Home / Romansa / Terjerat Pesona Ibu Anakku / Bab 5. Jangan Coba Sentuh

Share

Bab 5. Jangan Coba Sentuh

Author: Kaiwen77
last update Last Updated: 2025-01-29 17:10:30

"Naiklah! Aku antar sampai samping kantor."

Arumi hanya membisu karena tidak percaya dengan omongan Wanhan. Takutnya berhenti di depan kantor dan dilihat banyak karyawan.

Mata Wanhan menyipit. "Kenapa tidak naik?"

"Paling Bapak akan menjalankan mobil setelah saya mendekat."

Pemikiran buruk itu membuat Wanhan menarik napas.

"Apa aku selicik itu di matamu, Arumi?"

Bukankah terbukti dari niatan Wanhan yang ingin menyeretnya paksa jika tidak setuju menikah? Arumi benar-benar ragu dan masih berdiam diri di tempatnya.

"Masuk!" seru Wanhan.

Wanhan yang kesal sampai membunyikan klakson beberapa kali. Pengendara banyak yang melirik membuat Arumi terpaksa memasuki mobil milik suaminya sendiri.

"Kamu sungguh menguji kesabaran, Arumi," sindir Wanhan.

Dari yang Arumi tahu, sifat Wanhan dan Valdi sangat jauh berbeda. Terbukti dari sosok Wanhan yang tingkat kesabarannya setipis tisu.

"Bukankah saya sudah naik, Pak?"

Wanhan mendelik, memang Arumi sejak dulu selalu membuat dia kesal. Hanya saja, laporan dari kinerja Arumi yang bagus setiap bulan, baru dia bisa melepaskan Arumi dari kata pecat.

Terlebih sekarang mereka berdua menikah demi membesarkan Luna bersama. Wanhan harus ekstra sabar menghadapi Arumi.

Begitu pula pemikiran Arumi saat melirik Wanhan yang mengemudi. Ia harus sangat bersabar dengan sikap Wanhan yang terkadang sewenang-wenang.

"Jangan berhenti di sekitar kantor, Pak."

Begitu Wanhan melirik, Arumi langsung meralat ucapan.

"Barangkali Bapak lupa, saya hanya mengingatkan."

Tatapan Wanhan makin tajam karena dianggap mudah pelupa oleh Arumi. Melihat suami yang tersinggung, ia hanya bisa menatap jalanan di depan dengan mulut membisu.

"Aku pulang agak malam, katakan pada Luna saat kamu pulang kerja nanti," ujar Wanhan memilih tidak menegur istri.

Arumi mengangguk. "Baik, Pak."

***

Seperti yang Wanhan katakan pada Arumi. Dia pulang lebih telat ke rumah, sebab Wanhan terlihat memasuki sebuah restoran.

Begitu masuk dia langsung dituntun oleh salah satu pegawai ke sebuah ruangan. Padahal baru saja pintu dibuka, gelas telah melayang dan hampir mengenai tubuh Wanhan.

"Dasar cucu sialan!"

Wanhan menarik napas, bahkan setelah dia sepenuhnya memasuki ruangan. Pria tua ini masih belum puas dan melempari Wanhan dengan beberapa sendok.

"Kamu menikah secara diam-diam dan membawa anak haram itu ke keluarga!"

"Luna bukan anak haram! Dia anak kak Valdi." Wanhan merasa kesal.

"Justru karena dia keturunan Valdi, kenapa kamu malah membawanya!"

Wanhan mendengkus kesal, pria tua ini dalang dibalik segala yang terjadi.

"Pak Anggara, Anda yang mencelakai kak Valdi tanpa rasa bersalah. Luna adalah keturunan satu-satunya milik kak Valdi, apa Anda tidak merasa bersalah menelantarkannya!"

Anggara yang hanya disebut nama tanpa embel-embel kakek sungguh membuat emosi.

"Kurang ajar!"

"Tidak cukup hanya anak haram, kamu memasukkan wanita murahan ke dalam rumah!"

Wanhan yang bisa mengurai emosi mulai menarik kursi dan mendudukinya. Dia memandang sang kakek yang masih menyimpan emosi. Namun, memutuskan untuk ikut duduk berhadapan dengan Wanhan.

"Istriku tidak murahan," ujar Wanhan membela Arumi.

"Mana mungkin tidak! Sementara dia menggoda dan melahirkan anaknya Valdi. Dia pasti sejak lama merencanakan hal ini."

"Dia bukan ibu kandung Luna."

Dahi Anggara mengerut. "Lalu kenapa kamu menikahinya?"

Wanhan memandang menu di atas meja yang mulai didatangkan oleh para pegawai.

"Sejak kecil Luna menganggapnya ibu. Jika ingin Luna maka aku harus mengambil ibunya juga."

Anggara menggelengkan kepala. "Benar-benar cucu kurang ajar."

Wanhan mengulas senyum. Meski, mereka berdua saling mengeraskan suara. Tapi, Anggara tidak akan benar-benar melukai Wanhan selaku cucu kesayangan.

Pandangan Wanhan menajam. "Aku bisa tidur dan menjalani hidup dengan tenang karena Luna dan Arumi, jadi jangan coba sentuh mereka berdua."

Anggara tersenyum sinis. "Jangankan menyentuh, menganggap mereka keluarga saja aku tidak sudi."

"Jadi, jangan coba-coba munculkan dia di hadapanku."

***

"Ayah!"

Luna yang semula sedang mengerjakan PR langsung berdiri dan berlari menghampiri Wanhan. Arumi hanya bisa merapikan peralatan tulis di atas meja, ketimbang menyambut kepulangan Wanhan. Hal yang suaminya sendiri tidak inginkan.

Selagi mengangkat tubuh Luna. Wanhan menyadari banyak hal, dari mulai bobot tubuh Luna yang ringan hingga pakaian lusuh melekat pada tubuh sang anak.

"Apa kalian sudah makan malam?"

Arumi melirik, sepertinya pertanyaan tersebut untuknya juga.

"Sudah," sahut Arumi menyambut Luna yang turun dari Wanhan dan berlari padanya.

"Aku belum makan."

Pandangan Arumi tertuju pada Wanhan lagi yang mengaku belum makan.

"Selagi hari belum larut, kita jalan-jalan sebentar," ujar Wanhan sembari memeriksa jam tangan.

"Jalan-jalan!"

Luna sudah heboh sendiri, berbeda dengan Arumi yang hanya bisa diam.

"Kamu juga ikut," lanjut Wanhan sembari memandangnya.

Kali kedua Arumi menaiki mobil Wanhan. Pagi tadi dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat.

Wanhan begitu fokus menyetir, sebisa mungkin Arumi menahan Luna yang ingin merecoki Wanhan dengan lirikan matanya. Luna hanya bisa duduk diam di pangkuannya sembari sesekali tersenyum senang.

"Pertama kita ke mall dulu."

Arumi melirik Wanhan yang membocorkan tempat tujuan.

"Mall?" Luna menatap padanya.

"Apakah Luna boleh ke sana? Tidak akan diusir kan, Bunda?"

Arumi tersenyum. "Kali ini tidak akan."

Mendengar ucapan Arumi, dahi Wanhan mengerut. Mata memandang Arumi yang perlahan menundukkan wajah dengan sedih.

Dulu, Arumi pernah mengajak Luna ke sana. Namun, pakaian mereka berdua yang dianggap terlalu biasa ditanyakan setiap kali memasuki outlet. Seperti orang yang hendak mencuri saja.

Wanhan membawa Arumi dan Luna ke dalam outlet pakaian saat tiba di Mall. Luna masih digandeng oleh Arumi, berharap tidak menimbulkan masalah dengan berlarian serta mengganggu pengunjung lain.

Menyadari Luna yang lebih pendiam dari sebelumnya. Wanhan mengulurkan tangan pada Luna.

"Biarkan ayah menuntun kamu, Luna."

Perlahan Arumi melepaskan Luna yang berjalan ke arah Wanhan. Namun, mata Arumi membulat saat Wanhan tidak menggandeng Luna malah menyuruh hal lain.

"Lakukan apa pun yang Luna mau, ada ayah di sini."

Mendapat izin, tentu saja Luna menjadi ceria lagi dan lebih berani untuk berlarian sembari melihat beberapa barang. Arumi memandang sekitar dengan cemas.

Namun, tidak ada satu pegawai pun yang memprotes kelakuan dari Luna.

Wanhan mendekati Arumi. "Tenang saja, mereka tidak akan berani mengkritik Luna."

"Kenapa?"

"Mereka mengenaliku sebagai investor di Mall ini."

Jawaban dari Wanhan membuat Arumi seakan terbanting di lantai. Benar, uang dan kekuasaan adalah pengendali terkuat di bumi. Rupanya, Luna merobek salah satu pakaian pun pasti akan disenyumi oleh mereka yang takut dipecat.

Wanhan memanggil salah satu pegawai untuk mendekat.

"Ambilkan semua pakaian terbaru yang cocok dengan tubuh mungilnya," ujar Wanhan dengan mata menunjuk padanya.

"Aku akan membeli semuanya," lanjut Wanhan berhasil membuat mata Arumi terbelalak kaget.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 6. Wanita Malam

    “Pak,” sebut Arumi dengan mata terbelalak kaget. “Itu tidak perlu. Jika ingin belikan, lebih baik untuk Luna saja.” Wanhan tak mendengarkan dirinya sama sekali, tetap menyuruh pegawai dengan lirikan mata. “Mari, Bu. Ikut dengan saya untuk memilih!” pinta pegawai. “Tidak perlu,” Wanhan langsung menolak. “Kamu saja yang pilihkan.” Kalau Arumi sampai ikut, jangankan mencoba pakaian memilihnya saja pasti tidak akan dilakukan. Wanhan tidak bisa memasrahkan pakaian pada Arumi. “Baik, Pak.” Pegawai tersebut mulai meninggalkan mereka bertiga. Arumi memandang Wanhan sedikit kesal. “Apa? Diberikan hadiah harusnya kamu senang, bukannya tidak tahu terima kasih begini,” sindir Wanhan pelan, tentu takut Luna ikut dengar. Arumi menarik napas. “Jangan keluarkan uang Bapak, saya tidak sanggup menerimanya.” Tidak ingin meladeni Arumi, Wanhan lebih memilih berkeliling untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk Luna. “Luna ke mari! Ikut dengan ayah memilih baju.” Amat ragu Luna

    Last Updated : 2025-02-19
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 7. Janda Lebih Menantang

    Tenaga Wanhan sedikit melemah, setelah dia menembus Arumi dengan paksa. Arumi yang kesal mulai memukuli suaminya amat keras, Wanhan sesekali menghindar namun tidak pernah membalas. "Bapak jahat sekali pada saya," adu Arumi masih menangis. Wanhan berusaha menenangkan Arumi, dia cium dahi sang istri cukup lama. "Arumi tenanglah! Aku tidak akan menyakiti kamu lagi." Tangisan Arumi mulai mereda, hingga meminta Wanhan untuk melepaskan dirinya. "Pak, lepaskan saya. Tolong, bangun dari tubuh saya!" pintanya. Bukannya menuruti, Wanhan justru mengangkat dagu Arumi dan mulai melayangkan beberapa kecupan di bibirnya. Arumi pun kaget dengan bagian bawah yang mulai digerakkan oleh suaminya. "Sebentar saja, Arumi," bisik Wanhan lembut. Arumi berusaha memberontak, namun Wanhan mencekal tangannya dan hasrat dia makin menggebu. Arumi yang belum merasakan kenikmatan hanya bisa meringis, menahan perih dan panas di bawah sana yang dijelajahi paksa. *** Wanhan menyugar rambut sembari

    Last Updated : 2025-02-20
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 8. Rekan Kerja Lelaki

    Desas-desus itu masih terdengar oleh telinga Arumi, namun Arumi tidak ingin meladeni mereka, sementara Dani hanya diam merasa kalau Arumi pantas mendapatkannya. "Ada apa pak Wanhan mencariku?" tanya Arumi. Dani mendelik dengan raut kesal. "Mana aku tahu kamu bisa tanya setelah tiba di sana. " Arumi memandang punggungan Dhani yang berjalan dengan cepat di hadapannya. Sebenarnya Arumi tidak ingin bertemu dengan Wanhan sekarang, teringat dengan kelakuan suaminya semalam. Namun, Arumi tidak bisa menunjukkan ketidaksenangan hatinya di hadapan banyak karyawan. Bagaimanapun pernikahan mereka berdua dirahasiakan, tidak boleh ada perasaan pribadi saat di kantor. Hanya butuh waktu 2 menit untuk sampai di depan ruangan kerja milik suaminya, Arumi mulai memasuki ruangan tersebut sendirian karena Dani meninggalkan dirinya setibanya di sana. “Kenapa Bapak mencari saya di tengah pekerjaan waktu bekerja?“ Wanhan yang semula telah menyiapkan beribu kata yang dia rangkai untuk mengkritik

    Last Updated : 2025-02-21
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 9. Mas Wanhan

    “Dia karyawan tetap atau magang?” Bahkan saat makan malam, Wanhan yang masih penasaran mulai membahas kembali sosok Rehan. Arumi yang selesai menyuapi Luna sampai melirik. “Kenapa Bapak ingin tahu sekali?” Luna memandang kedua orang tua secara bergantian. “Iya, kenapa Bapak ingin tahu?” ulang Luna. Mata Wanhan dan Arumi menatap sang putri dengan raut kaget. Embel-embel “bapak” yang ditambahkan itu membuat Wanhan berkomentar. “Kenapa Luna berubah jadi panggil bapak? Kan Luna anak ayah.” Bibir Luna mengulas senyum. “Karena Bunda yang panggil, berarti Luna juga harus.” Begitu mendapat penjelasan, Wanhan langsung melirik pada Arumi yang menghindari tatapan suaminya. “Gara-gara kamu, Arumi. Luna jadi sembarangan panggil ayahnya sendiri,” keluh Wanhan. Arumi melirik, merasa tidak ingin disalahkan. Dirinya sama sekali tidak menyuruh Luna menyebut Wanhan demikian. “Mulai sekarang panggil aku lebih mesra di depan Luna,” ujar Wanhan menekankan. Namun, Arumi tidaklah meny

    Last Updated : 2025-02-22
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 10. Orang Kaya Bukan Manusia

    Wanhan berdehem sembari menghindari tatapan mata Arumi. “Luna main ke mana?” tanya Wanhan berusaha mengalihkan perhatian dia. “Dengan anak tetangga, di depan sana.” Mata Wanhan nampak melirik ke arah yang istri tunjuk, namun dia tidak menemukan siapa pun. “Luna di dalam, hari sore begini saya tidak bisa biarkan Luna berkeliaran di luar.” Soal itu, Wanhan sepertinya harus mengacungkan jempol pada Arumi karena telaten merawat Luna. “Ibu di rumah?” “Iya, Mas.” Mata Wanhan kembali meliriknya. Sebutan mas itu memang belum terbiasa terdengar di telinga, namun menurut Wanhan itu lebih baik ketimbang bapak. “Nanti langsung pulang?” Kepala Arumi menoleh sembari menemani suami berjalan ke arah rumah. “Memangnya mau ke mana lagi, Mas?” “Menginap,” sahut Wanhan cepat. Mendadak kaki Arumi berhenti melangkah, mata Wanhan melirik atas reaksi darinya. “Saya rasa itu tidak pantas.” Dahi dia mengerut, tidak pantas itu baru terucap jika Wanhan hanya orang lain. Sementara d

    Last Updated : 2025-02-23
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 11. Wanita Miskin

    Mata Arumi memandang suami yang sedang menggotong Luna memasuki rumah, putri kecilnya itu tetap terlelap bahkan setelah tiba di rumah. "Luna sekarang lebih berat sedikit," komen Wanhan dengan suara pelan. Arumi mengikuti Wanhan menaiki tangga dari belakang. Hanya bisa memandang Wanhan yang begitu hati-hati membawa Luna. "Sudah ditimbang berapa berat badannya yang sekarang?" tanya Wanhan. Kepala Wanhan sempat menoleh padanya, meminta jawaban dari Arumi yang diam saja sejak tadi. "Tahun depan, ada bidan yang cek rutin di sekolah." Begitu selesai menaiki tangga, bukannya segera membuka pintu yang sudah ada di depan mata. Wanhan malah menghentikan langkah kaki hanya untuk memandangnya. "Apa saja yang biasanya dicek?" "Ukur tinggi badan, berat badan, penglihatan sampai tekanan darah. Kalau vaksinasi beda jadwal," sahutnya lancar. Wanhan bisa menyimpulkan kalau Arumi yang bekerja giat, ternyata tahu betul apa yang Luna dapatkan di sekolah. Berarti Luna yang selalu cerita d

    Last Updated : 2025-02-24
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 12. Hal Dewasa

    Wanhan benar-benar mengunjungi sang kakek selepas pulang kerja. Lelaki tua itu bergegas melempar gelas kosong ke arah lantai, tepat di hadapan kaki yang Wanhan pijakkan. "Oh," ujar Wanhan santai. "Aku kira bakal terisi kopi panas atau setidaknya alkohol." "Rupanya hanya gelas kosong," lanjut Wanhan sembari mendekat dengan senyuman mengejek. Anggara hanya memelototi sang cucu dengan mulut membisu. "Kamu ke mana saja! Saat hidup dan mati kakekmu ini dipertaruhkan!" sewot Anggara kemudian. Wanhan mendudukkan diri di atas sofa yang bersebrangan dengan sang kakek. "Dari yang aku dengar, bukankah hanya ponsel saja yang dijambret. Kenapa nyawa bisa terancam?" Melihat Wanhan yang begitu tidak peduli, membuat Anggara emosi pun percuma. Lelaki tua tersebut hanya menarik napas panjang. "Andai aku punya cucu menantu yang baik hati, dia tidak akan membuat pria tua ini cemas." Wanhan berdecak. "Bukankah aku sudah menikah? Untuk apa berharap punya menantu lagi?" "Kayak punya cucu

    Last Updated : 2025-02-27
  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 13. Anggara, Kakek Wanhan

    Suara gemuruh itu mulai terdengar dari langit, menandakan malam sebentar lagi akan ditemani hujan. Namun, suara Arumi lebih mendominasi di dalam kamar ketimbang petir yang kerap menjalar di langit. Wanhan tersenyum setiap kali perbuatan dia berhasil membuat Arumi kewalahan. Wanhan mulai bergerak perlahan seolah menyudahi malam panas di antara mereka, sampai Arumi menarik napas lega. "Kenapa Arumi? Apa kamu berpikir sudah selesai?" Pandangan Arumi tertuju pada Wanhan masih dengan napas yang lelah. "Bukankah sudah?" tanya Arumi pelan. Bibir Wanhan mengulas senyum, tubuhnya ditarik oleh Wanhan, kini Arumi berada di atas pangkuan. Ketika ingin turun, Wanhan langsung mencekal kedua pantatnya. "Aku belum selesai," ujar Wanhan. Arumi tersentak ketika tangan Wanhan menuntun untuk melanjutkan kegiatan, pertemuan yang amat kencang di bawah sana membuat Arumi menggigit bibir. Bukankah rasanya sakit? Seperti terakhir kali. Kenapa bisa senikmat ini? Wanhan yang berharap Arumi

    Last Updated : 2025-02-28

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 25. Penjilat Terbaik

    "Menurut kamu, wanita yang biasanya tidak pernah marah. Tiba-tiba dia bersikap selayaknya musuh." Wanhan langsung berhenti memainkan pena di jemari, dia tatap Dani yang sedang berdiri menunggu sang atasan menandatangani dokumen. "Apakah dia hanya sedang PMS saja atau memang lagi benci?" Setelah mendengarkan, Dani menggeleng dengan ragu. "Sedekat apa pun dengan wanita, saya tidak pernah tahu bagaimana wanita kalau lagi PMS." Wanhan diam sejenak, dia lupa kalau sang sekretaris selain bermulut tajam juga hampir tidak punya hati. Jadi, dekat dengan wanita pun mana mungkin mengerti. Dani memandang Wanhan dengan tertarik. "Apakah Bapak sedang dekat dengan wanita?" "Si Arumi," ujar Wanhan memberi tahu. "Dia hari ini sangat jutek padaku." Ekspresi Dani pun langsung berubah. Harapan lelaki tersebut, Wanhan bisa mengenal wanita lain dan menceraikan Arumi. "Saya merasa rugi, membuang waktu hanya untuk mendengarkan Bapak cerita di sini." "Tolong segera tanda tangani dokumennya, Pak," l

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 24. Bukan Pembantu

    Arumi menoleh dengan menunjukkan raut wajah terkejut. Wanhan sedang bercanda dengannya, kan? Tak mungkin benar-benar menyuruhnya. Namun, sorot mata Wanhan membingkai tubuhnya dengan antusias. "Kenapa Mas melihat begitu?" Arumi terburu berpaling dari pandangan suaminya. "Aku sedang membayangkan, tubuhnya yang biasanya kulihat setengah telanjang. Memakai pakaian itu, bukan hanya setengah tapi hampir seluruh bagian nampak jelas." Mendengar ucapan tak senonoh dari mulut suami, membuat Arumi tak menyangka sama sekali. Lelaki berwibawa seperti Wanhan rupanya mengingat tubuhnya dengan baik. "Jadi, cobalah dan biarkan aku menilai pakaiannya," lanjut Wanhan. Bukan Arumi kalau langsung menuruti. Ia justru segera menyimpan pakaian tipis tersebut ke dalam lemari, membuat Wanhan memandang dengan ekspresi tidak senang. "Aku menyuruh kamu memakainya, bukan malah menyimpannya, Arumi," keluh Wanhan. "Ini masih sore, aku harus menemani Luna belajar." "Berarti kalau malam kamu bakal me

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 23. Satu Kamar

    Aisyah membulatkan mata kemudian melirik pada Arumi yang menggelengkan kepala pelan. Wanhan juga menangkap ketidak setujuan sang istri. "Jangan pedulikan Arumi, Bu. Aku yang minta Ibu tinggal di sini," ujar Wanhan. Aisyah terkekeh. "Tidak perlu, Nak Wanhan." "Ibu tidak perlu merasa sungkan." "Ibu tidak terbiasa tinggal di rumah mewah," tolak Aisyah. Ibu mertua dia menolak tanpa bingung harus memberikan alasan. Berarti Aisyah memang tidak ada niat untuk tinggal dengan dia dan Arumi. Wanhan mengulas senyum. "Arumi terkadang merindukan Ibu, aku sebagai suami hanya ingin Arumi dekat dengan ibunya saja." Arumi segera melirik suaminya. Kapan ia kelihatan rindu pada ibunya? Padahal hampir tiap minggu dirinya berkunjung, terlebih jarak ke kontrakan ibunya tidaklah jauh. Wanhan membalas tatapannya dengan bibir yang masih mengulas senyum. Entah mengapa, dibalik keramahan suaminya sore ini seperti menyimpan sebuah rencana. "Ibu benar-benar tidak bisa tinggal dengan kalian," Ais

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 22. Tinggal Bersama

    Arumi mengulas senyum dan mendadak bangun dari posisi duduknya. "Pak Wanhan, saya sebagai karyawan tentu sangatlah kenal," ujarnya. Wanhan justru tidak senang ekspresi Arumi yang masih bisa senyum, padahal hati dia sudah dongkol dan serasa ingin menjungkir balikkan meja resto. "Duduk duduk!" pinta Anggara sembari tertawa. Kali pertama Wanhan lihat sang kakek begitu gembira. Padahal Arumi yang dikenalkan pada dia tak lain istri sendiri. "Nah, berhubung makanan sudah dipesan. Kita makan bersama," ujar Anggara senang. "Aku sudah makan tadi." Namun, Wanhan yang terburu menolak membuat Anggara menoleh dan berdecak. "Kamu makan apa, sih? Orang Dani tidak keluar untuk beli makanan." "Aku bawa bekal!" Anggara makin tidak senang. "Bekal dari istri miskin kamu itu! Bisa keracunan kamu kalau memakannya." Mata Wanhan langsung melirik ke arah Arumi yang hanya menunduk dengan mulut terdiam. Mendengar kakek suaminya menduga ia menaruh racun di dalam bekal makanan. Anggara mendengkus. "Ap

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 21. Kencan Dadakan

    Wanhan memasuki kamar dengan mata menemukan Arumi yang membeku. "Luna sudah bangun dan tadi bilang--" "Aku harus masak untuk bekal siang nanti." Selain memotong pembicaraan, Arumi juga bergegas meninggalkan kamar sang suami. Sampai Wanhan hanya bisa mengulas senyum melihat kelakuan istri yang dipastikan mendengar semua pembicaraan. "Jadi, dia dengar," ujar Wanhan masih dengan bibir tersenyum. "Itu artinya aku semakin bebas terhadapnya." Arumi berusaha bersikap seperti biasa, berdandan dan sempat memasak untuk bekal makan siangnya juga Wanhan. Namun, saat semuanya telah siap, Arumi justru mendengar suara mobil Wanhan yang menyala. "Masa harus lewat pak Dani lagi." Terburu Arumi berlari menuju depan rumah sembari menenteng bekal. Kapok rasanya menitipkan bekal lewat Dani, sudah tatapan lelaki itu memaki, mulut masih juga menyindir. Arumi bukanlah wanita dengan hati yang selalu sabar. "Mas bekalnya." Arumi langsung memberikan saat tiba di hadapan suami yang memasukkan Luna k

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 20. Bunda Dipinjam Dulu

    Ekspresi Airin menunjukkan tersinggung dengan ucapan dari Dani. Namun, setelah wanita tersebut mencerna, bibir langsung mengulas senyum. Kata rakyat jelata mendadak seperti pujian bagi Airin hingga terlihat senang. "Jadi, maksud kamu. Suami Arumi itu atasan kamu? Dia kaya raya begitu?" Dani mendengkus. Nampak tidak senang Airin menyebut Wanhan sebagai suami dari Arumi, wanita yang sangat tidak layak bersanding dengan sang atasan itu. "Karena tugas saya di sini sudah selesai, saya pamit pergi." Dani terburu bangun dari duduk dan meninggalkan Airin yang masih sibuk tersenyum. Membayangkan kehidupan yang lebih makmur lagi, setelah tahu punya adik ipar yang kaya raya. Setelah sadar dari lamunan, Airin mengambil ponsel dan mulai menghubungi Arumi. "Jam istirahat nanti ayo ketemu, ada yang ingin kakak bicarakan." Itulah pesan yang dikirim oleh Airin. Pada waktu istirahat, Arumi benar-benar menemui sang kakak karena ingin tahu apa yang dibicarakan, sebab Airin menyebutkan Wan

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 19. Sebuah Status

    Melihat Wanhan yang tidak ada niatan untuk mengemudikan mobil itu, membuat Airin tersenyum sangat ceria pasalnya merasa ada kesempatan.Airin mendekat dengan langkah tak sabaran."Adik ipar, bisa kita bicara?"Wanhan sempat melirik jam di tangan."Tidak akan lama, kok." Airin langsung memberi tahu.Yakin kalau kakak Arumi ini hanya akan bicara sebentar, Wanhan pun membuka pintu dan turun dari mobil. Bagaimana pun wanita ini ialah kakak ipar bagi dia. Tak mungkin bertindak kurang ajar. Airin sendiri terkesima dengan ketampanan Wanhan ketika dilihat dari dekat. Wanita tersebut mendadak merasa kalau Wanhan mirip dengan seseorang."Apa yang ingin Kakak ipar katakan?" tagih Wanhan.Airin tersenyum. "Apa kamu punya uang?"Mata sempat melirik pada mobil Wanhan yang diketahui mahal, Airin makin yakin kalau Wanhan bukanlah pria kere. "Berapa yang Kakak ipar inginkan?" Wanhan langsung membuka transaksi tak menguntungkan.Airin sangat ceria begitu Wanhan menyuruh menyebut nominal. "Cuma 20 jut

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 18. Tahu Diri Sedikit

    Rasa heran menelusup ketika Arumi berjalan semakin memasuki cafe dan beneran menemukan Wanhan di sana. Sebelumnya Wanhan mengirimi dirinya pesan untuk bertemu."Pak Wanhan," sebut Arumi sembari mendekat.Dahi Wanhan mengerut, begitu embel-embel itu kembali dia dapatkan dari Arumi."Kenapa, Mas minta bertemu di sini?" bisik Arumi pelan.Tapi, begitu sudah berdiri di hadapan dia. Panggilan Arumi langsung berubah, rupanya sang istri sedang bersikap hati-hati karena dia mengajak bertemu di cafe samping kantor."Duduk," pinta Wanhan.Arumi menarik kursi dan mulai menempatkan tubuhnya di sana."Jadi, ada apa, Mas? Luna beneran di antar sampai sekolah, kan?" Suara Arumi makin pelan saja.Wanhan bukannya menjawab, malah balik memberi pertanyaan."Kamu selingkuh dariku?""Hah?"Arumi menunjukkan raut wajah yang heran. Wanhan mendekatkan tubuh ke arah Arumi yang hanya terhalang oleh meja. "Kamu ketawa-ketawa sama anak magang itu, kamu kira aku tidak tahu?" suara Wanhan pun ikut pelan.Arumi b

  • Terjerat Pesona Ibu Anakku   Bab 17. Hasutan

    Arumi memandang kaget ke arah suaminya. Meski, untuk saat ini yang mendengar ucapan Wanhan hanya dirinya seorang. Wanhan sendiri melihat reaksinya langsung menoleh dengan dahi yang mengerut. Dia heran, Arumi sampai sekaget itu dan menimbulkan pertanyaan bagi dua pembantu yang menyaksikan. "Apa Ibu kelupaan sesuatu?" tanya salah satu pembantu. Setelah sadar, Arumi menggeleng sembari tersenyum. "Tidak ada." Namun, sorot mata sempat tertuju pada Wanhan yang kembali sibuk dengan kegiatan sendiri. Arumi pun memutuskan untuk kembali mengoleskan kecap. Sempat Wanhan melirik balik ke arah istri, perlahan bibir dia mengulas senyum, itu pun sangatlah tipis. Pada malam harinya. Luna benar-benar tidur di tenda, tentunya ditemani oleh Wanhan dan Arumi. Permasalahan pun datang setelah Luna tertidur lelap. "Kemari!" Wanhan memerintah dengan suara pelan. Namun, sorot mata begitu mengintimidasi Arumi yang hanya diam. Mereka berdua tidur dengan Luna sebagai penghalang. "Di sini ada Luna, Mas

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status