"Tuan Muda Hansen, pinjam mobil," ujar Owen.Semuanya terjadi dengan sangat cepat, sampai-sampai dari melihat Andreas terluka sampai Celine dibawa pergi, dia masih berdiri diam di tempat.Dia baru sadar kembali setelah mendengar suara Owen."Iya, iya," jawab Hansen dengan ekspresi rumit dan masih sedikit bingung.Dia bahkan melepaskan tangan Lala."Kak ...."Hansen yang sedang berlari ke mobil berhenti sejenak, tapi dia tidak berbalik, melainkan terus berlari ke mobilnya bersama Owen."Andreas ...." Hansen membuka pintu mobil lalu menyerahkan kuncinya ke Owen, dia tampak ingin mengatakan sesuatu.Namun, akhirnya matanya menggelap dan dia berhenti.Setelah Owen membawa Timothy pergi, Hansen tidak langsung mencari Lala, melainkan melihat ke arah Inez.Ekspresinya berubah suram dan dia mengeluarkan ponselnya lalu langsung menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, ada orang yang datang untuk membawa Inez pergi. Sementara sopir yang tadinya mau menabrak Celine juga dibawa pergi oleh polisi.
"Lala ...." Donny menggumamkan nama ini.Dia hampir saja menyukai gadis itu karena nama yang sama.Oleh karena itu, tadi waktu melihat mereka turun gunung, tatapannya terus mengikuti Lala. Karena itulah, dia melihat jelas semua ekspresi dan pikiran Lala.Lala ... iri dengan Celine!Namun, di depan si "kakak", dia berakting dengan sangat bagus.Wanita ini punya niat yang jahat, apalagi terhadap Celine, sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.Sementara kecelakaan dan percobaan pembunuhan tadi ....Donny mulai mengkhawatirkan Celine.Dia mengernyit. Tepat pada saat ini, dia menerima sebuah panggilan, dia melihat nama di layar lalu menerima panggilan."Paman, waktu aku pergi mencarimu, katanya kamu pergi ke Gunung Prana. Kamu baru saja datang ke Mastika, untuk apa pergi ke Gunung Prana?"Di seberang telepon, Albert sangat bingung.Tiba-tiba dia teringat kalau Keluarga Nadine hari ini juga mau ke Gunung Prana, tapi dia tidak terlalu memikirkannya. "Paman, cepat pulang, nggak, aku pergi jemput
Gian tidak menghindar. "Timothy Jayadi dan ... Inez Bakri!"Albert tentu saja tahu dua orang ini.Namun, Timothy jelas-jelas dikurung di kantor polisi, kenapa bisa keluar? Apalagi punya kesempatan untuk menyerang Celine di Gunung Prana!Ini ... tidak masuk akal!"Timothy sudah ditahan oleh Owen, sedangkan Inez ...."Gian berhenti sejenak, dia teringat dengan informasi yang dia dapatkan dari telepon tadi ...."Hansen menyuruh orang membawa Inez pulang ke Mastika, tapi di perjalanan terjadi kecelakaan, mobilnya hancur, orangnya juga mati." Gian langsung merasa ada yang aneh dengan kecelakaan ini.Seperti ....Mau membunuh untuk menutup mulut!Kalau benar begitu, kejadian ini semakin rumit."Sudah mati?" Albert juga menyadari keanehan di balik semua ini. "Hansen ...."Kalaupun Albert terus beradu mulut dengan Hansen, dia tidak merasa kalau kecelakaan itu ada hubungannya dengan Hansen. Hansen menyuruh orang membawa pergi Inez harusnya untuk mencari tahu tentang kejadian hari ini."Bagaiman
Waktu berjalan sedetik demi sedetik, langit pun semakin terang.Celine masih terus menggenggam tangan Andreas. Di benaknya, terus muncul sosok Andreas yang selalu muncul dan melindunginya.Dia bisa merasakan hal yang tadinya sudah dia putuskan perlahan-lahan berubah."Andreas ...." Celine menatap wajah Andreas yang sepucat kertas.Waktu dia memanggilnya, di hatinya sudah ada sebuah keputusan.Waktu Albert dan Vicky memasuki kamar pasien, samar-samar mendengar Celine menggumamkan sesuatu, tapi mereka tidak bisa mendengar dengan jelas."Celly, kamu sudah harus istirahat."Celine sudah berjaga di sini semalaman. Saat ini, dia terlihat sangat lelah, Albert merasa sangat kasihan padanya.Dia memberi tanda ke Vicky lewat tatapan, Vicky langsung maju dan berkata, "Celly, aku sudah siapkan sarapan, kita pergi makan dulu, yuk."Tanpa menunggu Celine menolak, Vicky sudah menariknya keluar.Setelah mereka berdua pergi, Albert menatap orang yang berbaring di kasur itu. Untuk pertama kalinya, tatap
Reaksi itu tidak seperti orang yang tahu Timothy akan muncul di sana.Sementara yang dia dengar tadi di Swastamita ...."Tuan, mungkin hal ini ada hubungannya dengan orang lain, hanya saja orang itu ...." Owen ragu-ragu.Fera .... Di orang sekitar, hanya Fera Tandi yang bernama Fera.Owen berpikir sekian lama lalu akhirnya menceritakan apa yang dia dengar tadi."Fera ...."Begitu mendengar nama ini, mata Andreas langsung menyipit.Dia tidak menyangka Fera bisa-bisanya menargetkan Celine!Seluruh tubuh Andreas memancarkan aura dingin. Setelah sekian lama dia sepertinya membuat sebuah keputusan. "Owen, bantu aku lakukan sesuatu!"Waktu dia berpesan pada Owen, dia tidak menghindar dari Albert.Setelah selesai berbicara dengan Owen, Andreas bertatapan dengan Albert. "Tuan Albert, apa orang tua Keluarga Tjangnaka sudah tiba?"Albert agak terkejut mendengar pertanyaannya.Namun, dia tetap menjawab jujur. "Sudah.""Yang datang itu pamanmu?" tanya Andreas lagi."Iya."Setelah mendapat jawaban
Lala memasang ekspresi penuh kekhawatiran terhadap Celine, membuat Hansen yang melihatnya merasa sangat puas.Dia tidak mau Lala khawatir, jadi dia menenangkannya. "Siapa pun orang yang Celly singgung, Keluarga Nadine nggak akan membiarkan dia dicelakai."Senyuman Lala sedikit mengeras, tapi segera kembali normal, sama sekali tidak terlihat keanehan.Lala tersenyum dan berkata, "Kakak, kalau aku menyinggung orang, kamu juga nggak akan membiarkan orang lain melukaiku?""Tentu saja, kamu dan Celly adalah orang terdekatku. Aku akan menggunakan seluruh hidupku untuk melindungi keselamatan kalian," ujar Hansen penuh tekad.Panggilan di ponselnya masih belum terputus.Terdengar suara desakan dari seberang telepon. "Tuan Muda Hansen ...."Hansen mengernyit, lalu melihat Lala sejenak dan berbalik pergi.Sampai setelah sosok Hansen tak terlihat lagi, Lala masih tetap berdiri diam di tempat sambil melihat ke luar jendela dengan tatapan suram.Dia yakin Hansen pergi untuk kejadian Gunung Prana ke
Andreas memijat batang hidungnya, terlihat agak lelah.Gian langsung mengerti maksud Andreas.Keluarga Tjangnaka memang fokus di luar negeri, tapi kemampuan mereka juga diakui semua orang di Mastika.Oleh karena itu, menyebar kabar kalau orang tua Keluarga Tjangnaka datang ke Mastika demi mewakili keluarga mengangkat seorang "putri angkat", pasti akan mengguncang seluruh Mastika.Semua orang tahu Keluarga Tjangnaka hanya punya seorang pewaris, yaitu Albert.Begitu orang tua hadir, "putri angkat" ini pasti akan jadi salah satu pewaris.Kekayaan Keluarga Tjangnaka yang segunung itu akan bisa diakses oleh "putri angkat" itu. Seketika, hampir semua orang penasaran siapa orang yang beruntung itu.Tak lama kemudian, ada orang yang hadir di acara pelelangan Keluarga Nadine membocorkan informasi.Orang yang diangkat Albert jadi adik itu adalah seorang gadis bernama "Celine Maira". Dia adalah gadis yang memegang foto almarhum Tuan Richard waktu Tuan Richard dikremasi, posisinya bahkan lebih pen
Suara Omar membuat Fera tertegun.Dia mana mungkin membiarkan Omar tahu apa yang dia lakukan?Hanya dalam sekejap, Fera menyusun perasaannya lalu mengernyit, sikapnya tetap lemah lembut seperti biasa sambil menghela napas. "Aku juga nggak tahu kenapa, hari ini rasanya sangat gusar. Lihat aku, ruang baca sampai jadi seberantakan ini. Aku rapikan sekarang juga."Fera meletakkan penanya dan hendak berjongkok, tapi dihentikan oleh Omar."Nggak usah beresin, apa karena semalam tidurnya nggak cukup? Jadi kelelahan?" Omar menopang Fera dengan penuh perhatian. "Kamu istirahat dulu, suruh pembantu yang bersihkan saja. Awalnya dari kediaman menelepon mau mencarimu, tapi nggak usah dipedulikan dulu. Apa pun yang urusan mereka, aku yang hadapi."Omar membawa Fera duduk di sofa.Dia tidak tega istrinya diganggu masalah lain.Namun, begitu mendengar dari kediaman tua ada yang mencarinya, Fera langsung berdiri. "Apa Ibu yang mencariku? Telepon dari kediaman tua? Aku coba telepon balik."Fera terlihat
Hilangnya Andreas adalah sebuah rahasia.Namun, Nicholas adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu tentang hal ini.Senyuman Celine berubah kaku sejenak, lalu sebuah senyuman pahit muncul. Dia tidak perlu berpura-pura kuat di depan Nicholas."Belum, tapi dia ... ada di Binara.""Kalau ada di Binara, harusnya sedikit lagi bakal ketemu."Celine menoleh lalu bertatapan dengan Nicholas. "Kak Nicholas, nggak usah khawatir, aku nggak apa-apa. Bagaimana denganmu? Belakangan bagaimana kabarnya? Terus Winny, belakangan ... aku nggak sempat memperhatikan dia."Dia sepertinya sudah sangat lama tidak berinisiatif menghubungi Winny. Setiap kali Winny mencarinya, dia juga tidak pernah menanyakan kondisi Winny.Celine merasa sedikit bersalah.Nicholas menyadari perasaan Celine dan segera menjawab, "Winny sangat baik, dia terapi setiap hari, membaik dengan sangat cepat. Sebelum aku pulang ke Binara kali ini, dia berpesan padaku minta fotomu terus kirim ke dia, dia sangat merindukanmu."Celine mer
Benar, asalkan bisa menemukan Andreas, semuanya terbayarkan.Mereka saling menyemangati lewat telepon.Setelah mengakhiri panggilan, Celine melihat jam dan langsung teringat hari ini hari apa.Hari ini babak final Kompetisi Desain Perhiasan Nasional.Beberapa hari ini, dia fokus mencari Andreas, melupakan soal kompetisi ini.Noni juga tidak mengingatkannya.Celine tahu, pasti Hansen yang ada di Mastika yang berpesan pada Noni jangan mengganggu Celine dengan permasalahan kompetisi.Namun hari ini, dia harus hadir.Celine pun menyemangati dirinya.Setelah selesai mandi dan berpakaian, sebelum dia keluar, dia memakai cincin yang diberikan Andreas padanya.Lokasi babak final Kompetisi Desain Perhiasan Nasional ditentukan di tempat yang sama dengan tahun lalu.Pagi-pagi sekali, sudah ada banyak wartawan yang datang.Selain peserta, orang-orang yang boleh masuk adalah para orang berpengaruh di Binara.Sheryn berhasil masuk dan berbaur dengan kerumunan orang.Kalau bukan karena pria yang dia
Seakan-akan dia tidak tertarik sama sekali dengan cincin itu.Sementara kata "bagus" itu juga hanya komentar objektif, atau mungkin diucapkan hanya untuk membuat Lala senang.Lala sangat senang dengan reaksi Andreas ini.Beberapa hari ini, dia terus mengamati Andreas.Kelihatannya cuci otak Gion kali ini sangat sempurna. Andreas tidak jadi gila, juga sepertinya melupakan semua hal yang berhubungan dengan Celine.Bagus sekali!"Kalau begitu, aku mau yang ini. Boleh, 'kan, Kak Tuvin?" Mata Lala dipenuhi dengan cinta.Seperti yang sudah dia duga, Andreas menjawab, "Boleh.""Kalau begitu, aku bungkus cincin pasangan ini," ujar penjaga toko.Namun, baru saja dia selesai bicara, Lala malah berkata, "Nggak mau sepasang, aku cuma mau yang model wanita, yang pria nggak usah.""Tapi ...." Bukannya mereka sepasang kekasih?Cincin ini bukan untuk tunangan atau cincin nikah? Jadi cincin kekasih juga bagus.Lala menyadari reaksi penjaga toko itu.Dia pun terkekeh."Cincin ini memang bagus, tapi ini
Lala sangat puas dengan hadiah yang akan dia berikan ke Celine.Juga sangat puas melihat tampang Andreas yang sempurna di depannya. Melihat jarak mereka yang sangat dekat, dia akhirnya tidak bisa menyembunyikan kesenangan di hatinya."Kak Tuvin ...." Lala tiba-tiba mendekati Andreas.Namun, Andreas malah mundur selangkah.Reaksinya ini jelas adalah refleks.Sejak Andreas sadarkan diri, berapa kali pun Gion mencuci otaknya dan terus memberitahunya kalau Lala adalah tunangannya,bahwa hubungan mereka sangat dekat,setiap kali Lala mau mendekat, Andreas selalu menghindar.Senyuman di wajah Lala jadi kaku, tapi dia segera kembali normal."Kak Tuvin, besok kita sudah mau pergi. Mulai besok, di sanalah rumah kita. Nanti waktu sudah sampai, kamu teruskan sekolahmu, aku bakal menemanimu.""Kak Tuvin, kamu boleh kasih aku sebuah hadiah?"Lala mendongak melihat Andreas, matanya penuh dengan harapan, sama sekali tidak ada hal lain."Boleh." Andreas tidak ada alasan untuk menolak.Lala tahu dia ti
Manajer hotel itu pun menceritakan semua yang terjadi hari itu dengan sangat mendetail.Mendengar ceritanya, hati Celine sangat bergejolak."Berarti benar!"Malam itu bukan mimpi, melainkan Andreas yang asli!"Aku sudah pernah menemuinya."Celine bergumam, bibirnya membentuk sebuah senyuman yang paling tulus dalam dua bulan ini.Dia juga perlahan-lahan semakin bersemangat. Dia melihat ke Albert dan Dylan sambil berkata, "Hari itu aku bertemu dengannya!"Albert dan Dylan saling bertatapan.Meski mereka tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi malam itu, mereka percaya dengan Celine.Atau mungkin, Celine dan Andreas tidak hanya pernah bertemu.Andreas bahkan sedang melindungi Celine.Melihat Celine tersenyum, Albert juga ikut tersenyum.Dylan juga menghela napas lega.Dari informasi-informasi ini, mereka sudah bisa membuktikan kalau Andreas baik-baik saja. Hanya masalah waktu ... sampai dia kembali.Sementara hal yang harus dia lakukan sebelum Andreas pulang adalah mengurus Grup Jayadi dan
Selama dua bulan ini, Celine sangat sering memimpikan Andreas.Namun, kebanyakan di mimpinya, sosok Andreas hanya terlihat bagian punggungnya secara samar-samar. Bagaimanapun Celine memanggil dan mengejar Andreas, dia tetap tidak bisa menyentuhnya.Kecuali satu kali itu.Dia memimpikan Albert, melihat wajahnya dengan jelas.Celine bisa merasakan sentuhan Andreas, bahkan detak jantung dan juga napasnya. Semuanya terasa sangat nyata, seakan-akan dia tidak sedang bermimpi, melainkan benar-benar terjadi.Bukan mimpi ....Celine terkejut dengan tebakannya ini.Saat ini, dia seakan-akan menangkap sesuatu, seperti tadi waktu dia berharap Tuvin adalah Andreas.Meski panggilan tadi sudah membuktikan kalau Tuvin bukan Andreas,Celine tetap ingin mencoba menangkap harapan dan petunjuk sekecil apa pun.Sementara mimpi dan juga tempat di mimpinya ada di Hotel Binara."Ke hotel, Hotel Binara." Celine tiba-tiba berdiri.Dia bahkan mau langsung keluar tanpa memakai sepatu.Albert dan Dylan tahu Celine
Semuanya tergantung pada kata-kata Lala.Lala sangat suka dengan rasa di mana semuanya ada di dalam kendalinya."Oh ... oh begitu?" Celine merasa hatinya terasa berat.Seakan-akan ditimpa oleh sesuatu.Sementara wanita di seberang telepon malah terdengar semakin senang. "Iya, kami sudah mau menikah, kamu bakal mendoakan kami, 'kan?"Mendoakan?Celine tidak pernah bertemu "Tuvin", juga tidak pernah bertemu tunangannya.Sepasang orang tidak dikenal akan segera menikah, dia seharusnya mengucapkan selamat.Namun, saat ini, begitu memikirkan mau "mendoakan" mereka, hatinya seakan-akan ditusuk-tusuk, membuatnya kesusahan bernapas."Nona, kamu masih mendengar?"Lala kembali berkata.Dia seakan-akan tidak akan menyerah kalau belum mendapatkan ucapan selamat dari Celine.Terdengar suara napas yang kurang stabil di seberang, Lala pun tersenyum semakin lebar. Dia semakin bertekad mau mendengar ucapan selamat dari Celine.Celine menghirup napas dalam-dalam, dia ingin mengucapkan selamat, tapi mulu
Melihat nomor telepon itu, Celine merasa sangat tegang.Dia tahu jelas apa yang dia nantikan.Namun, semakin dia menginginkannya, hatinya semakin gelisah.Pertanyaan di hatinya juga semakin banyak, dia ingin mendapatkan jawaban.Setelah menghirup napas dalam, Celine akhirnya menelepon "Tuvin Sarwen".Ketika sedang menunggu panggilan terhubung, jantung Celine berdetak sangat kencang, seolah-olah akan segera melompat keluar.Setelah panggilan terhubung, apa yang harus dia katakan?Kalau "Tuvin" bukan dia ....Berbagai macam pikiran melintas di benak Celine.Akhirnya, suara dering telepon berhenti, lalu terdengar suara napas."Halo?"Kemudian, terdengar suara seorang wanita.Celine tertegun sejenak, semua pikiran dan juga ketegangan tadi seakan-akan membeku."Halo, siapa ini?"Suara wanita itu membuat Celine seketika tersadar.Dia memastikan sekali lagi kalau ini nomor yang diberi Noni. Setelah itu, dia mencoba bertanya, "Apakah ini nomornya Tuvin Sarwen?"Orang di seberang telepon terdia
Owen mendongak melihat ke salah satu rumah.Ketika dia melihat Celine, dia menyadari Celine juga sedang melihat ke rumah itu.Hanya orang rumah ini yang belum mereka temui orangnya.Yang lainnya juga melihat tatapan Celine.Saat ini, fokus mereka semua tertuju pada satu-satunya rumah yang terkunci dan tidak ada orang ini.Mereka masih ingat jelas kata-kata tetangga tadi.Tetangga itu bilang orang yang tinggal di rumah ini adalah keluarga bermarga Sarwen. Cucu orang tua di rumah ini meski bentuk tubuhnya agak mirip dengan Andreas, wajahnya tidak mirip.Yang namanya tetangga tidak mungkin tidak kenal.Tetangga itu bilang bukan, harusnya benar bukan Andreas.Melihat mereka semua tidak berhasil menemukan orang yang ingin dicari, tetangga itu pun berkata, "Kalian lagi mencari orang yang sangat penting untuk kalian, ya? Pasti bakal ketemu, harus tetap berharap, pasti bisa ketemu. Seperti cucunya Gion ....""Tiga tahun lalu, kecelakaan itu parah sekali. Kami mengira Tuvin sudah pasti mati, ta