“Lastri, maukah kamu menjadi pacarku?” Tiba-tiba Juned berdiri menghadang perjalanan Sulastri dan kedua temannya. “Minggir kamu, dasar pria lemah,” ujar Sulastri dengan kasar kepada Juned. “Kamu itu tidak cocok ya bersanding dengan Lastri.” Celetuk salah satu teman Sulastri yang berdiri di sampingnya. Juned hanya tertunduk lesu sambil menggenggam seikat bunga mawar, mendengarkan cemoohan yang menyakiti hatinya. Juned sangat menyukai Sulastri yang merupakan anak Juragan Pasir di desa itu. Meski berkali kali cinta Juned ditolak. Sulastri membalas cinta Juned dengan cemoohan dan hinaan belaka. “Hei, Juned. Kamu itu harusnya berkaca dulu. Kamu itu siapa? Berani beraninya mendekati Sulastri.” Ujar teman Sulastri yang lain, sambil mendorong Juned. Juned terjengkang ke belakang, disambut tawa yang menggema ketiga gadis itu. “Hahaha, lihat dia teman-teman. Baru didorong begitu aja sudah jatuh.” Ucap Sulastri tertawa lepas. Kaos yang dipakai Juned kotor terkena tanah, dia
Juned berdiri dalam keadaan yang berbeda, setelah berada di ambang antara hidup dan mati akibat memakan Jamur yang hanya tumbuh 1000 tahun sekali. Beberapa luka yang di derita sebelumnya menghilang seketika. “Wah, kok aneh. Lukaku sembuh tak berbekas.” Juned merasa takjub dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Sudah semalaman Juned tidur di dalam hutan, lukanya juga telah sembuh. Juned juga menyadari bahwa ada beberapa perubahan, seperti mentalnya yang kini kembali pulih. Juned bergegas kembali ke rumah, dia takut jika Tante Lilis khawatir karena semalaman dia tak pulang. Ketika dalam perjalanan pulang, Juned melewati sungai yang airnya masih bersih di kampungnya. Juned berniat membasuh mukanya di sana agar terlihat lebih segar. Karena airnya yang bersih, sungai itu sering digunakan warga kampung untuk beraktivitas, mulai dari mandi sampai mencuci baju. Saat berada di tepi sungai dan hendak menciduk air. Juned melepas kaos dan celana jeans milikinya menyisakan celana kolor pe
Juned dan Vivi masih dalam posisi yang sama, kepala Vivi yang bersandar di pundak Juned, sedangkan Juned masih membelai lembut rambut Vivi. Pria itu semakin berani dengan merangkul kan tangannya ke pundak Vivi, merasakan kulitnya yang halus nan lembut. Vivi menumpahkan semua kesedihannya untuk beberapa saat kala itu. Hingga akhirnya dia tersadar dan tubuhnya menjauh dari pelukan Juned. “Maaf, jadi terbawa suasana.” Ujar Vivi dengan lirih, menunjukkan mukanya yang memerah menahan malu. Juned merasa canggung dengan yang baru saja terjadi, “iya enggak apa-apa.” Juned berusaha mengatur nafas dan birahinya yang sudah naik dengan membetulkan posisi duduknya. Sampai akhirnya desakkan yang ada di dalam celananya mulai mengendur. “Kenapa sih, Vi? Kamu masih terus bertahan dengan laki-laki seperti Anton.” Tanya Juned untuk mengalihkan perhatian. “Aku enggak bisa melakukan itu, Jun. Pernikahanku dengan Mas Anton dulu karena kondisi terpaksa.” Jawab Vivi dengan lirih, menundukkan waj
Tanpa pikir panjang, Juned berlari menerobos lingkaran orang-orang yang mengelilingi Tante Lilis. Dia mendorong satu per satu dari mereka, sampai akhirnya berdiri di depan Anton. "Berhenti!" teriak Juned dengan nafas memburu. "Apa yang kalian lakukan?!" Anton tersenyum miring. “Oh, jadi akhirnya kau berani muncul juga, Juned,” katanya dingin. “Bagus. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan.” Sebelum Juned sempat bertanya, Anton mendekatinya dengan wajah penuh kebencian. "Apa yang kau lakukan dengan Vivi di sungai, hah?" suara Anton meninggi. Juned terdiam sejenak, pucat. Bagaimana Anton bisa tahu tentang pertemuannya dengan Vivi?. "Aku tidak melakukan apa-apa!" Juned menjawab dengan tegas. "Aku bertemu dengan Vivi secara kebetulan di sungai, saat aku sedang mencari tanaman herbal. Kami hanya mengobrol sebentar." Anton tidak mempercayainya. "Jangan bohong, Pria Letoy! Kau pasti membuntuti dia! Kau pasti berniat buruk terhadap istri orang!" Anton semakin mendekat, matan
Lilis yang sedari tadi meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetar. Sambil menangis dia berkata lirih, “tolong.. berhenti..” Anton dan para Anak buahnya kembali bersiap menghantam Juned beramai-ramai. Namun sebuah teriakkan kencang memekik di telinga setiap orang. “Hentikaaan!! Anton kumohon jangan sakiti dia lagi. Aku akan melakukan apa yang kamu mau. Asal berhenti menyakiti Juned.” Lilis berteriak histeris sambil menangis. Juned terkejut mendengar perkataan itu. “Apa yang kamu bicarakan, Tante? Jangan bicara yang tidak-tidak.” Lilis yang sudah dipenuhi ketakutan justru memarahi Juned. “Diamlah Juned, Aku tak ingin melihatmu dihajar seperti itu.” Sementara Anton langsung mengangkat satu tangannya memberikan isyarat berhenti kepada anak buahnya. Anton mendekati Lilis yang meringkuk, “Kalau seperti ini kan tak perlu ada kekerasan, sayang.” Tangan Anton membelai wajah Lilis hingga ke leher jenjangnya. “Tante, Jangan mau menerima tawaran bajingan itu…” “Cukup Juned, cukup,
Beberapa saat kemudian, Lilis menatap Juned dan berkata, “Vivi cantik ya? Sayang suaminya sangat kasar kepadanya.” Juned tergagap. “Ii.. iya, tante. Aku sebenarnya kasihan sama dia, aku ingin menolongnya keluar dari jerat si Anton.” “Hush.. Sudah jangan bertindak bodoh lagi, jangan coba-coba melawan Anton. Dia itu berbahaya bagi kamu.” Lilis memberi peringatan kepada Anton untuk ke sekian kalinya. Juned merasa kesal, kali ini dia merasa bisa mengalahkan siapa pun. Namun Lilis masih menganggapnya sebagai pria lemah yang butuh perlindungan. Di lain sisi, Juned juga kesal karena Lilis menggagalkan kesempatan emas untuk menyalurkan hasrat bersama Vivi. Namun secara mengejutkan Lilis mengganti baju yang tadi sempat tersobek oleh Anton, “Oh iya, Jun. Kamu suka sama si Vivi?” kata Lilis sambil melepas kaosnya. Melihat gunung kembar Lilis yang begitu kencang dalam bungkusnya, hasrat Juned kembali menanjak. Mata Juned melotot seolah tak percaya, “kenapa kok ganti baju di sini,
Telapak tangan Juned mengeluarkan cahaya. Juned merasakan kekuatan yang besar mengalir dalam tubuhnya. “Permisi, Mbak. Apa kamu mau dipijat?.” Pertanyaan Juned seolah ambigu di kepala Marina. Dia kan hanya ingin berobat, kenapa harus di pijat. Dari sini Marina mulai ragu dengan pengobatan yang dilakukan Juned. “Kenapa kok pijat?” Juned kembali mendekat ke arah Marina, lalu memegang tengkuk leher Marina yang jenjang. “Sepertinya ada darah yang menggumpal di dada kamu.” Kata Juned sambil memijat lembut leher Marina. “Oleh sebab itu, harus dipijat seluruh badan untuk melancarkan peredaran darah.” Marina mengerutkan kening, bola matanya berkeliling mengamati sekitar “Apa benar-benar harus mas?” Dengan santai dan percaya diri Juned berkata, “ kalau tidak mau sembuh, enggak usah.” Marina tersenyum tanpa kegembiraan, “Saya mau sembuh, mas” telapak tangannya mulai berkeringat. Juned menyuruh Marina menanggalkan kemeja beserta celana jeans yang melekat, menggantinya dengan
Celana dalam itu lembut dan halus, dan seperti masih ada aroma dari Lilis yang tertinggal di dalamnya. Merasakan pakaian dalam di tangannya, Mau tak mau Juned membayangkan apa yang tadi dilihatnya. Hal yang membuat Juned semakin antusias dan bersemangat. Juned tak bisa melakukan dengan Lilis, namun dia hanya bisa berfantasi dengan barang milik Lilis saja. Di lepas ikat pinggangnya dan memasukkan celana dalam Lilis ke balik celananya. Tepat ketika Juned hendak memainkan kelima jarinya, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya. “Juned.. kamu sudah selesai mengobati pasiennya?” Lilis sudah berdiri di belakang Juned dalam keadaan rambut yang sudah basah. Juned sangat ketakutan hingga rohnya serasa mau keluar. Untuk beberapa saat dia menarik keluar tangannya dan membiarkan celana dalam merah tetap berada di dalam celananya. “Su.. sudah Tante.” Kata Juned dengan suara terbata-bata. “Juned, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Lilis. “eeee, enggak ngapa-ngapain
“Alisa?!”Adik perempuannya yang berusia 18 tahun itu berdiri dengan wajah pucat, baju kusut, dan mata yang penuh ketakutan. Juned yang tadi santai seketika berdiri tegak, semua pakaiannya sudah kembali rapi."Masuk, cepat!" Tania menarik lengan Alisa dengan kasar, matanya langsung memindai jalanan di belakang adiknya. Alisa gemetar seperti daun. "Mereka... mereka menemukan persembunyian kami." Tania mengunci pintu berganda, wajahnya berubah dingin seperti saat bertugas. "Ayah?" "Masih aman," bisik Alisa. "Aku lari lewat jalur berbeda." Juned sudah berdiri di depan jendela, mengintip keluar melalui celah tirai. "Tidak ada yang mengejar." Tania menarik Alisa ke sofa. "Kau seharusnya tetap di tempat persembunyian!" Alisa menggeleng liar. "Tidak bisa! Orang-orang itu sudah tahu lokasinya. Aku... aku bisa merasakan pikiran saat tanpa sengaja menyentuh salah satu dari mereka."Tania menghela napas, tangannya mengepal. “Aku akan panggil tim darurat dari kantor.” “Ti
Bu Ningsih menghela napas. “Aku harus pergi dulu. Mungkin anakku sudah menunggu.” Sebelum pergi, dia menepuk bahu Juned. “Kalau ada waktu, mainlah ke kampung. Kuburan Lilis di belakang pohon mangga besar itu.” Langkah Juned terasa berat. Setiap kali matahari sore menyorot dari balik pepohonan, bayangan pohon mangga besar seolah muncul di depan matanya. Selama ini, Juned tak pernah tahu di mana tepatnya wanita yang pernah mengasuhnya sedari kecil itu dimakamkan. Saat kematian Tante Lilis beberapa minggu lalu, Juned sedang terpuruk dalam jurang depresi – tak bisa membedakan siang dan malam, makan dan tidak makan, hidup dan mati. Juned membuka pintu rumah dengan langkah berat. Tania sudah duduk di sofa, seragam polisinya masih rapi terpasang. “Kamu dari mana?” tanya Tania sambil meletakkan dokumen di atas meja. Juned duduk di sebelah istrinya, menatap lantai. “Aku dari rumah Mbak Rizka, saat perjalanan pulang tanpa sengaja ketemu Bu Ningsih.” Tania mengangkat alis. “Bu N
“Sebenarnya...” Rizka memainkan ujung gamis longgarnya. “Aku sering bertanya-tanya, apakah pernikahan kami akan bertahan seperti ini.” Juned mengangkat alis. “Kenapa kamu berkata begitu?” “Kadang aku merasa seperti perempuan lajang,” ujar Rizka tiba-tiba, matanya menatap jauh ke jalanan. Juned mengerutkan kening. “Karena suamimu sering tidak di rumah?” Rizka menghela napas panjang. “Kerja shift 12 jam, pulang jam 9 malam sudah lemas. Langsung tidur, besok pagi berangkat lagi.” Tangannya memutar-mutar gelas kosong. “Aku... aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami makan bersama.” Juned menatapnya dengan pandangan penuh pertimbangan sebelum akhirnya bertanya, “Maaf kalau ini terlalu pribadi... tapi bagaimana dengan kehidupan intim kalian?” Rizka tersedak, wajahnya langsung memerah seperti bunga kana. “M-Mas Jun!” “Maaf, aku hanya khawatir,” Juned cepat menjelaskan sambil mengangkat tangan. “Hubungan fisik itu penting dalam pernikahan.” Rizka memainkan ujung kebayanya,
Tania baru saja melepas kemeja seragam polisinya, memperlihatkan tank top hitam yang menempel ketat di tubuhnya, ketika— Ding-dong! Bel rumah berbunyi nyaring. Juned langsung tegang, batangnya yang masih keras berkedut. “Siapa itu?” Tania mengerutkan kening, berjalan ke jendela sambil merapikan pakaiannya. “Rizka,” bisiknya, matanya menyipit. Juned buru-buru menarik celananya. “Aku tidak mengundangnya.” Tania tersenyum licik. “Tidak apa-apa, Sayang.” Tangannya meraih dasi polisi yang tadi terlepas. “Mungkin ini kesempatan bagus.” Rizka berdiri di depan pintu rumah Juned dengan membawa nampan berisi kue lapis yang masih hangat.Suara langkah kaki tergesa terdengar dari dalam. Pintu terbuka, memperlihatkan Tania yang masih mengenakan seragam polisi lengkap, rambutnya sedikit acak-acakan. “Mbak Tania!” Rizka tersenyum lebar. “Aku baru saja membuat kue lapis, kebetulan banyak jadi kubawa untuk kalian.” Tania menerima nampan dengan kedua tangan. “Wah, terima kasih banya
Matahari sudah tinggi ketika Juned mengunci pintu rumahnya. Bau minyak pijat masih menempel di tangannya, bekas pijatan tadi dengan Bu Reni. Perutnya keroncongan, mengingatkannya bahwa dia dan Tania belum sempat sarapan karena bangun kesiangan. Udara siang yang panas menyengat kulitnya saat ia berjalan menuju warung makan dekat pos ronda. **Warung Makan “Sari Rasa”** “Bungkus nasi ayam satu, Bu,” pinta Juned pada ibu setengah baya di balik meja kasir. Ibu pemilik warung mengernyit. “Bumbu pedas atau biasa?” “Pedas saja.” Saat menunggu pesanannya, Juned mengamati sekeliling. Warung ini asing baginya, meskipun kemarin dia baru saja kemari. Ibu pemilik warung mengangkat alis. “Mas baru di sini ya? Kok saya belum pernah lihat.” Juned mengusap keringat di pelipis. “Saya suami Tania.” Mata ibu pemilik warung langsung berbinar. “Mbak Tania yang polisi itu ya?” Juned mengangguk sambil tersenyum kecut. “Astaga! Kenapa tidak bilang dari tadi!” Ibu itu segera menambahkan po
Bu Reni menatap langit-langit klinik yang sudah kusam, tubuhnya lemas di atas meja pijat. Minyak pijat membakar kulitnya di tempat-tempat yang seharusnya tidak terbakar. “Di sini titik pentingnya, Bu,” bisik Juned, nafasnya membelai telinga Bu Reni. Tangannya—Oh Tuhan, tangannya—sudah merayap jauh melewati batas. Bu Reni seharusnya menghentikan ini. Tapi alih-alih menolak, kakinya malah terbuka lebih lebar. Suara gemerisik di luar jendela membuatnya menegang. “Ada... ada orang ya, Jun?” suaranya gemetar. Juned hanya tertawa pendek, tak menghentikan gerakannya. “Cuma daun, Bu. Santai saja.” Tapi Bu Reni bisa merasakannya—ada yang mengamati. Mungkin Rizka, tetangga depan yang sebelumnya datang ke tempat Juned.Ah—! Tekanan jari Juned tiba-tiba berubah, kembali menyentuh tempat yang bukan seharusnya. Bukan untuk kesuburan. Bukan untuk pengobatan. “Juned... ini...” protesnya lemah, tapi tubuhnya malah melengkung mendekat. Kimono tipis itu kini terbuka sepenuhnya. Dinginn
Saat sudah di dalam rumah, Juned duduk di seberang Bu Reni yang terlihat sedikit lebih santai.“Sebelum mulai pijat, saya mau tanya sesuatu, Bu,” ujar Juned, mencoba membuka percakapan dengan nada tenang.Bu Reni mengangguk, tersenyum ramah. “Silakan, Mas Juned. Ada apa?”Juned menghela napas sejenak sebelum bertanya, “Saya penasaran, Bu. Waktu ngobrol sama Tania kemarin, dia bilang di perumahan ini jarang sekali ada anak kecil. Termasuk Bu Reni sendiri, katanya belum punya anak, ya?”Mendengar itu, ekspresi Bu Reni sedikit berubah. Senyum di wajahnya tetap ada, tapi matanya terlihat sedikit redup. “Iya, Mas Juned. Saya dan suami sudah menikah lebih dari sepuluh tahun, tapi belum dikaruniai anak,” ujarnya pelan.Juned mengangguk pelan, lalu bertanya dengan hati-hati, “Kalau boleh tahu, Bu, pernah periksa ke dokter?”Bu Reni tersenyum tipis, tapi ada sedikit kegelisahan dalam ekspresinya. “Belum, Mas. Kami berdua... jujur saja, takut kalau periksa. Takut kalau ternyata salah satu dari
Pagi itu, sinar matahari sudah menembus tirai kamar saat Juned dan Tania terbangun. Tania yang biasanya bangun lebih awal justru baru membuka mata ketika jam hampir menunjukkan waktu berangkat kerja.“Astaga, udah jam segini!” seru Tania panik, langsung bangkit dari tempat tidur.Juned yang masih setengah sadar hanya bisa mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya. “Santai, masih sempat kalau buru-buru,” ujarnya dengan suara serak pagi hari.Tania segera berlari ke kamar mandi, mencuci muka dengan cepat, lalu mencari pakaian kerja tanpa banyak berpikir. Sementara itu, Juned hanya duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan kesibukan Tania yang panik.“Kamu nggak sarapan dulu?” tanya Juned ketika melihat Tania mulai mengenakan sepatu.“Aku beli aja di jalan,” jawabnya terburu-buru.Juned menghela napas, lalu berjalan ke arah Tania yang sudah siap berangkat. “Hati-hati di jalan, ya,” katanya sambil mengecup kening Tania sebelum dia melangkah keluar rumah.Tania tersenyum meski t
Tania yang sedang duduk di hadapan Juned menoleh dengan ekspresi sedikit terkejut. “Oh, iya. Kamu juga menyadarinya ya? Memang di perumahan ini hampir nggak ada anak kecil.”Juned mengernyit. “Serius? Nggak mungkin, kan? Masa dari sekian banyak rumah di sini nggak ada yang punya anak?”Tania menghela napas pelan. “Ada sih, tapi sangat jarang. Rata-rata pasangan di sini sudah lama menikah, tapi belum punya anak. Bahkan Bu Reni, yang udah menikah lebih dari sepuluh tahun, juga belum dikaruniai anak.”Juned semakin bingung. “Aneh banget. Itu Cuma kebetulan atau ada alasan lain?”Tania mengangkat bahu. “Nggak tahu juga. Bisa jadi Cuma kebetulan, bisa juga karena faktor lain. Aku juga nggak pernah nanya lebih jauh.”Juned termenung sejenak, lalu berucap pelan, “Mungkin aku bisa bantu mereka...”Tania menatap Juned dengan penuh rasa ingin tahu. “Maksud kamu?”Juned tersenyum tipis, “Aku kan bisa pijat. Ada yang namanya pijat kesuburan. Siapa tahu bisa membantu ibu-ibu di sini yang kesulita