amarah itu.“Maya tidak mau pergi dari sini kalau bukan kamu yang minta Mas. Jadi, lebih baik sekarang kamu suruh dia pergi dari sini.” Mas Danu yang sedang menggendong Kia langsung menghampiriku ke kamar.“Dik, dengar dulu penjelasanku. Tadi itu aku sengaja menurunkan Maya di sana karena memang dia sendiri yang minta katanya mau beli perlengkapan mandi,” jelas Mas Danu.“Aku sudah sulit percaya Mas, semenjak ada dia di sini kamu juga berubah. Sekaran

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-16
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 11. Mengungkit masa lalu.

    “Ssstt ... sudah jangan nangis. Salah Mas sih, enggak jujur sama kamu. Yuk, kita temui Maya!”“Halah Dan, istri begitu mah buang aja ke laut. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa tulus padamu dan tidak marah-marah padamu. Suami pulang kerja bukannya disambut bahagia malah dimarah tidak jelas,” ucap paman ketika kami ke luar kamar. Rupanya paman mendengar pertengkaran kami.“Sudahlah Paman, tidak usah menambah keruh suasana. Aku dan Ita tidak bertengkar kok, tadi Ita teriak itu gara-gara aku menjahilinya dengan menakutinya kecoak,” jawab Mas Danu berbohong.“Ah, terserah kamu saja, Dan. Kamu memang ngeyel seperti ibumu susah kalau dibilangin,” sahut paman lagi.“Danu, Ita, aku punya kabar gembira untuk kalian!” teriak Mbak Asih dari pintu samping dia sedikit berlari menghampiri kami. Mbak asih masih menggunakan seragam salesnya dia pasti baru pulang kerja dan langsung ke sini.“Kabar apaan, Mbak?” tanyaku penasaran.“Aku hamil,” jawab Mbak Asih tanpa malu.“Apa!” Aku dan Mas D

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-16
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 12. Wira maksa.

    "Kamu tega mengusirku dalam keadaan begini, Dan? Sungguh kamu manusia tidak punya hati. Ke mana Danu temanku yang dulu selalu berjanji akan membalas kebaikanku?” ucap Maya lagi seraya terisak.Aku sama sekali tidak tersentuh oleh kata-katanya. Aku justru ingin sekali membantah ucapannya, tapi aku tahan aku mau lihat dulu seberapa jauh keberanian Mas Danu pada temannya itu.“Aku sedang tertimpa musibah dan tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang membantuku. Nasib orang miskin memang selalu begini di hina sana-sini dan juga disingkirkan,” tutur Maya. Dia berkali-kali mengelap air matanya.Mas Danu melirikku. Aku segera memalingkan wajah. Pasti Mas Danu mau meminta padaku untuk tidak mengusir Maya malam ini. Mas Danu selalu seperti itu tidak tegaan.“May, enggak usah jadi orang sok paling susah di dunia, deh! Kamu bilang tidak ada yang bantu kamu lantas yang kamu dapatkan selama ini apa? Kami membantumu. Mas Danu menepati janjinya. Apa kamu lupa? Pekerjaan yang kamu dapatkan sekaran

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-16

Bab terbaru

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 237. Ending.

    Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 236. Terungkap.

    "Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 235. Tak salah.

    Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 234. Tertangkap.

    “Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 233. Beraksi lagi.

    "Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 232. Bayangan hitam.

    “Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 231. Datang lagi.

    Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 230. Wak Tono.

    "Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 229. Tegarnya hati.

    "Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status