“Training? Kenapa tidak sekalian jadi pekerja tetap saja, Bu? Saya sangat membutuhkan kerjaan ini,” tawarnya. Berani sekali!
“Itu jika kamu mau? Aturan tetap harus dipenuhi kalau kamu memang sangat butuh kerjaan ini buktikan kalau kamu sungguh-sungguh.”
“Ba—ik, Bu,” jawabnya lesu.
“Satu lagi jangan berpakaian dan dandan seperti ini. Aku tidak suka.”“Ta—pi, dulu wa—ktu saya kerja di toko harus berpakaian dan dandan menarik Bu, agar pembeli tertarik,” katanya lagi beralasan.
“Itu dulu. Aturan di tempatmu dulu dengan di sini beda. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa aku tidak memaksa.” “Ba—ik Bu, saya mau.”“Bagus, kamu boleh kerja sekarang. Besok datang pagi jam 7.00 WIB harus sudah di sini dan pulang jam 5 sore. Paham?”
“Pa—ham, Bu. Gajinya berapa, Bu?""Gajinya per bulan 1,5 juta. Uang makan 10 ribu per hari." Maya kaget mendengar penjelasanku.
"A—apa tidak bisa naik lagi, Bu?" tanyanya tanpa sungkan. "Bisa naik, aku lihat seperti apa kerjanya. Oh, ya hampir lupa kalau training gajinya 1 juta rupiah plus uang makan 10 ribu." Maya nambah melongo mendengarnya.Di sini sistem gaji berbeda antara satu dengan yang lain seperti Joko dia yang menemani dari awal tentu berbeda dengan Karim, Opik, ataupun Edi.
Aku mempersilakan Maya untuk mulai bekerja. Kerja setengah hari dulu. Dari pada dia balik pulang kan, kasihan. Semoga saja kerjanya bagus.
“Sayang? Syukurlah kamu sudah datang aku kira belum ada kamu, tapi kok, ada Maya di depan? Enggk besok aja dia kerjanya?" ucap Mas Danu.
“Sudah dari sejam yang lalu, Mas. Memang Karim enggak bilang? Di depan juga ada Mamah Atik sama Kia loh,” jawabku heran.
“Karim ada di pojok sana lagi layanin pembeli. Mamah Atik enggak ada, kok.” Mas Danu terlihat sedikit berpikir.
“Oh, mungkin lagi keluar cari makanan. Gimana Mas belanjanya lancar?” “Alhamdulillah lancar dua toko kita sudah terisi lagi hanya saja harganya naik.” “Yah, mau gimana lagi, Mas. Sekarang memang apa-apa mahal.” Aku dan Mas Danu makan bersama memang tadi aku pesan minta dibelikan nasi Padang di restoran Begadang yang sangat terkenal di kota. Rasanya membuat siapa saja yang makan akan balik untuk beli lagi. “Ini map apa, Dik?” Mas Danu membolak-balik map abu-abu yang sudah kusam. Kurasa Maya tidak beli. “Milik Maya, itu di dalamnya ada surat lamaran kerja dan yang lainnya.” Mendengar penjelasanku Mas Danu mengerutkan keningnya. “Kenapa pakai begini segala? Karim, Joko, Edi, Opik enggak pakai beginian,” tanya Mas Danu heran.“Enggak apa-apa malah bagus kita juga tidak tahu sebenarnya dia itu siapa dan bagaimana sifatnya. Kalau yang lain kan, tetangga kita semua teman akrab kamu, Mas.”
“Tapi, Maya, juga teman Mamas, Dik.”“Teman dulu waktu kecil. Kita kan, enggak tahu kesehariannya. Kok, kamu terkesan belain dia ya, Mas?”
“Astghfirull ... bukan gitu Dik, Mas hanya heran saja. Sudah jangan ngambek gitu. Maaf ya?” “Iya, jangan begitu lagi kalau temanmu mau kerja di sini harus ikuti aturanku, Mas.” “Baik, Bos!” jawab Mas Danu seraya menyuapkan nasi ke mulutku.“Satu lagi, aku akan setiap hari datang ke toko untuk mengontrol semuanya.”
“Ha-ha boleh, datanglah sesuka hatimu justru Mas malah senang kalau ada kamu. Kerja jadi lebih semangat,” kelakar Mas Danu. “Aku tahu kamu pasti cemburu kan, karena ada Maya. Mas senang kalau kamu cemburu,” katanya lagi. “Apaan sih, Mas. Enggak kok, masa aku cemburu dengan perempuan seperti itu?” elakku. Walaupun sebenarnya ada rasa itu di hatiku. Sekuat-kuatnya iman dan sesetia-setianya laki-laki kalau setiap hari disuguhi pemandangan dan berinteraksi dengan lawan jenis lama-lama juga akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan apa lagi kalau perempuannya seperti Maya. Witing tresno jalaran Seko kulino, kata pepatah Jawa kan, begitu. Ih, amit-amit na’uzhubillah kenapa aku mikir sejauh ini si? “Dik, apa sih, malah bengong gitu? Padahal Mas sudah senang loh, kalau dicemburuin sama kamu,” ucap Mas Danu lagi. “Mas cemburu itu kalau dia lebih baik dari aku dalam segala hal dan lebih soleha dari aku.” “Em, iya, deh, iya! Istri Mamas memang terbaik." Kami bercengkrama membicarakan banyak hal termasuk hal-hal konyol. Mas Danu akan setia mendengarkan. Aku juga menceritakan ulah Evi dan paman. Mas Danu tertawa terpingkal-pingkal karena ulah Mamah Atik dan ibu mertuaku yang dengan sengaja mengerjai mereka.“Permisi, Bos! Ini ada pesanan banyak dari warung Sutris minta dikirim sekarang juga, apa masih bisa? Sekarang sudah mau tutup,” ucap Joko.
“Kirim aja, Jok. Alhamdulillah rezeki kita. Nanti kalian aku hitung lembur,” jawab Mas Danu. Joko tersenyum girang seraya berlalu ke depan.
“Kita bantu packing yuk, Dik, biar tidak terlalu lama kasihan mereka juga punya kelurga pasti anak istrinya sudah menunggu di rumah.” Aku mengiyakan ajakan Mas Danu. Ah, suamiku memang sebaik ini. Tidak heran jika banyak orang yang menyukainya karena kebaikannya. Kulihat Maya hanya diam saja memperhatikan padahal dia juga harusnya sibuk membantu Joko dan Karim menyiapkan pesanan konsumen. Dia malah asyik menopang dagu melihat orang sibuk kolar-kilir. “Mbak Maya! Kok malah ngelamun gitu? Bantu cepetan ini buru-buru mau dikirim keburu malam!” titahku. Maya gelagapan mendengarkan bentakanku.“Saya bingung mau ngerjain yang mana. Semuanya berat, Bu saya tidak bisa angkat berat saya kan, perempuan,” elaknya beralasan.
Aku sungguh kesal mendengar alasannya.
“Kamu niat kerja di toko atau tidak? Kalau kerja di toko sembako ya, begini. Lihat itu sudah ditempel daftar belanjaanya sama Joko. Kamu bisa kerjakan yang tidak berat. Alasan saja! Kalau kamu malas-malasan bisa aku pecat!”
“Ja—ngan pecat saya, Bu. Ba—aik saya akan kerjakan.” Buru-buru Maya ikut nimbrung menyiapkan pesan pelanggan.
“Galak kali Bosku ini, aku jadi takut,” ucap Mamah Atik.
“Astaghfirullah ... Mamah ngagetin aja, ih! Mamah dari mana kok, tadi kata Mas Danu enggak ada?”
“Di atas tidur sama Kia,” jawab Mamah Atik terkekeh. “Ya, udah, makan dulu, Mah. Sini biar Kia sama aku. Itu tadi Mas Danu beli masakan Padang favorit kita. Aku siapkan ya, Mah.” “Enggak usah, Ta. Mamah kenyang. Nanti aja lah, kalau mau makan di rumah aja. Sana bantu suamimu biar Kia di sini aja sama Mamah.” “Beneran?” tanyaku meyakinkan, kukedip-kedipkan mata genitku. “Beneerr ... Mamah masih kenyang. Sudah sana!"~k~u🌸🌸🌸
“Mas minta uang dong, aku mau beli kuota, tapi tidak ada uang,” rengek Evi tepat saat kami baru saja melangkah masuk rumah.
“Benar-benar ya, kamu! Enggak sopan! Enggak tahu orang capek pulang kerja?!” bentak Mamah Atik kepala Evi tidak luput dari jurus toyoran maut.“Eh, sembarangan kamu! Main toyor kepala orang sembarang!” Paman tidak tinggal diam dia balik marahin Mamah Atik.
“Terserah aku, kalau enggak suka ini kepala dipakai untuk mikir! Sudah tua otak kok, di dengkul!” jawab Mamah Atik. Paman langsung mengekeret dibentak Mamah Atik.
“Mau duit itu kerja Vi, bukan nodong begitu. Lagi pula rumah ini sudah dipasang WI-FI jadi, enggak usah repot-repot beli kuota lagi,” jawabku ketus.
“Aku minta uang sama kakakku sendiri kok, bukan sama kamu!” sungut Evi. “Benar kata Ita, tidak perlu beli kuota lagi. Kamu kalau mau uang bisa kerja. Nanti Mas kasih kerjaan.” Mendengar jawaban Mas Danu Evi mencebik kesal kemudia berlalu sambil menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.“Capek ya, Mas. Dulu hidup susah kita dihina dicaci dikatain benalu. Sekarang sudah punya segalanya masih saja ada yang mau numpang hidup sama kita,” keluhku.
“Sabar, Sayang. Ini semuanya ujian. Kekayaan dan kesuksesan kita ujian pun dulu sewaktu kita miski juga ujian. Ingat loh, Allah tidak akan pernah memberi ujian dibatas kemampuan hambanya. Kalau Allah kasih ini dan itu ke kita berarti memang kita kuat jalaninya,” terang Mas Danu. Aku mengangguk saja, memang kenyataannya begitu. Semoga saja kami kuat dan bisa melalui ini semua. “Makanannya hanya ini, Nu? Orang kaya loh, masa pelit banget!” ejek paman. Malam ini aku dan mamah Atik memang hanya menghangatkan sayur gulai nangka, rendang daging sapi, sambal ijo, dan ayam goreng sisa tadi siang. “Alhamdulillah Man, ini rezeki kita malam ini,” jawab Mas Danu santai.“Kamu orang kaya loh, Danu. Perkara makanan itu jangan irit-iritan nanti belum sempat kamu menikmati makan enak sudah mati. Kan, rugi,” seloroh paman lagi. Padahal mulutnya penuh nasi dan kawan-kawannya.
“Benar banget itu yang dibilang Paman, rumah megah magrong-magrong kok, makan beginian,” timpal Evi. Dia pun sama dengan paman makan dengan lahap, tapi mulutnya ngomel-ngomel.
Brak!
Mamah Atik menggebrak meja. Lalu beranjak dari duduknya.
“Kalau enggak suka enggak usah dimakan! Sini!” Mamah Atik marah diambilnya piring mereka berdua lalu di taruh ke tempat pencucian piring.
Paman dan Evi bengong pasalnya nasi mereka masih banyak, ayamnya pun belum habis dimakan.
“Pergi sana! Jangan kacaukan makan malam kami!” Usir Mamah Atik.
Mas Danu biasa saja tidak berucap sepatah kata pun. Tetap makan dengan tenang. Mamah Atik memang begitu sangat menghargai makanan kalau ada orang yang mencela makanan dia akan sangat marah.
“Danu, kok, kamu diam aja sih, Paman masih lapar,” ucap paman lirih nyaris tak terdengar. “Mas Danu jahat! Belain orang terus dari pada keluarga sendiri!” Evi merajuk dia masuk kamar dengan membanting pintunya sangat kuat. Awas aja sekali lagi begitu aku pukul tangannya. Memang ini rumah siapa kok, dia yang berlagak nyonya, banting pintu sembarangan.Astaghfirullah ... selama hidupku diuji dengan berbagai masalah aku jadi sering tidak bisa mengontrol emosi.
Ting!
[Danu, boleh minta tolong enggak? Aku diusir Keluarga suamiku boleh numpang minep barang semalam saja?]
Belum hilang rasa kesalku pada Evi ini ditambah ada pesan nyeleneh dari Maya.
[Aku otewe sekarang ya, Dan]Kembali pesan singkat itu masuk.“Siapa, Sayang? Kok bete gitu?”“Temenmu!”“Loh, kok, marah? Teman yang mana?” Mas Danu mengambil ponselnya.“Oh, biarin aja lah, kan, di sana dia punya tetangga kenapa juga musti ke sini,” ujar Mas Danu lalu mematikan ponselnya.“Sudah makan lagi nanti nasinya nangis kalau enggak dihabisin. Apa mau Mas suapin?”“Iya, aku habisin. Mas, bisa tidak kalau enggak dekat-dekat lagi sama teman kamu itu?” pintaku.“Bisa, kalau itu yang minta istriku apa pun akan aku lakukan,” jawab Mas Danu. Hatiku lega. Setidaknya meski perempuan itu mepet terus, tapi suamiku menghindar.“Perempuan tadi siang, Ta?” Mamah Atik ikutan kepo.“Iya, Mah, ini pakai kirim pesan segala minta tolong minep di sini katanya diusir suami dan keluarga suaminya.”“Kasihan sih, tapi pasti ada alasannya kenapa begitu. Danu, apa orang tuanya tidak ada di sini?”“Ada sih, Mah. Setahuku dulu waktu kecil memang asli orang kampung sebelah sini, tapi enggak tahu kalau s
Karena kejadian semalam aku lebih memilih diam rasanya hatiku masih dongkol. Mas Danu sudah berkali-kali meminta maaf padaku, aku tetap bergeming.Mas Danu bilang dia bingung harus bagaimana apa lagi si Maya menyusulnya ke Masjid. Saat lewat Masjid masih ramai orang dan lihat suamiku ada di sana.Mas Danu tidak ada maksud lain hanya murni menolongnya. Sebenarnya aku percaya pada suamiku, tapi hatiku masih dongkol jadilah aku diam saja sampai pagi ini.Mas Danu paling tidak bisa jika istrinya merajuk. Dia akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Semalam saja kuperhatikan tidurnya tidak nyenyak.Aku memang marah, tapi aku tidak akan membiarkan suamiku untuk tidur sendiri apa lagi tidur di luar itu tidak ada dalam kamus hidupku. Pagi ini pun seperti biasa aku siapkan baju kerjanya juga sarapannya aku temani.Mas Danu menyesal dan bilang tidak akan pernah mengulanginya lagi. Dia berjanji akan meminta pendapatku apa pun itu.“Kia, Nenek takut loh ... kalau di rumah ini ada perang d
Mungkin paman tersinggung dengan ucapanku, beliau pergi sepagi ini entah ke mana tahu-tahu pulang bawa uang lembaran 50 ribu rupiah sebanyak 3 lembar. “Ta, lihat ini aku sudah dapat duitnya. Aku tadi ambil kopi coklat di sekitaran rumahmu langsung aku jual Alhamdulillah dapat 100 ribu rupiah. Ini yang 50 ribu rupiah lagi dapat dari bantu tetangga sebelah beres-beres berangnya mereka baru pindah dari Jakarta,” cerocos paman tanpa aku minta. Sebenarnya kesal. Kopi coklat dijual masih dalam keadaan basah, tapi semua sudah terjadi biar saja. Padahal kalau sudah kering harganya mahal.“Orangnya kaya, Ta. Rumahnya juga bagus dalamnya. Barangnya mewah-mewah. Sudah gitu baik dan tidak pelit,” ujar paman lagi. Aku diam saja malas menanggapi. Aku paham paman sedang menyindirku.“Paman, setelah ini tolong carikan daun singkong, daun pepaya yang muda untuk bikin urapan. Sekalian daun pisang untuk bikin kue lambang sari,” kataku lagi.“Dibayar, kan, Ta?”“Iya, tenang saja nanti aku bayar.” Paman
"Jangan coba-coba membangunkan singa tidur kalau kamu ingin selamat!” kataku seraya menatap tajam mata Maya.Maya mundur lalu dia bergabung dengan Joko dan yang lainnya untuk makan siang.“Mas, aku mau Maya pindah hari ini juga." Mas Danu menautkan ke dua alisnya lalu tersenyum.“Senangnya aku, ternyata istriku bisa secemburu ini padaku.“Mas, aku bukan sedang bercanda jadi, jangan senyum-senyum begitu,” rajukku.“Iya, Sayang. Aku akan menyuruh pindah si Maya.” Lega hatiku mendengar kepastian dari Mas Danu.Aku heran dengan perempuan seperti Maya. Dia katanya baru saja bercerai dengan suaminya, tapi kenapa dia tidak menghabiskan masa iddah di rumahnya. Jika seorang perempuan bercerai sebelum habis masa Iddah maka harus tetap berdiam diri di rumah. Dilarang keluar kecuali dengan alasan yang sangat penting.Apa lagi Maya masih proses perceraian. Surat cerai belum keluar artinya belum ketuk palu, maka dia pun tidak boleh ke luar dari rumah suaminya sebelum keputusan mutlak dari hakim.
Tak kuhiraukan paman. Terserah saja mau marah atau enggak. Nayata emang begitu. Udah numpang, maling pula!Sampai dalam aku dikejutkan dengan kehadiran ibu dan juga bapakku. Memang aku memberi tahu mereka tentang acara syukuran yang akan aku gelar, tapi aku tidak tahu kalau mereka akan datang ke sini dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kedatangan Wira dan Dina. Bukan aku tidak senang saudaraku datang, tapi aku masih trauma dan juga takut Wira akan berulah seperti dulu lagi. Mas Danu pun sama sepertiku terkejut melihat kedatangan Wira. Wira menyambut kami membawakan kardus berisi aneka jajanan yang kujinjing. Senyumnya terus mengembang. Dina pun demikian. Perutnya buncit Alhamdulillah Dina sudah hamil lagi. Ini merupakan kehamilannya yang ke dua karena yang pertama dulu keguguran.“Apa kabar Bu, Pak? Aku kangen,” kataku seraya kupeluk ibuku. Aku sengaja enggan menyapa Wira dan istrinya. Rasanya setiap melihat mereka kenangan buruk berkelebat di mataku.“Alhamdulillah Ibu baik, Bap
"Mbak, aku ada perlu sama Mbak, bisa kita bicara berdua saja?” Wira mencekal tanganku saat aku baru saja mau masuk kamar.Hari ini lelah sekali karena yang mengurus semuanya aku. Mas Danu selesai mengantar langsung ke toko.“Mbak capek Wir, nanti saja, ya?” tolakku.Aku memang sengaja menghindar dari Wira. Bukannya sombong, tapi entah kenapa hatiku belum sreg sama anak itu.Wira terlihat menahan marah, dia balik badan dan mengepalkan tangannya meninju ke udara. Ck, masih belum berubah.Kutidurkan Kia aku pun ikut rebahan. Enak sekali meluruskan pinggang.“Mbak, sudah belum ganti bajunya aku mau bicara sebentar saja,” tanya Wira tangannya sibuk mengetuk pintuku. Untung saja pintunya aku kunci kalau tidak mungkin dia akan nyelonong masuk begitu saja.Ting!Anda telah ditambahkan.Sebuah notifikasi dari grup WA baru."Kece. Kajian emak-emak colehah."Duh, ini grup apaan si, enggak nyambung sekali. Aku berniat keluar, tapi Ustazah Fatimah sedang mengetik pesan.Oh, ternyata ini grup dibuat
"Iya, ya ampun, aku sampai lupa! Ini Mbak aku mau minta uang, mau pergi main sebentar sama pacarku.” Evi menengadahkan tangannya padaku.“Tidak ada, Vi. Kamu ini minta uang kayak minta apa aja, kamu kira cari uang gampang apa!”“Pelit amat sih, Mbak! 50 ribu rupiah saja Mbak?” pinta Evi memelas.“Baik, tapi tolong kamu lap kaca jendela bagian depan sama samping rumah kalau enggak mau ya, udah,” kataku memberi pilihan.“Iya, baik!” jawab Evi kesal.Baguslah, aku sekarang punya beberapa orang yang bantu-bantu di rumah. Lumayan meringankan pekerjaanku.~k~u🌸🌸🌸Sore ini aku ke rumah Bu RT untuk menyerahkan donasi. Sebenarnya besok juga bisa, tapi aku menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Bu Jum bersama gengnya pasti akan banyak mulut.Kata suamiku, jika tangan kanan memberi lebih baik tangan kiri tidak tahu, tapi kalau mau secara terang-terangan pun tidak apa-apa.“Ta, mau ke mana, sore-sore gini?” tanya Novi dia sedang di teras rumahnya bersama suaminya.“Ke rumah Bu RT, ada perl
“Kita bicara di dalam, Mas!” Mas Danu tanpa membantah langsung masuk ke dalam.“Kamu kemasi barangmu sekarang juga, dan pergi dari sini!” titahku pada Maya.“Hhh ... aku tidak akan pernah pergi dari sini kalau bukan Danu yang meminta. Semua ini milik Danu kamu hanya berstatus istri dan tidak bawa apa-apa ke sini jadi tidak usah berlagak Nyonya,” jawab Maya sinis dia menyilangkan ke dua tangannya di dada.“Percuma ngomong sama manusia tidak punya otak. Kita lihat saja aku pastikan kamu akan kutendang dari sini!” Kutatap matanya yang penuh amarah itu.“Maya tidak mau pergi dari sini kalau bukan kamu yang minta Mas. Jadi, lebih baik sekarang kamu suruh dia pergi dari sini.” Mas Danu yang sedang menggendong Kia langsung menghampiriku ke kamar.“Dik, dengar dulu penjelasanku. Tadi itu aku sengaja menurunkan Maya di sana karena memang dia sendiri yang minta katanya mau beli perlengkapan mandi,” jelas Mas Danu.“Aku sudah sulit percaya Mas, semenjak ada dia di sini kamu juga berubah. Sekaran
Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro
"Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah
Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,
“Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela
"Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b
“Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja
Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me
"Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s
"Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din