Share

Bab 2 Terhipnotis

Author: VILNOCTE
last update Last Updated: 2024-10-24 03:38:55

“Diego! Bagaimana dengan lamaran—”

Jorge, teman seapartemennya menyapa dengan semangat kala tersadar Diego telah kembali. Terlebih karena pria itu tahu bahwa hari ini, Diego akan melamar Valentina. Tetapi, kalimatnya terhenti saat melihat wajah Diego.

Pria itu terdiam, mendapati Diego yang basah kuyup karena terkena hujan, dengan wajah yang tak bisa bersandiwara.

“Hah... kamu sebaiknya mandi dan ganti pakaian. Setelah itu, langsung istirahat. Biar kamu lupa, besok ada job baru untuk kamu,” ucap Jorge. Melihat sosok sang sahabat yang melangkah pelan menuju kamar mandi, dia tak perlu bertanya lagi dan langsung sadar jika lamaran Diego tidak berjalan baik.

Setelah mandi, Diego segera ke kamar tidurnya, berganti pakaian, dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Dia ingin melupakan semuanya, tetapi bayangan Valentina terus menghantuinya.

Tangannya terus menggenggam kotak cincin yang harusnya menjadi pengikat hubungannya dengan Valentina, dalam keheningan kamar, air matanya akhirnya tumpah, mengalir tanpa henti. Suara isak tangis tertahan memenuhi ruangan, dia menutup matanya, berharap bisa menghapus semua kenangan indah yang kini terasa menyakitkan. Namun, semakin dia berusaha, semakin jelas wajah Valentina muncul dalam pikirannya.

**

Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, Diego dan Jorge sudah berdiri di lobi apartemen mereka, siap berangkat dengan penampilan yang rapi dan santai. Jorge melirik Diego sejenak, mengamati wajah sahabatnya yang terlihat lebih lesu dari biasanya, lalu tersenyum kecil sambil meraih kacamata hitam dari saku kemejanya.

"Gunakan ini, matamu terlalu menarik perhatian," ujarnya, sambil memasangkan kacamata itu ke wajah Diego.

Diego tersenyum tipis, sekadar membalas kebaikan Jorge. Bukan hanya karena kurang tidur, matanya memang terlihat sedikit bengkak karena menangis semalaman.

Tak lama kemudian, mereka memesan taksi dengan tujuan Stasiun Madrid Atocha. Jorge, yang sudah bekerja selama lebih dari dua tahun di kediaman mewah Sergio Ortiz, tampak penuh semangat. Ia sengaja mengajak Diego untuk bergabung, apalagi setelah posisi kosong di kediaman itu tersedia.

Setelah perjalanan singkat selama dua puluh menit, taksi akhirnya berhenti di depan rumah milik Sergio Ortiz, salah satu pengusaha terkaya di Spanyol, dengan tampilan yang megah, kokoh, dan arsitektur khas Spanyol yang elegan.

Diego melangkah turun dari mobil, matanya langsung tertuju pada rumah megah yang berdiri di depan mereka. Mulutnya terbuka lebar, tak bisa menahan rasa terkejut yang melandanya. Rumah itu jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan, bahkan melebihi deskripsi yang pernah Jorge sampaikan.

Jorge, yang sedang menurunkan kopernya dari bagasi, melihat ekspresi Diego dan langsung tertawa. "Jo... Jorge," gumam Diego tergagap, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini... rumah Tuan Sergio?"

"Hahaha, iya Bro, ayo kita masuk," ujar Jorge sambil mengisyaratkan Diego untuk mengikutinya menuju pos keamanan di dekat gerbang. Di sana, dua orang penjaga keamanan berjaga dengan seragam rapi. Jorge yang sudah lama bekerja, mengenalkan Diego dengan ramah kepada mereka.

Setelah itu, mereka menyusuri halaman luas yang dipenuhi hamparan rumput hijau dan deretan pohon palem. Diego mulai merasakan keringat perlahan membasahi dahinya saat mereka terus berjalan. Rumah megah di depannya tampak lebih jauh dari pada yang dia bayangkan dari gerbang depan.

"Ini besar sekali," gumam Diego, tak bisa menahan kekagumannya yang langsung di balas tawa pelan oleh Jorge. “Itu garasi mobil, yang itu bangunan utama, Tuan Sergio dan istrinya, tinggal di sana. Dan yang itu, tempat tinggal semua karyawan,” terang Jorge sambil menunjuk ke arah beberapa bangunan yang terpisah di halaman luas rumah mewah itu.

Diego menatap bangunan-bangunan yang ditunjuk oleh Jorge. Bangunan utama terlihat megah, dengan dinding putih bersih dan pilar-pilar besar yang menambah kesan elegan. Di sampingnya, ada bangunan lebih kecil yang tampak tetap mewah di mata Diego, itu adalah tempat mes karyawan yang akan menjadi rumah barunya.

Saat Diego dan Jorge melangkah melewati bangunan utama, Diego tak sengaja melirik ke lantai dua bangunan utama. Pandangannya terhenti sejenak. Di sana, di teras atas yang dihiasi pagar pembatas besi berukir, berdiri sosok wanita cantik. Wanita itu bersandar santai di pagar, memandang ke arah halaman dengan tatapan lembut.

Deg!

Wanita itu begitu mencuri perhatian Diego. Rambutnya panjang berwarna coklat gelap, bergelombang jatuh melewati bahunya. Tubuhnya terlihat indah terawat, dan kimono tidur merah yang dikenakannya menambah pesona yang memikat. Diego juga menyadari bahwa bagian kaki kanan wanita itu terekspos dari belahan kimononya, memperlihatkan kulitnya yang halus hingga ke paha.

Sosok itu terlihat begitu sempurna di matanya. Dia terus berjalan mengikuti Jorge, dan Ia tak lagi mendengar Jorge yang tengah berbicara tentang peraturan di tempat ini. Semua kata-kata Jorge hilang begitu saja, teredam oleh fokus Diego yang sepenuhnya terkunci pada wanita di lantai dua itu.

Pupil birunya mengikuti setiap gerakan wanita itu dengan saksama, hingga akhirnya pandangan mereka bertemu. Wanita itu secara tidak sengaja melirik ke arahnya, dan... tersenyum. Sebuah senyuman ramah, namun begitu memikat hati.

Jantung Diego sontak berdegup kencang. Ia segera memalingkan wajahnya dengan menunduk, ia merasa malu karena ketahuan menatap terlalu lama. Langkah kakinya ia percepat, dan… Brak! Tanpa sadar, Diego menabrak Jorge yang berjalan di depannya. Benturan itu membuat keduanya jatuh tersungkur di lantai. Diego terkejut, belum sepenuhnya sadar dari lamunan singkatnya.

“Duh, bro, kamu kenapa?” keluh Jorge sambil mengusap lengannya yang terasa sakit karena tubrukan tiba-tiba itu.

“Ma... maaf, Bro. Aku tidak sengaja... itu…” Diego tak menyelesaikan ucapannya. Pandangannya perlahan mengarah ke wanita di lantai dua. Dari tempatnya ia bisa melihat wanita itu menutup mulutnya dengan tangan, tertawa kecil melihat kekonyolan yang baru saja terjadi di depan matanya.

Jorge, yang menyadari arah pandangan Diego, ikut menoleh. Ia tersenyum tipis, lalu bergegas bangkit. Dengan sopan, Jorge membungkukkan badannya sedikit, menyapa wanita itu dari jauh. Wanita tersebut membalas sapaan Jorge dengan senyuman. Diego yang sangat penasaran, menatap Jorge setelah mereka berdua berdiri.

“Siapa wanita itu, Jorge?” Jorge melirik Diego.

“Dia adalah Nyonya Ariana. Majikan kita, istri dari Tuan Sergio.”

“Istri Tuan Sergio?” Diego tercekat kaget, matanya melebar sesaat sebelum buru-buru menundukkan kepala, mengikuti gestur Jorge.

Setelah menyapa sang majikan, mereka langsung menuju mes karyawan dan menemui rekan-rekannya. Setelah perkenalan singkat, Jorge mengantar Diego ke kamar yang akan dia tempati, yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur Jorge sendiri.

“Di dalam lemari seharusnya ada seragam kerjamu. Lebih baik kamu bergegas berganti pakaian, setelah ini kamu akan bertemu Tuan Andrew, atasan langsung kita, yang juga orang kepercayaan Tuan Sergio,” ucap Jorge dengan nada yang menenangkan. Diego mengangguk pelan, merasakan ketegangan di dadanya.

Dia lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, yang terlihat cukup mewah untuk pekerjaannya yang hanya sebagai tukang kebun di tempat ini. Lima menit kemudian, dia telah berganti pakaian, mengenakan seragam kerjanya yang baru. Begitu keluar dari kamar, langkahnya terhenti sejenak saat melihat seorang pria paruh baya berdiri di dekat pintunya.

“Aku Andrew, kepala pengurus di tempat ini. Sekarang, ayo ikut aku,” ucap pria itu.

Diego mengikuti Andrew, melangkah keluar dari mes karyawan menuju taman kecil di bagian belakang rumah mewah yang menjulang megah di depan mereka. Rasa gugup membuat dia terus menunduk, berusaha menenangkan diri, hingga langkah kakinya terhenti ketika Andrew di depannya berhenti melangkah.

“Nyonya, ini karyawan baru kita,” ucap Andrew dengan nada sopan. Diego yang mendengar kata "nyonya" langsung mengangkat wajahnya dengan cepat. Pipinya sontak merona ketika matanya bertemu dengan sosok Ariana, sang majikan cantik yang tengah duduk dengan anggun di kursi taman.

Akhirnya, Diego bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang telah membuat jantungnya berdebar. Sang majikan memiliki wajah yang begitu menawan, dengan mata berpupil biru yang cerah seolah menyimpan lautan dalam. Lesung pipi yang manis menghiasi senyumannya, sementara bentuk bibirnya yang tipis dan sensual dilapisi lipstik merah yang mencolok, membuatnya tampak begitu memikat. Setiap detail wajahnya membuat Diego terhipnotis.

Ariana, perlahan berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Diego. Tawanya hampir saja lepas ketika mengingat momen lucu tadi, saat Diego menabrak Jorge.

“Jadi... siapa namamu?” tanya Ariana.

“Cantik,” Diego bergumam tanpa sadar, membuat Ariana sedikit terkejut.

“Cantik?” ulang Ariana dengan kedua alis terangkat.

“Iya, cantik... Anda sangat cantik,” balas Diego yang masih terhipnotis wajah cantik sang majikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 3 Insiden di Kolam Renang

    Tawa Ariana lepas, mendengar jawaban Diego. “Yang aku tanyanamamu,” ujar Ariana.Diego tersentak kaget, tersadar dari lamunannya. Sadar akantindakannya, Diego dengan cepat menundukkan pandangannya. “Na... namaku Diego, Nyonya,” jawab Diego terbata-bata,suaranya hampir tak terdengar. Ariana yang masih tertawa kembali duduk di kursitaman, suara tawa sang majikan membuat Diego semakin salah tingkah.“Ah... sialan, kenapa aku bisa bertingkah bodoh sepertiini,” gumam Diego dalam hati, merasa malu dengan dirinya sendiri.Tangan Ariana meraih selembar kertas di meja. “Ini kontrakkerjamu, kamu bisa membacanya dulu, lalu tanda tangan jika kamu setuju denganpoin-poin yang tertera di sini,” ucapnya sambil menyodorkan kertas itu keDiego.Diego melangkah pelan, menerima kertas itu. Begitu membacatulisan di dalamnya, ekspresi terkejut menghiasi wajahnya.“Maaf... Nyonya, apa gaji saya tidak salah?” tanyanya,matanya terbelalak melihat nominal angka gajinya yang empat kali lebih besardari

    Last Updated : 2024-10-24
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 4 Mereka Terlihat Serasi

    Suasana sore itu terasa santai dan penuh tawa di sekitarkolam renang. Di tepi kolam, Ariana duduk bersandar nyaman di kursinya bersamaDiego dan Andrew, menikmati suasana tenang sambil menyaksikan aksi Jorge danDiego yang sedang sibuk mengurus taman.Jorge terlihat mendekati Diego, dan tanpa aba-aba, iamengarahkan selang air langsung ke tubuh sahabatnya.Air menyembur deras, membasahi baju Diego dalam sekejap."Hei, Jorge! Berhenti!" Diego protes, lalu tertawa lepas.Ariana dan Sergio yang melihat aksi kocak itu, ikut tertawa.Setelah beberapa hari bersama dan semakin akrab dengan Sergio dan Ariana, keduapria itu tak lagi merasa sungkan untuk bercanda seperti ini.Diego lalu meraih ujung bajunya, menariknya hingga terlepas,memperlihatkan tubuhnya yang atletis dan berotot di bawah sinar matahari.“Andrew, lihat tingkah mereka, hahaha,” ucap Sergio sambilterkekeh.Andrew, yang berdiri di samping Sergio, tersenyum kaku, lalumenghela napas dan berujar dengan sedikit ragu, “Maafkan

    Last Updated : 2024-10-24
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 5 Tangis yang tiba-tiba

    “Mulus sekali,” batin Diego, instingnya sebagai lelaki normal terbangun dengan jantungnya berdetak cepat."Kalau begitu aku mulai, Nyonya," ucapnya pelan, suaranya terdengar ragu dan sedikit tercekat.Ariana mengangguk pelan. "Iya, silakan," jawabnya, suaranya hampir tak terdengar.Pipi wanita itu memanas. Ia tersipu malu, berusaha menjaga ketenangannya. “Kenapa aku bisa gugup begini? Ini hanya pijatan. Tapi, jantungku... ya ampun, kenapa berdebar seperti ini?” Ucapnya Dalam hati.Dalam pikirannya terbayang kembali bentuk tubuh Diego yang atletis dan berotot, yang ia lihat tadi. Dan pria itu sekarang sedang menyentuh punggungnya secara langsung.Diego pun mulai menggerakkan tangannya dengan hati-hati, berusaha menemukan kekuatan yang tepat."Apa segini cukup, Nyonya?" tanya Diego, khawatir pijatannya justru menyakiti majikannya."Iya, cukup nyaman," jawab Ariana, berusaha menenangkan dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat, merasakan sentuhan tangan Diego. Ia menutup mata, berusaha

    Last Updated : 2024-10-24
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 6 Selamat Jalan Tuan Sergio

    Suasana duka menyelimuti kediaman mewah Sergio Ortiz, seolah-olah awan kelabu telah menutupi kemewahan yang selama ini tercermin dari setiap sudut bangunan. Semua pekerja berduka, mata mereka merah karena menangisi kepergian yang begitu tiba-tiba dari orang yang mereka hormati dan cintai, Sergio Ortiz.Di tengah kesedihan yang mendalam, dua figur terlihat paling terpukul oleh berita duka ini, Diego dan Ariana. Diego, yang semalam masih berbagi tawa dengan Sergio, duduk terpaku, matanya memandang kosong ke depan, seolah-olah berusaha mencerna kenyataan pahit yang menimpa. Sementara itu, Ariana, yang masih terbungkus dalam kesedihan, terus menangis tanpa henti. Andrew, dengan setia, menemani dan mengawal wanita cantik itu. Gaun hitam yang dikenakan Ariana semakin menambah kesan duka yang mendalam, warna yang merepresentasikan kehilangan yang tak tergantikan.Suara sirene mobil ambulans memecah kesunyian, tanda bahwa saatnya telah tiba untuk melepas kepergian Sergio Ortiz. Jenazahnya den

    Last Updated : 2024-11-20
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 7 Posisi Baru Diego

    Diego duduk tegak di kursi tamu di ruang kerja Andrew, matanya terpaku pada peta struktur organisasi Grup Ortiz yang terpasang di dinding. Andrew, yang berdiri di sampingnya, menjelaskan dengan detail setiap bagian dari bisnis keluarga Ortiz, dari industri manufaktur hingga jaringan hotel mewah di seluruh dunia.Diego mendengarkan dengan saksama, mencoba memahami kompleksitas kekaisaran bisnis yang ditinggalkan oleh Sergio Ortiz."...dan di sisi keluarga, ada Miguel Ortiz, adik Sergio, yang dikenal cukup ambisius dalam mengembangkan sayap bisnisnya sendiri," Andrew menjelaskan, menunjuk foto Miguel di peta organisasi. "Lalu, ada Juan Ortiz, putra Sergio yang belum banyak terlibat dalam urusan bisnis keluarga... setidaknya, belum."Diego merasa matanya melebar ketika mendengar tentang Juan. Ia tidak menyangka bahwa Sergio memiliki seorang putra. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan, tetapi yang paling mengganggunya adalah, untuk apa Andrew menjelaskan semua ini kepadanya? Diego hanyala

    Last Updated : 2024-11-21
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 8 Si jenius yang kurang beruntung

    Dalam kesunyian kamar, Diego dengan hati-hati meletakkan mangkuk yang telah kosong di atas meja, menandai akhir dari sesi makan Ariana. Ia lalu mengambil gelas berisi air putih dan mendekati majikannya dengan langkah pelan, membantu Ariana minum dengan penuh perhatian.Setelah selesai, gelas itu diletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Ia kembali duduk di kursi, menemani sang majikan yang masih terisak dalam kesedihan."Nyonya, aku baru mengenal Tuan Sergio, masih banyak hal yang ingin aku tahu tentang beliau," ucap Diego, suaranya lembut dan penuh rasa ingin tahu, membuka pintu bagi Ariana untuk berbagi kenangan."Apa Nyonya bisa bercerita tentang itu?"Ariana, setelah menyeka air matanya dengan tisu yang disodorkan Diego, memulai ceritanya tentang sosok Sergio, mendiang suaminya yang begitu ramah dan baik kepadanya.Suaranya terkadang terputus oleh isak tangis, namun semangat untuk menceritakan kenangan indah bersama Sergio membuat wanita itu terus berbicara, membuka jendela

    Last Updated : 2024-11-22
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 9 Jawaban dari mimpi

    Setelah melewati tes kecerdasan yang di ruang kerja Andrew, Diego menuju kamar Ariana. Ketika tiba di depan kamar, ia menemukan Adel duduk di sofa yang berada tepat di samping pintu, sibuk memainkan ponselnya dalam cahaya lembut yang memancar dari layar."Adel, Nyonya Ariana sudah bangun?" Diego bertanya dengan suara pelan, tidak ingin mengagetkan rekan kerjanya. Adel menoleh, memandang Diego sejenak sebelum menjawab, "Aku baru saja mengecek, Diego. Belum, Nyonya masih tidur," jawab Adel, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tersembunyi.Diego mengangguk, "Terima kasih, Adel. Aku akan masuk sebentar untuk mengecek kondisi Nyonya."Dengan itu, ia perlahan membuka pintu kamar, membiarkan sedikit cahaya dari luar masuk sebelum menutup pintu di belakangnya.Kamar sang majikan terlihat gelap, hanya sedikit matahari senja dari celah jendela yang berhasil masuk. Diego menyalakan lampu meja di samping tempat tidur, menyetel cahayanya agar tidak terlalu terang, hanya cukup untuk m

    Last Updated : 2024-11-22
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 10 Tekad Baru

    Ariana mengamati sampul buku di tangan Diego dengan rasa penasaran. "The Art of Leadership?" bisiknya lembut, "Suamiku juga menyukai buku seperti ini. Kamu suka membaca buku bertema kepemimpinan?"Diego mengalihkan pandangannya dari halaman buku. "Ah... tidak, Nyonya. Saya baru pertama kali membaca buku ini," jawabnya, jemarinya mengusap sampul buku itu."Kata Tuan Andrew, buku ini akan bermanfaat untuk membantu Nyonya," lanjut Diego.Alis Ariana terangkat, raut wajahnya menunjukkan campuran antara kebingungan dan keheranan. "Membantuku? Maksudmu bagaimana?""Mulai hari ini, saya ditugaskan menjadi asisten pribadi Nyonya Ariana. Tuan Andrew sedang mengajariku segala hal yang perlu saya ketahui untuk meningkatkan kemampuan saya melayani Nyonya," balas Diego, menjelaskan posisi barunya ke Ariana.Ariana terdiam, ekspresinya berubah dari keterkejutan menjadi sebuah campuran perasaan yang rumit. Ia sama sekali tidak menduga akan ada perubahan ini. Namun, dalam hatinya tersimpan rasa syukur

    Last Updated : 2024-11-22

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 31 Bintang keberuntungan

    Restoran El Mirador menyuguhkan pemandangan kota yang begitu luas dan menawan dari lantai atas. Langit siang yang cerah serta angin sepoi-sepoi yang sesekali berembus melalui jendela kaca besar, menciptakan suasana yang sempurna untuk makan siang yang tenang.Ariana dan Diego duduk di salah satu meja eksklusif, terpisah dari keramaian utama restoran. Interior yang elegan, lampu gantung kristal, serta alunan musik jazz lembut semakin memperkuat kesan mewah tempat itu.Seorang pelayan datang dengan sikap ramah, menyerahkan buku menu sebelum menunggu dengan sabar. Ariana melihat daftar makanan dengan cepat, lalu menoleh pada Diego yang tampak lebih fokus pada suasana sekitar."Aku pesan salmon steak dengan saus lemon butter," ujar Ariana santai, lalu mengangkat alis menunggu pilihan Diego.Diego akhirnya menutup menu dan menyerahkannya pada pelayan. "Untukku… rib-eye steak, tingkat kematangan medium rare."Pelayan itu mengangguk, mencatat pesanan mereka sebelum mundur dengan sopan. Begit

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 30 Tamu yang Tak Diundang

    Pintu ruang CEO tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.Ariana yang sedang membaca dokumen, Diego yang sibuk memilah berkas di meja lain, dan Andrew yang tengah mengecek ponselnya, langsung menoleh bersamaan.Seorang pria berpostur tinggi dengan setelan mahal melangkah masuk dengan santai, tangan terselip di saku celana. Senyumnya miring, penuh kelancangan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya jatuh ke sosok perempuan yang kini duduk di belakang meja utama."Halo, Mama Tiri," sapanya dengan nada setengah mengejek.Ariana menegang sesaat, tapi ia cepat menguasai dirinya. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan emosi apa pun.Di sisi lain, Diego merasakan hawa tak nyaman menyelimuti ruangan. Otot-ototnya menegang tanpa sadar, sementara jemarinya yang masih menggenggam dokumen perlahan mengepal.Andrew menghela napas pelan, sudah memperkirakan kejadian ini cepat atau lambat.Juan melangkah lebih dekat, matanya meneliti setiap sudut ruangan dengan ekspresi meremehkan. "Tidak buruk… seper

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 29 Miguel Tak Senang, Ariana Tak Goyah

    Ariana berdiri dengan tegap di ujung meja rapat, tatapannya tajam dan penuh percaya diri. Seluruh ruangan diam menunggu kata-katanya—beberapa penuh ekspektasi, beberapa dengan skeptisisme yang terselubung.Di sisi kanan meja, Miguel Ortiz duduk dengan tubuh sedikit condong ke belakang, tangannya bertaut di depan dada. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi bukan senyum yang bersahabat.Ariana menarik napas dalam sebelum mulai berbicara.Lalu, dengan suara yang tegas dan terkendali, ia memulai, "Ortiz Buildwell Corp. adalah warisan, bukan hanya bagi keluarga Ortiz, tetapi juga bagi ribuan karyawan yang membangunnya dengan dedikasi dan kerja keras."Beberapa orang mengangguk pelan."Saya berdiri di sini bukan untuk menggantikan siapa pun, tetapi untuk meneruskan dan membawa perusahaan ini ke level yang lebih tinggi. Saya tidak meminta Anda percaya pada saya sekarang—saya akan membiarkan hasil yang berbicara."Hening sejenak.

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 28 Tantangan Pertama Ariana

    Rolls-Royce Phantom hitam itu meluncur dengan anggun di jalan utama Sevilla, menyusuri boulevard yang dipenuhi bangunan-bangunan pencakar langit berarsitektur modern.Namun, di antara semua gedung tinggi yang menjulang, satu bangunan mencuri perhatian dengan kemegahannya—Ortiz Buildwell Corp.Gedung pencakar langit itu berdiri megah dengan fasad kaca berwarna biru tua yang memantulkan sinar matahari pagi. Logo ‘OBC’ yang besar dan elegan terpampang di bagian atas, menunjukkan bahwa ini adalah markas utama salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Eropa.Begitu mobil Ariana tiba di area lobi utama, sekelompok staff perusahaan sudah menunggu di depan pintu masuk. Para eksekutif dan manajer tingkat atas berdiri berbaris rapi, mengenakan setelan formal yang mencerminkan profesionalisme mereka.Di belakang mereka, beberapa karyawan lain berdiri dengan penuh antusias, ingin menyaksikan langsung momen penting ini—hari pertama Ariana sebagai CEO Ortiz Buildwell Corp.Mobil berhenti dengan m

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 27 Diiringi Keyakinan Mereka

    Pagi menyambut dengan angin sejuk yang berembus lembut melalui jendela kamar Ariana. Cahaya matahari keemasan menembus tirai tipis, menyelimuti ruangan dengan nuansa hangat.Ariana membuka matanya perlahan, lalu menarik napas dalam. Hari ini adalah hari besarnya. Hari di mana dia akan berdiri di depan dewan direksi Ortiz Buildwell Corp sebagai CEO baru.Tanpa membuang waktu, dia segera bangkit dan menuju kamar mandi.Begitu air hangat menyentuh kulitnya, Ariana menutup matanya, menikmati sensasi rileks yang menyapu tubuhnya. Ia membiarkan uap air memenuhi ruang shower kaca, sementara pikirannya berusaha fokus pada hari yang akan ia hadapi.Dengan gerakan terlatih, tangannya mengambil sabun cair beraroma jasmine, menggosokkannya ke seluruh tubuh sebelum membilasnya dengan air yang mengalir lembut.Setelah selesai, Ariana meraih handuk, mengeringkan tubuhnya dengan tenang. Setiap gerakannya anggun, mencerminkan ketenangan yang ia coba bangun di dalam dirinya.Dari dalam lemari walk-in ya

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 26 Malam Sebelum Takhta

    Di dalam ruang kerja Andrew, suasana terasa lebih serius dibandingkan pagi tadi. Tidak ada lagi canda tawa atau godaan seperti saat sarapan. Kini, mereka bertiga duduk menghadap meja kerja Andrew yang dipenuhi berkas-berkas terkait Ortiz Buildwell Corporation—perusahaan yang akan resmi dipimpin oleh Ariana mulai besok.Ariana duduk tegap, mendengarkan dengan saksama setiap penjelasan Andrew, sementara Diego duduk di sampingnya, juga berusaha menyerap informasi yang disampaikan. Sesekali, tangan mereka bergerak mencatat poin-poin penting di buku catatan masing-masing."Besok, acara akan dimulai pukul sembilan pagi," Andrew membuka pembicaraan, jemarinya merapikan beberapa dokumen di atas meja. "Para pemegang saham dan dewan direksi sudah diundang, begitu juga dengan beberapa media yang akan meliput."Ariana mengangguk, matanya tajam menatap Andrew. "Dan aku akan memberikan pidato singkat, bukan?""Tepat," jawab Andrew. "Tapi ingat, jangan terlalu panjang atau emosional. Fokus pada visi

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 25 Diego dan Pagi yang Menyiksa

    Pagi masih enggan beranjak ketika Ariana bergerak lebih dekat, merapatkan tubuhnya ke sisi Diego. Selimut tebal membungkus mereka berdua, menyisakan hanya kehangatan yang berasal dari kulit mereka yang bersentuhan.Tangan Ariana terulur, melingkari pinggang Diego dengan nyaman, sementara wajahnya bersandar di bahu pria itu. Napasnya pelan dan teratur, seolah menikmati waktu tenang ini tanpa tergesa."Kita akhirnya sampai di titik ini," gumamnya lembut.Diego tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena otaknya sedang berusaha bekerja dengan benar.Jantungnya berdetak cepat—bukan, ini sudah di luar batas normal. Ia bisa merasakan tubuh Ariana yang polos menempel di sampingnya, dan lebih buruk lagi... ia tahu betul benda kenyal apa yang kini menekan rusuk kirinya.Oh, Tuhan.Diego meneguk ludah dengan susah payah. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar, seolah mencari penyelamat dari dilema besar yang ia hadapi. Hawa pendingin ruangan sama sekali tidak membantu—di saat

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 24 Bangun dalam Kehangatan

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai kamar, menciptakan bias cahaya lembut yang menari di dinding berwarna krem. Aroma samar anggur merah masih menggantung di udara, bercampur dengan keharuman khas sprei linen yang menyelimuti tubuh Ariana.Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka. Pandangannya masih buram, kepalanya terasa berat—sebuah efek sisa dari anggur yang semalam ia minum. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan kesadaran, sementara pikirannya masih berusaha memahami keberadaannya di tempat ini.Lalu, tanpa sadar, ia merenggangkan kedua tangannya ke samping. Jarinya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat dan padat.Ariana sontak membeku.Jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya menegang seketika, dan tanpa berpikir panjang, ia menoleh.Matanya membelalak.Di sampingnya, seorang pria terbaring dengan napas yang masih teratur. Rambut hitamnya berantakan, beberapa helai jatuh di keningnya, menciptakan kontras sempurna dengan kulit sawo matang yan

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 23 Kenikmatan dan Kejujuran (+21)

    Setelah istirahat sejenak, Diego melanjutkan aksinya, melepas boxer hitam yang sejak tadi membungkus "kekayaan alaminya" yang tegang. Kini giliran Ariana yang meneguk salivanya sendiri, semakin turun boxer Diego, semakin banyak yang terlihat, dan semakin kencang pula jantung Ariana berdegup. Setiap inci yang terpapar membuat Ariana semakin penasaran, namun juga semakin gugup.Dan begitu boxer Diego meluncur hingga ke paha, "batang kejantanan"nya pun menyembul keluar, tegang dan siap. Ariana tersentak kaget, ukurannya yang mencengangkan membuatnya takjub. Matanya terpaku, tidak bisa berpindah dari "monumen" yang berdiri tegak di depannya."Ahh, Diego... itu...," gumam Ariana, suaranya terputus, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.Ia teringat kembali pada mendiang suaminya, Sergio, yang pada usia tua sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan biologisnya. Ukuran dan ketegangan "batang kejantanan" Diego membuatnya sadar bahwa ini akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda.Diego tersenyum

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status