Share

Bab 3. Pesan dari Maya.

Penulis: Kencana Ungu
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-29 20:41:48

[Aku otewe sekarang ya, Dan]

Kembali pesan singkat itu masuk.

“Siapa, Sayang? Kok bete gitu?”

“Temenmu!”

“Loh, kok, marah? Teman yang mana?” Mas Danu mengambil ponselnya.

“Oh, biarin aja lah, kan, di sana dia punya tetangga kenapa juga musti ke sini,” ujar Mas Danu lalu mematikan ponselnya.

“Sudah makan lagi nanti nasinya nangis kalau enggak dihabisin. Apa mau Mas suapin?”

“Iya, aku habisin. Mas, bisa tidak kalau enggak dekat-dekat lagi sama teman kamu itu?” pintaku.

“Bisa, kalau itu yang minta istriku apa pun akan aku lakukan,” jawab Mas Danu. Hatiku lega. Setidaknya meski perempuan itu mepet terus, tapi suamiku menghindar.

“Perempuan tadi siang, Ta?” Mamah Atik ikutan kepo.

“Iya, Mah, ini pakai kirim pesan segala minta tolong minep di sini katanya diusir suami dan keluarga suaminya.”

“Kasihan sih, tapi pasti ada alasannya kenapa begitu. Danu, apa orang tuanya tidak ada di sini?”

“Ada sih, Mah. Setahuku dulu waktu kecil memang asli orang kampung sebelah sini, tapi enggak tahu kalau sekarang.”

“Ingat Danu, apa yang kamu miliki sekarang berkat doa-doa tulus dari istrimu. Kalau sampai kamu berani macam-macam Mamah tidak akan pernah tinggal diam.”

“Iya, Mah ... aku tahu. Mamah jangan begitu ih, aku jadi takut.” Aku terkekeh melihat ekspresi Mamah Atik yang melotot pada Mas Danu.

“Kali aja kamu khilaf gitu, karena manusia kan, tempat salah dan lupa. Sebelum itu terjadi Mamah ingetin duluan.”

“Iya, Mah, terima kasih sudah ingetin aku,” ucap Mas Danu menarik turunkan alis matanya.

“Serius Danu!”

“Iya, Mah, ini serius,” jawab Mas Danu.

Selesai makan kami bersiap salat isya. Aku menyiapkan baju salat Mas Danu. Alhamdulillah lelakiku ini selalu berjamaah di masjid lima waktunya meski hujan pun tetap berangkat.

“Man, ayo, salat di masjid sudah azan, nih!” ajak Mas Danu.

“Enggaklah, Dan. Kapan-kapan aja,” tolak paman tangannya masih sibuk memegang remot memindah channel TV.

“Salat, Man. Salat itu wajib. Kalau Paman tidak salat bagaimana nanti Paman bisa bertanggung jawab terhadap diri Paman sendiri.” Mas Danu mematikan TV. Paman mendengus kesal lalu ikut beranjak dan mengekor Mas Danu ke Masjid.

“Kamu juga salat, Vi. Taruh dulu itu HP-mu,” titah Mamah Atik.

“Ogah! Aku masih M,” jawab Evi seraya beranjak dari duduknya entah mau pergi ke mana.

“Tunggu! Kamu masih M, hari ke berapa?” tanya Mamah Atik meyakinkan.

“Iya, Bulek, baru hari ke dua masih deras-derasnya,” jawab Evi malas.

Bok! 

Bok!

“Aaa! Bulek apa-apaan, sih!” teriak Evi.

Kutahan mulutku agar tidak tertawa. Bagaimana tidak Mamah Atik menabok pant*t Evi kuat sekali.

“Kamu itu yang apaan! Mens enggak bilang M. Mana buktinya kamu pakai pembalut aja enggak! Alasan saja dasar pemalas! Kalau mau tinggal di sini ikuti aturan bukan seenak jidatmu sendiri!” omel Mamah Atik. Lagi-lagi kepala Evi tak luput dari toyoran mautnya. Mau tidak mau Evi menurut dan ikut salat jamaah di rumah.

Selesai salat Evi tidak berdoa dia langsung ngacir ke depan membukakan pintu. Rupanya ada tamu.

“Mah, siapa yang bertamu malam-malam tumben sekali?”

“Mamah mana tahu, sudah kita berdoa dulu. Terus simaan 10 ayat aja ya, Mamah ada janji mau telpon Charles katanya dia sudah berangkat ke Jerman Alhamdulillah dapat beasiswa kuliah di sana.”

Charles cucu paling besar dari anak pertama Mamah Atik yang di Riau. Rupanya anak itu selain tampan juga pintar.

“Masya Allah keren sekali. Semoga nanti nular ke anak-anakku ya, Mah.”

“Aamiin. Ayo, doa dulu terus mulai kamu dulu, ya?” Aku menyimak bacaan ayat Alquran Mamah Atik. Beginilah rutinitas kami selama 6 bulan ini. Atas nasihat dari ustazah kami. Alhamdulillah makin banyak keberkahan. Tadinya kami mengaji setelah Maghrib, tapi waktunya tidak keburu karena harus makam malam juga akhirnya diganti habis isya.

“Ta, itu ada tamu laki-laki seumuran Danu. Apa teman Danu?” tanya Mamah Atik setelah mengambil ponselnya. Aku sedang ngajarin Kia ngaji iqro.

“Kalau teman Mas Danu pasti bikin janji dulu, Mah. Di depan sama siapa?”

“Sama Evi ngobrol sudah dibuatin minum juga. Kamu tanya dulu sana biar Kia sama Mamah sekalian ikut teleponan.”

Aku akhirnya ke ruang tamu. Benar juga ada pria seumuran Mas Danu sedang ngobrol akrab dengan Evi. Duduk bersama membelakangi ruang dapur jadi mereka tidak tahu aku berdiri di belakang mereka. Itu pasti teman Evi berani sekali dia bawa laki-laki ke rumah ini.

Derrrtt!

Pesan dari Maya lagi.

[Aku sudah mau sampai, Dan!]

 Astaghfirullah ini perempuan nekat sekali malam-malam datang ke sini. Memang cari masalah. Lebih baik aku abaikan saja.

“Rumahmu bagus banget ya, Vi? Baru kali ini aku bertamu ke rumah gedongan begini jadi enggak enak,” ucap laki-laki itu.

“Iya, ini rumah Kakakku. Dia memang orang kaya. Tokonya besar, kebunnya luas berhektar-hektar jadi wajar kalau rumahnya bagus begini,” jawab Evi bangga.

“Kalau kita menikah nanti apa kakakmu itu mau modali kita untuk buka usaha juga?” Aku terperangah kaget dengan pernyataan laki-laki di samping Evi. Menikah katanya? Jadi, laki-laki ini pacarnya. Lah, Evi kan, masih punya suami dan anak.

“Tentu ... Kakakku itu orangnya baik dan juga tidak pelit. Mas, aku pingin deh, beli tas ini.” Evi menyodorkan ponselnya pada laki-laki itu.

“Em, mahal itu, Vi. 300 ribu rupiah cukup untuk aku makan 1 bulan di kontrakan. Cari yang lebih murah lagi, ya?” Rasanya aku ingin tertawa melihat penolakan pacar Evi itu.

Evi cemberut karena permintaannya ditolak.

“Baru segini mahal, gimana nanti jadi suamiku. Kamu enggak lihat Mas aku ini adiknya orang kaya. Nanti kalau kamu menikah denganku pasti bakalan banyak keuntungan juga. Segitu doang pelit banget.”

“Emh ... baiklah. Kamu pesan saja nanti aku yang bayar.” Akhirnya pria itu tidak mampu menolak hanya karena iming-iming dapat imbalan setelah menikahi Evi.

Hebat sekali Evi merayunya. Memberi harapan palsu.

“Eghem!” Aku berdehem kuat sekali karena laki-laki itu nyosor pipi Evi dan berhasil. Modal cium pipi dapat tas seharga 300 ribu rupiah. Bukan main hebatnya Evi. Ups!

“Mbak! Ih, ngagetin aja, deh! Enggak sopan banget!” bentak Evi.

Kusilangkan tangan di dada lalu duduk di depan mereka. Laki-laki itu justru bengong melihatku.

“Mas! Ih, apaan sih, kamu lihatnya gitu amat!” Evi merajuk.

“Cantik sekali. Siapa dia, Vi?”

“Ih, apaan sih, Mas! Dasar mata keranjang!” Evi mencubit paha laki-laki di sampingnya.

“Bu—kan begitu, maksudnya siapa dia kok, ada di sini juga?” tanya lagi.

“Dia istri kakakku. Orangnya galak juga judes. Kamu jangan tertipu dengan wajah cantiknya,” sahut Evi.

“Benar yang dibilang Evi. Jadi, jangan macam-macam di rumahku ini. Kamu Evi apa tidak tahu malu. Kamu itu masih istri orang sudah punya anak kenapa juga pakai pacaran segala sama laki-laki lain apa kamu mau dimarah Mas Danu?” kataku telak. Tentu saja laki-laki yang berstatus pacar Evi itu terbelalak kaget.

“Apaan sih, Mbak ganggu kesenangan orang aja, deh!” bantah Evi tidak terima.

“Apa benar yang dikatakan Mbak ini, Vi? Kamu istri orang?”

“Enggak usah dipercaya sudah aku bilang kalau istri kakakku ini memang galak, judes, dan sok tahu!” sungut Evi.

“Tapi, kalau itu benar nanti aku dicap pebinor dan aku tidak mau,” sahut pacar Evi.

“Terserah kamu saja, Mas mau percaya padaku atau tidak, tapi kamu jangan menyesal kalau nanti aku nikah sama orang lain terus suamiku itu dapat harta dari kakakku dan kami hidup bahagia.” Aku terkekeh, omongan Evi sungguh tidak masuk akal

“Ba—baik, aku percaya padamu.” Akhirnya luluh juga laki-laki ini. Ancaman Evi sungguh membuatnya lupa diri.

“Kenapa Mbak, masih di sini? Sana masuk!” bentak Evi padaku.

“Ogah, ini rumahku jadi aku mau di mana juga terserah aku. Evi aku peringatkan ya, jangan lagi-lagi kamu bawa tamu sembarangan ke rumah ini.”

“Terserah akulah mau bawa siapa juga. Ini rumah Kakakku kok,” jawab Evi santai.

Krucuk!

Bunyi perut lapar dari pacarnya Evi.

“Vi, aku lapar kamu enggak masak? Aku ke sini kok, cuma dikasih air minum doang?”

“Ehm, itu ... baiklah ayo, makan!” Evi mengajak ke ruang makan. Aku tetap di sini sambil main ponsel. Biarlah mereka makan ... nasi dan lauk juga banyak. Kasihan pasti dia bakalan puasa karena 300 ribu rupiah miliknya lenyap untuk beli tas Evi. Untung Mamah Atik masih video call dengan cucunya kau tidak habis riwayat Evi.

“Makanannya enak sekali, Vi?”

“Iya, ini belum seberapa, Mas. Biasanya ada 12 macam lauk dan sayur terhidang di sini,” jawab Evi berbohong.

Tak kudengar lagi suara mereka hanya suara sendok beradu dengan piring.

“Aku pulang dulu, ya, Vi. Makasih jamuanya ini aku langsung mampir ke indoapril untuk bayar pesenan kamu. Besok bawain aku bekal kerja ya, biar hemat. Besok malam aku ke sini lagi.”

“Oke!”

“Tidak boleh datang ke sini lagi! Besok Evi mau aku kembalikan ke asalnya. Kasihan suami dan anaknya kalu ditinggal lama-lama.” Pacar Evi terlihat bingung, tapi sejurus kemudian pamit.

“Mbak, apa-apaan, sih! Kamu itu merusak kesenangan orang aja!” bentak Evi seraya mendorongku.

“Evi! Berani sekali kamu mendorong Mbak Ita!” bentak Mas Danu dari arah pintu depan. Evi langsung diam tidak bergerak sama sekali dia ketakutan.

Mas Danu baru pulang ini sudah hampir jam 10 malam, tapi ... tunggu dulu itu siapa dibalik badan Mas Danu dan paman. Kok, seperti perempuan.

“Benar kata Ita, besok tidak boleh bawa laki-laki masuk ke rumah ini. Ingat kamu itu istri orang dan suamimu itu baik!” bentak Mas Danu lagi.

Aku tidak fokus pada pembelaan Mas Danu aku hanya fokus pada perempuan yang bersembunyi di balik badan Mas Danu. Tidak salah lagi itu Maya.

Tak mau banyak omong aku langsung masuk kamar. Mas Danu menyusulku. 

“Sayang, hanya malam ini saja kasihan dia udah kadung ke sini jalan kaki loh, katanya. Kasihan ya, Sayang. Malam ini saja, Mas janji.”

Malas menjawab omongan Mas Danu aku segera mengambil bedcover di lemari lalu Keluar tanpa mempedulikan Mas Danu.

Tampak Maya sedang ngobrol dengan paman. Kuseret lengan Maya keluar rumah.

“Jangan macam-macam di rumahku ini apa lagi berusaha mengambil pemiliknya. Silakan tidur di luar! Evi! Tolong antar perempuan ini ke rumah sebelah!”

“Rumah ibunya Mas Danu?” tanya Evi tidak mengerti.

“Bukan! Paviliun kecil itu kan, kosong. Antar ke sana.” 

“Ayo! Buruan!” Evi menarik tangan Maya.

“Danu! Ikut Mamah ke kamar!” Mas Danu pasrah saja dia mengekor Mamah Atik.

Entah apa yang dipikirkan perempuan bernama Maya itu. Dia kan, orang sini pasti keluarganya juga ada di sini kenapa repot-repot datang ke rumah orang lain. Astaghfirullah aku sampai tidak bisa mengontrol amarahku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 4. Para benalu.

    Karena kejadian semalam aku lebih memilih diam rasanya hatiku masih dongkol. Mas Danu sudah berkali-kali meminta maaf padaku, aku tetap bergeming.Mas Danu bilang dia bingung harus bagaimana apa lagi si Maya menyusulnya ke Masjid. Saat lewat Masjid masih ramai orang dan lihat suamiku ada di sana.Mas Danu tidak ada maksud lain hanya murni menolongnya. Sebenarnya aku percaya pada suamiku, tapi hatiku masih dongkol jadilah aku diam saja sampai pagi ini.Mas Danu paling tidak bisa jika istrinya merajuk. Dia akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Semalam saja kuperhatikan tidurnya tidak nyenyak.Aku memang marah, tapi aku tidak akan membiarkan suamiku untuk tidur sendiri apa lagi tidur di luar itu tidak ada dalam kamus hidupku. Pagi ini pun seperti biasa aku siapkan baju kerjanya juga sarapannya aku temani.Mas Danu menyesal dan bilang tidak akan pernah mengulanginya lagi. Dia berjanji akan meminta pendapatku apa pun itu.“Kia, Nenek takut loh ... kalau di rumah ini ada perang d

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 5. Tetangga baru.

    Mungkin paman tersinggung dengan ucapanku, beliau pergi sepagi ini entah ke mana tahu-tahu pulang bawa uang lembaran 50 ribu rupiah sebanyak 3 lembar. “Ta, lihat ini aku sudah dapat duitnya. Aku tadi ambil kopi coklat di sekitaran rumahmu langsung aku jual Alhamdulillah dapat 100 ribu rupiah. Ini yang 50 ribu rupiah lagi dapat dari bantu tetangga sebelah beres-beres berangnya mereka baru pindah dari Jakarta,” cerocos paman tanpa aku minta. Sebenarnya kesal. Kopi coklat dijual masih dalam keadaan basah, tapi semua sudah terjadi biar saja. Padahal kalau sudah kering harganya mahal.“Orangnya kaya, Ta. Rumahnya juga bagus dalamnya. Barangnya mewah-mewah. Sudah gitu baik dan tidak pelit,” ujar paman lagi. Aku diam saja malas menanggapi. Aku paham paman sedang menyindirku.“Paman, setelah ini tolong carikan daun singkong, daun pepaya yang muda untuk bikin urapan. Sekalian daun pisang untuk bikin kue lambang sari,” kataku lagi.“Dibayar, kan, Ta?”“Iya, tenang saja nanti aku bayar.” Paman

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 6. Benalu harus dikasih pelajaran.

    "Jangan coba-coba membangunkan singa tidur kalau kamu ingin selamat!” kataku seraya menatap tajam mata Maya.Maya mundur lalu dia bergabung dengan Joko dan yang lainnya untuk makan siang.“Mas, aku mau Maya pindah hari ini juga." Mas Danu menautkan ke dua alisnya lalu tersenyum.“Senangnya aku, ternyata istriku bisa secemburu ini padaku.“Mas, aku bukan sedang bercanda jadi, jangan senyum-senyum begitu,” rajukku.“Iya, Sayang. Aku akan menyuruh pindah si Maya.” Lega hatiku mendengar kepastian dari Mas Danu.Aku heran dengan perempuan seperti Maya. Dia katanya baru saja bercerai dengan suaminya, tapi kenapa dia tidak menghabiskan masa iddah di rumahnya. Jika seorang perempuan bercerai sebelum habis masa Iddah maka harus tetap berdiam diri di rumah. Dilarang keluar kecuali dengan alasan yang sangat penting.Apa lagi Maya masih proses perceraian. Surat cerai belum keluar artinya belum ketuk palu, maka dia pun tidak boleh ke luar dari rumah suaminya sebelum keputusan mutlak dari hakim.

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 7. Dikira pembantu.

    Tak kuhiraukan paman. Terserah saja mau marah atau enggak. Nayata emang begitu. Udah numpang, maling pula!Sampai dalam aku dikejutkan dengan kehadiran ibu dan juga bapakku. Memang aku memberi tahu mereka tentang acara syukuran yang akan aku gelar, tapi aku tidak tahu kalau mereka akan datang ke sini dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kedatangan Wira dan Dina. Bukan aku tidak senang saudaraku datang, tapi aku masih trauma dan juga takut Wira akan berulah seperti dulu lagi. Mas Danu pun sama sepertiku terkejut melihat kedatangan Wira. Wira menyambut kami membawakan kardus berisi aneka jajanan yang kujinjing. Senyumnya terus mengembang. Dina pun demikian. Perutnya buncit Alhamdulillah Dina sudah hamil lagi. Ini merupakan kehamilannya yang ke dua karena yang pertama dulu keguguran.“Apa kabar Bu, Pak? Aku kangen,” kataku seraya kupeluk ibuku. Aku sengaja enggan menyapa Wira dan istrinya. Rasanya setiap melihat mereka kenangan buruk berkelebat di mataku.“Alhamdulillah Ibu baik, Bap

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 8. Tingkah absurd para benalu.

    "Mbak, aku ada perlu sama Mbak, bisa kita bicara berdua saja?” Wira mencekal tanganku saat aku baru saja mau masuk kamar.Hari ini lelah sekali karena yang mengurus semuanya aku. Mas Danu selesai mengantar langsung ke toko.“Mbak capek Wir, nanti saja, ya?” tolakku.Aku memang sengaja menghindar dari Wira. Bukannya sombong, tapi entah kenapa hatiku belum sreg sama anak itu.Wira terlihat menahan marah, dia balik badan dan mengepalkan tangannya meninju ke udara. Ck, masih belum berubah.Kutidurkan Kia aku pun ikut rebahan. Enak sekali meluruskan pinggang.“Mbak, sudah belum ganti bajunya aku mau bicara sebentar saja,” tanya Wira tangannya sibuk mengetuk pintuku. Untung saja pintunya aku kunci kalau tidak mungkin dia akan nyelonong masuk begitu saja.Ting!Anda telah ditambahkan.Sebuah notifikasi dari grup WA baru."Kece. Kajian emak-emak colehah."Duh, ini grup apaan si, enggak nyambung sekali. Aku berniat keluar, tapi Ustazah Fatimah sedang mengetik pesan.Oh, ternyata ini grup dibuat

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 9. Sindiran tetangga baru.

    "Iya, ya ampun, aku sampai lupa! Ini Mbak aku mau minta uang, mau pergi main sebentar sama pacarku.” Evi menengadahkan tangannya padaku.“Tidak ada, Vi. Kamu ini minta uang kayak minta apa aja, kamu kira cari uang gampang apa!”“Pelit amat sih, Mbak! 50 ribu rupiah saja Mbak?” pinta Evi memelas.“Baik, tapi tolong kamu lap kaca jendela bagian depan sama samping rumah kalau enggak mau ya, udah,” kataku memberi pilihan.“Iya, baik!” jawab Evi kesal.Baguslah, aku sekarang punya beberapa orang yang bantu-bantu di rumah. Lumayan meringankan pekerjaanku.~k~u🌸🌸🌸Sore ini aku ke rumah Bu RT untuk menyerahkan donasi. Sebenarnya besok juga bisa, tapi aku menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Bu Jum bersama gengnya pasti akan banyak mulut.Kata suamiku, jika tangan kanan memberi lebih baik tangan kiri tidak tahu, tapi kalau mau secara terang-terangan pun tidak apa-apa.“Ta, mau ke mana, sore-sore gini?” tanya Novi dia sedang di teras rumahnya bersama suaminya.“Ke rumah Bu RT, ada perl

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 10. Mengusir Maya.

    “Kita bicara di dalam, Mas!” Mas Danu tanpa membantah langsung masuk ke dalam.“Kamu kemasi barangmu sekarang juga, dan pergi dari sini!” titahku pada Maya.“Hhh ... aku tidak akan pernah pergi dari sini kalau bukan Danu yang meminta. Semua ini milik Danu kamu hanya berstatus istri dan tidak bawa apa-apa ke sini jadi tidak usah berlagak Nyonya,” jawab Maya sinis dia menyilangkan ke dua tangannya di dada.“Percuma ngomong sama manusia tidak punya otak. Kita lihat saja aku pastikan kamu akan kutendang dari sini!” Kutatap matanya yang penuh amarah itu.“Maya tidak mau pergi dari sini kalau bukan kamu yang minta Mas. Jadi, lebih baik sekarang kamu suruh dia pergi dari sini.” Mas Danu yang sedang menggendong Kia langsung menghampiriku ke kamar.“Dik, dengar dulu penjelasanku. Tadi itu aku sengaja menurunkan Maya di sana karena memang dia sendiri yang minta katanya mau beli perlengkapan mandi,” jelas Mas Danu.“Aku sudah sulit percaya Mas, semenjak ada dia di sini kamu juga berubah. Sekaran

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-16
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 11. Mengungkit masa lalu.

    “Ssstt ... sudah jangan nangis. Salah Mas sih, enggak jujur sama kamu. Yuk, kita temui Maya!”“Halah Dan, istri begitu mah buang aja ke laut. Masih banyak perempuan di luar sana yang bisa tulus padamu dan tidak marah-marah padamu. Suami pulang kerja bukannya disambut bahagia malah dimarah tidak jelas,” ucap paman ketika kami ke luar kamar. Rupanya paman mendengar pertengkaran kami.“Sudahlah Paman, tidak usah menambah keruh suasana. Aku dan Ita tidak bertengkar kok, tadi Ita teriak itu gara-gara aku menjahilinya dengan menakutinya kecoak,” jawab Mas Danu berbohong.“Ah, terserah kamu saja, Dan. Kamu memang ngeyel seperti ibumu susah kalau dibilangin,” sahut paman lagi.“Danu, Ita, aku punya kabar gembira untuk kalian!” teriak Mbak Asih dari pintu samping dia sedikit berlari menghampiri kami. Mbak asih masih menggunakan seragam salesnya dia pasti baru pulang kerja dan langsung ke sini.“Kabar apaan, Mbak?” tanyaku penasaran.“Aku hamil,” jawab Mbak Asih tanpa malu.“Apa!” Aku dan Mas D

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-16

Bab terbaru

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 237. Ending.

    Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 236. Terungkap.

    "Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 235. Tak salah.

    Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 234. Tertangkap.

    “Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 233. Beraksi lagi.

    "Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 232. Bayangan hitam.

    “Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 231. Datang lagi.

    Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 230. Wak Tono.

    "Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 229. Tegarnya hati.

    "Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status