Bahagia itu sederhana. Cukup disampingmu, tidak harus memilikimu.
Gadis dengan rambut model curly yang saat ini di kuncir kuda berjalan dengan sangat semangat memasuki garbang sekolahnya. Sejak turun dari mobil yang tadi mengantarnya, gadis itu tak pernah melepas sedikitpun senyum manis nya.
"HEH! LUAR ANGKASA!"
Teriakan itu membuat langkah Nadara berhenti, dia menoleh ke belakang dan mendapati Aura tengah berlari ke arahnya.
Teman kelasnya memang sering memanggilnya dengan sebutan Luar Angkasa, itu disebabkan karena Pak Ilham--Guru Agamanya yang bercita-cita menjadi astronot itu suka memanggil Nadara dan Derren dengan sebutan 'Luar Angkasa', karena katanya nama mereka berdua adalah nama-nama planet dan berkaitan dengan luar angkasa.
Emang sih!
Jadilah semua penghuni kelas sering memanggil mereka berdua dengan sebutan 'Luar Angkasa'.
"Siapa ya?" Nadara memicingkan satu alisnya saat Aura sudah berjalan sejajar dengannya.
"Kenalin, Park min young." Aura menjulurkan tangannya.
Nadara melengos sambil mengibaskan tangannya, "Gak kenal dan gak penting!"
"Yeu, elo mah! Masih ngambek gara-gara kemaren gue sama Rei ninggalin elo?"
"Iyalah! Emang lebih penting oppa-oppa kalian itu dari pada gue--sahabat kalian sendiri?"
"Yaiyalah pentingan mereka. Mereka sedep di pandang, lah elo? Asem diliat."
"Syalan!"
Aura tertawa lepas melihat wajah masam sahabatnya.
"Selamat morning, NADARA OON!" Teriakan melengkin itu menyeruak di pendengaran Nadara, dibarengi dengan rasa sakit saat tiba-tiba rambutnya dijambak oleh Novan.
"Bego! Edan! Stupid! Bodoh!Dan sejenisnya! Lepas Oy!" Nadara mencubit tangan Novan sehingga cowok itu melepaskan jambakannya.
Derren yang sedari tadi berjalan dengan Novan hanya tersenyum melihat kedua makhluk yang tidak pernah bisa akur itu. Entah kenapa melihat Nadara kesal begitu rasanya terkesan lebih lucu dan menyenangkan.
Sekali lagi Novan menarik rambut Nadara dengan sangat keras, membuat gadis itu secara otomatis mundur beberapa langkah. Cowok dengan senyum jahil yang selalu tercetak di bibirnya itu langsung berlari menghindari amukan dari Nadara yang sudah menatapnya berang.
"Novan! Don't kabur! Maneh teh kudu tanggung answer!" (Jangan kabur! Kamu harus tanggung jawab!)
Teriakan Nadara membuat beberapa penghuni sekolah yang mendengarnya langsung cekikikan.
Tentu bukan suara cewek cempreng itu yang membuat mereka tertawa, tapi karena bahasa gado-gado yang di lontarkan oleh cewek itu.
Brakk!!
Novan yang berlari ingin memasuki kelasnya, tiba-tiba saja menubruk cewek yang saat itu ingin ke luar dari dalam kelasnya. Novan yang kaget langsung membantu cewek yang jatuh tertunduk itu untuk berdiri.
Saat sudah berdiri, kekagetan Novan semakin besar saat tahu jika cewek bersenyum manis itu yang di tabraknya.
Novan tertegun menatap Reisa, cewek itu tersenyum, membuat Novan semakin tidak berkutik.
Pandangan matamu menarik hati...
Dengan senyuman manis sekali...
Sayang tapi sayang Reisa gak peka...
HEEKKK... AAAAA...
Entah kerasukan jin apa, tiba-tiba
Nadara, Derren, dan Aura yang sudah berdiri di belakang Novan dengan kompak menyanyikan lagu itu layaknya backsound sebuah film drama.
"Eh... Maaf Rei Maaf, Ada yang sakit? Mana yang sakit? Bagian mana?" Cowok itu langsung gelagapan, apalagi saat dia mendengar jelas lirik terakhir dari lagu yang teman-teman laknatnya itu nyanyikan.
Reisa menggeleng sambil tersenyum, "Gak pa-pa, santai aja." Gadis itu melewati Novan dan langsung bercerita ria dengan kedua sahabatnya yang baru datang.
Saat itu Nadara langsung lupa jika tadi berniat menjitak kepala Novan, sedangkan cowok itu hanya tersenyum kecil menatap Reisa yang sudah tertawa dengan Aura dan Nadara.
Bukan rahasia lagi jika ketua kelas XI TI 2 itu menyukai Reisa--Cewek manis yang sudah di taksirnya semenjak baru saja menjadi teman sekelas saat kelas X. Ada rahasia tersendiri kenapa cowok itu tertarik pada Reisa. Tapi terlepas dari semua itu, ada satu hal yang membuatnya sulit mendekati Reisa.
Reisa nggak peka!
Gadis itu selalu menganggap gombalan receh Novan hanyalah sebuah gurauan, seperti halnya teman kelas lainnya yang suka bercanda.
••••
Saat ini Bu Asmi-Guru bahasa Indonesia menjelaskan tentang majas yang akan keluar pada soal ujian semester nanti. Penjelasan guru itu tak membuat Derren dan Nadara fokus sedikitpun, dua remaja itu malah asik bercerita, lebih tepatnya Derren yang bercerita dan menulis nama-nama mantannya yang hampir semuanya berinisial huruf D. Cowok itu juga bercerita tentang waktu jadian yang hanya sehari bahkan ada yang cuma tiga jam jadian.
Tawa tertahan dari Nadara membuat cowok itu semakin seru menceritakan kelucuan tentang asmaranya.
Saat ini Nadara memang sedang duduk bersama Derren. Kelas mereka menganut gaya duduk nomaden, semua penghuni kelas selalu berpindah-pindah tempat duduk sesuai kemauan mereka.
"Lo gila? Gimana ceritanya pacaran cuma 3 jam?" Bisik Nadara yang tak habis fikir jika Derren pernah menjadi Playboy sejati waktu masih SMP.
"Serius, Waktu itu gue pacaran sama Dita. Waktu dia mau masuk ke kelasnya, gue langsung tembak dia, eh sama dia langsung diterima. Terus pas jam istirahat dia ngomel-ngomel terus minta putus gara-gara dia tau kalau gue waktu itu juga pacaran sama Della, temen sebangkunya."
Nadara tidak bisa menahan tawanya lagi. Andai saja tidak ada guru dihadapannya, sudah pasti cewek itu tertawa sangat keras.
"Emang bener-bener Playboy mantap jiwa lo."
Setelah puas bercerita, bukannya mengerjakan tugas dari Bu Asmi, mereka berdua malah berlomba menulis dengan tangan kiri. Jika saja mereka kidal, pasti akan gampang. Tapi mereka sudah terbiasa menggunakan tangan kanan, jadilah tulisan mereka seperti cacing dehidrasi.
Derren menantang Nadara untuk menulis kalimat 'Aku sayang Rigel Derren Antariksa' dengan menggunakan tangan kiri, sedangkan dirinya menulis kalimat 'Aku sayang Nadara Ophelia'.
Entah apa motivasi dari tantangan yang di berikan oleh cowok itu.
Supaya Nadara peka!
Nadara mengiyakan saja tantangan itu, menganggap wajar-wajar saja dengan kalimat itu. Toh, mereka memang sudah sangat akrab. Entah Nadara yang menganggap biasa saja, atau dia sudah tertular oleh ketidak pekaannya Reisa.
"Ribet ih! Jari gue keseleo," gerutu Nadara saat tulisannya hanya selasai sampai kata 'Rigel' saja.
Sedangkan Derren sudah selesai dengan kalimat tantangannya, walaupun kata akhirnya aneh.
Nadara tersenyum melihat tulisan dari cowok itu, pipinya memerah saat membaca kata di bawah nama itu, serta emot tambahannya.
Cewek itu menggeleng cepet, dia tidak ingin baper hanya karena membaca tulisan dari Derren.
"Tahan Nada, tahan! Jangan baper! Jangan baper!" Batinnya.
Taman kota adalah salah satu tempat favorit untuk Nadara kunjungi di malam hari. Lampu taman yang berwarna-warni dan remang-remang, udara sejuk dan suasana yang cukup damai, serta penjual berbagai macam jajanan lokal diseluruh pinggiran taman membuat gadis itu rela pulang besok pagi.Gadis itu menggeleng, hal itu dia tepis jauh-jauh, bisa di tebas kepalanya oleh kedua orang tuanya jika benar akan pulang besok pagi.Lelah berkeliling taman, cewek itu duduk di salah satu ayunan sambil menikmati cilok bakar dan sosis goreng yang sempat dia beli terlebih dahulu tadi.Suasana taman kota cukup sepi, mengingat hari ini hari rabu bukan hari sabtu, jadi hanya ada beberapa orang saja yang pergi ke taman itu.Sesaat, Nadara merasakan jika ada yang mendorongkan ayunannya. Cewek itu menoleh dan terkejut melihat seorang cowok tampan berjaket navy tersenyum sangat manis sambil terus mendorongkan ayunannya."Lho, Derren? Ngapain tiba-tiba nongol?"Der
Nadara, Aura dan Reisa sedang berada di kantin. Ulangan harian dadakan Matematika membuat mereka bertiga seakan kehilangan jiwa manusianya. Nadara yang sudah memesan tiga mangkok bakso, Aura yang memesan satu mangkok soto dan satu mangkok bakso, sedangkan Reisa memesan satu nasi pecel dan dua mie pangsit. Entah jin angka dari mana yang sudah merasuki jiwa mereka."Ghue lwapher bwanghet," Celoteh Aura yang mulutnya masih dipenuhi satu pentol besar."Kunyah dulu tuh pentol, baru ngomong." Nadara mendorong pelan dahi Aura.Aura hanya cengengesan saat ditegur oleh sahabatnya."Eh, eh, itu pacar barunya Derren?" Heboh Reisa menunjuk kesisi pojok kantin.Mendengar nama teman kelasnya disebut, Nadara dan Aura secara otomatis langsung menoleh kearah yang ditunjuk Reisa.Nadara menyipitkan matanya melihat dua orang yang sedang makan bersama dengan sesekali tertawa, mojok lagi!
Dasar, lidah tak bertulang!Lain di mulut lain di hati!"Nada? Lo kenapa?"Pertanyaan yang sama lagi-lagi di lontarkan oleh Derren. Cowok itu tidak mengerti kenapa sejak kemarin Nadara bersikap seakan mengacuhkannya."Nada?" Panggil Derren lembut sembari mengelus rambut Nadara yang tengah menidurkan kepalanya di atas meja.Derren tahu jika Nadara tidak tidur, walaupun cewek itu masih terus berusaha memejamkan matanya dan tak berkutik sedikitpun.Entah kenapa mata Nadara terasa panas saat Derren mengelus rambutnya sangat lembut. Gadis itu menepis tangan Derren yang terus saja mengelus puncak kepalanya dengan sayang."Jangan sentuh rambut gue!""Kenapa?""Itu buat gue sakit,"Derren m
Jangan jadi manusia kalau gak peka!"Derren! Kenapa lo lempar tas gue, hah?!" Teriak Aura kesal saat tas-nya di lempar sembarangan oleh Derren."Disamping Nadara itu udah gue cap jadi tempat duduk gue. Lo minggat aja sana," Usir Derren dan langsung menaruh tasnya di atas meja lalu duduk di samping Nadara."Ih, gak mau! Hari ini gue duduk disini!" Aura menarik paksa tangan Derren agar berdiri dan pindah tempat. "Minggir!""Ogah!""Minggir, Derren!"Derren menggeleng dan terus menahan dirinya agar tidak dapat ditarik oleh Aura.Nadara hanya menggeleng melihat kelakuan kedua temannya itu. Bukan hal yang jarang lagi jika mereka sering berebut tempat duduk. Nadara juga tidak mengerti kenapa kedua makhluk itu selalu ngotot duduk sebangku dengannya."Nada, ih! Atulah, bantuin." Aura memp
"DERREN!!"Suara lantang itu memberhentikan langkah cowok berseragam coklat kotak-kotak dengan paduan celana berwarna krem tepat saat langkah kakinya baru saja memasuki gerbang sekolah.RigelDerren Antariksa atau sering disebut Derren itu tersenyum saat mendapati gadis berambut panjang itu menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan."Ihh ! Dari tadi gue panggilin," Gerutu Nadara yang masih tengah sibuk mengatur nafasnya.Derren menarik kedua sudut bibirnya lalu mengelap dahi gadis itu sambil meniupnya beberapa kali."Sampe keringetan gini," Ucap Derren sambil mengacak-acak rambut Nadara."Ya elo, pake segala ngidupin mode budeg!"Derren terkekeh lalu menarik pergelangan tangan Nadara, "Ayok masuk kelas.""Lo gak bawa motor?" Tanya Nadara yang merasa heran karena melihat temannya itu berjalan kaki saat memasuki gerbang ta
Friendzone? Asem manis kecut gitulah.Derren tengah memantulkan bola orange-nya dengan lincah, cowok itu sedang melakukan tanding persahabatan dengan sekolah tetangga. Sorak-sorai yang menyebut namanya menggelegar di lapangan basket itu, tak jarang juga cewek-cewek dari sekolah lawan malah menyoraki nama Derren dan Novan."I LOVE YOU DERREN. YEEE..." Suara lantang itu terdengar dari sisi tengah para penonton. Beberapa siswi mengucapkan kalimat itu dengan sangat kompak.Teriakan para cewek-cewek semakin menggelegar saat Derren berhasil melakukan three point dengan sangat sempurna.Senyum cowok itu mengambang saat kedua bola matanya menoleh pada Nadara yang mengangkat kedua jempolnya. Hal itu membuat pekikan dari beberapa cewek terdengar lebih nyari