Beranda / Romansa / Terjerat Cinta Majikan Seksi / Bab 3 Insiden di Kolam Renang

Share

Bab 3 Insiden di Kolam Renang

Penulis: VILNOCTE
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-24 03:39:56

Tawa Ariana lepas, mendengar jawaban Diego. “Yang aku tanya namamu,” ujar Ariana.

Diego tersentak kaget, tersadar dari lamunannya. Sadar akan tindakannya, Diego dengan cepat menundukkan pandangannya. 

“Na... namaku Diego, Nyonya,” jawab Diego terbata-bata, suaranya hampir tak terdengar. Ariana yang masih tertawa kembali duduk di kursi taman, suara tawa sang majikan membuat Diego semakin salah tingkah.

“Ah... sialan, kenapa aku bisa bertingkah bodoh seperti ini,” gumam Diego dalam hati, merasa malu dengan dirinya sendiri.

Tangan Ariana meraih selembar kertas di meja. “Ini kontrak kerjamu, kamu bisa membacanya dulu, lalu tanda tangan jika kamu setuju dengan poin-poin yang tertera di sini,” ucapnya sambil menyodorkan kertas itu ke Diego.

Diego melangkah pelan, menerima kertas itu. Begitu membaca tulisan di dalamnya, ekspresi terkejut menghiasi wajahnya.

“Maaf... Nyonya, apa gaji saya tidak salah?” tanyanya, matanya terbelalak melihat nominal angka gajinya yang empat kali lebih besar dari gajinya di tempat dulu.

“Iya, itu gajimu. Apa kamu merasa itu terlalu rendah?” tanya Ariana, menatapnya dengan serius.

“Tidak-tidak, Nyonya!” Diego mendadak panik, dengan cepat melangkah mendekati meja, meraih pulpen, dan langsung menandatangani kontrak kerjanya.

“Ini, Nyonya.” Dia menyerahkan kontrak kerja itu dengan kedua tangannya.

 “Apa kamu tidak membaca dulu dengan teliti?” tanya Ariana, ia meletakkan kontrak kerja Diego di meja.

“Tidak perlu, Nyonya. Aku sudah sangat bersyukur dengan tawaran itu,” jawab Diego, tersenyum bahagia, namun saat matanya saling tatap dengan mata sang majikan, dia cepat-cepat kembali menunduk.

Ariana tersenyum lembut, “Kalau begitu, selamat bergabung di tempatku. Setelah ini, Andrew yang akan menunjukkan area yang menjadi tanggung jawabmu.”

Diego menundukkan kepalanya, mengucap terima kasih sekali lagi. Setelah itu dia dan Andrew mengucap pamit, meninggalkan sang majikan yang kembali bersantai di taman itu. 

Saat berjalan pergi, Diego sekali lagi mencuri pandang lewat sudut matanya, kembali dibuat takjub dengan sosok majikannya.

 “Dia sangat cantik dan juga ramah,” gumamnya pelan, hatinya bergetar penuh rasa kagum.

Andrew membawa Diego ke halaman depan, menunjukkan area yang akan menjadi tanggung jawabnya. “Ini area yang menjadi tanggung jawabmu,” kata Andrew, yang lalu menunjuk ke arah bagian selatan bangunan, tepat di samping kolam renang yang berkilau di bawah sinar matahari. “Dan area kolam renang di sana juga,” tambahnya.

“Siap, Tuan Andrew. Terima kasih,” balas Diego, penuh semangat. Ia langsung bekerja begitu Andrew pergi.

Dua jam kemudian, setelah menyelesaikan area depan, Diego melanjutkan pekerjaannya ke sekitar kolam renang. Jorge yang sudah selesai dengan pekerjaannya  datang menghampiri dan menyapa, membantu Diego mengatur pot tanaman sambil berbincang santai.

Tiba-tiba, sebuah sedan mewah berwarna silver meluncur masuk dari gerbang dan berhenti tepat di depan gedung utama. Seorang pria berusia sekitar 60 tahun turun dari kursi penumpang bagian belakang, lalu melangkah masuk ke gedung utama.

“Tuan Sergio?” tanya Diego sembari menoleh ke Jorge.

“Iya,” balas Jorge singkat lalu melirik jam tangannya.

“Sepertinya Tuan Sergio akan berenang,” Jorge memberitahu Diego, mengingat salah satu kebiasaan majikan mereka di jam seperti ini.   

“Berarti Nyonya Ariana juga?” Diego tiba-tiba bersemangat, senyumnya melebar membayangkan sang majikan mengenakan bikini.

Tangan Jorge dengan cepat mendarat di kepala Diego, membuat Diego memekik pelan karena terkejut.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Nyonya Ariana hanya suka bersantai di pinggir kolam, dan sekedar informasi tambahan, Nyonya itu tidak tahu berenang,” balas Jorge dengan nada tegas.

Wajah Diego sedikit cemberut, dia mengelus kepalanya di bagian yang dijitak Jorge tadi.

Dari gedung utama, terlihat Ariana dan Sergio yang mengenakan jubah mandi berwarna putih kembali. Ariana dengan lembut membantu Sergio membuka jubah mandinya, hingga Sergio hanya mengenakan celana renang berwarna hitam.

“Iya kan?” ucap Jorge, menatap Diego yang hanya bisa mengangguk pelan.

Sergio perlahan turun ke kolam renang, di bagian yang kedalamannya hanya setinggi dada orang dewasa. Kolam renang itu memiliki dua tingkat kedalaman, memberikan pilihan bagi mereka yang ingin berenang atau sekadar berendam.

Diego dan Jorge melanjutkan pekerjaan mereka, mengurus area yang masih di sekitar lokasi kolam renang. Saat mereka berdua tengah sibuk mengatur pot tanaman, tiba-tiba terdengar suara jeritan Ariana.

“Sayang!”

Jorge dan Diego yang tersentak kaget kompak menoleh, mendapati Ariana berdiri di pinggir kolam dengan wajah panik. Di kolam renang, Sergio bergerak panik, kepalanya timbul tenggelam di bagian kolam renang yang dalam.

“Tuan Sergio tenggelam!” seru Jorge yang bergegas bangkit bersama Diego, Kedua pria itu berlari cepat, tanpa ragu langsung melompat ke dalam kolam.

Di dalam kolam renang, Diego segera meraih tubuh Sergio yang sudah kehilangan kesadaran, Diego memeluk tubuhnya dari belakang, berusaha menahan agar kepala Sergio tetap di atas permukaan air, sementara Jorge berenang di samping mereka, membantu mendorong mereka berdua ke arah tepi kolam.

Di bantu Ariana, mereka dengan susah payah mengangkat tubuh Sergio ke tepi kolam.

Jorge berlari cepat, meraih jubah mandi Sergio yang tergeletak di kursi dekat kolam. Dengan cekatan, ia menggulung jubah itu, lalu meletakkannya di bawah kepala Sergio sebagai penyangga. Napas Jorge terdengar berat, dan ia tak bisa menyembunyikan nada panik dalam suaranya.

“Diego! Tuan Sergio pingsan!” serunya. Di sampingnya, Ariana tak mampu menahan tangis. Air matanya mengalir deras, ia menggoyang-goyangkan lengan Sergio dengan cemas, memanggil-manggil namanya. “Sergio! Sayang, bangun…!” isaknya putus asa.

Diego menarik napas, menenangkan diri, ia lalu menatap Ariana yang masih memegangi lengan suaminya, lalu berkata dengan suara lembut.

“Nyonya Ariana… tolong beri saya sedikit ruang, biarkan saya mencoba menolong Tuan Sergio.”

Ariana mengangguk pelan, ia bergerak sedikit menjauh, memberikan ruang bagi Diego yang segera bersiap melakukan tindakan penyelamatan.

Diego menempatkan kedua tangannya di dada Sergio, memastikan posisi tangannya benar. Lalu, ia mulai melakukan kompresi dada, menekan dengan ritme yang teratur, mencoba mengembalikan napas majikannya.

Setelah beberapa kali kompresi, Diego mencondongkan tubuhnya, menutup hidung Sergio, lalu memberikan napas buatan. Setiap detik terasa sangat panjang, rasa gugup semakin mencengkeramnya, namun Diego tetap fokus, tidak ingin menyerah.

Diego terus  melakukan kompresi dada dan napas buatan, tanpa berhenti, meski tubuhnya mulai lelah.

Hingga akhirnya tubuh Sergio tersentak, batuk kecil terdengar, dengan cepat Sergio memiringkan posisi tubuh Sergio, hingga air terlihat keluar dari mulut dan hidung Sergio.

Begitu Sergio tenang, Diego mengarahkan tubuh Sergio hingga kembali berbaring. Memperhatikan wajah Sergio yang mulai kembali bernafas.

Diego menarik napas lega, wajahnya penuh kelegaan.

“Sayang!” seru Ariana, menunduk memeluk suaminya yang masih terbaring lemah.

Di samping mereka, Ariana yang masih terisak menatap Jorge dan Diego dengan mata penuh syukur. Rasa terima kasihnya terpancar jelas, ia menundukkan kepala sedikit, mengucapkan, “Terima kasih, kalian sudah menyelamatkan nyawa suamiku.”

Andrew lalu memberikan instruksi kepada dua orang karyawan pria yang baru saja tiba. “Bawa Tuan Sergio ke dalam rumah,” perintahnya.

Kedua karyawan itu segera mengangkat tubuh Sergio dengan hati-hati, membawanya ke dalam rumah untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

**

“Diego, kamu dipanggil untuk menghadap Tuan Sergio.”

Tiba-tiba Diego merasa panik. Mengapa hanya dia yang dipanggil? Apakah dia akan dipecat di hari pertamanya?

Segala pikiran buruk memenuhi pikiran Diego. Namun, semua itu sirna ketika Diego merasakan sentuhan lembut di punggung tangannya. Ariana, menatapnya dengan memberikan senyuman cantiknya, dan menuntunnya ke ruangan Sergio.

Ruangan itu memancarkan kemewahan yang hangat, dengan dominasi warna krem dan aksen kayu di beberapa bagian dinding. Di atas sofa single seat, Sergio duduk dengan posisi santai, mengenakan pakaian tidur berwarna gelap yang kontras dengan kulitnya yang sedikit pucat.

"Tak perlu tegang begitu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah menyelamatkan nyawaku." ujar Sergio dengan suara yang berat. Napasnya terdengar tak beraturan, ada jeda kecil di antara hembusan yang menunjukkan bahwa tubuhnya belum pulih sepenuhnya.

Detik itu juga, Diego menghela napas lega. Padahal, dirinya sudah khawatir jika Sergio akan memecatnya.

Diego segera menundukkan kepala dengan penuh hormat. "Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Saya hanya melakukan tugas saya," balas Diego.

Pria tua itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, menjabat tangan Diego, kembali mengucapkan terima kasih.

 “Apa ada yang kamu inginkan sebagai hadiah? Aku ingin memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih,” tanya Sergio dengan raut wajah serius.

Pertanyaan dari tuan majikannya itu membuatnya terkejut, sehingga Diego hanya menatap Sergio tanpa ekspresi, sebelum menggeleng perlahan, “Tak ada, Tuan.”

Diego bisa melihat alis majikannya yang menaut di tengah tengah lipatan keriput di wajahnya. Mungkin, jawaban darinya tak sesuai dengan ekspektasinya.

“Apa kamu yakin?” tanya Sergio lagi.

 Untuk sepersekian detik, pikiran Diego membayangkan sesuatu yang dia impikan sejak bekerja di rumah ini. Namun, Diego hanya tersenyum dan menjawab tuannya dengan mantap, “Tak ada, Tuan. Gaji dari bekerja di rumah ini sudah lebih cukup untuk keinginan saya.”

Diego menyaksikan Sergio yang menghela napasnya. Lagipula, jika tuan majikannya itu tahu apa yang ada di pikirannya, dia jelas akan langsung mengusirnya dari rumah itu …

 

 

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 4 Mereka Terlihat Serasi

    Suasana sore itu terasa santai dan penuh tawa di sekitarkolam renang. Di tepi kolam, Ariana duduk bersandar nyaman di kursinya bersamaDiego dan Andrew, menikmati suasana tenang sambil menyaksikan aksi Jorge danDiego yang sedang sibuk mengurus taman.Jorge terlihat mendekati Diego, dan tanpa aba-aba, iamengarahkan selang air langsung ke tubuh sahabatnya.Air menyembur deras, membasahi baju Diego dalam sekejap."Hei, Jorge! Berhenti!" Diego protes, lalu tertawa lepas.Ariana dan Sergio yang melihat aksi kocak itu, ikut tertawa.Setelah beberapa hari bersama dan semakin akrab dengan Sergio dan Ariana, keduapria itu tak lagi merasa sungkan untuk bercanda seperti ini.Diego lalu meraih ujung bajunya, menariknya hingga terlepas,memperlihatkan tubuhnya yang atletis dan berotot di bawah sinar matahari.“Andrew, lihat tingkah mereka, hahaha,” ucap Sergio sambilterkekeh.Andrew, yang berdiri di samping Sergio, tersenyum kaku, lalumenghela napas dan berujar dengan sedikit ragu, “Maafkan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 5 Tangis yang tiba-tiba

    “Mulus sekali,” batin Diego, instingnya sebagai lelaki normal terbangun dengan jantungnya berdetak cepat."Kalau begitu aku mulai, Nyonya," ucapnya pelan, suaranya terdengar ragu dan sedikit tercekat.Ariana mengangguk pelan. "Iya, silakan," jawabnya, suaranya hampir tak terdengar.Pipi wanita itu memanas. Ia tersipu malu, berusaha menjaga ketenangannya. “Kenapa aku bisa gugup begini? Ini hanya pijatan. Tapi, jantungku... ya ampun, kenapa berdebar seperti ini?” Ucapnya Dalam hati.Dalam pikirannya terbayang kembali bentuk tubuh Diego yang atletis dan berotot, yang ia lihat tadi. Dan pria itu sekarang sedang menyentuh punggungnya secara langsung.Diego pun mulai menggerakkan tangannya dengan hati-hati, berusaha menemukan kekuatan yang tepat."Apa segini cukup, Nyonya?" tanya Diego, khawatir pijatannya justru menyakiti majikannya."Iya, cukup nyaman," jawab Ariana, berusaha menenangkan dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat, merasakan sentuhan tangan Diego. Ia menutup mata, berusaha

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 6 Selamat Jalan Tuan Sergio

    Suasana duka menyelimuti kediaman mewah Sergio Ortiz, seolah-olah awan kelabu telah menutupi kemewahan yang selama ini tercermin dari setiap sudut bangunan. Semua pekerja berduka, mata mereka merah karena menangisi kepergian yang begitu tiba-tiba dari orang yang mereka hormati dan cintai, Sergio Ortiz.Di tengah kesedihan yang mendalam, dua figur terlihat paling terpukul oleh berita duka ini, Diego dan Ariana. Diego, yang semalam masih berbagi tawa dengan Sergio, duduk terpaku, matanya memandang kosong ke depan, seolah-olah berusaha mencerna kenyataan pahit yang menimpa. Sementara itu, Ariana, yang masih terbungkus dalam kesedihan, terus menangis tanpa henti. Andrew, dengan setia, menemani dan mengawal wanita cantik itu. Gaun hitam yang dikenakan Ariana semakin menambah kesan duka yang mendalam, warna yang merepresentasikan kehilangan yang tak tergantikan.Suara sirene mobil ambulans memecah kesunyian, tanda bahwa saatnya telah tiba untuk melepas kepergian Sergio Ortiz. Jenazahnya den

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-20
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 7 Posisi Baru Diego

    Diego duduk tegak di kursi tamu di ruang kerja Andrew, matanya terpaku pada peta struktur organisasi Grup Ortiz yang terpasang di dinding. Andrew, yang berdiri di sampingnya, menjelaskan dengan detail setiap bagian dari bisnis keluarga Ortiz, dari industri manufaktur hingga jaringan hotel mewah di seluruh dunia.Diego mendengarkan dengan saksama, mencoba memahami kompleksitas kekaisaran bisnis yang ditinggalkan oleh Sergio Ortiz."...dan di sisi keluarga, ada Miguel Ortiz, adik Sergio, yang dikenal cukup ambisius dalam mengembangkan sayap bisnisnya sendiri," Andrew menjelaskan, menunjuk foto Miguel di peta organisasi. "Lalu, ada Juan Ortiz, putra Sergio yang belum banyak terlibat dalam urusan bisnis keluarga... setidaknya, belum."Diego merasa matanya melebar ketika mendengar tentang Juan. Ia tidak menyangka bahwa Sergio memiliki seorang putra. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan, tetapi yang paling mengganggunya adalah, untuk apa Andrew menjelaskan semua ini kepadanya? Diego hanyala

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-21
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 8 Si jenius yang kurang beruntung

    Dalam kesunyian kamar, Diego dengan hati-hati meletakkan mangkuk yang telah kosong di atas meja, menandai akhir dari sesi makan Ariana. Ia lalu mengambil gelas berisi air putih dan mendekati majikannya dengan langkah pelan, membantu Ariana minum dengan penuh perhatian.Setelah selesai, gelas itu diletakkan di meja kecil di samping tempat tidur. Ia kembali duduk di kursi, menemani sang majikan yang masih terisak dalam kesedihan."Nyonya, aku baru mengenal Tuan Sergio, masih banyak hal yang ingin aku tahu tentang beliau," ucap Diego, suaranya lembut dan penuh rasa ingin tahu, membuka pintu bagi Ariana untuk berbagi kenangan."Apa Nyonya bisa bercerita tentang itu?"Ariana, setelah menyeka air matanya dengan tisu yang disodorkan Diego, memulai ceritanya tentang sosok Sergio, mendiang suaminya yang begitu ramah dan baik kepadanya.Suaranya terkadang terputus oleh isak tangis, namun semangat untuk menceritakan kenangan indah bersama Sergio membuat wanita itu terus berbicara, membuka jendela

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-22
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 9 Jawaban dari mimpi

    Setelah melewati tes kecerdasan yang di ruang kerja Andrew, Diego menuju kamar Ariana. Ketika tiba di depan kamar, ia menemukan Adel duduk di sofa yang berada tepat di samping pintu, sibuk memainkan ponselnya dalam cahaya lembut yang memancar dari layar."Adel, Nyonya Ariana sudah bangun?" Diego bertanya dengan suara pelan, tidak ingin mengagetkan rekan kerjanya. Adel menoleh, memandang Diego sejenak sebelum menjawab, "Aku baru saja mengecek, Diego. Belum, Nyonya masih tidur," jawab Adel, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tersembunyi.Diego mengangguk, "Terima kasih, Adel. Aku akan masuk sebentar untuk mengecek kondisi Nyonya."Dengan itu, ia perlahan membuka pintu kamar, membiarkan sedikit cahaya dari luar masuk sebelum menutup pintu di belakangnya.Kamar sang majikan terlihat gelap, hanya sedikit matahari senja dari celah jendela yang berhasil masuk. Diego menyalakan lampu meja di samping tempat tidur, menyetel cahayanya agar tidak terlalu terang, hanya cukup untuk m

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-22
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 10 Tekad Baru

    Ariana mengamati sampul buku di tangan Diego dengan rasa penasaran. "The Art of Leadership?" bisiknya lembut, "Suamiku juga menyukai buku seperti ini. Kamu suka membaca buku bertema kepemimpinan?"Diego mengalihkan pandangannya dari halaman buku. "Ah... tidak, Nyonya. Saya baru pertama kali membaca buku ini," jawabnya, jemarinya mengusap sampul buku itu."Kata Tuan Andrew, buku ini akan bermanfaat untuk membantu Nyonya," lanjut Diego.Alis Ariana terangkat, raut wajahnya menunjukkan campuran antara kebingungan dan keheranan. "Membantuku? Maksudmu bagaimana?""Mulai hari ini, saya ditugaskan menjadi asisten pribadi Nyonya Ariana. Tuan Andrew sedang mengajariku segala hal yang perlu saya ketahui untuk meningkatkan kemampuan saya melayani Nyonya," balas Diego, menjelaskan posisi barunya ke Ariana.Ariana terdiam, ekspresinya berubah dari keterkejutan menjadi sebuah campuran perasaan yang rumit. Ia sama sekali tidak menduga akan ada perubahan ini. Namun, dalam hatinya tersimpan rasa syukur

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-22
  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 11 Kelas di mulai

    Embun pagi masih membasahi rerumputan halaman depan kediaman mewah Ariana. Cahaya matahari yang lembut mulai menembus dedaunan, menciptakan bayangan panjang di halaman luas berlapis marmer putih. Andrew berdiri tegap di depan Diego dan teman-temannya yang sudah berkumpul di halaman itu.Diego terlihat gelisah dan kegelisahan yang ia rasakan bukan sekadar kecemasan biasa, melainkan pergolakan batin yang mendalam. Semalam, Andrew secara pribadi memberitahu dirinya, jika pagi ini dia akan mengumumkan posisi baru Diego asisten pribadi Ariana.Bagi Diego, ini adalah momen yang sulit dipercaya. Dia baru bekerja kurang dari sebulan di mansion megah ini, dan kini akan dipercaya mendampingi nyonya rumah. Bayangan tentang reaksi teman-temannya memenuhi pikirannya. Akankah mereka marah karena Diego yang baru bergabung mendapat kenaikan jabatan? Atau menganggap Diego hanya karyawan beruntung?Jorge, sahabat Diego yang merekomendasikan bekerja di tempat ini, menatap Diego dengan tajam. Sepersekian

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-23

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 31 Bintang keberuntungan

    Restoran El Mirador menyuguhkan pemandangan kota yang begitu luas dan menawan dari lantai atas. Langit siang yang cerah serta angin sepoi-sepoi yang sesekali berembus melalui jendela kaca besar, menciptakan suasana yang sempurna untuk makan siang yang tenang.Ariana dan Diego duduk di salah satu meja eksklusif, terpisah dari keramaian utama restoran. Interior yang elegan, lampu gantung kristal, serta alunan musik jazz lembut semakin memperkuat kesan mewah tempat itu.Seorang pelayan datang dengan sikap ramah, menyerahkan buku menu sebelum menunggu dengan sabar. Ariana melihat daftar makanan dengan cepat, lalu menoleh pada Diego yang tampak lebih fokus pada suasana sekitar."Aku pesan salmon steak dengan saus lemon butter," ujar Ariana santai, lalu mengangkat alis menunggu pilihan Diego.Diego akhirnya menutup menu dan menyerahkannya pada pelayan. "Untukku… rib-eye steak, tingkat kematangan medium rare."Pelayan itu mengangguk, mencatat pesanan mereka sebelum mundur dengan sopan. Begit

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 30 Tamu yang Tak Diundang

    Pintu ruang CEO tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.Ariana yang sedang membaca dokumen, Diego yang sibuk memilah berkas di meja lain, dan Andrew yang tengah mengecek ponselnya, langsung menoleh bersamaan.Seorang pria berpostur tinggi dengan setelan mahal melangkah masuk dengan santai, tangan terselip di saku celana. Senyumnya miring, penuh kelancangan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya jatuh ke sosok perempuan yang kini duduk di belakang meja utama."Halo, Mama Tiri," sapanya dengan nada setengah mengejek.Ariana menegang sesaat, tapi ia cepat menguasai dirinya. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan emosi apa pun.Di sisi lain, Diego merasakan hawa tak nyaman menyelimuti ruangan. Otot-ototnya menegang tanpa sadar, sementara jemarinya yang masih menggenggam dokumen perlahan mengepal.Andrew menghela napas pelan, sudah memperkirakan kejadian ini cepat atau lambat.Juan melangkah lebih dekat, matanya meneliti setiap sudut ruangan dengan ekspresi meremehkan. "Tidak buruk… seper

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 29 Miguel Tak Senang, Ariana Tak Goyah

    Ariana berdiri dengan tegap di ujung meja rapat, tatapannya tajam dan penuh percaya diri. Seluruh ruangan diam menunggu kata-katanya—beberapa penuh ekspektasi, beberapa dengan skeptisisme yang terselubung.Di sisi kanan meja, Miguel Ortiz duduk dengan tubuh sedikit condong ke belakang, tangannya bertaut di depan dada. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi bukan senyum yang bersahabat.Ariana menarik napas dalam sebelum mulai berbicara.Lalu, dengan suara yang tegas dan terkendali, ia memulai, "Ortiz Buildwell Corp. adalah warisan, bukan hanya bagi keluarga Ortiz, tetapi juga bagi ribuan karyawan yang membangunnya dengan dedikasi dan kerja keras."Beberapa orang mengangguk pelan."Saya berdiri di sini bukan untuk menggantikan siapa pun, tetapi untuk meneruskan dan membawa perusahaan ini ke level yang lebih tinggi. Saya tidak meminta Anda percaya pada saya sekarang—saya akan membiarkan hasil yang berbicara."Hening sejenak.

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 28 Tantangan Pertama Ariana

    Rolls-Royce Phantom hitam itu meluncur dengan anggun di jalan utama Sevilla, menyusuri boulevard yang dipenuhi bangunan-bangunan pencakar langit berarsitektur modern.Namun, di antara semua gedung tinggi yang menjulang, satu bangunan mencuri perhatian dengan kemegahannya—Ortiz Buildwell Corp.Gedung pencakar langit itu berdiri megah dengan fasad kaca berwarna biru tua yang memantulkan sinar matahari pagi. Logo ‘OBC’ yang besar dan elegan terpampang di bagian atas, menunjukkan bahwa ini adalah markas utama salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Eropa.Begitu mobil Ariana tiba di area lobi utama, sekelompok staff perusahaan sudah menunggu di depan pintu masuk. Para eksekutif dan manajer tingkat atas berdiri berbaris rapi, mengenakan setelan formal yang mencerminkan profesionalisme mereka.Di belakang mereka, beberapa karyawan lain berdiri dengan penuh antusias, ingin menyaksikan langsung momen penting ini—hari pertama Ariana sebagai CEO Ortiz Buildwell Corp.Mobil berhenti dengan m

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 27 Diiringi Keyakinan Mereka

    Pagi menyambut dengan angin sejuk yang berembus lembut melalui jendela kamar Ariana. Cahaya matahari keemasan menembus tirai tipis, menyelimuti ruangan dengan nuansa hangat.Ariana membuka matanya perlahan, lalu menarik napas dalam. Hari ini adalah hari besarnya. Hari di mana dia akan berdiri di depan dewan direksi Ortiz Buildwell Corp sebagai CEO baru.Tanpa membuang waktu, dia segera bangkit dan menuju kamar mandi.Begitu air hangat menyentuh kulitnya, Ariana menutup matanya, menikmati sensasi rileks yang menyapu tubuhnya. Ia membiarkan uap air memenuhi ruang shower kaca, sementara pikirannya berusaha fokus pada hari yang akan ia hadapi.Dengan gerakan terlatih, tangannya mengambil sabun cair beraroma jasmine, menggosokkannya ke seluruh tubuh sebelum membilasnya dengan air yang mengalir lembut.Setelah selesai, Ariana meraih handuk, mengeringkan tubuhnya dengan tenang. Setiap gerakannya anggun, mencerminkan ketenangan yang ia coba bangun di dalam dirinya.Dari dalam lemari walk-in ya

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 26 Malam Sebelum Takhta

    Di dalam ruang kerja Andrew, suasana terasa lebih serius dibandingkan pagi tadi. Tidak ada lagi canda tawa atau godaan seperti saat sarapan. Kini, mereka bertiga duduk menghadap meja kerja Andrew yang dipenuhi berkas-berkas terkait Ortiz Buildwell Corporation—perusahaan yang akan resmi dipimpin oleh Ariana mulai besok.Ariana duduk tegap, mendengarkan dengan saksama setiap penjelasan Andrew, sementara Diego duduk di sampingnya, juga berusaha menyerap informasi yang disampaikan. Sesekali, tangan mereka bergerak mencatat poin-poin penting di buku catatan masing-masing."Besok, acara akan dimulai pukul sembilan pagi," Andrew membuka pembicaraan, jemarinya merapikan beberapa dokumen di atas meja. "Para pemegang saham dan dewan direksi sudah diundang, begitu juga dengan beberapa media yang akan meliput."Ariana mengangguk, matanya tajam menatap Andrew. "Dan aku akan memberikan pidato singkat, bukan?""Tepat," jawab Andrew. "Tapi ingat, jangan terlalu panjang atau emosional. Fokus pada visi

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 25 Diego dan Pagi yang Menyiksa

    Pagi masih enggan beranjak ketika Ariana bergerak lebih dekat, merapatkan tubuhnya ke sisi Diego. Selimut tebal membungkus mereka berdua, menyisakan hanya kehangatan yang berasal dari kulit mereka yang bersentuhan.Tangan Ariana terulur, melingkari pinggang Diego dengan nyaman, sementara wajahnya bersandar di bahu pria itu. Napasnya pelan dan teratur, seolah menikmati waktu tenang ini tanpa tergesa."Kita akhirnya sampai di titik ini," gumamnya lembut.Diego tidak menjawab. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena otaknya sedang berusaha bekerja dengan benar.Jantungnya berdetak cepat—bukan, ini sudah di luar batas normal. Ia bisa merasakan tubuh Ariana yang polos menempel di sampingnya, dan lebih buruk lagi... ia tahu betul benda kenyal apa yang kini menekan rusuk kirinya.Oh, Tuhan.Diego meneguk ludah dengan susah payah. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar, seolah mencari penyelamat dari dilema besar yang ia hadapi. Hawa pendingin ruangan sama sekali tidak membantu—di saat

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 24 Bangun dalam Kehangatan

    Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai kamar, menciptakan bias cahaya lembut yang menari di dinding berwarna krem. Aroma samar anggur merah masih menggantung di udara, bercampur dengan keharuman khas sprei linen yang menyelimuti tubuh Ariana.Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka. Pandangannya masih buram, kepalanya terasa berat—sebuah efek sisa dari anggur yang semalam ia minum. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan kesadaran, sementara pikirannya masih berusaha memahami keberadaannya di tempat ini.Lalu, tanpa sadar, ia merenggangkan kedua tangannya ke samping. Jarinya bersentuhan dengan sesuatu yang hangat dan padat.Ariana sontak membeku.Jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya menegang seketika, dan tanpa berpikir panjang, ia menoleh.Matanya membelalak.Di sampingnya, seorang pria terbaring dengan napas yang masih teratur. Rambut hitamnya berantakan, beberapa helai jatuh di keningnya, menciptakan kontras sempurna dengan kulit sawo matang yan

  • Terjerat Cinta Majikan Seksi   Bab 23 Kenikmatan dan Kejujuran (+21)

    Setelah istirahat sejenak, Diego melanjutkan aksinya, melepas boxer hitam yang sejak tadi membungkus "kekayaan alaminya" yang tegang. Kini giliran Ariana yang meneguk salivanya sendiri, semakin turun boxer Diego, semakin banyak yang terlihat, dan semakin kencang pula jantung Ariana berdegup. Setiap inci yang terpapar membuat Ariana semakin penasaran, namun juga semakin gugup.Dan begitu boxer Diego meluncur hingga ke paha, "batang kejantanan"nya pun menyembul keluar, tegang dan siap. Ariana tersentak kaget, ukurannya yang mencengangkan membuatnya takjub. Matanya terpaku, tidak bisa berpindah dari "monumen" yang berdiri tegak di depannya."Ahh, Diego... itu...," gumam Ariana, suaranya terputus, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.Ia teringat kembali pada mendiang suaminya, Sergio, yang pada usia tua sudah tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan biologisnya. Ukuran dan ketegangan "batang kejantanan" Diego membuatnya sadar bahwa ini akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda.Diego tersenyum

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status