Happy Reading . . .
***"Av, sepertinya ajakanmu kemarin tidak akan berlaku." Ucapku setelah Ava yang langsung mengangkat sambungan telepon yang baru saja aku lakukan kepadanya ini."Apa? Kenapa? Ini akan terasa menyenangkan, Mandy-ku.""Tanpa harus aku beritahu, pasti kau sudah mengetahui sendiri alasannya.""Pasti si Bryce sialan itu. Bagaimana kau bisa bertahan hidup bersama dengan si pengekangan itu? Kau tidak seharusnya bertahan selama ini, Mandy. Aku tidak tega melihatmu yang seperti ini terus. Rasanya sudah cukup, kau tahu?""Kau membuatku ingin tertawa, Av." Balasku dengan senyuman penuh arti. "Sungguh.""Apa aku perlu yang berbicara dengannya?""Jangankan dirimu, aku saja yang sebagai istrinya terasa percuma. Sudahlah, Av. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk menikmati hidupku ini.""Aku akan datang ke rumahmu sekarang.""Tidak perlu, Av. Kau sedang bekerja.""Tidak, karena sekarang aku sudah memutar arah mobilku ke sana.""Ava!" Panggilanku yang ingin protes kepadanya pun langsung aku hentikan setelah mendengar nada terputusnya sambungan teleponku ini secara sepihak.Hingga suara mungil yang memanggil diriku menyapa indra pendengaranku, membuatku langsung mengalihkan pandangan menuju asal suara dimana malaikatku sedang melangkah menghampiri keberadaan diriku yang sedang duduk di sofa ruang tengah. "Mommy..." Panggilan Renne yang membuatku tentu langsung tersenyum akannya."Hai, Sayang. Kemarilah,". "Bagaimana tidurmu semalam, hah?" Tanyaku sambil mengangkat Renne ke atas pangkuan, lalu menghujani wajah menggemaskannya itu dengan kecupan-kecupan kecil dariku.Wajah yang benar-benar salinan Bryce. Rambut pirang dan sedikit keriting alami juga adalah dari milik Bryce. Tidak ada satu pun gen milikku, yang aku turunkan kepada Renne. Dan bisa dikatakan, Renne adalah Bryce versi perempuan dan kecilnya. Hal yang cukup membuatku iri dan kesal di saat yang bersamaan, karena anakku satu-satunya itu harus begitu serupa dengan Daddy-nya."Mom, semalam Renne bermimpi pergi ke taman bermain.""Benarkah? Kemana kalau Mommy boleh tahu?""Renne tidak tahu. Tetapi Renne bermimpi sedang menaiki carrousel.""Memangnya Renne sedang ingin pergi ke taman bermain?""Bisakah kita pergi ke sana, Mom?"Apa yang harus aku katakan? Renne belum saatnya mendapatkan kekecewaan dari Bryce yang sejak dulu selalu mengingkari setiap janji-janjinya. Tetapi jika aku menolak keinginan anakku ini, pasti hal itu akan langsung mematahkan semangatnya yang sedang ingin pergi ke taman bermain. Aku sangat tidak suka jika harus dihadapkan dengan situasi seperti ini lagi, dimana Renne yang sedang meminta tetapi aku sendiri tidak bisa berjanji bisa menepati atau memberikan hal yang sedang diinginkannya tersebut."Nanti kita tanyakan kepada Daddy terlebih dulu, okay? Jika Daddy mengizinkan dan memiliki waktu luang untuk mengajak Renne beserta Mommy pergi ke taman hiburan, kita akan langsung pergi saat itu juga. Okay?""Daddy tidak pernah berada di rumah ketika hari libur. Dan Renne juga tidak pernah bermain dengan Daddy. Apakah Daddy membenci Renne, Mom?"Hatiku pun terasa hancur mendengar Renne yang sampai memiliki pikiran seperti itu, di saat dirinya yang masih begitu kecil merasa kesulitan hanya untuk bisa bermain dengan Daddy-nya sendiri. Kesibukan Bryce yang sudah diluar akal sehat itu benar-benar sudah begitu membuat keluarga kecilku inilah yang harus menanggung akibatnya. Bahkan Renne yang seharusnya merasakan kesenangan di masa kecilnya, harus merasakan kesedihan hanya karena keegoisan Bryce saja."Hei, tidak seperti itu, Sayang. Daddy tidak seperti itu. Renne tidak boleh berpikiran apalagi sampai membicarakan hal seperti itu kepada Daddy. Karena nanti Daddy bisa merasa sedih. Lagipula jika Renne ingin bermain, Mommy selalu siap untuk menemani anak cantik Mommy ini. Jadi Renne tidak boleh seperti itu, okay?" Jelasku yang sebisa mungkin tidak membuat Renne semakin memiliki pemikiran buruk terhadap Daddy-nya itu."Maafkan Renne, Mommy.""Tentu, Sayang." Balasku sambil tersenyum lalu mencium kening anakku dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Hei, tahukah siapa yang sebentar lagi akan datang?" Tanyaku dengan riang dan berusaha langsung mengubah suasana yang sebelumnya terasa cukup sendu."Siapa?""Aunty Ava. Katanya Aunty sedang merindukan Renne, maka dari itu dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini.""Benarkah!?” Seru Renne dengan semangat yang langsung terlihat dari dirinya itu."Ya, tentu.""Renne juga sangat merindukan Aunty Ava. Tetapi, apakah Aunty akan membawakan Renne coklat, Mom?""Hmm..., Renne bisa memintanya sendiri kepada Aunty nanti,”. Hingga tidak lama setelah ucapanku berakhir, bel rumah pun berbunyi hingga membuatku dan Renne langsung berpandang-pandangan."Sepertinya itu Aunty Ava. Ayo kita bukakan pintu untuk Aunty," ucapku sambil menggendong Renne lalu beranjak dari sofa di ruang tamu untuk membukakan pintu di depan sana."Hallo, Renne! Aunty Ava membawa makanan kesukaan Renne," ucap Ava dengan begitu meriah sambil memberikan dua buah batang coklat kepada Renne."Terima kasih, Aunty Ava." Balas Renne yang tidak kalah senangnya ketika mendapatkan dua coklat yang sudah berada di masing-masing tangannya."Tentu, Renne.""Masuklah," ucapku yang menyuruh Ava untuk masuk ke dalam rumah."Sepertinya kau sudah sangat terbiasa tinggal di rumah yang sepi seperti ini.""Kenapa setiap ucapanmu itu selalu membuatku merasa ingin tertawa, Av?""Mungkin kau sudah berada di tahap pada semua yang kau lalui hanyalah sebuah lelucon."Aku pun tersenyum sambil menggelengkan kepala tidak menyangka akan ucapan yang baru saja aku dengar dari mulut sahabatku itu. Setelah menyalakan televisi, aku pun mendudukkan Renne di atas tumpukan-tumpukan bantal di lantai yang memang sengaja aku susun di sana agar Renne dapat menonton televisi dengan nyaman. Dan tidak lupa juga aku membukakan satu bungkus coklat, sebagai teman menonton tayangan kartun kesukaannya itu."Kau ingin minum apa?""Aku di sini bukan tamu, jadi tidak perlu bersikap seakan-akan aku ini adalah tamu istimewa. Duduklah," balas Ava sambil menepuk sisi kosong kursi sofa tepat di sampingnya, yang menandakan Ava ingin aku bisa langsung duduk di sampingnya itu."Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini, Av. Karena itu hanya akan membuatku merasa sudah merepotkanmu.""Tidak. Aku datang karena memang ingin menghiburmu. Mandy, aku ini sahabatmu. Satu-satunya teman yang kau miliki. Jadi sudah seharusnya, aku bisa selalu berada di sampingmu. Terutama dimasa-masa kau sedang membutuhkan teman bicara seperti saat ini.""Terima kasih, Av. Sejak dulu kau memang selalu mendukungku.""Itulah gunanya teman,". "Lalu, bagaimana sekarang? Kau masih ingin bertahan?" Sambungnya sambil menggenggam satu tanganku seakan memberikan kekuatan.Ava yang memang sahabatku tentu saja sudah mengetahui perasaanku yang sebenarnya, terhadap perihal pernikahanku yang sedang aku rasakan ini. "Aku merasa saat ini belum waktu yang tepat. Aku masih memikirkan bagaimana perasaan Renne nanti, jika aku benar-benar sudah mengeluarkan seluruh isi hatiku kepada Bryce. Hanya perasaan Renne yang berada di pikiranku selama ini. Bahkan tadi saja, dia memiliki pikiran dan mengatakan bahwa Bryce membencinya karena sudah tidak pernah mengajaknya bermain lagi. Aku sungguh tidak tega, Av.""Hei, semuanya memang membutuhkan waktu. Maka dari itu, tadi aku bertanya kepadamu, bukan? Apakah kau masih ingin bertahan?""Mungkin saat ini waktu masih berjalan di dalam pernikahanku, maka dari itu aku masih bisa mempertahankannya.""Tetapi jika Bryce tidak ingin mempertahankannya, bagaimana?""Entahlah. Itu hanya akan membuang-buang waktu saja.""Tepat sekali! Kau akan membuang-buang waktu karena pernikahanmu ini sudah tidak ada masa depannya lagi, Mandy. Hei, Bryce memang tidak pernah bermain kasar dengan fisik, bukan? Tetapi secara tidak langsung dengan segala omong kosongnya, hatimu yang sedang diserang sehingga secara tidak sadar mungkin saat ini sudah babak belur dan harus dirawat secara intensif. Kau harus memiliki keberanian, Mandy.""Aku sedang mengumpulkannya.""Lalu sampai saat ini, presentasenya sudah berada pada angka berapa?""Lima..., dari seribu.""Huh..., aku lelah mendengarmu yang terlalu baik terhadap Bryce.""Av, berbicara memang mudah. Tetapi di saat aku sedang berhadapan empat mata dengannya, keberanian yang sebelumnya sudah aku kumpulan langsung menguap entah kemana. Itu sama sekali tidaklah mudah.""Okay, sebaiknya kita hentikan sementara pembicaraan mengenai hal ini. Karena aku datang ke sini hanya ingin mengajakmu untuk bersenang-senang, dan tidak membuatmu semakin merasa sedih dengan kehidupanmu ini,”. “Besok malam, kita datang ke esta di kantorku. Aku juga sudah membawakan gaun untukmu di mobil.""Aku tidak diizinkan, Av.""Memangnya kau sendiri merasa nyaman sudah dua bulan tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah seperti ini? Bryce adalah pria ter-sialan yang pernah aku kenal dan temui. Dia tidak lebih menganggap istrinya ini dari seekor burung peliharaan.""Jika dia sudah mengatakan tidak, aku tidak bisa membantahnya lagi.""Aku tidak peduli. Jika kau tidak ingin meminta izin darinya lagi, biarkan aku sendiri yang akan turun tangan. Tetapi dengan sedikit kekerasan. Jadi, kau ingin memilih yang mana?""Kau ini, sama keras kepalanya seperti Bryce saja.""Tetapi bedanya aku ini tidak brengsek seperti pria itu.""Baiklah, baiklah. Akan aku coba lagi.""Ini baru Mandy yang aku kenal.""Tetapi, memangnya pesta mana yang akan diadakan di kantor namun bisa membawa teman?""Tidak ada.""Huh?" Tanyaku dengan bingung."Iya, tidak ada. Bahkan sebenarnya pesta itu tidak ada catatan plus-one. Hanya karyawan, para model, dan yang bekerja pada Style's saja.""Lalu untuk apa kau mengajakku?""Hanya ingin mengajakmu merasa kebebasan sejenak saja."“Kau pasti sangat bahagia dengan kehidupanmu ini, bukan? Kau masih sendiri, tetapi sudah mendapatkan pekerjaan yang luar biasa. Aku sedikit iri denganmu, Av.” Ucapku dengan sedikit miris. “Maka dari itu aku tidak ingin merasakan kebahagiaanku yang aku miliki ini sendirian saja, Mandy. Aku ingin membaginya kepada sahabatku, yang tidak lain adalah kau. Ayolah, di sana kita akan bersenang-senang tanpa memikirkan beban hidup yang sedang kau rasakan. Bisakah kau melupakannya, walau hanya sesaat?”“Aku akan membuatmu malu jika aku tetap memaksa untuk datang. Karena selain aku tidak memiliki koneksi dengan Style's, aku juga merasa tidak pantas berada di sana, Av.”"Tidak, Mandy. Kau adalah temanku, dan aku ini berstatus asisten kepala editor. Sedikitnya aku memiliki hak dengan apa yang sedang terjadi di Style's.""Tetap saja, Av-""Sshh..., Mandy, sekali lagi. Aku hanya ingin membuatmu senang. Lihatlah dirimu sendiri, kau ini wanita yang memiliki penampilan sempurna. Tinggi tubuhmu saja seratus delapan puluh centimeter. Tubuhmu juga terlihat begitu ideal untuk memiliki satu orang anak. Dan yang terakhir, kecantikan wajahmu sudah menyamai rupa model profesional. Bahkan kau pun juga pantas menjadi model sampul utama Style's. Hanya saja, sayangnya nasibmu yang kurang beruntung. Menikah dengan pria yang posesif-nya sudah tidak memiliki batas, sehingga kau ini sudah sangat pantas mendapat julukan Rapunzel.""Aku tidak percaya diri.""Kau tidak membutuhkan itu. Cukup menjadi dirimu dan mendapatkan sedikit sentuhan dari make-up, aku yakin kau pasti akan langsung mendapatkan pengganti Bryce.""Ava?!" Peringatku dengan sangat terkejut, namun hal itu justru membuatnya tertawa."Okay, besok aku akan menjemputmu setelah aku selesai dengan pekerjaanku.""Baiklah.""Dan kita ambil gaunmu di mobilku," ucap Ava yang langsung menarik tanganku keluar rumah untuk menuju mobilnya.***To be continued . . .Happy Reading . . . *** Seperti biasanya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun saat ini aku justru sedang memanaskan makan malam yang aku simpan untuk Bryce, untuk yang kedua kalinya. Ya, aku sudah menunggu lama yang ternyata Bryce tidak kunjung pulang juga, sampai-sampai aku sudah memanaskan makanan untuk yang kedua kalinya. Setelah dirasa cukup, aku pun menaruh makanan-makanan yang aku masak di piring semula, lalu menatanya di atas meja makan seperti sedia kala. Lalu aku melangkah kembali menuju sofa untuk menunggu di sana sambil menonton televisi. Hingga tidak lama kemudian, aku pun mendengar suara pintu rumah yang terbuka dan munculah Bryce di sana. Dengan cepat aku pun menghampiri pria itu untuk membantu membukakan mantel sekaligus membawakan tas kerjanya. "Hai, maafkan aku jika sampai di rumah hingga selarut ini. Pasieku tadi benar-benar begitu tidak terkendali hingga sampai menguras tenagaku." Ucap Bryce lalu ia pun memberikan kecupan pada keningku. "Tidak mas
Happy Reading . . . *** Dengan menampilkan senyuman, aku menatap akan rasa puas yang aku rasakan pada saat memandang diriku yang sudah merasa cukup setelah selesai merias penampilan yang hanya bisa aku lakukan sederhana ini. Setelah memakai high heels setinggi lima centimeter, sekali lagi aku memandang penampilanku di depan kaca dengan gaun sederhana setinggi di atas lututku sedikit, dan cukup tertutup yang Bryce pernah belikan untukku dulu, membuatku merasa cukup siap untuk datang ke pesta undangan Ava. Sejenak aku pun mengirimkan pesan kepada Bryce untuk memberitahu bahwa aku akan pergi dan Renne pun yang juga sudah tertidur sejak tadi. Tidak lupa dengan makan malam pria itu juga sudah aku taruh di dalam microwave, agar jika ingin memakan Bryce bisa langsung mengeluarkannya dengan kondisi makanan yang hangat. Hingga dentingan suara pesan masuk dari Ava yang memberitahu jika dia sudah sampai di luar rumah, membuatku langsung mengambil tas jinjing dan bergegas melangkah keluar dari
Happy Reading . . . *** "Daddy, bisakah nanti menjemputku setelah pulang sekolah?" Kunyahanku terhadap sarapan yang sedang aku makan ini secara otomatis langsung terhenti disaat mendengar permintaan Renne, yang sesungguhnya sangatlah mudah untuk dilakukan. Namun setelah pandanganku langsung bertemu dengan pandangan Bryce yang duduk di kursi berhadapan denganku, lagi dan lagi tanpa harus pria itu menjawabnya, akulah yang harus menangani hal sederhana seperti ini. "Hmm..., bagaimana kalau Mommy saja yang nanti menjemput Renne sepulang sekolah?" Ucapku yang memberikan penawaran kepada anakku ini, sebagai inisiatif untuk mencegah Bryce yang pasti tidak akan bisa melakukannya. "Daddy sudah sangat lama tidak pernah menjemput Renne di sekolah lagi. Kemarin Renne melihat teman-teman Renne banyak yang dijemput oleh Daddy-nya setelah sepulang sekolah. Renne ingin seperti itu, Mommy." Rajuk Renne yang membuat hatiku luluh, namun aku sendiri tidak tahu harus melakukan hal apalagi mengetahui
Happy Reading . . . *** Aku menatap diriku yang kini sudah mengenakan pakaian renang bermodel dua potong di depan cermin besar yang memperlihatkan keseluruhan tubuhku. Potongan atas dan bawah dari pakaian yang aku kenakan ini terlalu minim sehingga tidak cukup menutupi bagian pribadi tubuhku, terutama dibagian dada dan bokong. Bokong ku yang memang tidak tertutupi apa-apa selain pakaian renang yang aku kenakan ini, membuatku benar-benar merasa seperti telanjang saja. Belum lagi warna hijau neon yang terlihat cukup kontras di tubuhku yang berkulit natural ini, semakin membuatku merasa tidak percaya diri dengan seketika. "Wow..., lihatlah dirimu. Kau terlihat sama mengagumkan layaknya model profesional," ucap Ava yang tiba-tiba saja datang di ruang ganti pakaianku ini, membuatku langsung menerbitkan senyuman bersamaan dengan pujian yang diberikannya kepadaku itu. "Jangan menyindirku, Av." "Siapa yang menyindir? Kau memang benar-benar terlihat begitu luar biasa, Mandy." "Tetapi aku
Happy Reading . . . *** "Dimana pikiranmu, Mandy? Kau tidak menjemput Renne di sekolah dan membiarkannya menunggu sendirian disaat sekolah pun juga sudah sepi. Guru Renne sudah berkali-kali menghubungi ponselmu, tetapi kau tidak kunjung mengangkatnya juga dan hingga pada akhirnya aku yang hendak melakukan operasi dengan terpaksa aku tunda dulu karena aku yang harus menjemput Renne di sekolahnya. Pergi kemana kau hari ini, Mandy?" Aku sudah tidak asing lagi menghadapi situasi seperti ini. Dengan hanya tertunduk pasrah di bawah amarah yang sedang begitu menguasai Bryce, aku hanya bisa tersenyum kecut di dalam hati disaat mendengar setiap ocehan yang keluar dari bibir pria itu saja. Hanya karena baru satu kali aku terlambat untuk menjemput Renne, ia bisa sampai semarah ini kepadaku. Aku sungguh sudah tidak habis pikir lagi dengannya. "Tetapi lihatlah dari sisi baiknya, Bryce. Dengan begitu kau jadi bisa menjemput Renne sepulang dari sekolah, bukan? Dan Renne pun pasti sangat merasa s
Happy Reading . . . *** Setelah mengantar Renne menuju bis sekolahnya, aku melangkah memasuki rumah kembali dan langsung melihat Bryce yang sedang memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit di kursi yang berada di dekat pintu. "Hari ini aku ingin pergi keluar sejenak. Tidak sampai malam hari, mungkin siang dan sekaligus menjemput Renne di sekolah, setelah itu aku sudah kembali ke rumah." "Pergilah." Balasan singkat dan tidak adanya keraguan ataupun keterpaksaan pada nada bicaranya itu membuatku langsung mengernyitkan kening setelah mendengarnya. "Kau tidak ingin menginterogasi atau melarangku terlebih dahulu?" Tanyaku yang sedikit bingung akan sikap yang baru aku lihat darinya itu. Padahal aku sudah menyiapkan jawaban karanganku jika saja Bryce menanyakan kepergianku yang ingin menemui Becks. "Tidak perlu. Kau ini istriku, bukan seorang tawanan. Jadi aku tidak ingin mengekangmu lagi." "Ada apa denganmu? Terasa cukup berbeda." "Hanya perasaanmu saja. Kalau begitu
Happy Reading . . . *** Aku yang saat ini sedang berada di dapur untuk mencuci beberapa perlatan bekas masak tadi, langsung mendengar suara pintu rumah yang terbuka lalu tertutup kembali secara tiba-tiba. Aku yang merasa penasaran akan siapa yang datang itu, hendak melangkah menuju pintu rumah untuk melihatnya. Namun pada saat aku baru saja mematikan aliran air yang mengalir dari keran wastafel tempat mencuci piring ini, aku pun langsung melihat keberadaan Bryce yang rupanya sudah pulang di saat langit di luar sana masih terang. Dengan masih mengenakan pakaian tugas rumah sakitnya itu, ia melangkah memasuki dapur dan menghampiri keberadaanku. "Bryce? Tidak biasanya kau pulang disaat hari masih terang seperti ini. Ini masih pukul enam, kau baik-baik saja?" Tanyaku yang tentu merasa bingung akan hal tidak biasa yang kembali pria itu lakukan. "Ya, tentu aku baik-baik saja." "Kau sedang sakit?" "Tidak. Aku baik-baik saja, Mandy." "Kau yakin?" "Ya, tentu saja. Hei, ada apa? Kenapa k
Happy Reading . . . *** "Kau yakin tidak apa-apa pergi dengan Renne saja? Aku masih bisa membatalkan rencanaku, Bryce." Tanyaku sambil memasukkan beberapa kotak bekal berisi makan siang yang sudah aku buat tadi ke dalam tas. "Tidak apa, Mandy. Kita sudah membicarakan permasalahan ini kemarin, bukan?" "Aku tidak ingin membuat siapapun merasa kecewa." "Aku tidak kecewa. Begitu pun juga dengan Renne. Aku sudah bertanya kepadanya tadi. Katanya, ia justru senang karena akan bertemu dengan Nana-nya yang sudah cukup lama tidak dijumpainya." "Lorraine akan benar-benar marah kepadaku, Bryce. Aku akan dianggap sebagai Mommy tidak bertanggung jawab dan-“ "Hei, Mommy tidak seperti itu." "Ia memang tidak seperti itu, tetapi hanya kepadamu dan Renne saja. Seakan-akan aku ini tidak dianggap sebagai menantunya saja." "Mandy..., kau tidak perlu takut. Di depan Mommy, aku yang akan menjadi pembela nomor satu untukmu." "Tetap saja, Lorraine tidak akan pernah baik kepadaku." Pembela apanya? Kau
Happy Reading . . . *** Aku menatap sebuah benda kecil yang sudah melingkar pada jari manis, di tangan kiriku ini. Rasanya sudah cukup lama aku tidak mengenakan benda seperti ini di jari tanganku. Bahkan pada saat aku memiki cincin pernikahan dulu pun aku memutuskan untuk tidak memakainya. Aku yang memang pada dasarnya tidak menyukai memakai hal-hal seperti itu pun, justru kini mendapatkan benda yang sejenis namun kali ini terlihat lebih mewah, bernilai tinggi, dan begitu berharga. Dan semalam, tanpa aku duga Becks baru saja melamarku. Ia begitu membuktikan betapa dirinya tidak ingin kehilanganku, sampai-sampai ia berani untuk melamarku di saat aku yang masih berpura-pura menderita amnesia ini. Dan kini, aku yang harus menjalani peranku atas jawaban yang sudah aku berikan semalam dimana aku menerima lamaran Becks, juga memperlihatkan kepada pria itu jika aku yang masih mencintainya. Walau sesungguhnya rasa itu seperti sudah tidak ada lagi di dalam diriku, dan tidak bisa aku rasakan
Happy Reading . . . *** Genggaman erat tangan Becks pada tangan kiriku yang tidak memegang kruk untuk membantu kaki kananku yang masih belum pulih untuk bisa berjalan dengan normal ini, seakan tidak ingin ia lepaskan sampai kapan pun. Genggaman tangan itu pun seakan memanduku melangkah memasuki sebuah restaurant di depan sana yang terlihat begitu eksklusif dan menggambarkan kemewahan luar biasa dari luar sini. "Kau sudah benar-benar merencanakan makan malam ini dengan sempurna, Becks?" Ucapku saat kami masih melangkah masuk menuju restaurant tersebut. "Kau sudah bisa menebaknya, huh?" "Bagaimana tidak? Hari ini kau sudah mengajakku ke salon, memberikanku gaun yang aku kenakan dengan luar biasa dan pasti tidaklah murah ini, dan sekarang kau membawaku ke restauran berbintang seperti ini. Dan sehabis ini, hal apalagi yang menjadi bagian dari kejutanmu itu, Becks?" "Kau bisa mendapatkannya nanti." "Jadi, kau masih memiliki kejutan untukku?" "Hhmm..., tebak dan pikirkanlah." "Kemb
Happy Reading . . . *** Aku menatap diriku di depan cermin untuk melihat penampilan diriku yang setiap hari dan setiap tahunnya seperti ini saja. Rambut panjangku ini, entah sudah berapa lama terakhir kali aku mengguntingnya. Panjangnya yang sudah mencapai pinggangku ini, membuatku bertaruh bahwa terakhir kali aku memendekkan rambutku sudah bertahun-tahun lamanya. Belum lagi bagian dalam rambutku terdapat sedikit potongan rambut yang tidak teratur, yang sengaja dihilangkan pada saat setelah kecelakaan tersebut, untuk menangani bagian kepalaku yang saat itu terkena benturan pada aspal jalanan. Sehingga aku pun memutuskan ingin menggunting rambutku menjadi sangat pendek, membuatku mengira-ngira sampai sependek apa potongan gaya rambut yang cocok untukku. Namun di saat aku yang baru saja sedang mengira, pintu kamar ini pun terbuka dan munculah Becks di sana yang sudah melangkah masuk menghampiriku. "Hei, apa yang kau lihat?" Tanya-nya kepadaku. "Rambutku. Aku ingin menggunting dan me
Happy Reading . . . *** Aku menatap kosong jalanan di luar sana melalui kaca jendela pintu mobil di sampingku ini. Pikiranku sejak tadi benar-benar tidak bisa terlepas dari ucapan Ava yang mengajakku untuk ikut dengannya pergi ke Paris. Tawaran menjadi asisten Ava, seperti peluang yang begitulah besar bagiku untuk bisa memulai kehidupan baru, dan harus benar-benar aku pertimbangkan dengan sangat baik-baik. Dan pemikiran seperti itulah yang sejak tadi membuatku melamun dan memikirkan kesempatan yang mungkin akan membawaku menuju kebahagiaan yang sesungguhnya, semenjak pertemuanku bersama dengan Ava tadi berakhir. "Hei, Mandy." Panggilan dengan genggaman tangan itu pun membuatku langsung tersadar dari lamunan. "Ya?" "Kau baik-baik saja?" "Ya. Memangnya ada apa?" "Tidak. Hanya saja, sejak dari cafe tadi kau lebih banyak terdiam. Memangnya, hal apa saja yang kau bicarakan dengan Ava tadi?" "Hanya beberapa hal yang aku lupakan saja darinya. Kehidupan barunya di Paris, pekerjaannya
Happy Reading . . . *** Suara ketukan pintu yang sudah berkali-kali dengan samar-samar aku dengar dari luar sana dan mulai terasa menggangguku itu, membuatku dengan perlahan langsung membuka mata yang sebelumnya masih setengah sadar dari tidurku ini. "Mandy, apakah kau sudah terbangun?" Suara Becks, yang terdengar dari luar sana membuatku benar-benar terbangun dengan sepenuhnya. Aku yang memutuskan untuk meminta kepada pria itu agar kami bisa berpisah kamar saja, membuatku tentu menempati kamar lain di rumahnya ini karena bagiku hal seperti itulah yang terbaik untukku di situasi seperti ini. Aku ingin mulai menjaga jarak dengan pria itu, sekaligus jika bisa membuatnya sadar bahwa sudah seharusnya ia tidak lagi terus berpikir bahwa aku ini adalah miliknya. "Kau bisa masuk," balasku dengan sedikit berteriak dan langsung membuat pintu kamar ini terbuka bersamaan dengan Becks yang muncul di sana. "Hei, selamat pagi. Apa kau baru terbangun setelah mendengar suara ketukan pintuku? At
Happy Reading . . . *** Tiga minggu berlalu, total waktu yang sudah aku habiskan selama berada di rumah sakit dimana aku dirawat ini untuk menjalani pemulihan semenjak kecelakaan tersebut menimpaku. Hingga pada akhirnya, aku pun juga sudah diperbolehkan untuk keluar dari tempat yang sudah cukup menyiksaku selama berminggu-minggu ini. Dan kini, aku sedang bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit yang tentunya dengan bantuan dan keberadaan Becks di sini. Pria itu benar-benar sungguh tidak pernah meninggalkanku sendirian di tempat ini, kecuali ia memiliki pemotretan yang tidak mendesak sehingga tidak bisa ia tolak lagi. "Pakai mantelnya, di luar sedang sedikit dingin." Ucap Becks yang menghampiriku yang sedang duduk di tepi ranjang dan hendak memakaikan mantel yang ia bawa kepadaku."Apakah saat ini sudah memasuki musim dingin?" "Hampir." "Aku lupa bertanya. Apakah saat ini aku berada di Brooklyn? Karena hal terakhir yang aku ingat, aku tinggal di kota itu." "Saat ini kau berada
Happy Reading . . . *** Aku menatap kosong ke arah luar jendela yang berada tidak jauh di sampingku ini, yang sepertinya mengarah kepada sebuah taman di luar sana. Sudah beberapa hari waktu berlalu semenjak aku yang terbangun dari masa koma singkatku itu. Aku yang sudah merasa semakin lebih baik dari hari ke hari, tetapi walaupun sesekali aku masih merasa nyeri di bagian kepala dan di bagian beberapa letak luka yang aku miliki ini, namun rupanya aku masih juga tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit ini. Aku pun yang sudah merasa begitu bosan berada di ruangan ini selama berhari-hari, tidak termasuk masa koma yang aku alami kemarin, membuatku menjadi lebih banyak berdiam diri dan melamun. "Hei, selamat pagi. Apa kabarmu hari ini, Mandy?" Suara itu, datang bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan ini yang menampilkan Becks yang kembali datang di pagi hari seperti biasanya, dengan sebuket bunga di tangannya. Hal baru yang entah kenapa belakang ini selalu Becks lakukan te
Happy Reading . . . *** Oh, tidak! Apa yang baru saja terjadi? Aku membuka kedua mataku dengan cepat, di saat diriku yang merasa seperti sehabis dikejutkan secara tiba-tiba. Namun kali ini, bukanlah langit-langit kamar Becks yang menyambut indra penglihatanku seperti biasanya. Tetapi sebuah langit-langit bernuansa putih dengan beberapa lampu yang menerangi ruangan ini. Tidak hanya penglihatanku saja yang aneh, tetapi pendengaranku pun juga menangkap suara-suara alat khas rumah sakit yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung dan nadi seseorang. Tetapi belum selesai aku mengira-ngira akan hal yang sedang terjadi saat ini pada diriku, aku langsung merasakan betapa sakit dan rasa berdenyut yang begitu luar biasa pada kepalaku saat ini. Tanganku yang terasa begitu dingin akibat pendingin udara di ruangan ini, membuatku juga menjadi semakin merasa sulit untuk digerakan akibat rasa kaku pada sekujur tubuhku, cukup menghambatku yang ingin mencengkram kuat kepalaku berharap rasa sakit l
Happy Reading . . . *** Aku membuka mataku di saat aku merasakan cahaya matahari yang mulai menggangguku karena selalu menembus melalui jendela kamar ini. Aku melirik jam di atas meja yang berada di samping ranjang yang aku tempati ini, dan melihat waktu yang kini sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dan itu tandanya, aku baru mengistirahatkan tubuhku selama empat jam lamanya. Sudah satu minggu waktu berlalu semenjak terbongkarnya rahasia yang selalu disembunyikan oleh pria itu, dan itu artinya sudah selama itu juga aku memutuskan untuk mogok bicara dengannya dan juga tentunya berusaha untuk menghindar dari pandangan Becks, walau aku tahu hal itu akan sangat sulit untuk dilakukan karena aku yang masih tinggal di rumahnya ini. Itu semua aku lakukan karena aku yang benar-benar sama sekali tidak diperbolehkan untuk pergi oleh pria itu. Aku yang kini seakan kembali seperti kehidupanku yang terdahulu dan mendapatkan perlakuan yang sama, dimana aku yang dikurung dan tidak boleh beranja