Share

Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.
Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.
Author: Kencana Ungu

Bab 1. Siapa wanita itu?

Author: Kencana Ungu
last update Last Updated: 2024-08-29 20:38:10

Hidup sejatinya adalah perjalanan. Sekarang tergantung kita mau pilih jalan yang mana. Di depan sana ada banyak sekali rintangannya. Berkelok-kelok, lurus mulus, licin berlumpur atau naik turun.

Aku menghela nafas berat saat membaca pesan dari paman Mas Danu. Pesan itu langsung kuteruskan ke ponselku.

Paman Mas Danu sebenarnya belum selesai berbicara dengan Mas Danu hanya saja tadi tiba-tiba Joko menelepon ada pelanggan tetap mau belanja bulanan dan jumlahnya sangat banyak. Makanya Mas Danu buru-buru pergi ke toko. 

Paman dan juga Evi kami persilakan untuk menunggu di rumah. Bagaimana pun juga mereka adalah tamu.

‘... Barang siapa beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya .... HR. Bukhari dan Muslim.

Aku memang bukan seorang yang mulus tanpa dosa, tapi aku akan selalu berusaha berbuat baik pada siapa pun meski dianggap bodoh.

Bapakku selalu berpesan untuk selalu berbuat baik meski kita dimanfaatkan, meski kita tidak dianggap. Karena kebaikan itu akan terus mentransfer pahala untuk diri kita sendiri. Kita tidak tahu bukan kebaikan kita yang mana yang akan mengantarkan kita masuk surga? Itulah kenapa selalu tertanam dalam hatiku sebuah konsep perjalanan hidup untuk selalu menebar kebaikan di mana pun dan dengan siapa pun.

Baik bukan berarti kita bodoh untuk tidak melihat cela dan keburukan orang lain. Jika kita diam saja itu namanya kita bunuh diri. Aku akan selalu waspada pada mereka yang selama ini selalu menganggapku bodoh dan mereka yang tidak tahu terima kasih.

Allah saja jika kita selalu bersyukur pada setiap keadaan akan menambah nikmat lebih banyak lagi. Begitu pun harusnya sesama manusia. Jika kita selalu menghargai dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang maka kita pun akan senang dan akan selalu berusaha untuk memberi lagi. Bukan bermaksud minta pujian.

“Kenapa, Nak?” Mamah Atik menghampiriku dan memberiku segelas jus Buah naga.

“Ada yang mengganjal di hati, Mah. Nanti pasti aku cerita sama Mamah. Oh, iya, ke mana Paman dan juga Evi?” tanyaku penasaran. Tadi suara mereka masih terdengar lantang membicarakan apa saja yang mereka lihat di rumahku. Kok, ini tiba-tiba adem ayem.

“Mereka Mamah suruh beres-beres kebun belakang yang berbatasan dengan rumah Wak Batak. Biar olahraga, Ta. Jangan maunya enak-enakan di sini,” jawab Mamah Atik seraya tertawa geli.

“Ibu sudah pulang, Mah?”

“Belum, itu ikut ke kebun mandorin pamannya Danu.”

Duh, Mamah Atik dan ibu sengaja sekali mengerjai orang.

“Jusnya di minum, Mamah mau ke kebun, Kia biar sama Mamah.” 

“Iya, Mah, makasih ya, ini aku bersihin ikan untuk lauk kita makan malam nanti.”

Ting!

Ada pesan masuk lagi ke ponsel Mas Danu. Mas Danu memang tidak telaten bawa HP apa lagi ada Joko yang mengahandle semuanya jadilah konsumen jika perlu  apa-apa seringnya ke Joko.

[Yakin, enggak mau pertimbangin omongan, Paman?] 

Pesan masuk disertai  foto lagi di mana Mas Danu memegang pundak wanita itu seraya tersenyum. Wanita itu rambutnya panjang sayangnya membelakangi kamera lagi.

[Cukup jelas kan, Danu?] Kata paman lagi.

Tak aku balas biar saja biar paman Mas Danu malah makin penasaran sendiri.

Siapa wanita berbaju orange itu. Mas Danu selama ini jujur padaku. Mungkinkah dia menyukai wanita lain selain aku? Mas Danu tipe suami yang sangat terbuka pada istri apa pun akan dia bicarakan padaku. Lalu foto tadi? Ah, rasanya sulit di percaya.

Mungkinkah jalan Mas Danu berbelok arah, tapi apa alasannya. Bukankah selama ini aku sudah mendampinginya sebagai istri yang baik.

Kuputuskan untuk ikut ke kebun belakang, aku penasaran sekali dengan mereka.

“Kamu bisa kerja enggak? Dari tadi main HP saja! Kalau enggak bersih ini parit bisa banjir turun hujan nanti!” bentak ibu mertuaku.

“Enggak bersih berarti tidak ada acara masuk rumah.” Mamah Atik ikut menimpali.

“Apa ini sudah cukup, Bu?” tanya Evi memperlihatkan irik yang berisi pucuk daun singkong.

“Belum! Petik yang banyak, di rumah banyak orang jadi banyak juga yang makan kalau cuma segini habis sama kamu aja!” Mamah Atik pun tidak kalah sengit memarahi Evi.

“Aku adukan kalian sama Mas Danu biar kapok!” Ancam Evi.

“Adukan saja sana! Danu tidak akan pernah ambil pusing,” jawab Mamah Atik.

“Paman, jangan main HP terus nanti HP-nya masuk parit kami lagi yang disalahin dan suruh ganti,” kataku agak kuat karena jarak kami lumayan jauh. 

“Eh, iya, Ya. Ini aku hanya kirim pesan pada Danu saja,” jawab paman.

Benar saja setelah kucek ponsel Mas Danu yang ada di saku celanaku ternyata ada pesan masuk lagi dari paman.

[Keputusanmu akan menentukan nasib rumah tanggamu, Dan. Cepat katakan iya atau tidak!]

Lagi hanya kubaca saja. Aku tidak berminat sama sekali untuk membalas.

“Sudah ada gledek, tuh! Buruan nanti keburu turun hujan!” bentak ibu lagi.

Paman hanya manut saja dia mengayunkan cangkul dengan ogah-ogahan.

“Vi, setelah ini daun singkongnya disiangi dan ditumbuk. Setelahnya biarin aja nanti aku yang masak,” titahku.

Evi memaju mundurkan bibirnya tidak terima.

“Sekalian cabenya yang di ujung sana!” Tunjukku.

“Bu, Mungkin tidak kalau Mas Danu selingkuh?” tanyaku pada ibu mertua pasalnya dia pun tahu persis bagaimana sifat Mas Danu.

“Enggak lah, Ta. Kamu jangan bicara yang bukan-bukan. Ibu tahu Danu sifatnya bagaimana,” jawab ibu sambil cari capung sama Kia.

“Hati manusia tidak ada yang tahu, Nak. Jadi, kamu do’akan yang baik-baik untuk suamimu. Semakin tinggi pohon semakin kencang tertiup angin.” Mamah Atik ikut menasihatiku.

“Kenapa kamu tanya begitu, Ta? Adakah Danu selingkuh?” tanya ibu suaranya lumayan kencang hingga membuat Paman berhenti sejenak karena mendengar  suara ibu.

“Namanya juga laki-laki normal. Wajahnya rupawan, harta banyak. Sah-sah saja kalau beristri lebih dari satu!” sahut paman.

Sebenarnya hatiku kesal, tapi aku tetap bertahan untuk diam saja dulu.

“Jangan ngawur!” Mamah Atik memukul pundak  paman.

“Itulah kenapa kamu tidak dikasih harta banyak. Bisa-bisa kamu malah menyalah gunakan harta itu,” teriak ibu.

“Evi sudah belum cepat pulang dan tumbuk dulu itu daun singkongnya!” teriak Ibu.

Evi menurut lalu mengekor ibu masuk ke dalam.

“Apa Danu ada tingkahnya yang buat kamu tidak nyaman, Nak?” cecar Mamah Atik.

“Ini, Mah.” Kuberikan ponsel Mas Danu pada Mamah Atik biar beliau yang baca sendiri.

“Huuh, bikin tambah kesal ajah! Enggak usah dipikirin itu bisa saja akal-akalan pamannya Danu yang gendeng itu.” Mamah Atik mengembalikan ponselnya padaku.

Kami tinggalkan masuk paman Mas Danu. Di dapur sudah ada Evi yang sedang menumbuk daun singkong.

“Vi, kalau sudah beres numbuk kamu uleg bumbu ya, biar aku yang masak,” titahku. Evi mencebik kesal.

~k~u 🌸🌸🌸

“Mas, siapa perempuan ini?” Akhirnya kutanyakan langsung foto yang tadi siang dikirim oleh paman.

Mas Danu mengerutkan keningnya matanya menatapku penuh selidik.

“Ini nomor Paman Mas, lihat tuh, WA-nya dari atas,” jelasku. Mas Danu memang tidak paham jika pakai smartphone.

“Ini dikirim tadi pagi kenapa enggak bilang langsung, Dik?”

“Gimana mau bilang kan, Mas sibuk di toko.” 

“Siapa wanita berbaju orange itu, Mas?” cecarku.

“Itu ... em, tapi kamu jangan marah, ya?” Mendengar jawaban Mas Danu justru aku semakin takut. Takut kalau apa yang aku pikirkan benar.

“Jawablah, Mas jangan berkelit gitu.”

“Namanya Maya, dia teman sekolah  Mas waktu SD. Waktu itu tanpa sengaja bertemu di toko. Setelah pertemuan pertama dia sering datang dan banyak bercerita tentang rumah tangganya ....” Mas Danu menjeda ceritanya. 

Aku sudah berkeringat panas padahal suhu udara malam ini dingin karena tadi sore hujan sangat deras dan sekarang pun masih gerimis kecil.

“Karena Mas kasihan makanya Mas sering beri sedekah Jum’at  dan setiap hari Jumat itu dia datang. Kadang dengan suaminya kadang sendiri.”

“Sudah berapa lama, Mas?

“Hampir tiga bulan ... tapi, sudah dua Jum’at ini dia datang sendirian katanya lagi proses perceraian dengan suaminya.” Meski Mas Danu bercerita tanpa beban dan juga terlihat jujur entah kenapa aku merasakan hal lain.

“Em ... itu, Dik, dia mau minta kerjaan sama kita. Di toko. Apa kamu kasih izin?” tanya Mas Danu ragu.

“Kalau aku tidak kasih izin gimana?”

“Kasihan, Dik, kalau tidak dikasih kerjaan. Anaknya ada dua masih kecil-kecil mana sebentar lagi tidak ada suami.”

“Kok, Mamas kayaknya peduli banget ya, sama dia siapa tadi namanya?” 

“Maya, Dik, namanya Maya,” jawab Mas Danu semangat.

“Akan aku pikirkan. Sekarang aku ngantuk mau tidur!” jawabku ketus.

“Dik, jangan marah. Mas, hanya kasihan padanya tidak lebih,” ujar Mas Danu lagi.  Aku diam saja.

***

Setelah aku berdiskusi dengan Mamah Atik kami memutuskan untuk mentraining teman Mas Danu terlebih dahulu. Kalau kerjanya bagus bisa lanjut kalau tidak maka akan aku jadikan Art saja di rumahku. Lagi pula kasihan kalau memang keadaannya benar seperti yang diceritakan Mas Danu.

Gegas kukirim pesan pada Mas Danu kalau temannya akan aku wawancarai hari ini juga selepas Zuhur.

“Paman, jatah bertamu Paman tinggal dua hari lagi, aku harap paman bisa tahu diri,” kataku mengingatkan.

Pasalnya paman sudah seperti orang yang paling berjasa pada kehidupan Mas Danu. Beliau keliling kampung dengan banyak cerita ini dan itu. Bu RT yang mengadu pada Mamah Atik.

“Loh, aku dianggap bertamu, ya? Bukan keluarga?” tanyanya terkejut.

“Tentu saja! Kalau Paman dan Evi dalam kurun waktu tiga hari tidak mau pulang berarti bukan tamu, itu artinya kalian harus tahu diri membantu ini dan itu di rumah ini,” tegasku.

“Enggak bisa begitu, Mbak! Aku bukan pembantu!” bentak Evi.

“Terserah kamu saja, Vi. Mau ngomong sampai berbusa keputusan anakku tidak akan pernah bisa diganggu gugat,” bela Mamah Atik padaku.

“Aku mau pergi sebentar, nanti jika ada yang datang meminta sumbangan atau yang lain dari desa ini Paman bilang saja suruh kembali nanti sore.”

Paman mengiyakan saja dan kembali sibuk nonton TV sedang Evi sibuk dengan ponselnya cekrek sana cekrek sini dengan berbagai pose.

Sampai toko ternyata wanita yang bernama Maya sudah menungguku. Mas Danu sedang tidak ada kata Karim ikut belanja ke kota bersama Joko. 

Seperti di foto dia menggunakan baju orange mungkin benar dia bukan orang punya makanya memakai baju yang sama.

“Silakan, mau belanja apa, Bu?” ucapnya padaku ramah. Tapi ada yang tidak aku senangi dandannya terlalu menor seperti artis panggung kausnya juga berleher V dengan belahan dada yang rendah.

“Tidak ada yang ingin aku beli. Aku mau mewawancarai Mbak. Silakan masuk ke dalam,” jawabku santai. Mamah Atik malah tertawa.

“Sa—ya, Bu?” tanyanya memastikan.

“Iya, mau kerja tidak?” Meski bingung akhirnya dia mengikutiku masuk ke dalam.

“Istigfar Karim, ada istrimu di rumah!” Mamah Atik memukul pundak Karim yang sedang memperhatikan Maya.

“Silakan duduk,” kataku mempersilakan.

“Sa—ya kira yang mewawancarai Danu sendiri. Ternyata bukan,” selorohnya.

“Mas Danu sedang sibuk jadi aku yang menghadle semuanya.”

“Perkenalkan dirimu dan kenapa kamu ingin sekali bekerja di sini, padahal kami sebenarnya tidak menerima pekerja wanita.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 2. Manta pekerja panti pijat.

    “Iya, Bu, saya pernah bekerja selama dua tahun di tempat panti pijat khusus pijat refleksi. Lalu saya kerja jadi Art di Jakarta selama lima tahun dan terakhir saya kerja jaga toko di kota selama tiga tahun. Setelah itu saya menikah,” jelas Maya saat aku tanya adakah pengalaman kerjanya. Dia juga rapi menulis lamaran kerjanya dan menyertakan persyaratannya lengkap.Sepertinya memang sudah berpengalaman. Berbeda dengan pegawaiku yang lain mereka hanya datang saja meminta pekerjaan secara langsung tanpa surat lamaran kerja dan kawan-kawannya.“Baik, kalau begitu aku traning kamu dulu selama 1 bulan. Jika, kerja kamu bagus akan aku lanjut dan jika tidak, maaf terpaksa aku ganti yang lain.”“Training? Kenapa tidak sekalian jadi pekerja tetap saja, Bu? Saya sangat membutuhkan kerjaan ini,” tawarnya. Berani sekali!“Itu jika kamu mau? Aturan tetap harus dipenuhi kalau kamu memang sangat butuh kerjaan ini buktikan kalau kamu sungguh-sungguh.” “Ba—ik, Bu,” jawabnya lesu.“Satu lagi jangan ber

    Last Updated : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 3. Pesan dari Maya.

    [Aku otewe sekarang ya, Dan]Kembali pesan singkat itu masuk.“Siapa, Sayang? Kok bete gitu?”“Temenmu!”“Loh, kok, marah? Teman yang mana?” Mas Danu mengambil ponselnya.“Oh, biarin aja lah, kan, di sana dia punya tetangga kenapa juga musti ke sini,” ujar Mas Danu lalu mematikan ponselnya.“Sudah makan lagi nanti nasinya nangis kalau enggak dihabisin. Apa mau Mas suapin?”“Iya, aku habisin. Mas, bisa tidak kalau enggak dekat-dekat lagi sama teman kamu itu?” pintaku.“Bisa, kalau itu yang minta istriku apa pun akan aku lakukan,” jawab Mas Danu. Hatiku lega. Setidaknya meski perempuan itu mepet terus, tapi suamiku menghindar.“Perempuan tadi siang, Ta?” Mamah Atik ikutan kepo.“Iya, Mah, ini pakai kirim pesan segala minta tolong minep di sini katanya diusir suami dan keluarga suaminya.”“Kasihan sih, tapi pasti ada alasannya kenapa begitu. Danu, apa orang tuanya tidak ada di sini?”“Ada sih, Mah. Setahuku dulu waktu kecil memang asli orang kampung sebelah sini, tapi enggak tahu kalau s

    Last Updated : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 4. Para benalu.

    Karena kejadian semalam aku lebih memilih diam rasanya hatiku masih dongkol. Mas Danu sudah berkali-kali meminta maaf padaku, aku tetap bergeming.Mas Danu bilang dia bingung harus bagaimana apa lagi si Maya menyusulnya ke Masjid. Saat lewat Masjid masih ramai orang dan lihat suamiku ada di sana.Mas Danu tidak ada maksud lain hanya murni menolongnya. Sebenarnya aku percaya pada suamiku, tapi hatiku masih dongkol jadilah aku diam saja sampai pagi ini.Mas Danu paling tidak bisa jika istrinya merajuk. Dia akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Semalam saja kuperhatikan tidurnya tidak nyenyak.Aku memang marah, tapi aku tidak akan membiarkan suamiku untuk tidur sendiri apa lagi tidur di luar itu tidak ada dalam kamus hidupku. Pagi ini pun seperti biasa aku siapkan baju kerjanya juga sarapannya aku temani.Mas Danu menyesal dan bilang tidak akan pernah mengulanginya lagi. Dia berjanji akan meminta pendapatku apa pun itu.“Kia, Nenek takut loh ... kalau di rumah ini ada perang d

    Last Updated : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 5. Tetangga baru.

    Mungkin paman tersinggung dengan ucapanku, beliau pergi sepagi ini entah ke mana tahu-tahu pulang bawa uang lembaran 50 ribu rupiah sebanyak 3 lembar. “Ta, lihat ini aku sudah dapat duitnya. Aku tadi ambil kopi coklat di sekitaran rumahmu langsung aku jual Alhamdulillah dapat 100 ribu rupiah. Ini yang 50 ribu rupiah lagi dapat dari bantu tetangga sebelah beres-beres berangnya mereka baru pindah dari Jakarta,” cerocos paman tanpa aku minta. Sebenarnya kesal. Kopi coklat dijual masih dalam keadaan basah, tapi semua sudah terjadi biar saja. Padahal kalau sudah kering harganya mahal.“Orangnya kaya, Ta. Rumahnya juga bagus dalamnya. Barangnya mewah-mewah. Sudah gitu baik dan tidak pelit,” ujar paman lagi. Aku diam saja malas menanggapi. Aku paham paman sedang menyindirku.“Paman, setelah ini tolong carikan daun singkong, daun pepaya yang muda untuk bikin urapan. Sekalian daun pisang untuk bikin kue lambang sari,” kataku lagi.“Dibayar, kan, Ta?”“Iya, tenang saja nanti aku bayar.” Paman

    Last Updated : 2024-08-29
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 6. Benalu harus dikasih pelajaran.

    "Jangan coba-coba membangunkan singa tidur kalau kamu ingin selamat!” kataku seraya menatap tajam mata Maya.Maya mundur lalu dia bergabung dengan Joko dan yang lainnya untuk makan siang.“Mas, aku mau Maya pindah hari ini juga." Mas Danu menautkan ke dua alisnya lalu tersenyum.“Senangnya aku, ternyata istriku bisa secemburu ini padaku.“Mas, aku bukan sedang bercanda jadi, jangan senyum-senyum begitu,” rajukku.“Iya, Sayang. Aku akan menyuruh pindah si Maya.” Lega hatiku mendengar kepastian dari Mas Danu.Aku heran dengan perempuan seperti Maya. Dia katanya baru saja bercerai dengan suaminya, tapi kenapa dia tidak menghabiskan masa iddah di rumahnya. Jika seorang perempuan bercerai sebelum habis masa Iddah maka harus tetap berdiam diri di rumah. Dilarang keluar kecuali dengan alasan yang sangat penting.Apa lagi Maya masih proses perceraian. Surat cerai belum keluar artinya belum ketuk palu, maka dia pun tidak boleh ke luar dari rumah suaminya sebelum keputusan mutlak dari hakim.

    Last Updated : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 7. Dikira pembantu.

    Tak kuhiraukan paman. Terserah saja mau marah atau enggak. Nayata emang begitu. Udah numpang, maling pula!Sampai dalam aku dikejutkan dengan kehadiran ibu dan juga bapakku. Memang aku memberi tahu mereka tentang acara syukuran yang akan aku gelar, tapi aku tidak tahu kalau mereka akan datang ke sini dan yang lebih mengejutkan lagi adalah kedatangan Wira dan Dina. Bukan aku tidak senang saudaraku datang, tapi aku masih trauma dan juga takut Wira akan berulah seperti dulu lagi. Mas Danu pun sama sepertiku terkejut melihat kedatangan Wira. Wira menyambut kami membawakan kardus berisi aneka jajanan yang kujinjing. Senyumnya terus mengembang. Dina pun demikian. Perutnya buncit Alhamdulillah Dina sudah hamil lagi. Ini merupakan kehamilannya yang ke dua karena yang pertama dulu keguguran.“Apa kabar Bu, Pak? Aku kangen,” kataku seraya kupeluk ibuku. Aku sengaja enggan menyapa Wira dan istrinya. Rasanya setiap melihat mereka kenangan buruk berkelebat di mataku.“Alhamdulillah Ibu baik, Bap

    Last Updated : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   BAB 8. Tingkah absurd para benalu.

    "Mbak, aku ada perlu sama Mbak, bisa kita bicara berdua saja?” Wira mencekal tanganku saat aku baru saja mau masuk kamar.Hari ini lelah sekali karena yang mengurus semuanya aku. Mas Danu selesai mengantar langsung ke toko.“Mbak capek Wir, nanti saja, ya?” tolakku.Aku memang sengaja menghindar dari Wira. Bukannya sombong, tapi entah kenapa hatiku belum sreg sama anak itu.Wira terlihat menahan marah, dia balik badan dan mengepalkan tangannya meninju ke udara. Ck, masih belum berubah.Kutidurkan Kia aku pun ikut rebahan. Enak sekali meluruskan pinggang.“Mbak, sudah belum ganti bajunya aku mau bicara sebentar saja,” tanya Wira tangannya sibuk mengetuk pintuku. Untung saja pintunya aku kunci kalau tidak mungkin dia akan nyelonong masuk begitu saja.Ting!Anda telah ditambahkan.Sebuah notifikasi dari grup WA baru."Kece. Kajian emak-emak colehah."Duh, ini grup apaan si, enggak nyambung sekali. Aku berniat keluar, tapi Ustazah Fatimah sedang mengetik pesan.Oh, ternyata ini grup dibuat

    Last Updated : 2024-09-13
  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 9. Sindiran tetangga baru.

    "Iya, ya ampun, aku sampai lupa! Ini Mbak aku mau minta uang, mau pergi main sebentar sama pacarku.” Evi menengadahkan tangannya padaku.“Tidak ada, Vi. Kamu ini minta uang kayak minta apa aja, kamu kira cari uang gampang apa!”“Pelit amat sih, Mbak! 50 ribu rupiah saja Mbak?” pinta Evi memelas.“Baik, tapi tolong kamu lap kaca jendela bagian depan sama samping rumah kalau enggak mau ya, udah,” kataku memberi pilihan.“Iya, baik!” jawab Evi kesal.Baguslah, aku sekarang punya beberapa orang yang bantu-bantu di rumah. Lumayan meringankan pekerjaanku.~k~u🌸🌸🌸Sore ini aku ke rumah Bu RT untuk menyerahkan donasi. Sebenarnya besok juga bisa, tapi aku menghindari kemungkinan yang akan terjadi. Bu Jum bersama gengnya pasti akan banyak mulut.Kata suamiku, jika tangan kanan memberi lebih baik tangan kiri tidak tahu, tapi kalau mau secara terang-terangan pun tidak apa-apa.“Ta, mau ke mana, sore-sore gini?” tanya Novi dia sedang di teras rumahnya bersama suaminya.“Ke rumah Bu RT, ada perl

    Last Updated : 2024-09-13

Latest chapter

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 237. Ending.

    Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 236. Terungkap.

    "Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 235. Tak salah.

    Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 234. Tertangkap.

    “Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 233. Beraksi lagi.

    "Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 232. Bayangan hitam.

    “Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 231. Datang lagi.

    Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 230. Wak Tono.

    "Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s

  • Wanita yang Kau Hinakan. Season 2.   Bab 229. Tegarnya hati.

    "Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status