Share

Kelahiran Putra Wijaya Kusuma

last update Last Updated: 2024-05-20 09:52:10

Seorang pria terlihat duduk di depan ruangan operasi. Wijaya Kususma menunggu istrinya Luna Margareta yang sedang melahirkan bayi pertama hasil buah cinta yang sudah lama diharapkan. Seorang model yang awalnya menolak untuk hamil dan melahirkan, tetapi diancam akan dihancurkan kariernya membuat wanita itu tidak bisa menolak permintaan suaminya yang berkuas.

“Selamat, Pak. Bayi Anda sudah lahir dengan jenis kelamin laki-laki.” Dokter keluar dari ruangan dan mengucapkan selamat kepada Wijaya Kusuma dengan rasa hormat dan bangga.

“Terima kasih. Kapan saya bisa bertemu dengan putra saya?” tanya Wijaya.

“Anda bisa menunggu di rungan bayi yang sudah kami siapkan,” jawab dokter.

“Suster, tolong antarkan Pak Wijaya ke ruangan,” uca[ dokter pada perawat.

“Baik, Dok. Mari, Pak.” Suster tersenyum. Wanita muda itu mencuri pandang untuk bisa melihat wajah tampan dari Wijaya Kusuma.

Wijaya mengikuti suster menuju ruang VIP khusus untuk ditempati putra selama berada di rumah sakit. Pria itu melihat ruangan yang sangat rapi, bersih dan juga lucu karena didesain untuk bayi.

“Silakan, Pak.” Suster tersenyum.

“Anda bisa pergi,” ucap Wijaya melihat pada suster yang masih menunggu di dalam ruangan.

“Ah, iya.” Suster sedikit gugup karena mendapatkan nada tinggi dari Wijaya.

“Permisi.” Wanita itu keluar dari ruangan.

Sinta yang bertugas mengantarkan bayi ke ruangan. Dia menggendong putra dari Wijaya Kusuma dengan terus berbicara dengan bayi yang baru lahir itu.

“Kamu mirip sekali dengan anak Ibu Amira yang meninggal kemarin. Kasian,” ucap Sinta membaringkan bayi Wijaya Kusuma ke dalam ranjang bayi yang tergantung dengan indah.

“Apa kabar ibu Amira? Dia mempunya air asi yang penuh. Pasti cukup untuk membuat kenyang dua bayi sekaligus.” Sinta menyentuh pipi bayi milik Wijaya. Wanita itu tidak tahu bahwa seorang memperhatikannya dari sofa yang ada di sudut ruangan.

“Nama Keano Wijaya Kusuma.” Sinta menempelkan nama Wijaya di ranjang.

“Nama yang bagus. Bayi tampan,” ucap Sinta menutup kelambu bayi.

“Aku akan menghubungi ibu Amira untuk menanyakan kabarnya. Dia pasti sangat terpukul karena kehilangan bayi yang baru dilahirkan dan bahkan tidak sempat bertemu. Mimpi indah.” Sinta duduk di sofa karena dia harus menjaga bayi hingga keluarga datang.

“Apa kamu sudah selesai?” tanya Wijaya bediri di depan Sinta.

“Ya Tuhan.” Sinta terkejut hingga langsung berdiri.

“Maaf, Pak. Saya tidak tahu Anda sudah ada di ruangan ini. Saya akan keluar.” Sinta menunduk.

“Permisi.” Sinta segera keluar dari ruangan bayi dengan cepat. Dia tahu benar bahwa Wijaya tidka terlalu suka berada satu ruangan dengan orang asing.

“Amira. Kasian sekali,” ucap Wijaya Kusuma mendekati putranya. Pria itu tersenyum karena wajah bayi yang baru lahir sangat mirip dengannya. Dia tidak perlu tes DNA atau pun ap aitu.

“Anak kesayangan Papa.” Wijaya Kusuma tersenyum. Dia masih menunggu istri yang akan bergabung dengan mereka di ruangan khusus itu.

Perawat mengetuk pintu dan itu tidak lain adalah Sinta. Dia bersama dengan rekannya mengantarkan Luna ke ruangan dengan mendorong tempat tidur pasien.

“Permisi, Pak. Kami mengantarkan istri Anda.” Sinta memasangkan air infus di tiang.

“Bagaimana kabar kamu, Luna?” tanya Wijaya Kusuma melihat pada Luna.

“Menyakitkan,” jawab Luna kesal dan membuang wajahnya. Dia tidak mau melihat Wijaya yang sudah memaksanya untuk hamil dan melahirkan sehingga dia harus vakum dari dunia modelling dan aktris.

“Mm.” Wijaya Kusuma tersenyum tipis. Dia tetap senang karena Luna sudah mau menuruti perintahnya untuk hamis dan melahirkan anak mereka.

“Nyonya, Anda harus tenang agar cepat pulih. Apa air susu Anda sudah mengalir?” tanya Sinta.

“Nanti saja. Aku mau tidur. Tubuhku lelah,” tegas Luna menutup matanya.

“Baiklah.” Sinta menutupi tubuh Luna dengan selimut.

“Pak, Anda dan istri bisa memberikan asi kepada bayi secepatnya ketika bayi sudah lapar,” ucap Sinta.

“Mm.” Wijaya Kusuma mengangguk. Dia hanya melihat pada bayi yang tampan.

“Kami permisi. Dokter akan menjelaskan lebih lanjut.” Sinta dan rekannya keluar dari ruangan. Dia melihat sekilas pada Luna yang tidak terlalu antusias pada kelahiran bayi pertama mereka. Wanita itu pun belum mennggendong bayinya sama sekali.

“Setidaknya, kami sudah punya satu bayi.” Wijaya melihat pada Luna yang sudah tidur. Pria itu pun duduk di sofa dan mulai bekerja. Di saat yang sangat sibuk pun dia masih menyempatkan diri untuk menemani Luna melahirkan putra pertama mereka.

“Aku tahu kamu terpaksa.” Wijaya memangku computer dan memeriska laporan dari asistennya akan akan segera mengambil cuti liburan sehingga pria itu butuh sekretaris pribadi yang akan mengurus semua kebutuhan dan keperluannya. Dia benar-benar tidak bisa sendiri.

Luna yang seorang model tidak pernah mengurus Wijaya. Mereka hanya bertemu di atas kasur dan ruang makan saja. Itu pun tidak rutin karena sangat sibuk. Dua orang itu benar-benar bersama selama sang istri hamil besar dan mendekati waktu melahirkan. Tidak sampai lima bulan.

“Permisi.” Perawat datang menemui Wijaya Kusuma.

“Maaf, Tuan. Anda mau bicara dengan Anda,” ucap perawat.

“Saya akan ke ruangannya.” Wijaya Kusuma beranjak dari sofa. Dia merapikan computer lipat dan menyimpan ke dalam tas.

“Mari saya antar.” Perawat memberi jalan untuk Wijaya.

Pria itu berjalan dengan tegak dan angkuh. Dia tidak menundukan kepalanya. Masuk ke ruangan dokter yang tidak jauh dari kamar bayi dan istrinya.

“Silakan, Pak.” Perawat membuka pintu untuk Wijaya.

“Kamu datang. Padahal aku bisa menemui kamu. Silakan duduk.” Dokter beranjak dari kursi kerja dan berpindah ke sofa.

“Itu karena kita teman. Aku juga tidak mau mengganggu istirahat Luna dan putraku,” ucap Wijaya Kusuma duduk di sofa.

“Terima kasih. Aku sangat bangga memiliki teman hebat dan terkenal seperti kamu. Sangat membanggakan.” Dokter mengambil berkas dan memberikan kepada Wijaya Kusuma.

“Ini adalah kondisi istri kamu. Dia sepertinya stress sejak hamil sehingga air susu belum juga mengalir. Untung saja bayi kalian lahir dengan selamat dan sehat. Sangat berbeda dengan pasienku kemarin,” jelas dokter Ibra.

“Aku memang memaksa dia untuk hamil dan melahirkan,” ucap Wijaya Kusuma.

“Ada apa dengan pasien kemarin?” Wijaya Kusuma menaikan alisnya bingung.

“Seorang pasien bernama Amira. Dia berusaha keras untuk bisa hamil dan melahirkan. Cintanya bergitu besar pada putranya sejak dari kandungan. Apa kamu tahu efek dari kasih sayang itu? Air susu sangat penuh bahkan dari usia kandungan yang baru enam bulan,” jelas Dokter Ibra tersenyum.

“Tapi, Sayang. Anaknya meninggal karena desakan keluarga yang memintanya melahirkan secara normal. Padahal tubuh pasien sangat lemah,” jelas dokter Ibra.

“Kenapa mereka sangat kejam? Bagamana dengan suaminya?” tanya Wijaya yang tiba-tiba tertarik lebih jauh untuk mengetahui tentang Amira. Padahal dia termasuk pria yang tidak peduli pada orang lain.

“Suaminya anak mama yang patuh pada orang tua sehingga tidak peduli pada istrinya. Padahal aku lihat ada cinta untuk Amira,” jawab Ibra.

“Hm.” Wijaya Kusuma melihat berkas Luna.

“Aku kasian pada wanita itu sehingga tanpa sadar menjadi penjamin utangnya. Hahaha.” Dokter Ibra tertawa.

“Apa mereka meninggalkan utang biaya rumah sakit?” tanya Wijaya Kusuma.

“Ya. Mereka memutuskan biaya setelah tahu anak yang dilahirkan Amira meninggal dunia. Meninggalkan pasien yang bahkan belum sadarkan diri,” jawab Ibra.

“Masukan saja tagihannya dengan Luna,” ucap Wijaya Kusuma.

“Ini cukup mahal.” Ibra tersenyum.

“Apa aku kekurangan uang?” tanya Wijaya Kusuma.

“Tentu saja tidak, Teman. Hanya saja dia bukan siapa-siapa kamu,” jawab dokter Ibra tersenyum.

“Santunan kepada seorang ibu yang baru kehilangan anaknya. Dia juga sudah dibuang oleh keluarga suami. Aku yakin wanita itu akan diceraikan,” ucap Wijaya Kusuma.

“Kamu benar. Wanita itu rencananya akan diceraikan. Itu yang diketahui oleh Sinta. Mereka benar-benar tidak menginginkan Amira karena dianggap pembawa sial dan merugikan,” jelas dokter Ibra.

“Bagaimana dengan Luna?” tanya Wijaya Kusuma.

“Semoga Luna segera bisa memberikan asi untuk anak kalian,” jawab dokter Ibra.

“Aku rasa dia tidak akan mau,” ucap Wijaya Kusuma.

“Kami akan mencoba memberikan susu formula terbaik, tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan air susu dari seorang ibu yang penuh cinta kepada anak mereka,” jelas dokter Ibra.

“Aku tahu itu. Aku akan mencoba meminta Luna memberikan asi untuk putraku,” tegas Wijaya Kusuma.

“Jika Luna memang tidak berniat untuk memberi asi, maka itu akan mempengaruhi susu yang dihasilkan dan efek untuk anak kalian.” Dokter Ibra menatap serius pada Wijaya Kusuma.

“Solusi lainnya adalah kamu mencari ibu susu pengganti seperti Amira. Dia pasti sangat senang bisa memberikan asinya yang berlebihan kepada seorang bayi yang usianya sama dengan anaknya yang baru meninggal,” jelas dokter Ibra.

“Aku harus tahu latar belakang seseorang untuk bisa menjadi ibu susu putraku. Aku tidak mau sembarang orang,” tegas Wijaya Kusuma.

“Benar. Putra kamu adalah bayi Istimewa. Pewaris gen dan penerus dari seorang Wijaya Kusuma.” Dokter Ibra tertawa.

“Baiklah. Selamat atas kelahiran bayi emas yang sangat kamu tunggu-tunggu.” Dokter Ibra mengulurkan tangan kepada Wijaya Kusuma. Dia orang itu berjabat tangan dan saling merangkul.

“Terima kasih.” Wijaya Kusuma keluar dari ruang kerja dokter Ibra. Pria itu kembali ke kamar anak dan istrinya. Di tangannya ada berkas tentang Kesehatan Luna dari sejak hamil hingga melahirkan. Wanita yang dicintainya yang telah menjadi istri dan ibu dari bayinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Pulang ke Rumah

    Wijaya Kusuma terkejut melihat Luna yang duduk di sofa. Wanita itu terlihat sehat dengan cepat. Dia merapikan rambut dan bajunya. Berdandan dengan perlengkapan make yang ada di tas. Di sampingnya telah berdiri seorang asisten.“Apa yang kamu lakukan?” Wijaya Kusuma melihat pada ranjang bayinya. Putra kecil yang masih terlelap dalam tidur.“Aku sudah melaksanakan perintah kamu. Hamil dan melahirkan,” jawab Luna.“Kamu masih harus memberi asi untuk putra kita,” tegas Wijaya Kusuma.“Asi aku tidak keluar. Lihatlah dadaku yang hampir kempis ini. Aku benar-benar harus melakukan perawatan segera. Aku juga sudah menghubungi dokter kecantikan langgananku,” jelas Luna.“Hah! Aku benar-benar harus membuat perut ini kembali rata.” Luna berdiri di depan cermin.“Kapan kita pulang?” tanya Luna.“Kamu bisa pulang sekarang,” jawab Wijaya berjalan mendekati putranya.“Benarkah?” Luna melihat pada asisten pribadinya yang siap sedia membantu wanita itu dalam segala hal.“Pulanglah,” tegas Wijaya.“Baik

    Last Updated : 2024-05-21
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Pertemu Pertama

    Amira benar-benar harus menguatkan diri. Dia tidak tahu dimana makan putranya. Air mata terus mengalir ketika mengingat nasib yang dijalaninya. “Anakku. Devano. Nama yang sudah Mama siapkan untuk kamu.” Amira duduk di lantai. Wanita itu hanya mengenakan dress pendek sebatas paha dengan lengan pendek di rumah kosan yang minimalis.“Mama bahkan belum melihat makam kamu. Mama harus sehat dulu.” Amira menangis sendirian di dalam rumah yang terkunci rapat.“Aku harus keluar untuk mencari bahan makanan.” Amira beranjak dari lantai. Dia menghapus air mata dan merapikan diri. Masuk ke kamar untuk berganti dengan pakaian yang lebih sopan.Amira memang cantik. Tubuhnya tinggi semampai dan padat terisi. Rambut hitam panjang dan bergelombang berkilau sehat terawat. Bola matanya besar dengan warna hitam pekat. Alis rapi asli dengan bulu mata lentik dan panjang. Bibirnya kecil, tetapi penuh dan seksi. Hidung mancung dengan dagu lancip dan berbelah. Dia masih memiliki satu gigi gisul yang manis keti

    Last Updated : 2024-05-30
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Kesedihan Amira

    Dodi memperhatikan Amira yang sedang kebingungan. Wanita itu bahkan sudah melupakan rasa sakit pada kakinya yang masih berdarah. Dia sadar tidak akan mampu mengganti rugi pintu yang tergores dan jari pria yang juga terluka.“Nama dan tempat tinggal Anda serta pekerjaan, Nona?” tanya Dodi.“Amira. Aku baru saja pindah ke sini dan belum punya perkejaan. Rencanaku baru akan melamar di Perusahaan ini,” jelas Amira putus asa.“Kenapa aku sangat sial?” Amira mulai menangis. Dia kembali terduduk di jalanan. Memijit kaki yang terluka.“Apa aku benar-benar perempuan pembawa sial sehingga dibuang begitu saja? Aku kehilangan bayi, rumah dan diceraikan suami. Sekarang harus mengganti rugi mobil dan motor orang yang baru pertama kali aku pinjamkan untuk membeli kebutuhan sehari-hariku dari warung depan..” Amira menatap dengan mata basah pada Dodi yang memperhatikannya. Pria tua itu dengan sabar mendengarkan curahan isi hati Amira yang seusia dengan anaknya bahkan lebih muda.“Kenapa Tuhan begitu ja

    Last Updated : 2024-05-31
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Mengunjungi Makam Devano

    Amira sudah selesai membuatkan makanan untuk dirinya sendiri. Wanita yang terbiasa hidup mandiri itu benar-benar bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Dia disiplin sejak kecil agar bisa mencapai kesuksesan di masa depan, tetapi Andika menghancurkan semuanya. Pria itu membuat Amira berhenti bekerja agar bisa hamil dan melahirkan.“Andika, aku harap dia mau menerima panggilan dariku.” Amira yang baru selesai makan mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Andika. Suaminya yang sudah melakukan gugatan cerai ke pengadilan karena mengikuti perintah orang tuanya.“Angkat Andika. Aku hanya mau melihat makan putraku. Aku juga mau bertanya apa kamu menyimpan foto anak kita.” Amira mulai menangis. Hari-harinya hanya dihiasi dengan air mata yang terus mengalir dan membasahi wajahnya yang cantik.“Ya Tuhan. Tolong gerakkan hati Andika untuk menerima panggilanku. Aku hanya ingin melihat makan anakku.” Amira mulai terisak. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali mengingat nasib buruk yang menimpa

    Last Updated : 2024-06-02
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Melamar Pekerjaan

    Andika tiba di rumah. Pria itu sudah terlambat untuk makan malam. Dia memarkirkan mobil di garasi dan masuk ke rumah dari pintu belakang. “Kenapa kamu terlambat?” tanya Marni menghentikan langkah kaki Andika yang akan menaiki tangga menuju kamarnya.“Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor,” jawab Andika berbohong.“Kamu bukan pergi menemui wanita pembawa sial itu kan?” Marni menatap tajam pada Andika.“Aku pergi berziarah ke makam Devano,” ucap Andika.“Aku lelah, Ma dan juga lapar. Aku mau mandi.” Andika menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Pria itu lansung masuk kamar mandi.“Sebenarnya aku sangat rugi jika menceraikan Amira. Mama benar-benar tidak mengerti. Istriku itu rebutan banyak pria. Dia cantik, seksi dan juga cerdas.” Andika berada di bawah shower dengan membiarkan air dingin membasahi tubuhnya.“Ah, tubuh Amira benar-benar seksi dan menggoda. Aroma manis yang selalu aku rindukan. Dia selalu mampu menyiksaku.” Andika menegang. Pria yang sudah pernah ber

    Last Updated : 2024-06-03
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Terluka karena Cinta

    Amira memeriksa saldo yang tersisa di rekeningnya. Wanita itu harus berhemat karena dia belum bekerja sehingga belum ada pemasukan.“Ya Tuhan, tolong hamba. Izinkan aku mendapatkan pekerjaan di Perusahaan Wijaya Kusuma. Gaji yang diberikan paling tinggi dari Perusahaan lain.” Amira berdoa kepada Tuhan. Dia dengan mudah bangkit dari keterpurukan. Wanita itu tidak terlahir dari keluarga kaya yang manja, tetapi terbiasa mandiri dan hidup susah.“Sebenarnya fasilitas menjadi asisten pribadi lebih wah karena tinggal bersama bos, tetapi aku tidak mau berada begitu dekat dengan seorang pria.” Amira melihat perbedaan pendapatan dan fasilitas yang didapat dari menjadi asisten pribadi Wijaya dan bekerha di bagian keuangan.“Padahal jadi sekretaris pribadi sekaligus asisten lebih menggiurkan.” Amira merebahkan tubuh di atas kasurnya. Dia menatap kertas di tangannya.“Tidak masalah. Jika diterima di bagian keuangan. Aku tidak akan bertemu dengan banyak orang. Berbeda ketika menjadi asisten pribadi

    Last Updated : 2024-06-04
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Amira Salsabila

    Wijaya Kusuma duduk di balik meja kerja. Pria itu masih memeriksa beberapa kandidat calon sekretarisnya. Matanya kembali tertuju pada Amira Salsabila. Wanita yang dijumpainya tanpa sengaja.“Dia adalah kandidat terkuat, tetapi kenapa lebih memilih bagian keuangan?” tanya Wijaya Kusuma pada dirinya sendiri, tetapi terdengar oleh Dodi.“Gaji sekretaris jauh lebih besar dan fasilitas banyak. Jadi, lebih menguntungkan,” ucap Wijaya.“Sekretaris pribadi jauh lebih sibuk. Dia wanita cerdas, tentu saja akan memilih di bidang keuangan karena masih memiliki waktu luang.” Dodi tersenyum.“Benar dan aku butuh wanita cerdas.” Wijaya Kusuma tersenyum.“Dia satu-satunya yang berkompeten di bidang keuangan,” ucap Dodi dan Wijaya Kusuma terdiam.“Anda bisa melihatnya kan.” Dodi mengetuk layar computer di depan Wijaya.“Aku sendiri yang akan mewawancarinya,” tegas Wijaya Kusuma.“Hanya Amira atau semua?” tanya Dodi.“Amira saja,” jawab Wijaya Kusuma.“Baik. Dia berada di nomor urut terakhir,” ucap Dodi

    Last Updated : 2024-06-06
  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Mencari Amira

    Andika duduk di dalam kamar. Pria itu memikirkam cara untuk bertemu dengan Amira yang tidak juga menerima panggilan darinya. “Apa maksud kamu, Amira? Apa kamu benar-benar memutuskan hubungan dengan ku?” Andika melihat foto mesra dirinya dengan Amira yang masih tersimpan di layar ponsenya.“Tidak. Amira. Aku tidak mengizinkan kamu pergi begitu saja. Kamu tetap menjadi milikku.” Andika tersenyum. Pria itu berencana untuk memabuat Amira terikat padanya.Sebuah mobil berhenti di depan rumah Andika. Ibra dan Wijaya Kusuma turun dari kendaraan mewah itu. Mereka benar-benar datang untuk bertemu dengan Amira.“Permisi.” Dokter Ibra dan Wijaya Kusuma disambut oleh bibi Nani. “Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya bibi Nani pada Ibra.“Apa benar ini rumah Ibu Amira?” Dokter Ibra balik bertanya.“Siapa yang mencari Amira?” Marni keluar dari ruang tengah.“Dokter Ibra. Silakan masuk.” Marni hanya mengenali dokter Ibra, tetapi tidak dengan Wijaya Kusuma. Pengusaha paling kaya di Indonesia.“Terima k

    Last Updated : 2024-06-07

Latest chapter

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 310 Pacuan Kuda

    Amira duduk di depan cermin. Dia memandangi wajah cantik diri yang awet muda. Wanita itu bersiap untuk menemani anak-anaknya untuk mengikuti perlombaan berkuda dan memanah. Keano dan Devano bergerak dalam satu tim.“Kenapa masih ada penjahat yang mengintaiku? Apa mereka hanya perampok biasa? Rasanya tidak mungkin.” Amira menggerai rambut hitamnya melewati pundak.“Tetapi siapa musuhku? Siapa orang yang membenciku selain Luna dan Cantika? Apa Andika?” Amira berbicara pada bayangannya yang dipantulkan oleh cermin.“Padahal sudah beberapa tahun ini kehidupanku sangat tenang. Tidak ada gangguan dari siapa pun, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba mereka datang lagi? Apa masih ada dendam?” Amira cukup gelisah dan khawatir. Dia takut kejadian yang cukup berbahaya itu akan terulang kembali. Apalagi ketika perlombaab, area pacuan kuda akan jauh lebih ramai oleh para pengunjung dan penonton.“Mama,” sapa Keano dan Devano di depan pintu kamar Amira yang terbuka.“Iya, Sayang.” Amira segera beranjak

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 309 Bertemu Lagi

    Amira berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur. Wanita itu baru saja akan mematikan ponsel dan melihat panggilan dari Wijaya.“Wijaya.” Amira segera menerim panggilan dari suaminya.“Halo, Sayang.” Wijaya tersenyum pada Amira yang terlihat di layar ponsel.“Halo, Sayang. Bagaimana perkerjaan di sana? Apa kamu lelah?” tanya Amira.“Aku tidak lelah, tetapi tersiksa karena merindukan kamu,” jawab Wijaya.“Apa kamu akan tidur?” Wijaya melihat yang istri yang sudah mengenakan piyama.“Aku sedang bersiap untuk tidur,” ucap Amira merebahkan tubuhnya di kasur.“Apa kamu menggodaku?” tanya Wijaya.“Tidak, Sayang. Kamu terlihat sedang bekerja,” jawab Amira.“Ya. Aku tahu kamu akan tidur jadi dengan cepat menghubungi istriku tercinta. Bagaimana hari ini?” Wijaya tersenyum.“Hari ini menyenangkan. Aku menemani anak-anak Latihan berkuda dan memanah. Mereka benar-benar luar biasa. Aku sangat bangga.” Amira terlihat bersemangat menceritakaan kebersamaanya dengan Keano dan Devano. Dia tidak membe

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 308 Anak-anak Hebat

    Amira yang menyadari kedua putra yang masih menunggu dirinya segera menepi. Dia tidak butuh lama untuk memuaskan diri berkuda. Wanita itu merasa tidak muda lagi.“Ini menyenangkan.” Amira turun dari kuda dengan bantuan Leon.“Terima kasih,” ucap Amira.“Apa sudah selesai, Ma?” tanya Keano memegang tangan Amira.“Tentu saja, Sayang. Mama hanya perlu naik kuda dan menungganginya. Itu cukup.” Amira mengusap kepala dua putranya yang sudah memiliki postur tubuh tinggi di usia yang masih sangat muda.“Kalian berdua yang harus banyak Latihan karena akan mengikuti lombat,” ucap Amira.“Baik, Ma. Kami akan memperlihatkan penampilan terbaik di depan, Mama.” Keano sudah melompat ke atas kuda. “Wah. Keren.” Amira terkejut melihat gerakan lincah dan gesit dari Keano dan Devano.“Luar biasa. Anak Mama memang hebat.” Amira bertepuk tangan. Dia benar-benar kagum melihat kedua putranya. Wanita itu tidak pernah mengikuti Keano dan Devano ketika Latihan di luar rumah. Dia harus tetap bersama anak kembar

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 307 Berkuda

    Wijaya telah terbang ke luar negeri. Pria itu benar-benar harus meninggalkan anak istrinya karena pertemuan yang tidak bisa diwakilkan. Dia sudah lama tidak pertemu dengan para pendukungnya sehingga dia tetap bisa terus berada pada puncak kesuksesan. Bisnis legal dan illegal dijalaninya.“Pastikan Leon tetap di rumah bersama anak dan istriku,” tegas Wijaya.“Iya, Pak. Anak-anak akan terus berada dalam pengawasan dan penjagaan,” ucap Jack.“Beberapa tahun ini hidup kita terlalu tenang. Jadi, mulai tingkatkan kembali kewaspadaan. Mungkin musuh dari masa lalu masih mencari kesempatan untuk menyerang balik,” jelas Wijaya.“Pasti, Pak.” Jack mengangguk.Amira selalu senang memasak. Dia dibantu para pelayan membuat cemilan sehat untuk anak-anaknya. Wanita itu tidak bisa hanya diam saja.“Nyonya, Anda dilarang lelah.” Leon menyusul ke dapur. Pria itu benar-benar mendapatkan tugas yang berat yaitu menjaga istri Wijaya Kusuma.“Aku tidak lelah, Leon. Aku biasa melakukan ini.” Amira tersenyum

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 306 Menyedihkan

    Cantika meringkuk di atas kasur lusuh. Dia kedinginan karena curah hujan yang cukup tinggi. Wanita itu tidak memiliki selimut.“Dingin sekali. Tubuhku panas dan sakit. Luka ini akan infeksi jika tidak diobati.” Cantika beranjak dari kasur dan berusaha membuka pintu, tetapi terkunci.“Apa?” Cantika kembali ke kasur dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya.“Gudang ini sangat pengap. Bagaimana caranya aku keluar?” tanya Cantika yang mulai menangis. “Ma, Pa. Tolong aku.” Cantika terisak seorang diri.Andika mengaktifan ponsel Cantika. Dia melihat pesan dari Ranika dan beberapa panggilan yang tidak terjawab.“Aku akan meminta kembali milikku.” Andika tersenyum. Dia menghubungi ulang Ranika.“Cantika, di mana kamu?” tanya Ranika gelisah karena putrinya belum juga pulang dan hari sudah sangat laru serta hujan lebar.“Di rumahku,” jawab Andika.“Apa?” Ranika terkejut mendengarkan suara seorang pria yang tidak asing.“Siapa kamu?” tanya Ranika.“Apa Anda tidak mengenali saya lagi? Berapa tahun t

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 305 Kejamnya Andika

    Pria yang marah dan terluka benar-benar menjadi sangat kejam. Tidak ada perasaan sama sekali. Dia menyiksa wanita dengan menggila.“Aku sangat sakit, Cantika. Kamu ditolong, tetapi tidak sadar diri. Aku dan Amira sudah sangat baik padamu di masa lalu.” Andika menggendong tubuh Cantika yang penuh luka dan memasukan ke dalam bak mandi yang terisi penuh air sabun.“Aaarhh!” Cantika tersadar karena rasa perih pada luka-luka tubuhnya.“Hah!” Wanita itu benar-benar terkejut mendapatkan dirinya yang sudah berada di dalam bak mandi.“Andika, aku mohon. Lepaskan aku. Aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan.” Tangan gemetar Cantika memegang tepi bak mandi yang licin. Tubuhnya mulai menggigil karena kesakitan dan kedinginan.“Aku akan mati,” ucap Cantika.“Tidak, Cantika. Kamu tidak boleh mati dengan mudah.” Andika menarik tubuh Cantika keluar dari bak dan meletakkan dia atas lantai yang basah serta dingin. Pria itu membungkus tubuh mantan istrinya dengan handuk.“Keringkan tubuh kamu!” An

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 304 Siksaan untuk Balas Dendam

    Cantika terpaksa mengikuti kemauan Andika karena nyawa wanita itu dalam bahaya. Dia pun pergi ke rumah sang mantan suami di bawah ancaman pisau.“Kita sampai,” ucap Cantika.“Kamu juga harus ikut turun.” Andika mengambil kunci mobil dan Cantika. Pria itu keluar dari mobil dengan senyuman puas. “Andika,” teriak Cantika. Wanita itu benar-benar takut masuk ke rumah Andika. Dia pernah disiksa dan hampir mati oleh mantan suaminya.“Kenapa Wijaya tidak memenjarakan kamu?” tanya Cantika dengan nada tinggi sehingga Andika menghentikan langkah kaki dan memutar tubuh mendekati mantan istrinya.“Karena aku adalah papa kandung Devano sama seperti Luna yang ibu kandung Keano,” jawab Andika tersenyum. “Apa maksud kamu?” Cantika bingung.“Wijaya dan Amira tidak mau anak-anak mereka memiliki orang tua yang di penjara,” jelas Andika. “Apa? Bukankah kalian tidak akan pernah bisa mendapatkan Devano dan Keano?” Cantika masih bertahan di dalam mobil. Dia tidak bisa pergi kemana pun. “Tapi darah kami me

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 303 Bertemu Lagi

    Amira pergi ke kamar mandi. Wanita itu berdiri di depan cermin untuk merapikan diri sebelum pulang ke rumah.“Amira,” sapa seorang wanita cantik dengan wajah yang tidak Indonesia lagi..“Ya.” Mahira melihat wanita asing yang tidak dikenalnya dari pantulan cermin kamar mandi.“Maaf, apa aku mengenal Anda?” tanya Amira dengan senyuman manisnya. Dia memutar tubuh menghadap Cantika. Wanita itu selalu tampil elegan karena sudah terbiasa bertemu banyak orang. Pengalaman menjadi sekretaris menjadikannya sangat percaya diri.“Tidak.” Cantika terlihat gugup.“Aku rasa juga tidak, tetapi pasti Anda mengenal saya karena suamiku yang terkenal yaitu Wijaya Kusuma.” Amira tampak bangga dengan suaminya tercinta.“Aku dengar kamu tidak pernah keluar rumah. Apa kamu tidak bosan terkurung di dalam rumah mewah itu?” tanya Cantika.“Kenapa aku harus bosan. Rumahku bagaikan di syurka. Apa pun yang aku inginkan langsung tersedia. Aku tidak susah-susah berbelanja. Jadi, apa lagi yang aku cari di luar?” Amira

  • Terperangkap Jadi Ibu Susu Bayi Presdir   Bab 302 Prestasi Keano dan Devano

    Cantika yang tahu bahwa Wijaya dan Amira ke sekolah pun ikut serta. Dia menjadi wakil wali dari seorang murid yang satu kelas dengan Devano. Wanita itu benar-benar tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian papa Keano.“Pa, Ma. Kita pergi ke ruangan pertemuan.” Devano memegang tangan Wijaya.“Ayo, Sayang.” Amira terus menggandeng Keano. Mereka berjalan bersama masuk ke dalam aula pertemuan.“Pak Wijaya dan ibu Amira. Ini adalah kursi Anda berdua.” Guru mengantarkan Wijaya dan Amira ke kursi paling depan yang telah disiapkan.“Terima kasih,” ucap Amira. “Apa anak-anak boleh bersama kami?” tanya Amira.“Tentu saja, Bu. Anak-anak memang duduk bersama orang tua mereka,” jawab guru.“Oh, syukurlah.” Amira tersenyum. Dia tahu dua putranya pasti tidak mau jauh darinya.Semua orang duduk di kursi masing-masing bersama anak mereka. Cantika yang tahu lokasi Wijaya pun mendapatkan tempat yang dekat dari pria itu. “Ibu Cantika, kursi Anda.” Guru mengantarkan Cantika yang menggandeng seorang anak

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status