Pukul empat pagi, Ruby sudah beranjak dari ranjang dan membersihkan diri ke kamar mandi. Hari pertama yang dia jalani tanpa orang tua dengan tempat yang baru akan segera dimulai. Ruby menuruni tangga menuju lantai pertama untuk menyapu seluruh rumah sebelum mengepelnya.
Rumah Andra memiliki dua lantai, lantai pertama terdapat kamar tidur Hani, dapur, toilet serta ruang tamu. Sementara lantai dua hanya terdapat dua kamar tidur yang ditempati Andra dan satunya mejadi kamar Ruby yang akan menjadi tempat istirahat dan pulangnya. Ketika waktu menujukan pukul enam tepat, Ruby selesai mengepel seluruh lantai rumah. Dia hanya perlu waktu sepuluh menit untuk istirahat duduk, minum air dan melamun sebelum kembali berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. "Nak, biar Nenek aja yang masak. Setelah ini kamu kerja, kan?" Ruby menoleh ketika Hani datang dengan tergopoh-gopoh. Ruby menyimpan mangkuk di meja makan sebelum merangkul lengan Hani untuk duduk. "Gapapa, Nek. Lagipula sarapannya sudah selesai." Ujar Ruby tersenyum kecil. "Kamu bangun jam berapa, Nak? Kenapa rumahnya sudah bersih?" Tanya Hani. "Aku bersihkan sebelum masak. Gapapa, Nek. Aku udah terbiasa. Aku panggil Pak Andra dulu, ya? Agar kalian bisa sarapan juga." "Kamu gak sarapan?" Ruby menggeleng, "Aku harus berangkat pagi, Nek. Kalau nggak nanti macet." "Hati-hati saat pergi maupun bekerja, Nak. Nenek selalu mendoakan kesehatanmu!" Ujar Hani membuat Ruby tersenyum haru sebelum mengangguk dan beranjak ke lantai atas. Tangan Ruby terulur untuk mengetuk pintu kamar Andra sebelum badannya berjengit kaget karena pintu terbuka dan muncul Andra dengan kemeja biru polos dibalut jas biru dongker dengan celana bahan hitam. Rambutnya ditata rapi dan harum jeruk lemon menguar menusuk indra penciuman Ruby ketika Andra melangkah mendekat. Andra sudah siap untuk bekerja. "Bapak mau berangkat kerja? Sarapan dulu, Pak. Nenek udah nungguin di bawah." "Kamu tidak sarapan?" Ruby menggeleng sambil beranjak pergi dengan terburu-buru, "Saya sudah makan sedikit, dan bawa bekal." "Mau saya antar sekalian?" "Gak usah, terimakasih Pak. Lagipula kita beda arah!" Andra menggeleng pelan menatap Ruby yang menghilang di balik pintu sebelum turun ke bawah. Setelah bersiap selama sepuluh menit, Ruby segera berangkat setelah berpamitan. Dia berlari keluar dari halaman dan untungnya ojek onlinenya sudah menunggu di depan. Jantung Ruby berdegup kencang, hari ini merupakan hari pertamanya bekerja di Pabrik. Dia melamar sebagai posisi QC. Ruby memilih bekerja di pabrik karena gajinya UMR dan lumayan lebih besar daripada kerja serabutan. Gajinya sepadan dengan lelahnya menjadi buruh pabrik yang berangkat pagi pulang petang. Setelah pulang, Ruby masih tetap harus membantu Hani memasak makan malam meskipun badannya tidak ada tenaga sama sekali membuat Hani merasa prihatin karena Ruby terlalu memaksakan diri. Dia menolak ketika disuruh istirahat karena merasa segan dan harus berpartisipasi karena dirinya menumpang. Sampai akhirnya dibantu Andra yang agak memaksa, akhirnya sepakat bahwa Ruby memasak sarapan sementara Hani yang memasak makan malam, atau terkadang Andra yang mengerjakan di saat senggang. Hari libur yang seharusnya dipakai untuk beristirahat adalah menjadi hari untuk Ruby mencuci pakaian dan membuat konten make-up sebelum istirahat sepenuhnya. Dan keseharian itu terus berjalan sampai satu tahun. Bekerja di pabrik membuat tubuh Ruby menjadi kurus kering, wajahnya pun tidak terawat dan kusam. Ruby mengetuk pintu Andra tiga kali sebelum beranjak masuk. Andra menaikan kacamatanya yang melorot, menatap Ruby sekilas sebelum kembali menunduk pada laptopnya. "Ada apa?" "Ini ... meskipun tidak banyak dan belum cukup mengganti biaya yang Bapak keluarkan untuk kebutuhan sehari-hari saya, tapi saya akan terus menyicilnya setiap bulan." Ujar Ruby menyerahkan amplop membuat Andra mengangkat alisnya. Andra mengintip isi amplop tersebut sebelum menghembuskan napas kasar, melepas kacamatanya dan merebahkan punggung pada kursi kerjanya. "Sebenarnya saya tidak berbuat banyak untuk biaya sehari-hari kamu, Ruby. Kamu bekerja keras dan membiayai hidup kamu sendiri." Ruby menggeleng kuat. "Tentu saja Bapak berbuat banyak. Kalau bukan karena diijinkan tinggal di rumah ini, mungkin uang saya habis buat bayar kosan dan tidak akan punya tabungan." "Kalau begitu bukankah lebih baik uang ini masuk tabungan kamu saja? Kamu ingin kuliah kan? Dan biayanya terbilang besar. Saya membantu kamu bukan tanpa mengharapkan balas budi." Ujar Andra menyimpan amplop di ujung meja. "Saya cuman tahu diri, Pak. Saya kan numpang, setidaknya saya harus memberi uang saya kepada Bapak, kan? Apalagi saya sudah bekerja selama satu tahun." Jawab Ruby. "Lagipula meskipun kamu menumpang, tapi kamu berkontribusi melakukan pekerjaan rumah tangga di sini." "Bapak terima aja, ya? Saya mohon! Ini sebagai bentuk rasa terimakasih dan segannya saya." Pinta Ruby membuat Andra bergeming sebelum menghembuskan napas kasar, menarik kembali amplop tersebut. Ruby tersenyum ceria, satu beban yang mengganggunya hilang. "Meskipun sedikit, saya akan memberi setiap bulan, Pak." Ujar Ruby mengepalkan tangannya yang kurus dengan semangat. "Hm. Gimana kerjaan kamu?" Tanya Andra sebelum menyesap kopinya. "Saya resign." Andra mengernyitkan kening. "Saya memutuskan untuk fokus jadi konten kreator di Tiktok, Pak. Bekerja di pabrik sambil ngonten itu mustahil. Saya gak bisa multitasking dan lagi, kerja di pabrik itu beneran nguras tenaga dan pikiran. Maka dari itu saya berhenti. Jadi konten kreator pun harus ada modalnya, Pak. Apalagi saya konten saya tentang make-up, dan sekarang modalnya sudah ada, saya tinggal menjalani saja." Ujar Ruby menjelaskan rencananya. Andra bergeming sebelum mengangguk pelan, "Kalau itu keputusan kamu, saya hanya bisa memberikan dukungan." "Terimakasih, Pak. Maaf menggangu waktunya, saya pamit dulu." Itu adalah perbincangan pertama mereka setelah satu tahun. Percaya atau tidak, keduanya hampir tidak pernah bertukar obrolan panjang lebar, hanya sekedar bertegur sapa ketika bertemu saat sarapan dan makan malam. Keduanya tidak ada di rumah saat hari biasa, dan hari libur pun, keduanya memilih mengunci diri di kamar. Separah itu hubungan keduanya, namun Ruby dengan Hani tidak begitu. Keduanya akrab dan lengket, bahkan Ruby sudah menganggap Hani sebagai neneknya sendiri. ** Andra membuka kulkas sebelum mengambil jus mangga dan menenggaknya di tempat. Dia menoleh tatkala mendapati siluet Ruby yang akan masuk ke dapur. "Pak Andra." Sapa Ruby membuat Andra mengangguk pelan. Netra Andra tidak lepas dari Ruby yang sedang menuangkan air mineral. Andra mengerjap, baru tersadar bahwa Ruby banyak berubah setelah dua tahun ini. Badannya lebih berisi, dan kulitnya menjadi putih bening. Belum lagi, entah kenapa Andra baru menyadari bahwa Ruby berubah menjadi cantik. Apa dia memang secantik ini? Kenapa Andra baru menyadarinya sekarang. Ruby berbeda 180 derajat dengan dia dua tahun lalu. Setelah sukses menjadi tiktokers yang berbau make-up, Ruby menjadi lebih teratur dalam merawat diri dan wajah. Netra Andra beralih pada kaos ketat berwarna abu yang mencetak bentuk tubuhnya dengan hot pants yang memperlihatkan pahanya yang mulus. Belum lagi Ruby menggerai surainya, menyelipkan anak rambutnya sebelum meneguk gelas minuman. Andra sampai tidak berkedip ketika bibir merah itu menempel di bibir gelas meninggalkan bekas lipstik sebelum dia menggelengkan kepala dan meneguk minuman jusnya sampai tandas. Andra mengipasi dirinya sendiri dengan kerah kaosnya, jadi gerah sendiri. Ruby itu cuman anak kecil dan besok resmi akan menjadi mahasiswanya. Dan lagi, kenapa dia bisa sampai teralihkan oleh Ruby? "Seharusnya kamu berhenti pakai baju ketat seperti itu. Itu tidak cocok dengan usia kamu." Sontak Ruby menatap tidak percaya. "Lah? Aku udah dua puluh satu tahun, loh! Udah gede, lah!" "Iya kah? Tapi tetap masih kanak-kanak menurut saya!" "Itu karena Bapak udah tua!" Celetuk Ruby sebelum menepuk bibirnya sendiri. "Sebaiknya kamu bicara dengan sopan, Ruby." Peringat Andra membuat Ruby melengos pelan. Mulai sebal karena Andra cerewet lagi. "Emang kenapa kalau saya pake pakaian ketat? Bapak tergoda?" Tanya Ruby asal. "Saya tidak akan tergoda dengan anak-anak!" "Sayangnya anak-anak ini udah beranjak dewasa!" "Dewasa itu bukan umur dan badannya saja yang tumbuh, tapi juga sikap." Ujar Andra meninggalkan Ruby yang memasang senyum masam. "Bapak kenapa cerewet banget, sih?" Tanya Ruby heran. "Beneran tergoda sama saya?" Tanya Ruby dengan raut tidak percaya. "Kalau iya?" Tantang Andra. Ruby tersentak kecil, tidak percaya akan jawaban yang dilontarkan Andra atas pertanyaan konyolnya. "Kalau iya, sayang sekali karena saya gak tertarik sama Pak Andra sama sekali." Jawab Ruby tersenyum manis. Yakali dia jalan sama om-om! Bukan tipenya! Andra melengos tidak percaya, meskipun jomblo tapi dia adalah lelaki yang disukai dan digemari banyak wanita karena parasnya yang tampan rupawan. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang memuji parasnya secara langsung. Terbiasa dikejar wanita membuat Andra syok dengan hati mencelos ketika ditolak terang-terangan. Ruby tersentak dan termundur kecil ketika Andra berjalan mendekat sampai napas Andra yang berbau mint terasa di wajah Ruby. Netra Ruby membelalak ketika Andra mengikis jarak dan membelokan wajah ke samping, berbisik di telinganya. "Sebaiknya hati-hati kalau bicara, karena sekalinya jatuh ke pelukan saya, kamu gak akan lepas."Ruby duduk di kursi dengan nampan di tangannya sebelum netranya menatap gadis berambut pendek dengan gaya tomboy duduk di depannya sambil melahap makanannya.Ruby meraih gelang yang ada di lengannya sebelum menggigit dan tangannya meraup rambut menjadi satu, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang mulus kemudian mengikatnya.Gerakan Ruby barusan sukses menarik perhatian para pengunjung Cafe lain yang berjenis kelamin laki-laki. Wajar saja, mengingat kecantikannya yang mencolok mata."Gini ya temenan sama seleb Tiktok. Jadi pusat perhatian mulu." Sindir Karin. "Eh, setelah ini elo mau ikut main gak?""Gas." Jawab Ruby langsung."Gila, bahkan elo gak nanya main kemana. Tapi enaknya temenan sama elo itu, gak pernah nolak kalau di ajak main." Ujar Karin membuat Ruby tertawa kecil."Jelaslah! Gue kan mau menikmati masa muda yang kerjaannya kuliah, main, belajar, pacaran dan gak perlu mikirin pusingnya nyari uang dan capeknya kerja." Jawab Ruby membuat Karin mengangguk makl
Andra sontak menutup pintu kamar Ruby dengan keras sebelum menyandarkan punggungnya dengan napas memburu. Andra mengusap keningnya, tiba-tiba badannya terasa panas ketika bayangan punggung polos Ruby kembali hinggap di kepalanya membuat Andra memukul kepalanya sendiri ketika otaknya sudah tidak bisa dia kontrol."Ruby! Cepet turun sarapan!" Teriak Andra sebelum berlari turun.Tangannya terulur mengisi gelas dengan air putih sampai penuh dan sedikit tumpah sebelum menghabiskannya dalam satu kali tegukan ketika tenggorokannya tiba-tiba kering.Andra menghidupkan AC, menambah suhu mendapati badannya tiba-tiba panas. Andra menarik napas dalam, mencoba untuk tenang tapi reaksi tubuhnya tidak dapat dia kontrol.Hani yang duduk di depan Andra jadi mengerjap, mendapati anak bungsunya yang biasa tenang kini bergerak-gerak gelisah.Andra berdecak sebelum kembali mengambil air mineral dan menenggaknya sebelum dia menyemburkan airnya ketika mendapati Ruby turun dari tangga dengan rambut acak-acak
"Kamu tahu apa salahmu?"Ruby menundukkan kepala, meremas ujung sofa yang dia duduki sambil mengangguk, mengakui bahwa dia salah."Lain kali jangan bawa pacar kamu ke sini!" Andra memperingatkan membuat Ruby mendongkak menatapnya yang berdiri menjulang di depannya."Kalau gitu saya mau keluar dari rumah ini untuk ngekos."Andra sontak mengangkat alis sambil menatapnya tidak percaya."Kamu meminta saya mengijinkan kamu tinggal sendiri setelah saya melihat kamu dan pacar kamu hampir ciuman?!""Bukannya kalau pacaran, ciuman itu hal biasa, Pak?" Tanya Ruby melengos kasar."Saya mengerti, untuk hubungan asmara anak muda yang membara itu adalah hal yang sama dengan pegangan tangan. Tapi bagaimana jika kalian kebablasan saat sedang berdua di kosan? Tidak ada yang tahu! Nafsu bisa datang saat berduaan, maka dari itu yang ketiganya setan!" Ujar Andra membuat Ruby menunduk."Maafkan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya." Ujar Ruby ketika menyadari bahwa memang dialah yang salah membawa ora
Andra membanting pintu kamarnya sebelum mengacak belakang rambutnya sendiri dengan gusar. Andra berjalan mondar-mandir sebelum berdecak dan duduk di kursi kerjanya sambil kembali mengacak rambutnya kesal.Netra Andra melirik pada ponsel yang berada di atas meja, menimang-nimang sebelum meraih dan menekan nomor Brian. "Wah, ada apa Pak Dosen nelpon malem-malem?" Tanya Brian di seberang telpon."Bri, gue ... ehm kenapa ya, gue?" Tanya Andra sambil mengernyit dan mengacak rambutnya sendiri."Lah? Mana gue tahulah, nyet! Lo kenapa? Kok kayak lagi gelisah gitu? Gak biasanya, padahal elo itu tipe yang paling tenang diantara kita." Ujar Brian."Gue juga gak tahu kenapa gue kayak gini.""Ck, ceritain pelan-pelan."Brian tertawa setelah mendengar Andra bercerita bahwa dia marah karena Ruby akan berciuman dengan pacarnya."Fiks, sih! Elo suka sama anak yang namanya Ruby! Eh, sorry! Bukan anak-anak ya? Udah dewasa!" Ujar Brian sambil tertawa geli."Suka sama Ruby? Gak mungkin. Apa mungkin gue u
"Ha? Dihukum? Pak Andra ngomomg apa, sih?" Tanya Ruby meneguk ludah gugup tatkala Andra mengikis jarak, tangan Ruby terjulur mendorong dada Andra namun gagal tatkala Andra menyingkirkan tangannya sebelum mendorong bahu Ruby.Memojokannya membuat punggung Ruby menyentuh pintu kulkas, Ruby tidak bisa kabur tatkala Andra mengurung tubuhnya dengan kedua tangan membuat Ruby meneguk ludah, melirik takut-takut pada Andra yang menatapnya tajam dengan raut wajah mengeras."Dari kapan mau merokok?" tanya Andra membuat Ruby meneguk ludah."U-udah lama, Pak. Tapi saya gak sering kok." Ujar Ruby meringis pelan sebelum tersentak tatkala Andra merampas rokok di tangannya sebelum melemparkannya pada tempat sampah."Saya memang bukan siapapun, saya tidak punya hak melarang kamu merokok, tapi mohon mengikuti peraturan di rumah ini, jangan merokok di sekitaran apalagi di dalam rumah karena orang tua saya masih tinggal di sini, Ruby. Asap rokok bisa sangat berbahaya jika dihirup dan mengepul dalam rumah.
"Ruby, kamu gak sarapan?" Langkah Ruby terhenti, dia meneguk ludah, perilaku Andra padanya tadi malam masih membekas di setiap ingatan atau kulit dan bibir yang Andra sentuh. Kepala Ruby menggeleng kuat, mengenyahkan pikiran gilanya. "Aku mau sarapan di kampus aja, bareng pacar aku." Jawab Ruby, menekankan kalimat terakhir sebelum tersenyum sopan dan menunduk untuk pamit. Andra yang tengah duduk di meja makan jadi menatap punggung Ruby yang menghilang dari balik pintu sebelum menghembuskan napas kasar. Sepertinya akan sulit sekali mendapat hati gadis itu meskipun Andra sudah terang-terangan, apalagi masih ada nama lelaki lain dalam hatinya. * "Lo ngapain bengong di sini?" Ruby tersentak tatkala Karin sudah ada di sampingnya. "Gue lagi nungguin Dika." jawab Ruby meringis pelan, berdiri di samping pintu kelas yang tertutup sebelum pintunya terbuka, para mahasiswa dan mahasiswi mulai keluar. Sementara kelas Ruby sudah selesai lebih awal, dia berniat pulang bersama Dika."Kal
"Permisi, Pak Andra."Ruby sontak mendorong Andra menjauh sampai tubuh lelaki itu terjungkal ke tepi sofa, Ruby refleks berdehem canggung, berpura-pura sibuk pada kertas lagi sebelum mendongkak menemukan Sinta yang membuka pintunya barusan.Ternyata Dosennya yang lain."Ada apa, Bu?" tanya Andra setelah berdehem pelan."Bapak sibuk? Saya mau mendiskusikan hal yang kemarin saya bilang. Bapak ada waktu?" tanya Sinta, melirik Ruby sebelum membalas senyum mahasiswinya.Andra sontak mengangguk sebelum mempersilahkan Sinta duduk. Senyum segaris sontak tersungging dari bibir Ruby, harus bagaimana dia sekarang? Entah kenapa ini canggung sekali, mana pekerjaan yang dimintai tolong oleh Andra belum selesai. Ini terasa canggung karena Ruby sesekali melirik pada Sinta yang seperti tidak nyaman dengan kehadiran Ruby di ruangan ini.Ruby mengerti sekali tatapan Sinta pada Andra. Sudah jelas dosen perempuannya itu menyukai om-om modus di sebelahnya ini. Tatapan netranya persis seperti saat Ruby mena
"Padahal saya bisa pulang sendiri." Tukas Ruby setelah masuk ke dalam mobil Andra, duduk di sebelahnya yang mengemudi."Padahal kalau ada kejadian seperti tadi, kamu bisa memberitahu saya." Tukas Andra."Kenapa saya harus? Itu kan urusan saya bukan urusan Pak Andra." Tukas Ruby heran membuat Andra menghela napas.Ruby tersentak saat Andra mencondongkan tubuh ke arahnya sampai ujung hidung keduanya hampir bersentuhan membuat Ruby menahan napas."A-apa? Kenapa?" Tanya Ruby terbata sebelum mengerjap tatkala Andra hanya memasangkan sabuk pengamannya sebelum kembali mundur ke jok mobilnya sendiri.Ruby menakan dadanya sendiri dengan ujung jari sebelum menghembuskan napas panjang. Seharusnya dia tidak boleh berdebar pada lelaki lain apalagi Andra. Ruby sudah punya kekasih, jika begini, dia akan menyakiti kekasihnya Dika."Lain kali jangan begitu, bilang aja. Saya punya tangan sendiri." Tegur Ruby, menatap keluar jendela.Andra meliriknya, dia sadar bahwa Ruby kesal dengan tindakannya, tapi
Netra Andra melebar dengan jantung mencelos tatkala mendapati untuk pertama kalinya Ruby menginginkan untuk menyentuh bahkan memeluk Andra dengan kesadarannya sendiri. Kening Andra mengernyit, hatinya ikut sakit saat mendapati pundak Ruby bergetar dengan tangisnya yang menyayat pilu. Andra segera membawanya ke pelukan lebih erat, mengusap punggungnya mencoba menenangkan sebelum menggendong Ruby tanpa mengubah posisinya dengan muda dan membawanya masuk ke mobil.Andra menempatkan Ruby di kursi samping kemudi sebelum dia beralih ke kursinya sendiri. Andra mengambil selimut, memakaikannya pada tubuh Ruby yang menggigil kedinginan baru Andra mendekat untuk membantu memasangkan sealt belt. Tangis Ruby tidak reda, namun bibirnya tetap bergetar dan terisak.Andra mengambil beberapa lembar tisu, melap wajahnya yang basah juga sisi wajahnya yang kotor karena tanah kuburan yang menempel di sana. Setelahnya Andra baru memberikan mug hangat berisi air hangat, memaksa kedua tel
Tangan Ruby bergetar, napasnya memberat dengan netra memburam karena air mata melesak berlomba agar keluar dan turun membasahi mata. Napasnya mulai memburu namun dengan cepat dia memfoto semua riwayat chat Dika dan wanita itu yang diberi nama 'Penjual Galon' oleh Dika. Setelah mendapatkan semua bukti, Ruby melempar ponsel Dika ke kursi, dia menyambar tasnya dan segera berlari keluar dari sana dengan kaki pincang dan menjeritkan tangis pilu. Ruby masih terus berlari menjauhi rumah Dika, dia membelah jalanan komplek sebelum berbelok ke gang sempit antar celah rumah setelah mendengar suara Dika meneriakan namanya keluar rumah. Ruby memaksa kakinya yang pincang untuk berlari keluar dari gang sempit, dia menginjak jalanan besar perumahan kembali sebelum berlari untuk keluar dari sana. Tangisnya tidak berhenti, malah semakin keras dan keras. Dia mematikan ponselnya agar Dika tidak bisa melacak keberadaannya lewat aplikasi track girlfriend. Air
"Kemana pacar kamu? Udah pulang?" Tanya Andra setelah menginjak anak tangga terakhir. Wajahnya sudah lebih segar setelah mandi, mengenakan kaos rumahan dan celana joger panjang.Ruby yang tengah duduk di sofa jadi menoleh. "Dika di toilet. Kita mau jalan sekarang."Andra bisa melihat Ruby tampil lebih segar dengan dress polkadot merah semata kaki dibalut kardigan berwarna tulang. Rambut panjang diikat kuda.'Cantik seperti biasa.' Puji Andra dalam benaknya."Jalan kemana? Mau kukuh padahal kaki kamu lagi sakit?" Tanya Andra tidak habis pikir."Mau kemana pun bukan urusan Bapak, kan? Lagipula saya cuman main ke rumah Dika. Itupun gak akan banyak gerak, karena dia bisa gendong saya kapanpu. Kita cuman mau nonton." Jawab Ruby agak kesal karena tidak mau dikekang oleh seseorang yang bahkan bukan siapa-siapanya.Andra jadi mengernyit, nonton film? Di rumah cowok? Berduaan?Andra jadi teringat pernah menggep Ruby dan Dika yang
"Kenapa? Lo ketemu pacarnya Ruby?" Tanya Brian, nadanya lebih tenang sambil menahan tawa geli. Ini pertama kalinya, sahabatnya Andra uring-uringan karena seorang wanita.Mungkin ini akan menjadi hal penting dalam pertumbuhan perasaannya, sepertinya Brian akan merecord percakapan ini dan menyebarkan ceritanya di grup chatting circle mereka. Hitung-hitung hiburan di tengah hiruk pikuknya dunia kerja. Dan Andra yang menjadi topik hiburannya.Andra menghela napas kotor, menyugar rambutnya frutasi sebelum menahan tubuhnya pada tembok. "Dia datang ke rumah, jemput Ruby buat date. Kaki Ruby lagi cedera, gue pikir itu bisa jadi alesan buat mereka gagal date. Sialannya, mereka malah mesra-mesraan depan gue, mana nyokap welcome dan nawarin sarapan bareng lagi."Brian sontak terbahak lebar, bisa dipastikan dia tengah menahan perutnya yang geli sambil memukuli pahanya sendiri berkali-kali sekarang."Udah ketawanya?" Tanya Andra jengah."Ha ha ha. Hab
Andra menghela napas panjang, membiarkan suara bel berdenting memenuhi pendengarannya dengan emosi naik turun dan napas memburu. Melihat Andra tidak ingin beranjak membuat Hani mengambil alih untuk membukakan pintu. "Maaf ngerepotin, Nek." Ujar Ruby meringis bersalah karena kakinya. Hani hanya menggeleng pelan sebelum berlalu, meninggalkan Ruby dan Andra yang berada dalam keheningan. Tidak ada yang menyentuh alat makan mereka. Ruby merasakan aura dingin kuat yang menguar dari Andra tapi dia bungkam. "Apa gak sebaiknya janji kalian dibatalkan?" Tanya Andra setelah bergeming lama, menyahut datar dan penuh penekanan. Ruby sontak menoleh protes, "gak bisa dong, Pak! Kita udah gak ketemu seminggu ini dan cuman ngabarin lewat chat. Ini udah hari yang aku tungguin dari kemarin." Hati Andra serasa diremas mendengar jawabannya, panas, emosi dan cemburu bercampur aduk menjadi satu. Namun Andra menahannya meskipun raut
Begitu melihat Hani, sakit di pergelangan kaki Ruby sontak menghilang. Dia mendorong Andra sampai terjungkal ke belakang sebelum berdehem canggung."Tadi biaya diurutnya berapa, Nek? Aku ganti." Ujar Ruby, mengalihkan topik."Gak usah. Saya yang tanggung. Lagian jumlahnya gak banyak, kamu gak perlu ngerasa gak enak." Tolak Andra, beranjak berdiri sebelum meneguk segelas air dari atas meja.Hani mengangguk, mengambil alih duduk di sebelah Ruby sebelum mengusap bahunya penuh sayang. "Kamu jangan pikirin biayanya, ya? Lagipula, masalah kamu bayar karena tinggal di sini juga, Nenek masih kurang setuju sampai sekarang."Ruby terkekeh pelan, meraih jemari Hani yang sudah layu dengan permukaan tangan kasar namun hangat. "Ini kan kemauan aku sendiri, gapapa. Efek positivenya aku bisa mandiri. Meskipun kedepannya mungkin, aku bakal pikirin buat keluar dari sini dan ngekos."Sontak Andra maupun Hani terkejut samar."Kamu mau keluar dari rumah ini?" Tanya Hani."Kenapa mendadak?" Tanya Andra.Ru
Andra menaikan alisnya saat mendapati seorang pria kepala tiga, mungkin sebaya dengannya tengah melambai tinggi ke arah Ruby dengan senyumnya yang lebar. Andra tidak pernah melihatnya sebelumnya."Dia siapa?" Tanya Andra menoleh pada Ruby."Ah, itu ... Bapak inget waktu aku kecopetan? Beliau yang bantuin ngurus semuanya di kantor polisi. Dia aparat polisi, pak." Jawab Ruby agak berbisik, Andra sampai teralihkan karena panasnya napas Ruby yang menyentuh ujung telinganya, membuatnya tergelitik dalam perasaan senang."Hai.""Halo, pak Juan." Sapa Ruby melempar senyum sopan dan mengangguk.Juan jadi ikut tersenyum, agak terpana melihat Ruby yang berkeringat dengan seragam jogging, membuatnya nampak sangat segar dan muda. Andra yang menyadari tatapan terpana itu jadi menggeser tubuh membuat kini tubuh Andra yang menghadap Juan dengan Ruby di belakangnya."Ah, ini?" Tanya Juan melirik pada Ruby di belakang Andra."Saya—,""Ini saudara saya." Jawab Ruby cepat membuat Andra melotot samar, tid
Andra menipiskan bibir saat Ruby menampilkan raut wajah enggan dan canggung yang kentara, entah kenapa membuat hatinya teremas sakit. Sebegitu tidak maunya kah Ruby bersentuhan dengan dirinya? Padahal Andra tidak punya penyakit menular yang menyebabkan kematian.Jika tahu Ruby akan canggung dan menghindarinya seperti ini, Andra agak menyesal telah mengungkapkan perasaannya. Seharusnya Andra menahan diri, namun ternyata perasaannya bisa meledak begitu saja hanya dengan melihat wajah Ruby."Pak?" Panggil Ruby sebelum mengerjap tatkala menemukan raut wajah Andra yang menurun dengan gurat murung."Ruby, kamu tunggu di sini, ya? Saya bakalan pulang buat ambil kendaraan. Gak akan sampai lima menit, habis itu kita langsung ke klinik." Ujar Andra setelah termenung lama. Andra tidak bisa memaksa jika Ruby tidak ingin dia gendong. Lagipula wajar, dia wanita yang sudah dewasa dan Andra juga pria dewasa."Pak! Tunggu! Nanti Bapak bakal bolak-balik kalau gitu!" Tukas Ruby membuat langkah Andra yan
"Tumben udah bangun. Mau kemana kamu?" Tanya Hani, menyimpan segelas air putih di meja makan sebelum meniti penampilan Andra dari atas ke bawah. Biasanya saat wekeend seperti ini, Andra akan bangun lebih siang karena ini merupakan kesempatan liburnya dari rutinitas harian dan menumpuknya pekerjaan.Tapi kali ini, putranya sudah siap dengan kaos hitam dengan bahan menyerap keringat dan celana joger abu-abu."Olahraga. Udah lama badan gak gerak." Jawab Andra, mendekat pada Hani sambil melakukan peregangan."Gimana keadaan Bang Putra ? Udah sehat? Aku gak enak karena gak jenguk." Ujar Andra mengingat Hani menginap di rumahnya beberapa hari ini.Hani menggeleng sekilas, "Putra sendiri yang larang kamu datang. Dia gak mau repotin kamu apalagi tahu kalau kamu selalu sibuk sama kerjaan. Ini juga bukan operasi gede. Usus Putra udah baik-baik saja. Untung istrinya Putra baik, perhatian dan bisa ngurus suaminya dengan baik." Ujar Hani membuat Andra mengangguk, turut merasa lega."Kamu kapan pun