“Apa kakakmu dan mamamu baik-baik saja?” tanya Ansel saat bertemu dengan Aruna di kafe.Aruna sedang minum jus saat mendengar pertanyaan kekasihnya itu.“Mereka baik-baik saja, aku bersyukur baik kakakku dan Mama tidak menganggap serius berita itu,” jawab Aruna, “sebenarnya berita itu menyakitkan, tapi selama mereka pun sudah tak mempermasalahkan, kami sekeluarga sudah tak ingin membahas hal itu,” imbuh Aruna.“Ya, lebih baik tidak memicu masalah lain dengan memperburuk kondisi sekarang. Lagi pula berita itu juga sudah hilang,” balas Ansel.Aruna mengangguk-anggukan kepala, kemudian menyantap hidangan yang dipesan.“Saat aku wisuda nanti, kamu akan datang, kan?” tanya Ansel sambil menatap serius Aruna.Aruna menatap Ansel dengan mulut penuh, lantas menganggukkan kepala.“Tentu saja aku akan datang, keluargaku juga akan datang karena ingin melihat Bumi diwisuda,” jawab Aruna.Mendengar nama Bumi, ekspresi wajah Ansel sedikit berubah.“Kamu masih sering berhubungan dengannya?” tanya Ans
“Pipimu kenapa?”Sashi sangat terkejut melihat pipi Aruna yang merah dan sedikit bengkak. Sang adik datang ke perusahaan bersama Ansel dalam kondisi buruk.Aruna hanya diam sambil memegangi pipi yang masih panas.Sashi menoleh Ansel, tatapannya seolah memberikan tuduhan jika Ansel yang menampar adiknya.“Runa tadi bertengkar dengan teman kampus, lalu ditampar oleh ibu temannya,” ujar Ansel langsung menjelaskan karena tak ingin dituduh.Sashi sangat terkejut hingga menatap Aruna dengan rasa tak percaya.“Apa itu benar?” tanya Sashi sambil menatap Aruna.“Iya,” jawab Aruna, “aku kesal karena dia menuduhku rubah, sudah begitu mengataiku anak haram. Cih, dia sama dengan ibunya yang bermulut busuk. Pantas saja kena tampar Mama saat di pesta malam itu.”Sashi sangat terkejut mendengar ucapan Aruna, jadi sang adik bertengkar dengan wanita yang menghina dirinya di pesta malam itu.“Duduk, biar aku obati pipimu,” kata Sashi.Aruna duduk di kursi depan meja Sashi, sedangkan Ansel berdiri menung
[Papa, Mama mau melabrak wanita yang bertengkar dengan Mama di pesta tempo hari. Buruan susul aku kirim alamatnya.]Aruna mengirimkan pesan sesaat sebelum dirinya pergi menemani sang mama. Kini mobil yang dikemudikannya berhenti di sebuah pusat kebugaran, tapi sang papa belum memberikan balasan atas pesan yang dikirimnya sejak 15 menit lalu.Bintang sudah turun lebih dulu untuk mencari wanita yang berani menampar putrinya. Dia tidak bisa diam saja mengetahui anaknya ditampar juga dihina sebagai anak haram, padahal Aruna lahir setelah dirinya dan Langit menjalin rumah tangga hampir 3 tahun.Aruna buru-buru mengejar sang mama. Dia panik dan bingung jika sampai terjadi sesuatu dengan Bintang.Bintang masuk ke pusat kebugaran yang biasa didatangi ibu Angel. Di sana memang ada kelas yoga yang banyak diikuti ibu-ibu rumah tangga dari kalangan atas.Bintang masuk ke ruangan yoga, hingga melihat beberapa wanita sedang melakukan yoga di sana. Dia pun menghampiri dengan cepat wanita yang sudah
“Udah, Ma. Mama jangan begini.” Aruna berusaha menenangkan Bintang agar tak terus emosi.Bintang menoleh Aruna, hingga kemudian bertanya, “Memangnya mama kenapa? Mama baik-baik saja.”“Tapi Mama tadi marah-marah seperti itu. Aku cemas jika penyakit Mama kambuh,” ucap Aruna sambil memasang wajah cemas.Bintang menunjukkan kedua tangan, tak ada ruam yang artinya dia baik-baik saja.“Mama baik-baik saja, Runa. Mama malah begitu lega karena bisa mengamuk dan menampar wanita itu. Mama sepertinya belum puas, harusnya tadi Mama pukul sampai jatuh lalu tendang sekalian. Enak sekali dia ngatain kamu juga.”Bintang terlihat mengerikan saat marah seperti itu. Aruna sampai tidak tahu lagi apakah bisa menganggap Bintang tertekan atau wanita tadi yang nantinya akan tertekan.Bintang meraih ponsel, lantas mengetik sesuatu sebelum akhirnya dikirimkan ke seseorang.“Mama ngapain?” tanya Aruna penasaran.“Bersenang-senang,” jawab Bintang.Aruna mendadak horor melihat sikap Bintang yang seperti ini. Seu
“Makan yang banyak, kalian harus selalu sehat.”Bintang memberikan lauk ke piring Sashi dan Nanda secara bergantian.Keduanya pun menatap Bintang yang begitu antusias mengambilkan makanan untuk mereka, hingga keduanya saling tatap sejenak.“Terima kasih, Mom.” Sashi cemas jika sikap Bintang sebenarnya hanya untuk menutupi kesedihan. Dia tak langsung tenang jika melihat ibunya bersikap tak seperti biasanya.Aruna memperhatikan Bintang yang terus saja memperhatikan Sashi dan Nanda, hingga bibir gadis itu mengerucut.“Mommy, aku juga mau diperhatiin,” rengek Aruna yang memang duduk di samping Bintang.Bintang dan semua orang pun menoleh ke Aruna karena keheranan gadis itu memanggil dengan sebutan mommy.“Apa? Kenapa kalian menatapku begitu?” tanya Aruna sambil mengedip-ngedipkan kelopak mata.“Kenapa kamu jadi ikutan manggil mommy?” tanya Bintang keheranan.Aruna menghela napas kasar hingga kedua pundaknya naik lantas turun. Dia pun menjawab, “Ya, karena Kak Sashi manggil mommy, terus da
“Jangan terima pengajuan pinjamannya. Tangguhkan dulu.”Bintang datang ke perusahaan milik keluarganya, lantas meminta Orion untuk tak menerima pengajuan penambahan pinjaman dari keluarga wanita yang sudah berani menampar Aruna.“Tapi kenapa, Kak? Bukannya apa-apa, hanya saja perusahaan mereka membayar sesuai jangka waktu yang ditentukan, serta mereka pun memiliki tabungan dan deposito di perusahaan kita,” ujar Orion keheranan dengan perintah Bintang.Sang kakak biasanya tak pernah mencampuri urusan perusahaan karena memang ingin fokus dengan keluarga. Kini Bintang tiba-tiba saja memberi perintah yang membuat Orion kebingungan.“Aku memang subyektif. Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran karena mereka berani menghina Aruna. Kamu percaya? Aruna dikatai anak haram hanya karena informasi soal siapa Sashi sebenarnya tersebar ke publik.” Bintang kembali geram mengingat Aruna yang dikatai anak haram.Orion pun sangat terkejut mendengar ucapan Bintang. Dia pun takkan rela jika sampai anak
“Kenapa Pak Nanda harus melarang kita membicarakan soal berita istrinya kalau itu memang fakta.”“Iya, mana staff marketing yang membahas hal itu dimutasi, jadi kelihatan ga profesional banget ga sih karena nyangkutin masalah pekerjaan dengan begituan.”“Iya, mau kita ngomong kek apa, kalau hasil kerja kita bagus, kenapa juga diperlakukan seperti itu.”“Sepertinya Pak Nanda memang sudah terpengaruh oleh istrinya. Aku juga kurang suka sama dia, semoga saja ga sakit saat kerja biar ga perlu ketemu sama wanita itu.”“Betul, aku juga eneg. Bisa-bisanya Pak Nanda suka sama orang macam begitu.”Saat beberapa staff itu sedang menggosipkan Sashi, Lani yang mendengar semua gunjingan itu pun tak tahan untuk mengambil tindakan. Dia langsung masuk toilet, membuat 3 staff wanita itu terkejut bukan kepalang karena kedatangan Lani.“Kalian kalau bicara mulutnya dijaga jangan asal jeplak!” amuk Lani tak terima para staff itu bergosip soal Sashi.“Kita hanya bicara fakta, kamu pasti jadi penjilat biar
“Kenapa kalian berkumpul di sini?”Suara Nanda mengejutkan tiga staff wanita yang ada di depan klinik. Mereka begitu panik sampai menundukkan kepala.Nanda mengerutkan alis melihat ketiganya yang terlihat cemas, hingga menoleh ke pintu klinik, lantas kembali menatap tiga staff yang ada di hadapannya.“Ini jam makan siang, kenapa kalian malah berkumpul di sini?” tanya Nanda penuh curiga.Ketiga staff itu saling senggol lengan, membuat Nanda merasa ada sesuatu yang tak beres.“Kami minta maaf, Pak. Kami tidak sengaja.” Salah satu staff langsung membungkuk berkali-kali untuk minta maaf.Nanda terkejut mendengar ucapan maaf staff itu, hingga pikirannya langsung tertuju ke Sashi. Dia pun masuk klinik untuk mencari istrinya, hingga melihat Sashi yang sedang berbaring di ranjang.“Sashi!” Nanda begitu panik melihat istrinya berbaring seperti itu. Hingga dia melihat luka memar di kening istrinya.Sashi sangat terkejut melihat Nanda datang, berpikir jika suaminya baru akan datang nanti saat ja