Amira benar-benar harus menguatkan diri. Dia tidak tahu dimana makan putranya. Air mata terus mengalir ketika mengingat nasib yang dijalaninya.
“Anakku. Devano. Nama yang sudah Mama siapkan untuk kamu.” Amira duduk di lantai. Wanita itu hanya mengenakan dress pendek sebatas paha dengan lengan pendek di rumah kosan yang minimalis.“Mama bahkan belum melihat makam kamu. Mama harus sehat dulu.” Amira menangis sendirian di dalam rumah yang terkunci rapat.
“Aku harus keluar untuk mencari bahan makanan.” Amira beranjak dari lantai. Dia menghapus air mata dan merapikan diri. Masuk ke kamar untuk berganti dengan pakaian yang lebih sopan.
Amira memang cantik. Tubuhnya tinggi semampai dan padat terisi. Rambut hitam panjang dan bergelombang berkilau sehat terawat. Bola matanya besar dengan warna hitam pekat. Alis rapi asli dengan bulu mata lentik dan panjang. Bibirnya kecil, tetapi penuh dan seksi. Hidung mancung dengan dagu lancip dan berbelah. Dia masih memiliki satu gigi gisul yang manis ketiak tersenyum. Dengan mudah membuat pria jatuh cinta padanya.
“Mau kemana, Neng?” tanya petugas perumahan.“Di mana ada toko untuk membeli kepeluan sembako? Amira balik bertanya.
“Di depan, Neng. Apa mau saya antar?” tanya pria itu lagi.
“Apa jauh?” Amira melihat ke ujung gerbang komplek perumahan.
“Lumayan di rumah paling ujung. Dia jualan keperluan sehari-hari,” ucap pria itu.
“Apa aku boleh pijam motornya?” tanya Amira.
“Tentu saja.” Pria itu memberikan dengan senang hati pada Amira yang cantik.“Terima kasih.” Amira tersenyum. Dia mengendarai sepeda motor milik pertugas perumahan. Rambut panjang hanya digelung seadanya, tetapi tidak mengurangi kecantikan wanita itu. Wajah tanpa make up tetap menarik perhatian.
Kendaraan Amira berpapasan dengan mobil Wijaya Kusuma. Pria yang datang untuk mengawai para pekerja proyek yang bersebelahan dengan perumahan miliknya juga. Karena baru dibangun membuat harga masih murah dan bebas memilih untuk ditinggali sebelum dipernuhi para karyawan.
“Siapa wanita itu? Kenapa terlihat tidak berdandan?” tanya Wijaya Kusuma di dalam hati.
“Matanya bengkak seperti sedang menangis. Apa dia penghuni perumahan dan mendapatkan kekerasan dari suami yang bekerja di perusahaanku?” Wijaya Kusuma menoleh pada asisten pribadinya.
“Ada apa, Tuan?” tanya pria paruh baya yang mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.
“Apa perumahan khusus karyawan pabrik sudah penuh?” tanya Wijaya Kusuma.
“Bagian depan perumahan di berikan pada penghuni umum dan bagian tengah untuk pekerja proyek. Sedangkan di samping pintu utama untuk karyawan tetap. Jadi, wajar saja perumahan ini akan terisi dengan penuh,” jelas pria itu tersenyum.
“Perusahaan kita masih membuka lowongan pekerjaan hingga Pembangunan selesai dan proyek berjalan. Begitu juga dengan para penyewa dan pembeli perumahan,” lanjut pria itu.
“Kapan semua akan selesai dan bagaimana dengan pelamar di Perusahaan utam?” tanya Wijaya Kusuma.
“Berkas lamaran sudah banyak yang masuk. Anda memberikan kesempatan satu bulan dari pembukaan hingga penutupan dan waktu seleksi,” jelas Dodi.
“Ini berkas yang sudah masuk.” Dodi memerikan tab kepada Wijaya untuk memeriksa data para pelamar yang mau menjadi sekretaris pribadinya.
“Apa seorang pria bisa melakukan pekerjaan pria? Rasanya akan aneh jika diurus hingga memasang dasiku.” Wijaya menatap Dodi.
“Anda bisa melakukan percabaan,” ucap Dodi tersenyum.
“Hm. Wanita jauh lebih telaten untuk dijadikan sekretaris pribadi Anda. Cari yang sudah memiliki pengalaman,” lanjut Dodi.
“Kamu saja yang pilih beberapa kandidat ketika masa lamaran sudah ditutup,” tegas Wijaya mengembalikan tab pada Dodi.
“Baiklah. Saya memang lebih bepergalaman.” Dodi tersenyum. Pria yang sudah tidak muda lagi itu akan segera berhenti bekerja karena dia sudah memasuki usia pensiun di masa kerjanya.
“Aku tahu itu. Harusnya kamu tidak usah pensiun. Terus bekerja saja sampai tidak bisa berdiri lagi,” tegas Wijaya Kusuma.
“Ya Tuhan. Kapan aku akan menikmati masa tua bersama cucuku?” Dodi tersenyum melihat wajah cemberut Wijaya Kusuma. Pria itu sudah menemani keluarga Wijaya dari masih muda bahkan pria berkuasa itu belum lahir kedunia. Dia masih bekerja dengan orang tua lelaki itu.
“Datanglah berkunjung ke rumahku dan bawa cucu kamu untuk bermain ketika sudah tidak bekerja lagi,” ucap Wijaya Kusuma menatap pada Dodi dengan lembut.
“Tentu saja, Tuan. Saya pasti akan sangat merindukan Anda yang telah bersama dari sejak kecil. Anda sudah saya anggap seperti anak sendiri jika diizinkan,” ucap Dodi serius.
“Kamu bisa memanggil namaku seperti Ayah kepada anaknya ketika tidak jadi asisten pribadiku lagi.” Wijaya Kusuma memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela.
“Terima kasih.” Dodi tersenyum. Dia tahu benar bahwa pria di depannya sangat sibuk belajar dan bekerja sehingga tidak begitu mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang juga sangat sibuk memperkaya diri.
Mobil yang membawa Wijaya Kusuma dan Dodi sudah berhenti di halaman sebuah rumah paling mewah yang juga dijadikan kantor yang pemillik Kawasan itu. Pria tampan dan tinggi segera turun dari mobil tanpa menunggu seorang membuka pintu.
“Kita langsung berkeliling saja,” ucap Wiajay Kusuma.
“Ya.” Dodi mengikuti langkah kaki Wijaya yang panjang. Pria itu mengawasi proyek setelah bertemu dengan para pengawas dan penanggung jawab pekerjaan. Dia mengenakan helm pelindung dan jas lapangan.
“Satu bulan lagi semua akan rampung dan siap bergerak, Tuan.” Seorang pria muda melaporkan hasil pekerjaan mereka kepada Wijaya Kusuma.
“Bagus. Pastikan semua bersih sebelum proyek jalan,” tegas Wijaya Kusuma.
“Baik, Tuan.” Para mandor dan penanggungjawab menemani bos mereka berkeliling. Pria itu sangat teliti. Dia memperhatikan setiap sudut proyek dan memeriksa perumahan serta pabrik.
Amira masih berbelanja di toko yang ada di ujung perumahan. Wanita itu duduk melamun. Dia memakan cemilan yang ada di depan toko.
“Sudah lama sekali aku tidak jajan makanan pinggir jalan.” Amira tersenyum.
“Neng baru di sini ya?” tanya bibi penjual.
“Iya.” Amira tersenyum. Gadis itu sedang memakan bakwan kuah dan empek-empek ikan. Jajanan rumahan yang enak.
“Neng pasti tinggal di Kawasan elite sebelah kanan. Terlihat jelas dengan kulit putih dan bersih seperti seorang model.” Bibi penjual memperhatikan Amira. Dia bisa melihat kecantikan wanita itu, tetapi ada luka dan sedih pada tatapannya.
“Tidak. Aku tinggal di perumahan umum yang paling murah,” ucap Amira tersenyum.
“Ah, benarkah? Bagaimana bisa seorang dari kalangan biasa sangat cantik, bersih, putih dan mulus. Belum lagi tinggi badan, Neng. Itu juga seksi.” Bibi tersenyum memperhatikan tubuh montok Amira yang dilihat wanita pun sangat menggoda apalagi pria.
“Keturunan mungkin, Bi.” Amira menarik sweater untuk menutupi dadanya yang basah dan penuh oleh asi.
“Aku harus membeli sedotan dan pompa untuk membuang asi. Ini sangat menyakitkan,’ ucap Amira di dalam hati. Dia sadar bahwa dadanya jauh lebih besar dari ukuran normal karena dia sedang masa subur pemberian asi untuk anaknya yang sudah meninggal.
Semua itu efek dari program hamil dan perawatan yang dilakukan untuk memberikan yang terbaik pada putranya. Amira memang mau memberikan asi eklusif terbaik untuk Devano.
“Berapa semua, Bi? Aku sudah lama duduk di sini,” ucap Amira.
“Tidak apa-apa. Menemani Bibi. Masih sepi juga.” Bibi tersenyum.
“Kapan kamu pindah ke sini? Beli perumahan atau kontrak saja?” tanya bibi.
“Sekarang masih kontrak, Bi. Rencana mau melamar pekerjaan juga di sini,” jawab Amira.
“Ambil bagian pabrik atau perusahaan?” tanya bibi penjual.
“Rencananya di perusahaan karena aku punya pengalaman kerja menjadi sekretaris dan bagian keuangan,” jawab Amira ramah. Dia senang bisa punya teman berbicara sehingga tidak terlalu larut dalam kesedihan.
“Wah pantas saja penampilan kamu sangat menarik karena memang pernah bekerja sebagai sekretaris.” Bibi penjual pun sangat ramah dan ramai. Selalu ingin tahu segala hal untuk dijadikan bahan pembicaraan.
“Mungkin saja, Bi. Karena kita harus menjaga penampilan selama bekerja.” Amira tersenyum.
“Ini, Bi.” Amira membayar berlanjaanya.
“Terima kasih, Neng cantik. Kalau lagi bete di rumah boleh main dan nongkrong ke sini,” ucap bibi tersenyum.
“Iya, Bi. Permisi.” Amira pamit. Dia menyalakan mesin motor meninggalkan kedai penjual. Wanita itu kembali melamun. Dia ingin ke makan putranya yang tidak tahu dimana.
“Aku harus tanya bibi Nani. Mungkin tahu dimana makan Devano. Arrrgh!” Amira yang mengendarai motor sambil melamun menabrak mobil Wijaya yang sedang parkir di jalan pulang. Pria itu berhenti untuk mengawasi rumah termurah yang tetap bagus.
“Ya Tuhan. Bagaimana ini?” Amira terjatuh, tetapi dia terluka pada lutut dan pergelangan kakinya.
“Ceroboh sekali.” Wijaya Kusuma menatap pada Amira yang sudah duduk di atas rumput. Ada darah pada lutut yang putih dan bersih itu.
“Ah.” Amira merasa sakit pada pergelangan kakinya dan lutunya yang sudah merah.
“Maaf.” Amira segera berangkat dan mengangkat motor yang rebah.
“Apa Anda baik-baik saja, Tuan?” tanya Dodi memeriksa Wijaya Kusuma yang hampir saja terhimpit pintu yang ditabrak Amira ketika pria itu akan turun dari mobil.“Dia harus membayar mahal.” Wijaya Kusuma memperlihatkan jarinya yang terluka.
“Apa? Saya benar-benar tidak sengaja.” Amira semakin gugup. Dia tahu benar bahwa mobil yang ditabraknya sangat mahal. Wanita itu juga harus memperbaiki motor orang yang lecet.
“Maaf, Tuan.” Amira tanpa sengaja memegang tangan Wijaya Kusuma untuk memastikan jari pria itu terluka.“Maaf.” Tanpa sadar Amira memasukan jari terlunjuk Wijaya Kusuma ke dalam mulutnya.
“Ah.” Wijaya Kusuma terkejut, tetapi pria itu hanya diam saja tanpa penolakan. Sentuhan hangat dan tulus dari Amira memberikan desiran aneh di dalam dadanya.
“Maaf.” Amira terus meminta maaf dan membungkuk. Melepaskan tangan Wijaya yang terdiam bergitu juga dengan Dodi yang ikut bingung dengan bosnya yang membeku.
“Hitung kerugian yang dibuat oleh wanita ini. Jika dia bekerja di sini potong dengan gajinya.” Wijaya Kusuma masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.
“Apa?” Amira terkejut. Dia belum juga mendapatkan pekerjaan, tetapi sudah harus mengganti rugi mobil mahal dan motor yang dipinjamnya.
Halo, Terima kasih sudah membaca karya Akak. Semoga suka.
Dodi memperhatikan Amira yang sedang kebingungan. Wanita itu bahkan sudah melupakan rasa sakit pada kakinya yang masih berdarah. Dia sadar tidak akan mampu mengganti rugi pintu yang tergores dan jari pria yang juga terluka.“Nama dan tempat tinggal Anda serta pekerjaan, Nona?” tanya Dodi.“Amira. Aku baru saja pindah ke sini dan belum punya perkejaan. Rencanaku baru akan melamar di Perusahaan ini,” jelas Amira putus asa.“Kenapa aku sangat sial?” Amira mulai menangis. Dia kembali terduduk di jalanan. Memijit kaki yang terluka.“Apa aku benar-benar perempuan pembawa sial sehingga dibuang begitu saja? Aku kehilangan bayi, rumah dan diceraikan suami. Sekarang harus mengganti rugi mobil dan motor orang yang baru pertama kali aku pinjamkan untuk membeli kebutuhan sehari-hariku dari warung depan..” Amira menatap dengan mata basah pada Dodi yang memperhatikannya. Pria tua itu dengan sabar mendengarkan curahan isi hati Amira yang seusia dengan anaknya bahkan lebih muda.“Kenapa Tuhan begitu ja
Amira sudah selesai membuatkan makanan untuk dirinya sendiri. Wanita yang terbiasa hidup mandiri itu benar-benar bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Dia disiplin sejak kecil agar bisa mencapai kesuksesan di masa depan, tetapi Andika menghancurkan semuanya. Pria itu membuat Amira berhenti bekerja agar bisa hamil dan melahirkan.“Andika, aku harap dia mau menerima panggilan dariku.” Amira yang baru selesai makan mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Andika. Suaminya yang sudah melakukan gugatan cerai ke pengadilan karena mengikuti perintah orang tuanya.“Angkat Andika. Aku hanya mau melihat makan putraku. Aku juga mau bertanya apa kamu menyimpan foto anak kita.” Amira mulai menangis. Hari-harinya hanya dihiasi dengan air mata yang terus mengalir dan membasahi wajahnya yang cantik.“Ya Tuhan. Tolong gerakkan hati Andika untuk menerima panggilanku. Aku hanya ingin melihat makan anakku.” Amira mulai terisak. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali mengingat nasib buruk yang menimpa
Andika tiba di rumah. Pria itu sudah terlambat untuk makan malam. Dia memarkirkan mobil di garasi dan masuk ke rumah dari pintu belakang. “Kenapa kamu terlambat?” tanya Marni menghentikan langkah kaki Andika yang akan menaiki tangga menuju kamarnya.“Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor,” jawab Andika berbohong.“Kamu bukan pergi menemui wanita pembawa sial itu kan?” Marni menatap tajam pada Andika.“Aku pergi berziarah ke makam Devano,” ucap Andika.“Aku lelah, Ma dan juga lapar. Aku mau mandi.” Andika menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Pria itu lansung masuk kamar mandi.“Sebenarnya aku sangat rugi jika menceraikan Amira. Mama benar-benar tidak mengerti. Istriku itu rebutan banyak pria. Dia cantik, seksi dan juga cerdas.” Andika berada di bawah shower dengan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya.“Ah, tubuh Amira benar-benar seksi dan menggoda. Aroma manis yang selalu aku rindukan. Dia selalu mampu menyiksaku.” Andika menegang. Pria yang sudah pernah ber
Amira memeriksa saldo yang tersisa di rekeningnya. Wanita itu harus berhemat karena dia belum bekerja sehingga belum ada pemasukan.“Ya Tuhan, tolong hamba. Izinkan aku mendapatkan pekerjaan di Perusahaan Wijaya Kusuma. Gaji yang diberikan paling tinggi dari Perusahaan lain.” Amira berdoa kepada Tuhan. Dia dengan mudah bangkit dari keterpurukan. Wanita itu tidak terlahir dari keluarga kaya yang manja, tetapi terbiasa mandiri dan hidup susah.“Sebenarnya fasilitas menjadi asisten pribadi lebih wah karena tinggal bersama bos, tetapi aku tidak mau berada begitu dekat dengan seorang pria.” Amira melihat perbedaan pendapatan dan fasilitas yang didapat dari menjadi asisten pribadi Wijaya dan bekerha di bagian keuangan.“Padahal jadi sekretaris pribadi sekaligus asisten lebih menggiurkan.” Amira merebahkan tubuh di atas kasurnya. Dia menatap kertas di tangannya.“Tidak masalah. Jika diterima di bagian keuangan. Aku tidak akan bertemu dengan banyak orang. Berbeda ketika menjadi asisten pribadi
Wijaya Kusuma duduk di balik meja kerja. Pria itu masih memeriksa beberapa kandidat calon sekretarisnya. Matanya kembali tertuju pada Amira Salsabila. Wanita yang dijumpainya tanpa sengaja.“Dia adalah kandidat terkuat, tetapi kenapa lebih memilih bagian keuangan?” tanya Wijaya Kusuma pada dirinya sendiri, tetapi terdengar oleh Dodi.“Gaji sekretaris jauh lebih besar dan fasilitas banyak. Jadi, lebih menguntungkan,” ucap Wijaya.“Sekretaris pribadi jauh lebih sibuk. Dia wanita cerdas, tentu saja akan memilih di bidang keuangan karena masih memiliki waktu luang.” Dodi tersenyum.“Benar dan aku butuh wanita cerdas.” Wijaya Kusuma tersenyum.“Dia satu-satunya yang berkompeten di bidang keuangan,” ucap Dodi dan Wijaya Kusuma terdiam.“Anda bisa melihatnya kan.” Dodi mengetuk layar computer di depan Wijaya.“Aku sendiri yang akan mewawancarinya,” tegas Wijaya Kusuma.“Hanya Amira atau semua?” tanya Dodi.“Amira saja,” jawab Wijaya Kusuma.“Baik. Dia berada di nomor urut terakhir,” ucap Dodi
Andika duduk di dalam kamar. Pria itu memikirkam cara untuk bertemu dengan Amira yang tidak juga menerima panggilan darinya. “Apa maksud kamu, Amira? Apa kamu benar-benar memutuskan hubungan dengan ku?” Andika melihat foto mesra dirinya dengan Amira yang masih tersimpan di layar ponsenya.“Tidak. Amira. Aku tidak mengizinkan kamu pergi begitu saja. Kamu tetap menjadi milikku.” Andika tersenyum. Pria itu berencana untuk memabuat Amira terikat padanya.Sebuah mobil berhenti di depan rumah Andika. Ibra dan Wijaya Kusuma turun dari kendaraan mewah itu. Mereka benar-benar datang untuk bertemu dengan Amira.“Permisi.” Dokter Ibra dan Wijaya Kusuma disambut oleh bibi Nani. “Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya bibi Nani pada Ibra.“Apa benar ini rumah Ibu Amira?” Dokter Ibra balik bertanya.“Siapa yang mencari Amira?” Marni keluar dari ruang tengah.“Dokter Ibra. Silakan masuk.” Marni hanya mengenali dokter Ibra, tetapi tidak dengan Wijaya Kusuma. Pengusaha paling kaya di Indonesia.“Terima k
Andika yang mendapatkan laporan dari penjaga makan bahwa Amira berada di sana. Pria itu segera keluar rumah dan mengendarai mobilnya. Dia masih punya banyak waktu sebelum makan malam bersama keluarga Raditya.“Kita harus bertemu Amira. Kamu pasti masih mencintaiku. Dari sekian banyak pria yang menginginkan kamu. Akulah yang terpilih.” Andika mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Pria itu terlihat ugal-ugalan di jalan.“Hey, bukankah itu mobil Andika. Dia mau kemana?” tanya Ibra yang mengendarai mobil dengan santai karena dua pria itu menikmati pemandangan sore dengan bercakap-cakap. Dua orang teman yang jarang memiliki waktu bersama.“Apa dia menyusul Amira?” Wijaya Kusuma melihat pada dokter Ibra.“Bisa jadi. Apa kita juga harus ke sana?” tanya dokter Ibra.“Mungkin pria itu akan menyakiti Amira karena kita mencarinya. Ibu Marni terlihat jelas membanci Amira karena telah gagal melahirnya cucu untuknya,” jelas dokter Ibra.“Kita ikuti saja dia,” ucap Wijaya Kusuma mengambil
Marni terlihat sudah rapi dengan pakaian yang elegan. Dia menunggu di depan pintu untuk menyambut tamu Istimewa yang datang ke rumah yaitu keluarga Raditya.“Kamu cantik sekali, Sayang.” Handoko memeluk pinggang istrinya yang ramping.“Aku tahu itu. Di mana Andika? Apa dia belum turun dari kamar?” tanya Marni.“Dia akan segera turun. Belum juga pukul delapan,” jawab Handoko.“Anak itu tidak terlihat sama sekali sejak sore tadi,” ucap Marni kesal.Mobil putih dan mewah berhenti tepat di depan pintu ruang tamu rumah Marni. Sudah dipastikan itu adalah keluarga Raditya. Mereka turun dari mobil.“Selamat datang di rumah kami yang sedv erhana ini.” Marni menyambut kedatangan keluarga Raditya. Dia memeluk Cantika dan Ranika.“Apa ini putri yang cantik sesuai namanya?” Marni tersenyum dan memeluk Cantika.“Ya, Tante.” Cantika tersenyum. Dia memang sudah lama suka pada Andika. Dia juga sangat membenci Amira yang telah merebut cinta pertamanya di usia muda.“Mari masuk.” Marni benar-benar senang
Para penonton bersorak melihat anak remaja yang sudah berada di atas kuda mereka masing-masing. Keano dan Devano selalu menjadi pusat perhatian di mana pun mereka berada. Orang tua yang memang popular dan anak-anak yang juga selalu menjadi kebanggaan.“Dua anak itu benar-benar terlalu terang sehingga saingan mereka tidak terlihat.” Pujian terdengar dari mulut para penonton. Mata mereka hanya fokus pada adik beradik yang tampak kompak dengan kuda dan anak panah yang ditembakkan.“Tidak akan ada peserta yang mampu mengalkan kecepatan dan kecerdasan putra Wijaya Kusuma.” Para penonton bersorang. Dua bersaudara itu meninggakan saingan mereka dengan sangat jauh.“Tidak sulit menentukan pemenang. Jarak mereka terlalu jauh dan skor yang di miliki kedua bersaudara itusangat sempurna.” Para juri pun hanya tersenyum karena dari awal mereka sudah bisa menebak bahwa anak dari Amira dan Wijaya Kusuma sudah dapat dipastikan jadi pemenang. Mereka memiliki tempat Latihan pribadi.“Wah hebat.” Amira
Amira duduk di depan cermin. Dia memandangi wajah cantik diri yang awet muda. Wanita itu bersiap untuk menemani anak-anaknya untuk mengikuti perlombaan berkuda dan memanah. Keano dan Devano bergerak dalam satu tim.“Kenapa masih ada penjahat yang mengintaiku? Apa mereka hanya perampok biasa? Rasanya tidak mungkin.” Amira menggerai rambut hitamnya melewati pundak.“Tetapi siapa musuhku? Siapa orang yang membenciku selain Luna dan Cantika? Apa Andika?” Amira berbicara pada bayangannya yang dipantulkan oleh cermin.“Padahal sudah beberapa tahun ini kehidupanku sangat tenang. Tidak ada gangguan dari siapa pun, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba mereka datang lagi? Apa masih ada dendam?” Amira cukup gelisah dan khawatir. Dia takut kejadian yang cukup berbahaya itu akan terulang kembali. Apalagi ketika perlombaab, area pacuan kuda akan jauh lebih ramai oleh para pengunjung dan penonton.“Mama,” sapa Keano dan Devano di depan pintu kamar Amira yang terbuka.“Iya, Sayang.” Amira segera beranjak
Amira berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Wanita itu baru saja akan mematikan ponsel dan melihat panggilan dari Wijaya.“Wijaya.” Amira segera menerim panggilan dari suaminya.“Halo, Sayang.” Wijaya tersenyum pada Amira yang terlihat di layar ponsel.“Halo, Sayang. Bagaimana perkerjaan di sana? Apa kamu lelah?” tanya Amira.“Aku tidak lelah, tetapi tersiksa karena merindukan kamu,” jawab Wijaya.“Apa kamu akan tidur?” Wijaya melihat yang istri yang sudah mengenakan piyama.“Aku sedang bersiap untuk tidur,” ucap Amira merebahkan tubuhnya di kasur.“Apa kamu menggodaku?” tanya Wijaya.“Tidak, Sayang. Kamu terlihat sedang bekerja,” jawab Amira.“Ya. Aku tahu kamu akan tidur jadi dengan cepat menghubungi istriku tercinta. Bagaimana hari ini?” Wijaya tersenyum.“Hari ini menyenangkan. Aku menemani anak-anak Latihan berkuda dan memanah. Mereka benar-benar luar biasa. Aku sangat bangga.” Amira terlihat bersemangat menceritakaan kebersamaanya dengan Keano dan Devano. Dia tidak membe
Amira yang menyadari kedua putra yang masih menunggu dirinya segera menepi. Dia tidak butuh lama untuk memuaskan diri berkuda. Wanita itu merasa tidak muda lagi.“Ini menyenangkan.” Amira turun dari kuda dengan bantuan Leon.“Terima kasih,” ucap Amira.“Apa sudah selesai, Ma?” tanya Keano memegang tangan Amira.“Tentu saja, Sayang. Mama hanya perlu naik kuda dan menungganginya. Itu cukup.” Amira mengusap kepala dua putranya yang sudah memiliki postur tubuh tinggi di usia yang masih sangat muda.“Kalian berdua yang harus banyak Latihan karena akan mengikuti lombat,” ucap Amira.“Baik, Ma. Kami akan memperlihatkan penampilan terbaik di depan, Mama.” Keano sudah melompat ke atas kuda. “Wah. Keren.” Amira terkejut melihat gerakan lincah dan gesit dari Keano dan Devano.“Luar biasa. Anak Mama memang hebat.” Amira bertepuk tangan. Dia benar-benar kagum melihat kedua putranya. Wanita itu tidak pernah mengikuti Keano dan Devano ketika Latihan di luar rumah. Dia harus tetap bersama anak kembar
Wijaya telah terbang ke luar negeri. Pria itu benar-benar harus meninggalkan anak istrinya karena pertemuan yang tidak bisa diwakilkan. Dia sudah lama tidak pertemu dengan para pendukungnya sehingga dia tetap bisa terus berada pada puncak kesuksesan. Bisnis legal dan illegal dijalaninya.“Pastikan Leon tetap di rumah bersama anak dan istriku,” tegas Wijaya.“Iya, Pak. Anak-anak akan terus berada dalam pengawasan dan penjagaan,” ucap Jack.“Beberapa tahun ini hidup kita terlalu tenang. Jadi, mulai tingkatkan kembali kewaspadaan. Mungkin musuh dari masa lalu masih mencari kesempatan untuk menyerang balik,” jelas Wijaya.“Pasti, Pak.” Jack mengangguk.Amira selalu senang memasak. Dia dibantu para pelayan membuat cemilan sehat untuk anak-anaknya. Wanita itu tidak bisa hanya diam saja.“Nyonya, Anda dilarang lelah.” Leon menyusul ke dapur. Pria itu benar-benar mendapatkan tugas yang berat yaitu menjaga istri Wijaya Kusuma.“Aku tidak lelah, Leon. Aku biasa melakukan ini.” Amira tersenyum
Cantika meringkuk di atas kasur lusuh. Dia kedinginan karena curah hujan yang cukup tinggi. Wanita itu tidak memiliki selimut.“Dingin sekali. Tubuhku panas dan sakit. Luka ini akan infeksi jika tidak diobati.” Cantika beranjak dari kasur dan berusaha membuka pintu, tetapi terkunci.“Apa?” Cantika kembali ke kasur dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya.“Gudang ini sangat pengap. Bagaimana caranya aku keluar?” tanya Cantika yang mulai menangis. “Ma, Pa. Tolong aku.” Cantika terisak seorang diri.Andika mengaktifan ponsel Cantika. Dia melihat pesan dari Ranika dan beberapa panggilan yang tidak terjawab.“Aku akan meminta kembali milikku.” Andika tersenyum. Dia menghubungi ulang Ranika.“Cantika, di mana kamu?” tanya Ranika gelisah karena putrinya belum juga pulang dan hari sudah sangat laru serta hujan lebar.“Di rumahku,” jawab Andika.“Apa?” Ranika terkejut mendengarkan suara seorang pria yang tidak asing.“Siapa kamu?” tanya Ranika.“Apa Anda tidak mengenali saya lagi? Berapa tahun t
Pria yang marah dan terluka benar-benar menjadi sangat kejam. Tidak ada perasaan sama sekali. Dia menyiksa wanita dengan menggila.“Aku sangat sakit, Cantika. Kamu ditolong, tetapi tidak sadar diri. Aku dan Amira sudah sangat baik padamu di masa lalu.” Andika menggendong tubuh Cantika yang penuh luka dan memasukan ke dalam bak mandi yang terisi penuh air sabun.“Aaarhh!” Cantika tersadar karena rasa perih pada luka-luka tubuhnya.“Hah!” Wanita itu benar-benar terkejut mendapatkan dirinya yang sudah berada di dalam bak mandi.“Andika, aku mohon. Lepaskan aku. Aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan.” Tangan gemetar Cantika memegang tepi bak mandi yang licin. Tubuhnya mulai menggigil karena kesakitan dan kedinginan.“Aku akan mati,” ucap Cantika.“Tidak, Cantika. Kamu tidak boleh mati dengan mudah.” Andika menarik tubuh Cantika keluar dari bak dan meletakkan dia atas lantai yang basah serta dingin. Pria itu membungkus tubuh mantan istrinya dengan handuk.“Keringkan tubuh kamu!” An
Cantika terpaksa mengikuti kemauan Andika karena nyawa wanita itu dalam bahaya. Dia pun pergi ke rumah sang mantan suami di bawah ancaman pisau.“Kita sampai,” ucap Cantika.“Kamu juga harus ikut turun.” Andika mengambil kunci mobil dan Cantika. Pria itu keluar dari mobil dengan senyuman puas. “Andika,” teriak Cantika. Wanita itu benar-benar takut masuk ke rumah Andika. Dia pernah disiksa dan hampir mati oleh mantan suaminya.“Kenapa Wijaya tidak memenjarakan kamu?” tanya Cantika dengan nada tinggi sehingga Andika menghentikan langkah kaki dan memutar tubuh mendekati mantan istrinya.“Karena aku adalah papa kandung Devano sama seperti Luna yang ibu kandung Keano,” jawab Andika tersenyum. “Apa maksud kamu?” Cantika bingung.“Wijaya dan Amira tidak mau anak-anak mereka memiliki orang tua yang di penjara,” jelas Andika. “Apa? Bukankah kalian tidak akan pernah bisa mendapatkan Devano dan Keano?” Cantika masih bertahan di dalam mobil. Dia tidak bisa pergi kemana pun. “Tapi darah kami me
Amira pergi ke kamar mandi. Wanita itu berdiri di depan cermin untuk merapikan diri sebelum pulang ke rumah.“Amira,” sapa seorang wanita cantik dengan wajah yang tidak Indonesia lagi..“Ya.” Mahira melihat wanita asing yang tidak dikenalnya dari pantulan cermin kamar mandi.“Maaf, apa aku mengenal Anda?” tanya Amira dengan senyuman manisnya. Dia memutar tubuh menghadap Cantika. Wanita itu selalu tampil elegan karena sudah terbiasa bertemu banyak orang. Pengalaman menjadi sekretaris menjadikannya sangat percaya diri.“Tidak.” Cantika terlihat gugup.“Aku rasa juga tidak, tetapi pasti Anda mengenal saya karena suamiku yang terkenal yaitu Wijaya Kusuma.” Amira tampak bangga dengan suaminya tercinta.“Aku dengar kamu tidak pernah keluar rumah. Apa kamu tidak bosan terkurung di dalam rumah mewah itu?” tanya Cantika.“Kenapa aku harus bosan. Rumahku bagaikan di syurka. Apa pun yang aku inginkan langsung tersedia. Aku tidak susah-susah berbelanja. Jadi, apa lagi yang aku cari di luar?” Amira