“Tuan, apa tidak sebaiknya mengatakan yang sebenarnya pada Tuan Ray tentang Nona Gia?”
Adam—asisten pribadinya Wilson memberikan usul, tetapi Wilson langsung menggelengkan kepalanya. Setelah memastikan cucunya meninggalkan hotel tanpa ada yang memata-matai, Wilson langsung memilih pulang. Ray yang seorang pewaris harus menjaga imejnya dari kejaran para wartawan berita.
“Ray harus bisa menghargai ketulusan dan pengorbanan Gia. Dia harus tahu kalau wanita itu sangat berharga,” ucap Wilson dengan tatapan berat.
“Tapi, Grace, semakin berani dan Tuan Ray menjadi semakin tak terkendali,” balas Adam mengutarakan pendapatnya.
Wilson hanya terdiam. Pikirannya terasa penuh, hingga dia harus memijat kepalanya. Dadanya bahkan terasa sesak, hingga dia harus menghela napas panjang agar bisa melegakannya.
“Tuan, Anda tidak apa-apa?” tanya Adam cemas.
“Aku baik-baik saja, Adam!” jawab Wilson tanpa menoleh dan terus memegangi dadanya yang terasa semakin menghimpit jantung.
Adam merasakan ponselnya bergetar. Ia segera meminta izin untuk menjawab panggilan itu. Dalam sekejap, raut wajahnya berubah tegang saat mendengar suara di ujung telepon.
Setelah panggilan berakhir, Adam dengan cepat menggulir layar ponselnya. “Tuan, lihat ini,” ucapnya sambil menyerahkan ponsel kepada Wilson.
Wilson mengambil kaca mata bulat dari saku jasnya, mengenakannya dengan tergesa, lalu memeriksa layar ponsel Adam. Mata tua Wilson langsung membelalak. Sebuah video dari pesta tadi malam tersebar di media sosial.
Meski wajah Gia dan Grace dalam video itu disamarkan, komentar-komentar di bawahnya penuh hujatan kepada wanita cacat. Wajah Wilson memerah, amarah meluap. Ia melemparkan ponsel kembali pada Adam.
“Bereskan semuanya sekarang!” perintahnya dengan nada menahan amarah.
“Baik, Tuan!” jawab Adam cepat. Ia langsung menghubungi beberapa orang.
Sementara Wilson tampak semakin gelisah. Napasnya memburu, tangannya mencengkeram dada. Dadanya terasa dihimpit dan jantungnya terasa diremas kuat.
“Dadaku sakit sekali.” Wilson mengerang lirih.
“Tuan, kau baik-baik saja?” tanyanya Adam panik.
Wajah Wilson pucat, keringat dingin mengucur deras. Adam semakin panik dan segera menghentikan panggilannya. “Ke rumah sakit, sekarang!” perintah Adam kepada sopir.
Tanpa menunda, sopir itu mempercepat laju mobil. Wilson terkulai, erangan kecil terus keluar dari mulutnya. Adam menggenggam tangannya erat, berharap mereka tidak terlambat.
Sementara Gia baru selesai membasuh wajahnya. Semalaman dia tak bisa tidur. Gia menatap pantulan wajahnya pada cermin kamar mandi, seraya memikirkan cara untuk keluar dan bebas.
Rangkaian kejadian tadi malam menyadarkanya, jika dia berada di tempat yang salah. Keberadaannya tak pernah dihargai oleh Ray. Gia tersenyum yakin setelah menemukan sebuah ide untuk terbebas, lalu bergegas keluar dari kamar mandi.
Gia terkejut saat membuka pintu, Ray berada di kamarnya dengan tatapan penuh amarah. Wanita itu refleks memundurkan langkah kakinya dengan perasaan cemas.
Belum pernah dia melihat Ray menatapnya berapi-api seperti itu. Lelaki itu terus mendekat secara perlahan seolah siap menerkamnya hidup-hidup. Tenggorokan Gia terasa tercekak, membuatnya kesulitan bersuara. Hingga akhirnya Ray berhasil mengekang geraknya, menyudutkannya ke dinding.
“Apa yang kamu lakukan pada kakekku, sehingga dia begitu tunduk padamu?” tanya Ray dengan tatapan tajamnya.
“A—apa yang kamu bicarakan, Ray? Aku tak mengerti,” jawab Gia terbata dan nadanya bergetar, cemas serta takut.
Ray berdesis sinis. “Tak usah pura-pura tak mengerti. Kamu pasti tahu kalau Kakek Wilson begitu mempertahankan keberadaanmu di sisiku,” ujarnya.
Gia menelan saliva cemasnya. Ray semakin mengerikan, hingga membuatnya merasa tak berdaya. Tangan kekar Ray lantas mencengkram rahang Gia kuat.
“Katakan apa yang kau sembunyikan dariku?!” Ray membentak, matanya menatap tajam wajah Gia yang pucat. “Aku tahu kakekku tidak mudah percaya pada orang asing.”
“Aku tidak menyembunyikan apapun, Ray!” Gia merintih. Wajahnya menegang, cengkeraman Ray pada rahangnya semakin kuat.
“Jangan bohong!” Ray berteriak.
Tatapan Ray tiba-tiba bergeser ke tubuh Gia, yang masih terbalut handuk kimono tipis setelah mandi. Ia memicingkan mata, senyum sinis terukir di bibirnya.
“Kenapa ditutupi?” Ray mencibir saat Gia buru-buru menarik handuknya, mencoba menutupi bagian tubuh yang terekspos. “Apakah itu yang kau tawarkan pada kakekku untuk mendapatkan tempat di sini?”
Gia tersentak, tatapan terkejutnya beralih menjadi kemarahan. Ia merasa direndahkan oleh tuduhan keji Ray. Cengkeraman Ray pada rahangnya melemah, dan Gia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Ray, membuat wajahnya terpaksa berpaling. Pipinya memerah, sisa panas tamparan terasa menyengat. Ray mematung sesaat, matanya membelalak tak percaya. Dalam satu hari, ini adalah tamparan kedua, pertama dari kakeknya, dan sekarang dari Gia.
“Kau berani menamparku?!” Ray berteriak penuh amarah.
“Kamu sudah keterlaluan, Ray!” balas Gia dengan suara tegas. Dia hanya mempertahankan harga dirinya.
Ray terkejut. Ini pertama kalinya Gia melawan. Biasanya, Gia memilih diam dan menundukkan kepala setiap kali ia melontarkan kata-kata kasar.
“Kau pikir kamu siapa, hah? Jalang seperti kamu pasti memanfaatkan kakekku! Apa kamu memohon-mohon agar dia menikahkanku denganmu?” ucap Ray menuduh, tetapi lebih seperti penghinaan.
Gia melotot dan napasnya memburu. Belum sempat ia membalas, tatapan Ray kembali turun, menelusuri tubuhnya. Pandangan lelaki itu berubah, penuh hasrat dan gairah.
Tanpa aba-aba, Ray menarik tubuh Gia dengan kasar dan mendorongnya ke kasur. Gia tersentak, berusaha bangkit, tetapi Ray sudah menindihnya.
“Apa yang mau kau lakukan? Hentikan, Ray!” Gia meronta, kedua tangannya berusaha mendorong dada lelaki itu.
Namun, Ray tak peduli. Nafsu dan kemarahan telah menguasainya. Dalam pikirannya, Gia adalah wanita licik yang tak pantas dihormati. Gia terus melawan, tubuhnya meronta di bawah Ray.
“Lepaskan aku, Ray! Kau gila!” Gia berteriak keras. Panik dan marah menguasai dirinya.
Air mata dan teriakan Gia justru semakin memacu adrenalinnya. Ray tersenyum puas melihat Gia tersiksa. Dia tak mengizinkan Gia melawan.
“Kalau kau menyentuhku, aku tak akan diam saja, Ray. Kau akan menyesal!”
Gia menjerit keras. Tubuhnya terasa terbelah dua saat Ray memaksa masuk diikuti tawa puas. Tenaga Gia sudah terkuras habis, lemas dan tak bisa berontak lagi. Sesaat, Ray merasakan ada yang berbeda saat mencoba memaksa masuk ke dalam. Vagina Gia sangat sempit sekali, hingga ia merasakan sensasi yang luar biasa di sana. Tanpa sadar Ray mengerang nikmat, kepemilikannya merasakan kepuasan yang tiada tanding. Air mata Gia terus mengalir dan meringis kesakitan. Ray lantas menjambak rambut Gia seraya menusuk lebih dalam kepemilikannya.“Jangan munafik! Kamu pasti menikmatinya, bukan?” ejek Ray lalu bergerak secara brutal. “Ini yang kamu mau dariku? Sekarang aku memberikannya, Jalang!” Jika tubuh wanita cacat itu senikmat ini, kenapa dia mengabaikannya. Gia bukan hanya pembantu yang diperuntukan baginya, tetapi bisa menjadi budaknya, bukan? Ya, Ray menganggap Gia hanya seorang pembantu di rumahnya, bukan sebagai istri. Itu adalah penghinaan yang tepat, karena Gia sudah memaksanya menikahi
Sebelum Ray menghubungi anak buahnya, ponselnya sudah berdering keras. Nama pemanggil yang muncul di layar membuat jantungnya berpacu cepat. Adam—asisten kepercayaan Wilson. Tentu saja dia cemas, jika Adam atau kakeknya mengetahui Gia pergi dari rumah. Bibirnya bergetar cemas dan takut, hingga suaranya terdengar gagap. Namun, Ray langsung terkejut saat Adam memintanya untuk segera ke rumah sakit.Ray masih terengah-engah ketika langkahnya tiba di depan ruang perawatan intensif di rumah sakit. “Adam, apa yang terjadi?” Ray bertanya panik begitu melihat pria berjas rapi itu berdiri di dekat pintu ruangan.“Bukankah pagi tadi Tuan Wilson memarahiku?” tanya Ray lagi dengan napas tersengal.Adam tak menjawab. Dia hanya membukakan pintu ruangan rawat Wilson. Lelaki tua itu tampak lemas di atas ranjang rawat, tanpa peralatan medis di tubuhnya.“Tuan, cucumu sudah tiba,” ucap Adam melapor.Wilson membuka matanya lemas dan langsung melihat wajah cemas Ray. Meskipun Ray kesal dengan kakeknya,
Sebelum Ray tiba di bandara, anak buahnya Wilson sudah berada di sana. Dia berdiri di tengah keramaian bandara dengan rahang terkatup, matanya menyapu sekeliling seperti elang yang kehilangan mangsa. Ponselnya berdering tanpa henti, laporan dari anak buahnya masuk satu per satu. “Nona Gia tidak ada di penerbangan ke Singapura, Tuan.” “Nona Gia juga tidak naik penerbangan ke Denmark.” Ray mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. “Terus cari! Periksa setiap sudut, kamera pengawas, manifest penerbangan ... semuanya! Jangan biarkan dia lolos!” teriaknya dengan nada tegas yang mencerminkan frustasi. Namun, laporan berikutnya membuat Ray semakin geram. “Tuan, kami sudah memeriksa semua penerbangan yang dipesan atas namanya, tapi ... dia tidak ada di satu pun.” Ray membanting ponsel ke meja logam terdekat seraya memekik keras. Sontak saja beberapa penumpang di sekitar menoleh dengan pandangan khawatir. “Sialan! Dia mempermainkanku!” Ray menarik napas dalam-dalam,
“Benarkah kamu adalah cucunya Maria Laffin?” tanya seorang wanita tua yang menyambut Gia di depan pintu masuk desa.“Sepertinya memang benar, Nesa! Lihatlah wajahnya mirip dengan Maria saat masih muda,” tipal lelaki tua di samping wanita yang bertanya tadi. Tampaknya mereka sebaya. Kemudian Gia menyerahkan selembar foto pada mereka. “Ini adalah fotoku saat kecil bersama Nenek Maria,” ucapnya menunjuk gadis kecil dalam pangkuan wanita tua.Kedua pasangan itu memindai wajah Gia dan gadis kecil di sana. Bahkan lelaki tua itu harus memegangi kacamata bulatnya, memastikan tak salah melihat. Tak lama wajah tatapan mereka berbinar.“Ya Tuhan. Maria, cucumu datang,” ucap wanita tua itu dengan wajah haru. “Panggil aku Nenek Nesa. Aku tetua di kampung ini yang menggantikan nenekmu,” katanya seraya menunjuk dirinya.Kemudian dia menunjuk lelaki tua di sampingnya. “Ini suamiku, kamu bisa memanggilnya Kakek Fred,” sambung Nenek Nesa.“Terima kasih, Nenek Nesa, Kakek Fred.” Gia membungkuk hormat p
Gia tersentuh dengan kepedulian Tina dan warga desa yang mencemaskannya, hanya karena dirinya muntah. Setelah tiba di pelabuhan Gia memutuskan untuk ke klinik. Dia perlu memastikan rasa cemas akan dugaannya sendiri. “Kalau begitu aku temani Bibi Gia.” Lisa, gadis kecil itu menawarkan diri. “Walaupun aku masih kecil, tapi aku bisa membantu dan menjagamu, Bibi,” tambahnya antusias.Tampaknya Lisa sangat peduli padanya. Tina yang berada di sebelahnya pun mengangguk, begitu juga yang lainnya. Namun Gia menggeleng, lalu tersenyum.“Tidak usah, Sayang. Kamu temani dan bantu ibumu saja!” ucap Gia seraya membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat jelas wajah Lisa.“Tapi.” Suara Lisa lemah dan menunjukkan wajah protes.Gia menggeleng, lalu tersenyum. Saat dia hendak bersuara, Tina menyela, “Aku setuju dengan Lisa, Gia! Lebih baik dia ikut denganmu. Percayalah, Lisa tahu lingkungan pelabuhan ini ... kamu bisa mengandalkannya,” jelasnya.“Aku takut kamu akan tersesat dan kesulitan mencari jalan
Gia terdiam dan membeku. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan Nenek Nesa. Wanita itu menunduk mencoba mencari jawaban yang tepat.“Aku dan dia memutuskan untuk berpisah, Nek,” jawab Gia pelan sekali.Bukan tak ingin menceritakan yang sebenarnya. Menurut Gia, dia tak perlu menceritakan derita dan sakit hatinya pada orang lain. Itu sama saja membuka luka di hatinya, pikir Gia.Lebih baik fokus pada dirinya dan kandungannya saat ini. Tak ada waktu untuk mengingatnya atau mengenangnya. Gia hanya perlu mengubur semua itu dan itu adalah keputusan yang baik, yakinnya.“Jadi, dia tidak tahu kalau kamu sedang hamil?” tanya Nenek Nesa dengan suara lembut.Gia menggeleng, lalu tersenyum getir. “Lebih baik dia tak perlu tahu, Nek,” jawabnya.Kulit tangan keriputnya Nenek Nesa membelai lembut rambut Gia, hingga wanita itu mendongakan wajahnya. Nenek Nesa tersenyum memberikan dukungan. Hati Gia terasa damai, merasa diperhatikan.“Jika itu sudah menjadi keputusanmu, maka aku hanya bisa mendukungmu.
“Lisa, bagaimana kalau kamu juga ikut Bibi ke kota. Kamu bisa bersekolah di sana juga.”Gia menawarkan Lisa agar turut serta. Gadis kecil yang selalu menjadi temannya, kini sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, Lisa menggelengkan kepalanya.“Terima kasih tawarannya, Bibi Gia. Aku menghargainya, tetapi aku tak bisa meninggalkan Desa ini. Aku harus menjaga ibuku,” jawab Lisa dengan tatapan tulus.Ya, gadis itu hanya tinggal bersama ibunya. Lisa pasti tak akan tega meninggalkan ibunya seorang diri. Namun Lisa hingga ke stasiun, membantu membawakan bawaannya.Gadis itu tak hanya dekat dengan Gia, Lisa juga dekat dengan si kembar. Keduanya bahkan memeluk Lisa erat dan penuh kasih sayang. “Kalian tidak boleh nakal dan harus menjaga Ibu kalian, mengerti!” nasehatnya pada si kembar.“Tentu saja, Kak Lisa,” jawab keduanya kompak.Gia tersenyum. Charlie dan Claire seolah memiliki kakak yang begitu menyayangi keduanya. Kemudian Gia berpamitan untuk terkahir kalinya pada Lisa, Nenek Nesa dan Kakek
“Argh ... sial!” Lelaki itu memekik keras.Lemparan Claire tepat menghantam bagian belakang kepala lelaki itu. Plastik yang berisi air sabun pecah dengan bunyi plop. Cairannya langsung membasahi pakaian mahal lelaki itu dan meninggalkan buih sabun. Aroma sabun yang menusuk hidung langsung meresap ke setiap serat kainnya"Berani sekali kau!" Lelaki itu menyeringai sinis, seraya menyeka percikan air sabun yang mengenai wajahnya.“Maafkan saya, Tuan,” ucap Pengawal itu pada tuannya. “Dia adalah anak nakal ... sejak tadi mengganggu di sekitar sini.”Pengawal itu langsung bertindak. Dengan gerakan cekatan, dia menangkap Claire yang masih tertawa puas. Gadis kecil itu terlalu sibuk menikmati hasil perbuatannya hingga lengah. Tangan besar pengawal itu menjambak bagian belakang pakaiannya, menariknya seperti seekor anak kucing yang tertangkap basah.“Lepaskan aku!” teriak Claire, mencoba meronta. Tangannya mencakar kasar, tetapi pengawal itu sama sekali tak terpengaruh. Tenaganya lebih kuat.
“Aku tahu, kamu pasti sangat membenciku dan tak ingin melihatku. Tapi, harus kamu tahu ... aku benar-benar menyesali perbuatanku,” ucap Ray dengan nada rendah. “Aku terlambat menyadari kalau ternyata ... kamu sangat berharga.”Wajah Ray menunjukkan wajah sungguh-sungguh. Namun, Gia refleks tersenyum getir. Sikap Ray sekarang sangat berbeda sekali dengan yang dulu dan dia yakin sekali alasannya.“Berhentilah bersikap seperti ini, Ray. Aku tahu ini bukan dirimu! Sikapmu seperti seakan menunjukkan kalau kamu adalah pria munafik!” celetuk Gia tanpa rasa bersalah.Tatapan wanita bermata bulat itu menunjukkan rasa sakit hati yang mendalam. Sontak saja Ray terkejut dengan reaksi Gia. Bibirnya tampak bergetar dan tatapan matanya seolah menelusur dalam, seolah mencari sesuatu dalam diri Gia.“Kenapa kamu terlihat terkejut? Kamu pasti tak menyangka, jika wanita cacat yang sering kami hinakan dulu... si Pincang Gia, sekarang berani melawan.” Suara Gia bergetar menahan amarah.“Tadi kamu bilang a
“Ibu, itu dia orangnya.”Tatapan Gia langsung tertuju pada Ray yang berdiri di hadapan mobil sedan hitamnya. Claire menunjuk, saat mobil yang dikemudikan Gia mendekat gerbang sekolah. Seluruh tubuhnya terbakar dan refleks menginjak pedal rem.“Ternyata memang benar, itu adalah Ray,” batinnya.Perasaan Gia tak karuan, tetapi akal dan pikirannya bekerja lebih keras. Gia tak bisa lagi menghindar. Hanya memastikan kedua anaknya aman dan tak perlu bertemu dengan Ray.Dalam keadaan cemas dan panik, Gia mengedarkan pandangannya, mencari cara agar si kembar bisa masuk ke sekolah tanpa ketahui oleh Ray. Si kembar pun ikut mengikuti arah tatapan ibunya. Keduanya membantu mencari jalan keluar.“Sepertinya, kita bisa masuk melalui pintu gerbang samping itu,” ucap Charlie menunjuk arah samping gedung sekolah.Tatapan Gia pun tertuju ke sana. Perlahan, Gia mengarahkan kendaraannya ke arah tersebut, bertepatan dengan mobil lain yang melintas. Untunglah posisi Ray sedikit menjauh, jadi tak akan bisa
Perasaan Gia tak karuan, rasanya ingin mencecar kedua anaknya. Namun, sangat tak mungkin. Dengan perasaan cemas, dia mempelajari ulang hasil pencarian di sana.“Semuanya berawal dari nomor polisi kendaraan?” gumam Gia menemukan awal pencarian yang dilakukan si kembar pada laptop tersebut. Hasil pencarian di laptop menampilkan mobil sedan hitam metalik. Gia mencoba mengingat tentang kendaraan tersebut, mencari jawaban. Tiba-tiba, ingatan Gia tertuju pada saat menjemput si Kembar siang tadi.“Wajah mereka berubah dan seolah melarangku menoleh ke belakang,” gumam Gia penuh keyakinan. “Mungkinkah pria dewasa yang mereka maksud itu adalah Ray?”Praduganya justru semakin membuatnya bertambah cemas. Hal yang selama ini dihindarinya, kini sudah terjadi, pikirnya. Namun, tak ada pilihan selain menunggu pagi dan menanyai keduanya setelah bangun. Gia pun butuh beristirahat. Sayangnya, dia kesulitan memejamkan kedua bola matanya. Namun, rasa lelah dan cemas akhirnya membuat matanya terpejam.Ti
“Charlie, bukankah itu mobil pria arogan itu?” Claire bertanya dengan tatapan terus tertuju pada mobil sedan hitam metalik di luar sana.Tubuh Charlie seperti tersentak. Mereka seperti sedang diburu. Namun keduanya langsung berubah panik, menyadari Gia hendak menoleh. Ibu mereka hendak mengikuti arah tatapannya.“Ibu, ayo kita pulang!” seru Claire langsung menarik tangan ibunya.Gia hampir tersentak. Namun, tangan kanan dan kirinya sudah ditarik si kembar melewati arah lain. Jelas sekali mereka menghindari seseorang, pikir Gia.Akan tetapi, dia tak diberikan kesempatan bertanya. Si Kembar terus menarik kedua tangannya kuat dan hampir membuat keributan. Tentu saja ulah keduanya hampir membuatnya menabrak beberapa orang yang tengah berjalan keluar gerbang.“Hentikan!” seru Gia seraya menarik kedua tangannya.Keduanya menurut dan langsung berhenti. Namun, wajah si Kembar terlihat lebih tenang. Posisi mereka tak akan terlihat dari tempat mobil sedan itu terparkir.“Maaf, Bu,” ucap Charlie
“Charlie dan Claire, namanya. Mereka adalah anak-anaknya Gia, wanita yang sedang Anda cari.” Suara Bianca langsung menyadarkan semua pertanyaan yang muncul dalam benak Ray. Akan tetapi, dia semakin terguncang. Pikirannya menjadi tak menentu.“Kamu yakin?” tanya Ray memastikan lagi.“Tentu saja, Tuan! Aku yakin dengan informasi yang kuberikan,” jawab Bianca penuh percaya diri.Ray terdiam sejenak. Pikirannya menjelajah mundur, hingga pada pertemuan pertamanya dengan si kembar yang menurutnya menyebalkan. Bukankah saat itu, dia berada di stasiun, setelah mendapatkan kabar sinyal keberadaan Gia. Namun, sinyalnya menguap dan dia pulang dengan perasaan kesal mengingat wajah dua anak kecil yang menurutnya menyebalkan. Hatinya tiba-tiba memekik keras, kenapa mengabaikan perasaan aneh yang muncul saat dirinya melihat kemiripan pada wajah anak-anak itu. Berbagai tanya terus memenuhi benaknya, hingga Ray merasakan kepalanya hampir meledak. Andai saja saat itu dia lebih peka, mungkin dia tida
Ray tersenyum senang setelah membalas pesan yang dinamainya dengan pemilik toko buku. Langkahnya untuk menemukan Gia terasa semakin dekat. Tanpa membuang waktu, Ray langsung memerintah sopirnya untuk berbalik ke toko buku tadi.Ponselnya tiba-tiba berbunyi, tanda pesan masuk. Dengan malas, dia mengeluarkan ponselnya dan membukanya. Kedua bola mata Ray langsung membulat sempurna saat menatap file foto dari pesan yang baru saja diterimanya.“Gia?” Pesan dari Bianca, melampirkan wajah Gia. Napasnya langsung memburu dan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya langsung menekan tanda panggil.“Halo, Nona Bianca. Bagaimana Anda mendapatkan foto wanita itu?” cecar Ray langsung, tanpa berbasa basi, setelah sambungan telepon tersambung. “Beritahu aku, di mana wanita itu berada?” tambahnya tak sabar.“Tenang, Tuan Anderson! Aku akan memberikan semua informasi yang Anda butuhkan,” sahut Bianca dari balik telepon.Ray memejamkan kedua bola matanya, seraya mengatur irama jantung dan napasnya. “
“Doni, kembali ke toko buku tadi!” perintah Ray langsung.“Baik, Tuan!” sahut Doni, sopirnya.Doni tahu, majikannya sedang dalam keadaan penasaran dan tak sabar. Setelah memutar mobilnya, dia melajukan kendaraan itu dengan sedikit lebih cepat. Nahas, setelah berhenti di sana, toko itu tutup.“Apa-apaan ini?” geram Ray kesal.Ray bahkan memukul keras tempat duduknya. Wajahnya merah padam. Dia merasa dipermainkan.“Apa dia tahu aku yang membeli buku ini?” kesal Ray seraya menatap geram pada buku di sampingnya.“Sepertinya itu tidak mungkin, Tuan,” sahut Doni mencoba menenangkan diri.Sontak saja Ray langsung menatap ke arah depan. Dari cermin di atas samping kepala Doni, dia bisa melihat ekspresi sopirnya. Doni menundukkan wajahnya, merasa mengusik amarah majikannya.“Maaf, Tuan. Tapi, pemilik toko tadi tak menunjukkan jika dia mengenal Anda, Tuan,” jelas Doni hati-hati.“Apa yang membuatmu begitu yakin dia tak menunjukkan tanda seperti itu? Apa kamu pernah melihat Gia atau mengenalnya
Ray melangkah dengan kesal keluar menuju lobi sekolah. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke depan. Langkahnya berat, dipenuhi rasa frustasi yang menyelimuti pikirannya. Wajah anak kecil tadi terus menghantuinya. Terlalu mirip hingga membuat Ray tak nyaman. Bahkan kembarannya pun sangat mirip sekali."Siapa anak-anak nakal itu?" gumamnya, seraya mengangkat ponsel. Jari-jarinya menggulir cepat mencari nama kontak seseorang tanpa mengurangi laju langkahnya. "Cari tahu soal dua anak kecil yang di stasiun tempo hari itu. Aku ingin semua informasi. Jangan sampai ada yang terlewat!" Ray menutup ponselnya dengan gerakan kasar. Rasa kesal semakin mendidih di dadanya. Padahal dia ke sekolah ini bukan untuk merenungi wajah anak-anak. Tujuannya jelas, mencari Gia. Namun, lagi-lagi keberadaan Gia seperti angin, selalu terasa dekat tetapi tak pernah bisa digenggam.Tanpa sadar, Ray mendahului dengan seorang wanita saat melangkah menuruni lantai lobi menuju pijakan paling dasar. Wan
Kedua bola mata Charlie hampir keluar dari tempatnya saat melihat jelas wajah Ray. Claire yang berada di sampingnya langsung menarik tangannya. “Lari, Charlie!” Tubuh keduanya langsung melesat menerobos kerumunan murid yang lainnya. Keributan dan kekacauan terjadi di sana. Suara teriakan dan kepanikan menggema.“Hei, jangan lari! Dasar kalian, anak-anak nakal!” teriak Ray keras.Kedua netra Ray menyipit mencoba menelusur ke mana arah perginya bocah yang membuatnya kesal. Kedua tangannya mengepal dengan gigi-gigi beradu keras. Mulutnya pun mengumpat kesal. Rencananya terganggu gara-gara kedua anak itu.“Sial, siapa dua bocah nakal itu? Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi?” gerutunya. “Rencanaku mencari Gia jadi terganggu.”Sementara Charlie dan Claire bersembunyi di balik dinding menuju lorong kelas mereka. Napas keduanya terengah-engah, seraya menyandarkan tubuh mereka ke dinding. Claire mengintip ke arah lobi, memastikan pria itu tak mengejar masuk.“Sepertinya kita sudah se