Niken ikut terkejut mendengar suara barito yang menanyakan ada apa dan sudah bisa dia tebak itu suara siapa. Tuan Mathias geram dengan apa yang dia lihat saat ini. Niken sebenarnya kesal karena dia gagal merayu Rafly padahal tinggal sedikit lagi. Itu, dikarenakan kedatangannya Tuan Mathias. Tuan Mathias lah yang menggagalkan semuanya dan awalnya senang karena Olla yang muncul, tapi tiba-tiba Tuan Mathias. "Aku tanya kenapa ini? Kenapa wanita ini ada di sini?" tanya Tuan Mathias yang suaranya sudah menggelegar dan raut wajahnya mulai terlihat merah padam. Tuan Abraham dan Nyonya Megumi yang dikamar terkejut keduanya langsung keluar dari kamar. Nyonya Megumi sebenarnya ingin menunggu di luar tapi, dia memilih masuk kamar dikarenakan suaminya pulang. Jadi, dia mau melayani suaminya dulu dan menurut dirinya rencana dia akan berhasil tapi setelah mendengar suara teriakkan yang cukup kencang tentu saja membuat dirinya ketakutan. "Kenapa Daddy?" tanya Tuan Abraham. Nyonya Megumi berusa
Sejak kejadian Niken masuk ke dalam kamar pribadi Olla dan Rafly kondisi di rumah tidak seperti biasanya. Nyonya Megumi lebih banyak diam dan Niken juga tidak pernah ke rumah. "Abraham, mana Rafly? Kenapa dia tidak terlihat sejak saat itu. Aku menunggu dia tapi dia tidak terlihat sama sekali. Apa anakmu tidak kamu kasih tahu caranya menghormati orang yang lebih tua?" tanya Tuan Mathias dengan suara yang datar dan dingin. "Dia ada di negara Dubai. Ada pengusaha sana yang ingin bekerjasama dan aku sudah diberitahukan oleh asistennya Dion dan itu memang sangat penting Daddy. Jadi, Daddy jangan marah karena dia tidak menemui kamu waktu itu," jawab Tuan Abraham menjelaskan dimana Aldrich berada. Mendengar perkataan Tuan Abraham, Tuan Mathias hanya menganggukkan kepala. Dia juga pernah dengar dan dia pikir Tuan Abraham yang maju tapi nyatanya cucunya. Tuan Abraham melirik istrinya yang kalem tapi saat di depan mertuanya. Kalau di kamar dia terus mengoceh dan menghina menantunya itu. "O
"Iy-iya. Ini kamarku. Kamu bisa ambil kamar lain," jawab Olla dengan tegas. Dia sudah tidak mau sekamar dengan Rafly yang ada dia akan terluka dengan sikap Rafly. Mendengar perkataan dari Olla, Rafly terdiam dan dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Rafly mendekati Olla dia ingin tahu atas dasar apa Olla mengatakan hal itu. "Apa yang membuat kamu mengatakan itu? Kamu sudah mulai bertingkah ya sekarang!" Tegas Rafly yang membuat Olla menelan salivanya. Olla menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan Rafly. Olla tergagap saat ingin menjawab perkataan dari Rafly tapi saat Olla membuka mulutnya, Rafly sudah pergi. Olla hanya menatap nanar ke arah Rafly yang sudah menghilang dari pandangannya. Helaan napas panjang yang bisa Olla lakukan saat ini. Semua barang sudah di susun oleh pelayan, Olla hanya memperhatikan Rafly yang berpakaian rapi dan pergi tanpa mengatakan apapun. Bibi Ann yang melihat interaksi Rafly dan Olla semakin jauh hanya bisa berdoa dalam hati ada jala
"Tuan Mathias. Nona Olla ada di dalam kamarnya. Sebentar saya panggilkan," ucap Bibi Ann. "Tidak, saya hanya memastikan Olla baik karena saya rindu dengan dia. Apa Rafly memperlakukan Olla dengan baik selama di sini, Ann?" tanya Tuan Mathias. Bibi Ann terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Mathias. Dia bingung harus jawab apa ke Tuan Mathias. Apakah, dia harus mengatakan kejadian itu terulang lagi ke Tuan Mathias. Tuan Mathias yang melihat kegelisahan dan ketakutan dimata Bibi Ann sudah tahu ada yang tidak baik. Tuan Mathias berjalan ke sofa dan duduk. Bibi Ann yang melihat Tuan Mathias duduk mengikuti Tuan Mathias, Bibi Ann yang tidak sanggup melihat penderitaan Olla waktu itu, akhirnya menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. "Kurang ajar. Beraninya mereka. Monalisa, benar-benar keterlaluan sekali, bisa-bisanya dia membawa wanita itu ke sini dan melakukan hal sama. Rafly juga, apa mau dia?" tanya Tuan Mathias yang geram dan murka dengan perlakuan mereka ke Olla.
"Aku tidak meminta pendapat darimu, jadi jangan berkomentar, " kesal Rafly yang terlihat wajahnya sangat ketus. Edgar menepuk pundak Rafly dengan pelan. Sebagai sahabat dia ingin membantu Rafly agar menyadari kalau sahabatnya itu sudah mulai cinta tapi dia malu untuk mengungkapkannya terlalu egois. "Terserah kamu saja. Aku hanya mengingatkan jangan ada penyesalan di kemudian hari. Karena, diluar sana masih ada yang bisa menghargai wanita jika itu terjadi maka sudah dipastikan dia akan memilih pria yang menganggapnya ada dari kamu yang mengabaikannya," ucap Edgar yang segera pergi. Dia tidak mau menganggu sahabatnya itu, karena itu masalah pribadi Rafly. Rafly hanya diam, dia tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Niken yang melihat Rafly duduk terdiam mencoba untuk mendekati karena Nyonya Megumi memintanya untuk menenangkan Rafly. "Rafly, are you ok?" tanya Niken yang duduk di samping Rafly. Rafly tidak menjawabnya dia hanya diam dan menundukkan kepala ke arah bawah. Kedatangan
Mendengar pertanyaan dari Rafly tentu saja mereka semuanya yang ada di ruangan tersebut membolakan matanya. "Kamu pura-pura lupa atau apa? Bisa-bisanya kamu mengatakan itu. Seperti tidak berdosa kali kamu ya, dengar baik-baik kamu. Kalau memang kamu tidak merasa jatuh cinta, ya jangan kamu cari dia, benar nggak yang aku katakan ini?" tanya Edgar. "Benar sekali, buat apa kamu cari dia, kalau kamu tidak suka dengan dia, lebih baik kamu lupakan dia. Toh kamu juga tidak mungkin bisa mencintai dia jika dia ada di sisi kamu. Lebih baik, kamu dekatin tuh si wanita yang sudah membuat istrimu kabur, bukannya dia menantu idaman ibumu," jawab Ferrel yang membuat Rafly terdiam. Rafly tidak bisa menjawab perkataan dari Edgar karena semua yang dikatakan oleh mereka semuanya benar adanya. Sedangkan, di rumah kosong dimana Olla berada dirinya kedatangan orang tidak dikenal dengan wajahnya yang sangat menakutkan ada bekas luka di wajahnya. "Nona, serahkan uangmu. Jika kamu tidak menyerahkan uangm
"Bukan, dokter. Korban kecelakaan hamil. Dia harus dicek ke dokter kandungan. Untuk itu kami perlu tanda tangan dokter untuk persetujuannya. Atau dokter punya nomor telpon saudaranya?" tanya dokter wanita ke dokter yang mengantar Olla ke rumah sakit. "Tidak ada, karena saya tidak sengaja menabraknya. Dia lari ke jalan dan terjadilah kecelakaan itu. Saya akan tanggung jawab dan saya akan cari keluarganya nanti," jawab Adrian Mathew. Adrian lah yang menabrak Olla dan sekarang dia harus bertanggung jawab. Dokter wanita bernama Suzie menganggukkan kepala mendengar pengakuan dari Dokter Adrian. "Ya sudah, kalau dokter katakan itu. Saya akan urus semuanya. Dokter jangan khawatir, tunggu sebentar. Saya akan panggilkan dokter Monica untuk membantu korban," jawab dokter Suzie. Adrian menganggukkan kepala, dia kembali duduk dan tidak lama dokter kandungan datang. Adrian ikut masuk dia ingin tahu kondisi Olla sekaligus bertanggung jawab atas kondisi Olla. Olla yang masih pingsan diperiksa u
Rafly terus marah dan meminta Dion pergi dari hadapannya karena dia tidak mau berdekatan dengan Dion. Mau tidak mau Dion menjauh, dia juga bingung dengan kelakuan dari Rafly bosnya itu. Setiap hari dia ikut bosnya mencari Olla dia harus memakai sabun rasa strawberry yang dibelikan oleh Rafly. Seperti saat ini, dia pergi ke desa Olla bersama teman-temannya dan beberapa mafia lainnya ikut membantu tapi sampai di sana tidak ada dan lagi-lagi dia putus asa. "Dion, kita tidak mungkin menemukan istrinya di sini. Aku yakin dia masih di kota. Coba cari di sana siapa tahu saja ada. Jangan lupa kalau saat ini kita itu mafia, cari mafia saja kita mudah apa lagi ini wanita, pasti cepat ketemu," ucap Edgar. "Benar itu, kita jauh-jauh ke sini hasilnya tidak ada. Mana kita harus naik mobil ini. Apa-apaan ini, mobil bak terbuka pula. Jatuh harga diri aku kalau seperti ini. Dan kamu kenapa aroma strawberry? Apa kamu tidak punya parfum lain?" tanya Ferrel ke Dion. Saat ini mereka tidak naik mobil
Olla menutup mulutnya, dia tidak menyangka kalau Rafly memberikan dirinya cincin yang sangat indah. Cincin bertatahkan batu zamrud yang berkilau dan ditaburi berlian dan swarovski. "Ini untukmu. Aku persembahkan kepadamu, sebagai tanda bahwa aku sangat mencintaimu seumur hidupku sampai maut memisahkan kita berdua," ucap Rafly dengan suara bergetar dan tatapan mata yang berkaca-kaca. Rafly mempersiapkan hadiah kepada Olla sebagai bentuk cintanya. Sebenarnya, cintanya ke Olla sangat besar dan dia tidak akan pernah bisa digantikan apapun. Tapi, cincin ini sebagai simbol sahaja untuk Olla agar mengingat dirinya yang tulus mencintai dirinya. "Kamu romantis sekali, Sayang. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku benar-benar terharu. Aku mencintaimu juga, Sayang," balas Olla ke Rafly. Rafly tersenyum mendengar apa yang Olla katakan. Rafly segera memasangkan cincin ke Olla dan tidak lupa Rafly mengecup tangan Olla setelah memasangkan cincin tersebut. Olla menarik Rafly berdiri dan memelukn
Adrian tersadar dan dia diselamatkan. Adrian dilarikan ke rumah sakit tanpa sepengetahuan dari Rafly. Itu pemikiran Adrian tapi nyatanya, anak buah Rafly lah yang menyelamatkan Adrian atas perintah Rafli. Adrian dibawa ke rumah sakit dan diobati kenapa Rafly melakukan itu, karena Rafly melihat kalau Adrian menyelamatkan istrinya dengan tulus untuk itu dia diberikan kesempatan untuk menyelamatkan Adrian. Terlepas nantinya Adrian seperti apa dia tidak peduli. Dan sekarang semuanya sudah berakhir, nuklir sudah dibawa pergi oleh Rafly dan sahabatnya. Rafly segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Olla, sedangkan markas tersebut dihancurkan olehnya. "Ini sudah selesai, kita menang," ucap Keano saat melihat markas musuhnya dan markas musuh sahabatnya musnah. Tidak ada satu pun yang tersisa di markas musuh-musuh Rafly, semuanya terkubur di markas tersebut. Rafly saat ini berada di ruangan melihat kondisi Olla yang masih lemah. Ditemani oleh Nyonya Megumi. "Rafly, Mommy bersy
Simon berhadapan dengan Rafly dan setelah sekian bulan purnama akhirnya, keduanya saling berhadapan. "Akhirnya, kita bertemu, teman lama. Apa kamu sudah siapkan peti mati? Kalau sudah baguslah, aku sangat suka dan aku akan mempercepat kematianmu kalau begitu. Bagaimana, apakah kamu siap?" tanya Simon yang menantang Rafly. Rafly yang mendengar perkataan dari Simon tertawa. Dia tidak menyangka kalau musuhnya ini mengatakan itu. Sudah dipastikan kalau dia akan menghabisi musuhnya ini yang sudah menculik istri dan anaknya yang masih bayi terlebih lagi istrinya terluka karena musuhnya ini. "Aku sudah siapkan tapi untukmu, apakah kamu mau melihatnya? Jika mau, boleh, aku akan berikan. Tapi tunggu dulu, aku tidak akan memberikan peti mati itu untukmu. Kamu harus membayarnya terlebih dahulu, sekarang tunjukkan dimana nuklir itu kamu simpan. Tapi, sepertinya tidak perlu lah, biar aku yang mencarinya, coba lihat wajahnya ketakutan, sepertinya dia takut denganmu, Edgar. Apa kamu mau menghabis
"Rafly dengar dulu, bukan itu maksudnya. Dia berbohong. Aku tidak melukai pembantu itu eh maksudnya Olla. Bukan aku, Adrian yang melakukannya, sumpah Demi Tuhan. Bukan aku," jawab Niken yang mengatakan bukan dia yang melakukannya tapi Adrian. Niken menuduh Adrian pelakunya, tapi Rafly tidak peduli dia tahu kalau Adrian tidak berbohong dan dia juga tahu kalau yang dilakukan oleh Adrian untuk selamatkan dia tapi yang dia tidak sukai adalah Adrian menculik istri dan anaknya hingga istrinya seperti itu makanya dia menghukum Adrian sebagai balasan atas apa yang Adrian telah lakukan. "Benarkah? Dia pelakunya. Jadi, buat apa kamu di sini? Apa hubungan kamu dengan Simon dan Marcel. Apa kamu minta dia untuk menculik anak dan istriku, Niken?" tanya Rafly ke Niken dengan sorot mata tajam. Niken mundur ke belakang dia tidak mau berdekatan dengan Rafly dia takut sangat takut dan dia ingin menjauh dan melarikan diri tapi, sepertinya dia tidak bisa dan pada akhirnya, dia terkepung. Tepat di belak
Rafly akhirnya tiba di markas asli milik Simon dan Marcel. Dia tidak sedikitpun melepaskan anak buah dari Simon dan Marcel juga kedua orang yang sudah menculik Olla. Rafly ingin mendapatkan Olla kembali karena dia yakin saat ini Olla pasti ketakutan dan menunggu kedatangan dia. "Tunggulah, Sayang. Aku akan menjemputmu," gumam Rafly yang segera memakai topeng dan menghabisi seluruh anak buah dari Simon dan Marcel yang terus menembakinya. Rafly sama sekali tidak takut dengan serangan dari anak buah Simon dan Marcel, dia tetap menyerang dengan sangat barbar. Teman-teman Rafly melindungi Rafly untuk segera masuk ke dalam ruangan agar Rafly bisa menyelamatkan istrinya dan anaknya. "Aku akan melindungimu, Rafly. Kamu tetaplah tenang dan jangan takut, masuk saja aku ada di belakangmu," ucap Edgar yang mengatakan kepada Rafly untuk segera masuk dan mencari keberadaan Olla dan bayi kembar yang entah dimana keberadaannya.Rafly yang mendengar perkataan dari Edgar menganggukkan kepala, Rafly
Olla masih tidak beranjak dari tempat tidurnya, Olla masih menenangkan bayi kembarnya yang masih menangis. Dengan tenang dan tidak senandung kecil dari Olla, perlahan tangisan bayi tersebut mulai reda dan mereka kembali tertidur. Olla merasakan kepalanya sangat pusing dan pada akhirnya Olla yang tidak tahan menahan semua rasa sakitnya pingsan. Olla manusia biasa, dia bisa tidak tahan rasa sakit di bagian perutnya yang teramat sakit. Meihat Olla pingsan, Adrian semakin panik, dia mencoba untuk memeriksa Olla namun hanya periksa diluar tidak sampai menyeluruh. Badan Olla terasa panas dan itu sangat tinggi."Kapan dokter itu datang, apa masih lama?" tanya Adrian yang panik. "Sabarlah, mereka akan sampai. Kamu dokter harusnya tahu apa yang akan kamu lakukan," jawab Marcel yang meninggalkan Olla dan Adrian. Adrian mendengar perkataan Marcel kesal, dia marah karena Marcel cuek dengan Olla. Marcel seperti tidak peduli dengan Olla begitu juga Simon. Keduanya keluar meninggalkan Olla yang
Olla dipukul dan di tampar oleh Niken dengan cukup kuat hingga Olla harus terbangun dan dia masih dihajar oleh Niken tanpa belas kasihan padanya. Olla yang baru saja melahirkan merasakan sakit di perutnya. Sembari memegang perut dltujuannya untuk melindungi perutnya yang ditendang tanpa belas kasihan.Adrian segera mendekati Niken dan menarik Niken. Adrian tidak melihat Niken itu wanita atau tidak. Adrian membalas apa yang telah Niken lakukan ke Olla. Tindakan Adrian diperhatikan oleh Marcel dan Simon. Keduanya hanya memandang ke arah ketiganya tanpa ada niat untuk melerai. Olla menangis merasakan sakit di tubuhnya, terlebih lagi dirinya tidak bisa bergerak. Sesuatu yang dia rasakan keluar dari dalam tubuhnya mengalir ke paha dan kakinya. Olla menggelengkan kepala melihatnya. "Gila kamu, Niken. Kenapa kamu memukulnya, apa salah dia, berani-beraninya kamu melakukan itu kepadanya, tidak bisakah kamu sedikit saja berbelas kasihan dengannya!" teriak Adrian yang mencoba untuk membantu O
Olla hanya bisa meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berapa lama lagi dia di sini. Si kembar sudah tidak menangis, mereka kembali tertidur. Adrian kembali masuk ke ruangan di mana ada Niken dan Simon serta Marcel. Simon sudah mendapatkan aduan dari anak buahnya dan dia kesal dengan Adrian. "Masih bisa kamu datang ke sini setelah apa yang kamu lakukan dengan tahananku," protes Simon. Suara Simon terdengar dingin saat dia menatap Adrian. Simon kesal karena Adrian membuat ketidaknyamanan tawanannya. "Aku salah jika melihat dia?" tanya Adrian. Niken memandang ke arah Adrian dan Simon bergantian. Dia heran kenapa Simon marah dengan Adrian. "Apa yang sudah kamu lakukan? Apa kamu membuat masalah, tawanan apa yang dikatakan oleh Simon? Kamu membawa tawanan ke sini?" tanya Niken. Niken tidak tahu jika Olla ada di sini. Karena dia berpikir Olla dibawa ke tempat lain, nyatanya tidak. "Olla di sini," sahut Adrian. Niken membolakan matanya, tidak menyangka kalau Olla bisa di sini.
"Apa kabar Olla. Maaf kalau kamu harus dibawa ke sini. Aku ...." Adrian sejenak menghentikan ucapannya dan dia melangkahkan kakinya. Namun, tangan Olla mengangkat ke arah Adrian. Tatapan mata Olla tajam, dia tidak menyangka kalau Adrian dalang dari semua ini. Adrian terkejut melihat reaksi dari Olla yang menolak dirinya mendekatinya. "Olla, ka-kamu kenapa?" tanya Adrian yang bingung kenapa sikap Olla seperti itu. Biasanya, Olla tidak seperti itu dan dia sangat bersahabat tapi kini tidak. Adrian masih berdiri di depan pintu dia tidak berani mendekati Olla. Adrian melihat si kembar yang tertidur. Baru kali ini dia melihat si kembar. Mereka tampan dan lucu. "Anakmu lucu, akhirnya aku bisa melihat mereka. Waktu di dalam kandungan aku ingin melihat mereka bertiga, akhirnya aku bisa melihatnya. Bisa aku menyentuhnya?" tanya Adrian. Olla masih belum menjawab dia masih menatap ke arah Adrian. Kebencian memuncak di hatinya. Adrian yang dia anggap teman bisa-bisanya menculiknya dan si ke