"Siapa?" Anjel memindahkan tas channel-nya dari tangan kanan ke tangan kiri. Sementara matanya menelisik ke dalam butik.
Kristin tersenyum dengan senyuman yang aneh. Dia menaikkan sebelah alis kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Anjel. "Seseorang yang biasa disebut tampan. Dia datang membawa bunga dan bau lavender."Anjel semakin bingung, tanpa merespon perkataan Kristin, ia masuk dan menuju tempat yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu di dekat kasir. Sebuah sofa beludru warna merah dan meja bundar di depannya. Sesampainya di sana, nampak seorang lelaki yang tengah mengenakan setelan kemeja warna putih dan celana jeans warna bitu gelap. Lengannya dilipat sebagian dan kancing depannya dibiarkan terbuka dua biji."Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Anjel duduk di depan lelaki itu---di atas sofa tepatnya.Lelaki yang tengah memainkan ponselnya itu mendongak dan Anjel seketika tercengang. Lelaki itu tersenyum manis, kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. "Apa kabar, Njel?""B—Bram?"Bram masih tersenyum, kemudian meraih bucket bunga yang ada di sampingnya. "Ini untukmu, semoga dapat memberikan energi positif.""Ngapain kamu ke sini?""Santailah, tidak perlu terlalu serius, Njel."Anjel memalingkan wajah, sepertinya Azel benar-benat tidak menyerah. Kemudian Anjel berdiri, berjalan menuju mesin pembuat kopi yang ada di dekat mereka. "Mau kopi?"Anjel melirik sekilas pada Bram, kemudian mengambil dua cup kopi. "Tentu, walau aku sebenarnya lebih suka susu." Nada suara Bram terdengar konyol."Aku tak yakin, kalau kamu tidak suka kopi," bantah Anjel seraya meletakkan kopi di depan Bram."Begitu pun aku ..." Bram menyesap kopinya perlahan, kemudian menatap Anjel sekilas."Aku tak yakin, kalau kamu tidak menyukaiku. Iya, 'kan?" Bram mendekatkan wajahnya pada wajah Anjel. Anjel tentu terkejut, sesaat ia hanya bisa mematung, namun kemudian kesadaran menyerang dan ia segera memundurkan tubuhnya."Bullshit! Ternyata kamu pandai merayu," ucap Anjel seraya memandang ke arah jalan. Ia melihat beberapa pengunjung memasuki butiknya. Itu tandanya hari sudah agak siang dan waktunya ia bekerja."Hanya itu yang ingin kamu katakan? Sepertinya, jam kerja sudah menungguku." Anjel tersenyum manis, ia kini tengah mengenalan kemeja berwarna biru langit dengan renda-renda di sekitar dadanya. Ia memadukannya dengan rok span warna biru gelap. Tak lupa, rambut panjangnya yang harum selalu dibiarkan terurai. "Sebenarnya cukup banyak, tapi akan kukatakan nanti saat makam malam. Bagaimana, mau?" tawar Bram. Ia menandaskan kopinya kemudian berdiri. Anjel bimbang, kemarin saat bertemu dengan Bram, ia merasa amat kesal. Tetapi di sisi lain, Bram selalu terbayang di benaknya. Apalagi, cara Azel mempertemukan mereka, rasanya cukup memuakkan. Oh ya, Anjel masih marah, 'kan, pada Azel?"Kuharap makam malam ini akan berkesan, agar aku tak kesal lagi saat bertemu denganmu." Anjel ikut berdiri kemudian melipat tangan di dada."Tentu saja, kamu pasti akan ingin merasakannya lagi pekan depan. Jam tujuh malam, oke?"Anjel tersenyum manis, sepertinya menarik untuk di coba.***Cuaca malam ini begitu cerah, meski sore tadi hujan mengguyur kota, tetapi kini telah berganti dengan sinar rembulan yang memancar bak batu kristal di langit. Taburan bintang turut menghiasi gelapnya warna langit, membentuk rasi indah dan sangat sayang untuk tidak diabadikan. "Mau makan di mana?" Bram tetap memandang lurus ke depan fokus pada jalanan. Anjel mengabaikannya dan malah fokus pada deretan pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan-jajanan lokal. Mereka terlihat bahagia, meski raut lelah nampak di wajah mereka."Anjeline?" "E—eh iya?" Bram tersenyum miring, lalu tangan kirinya menekan-nekan layar kecil di dekat kemudi. "My heart will go on, selalu jadi lagu kesukaanku," ujarnya setelah sesaat judul lagu yang ia sebut mengalun merdu. Anjel hanya mengangguk-angguk. "Aku lebih suka lagu korea," ucap Anjel merasa tak mau kalah."Kenapa? karena oppa-oppa tampan?" tanya Bram yang terdengar seperti ledekan. Sekarang ganti Anjel yang tersenyum miring, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memeriksa sesuatu di sana. Nampak puluhan panggilan dari Azel, dan juga puluhan pesan darinya yang sejak pagi sama sekali tak terbalas. "Salah satunya, iya. Aku suka ketampanan mereka dari pada western. Selain itu, lagunya lebih mudah dilafalkan menurutku." Anjel memandang Bram, penasaran dengan reaksinya saat ini. "Jadi?" "Hm?" Anjel mendekatkan wajahnya agar bisa mengintimidasi Bram."Apa aku harus oplas biar mirip oppa-oppa?" Anjel terkejut, tak lama tawanya meledak. Ia tak menyangka, Bram akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Bahkan, Anjel sampai mengeluarkan air mata saking kerasnya tertawa. Mobil berhenti, lampu lalu lintas yang berubah merah 'memaksa' tiap kendaraan agar mau mengantri. "Tidak perlu, kearifan lokal tetap nomor satu." Akhirnya Anjel mengeluarkan kartu as-nya. Bram menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar pada Anjel. "Tidak mungkin aku menyamakanmu dengan Ahjussi Lee Jong Gi atau Oppa Cha Eun Woo, karena standar kalian saja berbeda," imbuh Anjel. "Maksudmu?" Bram langsung menaikkan suaranya dan mobil melaju lagi. Anjel tertawa lagi, ternyata Bram tidak seliar yang ia kira. Bahkan, di sisi lain ia terlihat polos dan suka mengalah. "Kalian tinggal di negara yang berbeda, tentu selain beda keturunan, kalian juga beda dalam menjalani standar kehidupan. Masing-masing punya kelebihannya.""Jadi?" tanya Bram lagi."Apa lagi?" Anjel mulai kesal. "Apa aku masuk kriteriamu?" Bram menatap Anjel sekilas, lalu memandang keluar jendela mobil. Anjel tersenyum dan menatap luar jendela juga. "Tergantung, semua tidak dapat dipastikan. Apalagi hati manusia, sekarang bisa benci, siapa tahu besok suka. Dan bisa juga sebaliknya." Bram tersenyum lagi dan mobil pun berhenti di depan salah satu restoran mewah. Bram turun lebih dulu, lalu berlari kecil menuju pintu Anjel dan membukanya. "Izinkan aku jadi pilihan yang pertama."***Pukul sembilan malam, Anjel melirik sekilas arloji yang melingkar di lengan kirinya. Kemudian ia menekan bel di dekat pintu rumah. Berharap ada yang membukakan pintu untuknya. Tak lama, pintu dibuka. Seorang wanita muda yang tengah mengenakan piyama kelinci nampak nyengir kuda tanpa dosa."Kamu membuatku terjebak dalam semua ini," ucap Anjel sekilas lalu berjalan mendahului Azel.Azel menutup pintu, lalu berjalan di belakang Anjel. "Aku tak tahu kalo Kak Bram akan senekat itu, loh!"Anjel diam saja, lalu ia segera menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Ia meraih sebotol air mineral lalu menuangkan isinya ke dalam gelas. Azel mengikuti Anjel, kemudian duduk di salah satu kursi."Kukira, Kak Bram akan nyerah gitu aja. Apalagi kemarin respon kakak benar-benar buruk. Ternyata, ngga!""Kamu, 'kan, yang paksa dia untuk datang ke butik?" tanya Anjel penuh selidik."Mana ada! Bahkan aku ngga ngasih tahu alamat butik kakak. Um, jadi ini tandanya? .... "Anjel melirik adiknya sekilas. "Apa?"Azel tertawa, "Kak Bram benar-benar serius sama Kak Anjeline. Buktinya dia mau nyari di mana kakak kerja, ngasih bunga, ngajak makan malam juga."Itu semua terlihat biasa di mata manusia menjelang usia 30-an. Kita masih belum tahu karakter masing-masing, bukan?""Ya jalani aja dulu, kakak jangan judes-judes makanya!"Anjel melotot, ia mengangkat botol air mineral tinggi-tinggi dan hendak ia lempar pada adiknya yang suka ceplas-ceplos itu. "Ampun! Hahaha!" Azel berlari menjauh, namun tak lama kembali duduk.Suasana hening sesaat. Anjel ingat, di rumah ini hanya tinggal ia, Azel, Pak Tomo dan Bi Asih. Ayah dan Ibu masih belum pulang, mungkin lusa. Anjel melirik adiknya sekilas, nampak Azel sedang bermain ponsel seraya tertawa sendiri."Kamu ... bagaimana caranya bisa mengenal Bram?" tanya Anjeline. Aneh menurutnya, jika adiknya ini yang notabene adalah anak hits yang dikelilingi anak-anak kampus malah punya kenalan sejenis Bram."Oh itu, dia itu salah satu direktur di tempat aku magang waktu semester 7 dulu. Aku dan teman-teman sering mengadakan praktek dan ikut kerja sama Kak Bram. Jadi kenal, deh. Pas waktu itu dia cerita kalo lagi cari pasangan yang usianya ngga jauh beda. Akhirnya aku ingat kakak, karena usia kalian cuma selisih satu tahun, 'kan?"Anjeline mulai tertarik, haruskah ia melanjutkan hubungan ini? Apa Bram benar-benar serius?Tbc.[Malam ini, Hotel Diamond]Anjel membaca pesan itu sekilas lalu tersenyum miring, ternyata Bram sungguh-sungguh mengejarnya. Ia tak habis pikir, mengapa Bram begitu gigih ingin meraihnya? Apa istimewanya dirinya?[Baik, pukul 7 malam]Anjel memasukkan ponsel ke dalam tas lalu melanjutkan fokus pada layar komputer. Untuk beberapa saat, semua masih aman hingga tiba-tiba ia mengingat peristiwa itu."Astaga!" Anjel memejamkan mata, mencoba meraih fokusnya kembali, tetapi ... bayangan itu ... rengkuhan itu ... bahkan hangatnya kecupan kilat itu masih terasa!"Ah! Sial!" Anjel berdiri lalu memijit pelipis agar lebih rileks."Kenapa aku terus mengingat kejadian malam itu?!"Anjel menggigit bibirnya gemas lalu berjalan perlahan menghadap kaca. Masih ingat kejadian malam itu, tiba-tiba Bram memeluk tubuh Anjel dari belakang dan membenamkan wajahnya pada tengkuk leher wanita itu. Hujan deras disertai petir menahan mereka untuk tetap singgah di hotel tempat m
"Jadi, kapan kalian akan pacaran?"Pertanyaan menohok yang dilontarkan ayah seketika membuat Bram dan juga Anjel bungkam. Suasana yang tadinya ramah, kini beralih menjadi kikuk dan kaku. Ayah yang sebenarnya hanya basa-basi tiba-tiba juga merasa kikuk dan salah tingkah. Bram menatap ayah dengan senyuman canggung dan Anjel sendiri malah melotot tajam. "Loh, belum pacaran ya?""Ayah!" protes Anjel seraya mengerucutkan bibir."Um, masih proses, Yah. Sebentar lagi juga pacaran, kok," jawab Bram santai dengan senyuman ramah.Tawa ayah tiba-tiba meledak dan diringi dengan suara tawa Bram. "Ya sudah, jangan lama-lama. Ingatlah usia kalian, udah waktunya nikah!" timpal ibu juga tak mau kalah."Ah, ibu. Aku masih mau santai juga!" Anjel lagi-lagi protes dan ingin suaranya didengar."Tenang saja, Ibu. Setelah kami pacaran, sesegera mungkin kami akan menikah. Begitu 'kan, Njel?"Anjel tak habis pikir dengan pola pikir mereka yang ingin sekali melihatnya menik
Anjel hanya diam dalam keheningan saat Bram memutuskan turun dari mobil lalu menghampiri wanita yang sepertinya telah menunggu kedatangan Bram itu. Anjel tak mau berpikir negatif, namun saat Bram memeluk wanita itu barulah Anjel mulai naik pitam.“Ha? Apa-apaan dia itu?” gumam Anjel.Setelah memeluk wanita itu, Bram kembali ke arah mobil lalu membukakan pintu untuk Anjel. Anjel berusaha untuk menutupi kekesalannya agar Bram tidak semakin menjadi-jadi.“Ayo turun,” ucap Bram dengan senyum merekah, tanpa dosa.Anjel hanya tersenyum tipis lalu turun dari mobil dengan anggun. Wanita itu memasang senyum yang begitu lebar. Anjel merasa bingung, mengapa wanita itu justru tersenyum? Siapa dia?“Kenalkan, Kak. Dia Anjeline, calon istriku,” ungkap Bram malu-malu.“Apa? Kak? Jadi .... “ gumam Anjel dalam hati.Wanita itu berjalan mendekati Anjel lalu memeluknya erat. “Oh, Adik Cantik. Selamat datang.&rdquo
Chintya sontak menoleh cepat ke arah sumber suara lalu tersenyum lebar. “Bram?”Bram tanpa aba-aba langsung duduk di samping Anjeline yang masih bingung dengan kedatangan dirinya yang tiba-tiba. “Aku hendak menghabiskan waktu makan siangku di sini,” celetuk lelaki dengan setelan dominan abu-abu tersebut.Anjelin menoleh cepat pada Bram. “Makan siang? Memangnya sekarang waktunya makan?”Bram menggeleng. “Tidak, aku hanya membuat alasan. Hahaha!”Chintya berdecak sembari memasang wajah kesal. “Enggak lucu.”Anjeline hanya tertawa kecil lalu berdiri menuju dapur untuk membuat minuman. Meski butiknya hanya digunakan saat siang hari, tetapi keberadaan dapur benar-benar penting baginya. Jika sewaktu-waktu ada tamu istimewa, maka para karyawan atau dirinya bisa membuat sesuatu di sana. Saat Anjeline tengah menunggu cheese cake yang ia hangatkan di microwave, pikirannya l
Anjel mengamati sebuah amplop cokelat tua berukuran tiga puluh kali lima belas sentimeter yang ada dalam genggamannya. Pagi ini ia dikejutkan dengan kedatangan kurir pos yang tiba-tiba mengantarkan surat. Seingat Anjel, sudah hampir sepuluh tahun ia tidak menerima surat lewat pos. Anehnya, nama pengirim dan alamatnya tertulis milik Bram. “Untuk apa?” Hanya itu yang bisa Anjel ucapkan. Akhir pekan, keinginannya untuk memulai mempersiapkan keperluan pernikahan akhirnya tersendat. Tak ada yang tahu soal surat ini. Ayah dan ibu belum datang dan Azel belum turun dari kamar sejak tadi. Anjel membasahi bibirnya lalu membuka ujung amplop perlahan. Tangan kanannya menjorok ke dalam dan alisnya spontan bertaut saat akhirnya tahu apa isi dari amplop tersebut. “Katalog pernikahan?” Anjel semakin terkejut. Katalog itu berisi serba-serbi pernikahan, mulai dari dekorasi, catering, MUA, souvenir dan segala sesuatu yang dapat Anjel pilih. “Untuk apa Bram mengirimkan ini? Bukankah k
"Tidak apa-apa, aku juga tahu kamu pasti sibuk.” Anjel masih berusaha mengatur emosi keterkejutannya saat membalas ucapan Bram.“Aku sedang dalam perjalanan,” ucap Bram lagi.“Aku tahu. Semoga selamat sampai tujuan.”Tak ada sepatah kata pun dari Bram, begitu juga Anjel yang terlihat enggan berbicara. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Bram berdehem. Anjel menghela napas panjang. “Ada apa meneleponku malam-malam?”“Aku hanya ingin tahu kabarmu,” jawab Bram. Anjel tertawa kecil lalu memainkan jemarinya di atas sprei. “Kalau kamu sibuk, kamu bisa mematikan teleponnya sekarang. Aku tidak seperti kebanyakan remaja yang selalu minta ditemani.”“Bukan seperti itu, um.... “ Bram menggantung ucapannya. “Apakah kakakku sudah menemuimu?”“Besok,” sahut Anjel cepat. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. “Oh iya, soal persiapan pernikahan.... ““Iya, ada apa?”“Aku akan mulai melakukannya setelah keluargamu datang kemari untuk memintaku secara langsung. Aku tahu ini aneh, tetapi kurasa orangt
“Mungkin kamu suka konsep lain.” Hanya itu jawaban yang diberikan Bram. Anjel melirik lelaki itu sekilas lalu kembali berkutat dengan makanan. “Memangnya siapa yang memilih katalog itu kalau bukan kamu? Lagi pula untuk apa kamu kirimkan katalog itu padaku?”Anjel hampir siap menyiapkan makan siang, belum sempat Bram menjawab pertanyaan calon suaminya, tiba-tiba Azel muncul dari pintu dapur. Gadis itu mengenakan pakaian santai, kaus pendek warna putih agak ketat dan celana jeans sebatas lutut. Anjel yang terkejut melihat penampilan adiknya pun buru-buru mendekati lalu berbisik. “Kamu kenapa pakai baju seperti itu?”Azel melirik sekilas ke arah Bram. Lelaki itu salah tingkah lalu memilih untuk kembali ke ruang tamu. “Aku ingin membantu kakak,” jawab Azel polos. Anjel menghela napas panjang. “Sudah selesai.”Azel menunduk lalu memperhatikan penampilannya. “Memangnya kenapa pakaianku?”Anjel merapatkan giginya, kesal dengan adiknya yang terlampau polos. “Kurang sopan. Kita sedang
"Mau sampai kapan?"Anjel menyesap kopinya perlahan. Ia tetap diam dalam posisi duduk menghadap meja bar di dapur dan membelakangi ibunya. Pun ia juga tidak menjawab pertanyaan ibu yang terus menerus diulang tiap hari dan tiap waktu. Telinga Anjel panas rasanya, tapi seperti yang sudah-sudah, ia akan memilih diam seribu bahasa."Kamu udah 29 tahun, teman-teman kamu udah punya anak. Kamu?"Anjel berdiri, memeriksa roti yang ia panggang di atas kompor untuk memastikan kematangannya. Ia benar-benar ingin cepat-cepat pergi ke butik dan bebas dari ini semua. Dan sial! Rotinya belum matang! Kenapa jadi lama sekali?"Ada apa, Bu?"Suara berat khas bapak-bapak muncul. Itu artinya, penderitaan ini akan berakhir lebih cepat. Anjel menoleh, dan benar saja. Ayahnya sudah duduk di hadapan ibunya yang sedari tadi tak berhenti mengomel. Padahal beliau sedang menonton berita di televisi—yang semestinya lebih menarik disimak—dari pada membicarakan
“Mungkin kamu suka konsep lain.” Hanya itu jawaban yang diberikan Bram. Anjel melirik lelaki itu sekilas lalu kembali berkutat dengan makanan. “Memangnya siapa yang memilih katalog itu kalau bukan kamu? Lagi pula untuk apa kamu kirimkan katalog itu padaku?”Anjel hampir siap menyiapkan makan siang, belum sempat Bram menjawab pertanyaan calon suaminya, tiba-tiba Azel muncul dari pintu dapur. Gadis itu mengenakan pakaian santai, kaus pendek warna putih agak ketat dan celana jeans sebatas lutut. Anjel yang terkejut melihat penampilan adiknya pun buru-buru mendekati lalu berbisik. “Kamu kenapa pakai baju seperti itu?”Azel melirik sekilas ke arah Bram. Lelaki itu salah tingkah lalu memilih untuk kembali ke ruang tamu. “Aku ingin membantu kakak,” jawab Azel polos. Anjel menghela napas panjang. “Sudah selesai.”Azel menunduk lalu memperhatikan penampilannya. “Memangnya kenapa pakaianku?”Anjel merapatkan giginya, kesal dengan adiknya yang terlampau polos. “Kurang sopan. Kita sedang
"Tidak apa-apa, aku juga tahu kamu pasti sibuk.” Anjel masih berusaha mengatur emosi keterkejutannya saat membalas ucapan Bram.“Aku sedang dalam perjalanan,” ucap Bram lagi.“Aku tahu. Semoga selamat sampai tujuan.”Tak ada sepatah kata pun dari Bram, begitu juga Anjel yang terlihat enggan berbicara. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Bram berdehem. Anjel menghela napas panjang. “Ada apa meneleponku malam-malam?”“Aku hanya ingin tahu kabarmu,” jawab Bram. Anjel tertawa kecil lalu memainkan jemarinya di atas sprei. “Kalau kamu sibuk, kamu bisa mematikan teleponnya sekarang. Aku tidak seperti kebanyakan remaja yang selalu minta ditemani.”“Bukan seperti itu, um.... “ Bram menggantung ucapannya. “Apakah kakakku sudah menemuimu?”“Besok,” sahut Anjel cepat. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. “Oh iya, soal persiapan pernikahan.... ““Iya, ada apa?”“Aku akan mulai melakukannya setelah keluargamu datang kemari untuk memintaku secara langsung. Aku tahu ini aneh, tetapi kurasa orangt
Anjel mengamati sebuah amplop cokelat tua berukuran tiga puluh kali lima belas sentimeter yang ada dalam genggamannya. Pagi ini ia dikejutkan dengan kedatangan kurir pos yang tiba-tiba mengantarkan surat. Seingat Anjel, sudah hampir sepuluh tahun ia tidak menerima surat lewat pos. Anehnya, nama pengirim dan alamatnya tertulis milik Bram. “Untuk apa?” Hanya itu yang bisa Anjel ucapkan. Akhir pekan, keinginannya untuk memulai mempersiapkan keperluan pernikahan akhirnya tersendat. Tak ada yang tahu soal surat ini. Ayah dan ibu belum datang dan Azel belum turun dari kamar sejak tadi. Anjel membasahi bibirnya lalu membuka ujung amplop perlahan. Tangan kanannya menjorok ke dalam dan alisnya spontan bertaut saat akhirnya tahu apa isi dari amplop tersebut. “Katalog pernikahan?” Anjel semakin terkejut. Katalog itu berisi serba-serbi pernikahan, mulai dari dekorasi, catering, MUA, souvenir dan segala sesuatu yang dapat Anjel pilih. “Untuk apa Bram mengirimkan ini? Bukankah k
Chintya sontak menoleh cepat ke arah sumber suara lalu tersenyum lebar. “Bram?”Bram tanpa aba-aba langsung duduk di samping Anjeline yang masih bingung dengan kedatangan dirinya yang tiba-tiba. “Aku hendak menghabiskan waktu makan siangku di sini,” celetuk lelaki dengan setelan dominan abu-abu tersebut.Anjelin menoleh cepat pada Bram. “Makan siang? Memangnya sekarang waktunya makan?”Bram menggeleng. “Tidak, aku hanya membuat alasan. Hahaha!”Chintya berdecak sembari memasang wajah kesal. “Enggak lucu.”Anjeline hanya tertawa kecil lalu berdiri menuju dapur untuk membuat minuman. Meski butiknya hanya digunakan saat siang hari, tetapi keberadaan dapur benar-benar penting baginya. Jika sewaktu-waktu ada tamu istimewa, maka para karyawan atau dirinya bisa membuat sesuatu di sana. Saat Anjeline tengah menunggu cheese cake yang ia hangatkan di microwave, pikirannya l
Anjel hanya diam dalam keheningan saat Bram memutuskan turun dari mobil lalu menghampiri wanita yang sepertinya telah menunggu kedatangan Bram itu. Anjel tak mau berpikir negatif, namun saat Bram memeluk wanita itu barulah Anjel mulai naik pitam.“Ha? Apa-apaan dia itu?” gumam Anjel.Setelah memeluk wanita itu, Bram kembali ke arah mobil lalu membukakan pintu untuk Anjel. Anjel berusaha untuk menutupi kekesalannya agar Bram tidak semakin menjadi-jadi.“Ayo turun,” ucap Bram dengan senyum merekah, tanpa dosa.Anjel hanya tersenyum tipis lalu turun dari mobil dengan anggun. Wanita itu memasang senyum yang begitu lebar. Anjel merasa bingung, mengapa wanita itu justru tersenyum? Siapa dia?“Kenalkan, Kak. Dia Anjeline, calon istriku,” ungkap Bram malu-malu.“Apa? Kak? Jadi .... “ gumam Anjel dalam hati.Wanita itu berjalan mendekati Anjel lalu memeluknya erat. “Oh, Adik Cantik. Selamat datang.&rdquo
"Jadi, kapan kalian akan pacaran?"Pertanyaan menohok yang dilontarkan ayah seketika membuat Bram dan juga Anjel bungkam. Suasana yang tadinya ramah, kini beralih menjadi kikuk dan kaku. Ayah yang sebenarnya hanya basa-basi tiba-tiba juga merasa kikuk dan salah tingkah. Bram menatap ayah dengan senyuman canggung dan Anjel sendiri malah melotot tajam. "Loh, belum pacaran ya?""Ayah!" protes Anjel seraya mengerucutkan bibir."Um, masih proses, Yah. Sebentar lagi juga pacaran, kok," jawab Bram santai dengan senyuman ramah.Tawa ayah tiba-tiba meledak dan diringi dengan suara tawa Bram. "Ya sudah, jangan lama-lama. Ingatlah usia kalian, udah waktunya nikah!" timpal ibu juga tak mau kalah."Ah, ibu. Aku masih mau santai juga!" Anjel lagi-lagi protes dan ingin suaranya didengar."Tenang saja, Ibu. Setelah kami pacaran, sesegera mungkin kami akan menikah. Begitu 'kan, Njel?"Anjel tak habis pikir dengan pola pikir mereka yang ingin sekali melihatnya menik
[Malam ini, Hotel Diamond]Anjel membaca pesan itu sekilas lalu tersenyum miring, ternyata Bram sungguh-sungguh mengejarnya. Ia tak habis pikir, mengapa Bram begitu gigih ingin meraihnya? Apa istimewanya dirinya?[Baik, pukul 7 malam]Anjel memasukkan ponsel ke dalam tas lalu melanjutkan fokus pada layar komputer. Untuk beberapa saat, semua masih aman hingga tiba-tiba ia mengingat peristiwa itu."Astaga!" Anjel memejamkan mata, mencoba meraih fokusnya kembali, tetapi ... bayangan itu ... rengkuhan itu ... bahkan hangatnya kecupan kilat itu masih terasa!"Ah! Sial!" Anjel berdiri lalu memijit pelipis agar lebih rileks."Kenapa aku terus mengingat kejadian malam itu?!"Anjel menggigit bibirnya gemas lalu berjalan perlahan menghadap kaca. Masih ingat kejadian malam itu, tiba-tiba Bram memeluk tubuh Anjel dari belakang dan membenamkan wajahnya pada tengkuk leher wanita itu. Hujan deras disertai petir menahan mereka untuk tetap singgah di hotel tempat m
"Siapa?" Anjel memindahkan tas channel-nya dari tangan kanan ke tangan kiri. Sementara matanya menelisik ke dalam butik.Kristin tersenyum dengan senyuman yang aneh. Dia menaikkan sebelah alis kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Anjel. "Seseorang yang biasa disebut tampan. Dia datang membawa bunga dan bau lavender."Anjel semakin bingung, tanpa merespon perkataan Kristin, ia masuk dan menuju tempat yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu di dekat kasir. Sebuah sofa beludru warna merah dan meja bundar di depannya. Sesampainya di sana, nampak seorang lelaki yang tengah mengenakan setelan kemeja warna putih dan celana jeans warna bitu gelap. Lengannya dilipat sebagian dan kancing depannya dibiarkan terbuka dua biji."Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Anjel duduk di depan lelaki itu---di atas sofa tepatnya.Lelaki yang tengah memainkan ponselnya itu mendongak dan Anjel seketika tercengang. Lelaki itu tersenyum manis, kemudian meletakkan ponselnya di ata
Azel mulai mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi, padahal makan siangnya pun belum habis setengah. Anjel bingung dengan tingkah adiknya, lagi pula untuk apa beli bunga? Bukannya Azel tidak terlalu suka bunga?"Kakak mau sampe kapan duduk di situ? Ayok!""Buat apa beli bunga? Di rumah udah banyak." Anjel masih enggan beranjak karena memang ia tidak minat. Azel memutar bola matanya dan menghampiri Anjel."Aku mau tunjukin sesuatu buat kakak, cepat!" Tak sabar Azel menarik tangan Anjel. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Anjel melangkahkan kaki. Melihat sesuatu yang hendak ditunjukkan padanya.Kini mereka memasuki sebuah toko bunga yang tidak terlalu besar namun lumayan ramai. Dari luar nampak desain minimalis serba vintage yang akan menarik pembeli terutama wanita. Di depan kaca, nampak deretan keranjang-keranjang bunga yang berjajar rapi. Mulai dari bunga mawar, tulip, zinnia, lavender, azalea, anyelir dan banyak lagi. Pintu dibuka, lalu terdengar suara lonc