Setelah kejadian sore tadi, ternyata Ardan demam tinggi membuat Ayunda merasa begitu sangat khawatir ini untuk pertama kalinya sang suami kembali lagi sakit. Mungkinkah lelaki itu menahan rasa kecewa dan juga amarah yang begitu sangat dalam sampai-sampai tubuhnya pun sekarang begitu sangat lemah.
"Sayang, cepat sembuh, ya." Ardan memang sudah diperiksa oleh dokter. Dan dokter mengatakan jika Ardan esok masih demam makan mau tidak mau harus segera dilarikan ke rumah sakit. Oma Ola pun berada di sebelah Ardan mereka berdua sama-sama menjaga lelaki itu dengan begitu sangat baik terlebih Ayunda yang bolak-balik mengganti kompresan sang suami dengan begitu sangat perhatian.Oma Ola merasa begitu sangat senang, akhirnya cucu yang selama ini ia sayangi mendapatkan istri yang benar-benar begitu sangat perhatian. Walaupun Ayunda bekerja sebagai model, tetapi ia tidak pernah lupa tugasnya sebagai seorang istri."Oma, kalau mengantuk boleh istirahat terlebih dahulTuan Surya, Bu Tari, serta anak dan menantu mereka benar-benar merasa bingung. Terlebih lagi Keyla, yang statusnya masih belum jelas. Apalagi, ia belum menikah dengan Mahesa, sehingga semakin merasa terkucilkan dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini."Pokoknya Mama nggak mau tinggal di kontrakan kecil dan kumuh seperti ini lagi!" Bu Tari terus saja mengomel, suaranya melengking memenuhi ruangan yang sudah terasa sesak."Sudah, jangan banyak bicara! Memangnya cuma kamu saja yang pusing? Aku juga!" sahut Tuan Surya dengan nada kesal.Ia sudah menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Ternyata, Blue Cooperation adalah perusahaan yang dipimpin oleh Ardan. Tuan Surya benar-benar tidak menyangka bahwa Ardan bisa bersikap seperti itu."Ardan dan ayahnya itu sama saja, sama-sama licik!" celetuk Bu Tari dengan geram.Mahesa, sejak tadi hanya diam. Ia tahu, jika ayahnya bangkrut dan seluruh uang perusahaan serta aset mereka disita oleh bank, maka mereka juga harus membayar ganti rug
Keyla meronta saat Ayunda menyeretnya keluar ruangan, tetapi genggaman Ayunda terlalu kuat. Wajahnya merah padam, baik karena malu maupun amarah yang mulai membakar dirinya. Semua mata karyawan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa terdiam, tak berani berkomentar."Kalian semua lihat baik-baik! Ini wanita yang tak tahu malu!" suara Ayunda menggema di ruangan kantor, membuat Keyla semakin terpojok."Ayunda, kau sudah cukup!" Ardan yang baru tersadar dari keterkejutannya akhirnya angkat bicara. Ia menghampiri istrinya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku tak tahu kenapa Keyla melakukan ini, tapi aku bersumpah, aku tak terlibat dalam skemanya!"Keyla menatap Ardan dengan mata yang berkaca-kaca. "Ardan, aku mencintaimu! Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama! Mengapa kau berpura-pura tidak tahu?""Cinta?" Ayunda mencibir. "Jangan mengada-ada, Keyla. Ardan tidak akan pernah mencintai wanita licik sepertimu. Apa kau pikir dia akan mengkhianati pe
Ardan menghela napas panjang, menatap wajah Ayunda yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Lima tahun telah berlalu sejak malam tragis itu, dan selama itu pula ia menjadi satu-satunya orang yang setia menemani Ayunda. Setiap hari, ia memastikan adik iparnya mendapatkan perawatan terbaik. Ia mengurus segala kebutuhannya, mulai dari mengganti perban luka-lukanya, memijat tubuhnya agar otot-ototnya tidak kaku, hingga membacakan cerita di sampingnya dengan harapan Ayunda bisa mendengar dan suatu hari akan bangun.Banyak orang yang mempertanyakan keputusannya. Bahkan ibunya sendiri pernah berkata, "Dia bukan istrimu, Dan. Kenapa kamu begitu keras kepala?" Tapi Ardan hanya tersenyum pahit. Ia tahu, perasaan yang ia miliki untuk Ayunda jauh lebih dalam dari sekadar tanggung jawab keluarga.Suaminya? Lelaki yang seharusnya ada di sini? Ia bahkan tak pernah datang setelah insiden itu. Sejak Ayunda terjatuh dan koma, pria itu seperti menghilang, tenggelam dalam kehidupannya sendiri dengan
Ardan masih terpaku di tempatnya, matanya menatap kosong ke arah Ayunda yang tertidur. Sudah lima tahun berlalu, dan selama itu pula keluarganya tidak pernah benar-benar peduli pada kondisi Ayunda. Mereka menganggap gadis itu hanya beban, sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada dalam kehidupan mereka sejak awal.Dan Mahesa? Lelaki itu bahkan tidak menoleh ke belakang. Sehari setelah pernikahannya dengan Ayunda, ia justru menikahi wanita lain—wanita yang sebenarnya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya jauh sebelum Ayunda muncul. Pernikahan dengan Ayunda hanyalah formalitas, pemuas egonya semata, sesuatu yang ia lakukan hanya karena ia bisa.Ardan tahu semua itu, dan itu membuatnya semakin muak.Namun, sekarang Ayunda sudah sadar. Ia tidak bisa terus menyembunyikan wanita itu di rumah sakit selamanya. Ia harus mengambil keputusan—keputusan yang mungkin akan mengguncang segalanya.Ia ingin Ayunda mendapatkan keadilan. Lima tahun yang hilang dari hidupnya, penderitaan yang ia alami,
Ardan terjebak dalam rasa bersalahnya. Ia hampir saja keceplosan mengungkapkan bahwa selama Ayunda koma, ia telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.'Kali ini, aku harus lebih berhati-hati,' batinnya.Sementara itu, dokter telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Ayunda. Meskipun ia masih belum bisa berdiri tanpa alat bantu, kondisinya telah membaik secara signifikan. Namun, masih banyak sesi fisioterapi yang harus dijalaninya untuk memulihkan kekuatan otot-ototnya yang kaku akibat lima tahun terbaring tanpa sadar.Ayunda menatap Ardan dengan tatapan penuh kebingungan. "Kalau Mahesa sudah tidak menginginkanku lagi, lantas aku harus pulang ke mana, Ardan?" tanyanya lirih.Ardan terdiam, merasakan sesak di dadanya. Ia tahu, Ayunda tidak hanya bertanya tentang tempat tinggal, tetapi juga tentang masa depannya yang kini terasa begitu tak pasti.Ardan menelan ludah, menatap Ayunda yang kini menunggu jawaban darinya. Pertanyaan itu sederhana, tapi mengandung makna ya
Ayunda bukanlah wanita bodoh. Sejak pertama kali sadar dari koma, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya. Awalnya, ia mencoba mengabaikannya, berpikir bahwa mungkin ini hanyalah efek dari terlalu lama terbaring tanpa gerakan. Namun, semakin hari, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar.Mual yang datang tiba-tiba, rasa lelah yang berlebihan, dan yang paling mengganggu—rasa nyeri di area intimnya.Maka, saat Ardan pergi bekerja, Ayunda memutuskan untuk menemui dokter tanpa memberitahunya.Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter yang menanganinya datang dan memulai pemeriksaan. Ayunda merasa cemas, tapi ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.“Dok, area intim saya terasa nyeri … dan tadi pagi saya sempat merasa mual,” ucapnya, mencoba tetap tenang.Dokter menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik, kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut.”Pemeriksaan berjalan cukup lama, dan Ayunda mulai merasa gelisah. Namun, apa yang terjadi selanjutnya
Ayunda melangkah dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tubuhnya lemah, tapi tekadnya lebih kuat dari sebelumnya. Orang-orang yang berada di sekitar rumah Mahesa menatapnya dengan ekspresi terkejut, seolah melihat hantu yang kembali dari kematian.Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan tatapannya kosong. Namun, di balik kelemahan itu, ada kobaran amarah yang mulai menyala.Mahesa yang sedang berdiri di depan pintu, tampak membeku di tempatnya. Matanya membelalak saat melihat sosok Ayunda yang berjalan ke arahnya dengan langkah sempoyongan."Kamu masih hidup?"Suara Mahesa terdengar kaget, lebih banyak keterkejutan daripada kebahagiaan. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa rindu—hanya keterkejutan dan mungkin sedikit ketakutan.Ayunda tersenyum getir, matanya menyapu penampilan Mahesa yang tampak semakin menawan, semakin berwibawa. Sedangkan dirinya? Ia benar-benar seperti mayat hidup.“Aku pikir, setidaknya kamu akan menanyakan kabarku. Tapi ternyata … satu-satunya yang bisa keluar dari mulu
Di halaman itu seketika terasa mencekam. Wajah Mahesa memerah, matanya berkilat penuh emosi. Sementara itu, Ayunda menatap Ardan dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. “Kau bohong!” Mahesa menggeram, langkahnya maju dengan tangan terkepal. “Kau hanya ingin mempermalukanku!” Ardan tidak mundur. Dia justru berdiri lebih tegap, menatap Mahesa tanpa gentar. “Aku tidak pernah berbicara tanpa bukti, Mahesa.” Suaranya dingin, nyaris berbisik, tapi penuh keyakinan. Ayunda yang sejak tadi terpaku, akhirnya menggeleng lemah. “Ardan … apa maksud semua ini?” suaranya bergetar, antara bingung dan tidak percaya. Ardan menoleh, menatapnya dengan penuh kelembutan. “Aku tidak bisa diam saja melihatmu diperlakukan seperti ini. Aku tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan, dan aku bersumpah akan melindungimu.” Mahesa mendengus, tertawa sinis. “Kau pikir aku akan membiarkanmu membawa wanita ini dan mempermalukank
Keyla meronta saat Ayunda menyeretnya keluar ruangan, tetapi genggaman Ayunda terlalu kuat. Wajahnya merah padam, baik karena malu maupun amarah yang mulai membakar dirinya. Semua mata karyawan yang menyaksikan adegan itu hanya bisa terdiam, tak berani berkomentar."Kalian semua lihat baik-baik! Ini wanita yang tak tahu malu!" suara Ayunda menggema di ruangan kantor, membuat Keyla semakin terpojok."Ayunda, kau sudah cukup!" Ardan yang baru tersadar dari keterkejutannya akhirnya angkat bicara. Ia menghampiri istrinya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku tak tahu kenapa Keyla melakukan ini, tapi aku bersumpah, aku tak terlibat dalam skemanya!"Keyla menatap Ardan dengan mata yang berkaca-kaca. "Ardan, aku mencintaimu! Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama! Mengapa kau berpura-pura tidak tahu?""Cinta?" Ayunda mencibir. "Jangan mengada-ada, Keyla. Ardan tidak akan pernah mencintai wanita licik sepertimu. Apa kau pikir dia akan mengkhianati pe
Tuan Surya, Bu Tari, serta anak dan menantu mereka benar-benar merasa bingung. Terlebih lagi Keyla, yang statusnya masih belum jelas. Apalagi, ia belum menikah dengan Mahesa, sehingga semakin merasa terkucilkan dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini."Pokoknya Mama nggak mau tinggal di kontrakan kecil dan kumuh seperti ini lagi!" Bu Tari terus saja mengomel, suaranya melengking memenuhi ruangan yang sudah terasa sesak."Sudah, jangan banyak bicara! Memangnya cuma kamu saja yang pusing? Aku juga!" sahut Tuan Surya dengan nada kesal.Ia sudah menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Ternyata, Blue Cooperation adalah perusahaan yang dipimpin oleh Ardan. Tuan Surya benar-benar tidak menyangka bahwa Ardan bisa bersikap seperti itu."Ardan dan ayahnya itu sama saja, sama-sama licik!" celetuk Bu Tari dengan geram.Mahesa, sejak tadi hanya diam. Ia tahu, jika ayahnya bangkrut dan seluruh uang perusahaan serta aset mereka disita oleh bank, maka mereka juga harus membayar ganti rug
Setelah kejadian sore tadi, ternyata Ardan demam tinggi membuat Ayunda merasa begitu sangat khawatir ini untuk pertama kalinya sang suami kembali lagi sakit. Mungkinkah lelaki itu menahan rasa kecewa dan juga amarah yang begitu sangat dalam sampai-sampai tubuhnya pun sekarang begitu sangat lemah. "Sayang, cepat sembuh, ya." Ardan memang sudah diperiksa oleh dokter. Dan dokter mengatakan jika Ardan esok masih demam makan mau tidak mau harus segera dilarikan ke rumah sakit. Oma Ola pun berada di sebelah Ardan mereka berdua sama-sama menjaga lelaki itu dengan begitu sangat baik terlebih Ayunda yang bolak-balik mengganti kompresan sang suami dengan begitu sangat perhatian. Oma Ola merasa begitu sangat senang, akhirnya cucu yang selama ini ia sayangi mendapatkan istri yang benar-benar begitu sangat perhatian. Walaupun Ayunda bekerja sebagai model, tetapi ia tidak pernah lupa tugasnya sebagai seorang istri. "Oma, kalau mengantuk boleh istirahat terlebih dahul
Ardan mencium kening sang istri, lalu dengan gagah ia memilih untuk segera pergi. Blue Cooperation adalah perusahaan yang ia bangun dengan susah payah seorang diri. Selain bekerja sebagai direktur di perusahaan milik sang ayah sebelum akhirnya digantikan oleh Mahesa, Ardan juga diam-diam merintis perusahaan ini tanpa diketahui banyak orang.Tak ada yang mengetahui keberadaan Blue Cooperation selain Ayunda. Bahkan Omanya pun tak pernah mengetahuinya. Semua ia rahasiakan, terutama setelah insiden yang membuatnya terus-menerus difitnah dan akhirnya menjauh dari orang-orang yang ia cintai.Beberapa waktu lalu, ayahnya sempat meminta untuk bekerja sama, tetapi Ardan tidak pernah mau menyetujuinya. Baginya, bekerja sama dengan sang ayah sama saja dengan bunuh diri, terlebih lagi perusahaan ayahnya sudah berada di ambang kebangkrutan.Dengan penuh wibawa, Ardan keluar dari mobilnya, disambut oleh beberapa karyawan yang menundukkan kepala dengan hormat. Sang asist
Ayunda dan Ardan terganggu dengan suara bising di luar. Mereka yang tengah beristirahat pun segera keluar dari kamar.Mereka terkejut melihat beberapa pria berbadan besar. Di antara mereka, tampak petugas dari pihak bank yang dengan kasar mengusir semua orang keluar dari rumah."Rumah ini sudah tergadai, perusahaan Tuan Surya pun telah bangkrut. Satu-satunya harta yang tersisa untuk menutupi separuh hutang adalah rumah ini. Oleh karena itu, kami akan menyitanya beserta seluruh isinya. Silakan kalian segera meninggalkan tempat ini," kata salah satu petugas dengan nada tegas.Bu Tari terperangah, matanya menatap penuh kepanikan pada suaminya, Tuan Surya, yang terlihat begitu frustrasi. Wajahnya pucat, tangannya gemetar, dan tatapannya kosong—seolah-olah dunianya telah runtuh seketika.Di sudut ruangan, Oma Ola hanya menggeleng tak percaya. Hatinya perih menyadari bahwa anaknya kembali melakukan kesalahan fatal. Ia tak menyangka bahwa Surya tetap tak
Ardan yang sejak tadi menunggu istrinya untuk membuatkan susu akhirnya memilih untuk menyusulnya ke dapur. Namun, yang ia temukan bukan istrinya, melainkan pertengkaran antara Keyla dan Mahesa. Pemandangan itu begitu membosankan baginya. Dahulu, Mahesa bisa merasa aman karena Ardan selalu membereskan masalah-masalahnya. Ia menutup rapat kasus-kasus Mahesa, memberikan kompensasi kepada korban-korbannya, bahkan berusaha membungkam mereka dengan kekayaan. Namun, semua perjuangannya terasa sia-sia karena Mahesa tidak pernah mengingat apa yang telah ia lakukan untuknya.Manusia memiliki batas kesabaran, dan mungkin sekarang Ardan telah sampai di titik itu. Apalagi sejak mengetahui bahwa Mahesa merencanakan pembunuhan terhadap anak yang dikandung Ayunda. Rasa marah dan kecewa membakar dadanya. Mahesa harus merasakan kehancuran yang selama ini ia timbulkan kepada orang lain.Saat melihat Ardan tersenyum ke arahnya, Mahesa justru merasa geram. Tatapan pria itu mengandung s
Mahesa awalnya berniat menghampiri ibunya dan ikut mencaci-maki, tetapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Ayunda yang kini benar-benar berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita itu telah berubah begitu drastis—menjadi lebih berani daripada yang pernah ia bayangkan."Apa Ardan yang mengajarimu menjadi seperti ini? Dulu kau adalah wanita manis, lembut, dan mudah diinjak-injak tanpa perlawanan. Tapi sekarang ...."Mahesa merasa kesal. Dengan kondisinya yang lumpuh, ia kesulitan merencanakan cara untuk menyingkirkan Keyla dan membalas dendam kepada Ardan. Dulu, ia bahkan berhasil menyingkirkan anak mereka. Lalu, kenapa sekarang mereka kembali lagi?Tatapannya terus tertuju pada Ayunda. Kini, wanita itu bukan hanya berubah sikap, tetapi juga semakin cantik—terlebih dengan kariernya sebagai model ternama."Ah, kenapa dulu aku bisa menyia-nyiakannya?"Ayunda sudah melangkah meninggalkan dapur. Karena Bu Tari sudah dalam kebekuan tidak bisa menja
Ardan menatap dalam-dalam ke mata Ayunda, seolah mencari keyakinan di balik kata-katanya. Hatinya masih dipenuhi kegelisahan, tapi ia tak ingin menunjukkan ketakutannya di depan wanita yang begitu ia cintai."Tentu saja, aku akan selalu melindungimu," jawab Ardan dengan suara yang mantap. "Tapi aku tetap tak bisa mengabaikan bahaya yang mengintai. Mahesa bukan orang sembarangan, dan Danu ... dia lebih licik dari yang kita duga."Ayunda tersenyum lembut, mencoba menenangkan kegundahan suaminya. Ia mengusap pipi Ardan dengan penuh kasih sayang. "Kita sudah melalui banyak hal bersama, Ar. Ini bukan pertama kalinya kita dihadapkan pada situasi sulit. Aku percaya padamu."Ardan menghela napas panjang. Ia tahu Ayunda selalu kuat, tapi kali ini situasinya berbeda. Mahesa dan Danu bukan lawan yang bisa diremehkan. Jika mereka benar-benar merencanakan sesuatu, maka ia harus lebih waspada dari sebelumnya."Baiklah," kata Ardan akhirnya. "Aku akan mencari ta
Ardan memperhatikan ponsel Ayunda yang bergetar di kursi mobil. Nama Mahesa terpampang jelas di layar, membuat hatinya tiba-tiba terasa sesak.Ayunda yang baru saja hendak masuk ke dalam studio berhenti sejenak, menyadari bahwa ia lupa membawa ponselnya. Dengan langkah ringan, ia kembali ke mobil dan membuka pintu."Handphone-ku," ujarnya singkat sambil meraihnya dari jok.Ardan tetap diam, hanya memperhatikan istrinya dengan tatapan penuh arti. Namun, saat Ayunda melihat nama di layar ponselnya, ia hanya tersenyum kecil sebelum menekan tombol ignore."Kenapa nggak diangkat?" tanya Ardan, mencoba terdengar biasa saja.Ayunda memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menatap suaminya. "Untuk apa? Aku bilang tadi, aku lebih suka melihat Mahesa menderita lebih lama."Ardan tidak yakin apakah jawaban itu benar-benar tulus, atau hanya Ayunda mencoba menutupi sesuatu. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh."Aku akan me