Home / Rumah Tangga / Terjerat Cinta Suami Adikku / Bab 10. Sebuah Petunjuk

Share

Bab 10. Sebuah Petunjuk

Author: Pita Chris
last update Last Updated: 2025-02-04 15:40:00

Seminggu telah berlalu. Riani dan Darma hanya melangsungkan pernikahan mereka di KUA tanpa ada resepsi atau acara besar-besaran karena mengingat kondisi keuangan orang tua kami sedang sulit dan terlilit utang. Sedangkan orang tua Darma tidak mau ikut campur.

Sudah seminggu mereka tinggal di rumah orang tuaku.

Namun, berita pernikahan itu menyebar luas ke seluruh komplek. Berbagai tudingan kejam ditujukan pada Riani. Secara terang-terangan para tetangga menuduh Riani hamil di luar nikah sehingga dia buru-buru menikah saat masih berumur tujuh belas tahun.

Aku masuk ke kamar Riani sambil membawa nampan berisi masakan sehat khusus ibu hamil. Namun, aku terkejut saat mendapatinya sedang menangis.

“Ada apa, Riani?”

Riani buru-buru menyeka air matanya dan tersenyum. “Nggak ada apa-apa, Kak.”

“Kamu jangan berbohong,” pintaku sambil duduk di sampingnya. “Jika ada masalah, kasih tahu aku. Aku pasti bantu.”

Riani menggeleng sambil menunduk, membuat air matanya bertetesan ke bantal yang dipelukny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 11. Rumor

    Keesokan harinya, aku buru-buru ke luar setelah bersiap-siap mengenakan celana jeans dan kaos putih. Rambutku hanya dikuncir kuda, sedangkan wajahku tidak dipoles riasan.“Kamu ke mana, Nak?” tanya Ibu heran. “Kok pakai baju bebas?” Ibu dan Ayah sedang bersantai di ruang tamu.Aku tak menduga mereka sedang berbincang-bincang di situ. Aku tersenyum kaku. “Aku mau ke tempat Riani, Bu,” jawabku setenang mungkin.“Loh? Memangnya kamu nggak sekolah?” tanya Ayah sambil melipat koran. Alisnya berkerut tajam sambil menatapku heran.Ibu spontan berdiri dengan cemas. “Apa terjadi sesuatu sama Riani?” tebak Ibu. Dia tampak hampir menangis.Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Apa yang harus kujawab? Tidak mungkin aku mengatakan tentang mimpi burukku.“Din, jawab Ibu!” desak Ibu sambil menggoyang-goyangkan lenganku. “Jadi, tebakan Ibu benar?!”“Riani baik-baik saja, Bu.” Aku tersenyum sambil menggenggam tangannya lembut. “Katanya, dia bosan karena ditinggal kerja sama Dharma, makanya dia minta

    Last Updated : 2025-02-05
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 12. Ayah Kejam!

    Selama kami di kantin, Clara bercerita tentang banyak hal. Aku hanya tersenyum atau mengangguk sebagai tanggapan. Aneh, tetapi aku merasa nyaman dekat dengannya.Aku baru menyadari Clara sangat mirip dengan Diani. Caranya tertawa, bercerita dan auranya. Gadis itu mengingatkanku pada Riani dulu yang selalu ceria sebelum semuanya berubah.“Apa benar adikmu sudah nikah sama Darma?” Tiba-tiba seorang gadis lain bertanya ketus padaku.Hari ini sudah sangat banyak siswi yang menanyakan tentang kebenaran pernikahan Riani dan Darma.Aku banyak terdiam karena bingung memberi alasan yang masuk akal. Sepertinya mereka tidak terima karena Darma, cowok idaman mereka, telah menikah.“Jawab! Jangan malah diam!” bentaknya. Teriakannya membuatku jadi pusat perhatian. Aku makin ketakutan.“Apa-apaan sih?! Hak Diani mau jawab atau enggak! Pergi sana!” ketus Clara.Aku tertegun sejenak. Clara benar-benar mirip Riani. Dia akan sangat judes jika ada yang mengganggu kami.Gadis bar-bar itu pergi dengan kesa

    Last Updated : 2025-02-06
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 13. Fakta

    “Aku dengar kamu punya adik, ya?” tanya Clara tiba-tiba di sela-sela waktu belajar kami. Aku menegang. Apa yang harus kujawab? Sejak rumor di sekolah, aku jadi takut membahas soal Riani pada orang asing. “Aku lihat ada foto saat kamu sedang berfoto dengan seorang gadis.” “Ya,” jawabku senormal mungkin. “Itu adikku.” “Kok dia nggak ada di sini? Apa dia pergi les?” tebak Clara. Aku terdiam karena bingung harus menjawab apa. “Sorry, Din. Aku bukan mau kepo. Aku Cuma mau kenal sama keluarga kamu aja,” jelas Clara cepat, tersenyum manis. Sepertinya dia menyadari keenggananku. Senyum Clara sangat tulus, membuatku tak tega untuk tidak menjawab. “Dia nggak tinggal sama aku dan orang tuaku lagi.” Clara bingung dan terkejut. “Kenapa?” Aku menggaruk pipiku yang tak gatal. “Dia tinggal sama—” “Maaf kalau Ibu menganggu kalian.” Tiba-tiba Ibu datang ke ruang keluarga sambil membawa teh dan roti, lalu menaruhnya di meja. “Silakan dinikmati. Maaf, Tante Cuma ada ini.“ Dia terkekeh. “Nggak a

    Last Updated : 2025-02-07
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 14. Keputusan Yang Sulit

    “Dobrak? Ngapain, Dek!?” Tetangga itu sangat syok, seolah aku menyuruhnya mencuri.Aku bingung mencari alasan yang masuk akal. “Adik saya sedang hamil, sedangkan suaminya jarang pulang, jadi saya takut dia kenapa-kenapa dan nggak ada yang tahu.”“Benar juga.” Tetangga itu ikut cemas. “Tunggu sebentar. Saya panggil suami saya dulu.”Aku mengangguk. Wanita paruh baya mengenakan daster lusuh tersebut buru-buru masuk ke rumahnya, lalu tak lama kemudian, dia datang bersama seorang pria bertubuh ceking.Dalam dua tendangan, pintu berhasil terempas dan terbuka lebar. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas masuk untuk memastikan Riani tidak ada di dalam. Namun, dugaanku salah. Langkahku seketika terhenti saat menemukan sesosok gadis bertubuh kurus terkapar di dekat pintu kamar mandi.“Riani!” jeritku histeris sambil buru-buru menghampirinya. Mendengar kepanikan itu, sepasang suami-istri itu ikut masuk.“Ada apa?! Astaghfirullah!”“Riani, bangun! Ini Kakak!” Aku menangis frustasi sambil m

    Last Updated : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 15. Serba Salah

    “Rin?” Aku menyentuh tangan Riani saat dia tak menjawab sama sekali. Dia membisu seperti sangat sulit menyetujui keputusanku.“Aku nggak bisa, Kak.” Riani menatapku sendu dan putus asa.Aku terdiam karena terkejut mendengar jawabannya yang tak terduga. “Kenapa?” tanyaku sambil berusaha menyembunyikan rasa kecewa.“Karena aku yakin Darma bakalan berubah sesudah anak kami lahir.” Riani tersenyum kecil sambil mengusap perutnya yang masih rata. Matanya berbinar penuh harapan. “Aku juga nggak mau anakku nanti terlahir di keluarga yang nggak utuh. Itu sangat menyakitkan. Bagaimanapun, dia membutuhkan sosok seorang ayah.”“Bagaimana kalau tidak?” Aku tak tega menghancurkan harapan itu, tetapi aku tidak bisa membiarkan Riani terus menderita. “Kamu sama aja membunuh mental anakmu nanti.”“Aku yakin hal itu pasti akan terjadi,” jawab Riani pelan. “Cepat atau lambat.”“Tetapi dia sudah berani KDRT sama kamu. Dia juga sama sekali nggak peduli dengan calon bayi kalian.” Aku berusaha meng

    Last Updated : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 16. Pengkhianat

    Keesokan harinya, aku duduk di salah satu meja kafe dekat sekolahku. Aku menatap ponselku dan pintu kafe bergantian dengan gelisah. Sebelumnya, aku sudah menelepon Febrianti untuk bertemu sepulang sekolah. Hanya dia satu-satunya petunjuk yang aku punya.Namun, dia tak kunjung datang. Apakah ada kendala di jalan?Aku spontan menoleh saat mendengar seseorang membuka pintu. Gadis sebayaku masuk dan menghampiriku sambil tersenyum ramah. Seragam yang ia pakai mengingatkanku pada Riani dan masa-masa menyenangkan kami dulu.“Maaf, lama. Tadi aku ada tugas tambahan.” Febrianti duduk di depanku.“Nggak masalah.”Dia menatapku penasaran. “Tumben. Ada apa Kakak mengajakku ketemuan? Apa ada masalah lagi?” tebaknya.Aku mengangguk. “Tapi sebelum cerita, kamu pesan minum dulu, biar aku traktir.” Aku berbasa-basi untuk mencairkan suasana canggung di antara kami. Febrianti mengangguk, lalu memesan jus alpukat. “Ada apa, Kak?” Gadis itu menatapku heran sambil mengaduk jusnya. “Pasti ada ha

    Last Updated : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 17. Kehidupan Darma

    Sepulang sekolah, aku langsung mendatangi sekolah Febrianti untuk menanyakan tentang Darma.Aku tergesa-gesa menuju kelasnya dan berharap Febrianti belum pulang. Sepanjang hari, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Jika terus menyimpan perasaan ini, aku takut semuanya akan meledak tak terkendali.Ya, aku takut Febrianti telah mengkhianatiku. Aku butuh penjelasan Febrianti kalau dia tidak pernah membocorkan soal aku sedang berusaha menyelidiki keberadaan Darma padanya. Aku harus memastikannya langsung.Namun, dalam perjalanan menuju kelas, aku bertabrakan dengan seseorang dengan keras hingga aku terduduk di lantai.“Aduh!” Aku meringis kesakitan. Ponsel cowok itu ikut terlempar ke arahku.“Hati-hati kalau jalan! Pake mata!” Suara cowok itu terdengar kesal. Aku mendongak untuk melihat wajahnya yang tampak jengkel.“Maafkan aku,” jawabku, mencoba bangkit dari posisi duduk. Aku mengembalikan ponselnya yang jatuh.“Untung nggak rusak! Kalau rusak, lo harus ganti!” katanya, mengusap ponse

    Last Updated : 2025-02-12
  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 18. Satu Langkah Berani

    Aku berdiri di lobi klub dengan perasaan hancur. Dadaku terasa sesak, bukan hanya karena udara malam yang dingin menusuk, tapi juga karena kenyataan yang baru saja kulihat. Darma mabuk sambil bercumbu dengan wanita-wanita bayaran seperti pria lajang yang tak punya tanggung jawab. Aku meremas ponsel di tanganku dengan jari-jari gemetar. Ingin rasanya menelepon Riani saat itu juga dan mengungkapkan semuanya. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa menghancurkan hati adikku dengan kenyataan yang begitu menyakitkan? Aku menghembuskan napas panjang untuk mencoba berpikir jernih. Aku tidak boleh gegabah, karena aku masih butuh bukti lebih banyak sebelum berbicara pada Riani. Aku butuh sesuatu yang bisa membuat Darma tak bisa mengelak. ‘Aku harus masuk lagi.’ Tapi kali ini, aku tidak bisa hanya sekadar melihat. Aku harus lebih berani. Dengan langkah mantap, aku berbalik ke arah klub. Musik masih berdentum keras, aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal menusuk hidungku. Aku

    Last Updated : 2025-02-13

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 29. Penguburan Dan Rahasia Yang Terungkap

    (POV Diani)Hari itu langit tampak suram, seakan merasakan kesedihan yang menyelimuti keluargaku. Aku berdiri di samping makam Riani, menatap batu nisan yang tertutup bunga dan tanah basah. Hati ini rasanya hampir tak sanggup menahan beban yang terus datang. Riani, adikku, yang dulu selalu ceria, yang dulu selalu ada untukku, kini hanya bisa kuingat dalam kenangan.Kami baru saja menguburkan Riani. Pemakaman ini terjadi begitu cepat. Begitu banyak hal yang belum sempat aku katakan padanya. Begitu banyak yang belum sempat kami selesaikan. Tapi kini, semuanya telah terlambat. Aku tidak tahu harus merasa apa. Duka mendalam? Iya, pasti. Tetapi ada juga perasaan marah yang membara dalam dada. Marah pada Darma. Marah pada ketidak peduliannya. Marah pada dunia yang begitu kejam padanya. Aku sudah terlalu lama diam.Ketika kami pulang dari pemakaman, rumah kami dipenuhi oleh keheningan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ayah dan ibu duduk di ruang tamu, wajah mereka hancur. Mereka ti

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 28. Ketakutan Yang Menghantui

    (POV Darma)Aku masih sangat jengkel saat Diani menyerangku dan mempermalukanku di klub beberapa saat lalu. Makiannya terus terngiang-ngiang di telingaku, meski aku sudah meneguk beberapa gelas alkohol.Sekarang teman-temanku terus-menerus menanyaiku tentang Riani dan meminta penjelasan tentang pernikahan kami. Padahal aku mengaku pada mereka bahwa aku masih lajang.Sial! Beraninya gadis itu mempermalukanku aku di depan teman-teman balap liarku.Aku meremas gelas alkohol saat teringat tatapan penuh kebencian dan tangisan histeris Diani. Sebenarnya aku juga heran tentang kepergian Riani, karena baru pertama kali dia pergi tanpa izinku.Apalagi saat Diani menangis histeris di depanku, membuatku makin penasaran. Dia memang selalu mengkhawatirkan adiknya, tetapi kali ini berbeda, seolah-olah Riani sedang di ambang malapetaka.Namun, bukan itu yang kucemas. Ada perasaan aneh yang memenuhi di dadaku dan aku tidak tahu bagaimana cara menyingkirkannya.Aku merasa cemas dan tegang tanpa alasan

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 27. Kenyataan Yang Tak Bisa Diterima

    Aku keluar dari club dengan dadaku masih terbakar rasa marah dan benci yang bercampur aduk. Percakapanku dengan Darma barusan benar-benar membuatku muak. Bagaimana mungkin dia bisa sekejam itu? Bahkan di saat Riani sedang dalam kondisi yang tidak jelas, dia masih saja tidak peduli.Langkahku terasa berat saat berjalan di trotoar. Udara malam terasa dingin, tapi bukan itu yang membuat tubuhku menggigil. Rasa takut dan gelisah terus menghantui pikiranku. Aku masih belum tahu di mana Riani dan orang tuaku berada. Darma jelas tidak peduli. Dia bahkan berharap Riani mati.Pikiran itu membuat dadaku sesak. Aku mengeluarkan ponselku dan mencoba menelepon Ayah sekali lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban. Aku benar-benar tidak tahu harus mencari mereka ke mana lagi.Tetapi, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benakku. Beberapa bulan yang lalu, aku pernah mengantar Riani ke rumah sakit karena dia pingsan di kosan. Saat itu, dokter menyuruhnya untuk banyak istirahat dan tidak terlalu stres.Mun

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 26. Bertengkar Hebat

    (POV Diani)Hari ini cukup melelahkan. Aku baru saja selesai menemani temanku membeli beberapa baju untuk acara akhir pekan. Ketika sampai di depan rumah, hal yang kupikirkan adalah mandi lalu tidur.Namun, saat aku membuka pintu rumah dan memasuki ruang tamu, perasaan cemas langsung menyelimuti hatiku. Rumah yang biasanya ramai dengan kehadiran orang tua, kini terasa kosong. Tidak ada suara Ibu yang biasanya menyambutku saat pulang. Tidak ada suara televisi yang sering Ayah tonton.Aku berdiri sejenak sambil menatap ke sekeliling. Suasananya sangat berbeda dari sebelumnya. Sangat sepi dan hampa.“Bu?” Aku mencari mereka di semua ruangan, tetapi tidak ada. Ini aneh. Ibu dan Ayah jarang sekali pergi pada malam hari, apalagi tanpa memberitahuku. Biasanya mereka selalu mengabari ke mana mereka pergi, meski hanya sebentar. Tapi malam ini, tidak ada kabar sama sekali. Aku mulai merasa khawatir. Ada yang tidak beres.Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan mengirimi pesan pada Ibu dan Ayah.“K

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 25. Harapan Terakhir

    (POV Riani) Aku berusaha tetap sadar, meski semuanya terasa gelap dan rasa sakit di seluruh tubuhku membuatku nyaris pingsan. Pandanganku kabur dan perutku terasa kram luar biasa. Aku mencoba memegang dinding untuk berusaha bangkit berdiri, tetapi tenaga yang kumiliki habis sehingga aku kembali terduduk lemas di lantai. Aku teringat pada bayi di dalam kandunganku. Aku memegangi perutku yang sudah membesar. Rasa nyeri hebat menghantam dinding perutku, membuat darah mengalir dari selangkanganku. ‘Tolong, Tuhan. Jangan sampai aku kehilangan bayiku!’ jeritku dalam hati. Aku mengerang pelan sambil mencoba bangkit dengan bertumpu pada meja kecil di dekatku. Namun, tanganku gemetar hebat dan pandanganku makin gelap. Sebelum aku bisa berdiri dengan sempurna, sikuku menyenggol gelas di atas meja. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, suaranya menggema dalam kesunyian rumah yang mencekam. Aku tersentak dengan napas tersengal-sengal. Aku kembali meraih meja di dekatku, tetap

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 24. Keguguran?

    Langit biru mulai berubah kekuningan saat aku melangkah keluar dari rumah Ibu. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku menghela napas panjang untuk mencoba menguatkan diri. Pertemuan singkat dengan Ibu membuat dadaku semakin sesak. Apalagi saat aku memasuki rumah itu yang mengingatkanku pada masa kecilku. Aku sangat merindukan semua momen bahagia saat aku dan Diani menghabiskan waktu bersama dengan orang tuaku. Meski masalah utang terus mengancam kami, aku masih bisa berbahagia menikmati kebersamaan keluarga. Bukan seperti sekarang. Setiap hari hanya ada air mata dan ketakutan. Aku menyesal telah menyerahkan diriku pada Darma karena cinta. Kata-kata manisnya seolah dia sangat mencintaiku telah meracuni pikiranku. Dia telah menghancurkan seluruh hidupku. Aku menghela napas berat. Tidak ada gunanya aku menyesali semua yang telah terjadi. Semuanya telah terlambat untuk diperbaiki. Sekarang aku harus fokus menanggung kesalahannya, m

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 23. Berpura-pura Kuat

    (POV Riani)Ponselku bergetar di atas meja, mengirimkan getaran halus yang terasa menusuk di hatiku. Aku ragu-ragu sebelum mengambilnya. Nama yang tertera di layar membuat dadaku semakin sesak.“Ibu?”Tanganku gemetar saat aku menyentuh layar untuk menjawab panggilan itu.“Halo, Bu.” Aku berusaha menjawab setenang mungkin.“Gimana kabar kamu hari ini, Nak? Ibu kangen banget sama kamu.” Suara Ibu terdengar lembut dan penuh kerinduan, tapi juga menyimpan kekhawatiran yang begitu jelas. Aku tahu, Ibu pasti sudah lama ingin bertemu denganku. Sudah hampir sebulan aku tidak pulang, tidak berani mengangkat telepon lebih dulu.Aku menelan ludah. Bagaimana aku bisa pergi ke sana dengan kondisi seperti ini?Aku melirik pantulan diriku di cermin kamar. Wajahku masih menampilkan bekas luka. Pipi kiriku memerah dengan sedikit kebiruan. Lengan dan bahuku terasa nyeri setiap kali kugerakkan. Tubuhku sudah penuh dengan memar yang kusembunyikan di balik pakaian longgar.Bagaimana jika Ibu melihatnya?

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 22. Jejak Yang Hilang

    (POV Diani)Aku menatap layar ponsel yang baru saja menampilkan panggilan berakhir. Perasaan aneh memenuhi hatiku. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuat Riani mendadak meneleponku duluan. Nada suaranya terlalu bergetar. Napasnya terdengar tidak stabil dan aku yakin dia sempat menangis sebelum mengangkat telepon tadi. Biasanya aku selalu pertama kali menghubunginya untuk memancingnya agar Riani mau curhat atau berkata jujur mengenai masalah pernikahannya, tetapi dia selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan memintaku untuk tidak mengkhawatirkan apa pun. Aku menggigit bibir sambil menatap kosong ke dinding kamarku. Kekhawatiranku makin menjadi-jadi. Sejak pernikahan adikku dengan Darma, aku tidak pernah bisa hidup tenang karena cowok itu telah merebut Riani.Sekarang Riani telah berubah drastis. Dulu dia gadis yang ceria, penuh semangat dan selalu berantusias saat menceritakan tentang impian-impiannya. Tapi sekarang, setiap kali aku bertanya tentang kehidupannya, jawabann

  • Terjerat Cinta Suami Adikku   Bab 21. Bertahan

    (POV Riani)Aku duduk di sudut kamar yang gelap sambil memeluk lutut dengan tubuh gemetar. Cahaya dari lampu meja yang remang-remang tidak bisa mengusir kegelapan yang menyelimuti hatiku. Bekas tamparan Darma masih terasa panas di pipiku, tapi yang lebih menyakitkan adalah luka di dalam hatiku yang semakin terbuka lebar.Darma pergi lagi. Entah ke mana. Entah untuk berapa lama.Aku bahkan tidak ingin tahu.Setiap kali dia pulang, yang kudapatkan hanya cacian dan pukulan. Setiap kali aku mencoba berbicara, dia hanya menganggapku beban.Aku menunduk dan memandangi perutku yang mulai membesar.Bayiku…Anak ini akan segera lahir, tapi aku masih terjebak dalam penderitaan yang seolah tak berujung. Apakah aku sanggup bertahan di sini? Aku tidak tahu. Jika aku terus tinggal bersama Darma, cepat atau lambat dia akan menyakiti bayi ini juga.Tapi aku bisa pergi ke mana?Aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku.Mereka sudah cukup menderita dengan utang yang menumpuk. Aku tidak bisa menambah

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status