Home / Rumah Tangga / Terjerat Cinta Suami Adikku / Bab 2. Fakta Mengejutkan

Share

Bab 2. Fakta Mengejutkan

Author: Pita Chris
last update Last Updated: 2025-01-13 17:59:50

Aku melangkah tergesa-gesa melintasi koridor rumah sakit. Hawa dingin yang mencekam dan aroma antiseptik menyambut kedatanganku.

Aku berlari secepat mungkin menuju ruang rawat Riani. Air mataku meluruh tanpa henti. Duniaku seperti runtuh di atas kepalaku. Pikiranku terasa kosong. Waktu berlalu sangat lambat seperti dalam mimpi.

Sejuta pertanyaan terngiang-ngiang di benakku. Kenapa Riani bisa pingsan? Apa penyebabnya?

Jantungku berdebar makin tak karuan saat aku tiba di ruang itu. Kakiku terasa lemas tanpa sebab, membuatku nyaris pingsan. Aku mendapati seorang gadis duduk tertegun di bangku tunggu. Wajahnya pucat pasi, mulutnya komat-kamit seperti mengucapkan doa.

Aku menyadari situasinya sangat gawat saat melihat ekspresinya.

“Di mana adikku?! Gimana keadaannya?! Dia baik-baik aja, kan?” Aku terisak-isak. “Kok dia bisa pingsan?! Apa yang sebenarnya terjadi sama dia?!” Aku tidak bisa mengontrol diriku. Napasku terengah-engah akibat berlari.

“Tenang dulu, Kak. Tarik napas dulu—”

“Jawab aku! Aku Cuma butuh jawaban!” sergahku, panik dan cemas.

“D-dokter sedang memeriksa Riani. Aku juga lagi nunggu konfirmasi dari dokter, jadi aku nggak tahu apa yang terjadi sama dia, Kak.”

“Ya Allah…!” Tangisku makin meledak. Aku terduduk lemas di kursi sambil menangis terisak-isak.  Dalam sejarah hidup Riani, dia tidak pernah sakit sampai pingsan. Paling parah, dia hanya demam.

"Kakak jangan cemas. Aku yakin Riani baik-baik saja.” Gadis itu mengusap-usap pundakku lembut, berusaha menenangkanku.

Sayangnya, itu tidak berhasil.

Bagaimana aku bisa tenang saat adikku sedang terkapar tak berdaya di brankar rumah sakit? Namun,  sebagai kakaknya, aku tidak bisa menolongnya selain memanjatkan doa agar dia baik-baik saja.

Ketidak berdayaanku membuatku hancur dalam keputusasaan. Setelah tersiksa menunggu dalam ketidak pastian, akhirnya seorang dokter wanita keluar dengan raut serius dan tegang.

Aku langsung menghampirinya. “Gimana keadaan adik saya, Dok? Riani baik-baik saja, kan?” desakku.

“Apa kamu adalah kakak kandungnya?”

“Ya!” Aku mengangguk cepat. “Dia baik-baik saja, ‘kan, Dok?”

“Bisa kamu ikut saya? Saya ingin menyampaikan hal penting padamu.”

Jantungku seolah-olah berhenti mendengar itu. Ekspresi dokter memperkuat dugaanku bahwa Riani dalam bahaya, membuatku nyaris pingsan, tetapi aku berusaha tegar.

Dengan berat, aku mengangguk dan mengikuti dia ke ruang kerjanya.

“Ada apa, Dok? Kenapa Dokter memanggil saya? Apa terjadi hal buruk pada adik saya?” tanyaku terisak. Aku berusaha menguatkan diri pada kemungkinan terburuk.

“Silakan duduk dulu dan tenangkan dirimu.”

Aku menarik kursi dan duduk di depannya dengan gelisah. Dokter itu menaruh sebuah amplop putih berlogo rumah sakit di depanku.

Aku terpaku menatap amplop tersebut dengan pikiran berkecamuk. “Apa ini, Dok?”

“Silakan kamu lihat.”

Dengan tangan gemetar, aku mengambil dan membukanya.

Alisku mengernyit saat mengetahui isinya. Isinya adalah beberapa lembar kertas hitam putih.

Aku mengamatinya saksama, mencoba memahaminya.

“Apa ini, Dok?” tanyaku polos. Kertas itu tidak menjelaskan apa pun.

“Adikmu hamil.”

Aku terbelalak. Aku seperti tersambar petir di siang bolong. Tubuhku membeku. Sesaat aku lupa di mana aku berada.

Air mataku mengalir membanjiri pipi. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirku. Semuanya  terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Gak!” Aku menggeleng cepat, menepis kenyataan pahit itu. “Ini pasti salah, Dok! Nggak mungkin adikku hamil! Adikku gadis baik-baik! Dia bahkan benci banget laki-laki!” Kalimat itu bukan untuk dokter itu, melainkan untuk diriku. Aku berupaya menyangkal kenyataan pahit itu.

“Saya sudah melakukan pengecekan berkali-kali. Mulai tes darah, air seni dan USG. Semuanya menunjukkan tanda-tanda kehamilan.” Suara Dokter terdengar prihatin, seperti menyampaikan berita duka.

“Gak! Itu pasti salah!” Aku mulai menjerit histeris.

Dokter menyentuh tanganku lembut. “Saya sangat memahami perasaanmu sebagai kakak. Tetapi kita jangan berprasangka buruk dulu pada adikmu. Mungkin saja telah terjadi hal buruk padanya.”

Aku tertegun, bingung. “Apa maksudnya, Dok?”

“Kamu pasti paham maksudku.” Dokter itu tersenyum penuh arti. “Lebih baik, kamu bertanya langsung pada adikmu. Tetapi kamu harus berhati-hati dalam mengontrol emosimu, karena kandungannya cukup lemah akibat stres berat.”

Setelah berkonsultasi sejenak, aku memutuskan keluar dan terduduk di bangku tunggu sambil menangis sesenggukan.

Aku sudah tidak peduli dengan tatapan orang berlalu-lalang, yang menatapku iba dan penasaran.

“Kenapa hal ini bisa menimpa adikku, Ya Allah?” gumamku kecewa. Mungkinkah Riani mengalami rudapaksa seperti dugaan dokter?

Dadaku sesak seperti ditekan beban berat saat membayangkan itu. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak karena lalai melindungi adikku.

Aku kembali menatap hasil USG itu dengan perasaan hancur porak-poranda. Ingusku dan air mataku sudah meleber ke mana-mana, tetapi aku tidak peduli.

Teganya Riani menyembunyikan hal sepenting ini dariku. Rasanya, aku seperti baru saja dikhianati.

Aku menarik napas dalam-dalam di depan pintu sebelum masuk ke ruang rawat Riani, berusaha menyiapkan mental. Tentu saja, masalah itu akan menciptakan jarak di antara kami. Namun, aku harus tabah demi adikku karena dia yang lebih hancur dari padaku.

Aku memaksakan senyum kecil saat masuk. “Gimana keadaanmu, Rin?” Aku menghampirinya. “Apa kamu sudah mending—”

“Apa kata dokter, Kak? Dia ngomong apa aja sama Kakak?” sergah Riani panik. Dia mengabaikan pertanyaanku.

Aku terdiam, berusaha memilih kata-kata yang tepat. “Katanya, kamu Cuma kecapekan, kok.” Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk membahas kehamilan Riani.  Meski kekecewaan mendominasi hatiku, aku lebih takut kehilangan Riani.

Bagaimana jika kandungannya kenapa-kenapa sehingga memengaruhi kesehatannya?

“Syukurlah.” Dia tersenyum lega.

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, berusaha menahan tangis.

Bagaimana dia masih bisa tersenyum saat dia harus memikul beban berat? Aku tak menyangka nasib sial ini akan menimpa Riani.

Aku bersumpah akan membuat pelaku yang menghamili dia bertanggung jawab.

“Kakak bawain makanan kesukaanmu, loh. Ayo, makan. Biar Kakak suapin.” Aku berpura-pura antusias seraya mengeluarkan kotak nasi dari plastik.

“Aku nggak lapar, kok, Kak. Kakak aja yang makan.”

“Tetapi kamu harus makan. Nanti jani... Maksudku, kamu nggak boleh menyiksa dirimu lebih lagi.” Aku merutuki bibirku. Nyaris saja aku keceplosan mengucapkan ‘janin’.

Riani menghela napas pelan, lalu mengangguk. Aku membantunya duduk bersandar di kepala kasur, lalu menyuapinya.

Hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan di antara kami. Aku hanyut dalam pikiranku.

“Kakak kenapa?”

Suara Riani menyentakkanku dari lamunan. Aku mendongak, menatapnya bingung. “Kamu ngomong apa tadi, Rin?”

“Kakak kenapa? Kok melamun?”

Aku tersenyum kaku, menegang. “Kakak baik-baik aja, kok.”

“Tetapi Kakak kayak orang stres gitu. Kakak sedang mikirin apa?” Sorot mata Riani tampak cemas. “Apa Kakak mengkhawatirkan aku?”

Aku membisu, sulit mengungkapkan perasaanku.

Dia terkekeh pelan. “Aku baik-baik saja, kok. Percaya sama aku. Aku janji aku nggak bakalan sakit lagi.”

Bulir-bulir bening meluncur bebas dari pelupuk mataku. Aku langsung menghamburkan pelukan pada Riani sambil terisak di pundaknya.

“Kakak kenapa?” Riani syok melihat perubahan sikapku. Aku hanya membisu, enggan menjawab. Saat ini, aku hanya ingin memberikan semangat padanya  melalui pelukan.

“Kakak?” Riani ikut terisak. Aku merasakan tubuhnya gemetar dalam dekapanku. “Jangan buat aku takut.”

Aku segera melerai pelukanku dan tersenyum lembut. “Kakak baik-baik saja. Kakak Cuma bersyukur kamu nggak kenapa-kenapa.” Aku menyeka air mata dari pipinya yang pucat. “Karena jantung Kakak kayak berhenti berdetak saat dengar kamu pingsan di sekolah.”

Riani menunduk sedih. Tangisnya pecah, tetapi dia berusaha menahannya, terdengar memilukan.

Hatiku tercabik-cabik mendengar itu.

"Maafkan aku.” Suaranya terdengar lirih, penuh penyesalan. “Aku selalu menyusahkan Kakak. Seharusnya aku bisa jaga diriku baik-baik.”

Aku tahu perkataan Riani mengarah ke arah lain, bukan takut karena telah membuatku khawatir.

Apakah sekarang waktunya aku membahas tentang pelakunya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 3. Pelaku

    Sudah seminggu berlalu, tetapi kesehatan Riani justru makin memburuk. Dia makin sering muntah dan lemas, bahkan dia sudah beberapa kali pingsan di sekolah. Aku sudah berkali-kali mendesaknya untuk istirahat, mengambil cuti sementara sampai pulih. Akan tetapi, Riani menolak keras dengan alasan takut ketinggalan pelajaran, seolah pelajaran lebih penting dari pada kesehatannya.Tentu saja, kondisi Riani ini mengundang kecurigaan. Guru-gurunya mulai bertanya-tanya dan akhirnya melapor pada orang tua kami. Setiap kali mereka menelepon, aku berusaha memberikan alasan masuk akal, salah satunya adalah Riani sedang stres menghadapi ujian.Untungnya, mereka sedang di luar kota mengurus usaha toko kue keluarga, jadi mereka tidak bisa langsung menginterogasi Riani. Namun, aku tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahui hal ini.Kini, aku berdiri di depan kamar Riani, membawa nampan berisi segelas susu hangat dan semangkuk bubur ayam. Tanganku sedikit gemetar, bukan karena beratnya

    Last Updated : 2025-01-13
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 4. Mantan

    Aku membasahi bibirku yang kering saat rasa bimbang menyerangku. Tanganku mulai berkeringat dan tubuhku basah.“Hei, Diani? Kok kamu diam aja, sih?” Suara Anggi menggema di ponselku.Lamunanku seketika buyar. “Maaf, maaf.”“Kamu kenapa, sih? Aneh banget hari ini, apa lagi saat di sekolah tadi. Kamu lagi ada masalah atau gimana?” tebak Anggi tepat sasaran. “Cerita dong sama aku.”“N-nggak kok.” Aku mengelak. “A-aku Cuma… Cuma mau tanya sesuatu sama kamu.” Aku bingung bagaimana cara menyampaikannya. “Soal apa? Tumben. Soal pelajaran? Aku nggak bisa. Kamu tahu sendiri otakku sudah kugadaikan.” Anggi cekikikan.Aku tidak tertawa mendengar candaan itu. Rasanya aku tidak bisa bahagia lagi.“Din? Kamu serius baik-baik aja? Kamu jangan buat aku khawatir.” Suara Anggi terdengar cemas. “Pasti terjadi sesuatu, kan?”Aku sangat sulit menyembunyikan apa pun dari sahabatku. “Kamu lagi di mana?” Aku segera mengalihkan pembicaraan.“Di rumah, kenapa? Kangen?” goda Anggi, berusaha mencairka

    Last Updated : 2025-01-13
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 5. Sandiwara

    Febrianti mengangguk pelan. “Kenapa Kakak kaget banget?” Tatapannya menyorotkan rasa penasaran.“Itu berarti kamu tahu rumah Darma, ‘kan?” Mataku berbinar, penuh harap.“Kakak belum jawab pertanyaanku tadi,” ulangnya lembut. “Ada hubungan apa Kakak dengan Darma? Kenapa Kakak pengen banget cari dia?”Aku menghela napas berat, tak tahu harus memulai dari mana. Mustahil aku mengungkap fakta sebenarnya. Aku tidak tega membeberkan aib adikku pada siapa pun.“Kak...” Aku sedikit tersentak saat merasakan kehangatan menyentuh tanganku lembut. Rupanya, Febrianti menggenggam tanganku untuk menguatkan.“Kok Kakak nangis?”“Nangis?” Aku refleks menyentuh pipiku dan terkejut. Sejak kapan aku menangis? Tanpa kusadari, air mataku meluruh deras sampai membanjiri wajahku.“Cerita aja, Kak.” Gadis itu membujukku sambil menatapku iba. “Aku janji nggak bakalan bocorin masalah Kakak pada siapa pun. Aku mau bantu Kakak menyelesaikan masalah Kakak, karena aku tahu Darma adalah cowok berengsek.”Ak

    Last Updated : 2025-01-13
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 6. Fakta Menunjukan

    “Siapa yang hamil?” Ibu menatap kami dengan alis berkerut, memperlihatkan kerutan di sekitar matanya.Dia masuk sambil membawa nampan berisi roti dan susu, lalu menaruhnya di nakas dekat Riani.Aku dan Riani hanya saling melirik gugup, takut untuk menjawab.“Kok kalian diam aja? Ibu lagi tanya, loh.” Kecurigaan Ibu makin menjadi-jadi.“I-itu, Bu...,” Aku memberanikan diri bersuara sembari menggaruk keningku yang tak gatal untuk meredakan keteganganku. “Ibu temanku di sekolah hamil lagi.”“Siapa namanya?” Wajah ibu tampak tidak puas dengan jawabanku, seolah tahu aku berbohong. Dia menyodorkan susu pada Riani, yang menunduk takut-takut.“Anggi.”“Anggi?” Ibu terkejut. “Dia ‘kan sudah remaja, masa ibunya hamil lagi, sih?”Aku terkekeh kaku. “Aku juga nggak tahu. Namanya juga rezeki, Bu.”“Benar ju—”“KAPAN KALIAN MAU MEMBAYAR HUTANG KALIAN, HAH? KALIAN SUDAH MENUNGGAK BEBERAPA BULAN!”Aku, Riani dan Ibu terkejut saat teriakan seorang pria menggelegar di rumah kami. Suara i

    Last Updated : 2025-01-13
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 7. Tekad

    “Ayah, bangun!” Aku dan Ibu menangis histeris sambil menggoyangkan tubuh Ayah yang tergeletak di lantai UGD. Empat perawat buru-buru mengangkat Ayah ke brankar di samping Riani, lalu Dokter segera memeriksanya. “Sebaiknya Ibu dan Anda keluar agar kami bisa menangani keluarga kalian dengan baik.” Seorang suster menyarankan. "Nggak! Saya mau menemani anak dan suami saya! Minggir!” Ibu menjerit-jerit histeris, membuat suasana makin runyam. Tanpa berhenti menangis, aku membujuk Ibu untuk segera keluar, tetapi aku malah terkena tamparannya. “Diam kamu! Semua ini salahmu!” maki Ibu sambil memelototiku. “Kalau kamu kasih tahu kami tentang ini dari awal, Ayah nggak bakalan kayak gini! Apa kamu lupa kalau Ayah punya riwayat sakit jantung?!” Aku makin terisak-isak hebat. “M-maafkan aku, Bu. Aku nggak bermaksud—” “Maaf, jangan bertengkar di sini. Kalian menganggu konsentrasi Dokter dan tim medis lainnya yang sedang berusaha menyelamatkan keluarga kalian.” Kalian tidak mau keluarga kalian

    Last Updated : 2025-02-01
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 8. Amarah Yang Memuncak

    Keheningan menyergap aku dan pemuda di depanku selama beberapa saat. Aku sempat terpaku pada ketampanannya. Rahangnya tegas, hidungnya mancung dan alisnya tebal. Aku baru menyadari ketampanan Darma jika dilihat dari dekat. “Kamu siapa? Ada perlu apa, ya?” tanya Darma memecah keheningan. Suaranya terdengar serak khas bangun tidur. Aku menatap Darma dingin. “Aku Diani.” “Diani?” Darma mengernyit, berusaha mengenaliku. “Oh! Kamu! Aku ingat sekarang! Kita pernah sekelas, kan?!” Aku hanya mengangguk singkat, tak berniat meresponsnya dengan ramah. “By the way, dari mana kamu tahu alamat kosanku?” Darma bersandar ke kusen pintu sambil melipat tangan depan dada, menatapku lembut dan dalam, memperlihatkan sisi maskulinnya. “Itu nggak penting,” ketusku, mengalihkan pembicaraan, tak tergoda dengan penampilannya yang rupawan. “Sekarang kamu harus bertanggung jawab.” Aku bisa melihat ekspresi Darma menegang sekaligus kebingungan. “Tanggung jawab soal apa?” Darma mengernyit, tetapi sedetik

    Last Updated : 2025-02-02
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 9. Penghinaan

    "Beraninya cewek lemah kayak kamu mengancamku,” bisik Darma tajam. “Kalau semua penghuni kos ini sampai tahu soal ini, aku nggak akan segan-segan berbuat macam-macam sama kamu, paham?”Aku spontan mendorong dada Darma sekuat tenaga sebelum dia bertindak kurang ajar. “Aku nggak takut! Jika masih menolaknya, aku akan melaporkan kamu ke polisi sekarang juga!”Aku melewati cowok itu, tetapi dia menahan tanganku erat-erat. “Lepasin aku!” Aku memberontak sekuat tenaga, melepaskan cengkeramannya.Darma berkali-kali mendengus kesal. Wajahnya tampak jengkel dan pasrah. Apakah dia menyerah?“Di mana adikmu sekarang?” tanya Darma kemudian.“Memangnya kenapa?” tanyaku ketus. Jangan-jangan dia sedang merencanakan rencana jahat. Aku harus memastikannya.“Aku akan tanggung jawab! Puas?”Aku terkejut, tetapi tetap memasang ekspresi datar. “Bagus! Memang seharusnya begitu! Ayo!” Aku menarik tangan Darma mengikutiku. Tak membiarkan dia kabur.Kami menaiki taksi menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan,

    Last Updated : 2025-02-03
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 10. Sebuah Petunjuk

    Seminggu telah berlalu. Riani dan Darma hanya melangsungkan pernikahan mereka di KUA tanpa ada resepsi atau acara besar-besaran karena mengingat kondisi keuangan orang tua kami sedang sulit dan terlilit utang. Sedangkan orang tua Darma tidak mau ikut campur.Sudah seminggu mereka tinggal di rumah orang tuaku.Namun, berita pernikahan itu menyebar luas ke seluruh komplek. Berbagai tudingan kejam ditujukan pada Riani. Secara terang-terangan para tetangga menuduh Riani hamil di luar nikah sehingga dia buru-buru menikah saat masih berumur tujuh belas tahun.Aku masuk ke kamar Riani sambil membawa nampan berisi masakan sehat khusus ibu hamil. Namun, aku terkejut saat mendapatinya sedang menangis.“Ada apa, Riani?”Riani buru-buru menyeka air matanya dan tersenyum. “Nggak ada apa-apa, Kak.”“Kamu jangan berbohong,” pintaku sambil duduk di sampingnya. “Jika ada masalah, kasih tahu aku. Aku pasti bantu.”Riani menggeleng sambil menunduk, membuat air matanya bertetesan ke bantal yang dipelukny

    Last Updated : 2025-02-04

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 29. Penguburan Dan Rahasia Yang Terungkap

    (POV Diani)Hari itu langit tampak suram, seakan merasakan kesedihan yang menyelimuti keluargaku. Aku berdiri di samping makam Riani, menatap batu nisan yang tertutup bunga dan tanah basah. Hati ini rasanya hampir tak sanggup menahan beban yang terus datang. Riani, adikku, yang dulu selalu ceria, yang dulu selalu ada untukku, kini hanya bisa kuingat dalam kenangan.Kami baru saja menguburkan Riani. Pemakaman ini terjadi begitu cepat. Begitu banyak hal yang belum sempat aku katakan padanya. Begitu banyak yang belum sempat kami selesaikan. Tapi kini, semuanya telah terlambat. Aku tidak tahu harus merasa apa. Duka mendalam? Iya, pasti. Tetapi ada juga perasaan marah yang membara dalam dada. Marah pada Darma. Marah pada ketidak peduliannya. Marah pada dunia yang begitu kejam padanya. Aku sudah terlalu lama diam.Ketika kami pulang dari pemakaman, rumah kami dipenuhi oleh keheningan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ayah dan ibu duduk di ruang tamu, wajah mereka hancur. Mereka ti

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 28. Ketakutan Yang Menghantui

    (POV Darma)Aku masih sangat jengkel saat Diani menyerangku dan mempermalukanku di klub beberapa saat lalu. Makiannya terus terngiang-ngiang di telingaku, meski aku sudah meneguk beberapa gelas alkohol.Sekarang teman-temanku terus-menerus menanyaiku tentang Riani dan meminta penjelasan tentang pernikahan kami. Padahal aku mengaku pada mereka bahwa aku masih lajang.Sial! Beraninya gadis itu mempermalukanku aku di depan teman-teman balap liarku.Aku meremas gelas alkohol saat teringat tatapan penuh kebencian dan tangisan histeris Diani. Sebenarnya aku juga heran tentang kepergian Riani, karena baru pertama kali dia pergi tanpa izinku.Apalagi saat Diani menangis histeris di depanku, membuatku makin penasaran. Dia memang selalu mengkhawatirkan adiknya, tetapi kali ini berbeda, seolah-olah Riani sedang di ambang malapetaka.Namun, bukan itu yang kucemas. Ada perasaan aneh yang memenuhi di dadaku dan aku tidak tahu bagaimana cara menyingkirkannya.Aku merasa cemas dan tegang tanpa alasan

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 27. Kenyataan Yang Tak Bisa Diterima

    Aku keluar dari club dengan dadaku masih terbakar rasa marah dan benci yang bercampur aduk. Percakapanku dengan Darma barusan benar-benar membuatku muak. Bagaimana mungkin dia bisa sekejam itu? Bahkan di saat Riani sedang dalam kondisi yang tidak jelas, dia masih saja tidak peduli.Langkahku terasa berat saat berjalan di trotoar. Udara malam terasa dingin, tapi bukan itu yang membuat tubuhku menggigil. Rasa takut dan gelisah terus menghantui pikiranku. Aku masih belum tahu di mana Riani dan orang tuaku berada. Darma jelas tidak peduli. Dia bahkan berharap Riani mati.Pikiran itu membuat dadaku sesak. Aku mengeluarkan ponselku dan mencoba menelepon Ayah sekali lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban. Aku benar-benar tidak tahu harus mencari mereka ke mana lagi.Tetapi, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benakku. Beberapa bulan yang lalu, aku pernah mengantar Riani ke rumah sakit karena dia pingsan di kosan. Saat itu, dokter menyuruhnya untuk banyak istirahat dan tidak terlalu stres.Mun

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 26. Bertengkar Hebat

    (POV Diani)Hari ini cukup melelahkan. Aku baru saja selesai menemani temanku membeli beberapa baju untuk acara akhir pekan. Ketika sampai di depan rumah, hal yang kupikirkan adalah mandi lalu tidur.Namun, saat aku membuka pintu rumah dan memasuki ruang tamu, perasaan cemas langsung menyelimuti hatiku. Rumah yang biasanya ramai dengan kehadiran orang tua, kini terasa kosong. Tidak ada suara Ibu yang biasanya menyambutku saat pulang. Tidak ada suara televisi yang sering Ayah tonton.Aku berdiri sejenak sambil menatap ke sekeliling. Suasananya sangat berbeda dari sebelumnya. Sangat sepi dan hampa.“Bu?” Aku mencari mereka di semua ruangan, tetapi tidak ada. Ini aneh. Ibu dan Ayah jarang sekali pergi pada malam hari, apalagi tanpa memberitahuku. Biasanya mereka selalu mengabari ke mana mereka pergi, meski hanya sebentar. Tapi malam ini, tidak ada kabar sama sekali. Aku mulai merasa khawatir. Ada yang tidak beres.Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan mengirimi pesan pada Ibu dan Ayah.“K

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 25. Harapan Terakhir

    (POV Riani) Aku berusaha tetap sadar, meski semuanya terasa gelap dan rasa sakit di seluruh tubuhku membuatku nyaris pingsan. Pandanganku kabur dan perutku terasa kram luar biasa. Aku mencoba memegang dinding untuk berusaha bangkit berdiri, tetapi tenaga yang kumiliki habis sehingga aku kembali terduduk lemas di lantai. Aku teringat pada bayi di dalam kandunganku. Aku memegangi perutku yang sudah membesar. Rasa nyeri hebat menghantam dinding perutku, membuat darah mengalir dari selangkanganku. ‘Tolong, Tuhan. Jangan sampai aku kehilangan bayiku!’ jeritku dalam hati. Aku mengerang pelan sambil mencoba bangkit dengan bertumpu pada meja kecil di dekatku. Namun, tanganku gemetar hebat dan pandanganku makin gelap. Sebelum aku bisa berdiri dengan sempurna, sikuku menyenggol gelas di atas meja. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, suaranya menggema dalam kesunyian rumah yang mencekam. Aku tersentak dengan napas tersengal-sengal. Aku kembali meraih meja di dekatku, tetap

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 24. Keguguran?

    Langit biru mulai berubah kekuningan saat aku melangkah keluar dari rumah Ibu. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku menghela napas panjang untuk mencoba menguatkan diri. Pertemuan singkat dengan Ibu membuat dadaku semakin sesak. Apalagi saat aku memasuki rumah itu yang mengingatkanku pada masa kecilku. Aku sangat merindukan semua momen bahagia saat aku dan Diani menghabiskan waktu bersama dengan orang tuaku. Meski masalah utang terus mengancam kami, aku masih bisa berbahagia menikmati kebersamaan keluarga. Bukan seperti sekarang. Setiap hari hanya ada air mata dan ketakutan. Aku menyesal telah menyerahkan diriku pada Darma karena cinta. Kata-kata manisnya seolah dia sangat mencintaiku telah meracuni pikiranku. Dia telah menghancurkan seluruh hidupku. Aku menghela napas berat. Tidak ada gunanya aku menyesali semua yang telah terjadi. Semuanya telah terlambat untuk diperbaiki. Sekarang aku harus fokus menanggung kesalahannya, m

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 23. Berpura-pura Kuat

    (POV Riani)Ponselku bergetar di atas meja, mengirimkan getaran halus yang terasa menusuk di hatiku. Aku ragu-ragu sebelum mengambilnya. Nama yang tertera di layar membuat dadaku semakin sesak.“Ibu?”Tanganku gemetar saat aku menyentuh layar untuk menjawab panggilan itu.“Halo, Bu.” Aku berusaha menjawab setenang mungkin.“Gimana kabar kamu hari ini, Nak? Ibu kangen banget sama kamu.” Suara Ibu terdengar lembut dan penuh kerinduan, tapi juga menyimpan kekhawatiran yang begitu jelas. Aku tahu, Ibu pasti sudah lama ingin bertemu denganku. Sudah hampir sebulan aku tidak pulang, tidak berani mengangkat telepon lebih dulu.Aku menelan ludah. Bagaimana aku bisa pergi ke sana dengan kondisi seperti ini?Aku melirik pantulan diriku di cermin kamar. Wajahku masih menampilkan bekas luka. Pipi kiriku memerah dengan sedikit kebiruan. Lengan dan bahuku terasa nyeri setiap kali kugerakkan. Tubuhku sudah penuh dengan memar yang kusembunyikan di balik pakaian longgar.Bagaimana jika Ibu melihatnya?

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 22. Jejak Yang Hilang

    (POV Diani)Aku menatap layar ponsel yang baru saja menampilkan panggilan berakhir. Perasaan aneh memenuhi hatiku. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Riani mendadak meneleponku duluan. Nada suaranya terlalu bergetar. Napasnya terdengar tidak stabil dan aku yakin dia sempat menangis sebelum mengangkat telepon tadi. Biasanya aku selalu pertama kali menghubunginya untuk memancingnya agar Riani mau curhat atau berkata jujur mengenai masalah pernikahannya, tetapi dia selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan memintaku untuk tidak mengkhawatirkan apa pun. Aku menggigit bibir sambil menatap kosong ke dinding kamarku. Kekhawatiranku makin menjadi-jadi. Sejak pernikahan adikku dengan Darma, aku tidak pernah bisa hidup tenang karena cowok itu telah merebut Riani.Sekarang Riani telah berubah drastis. Dulu dia gadis yang ceria, penuh semangat dan selalu berantusias saat menceritakan tentang impian-impiannya. Tapi sekarang, setiap kali aku bertanya tentang kehidupannya, jawabann

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 21. Bertahan

    (POV Riani)Aku duduk di sudut kamar yang gelap sambil memeluk lutut dengan tubuh gemetar. Cahaya dari lampu meja yang remang-remang tidak bisa mengusir kegelapan yang menyelimuti hatiku. Bekas tamparan Darma masih terasa panas di pipiku, tapi yang lebih menyakitkan adalah luka di dalam hatiku yang semakin terbuka lebar.Darma pergi lagi. Entah ke mana. Entah untuk berapa lama.Aku bahkan tidak ingin tahu.Setiap kali dia pulang, yang kudapatkan hanya cacian dan pukulan. Setiap kali aku mencoba berbicara, dia hanya menganggapku beban.Aku menunduk dan memandangi perutku yang mulai membesar.Bayiku…Anak ini akan segera lahir, tapi aku masih terjebak dalam penderitaan yang seolah tak berujung. Apakah aku sanggup bertahan di sini? Aku tidak tahu. Jika aku terus tinggal bersama Darma, cepat atau lambat dia akan menyakiti bayi ini juga.Tapi aku bisa pergi ke mana?Aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku.Mereka sudah cukup menderita dengan utang yang menumpuk. Aku tidak bisa menambah

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status