“Ma … Maksud Anda?” tanya asisten Woodward tak mengerti.
Tuan Wu tertawa semakin menjadi-jadi dan semakin membuat asistennya bingung. Sementara Nicko hanya mengangguk pelan, seolah ia sudah mengerti apa maksud dari Tuan Woodward.
“Kita seperti sedang menontotn drama,” bisik Nicko pada Raina.
“Hmm sepertinya aku sependapat denganmu, tapi biarlah, anggap saja ini hiburan bagi kita semua,” balas Raina.
Kembali Tuan Woodward memohon pada bosnya. Kali ini ia berlutut lagi untuk merendahkan diri. Sesekali ia menampari wajahnya sendiri, tanpa mempedulikan ada karyawan lain yang lalu lalang di sekitar lobi.
“Kumohon Tuan berikanlah sedikit belas kasihan untukku,” pinta Tuan Woodward kembali memohon.
Tuan Wu kembali melirik ke arah Nicko kemudian mengangguk ke arahnya, lalu kembali kepada asisten pribadinya.
<Tepukan pada pundak Daisy membuyarkan lamunannya di depan ruang ICU yang sunyi. Sesosok pemuda berambut pirang telah berdiri dengan gagah di belakangnya sambil tersenyum.“Selamat siang Nyonya, terima kasih untuk tidak memperpanjang perkara kelalaian yang tak sengaja saya perbuat,” katanya sambil menatap teduh ke arah Daisy.Ibu Josephine tertegun melihat kedatangan pemuda ini. Dia adalah Adrian, laki-laki yang selalu ia idam-idamkan untuk menjadi menantu.“Ka … Kau,” katanya terkejut.“Iya Nyonya Windsor, ini saya. Sekali lagi saya berterima kasih untuk kebaikan Anda,” jawab Adrian kemudian men gambil tempat duduk di samping Daisy tanpa perlu menunggu untu dipersilakan terlebih dahulu.Meski ada kekecewaan pada diri Daisy akibat perbuatan Adrian, tapi Daisy tetap saja bersedia memafkan, dan menganggap semuanya hanya sebuah ketidak senga
Daisy langsung bangkit berdiri begitu melihat kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu dari kejauhan. Apalagi pemuda itu tidak datang sendirian, tapi ada seorang perempuan yang ikut mendampinginya.Sejenak ia mengingat-ingat siapa perempuan yang datang bersama Nicko.“Siapa perempuan yang bersama si pecundang itu?” gumam Daisy, dan terdengar oleh Adrian.Pemuda yang begitu menggilai Josephine ini tentu saja menggunakan kesempatan ini untuk membuat wanita disampingnya semakin kesal dan segera mengungkapkan sumpah serapahnya pada menantunya.“Hmm mungkin dia wanita yang menyewa jasa Nicko,” jawab Adrian.Perempuan yang datang bersama Nicko memang pernah berkunjung ke rumahnya. Namun saat itu Daisy memilih untuk bersembunyi di dalam. Mungkin itulah kenapa ia tak bisa mengenali sosoknya dan mudah sekali terpengaruh oleh Adrian.“Nicko
Adrian hanya menoleh ke kanan kiri mendengar ucapan Raina. Ia menjadi ciut karena perempuan itu menatap nyalang ke arahnya. Si menantu pecundang pun ikut melakukan hal yang sama dengan perempuan di sampingnya, ditambah lagi senyum sinis yang tersungging di wajahnya.“Sial! Bisa-bisanya perempuan ini mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak ini tak bisa kubiarkan, aku tak boleh kalah dengan para pecundang ini. Mereka harus kupermalukan,” runtuk Adrian dalam hati.Dengan sumpah serapah yang tersimpan dalam dada. Adrian pun mendongak dan balas menatap pada pasangan yang ada di hadapannya. Namun tak berlangsung lama, karena semakin lama ia menantang, semakin tajam pula tatapan mereka berdua. Untuk itulah ia berpaling pada Daisy yang saat ini terlihat galau sambil memainkan jemarinya sendiri.“Nyonya, jangan dengarkan perkataan mereka. Apa Anda tak ingat bagaimana keluargaku kemarin datang menemui Anda dan memb
Berbeda dengan Adrian, perempuan yang datang bersama Nicko tidak gugup apalagi takut mendengar ucapan Adrian. Ia justru melangkah dan menciptakan jarak yang sangat tipis dengan lelaki pirang di depannya.Dengan berani, Raina menurunkan jmeari Adrian yang masih mengacung untuknya.“Kau bilang aku tidur dengan dia? Tarik kembali ucapanmu atau kau akan kembali menikmati indahnya tidur di dalam penjara!” ancam Raina.“Huh aku tak sudi!” balas Adrian kemudian membuang muka menghindari Raina.Meskipun sikapnya kali ini menunjukkan keberanian dan kekuasaan, tapi sebenarnya ia takut. Gertakan dari Raina membuatnya teringat akan pengalaman buruk sembilan jam berada dalam tahanan. Namun martabatnya mengatakan ia tak boleh kalah begitu saja, terlebih oleh seorang perempuan asing dan menantu pecundang.“Kau yakin dengan ucapanmu? Baiklah kalau begitu, aku akan m
Daisy melepaskan tangannya dari pundak Adrian. Sejenak wanita ini melirik ke arah belakang, memperhatikan Nicko yang masih berbicara dengan Raina.“Sebaiknya kau lupakan saja masalah ini,” kata Daisy pada Adrian.Spontan, Adrian ternganga saat mendengar apa yang diminta Ibu dari Josephine. Heran kenapa secepat ini perubahan wanita paruh baya di sampingnya.“Melupakan? Maksud Anda bagaimana Nyonya?”Daisy menghela napas panjang sejenak, kemudian wanita ini melirik ke arah Adrian.“Dia adalah keluarga mendiang Armando, suami Catherine. Kau ingat dia kan?”Tentu saja Adrian mengingat baik siapa mendiang Armando. Mereka berdua hampir sama, suka menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Namun yang tidak dimengerti oleh Adrian adalah kenapa Daisy harus berubah setelah mengetahui kalau perempuan yang bersama Nicko adalah bagi
Sikap Daisy memang terlihat berubah pada Adrian. Wanita ini langsung menoleh pada putra keluarga Law dan berkata dengan suara yang ditinggikan.“Aku tak membela siapa-siapa Adrian, aku hanya mencoba untuk bersikap bijak. Tuan wu sudah berbaik hati mengundang Nicko, sudah seharusnya ia datang dan memenuhinya. Apa kau tidak pernah diajarkan tata krama hingga mengatakan aku tak bersikap bijak.”Jelas saja jawaban Daisy semakin membuat pemuda dengan mata kebiruan ini heran. Tadi Nyonya daisy Windsor begitu terpengaruh pada ucapannya. Namun sekarang berubah 180 derajat, hingga membuatnya bertanya-tanya.Hanya Daisy sendiri yang tahu tentang apa yang mendasari perubahan sikapnya. Wanita ini memiliki seribu akal untuk bisa merasakan nikmatnya hidup dalam kemewahan.Nama Tuan Wu tentu tak asing di telinga Daisy. Tidak hanya kiprahnya dalam berbisnis, tapi hal pribadi tentangnya pun telah ia denga
Kepercayaan diri Daisy mendadak tumbuh kala mendengar perkataan yang dilontarkan oleh menantunya dan sepupu Armando. Sejenak ia merasa bodoh karena lupa akan alasan bagaimana keluarga Law memberikan hadiah untuk Edmund.Wanita ini kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum, Ia sangat yakin kalau Adrian tak mungkin berani untuk menarik hadiah dari kedua orang tuanya kembali.“Iya itu benar Adrian. Silakan saja kau ambil kembali hadiah dari orang tuamu. Aku juga bisa mengembalikanmu ke dalam penjara, dan membiarkanmu tidur dengan tikus-tikus!” seru Daisy sambil mendongakkan wajahnya.Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya pun berdiri naik turun sambil menatap tajam pada Daisy. Bibirnya terkunci, tak sanggup atau mungkin tak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Daisy.Tentu saja Adrian enggan untuk kembali meringkuk di dalam penjara. Mual rasanya ia harus mem
“Duduklah Nicko!” kata Daisy mempersilakan menantunya yang baru saja mandi.Pemuda itu sudah terlihat lebih segar, rambut pendeknya tampak basah akibat keramas. Kali ini ia berpenampilan sedikit rapi, celana berbahan polyester cokelat batang dipadu dengan kemeja abu-abu muda yang pas dengan potongan tubuhnya. Bukan celana jeans balel yang sobek dan kaos berlogo brand olahraga yang sudah usang.Penampilan Nicko kali ini tak hanya membuat Josephine terkesan, tapi juga Catherine dan Ibunya. Kali ini menantu keluarga Windsor terlihat seperti seorang pemuda kaya. Mata mereka semua tampak memperhatikan sosoknya kali ini, dan membuat Nicko merasa kurang nyaman.“Ada apa?” tanya Nicko yang batal meminum kopinya.“Tak apa sayang, kau hanya terlihat lebih tampan kali ini,” kata Josephine sambil menyandarkan kepalanya pada lengan sang suami.Dengan lembut
Matthew tidak berkata apa-apa, bahkan bereaksi terhadap Josephine yang masih keheranan. Ia malah menunjukkan sikap dingin pada Josephine. Saat ini jantung Josephine pun bergetar penuh ketakutan, ia langsung memeluk tubuh Ian yang saat ini sudah tertidur dengan erat.Matthew melirik sejenak dan tak mempedulikan Jo, ia malah melangkah keluar dan kembali dengan membawa kejutan. Matthew langsung menarik tubuh dua penjaga yang sedang pingsan ke dalam dan menggulingkannya pada tumpukan jerami.Tanpa diduga Matthew pun mendekat ke arah Jo dan melepas jaketnya dan memberikan pada Josephine, “Pakai ini di luar akan dingin!”Sedikit ragu Josephine pun menerima dan memakai jaket milik Matthew. Pemuda asing itu pun mengangkat tubuh Ian pada pundaknya dan mengangguk , “Aku akan mengantarmu ke kota, setelah itu hubungi suamimu untuk menjemput! Kita harus cepat sebelum mereka semua bangun!” ajak Matthew.
“Jadi ini perbuatanmu?” tanya Nicko dengan geram. Kali ini wajahnya memerah dan matanya menatap tajam ke depan.“Ha ha ha kenapa? Apa ini terdengar menyakitkan untukmu? Baguslah kalau ini terdengar menyakitkan untukmu. Setidaknya dengan begini kau tahu telah berhadapan dengan siapa, dan kau bisa berpikir ulang untuk menghianati putriku!”“Watson, kau!” amuk Nicko. Kali ini ia benar-benar marah sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tangannya mulai mengepal kuat dan memaki pria yang meneleponnya. Tak ada yang pernaha mengira kalau Robert Watson, ayah Camilla terlibat penculikan istri dan anaknya sekarang.“Brengsek kau Watson, apa maumu! Aku peringaktan kau kalau aku tidak pernah mengkhianati putrimu. Itu hanya sebuah permainan konyol di masa kecil!” balas Nicko.“Permainan konyol masa kecil katamu? Sayang sekali sampai sekarang putriku masih saja
Pria yang dikenal Josephine melipat tangannya di depan dada lalu berjalan mendekati Josephine. “Kau ingin tahu kenapa aku bisa berada di sini? Tentu saja karena aku ingin bertemu denganmu manisku.”Tentu saja pria itu adalah Gerlad Jones, laki-laki paling egois yang pernah dikenal oleh Josephine.“Apa kau tidak bosan menggangguku terus menerus? Bukankah kau sudah tahu kalau aku dan kau tidak lagi ada hubungan apa-apa?” balas Josephine dengan ketus.Gerald langsung berjongkok dan menjajari posisinya dengan Josephine. Kali ini ia menyentuh lembut pipi Josephine dan membuat mantan kekasihnya itu jijik.Josephine tampak menepiskan tangan Gerald yang terus saja berusaha untuk menyentuhnya. Semakin Josephine menghindar semakin ia senang untuk menggodanya.“Kulitmu tetap saja mulus dan lembut, hanya saja sekarang kau sedikit berbeda. Sepertinya kau sedikit
Sore ini Nicko tengah menemani Josephine dan Ian untuk pergi ke taman. Kali ini mereka hanya ditemani oleh Jacklyn dan juga Owen pengawal Ian dan Jo.Sepertinya sudah cukup lama Josephine tidak menghabiskan waktu bertiga seperti sekarang ini. Belakangan, Nicko memang sibuk dengan segala aktivitasnya sendiri dan juga dunia pengobatan yang baru saja didapatkan olehnya. Kini mereka pun berpikir untuk beristirahat sejenak, lagipula semalam Jo berkata kalau ia ingin berbagi.Dengan bantuan Owen dan juga Jacklyn mereka pun menggelar meja dan meletakkan beberapa kotak makanan di sana yang akan diberikan pada siapapun yang membutuhkan secara cuma-cuma. Kali ini bukan hanya Jo saja yang terlihat begitu senang, tapi juga Ian, karena ia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama ayah angkatnya itu.Begitu Nicko selesai membereskan meja dan meletakkan beberapa makanan, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh pun mendatangi mereka. Dilihat dari pakaian yang dikenakan sepertinya dia adalah
Saat ini Andrew Young benar-benar terdesak. Ia benar-benar tidak menyangka akan mengalami nasib seperti ini.Orang yang dulu pernah dia remehkan tiba-tiba saja membalikkan keadaan hanya dalam hitungan beberapa menit saja. Dulu ia menganggap remeh keluarga Watson karena mereka memiliki kelas ekonomi di bawahnya.Apalagi dengan Nicko, dia justru tak pernah memperhitungkan pemuda itu sama sekali. Justru menganggap Nicko seperti hama yang harus segera dibasmi. Namun sekarang dialah hama itu. Bahkan Chuck yang jadi sekutunya juga menyalahkan dirinya.“Chuck, kau tidak menganggapku lagi? Apa kau tidak mengingat hubungan baik kita terdahulu?” tanya Tuan Young dengan suara yang terdengar bergetar karena mengandung kesedihan.Chuck menggeleng dan kembali berkata, “Apa kau tidak dengar apa yang telah dikatakan oleh pamanku tadi? Kami keluarga Watson sama sekali tidak menyambut kedatangan seorang pembohong. Sekarang lebih baik kau pergi dari sini!”“Chuck kau,—” Andrew tak lagi melanjutkan ucapa
Tubuh Andrew Young tiba-tiba terasa kaku dan lemas. Sekarang ia sudah tidak punya uang lagi dan itu sangat menyakitkan. Sekarang ia mendengar kabar kalau putra bungsunya mati bunuh diri, hidupnya benar-benar hancur saat ini.Dengan langkah yang gontai ia pun berjalan ke arah panggung kembali. Saat itu ia sudah melihat keadaan yang porak poranda. Semuanya penuh dengan sampah dan tak ada satu orangpun di sana.Ia pun berjalan dengan gontai, tapi seketika seorang pelayan pun datang untuk mengejarnya, “Maaf Tuan Young, ini tagihan untuk acara malam ini!”Saat itulah Andrew Young langsung menepuk dahinya dan bergumam kalau ia hampir lupa dengan tagihan yang harus dilunasinya. Saat menyewa tempat ini memang ia baru membayar setengah dari total layanan banket yang dipesan olehnya.Saat ini ia masih bisa bernapas lega sebab dalam saldo rekeningnya masih tersisa uang untuk biaya pelunasan acara kali ini. Namun untuk setelah itu ia tidak tahu harus bagaimana. Bahkan tidak yakin bisa membeli tik
Andrew Young tersentak dengan pernyataan mantan pengawalnya itu. Apalagi mereka malah menahannya dan membuat dirinya tidak lagi bisa bergerak dan mengumpankan pada orang-orang yang kini memburunya.Sebenarnya sekarang dia sudah benar-benar terjepit, tak ada yang bisa menolongnya. Ingin berteriak dan meminta tolong pada Matthew tapi sekarang anak muda itu sudah tidak bersamanya lagi. Lalu Tuan Watson, seharusnya pria itu bisa diandalkan olehnya. Sementara Chuck, adalah benar-benar sekutu baginya. Namun posisi mereka terlalu jauh dan tak memungkinkan untuknya berteriak.Kalaupun ia berteriak meminta bantuan mereka, sebelum Chuck datang ke sini dirinya pun sudah babak belur.Kini yang bisa dilakukannya hanya menggertak mantan pengawalnya lagi agar mau melindunginya. Pengawal yang telah dipecatnya adalah kumpulan orang-orang bodoh dengan badan yang kekar. Dengan memberikan mereka sedikit harapan saja, mereka pasti akan bergerak melindunginya, tak peduli sesulit apa rintangan yang harus di
Andrew Young mencoba untuk mengejar Nyonya Eleanor yang sekarang sudah menuruni panggung dan mengarah pada jalan keluar. Ia terus saja memanggil wanita itu dan memintanya untuk kembali.Namun sayang saat ia baru saja menuruni panggung ia sudah dihadang oleh beberapa orang yang telah membeli obatnya.Salah satunya adalah Tuan Austin. Ia berdiri merentangkan tangan dan menghalanginya untuk pergi. “Kau mau kemana? Segera bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan pada kami! Kembalikan uang kami!”Beberapa yang telah membeli obat itu pun ikut membantu Tuan Austin. Mereka semua tampak mengepungnya.“Cepat kembalikan uang kami!” seru orang-orang itu sambil berteriak marah.Andrew Young justru menggelengkan kepala dan mencoba untuk menolak, “Tidak … tidak kalian sudah tahu kan kalau jika barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan.”Namun orang-orang tidak mau mengerti dan berkata kepadanya dengan lantang, “Tidak bisa, uang ini harus dikembalikan karena kau telah melakukan penip
Andrew Young tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak Tuan. Harga itu adalah harga yang sangat sepadan dengan apa yang kalian dapatkan.”“Huh kau pasti ingin merampok kami dengan membayar biaya yang tak sedikit itu! Aku tak mau membeli!” seru salah satu pengunjung.Andrew Young pun tersenyum sinis an berkata, “Aku tidak memiliki niat merampok pada kalian. Aku menetapkan harga yang pantas. Seperti yang kalian lihat pada pesta ulang tahun Tuan Watson, dan juga perubahan pada diriku. Kalian semua bahkan sudah menyentuhku dan merasakan perbedaan yang terjadi. Jadi menurutku 2,5 miliar itu sangat pantas.”Para pengunjung yang mengerubunginya pun berbicara seperti dengung kumbang. Setelah itu ia pun berkata lagi dengan memberikan penjelasan pada semuanya. “Apa kalian semua tidak tahu kalau di masa muda kita banyak menghabiskan waktu untuk bekerja keras, memikirkan banyak hal bahkan membuat kita lupa akan makan dan kurang tidur. Seringkali kita harus memakan makanan cepat saji unt