"Sudah 5 tahun kalian menikah, tapi belum juga memiliki anak," celetuk Fara.
Alex sudah ingin pergi dari ruang makan, tapi tangannya di tahan oleh Haniya. "Kapan kalian akan punya anak?" tanya Farhan pada anak dan menantunya. "Ayah, kalau Ayah ke sini hanya untuk membahas anak, sebaiknya Ayah dan Ibu pulang saja." Alex bukannya menjawab pertanyaan Ayahnya, tapi mengusir orang tuanya secara terang-terangan. "Sayang." Haniya menatap sendu ke arah suaminya. Haniya tidak ingin ada pertengkaran terus-menerus setiap kali mereka makan bersama. Haniya tahu jika pernikahannya dengan Alex sudah lima tahun lamanya, tapi Haniya memang tidak ingin mengandung dan melahirkan, karena Haniya selalu menjaga tubuh idealnya. Karena kebanyakan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan memiliki tubuh yang besar dan jelek, Haniya tidak ingin seperti itu. "Apa susahnya memiliki anak," sindir Fara pada menantunya. Fara tahu jika menantunya, Haniya, tidak ingin melahirkan karena Haniya adalah seorang model terkenal di negaranya. Haniya begitu menjaga tubuh bagusnya dan tubuh seksinya, tapi Fara tidak bisa seperti itu, Fara ingin memiliki cucu dari anak pertamanya, Alex. "Adinda sudah memberikan Ayah dan Ibu cucu, apa itu masih kurang?" Alex tidak mengerti dengan pikiran orang tuanya. "Kau tau Adinda memiliki anak perempuan, kita membutuhkan cucu laki-laki untuk penerus kita semua!" tegas Farhan. Farhan dan Fara adalah orang tuanya Alex dan Adinda. Mereka adalah keluarga Mahendra Company, mereka memiliki perusahaan dan bisnis yang sukses di negaranya. Namun, para pesaing bisnis sedang mengkhawatirkan keturunan Mahendra yang mungkin tidak akan memiliki keturunan laki-laki di generasi berikutnya. Seperti itulah jika lahir dari keluarga pebisnis, pasti harus memiliki keturunan untuk melanjutkan bisnis mereka. "Aku harus pergi ke kantor, hari ini ada meeting." Alex benar-benar tidak menghiraukan pembahasan orang tuanya. Alex bangun dari duduknya dan menuntun Haniya juga untuk pergi dari ruangan itu, Farhan dan Fara semakin muak memiliki menantu seperti Haniya. Walaupun Haniya terlahir dari keluarga konglomerat dalam dunia hiburan, tapi keturunan sangat dibutuhkan bagi keluarga Mahendra. ** Di sebuah ruang kerja. Alex sudah sampai di kantornya, kantor keluarga Mahendra Company. Alex menampakkan wajah kesal membuat para pegawai, asisten, dan sekertaris harus berhati-hati saat berbicara, mereka semua sudah mengetahui ekspresi wajah Bosnya. "Permisi." Hans sudah mengetuk pintu ruangan Bosnya dan segera masuk ke dalam. Alex hanya menatap datar ke arah Hans. "Ini berkas yang Bos cari selama ini." Hans menyodorkan sebuah berkas di atas meja Bosnya. Alex mengambil berkas itu dan membuka berkas itu, Hans masih berdiri dan terdiam di depan meja kerjanya Alex. Hans menunggu respon Alex tentang berkas tersebut, karena Hans yakin jika Alex akan memerintahkan untuk berkas tersebut. "Culik gadis ini!" titah Alex pada asistennya. "E ... Eh, Bos?" Hans terkejut saat menerima perintah itu dari Bosnya. Alex menatap Hans dengan tatapan menyeramkan seolah-olah akan menerkam. "Ba ... Baik." Hans akhirnya mengiyakan perintah Bosnya. "Bawa gadis itu ke Apartemen yang baru ku beli!" titah Alex lagi. "Baik." Hans tidak banyak bicara dan akan selalu menuruti apa yang di perintahkan Bosnya. Hans keluar setelah mendapatkan perintah dari Alex, sekilas Alex melirik ke arah bingkai foto yang ada dimeja kerjanya. "Aku akan menuruti keinginan kamu, Sayang." Alex mengajak foto yang ada didalam bingkai foto tersebut. Didalam bingkai foto tersebut adalah foto pernikahannya Alex dengan Haniya, lima tahun yang lalu Alex menikahi Haniya, gadis yang sangat dicintai oleh Alex. Alex tidak menyangka jika Haniya tidak ingin memiliki anak setelah mereka menikah, bahkan Haniya memiliki ide untuk Alex menikahi gadis lain demi mendapatkan keturunan, ide Haniya tidak masuk akal. Namun, Alex muak dengan pembicaraan orang tuanya yang selalu membahas keturunan, kali ini sepertinya Alex akan menuruti ide Haniya, menikahi gadis lain. "Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu, Haniya." Cintanya Alex pada istrinya sangat besar. Alex mengambil ponselnya dan mulai mengirim pesan pada Hans, setelah itu Alex mulai bekerja. ** Pukul 7 malam. Cassandra baru saja selesai bekerja di sebuah restoran. Cassandra akan pergi dengan sahabatnya yang bernama Elina. Namun, saat Cassandra sedang menunggu Elina di dekat restoran, tiba-tiba saja diculik, Cassandra mendapatkan bekapan pada mulutnya menggunakan sebuah kain, dan kain itu seperti diberikan obat bius membuat Cassandra pingsan sejenak. Cassandra di bawa pergi oleh beberapa pria menggunakan mobil mewah, dan Cassandra tidak berontak sama sekali karena Cassandra berada dibawah obat bius pada kain tersebut. 'Kenapa Bos culik gadis ini? Apa Bos ingin melakukan pelecehan?' tanya Hans didalam hatinya setelah berhasil menculik gadis yang di perintahkan oleh Bosnya. Hans dan beberapa anak buahnya mulai pergi dari restoran itu, mereka akan menuju ke sebuah Apartemen milik Bosnya, Alex. Setelah beberapa saat kemudian, mobil mewah itu sampai di area parkir Apartemen mewah itu, dan Hans segera membawa gadis yang di culik itu ke unit milik Bosnya. Setelah sampai di dalam unit, gadis itu di dudukkan pada sebuah sofa. Hans berdiri di samping sofa di mana Alex sedang duduk, Alex dan gadis tersebut saling berhadapan. "Sampai kapan dia akan bangun?" tanya Alex pada asistennya. "Sebentar lagi," jawab Hans. Lima menit kemudian. Cassandra membuka matanya setelah kain menutupi wajahnya, dan Cassandra terkejut saat melihat dua pria yang ada didepannya. "A ... Aku di mana?" tanya Cassandra. Alex tidak menghiraukan pertanyaan itu, tapi Alex langsung memberikan penawaran. "Bayar semua hutang keluargamu, atau menikah denganku lalu berikan keturunan, maka semua hutang keluargamu akan lunas." Cassandra terdiam dan terkejut dengan semua itu. Menikah? Menikah dengan pria yang tidak dikenal? Oh Tuhan, semalam Cassandra mimpi apa? Huh, Cassandra benar-benar dibuat bingung oleh pria yang ada didepannya. "CEPAT KATAKAN!" Alex langsung menggebrak meja yang ada didepannya. "Oh, Tuhan!" Cassandra terkejut. Wajahnya Cassandra benar-benar pucat, saat ini Cassandra sedang ketakutan dan bingung. 'Oh, ternyata ini tujuan Bos,' batin Hans yang sudah tahu tujuan Bosnya kenapa menculik gadis itu. Alex mulai mengeluarkan beberapa kertas dan melemparkannya pada Cassandra. Alex meminta Cassandra untuk membaca isi dari lembaran kertas tersebut, dan Cassandra segera membaca itu satu persatu dengan teliti. "Hu ... Hutang orang tuaku sebanyak ini?" Cassandra terkejut saat mengetahui hutang orang tuanya yang sangat banyak dan sepertinya sudah mencapai satu milyar. "Ya, kau mau bayar atau..." "Mereka yang berhutang, kenapa kau menagih padaku!" Tiba-tiba saja Cassandra mengatakan itu seolah-olah memiliki nyali. Alex menatap tajam ke arah Cassandra. Cassandra mulai menelan salivanya dengan susah payah, Cassandra kembali takut oleh pria itu. "Ja ... Jadi kalian rentenir? Kalian culik aku ke sini karena hutang orang tuaku?" Cassandra mengatakan itu guna menenangkan dirinya supaya tidak terlalu takut."Rentenir atau bukan, itu bukan urusan kau!" sentak Alex.Cassandra terdiam dengan tubuh yang bergetar, Cassandra sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi."Jadi bagaimana?" tanya Alex seolah-olah tidak sabar menunggu jawaban."Gimana apanya?" Cassandra berbalik tanya."Oh Tuhan!" Alex ingin sekali menghantam meja yang ada di depannya. Namun, tidak jadi, Alex harus sabar dan terus sabar.Cassandra melirik ke arah sekitar, Cassandra ingin sekali pergi dari sini. Namun, sepertinya sangat sulit."Kau akan lunasi semua hutang keluargamu hari ini, atau menikah denganku!" Alex kembali membahas itu."Menikah? Aku tidak pernah terpikir menikah dengan pria asing," tutur Cassandra dengan sangat enteng."Kau pikir, saya sudi menikahi kau!" Alex mulai emosi.Seketika suasana hening, semua orang yang ada di sana sepertinya sedang berpikir keras."Cepat! Saya tidak punya waktu!" Alex kembali berteriak."Be ... Berikan aku waktu untuk memikirkan ini," ucap Cassandra."Oke, satu detik!" "Hah? Yang be
Keesokan harinya. Pukul 12 siang di sebuah restoran yang bernama BASS RESTORAN."Ke mana Cassandra? Apa hari ini dia libur?" tanya Damar."Seharusnya tidak libur, Pak," jawab Elina."Maksudnya?" Damar tidak paham.Elina terlihat bingung menyampaikannya, apa lagi saat ini mereka dikelilingi beberapa rekan kerja lainnya."Elina, tolong ke ruangan saya sekarang!" titah Damar."Baik, Pak." Elina mengangguk.Damar terlebih dahulu melangkah menuju ruangannya, dan Elina mengikuti dari belakang. Sampai di dalam ruangan, Damar duduk di kursi kerjanya setelah menutup pintu ruangan, lalu Elina berdiri di depan meja kerja."Ke mana Kirana?" tanya Damar."Aku enggak tau, Damar," jawab Elina.Saat ini Damar dan Elina tidak berbicara formal, karena mereka sudah berada di ruangan tertutup, ruangan yang hanya ada mereka berdua di sana."Semalam bukannya kalian mau makan malam bareng, ya?""Ya, semalam masih ada pelanggan yang harus ku selesaikan, setelah aku selesai, aku enggak liat Kirana di tempat b
Cassandra masih menggunakan gaun pengantin dan wajahnya masih penuh riasan, tapi riasan itu sudah tidak beraturan lagi karena sedari tadi Cassandra terus menangis membuat riasan di wajah cantiknya hancur."Andai Ayah dan Ibu enggak punya hutang, pasti aku enggak perlu jadi istri kedua." Cassandra terus membahas itu dengan seorang diri di Apartemen.Cassandra berguling-guling di lantai yang penuh bunga tabur, dan tidak lama kemudian suara langkah kaki terdengar di telinganya. Cassandra menoleh ke arah pintu kamar dan sosok pria sudah berdiri di sana."Kenapa? Kau menyesal menikah denganku?" tanya Alex yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamar.Cassandra mulai bangun dari lantai dan duduk di lantai, Cassandra juga mengusap air matanya dengan tangannya."Aku lelah, aku ingin istirahat." Cassandra bangun dari duduk dan ingin melangkah menuju kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti.Alex tertawa dan berkata. "Kau pikir malam ini kita akan malam pertama?"Alex pastinya sudah t
Keesokan harinya. Pukul 12 siang di ruangan meeting. Alex baru saja meeting dengan Mulan. Namun, tiba-tiba saja Haniya masuk ke ruangan itu."Sayang," panggil Haniya dengan sangat manja dan mulai duduk dipangkuan suaminya.Alex tersenyum lebar, pastinya Alex sangat senang dengan kedatangan Haniya. Namun, Mulan menatap sinis ke arah suami istri yang ada didepannya."Bukannya harus profesional kalau sedang di kantor," sindir Mulan."Ini jam makan siang jadi terserah," sahut Haniya."Kita udah selesai meeting, kau bisa pergi dari kantorku!" Alex mengusir wanita yang didepannya.Mulan menatap kesal ke arah Alex."Sepertinya kamu tidak bisa melupakan suamiku." Haniya berbalik menyindir."Hah?" Mulan mengernyitkan dahinya."Sudah, jangan bahas ini." Alex tidak suka pembahasan itu.Haniya bangun dari pangkuan Alex dan Alex bangun dari duduknya, Alex menggenggam lengan Haniya dengan erat."Tidak perlu seperti itu, Haniya. Seharusnya kau segera berikan keturunan untuk keluarga Mahendra sebelum
"Be ... Bercinta?" Cassandra membulatkan matanya."Ya, kenapa? Kau sudah lama tidak bercinta dengan pria, kan?" tanya Alex.Pertanyaan Alex membuat Cassandra terus membulatkan matanya. Cassandra merasa jika Alex terlalu merendahkan harga dirinya. Namun, saat ini bukan saatnya membahas harga diri karena harga diri Cassandra sudah hilang sejak dirinya menikah dengan Alex."Aku harus mandi dan membuat tubuhku wangi." Cassandra tidak berniat menjawab pertanyaan itu, Cassandra segera pergi menuju kamar mandi.Alex hanya bisa menatap kepergian Cassandra dengan otak yang sedang berpikir."Kapan terakhir kalinya dia melakukan hubungan suami istri?" tanya Alex yang di tunjukkan pada istri keduanya."Kenapa aku harus mikirin itu." Alex geleng-geleng kepalanya.Alex segera merogoh ponselnya dan mulai mengotak-atik. Alex berniat mengirim pesan pada istri pertama, Haniya."Bercinta? Bahkan aku belum pernah melepas keperawanan aku," gumam Cassandra yang sudah berada didalam kamar mandi.Sebenarnya
Seharusnya Alex tidak perlu bertanya seperti itu pada Cassandra. Jelas saja Cassandra marah, tapi Cassandra tidak ingin menunjukkannya."Marah? Untuk apa marah." Cassandra mengalihkan pandangannya. "Sebaiknya Om segera pulang dan temui istri Om," sambungnya."Kamu tau kalau tadi yang telepon adalah istriku?""Ya iya, tadi Om panggil istri, pastinya itu Nyonya Haniya.""Kenapa harus panggil Nyonya?" Alex sedikit bingung dengan panggilan itu."Udah deh, jangan bahas sesuatu yang enggak penting, sebaiknya Om pergi temui istri Om, sepertinya dia sangat membutuhkanmu, Om." Cassandra mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar.Cassandra bukannya mengusir Alex, tapi Cassandra tidak ingin mendapatkan masalah karena Alex datang terlambat menemui Haniya."Maafkan aku." Alex meminta maaf."Berhenti minta maaf, udah wajar bagi suami yang punya dua istri." Cassandra terdengar menyindir suaminya."Hm, oke." Alex mengangguk dan tidak ingin memperpanjang semuanya.Alex pergi dari Apartemen, tapi sebe
"I ... Iya." Cassandra langsung bangkit dari baringnya dan segera berlari menuju kamar.Cassandra tidak ingin membuat Alex marah. Namun, saat Cassandra sampai di kamar. Alex masih memejamkan matanya, Alex masih tertidur.Cassandra mengernyitkan dahinya. "Apa dia mengigau?" Cassandra mulai bermonolog sendiri.Cassandra mulai duduk ditepi ranjang dan memperhatikan wajah Alex. Cassandra tersenyum dengan malu-malu, tangannya mulai menyentuh hidung Alex yang mancung."Huh, menyebalkan." Cassandra tersadar jika dirinya masih sedikit kesal karena Alex.Cassandra mulai bangun dari duduknya dan melangkah pergi dari kamar mandi. Cassandra kembali ke ruang tengah, Cassandra akan tidur di sana."Masih sakit." Saat Cassandra berbaring, rasa sakit masih dirasakan olehnya.Waktu berputar begituu cepat, sampai terik matahari mulai menyinari kamar di Apartemen tersebut."Hm." Perlahan-lahan Alex membuka matanya dan memegangi kepalanya yang sedikit pusing.Alex mulai melirik ke arah sekitar dan memperh
"Ma ... Maaf." Cassandra meminta maaf. "Handphone Om Alex ketinggalan," ucap Cassandra yang ketakutan."Hah? Om?" Haniya heran saat mendengar kata Om."Ma ... Maksudku, Tuan Alex." Cassandra langsung meralat panggilan suaminya.Haniya mengakhiri telepon itu secara sepihak. Cassandra langsung menatap heran pada ponsel Alex, lalu Cassandra kembali menyimpan ponsel itu diatas meja."Mereka pasangan suami istri yang aneh," gumam Cassandra.Cassandra pergi dari kamar menuju dapur. Cassandra harus mengisi perutnya yang terus berdemo."Aku jawab telepon Nyonya karena handphone itu terus berdering, lalu apa salahnya?" Cassandra bermonolog sendiri.Hampir empat puluh menit berlalu. Tiba-tiba saja seseorang masuk ke Apartemen membuat Cassandra hampir saja menjatuhkan gelas yang sedang dipegang olehnya."Nyo ... Nyonya." Cassandra terkejut dengan kedatangan Haniya dengan wajah yang penuh amarah. Haniya juga hampir saja menampar Cassandra."Kau hanya istri kedua, tolong sadar diri, jalang!" Hani
Damar sebenarnya tidak ingin melacak Cassandra melalui nomor handphone, tapi karena Damar khawatir membuatnya harus melakukan itu, dan akhirnya Damar mulai menghubungi seseorang yang ahli seperti itu, kini Damar hanya bisa menunggu kelanjutan dari seseorang tersebut. Damar berharap jika seseorang tersebut mampu mencari keberadaan mantan kekasihnya, mantan yang masih ada didalam hatinya."Kirana, jaga selalu dirimu," gumam Damar yang sangat mengkhawatirkan mantannya.Damar memang tidak bisa melupakan Cassandra, tapi sepertinya Cassandra sudah tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan Damar, dan Damar tidak bisa memaksa semua itu. Saat ini, Damar hanya ingin mengetahui keberadaan Cassandra saja. Damar juga ingin tahu kabar Cassandra, karena Damar benar-benar mengkhawatirkan Cassandra."Tuhan, jaga Cassandra." Damar mendoakan mantannya.Setelah Damar mengetahui di mana Cassandra berada, Damar juga berniat untuk memata-matai sang mantan, karena Damar tidak ingin jika mantannya kenapa-na
Haniya tertawa dan berkata. "Malu? Apa maksudnya malu? Kamu malu punya istri sepertiku?" Haniya menatap heran suaminya.Alex sudah tidak tahu harus mengatakan apa pada Haniya, saat ini Alex tidak ingin bertengkar dengan Haniya, karena hari ini adalah hari Cassandra dan Calvin bisa pulang dari rumah sakit, dan Alex ingin istirahat bersama istri kedua dan anaknya. Namun, sepertinya tidak bisa, karena Haniya terus saja membuat Alex kesal."Sayang, sepertinya kamu harus pergi liburan." Tiba-tiba saja Alex mengatakan itu pada istri pertamanya seolah-olah mengusir sang istri secara halus."Liburan? Kau mengusirku?" Sepertinya pemikiran Haniya memang sudah jelek pada suaminya sendiri.Alex mengusap wajahnya sendiri dengan kasar."Aku kecewa padamu Alex!" Haniya mengatakan itu dengan raut wajah kecewa dan kesal secara bersamaan. "Aku curiga kalau kalian ingin bersenang-senang dan mengusirku," sambungnya.Haniya kembali mencurigai Alex, dan sepertinya pemikiran Haniya selalu jelek pada Alex ma
Keesokan harinya, pukul 11 siang. Cassandra dan Calvin benar-benar pulang ke rumah Fara dan Farhan, mereka berdua sudah menyiapkan kamar khusus untuk menantu dan cucunya. Sebenarnya Fara sudah menyiapkan dua kamar, tapi Cassandra hanya ingin satu kamar karena dirinya selalu ingin bersama didekat anaknya sebelum Cassandra benar-benar pergi dari hidup sang anak karena perjanjian. Cassandra sadar jika dirinya harus mematuhi semua perjanjian yang sudah dibuat saat itu, walaupun hatinya sedih, tapi semua itu harus dilakukan olehnya."Istirahat dulu selama satu jam, karena jam dua belas kita akan makan bersama," kata Fara pada menantu keduanya saat masuk kedalam kamar, kamar mewah dengan fasilitas lengkap.Kamar yang disiapkan oleh Fara sangat luas, bahkan didalam kamar tersebut sudah ada ranjang untuk Cassandra dan ranjang bayi untuk Calvin, didalam kamar tersebut tersedia kulkas juga untuk Cassandra menyimpan asi dan sebagainya di sana. Karena Fara tahu jika bayi laki-laki sangat kuat min
"Cepat ceraikan!" Haniya tetap ingin suaminya menceraikan istri kedua. Haniya terlihat gelisah dan takut, ia pastinya takut jika suaminya tidak nyaman dengan istri kedua."Kau benar-benar keterlaluan!" Farhan menggeleng, ia tidak percaya jika menantu pertamanya benar-benar kekeh dan tidak memiliki hati nurani."Saya baru melahirkan, kenapa anda tidak punya perasaan sekali, Nyonya!" Cassandra yang sedari tadi diam dan menahan emosinya, kini mulai mengeluarkan kekesalannya.Haniya terdiam. Alex mulai menuntun Haniya untuk menjauh dari orang-orang, Alex menggenggam lengan Haniya penuh cinta."Tolong tenangkan hatimu, kamu tau kalau aku hanya untukmu," bisik Alex ditelinga istri pertamanya."Hm." Haniya mengalihkan pandangannya.Menit berlalu. Haniya pergi dari kamar VVIP tersebut tanpa diantar Alex, karena hari ini jadwal Haniya sangat padat, dan Alex tidak mempermasalahkan itu, bahkan Alex senang jika hari ini Haniya sibuk, jadi Alex bisa menemani Cassandra dan Calvin di rumah sakit."L
"Bayi berjenis kelamin laki-laki," sambung Vita setelah menjeda perkataannya.Alex menangis, ia tidak menyangka jika dirinya mampu memiliki keturunan seorang laki-laki, laki-laki yang suatu saat akan meneruskan perusahaannya."Selamat Bapak Alex dan Ibu Cassandra," kata Vita.Vita tidak terbiasa memanggil dengan panggilan Tuan dan Nyonya, Dokter Vita terbiasa memanggil dengan panggilan Bapak dan Ibu."Terima kasih, Dok," ucap Cassandra yang akhirnya mengeluarkan suara.Setelah menit berlalu, sang bayi sudah selesai dimandikan, kini sang bayi dan sang Ibu kembali ke kamar VVIP. Alex terus berada disamping Cassandra, bahkan tangannya terus menggenggam tangan Cassandra."Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, bisa panggil saya," kata Vita setelah dirinya mengantar ke kamar VVIP."Baik, terima kasih," ujar Alex.Di kamar VVIP hanya ada Alex, Cassandra, bayi yang baru saja lahir, Fara, Farhan, dan Hans. Fara dan Farhan terlihat sangat bahagia dengan meneteskan air mata, air mata terharu karena
Sampai di rumah sakit, Hans langsung meminta kamar VVIP untuk Cassandra, karena tidak mungkin Cassandra berada di kamar umum, apa lagi Cassandra adalah istri dari Alex, istri kedua Alex, pastinya Cassandra tidak boleh diketahui oleh orang-orang yang berada di rumah sakit, Alex tidak ingin orang-orang mengetahui itu, karena itu akan menghancurkan reputasi Haniya dan Alex. Cassandra juga sadar dengan dirinya yang hanya istri kedua, Cassandra hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan oleh Alex."Jangan tegang." Alex menggunakan topi, masker, dan kacamata untuk penyamaran.Fara dan Farhan juga mengikuti Alex untuk melakukan penyamaran. Hans juga sama melakukan itu, karena Hans adalah asistennya Alex membuat Hans juga harus melakukan penyamaran.'Tuhan, mudahkan dan lancarkan,' batin Cassandra yang terus tegang saat dirinya sampai di rumah sakit.Sampai di kamar VVIP. Cassandra segera di periksa oleh Dokter kandungan dan beberapa perawat yang ada di sana. Alex meminta Hans untuk mencari D
Beberapa hari berlalu. Alex dan Haniya sudah kembali ke Indonesia. Alex segera pergi ke Apartment tanpa meminta izin pada Haniya, dan Haniya juga tidak perduli dengan sikap Alex yang seperti itu. Saat ini hubungan Haniya dan Alex seperti renggang, renggang karena Haniya terlalu sibuk dengan karirnya, dan Alex juga fokus pada kehamilan Cassandra. Terkadang Alex bingung dengan Haniya yang begitu fokus pada karir dan melupakan dirinya, tapi Alex bersyukur memiliki Cassandra yang selalu memperhatikannya, oleh sebab itu Alex mulai terfokus pada Cassandra. Namun, cinta Alex pada Haniya tidak akan pernah pudar. Hm, sepertinya Alex memang cinta mati pada Haniya, semoga saja Haniya mengubah sikapnya yang terlalu fokus pada karir."Suamiku!" Cassandra sangat bahagia melihat kedatangan suaminya ke Apartment."Aku merindukanmu." Alex tersenyum manis dan berlari ke arah istri keduanya.Fara dan Farhan masih ada di Apartment. Cassandra malu dengan Alex yang tiba-tiba memeluknya didepan orang tua Al
"Aku sangat suka, Sayang." Alex tersenyum manis untuk istri keduanya, istri yang selalu melakukan perannya sebagai seorang istri.Cassandra membalas senyuman itu dan berkata. "Syukurlah kalau kamu suka, aku akan selalu membuat masakan untukmu jika kamu ke Apartment, walaupun beberapa bulan lagi aku akan pergi." Cassandra menahan air matanya yang akan menetes.Alex menggenggam lengan Cassandra dan kembali mengecup lengan itu. Cassandra sangat menyayangi Cassandra, apa lagi Cassandra selalu menuruti apa yang dikatakan olehnya. Namun, Cassandra dan Alex harus berpisah ketika bayi yang ada didalam kandungan Cassandra lahir."Walaupun kita berpisah, kita telah memiliki momen indah," ucap Alex dengan mata yang berkaca-kaca.Alex pastinya merasa sedih saat mendengar ucapan Cassandra, walaupun mereka berkenalan dengan cara yang tidak baik, tapi mereka memiliki momen indah yang suatu saat akan selalu mereka ingat dalam memori ingatannya, ingatan yang begitu indah di otak mereka masing-masing.
Cassandra memang harus berdamai dengan keadaan, karena jika tidak, Cassandra akan merasa sakit hati sendirian, apa lagi Cassandra hanya menjadi istri kedua, Cassandra harus bisa sadar diri dengan statusnya, status yang suatu saat akan berakhir setelah dirinya melahirkan anak pertamanya untuk Alex dan Haniya. Ada rasa sedih dari diri Cassandra, tapi Cassandra mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berdamai dan menyadari keadaan, keadaan yang memang menyakitkan, tapi Cassandra harus bisa menjalani semuanya."Pokoknya kamu harus jadi anak yang rajin kalau sudah lahir ke dunia, kamu harus membanggakan kedua orang tuamu, walaupun kamu tidak mengetahui siapa yang melahirkan kamu, tapi kamu akan menjadi anakku yang paling ku cintai." Cassandra sudah benar-benar berdamai dengan keadaan.Cassandra mulai mengatur napasnya dalam-dalam supaya bisa lebih rileks, karena kandungan Cassandra sudah besar dan Cassandra tidak ingin mengalami stress, Cassandra ingin tenang sampai melahirkan nanti."J