Share

4. Tidur Itu Pakai Baju!

Author: VAD_27
last update Last Updated: 2025-01-18 23:10:36

Ruby duduk di kursi dengan nampan di tangannya sebelum netranya menatap gadis berambut pendek dengan gaya tomboy duduk di depannya sambil melahap makanannya.

Ruby meraih gelang yang ada di lengannya sebelum menggigit dan tangannya meraup rambut menjadi satu, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang mulus kemudian mengikatnya.

Gerakan Ruby barusan sukses menarik perhatian para pengunjung Cafe lain yang berjenis kelamin laki-laki. Wajar saja, mengingat kecantikannya yang mencolok mata.

"Gini ya temenan sama seleb Tiktok. Jadi pusat perhatian mulu." Sindir Karin. "Eh, setelah ini elo mau ikut main gak?"

"Gas." Jawab Ruby langsung.

"Gila, bahkan elo gak nanya main kemana. Tapi enaknya temenan sama elo itu, gak pernah nolak kalau di ajak main." Ujar Karin membuat Ruby tertawa kecil.

"Jelaslah! Gue kan mau menikmati masa muda yang kerjaannya kuliah, main, belajar, pacaran dan gak perlu mikirin pusingnya nyari uang dan capeknya kerja." Jawab Ruby membuat Karin mengangguk maklum mengingat cerita perjuangan Ruby yang mati-matian untuk membiayai kuliah dan hidupnya sendiri.

Jujur Karin kagum terhadap perjuangan Ruby dan sedikit menyesal mengingat hidupnya sendiri yang amburadul. Bahkan dia menolak untuk berkuliah dan memilih diam di rumah menjadi anak nakal yang hobinya pulang malam selama tiga tahun sampai akhirnya memutuskan untuk berkuliah atas desakan kakaknya.

Maka dari itu dia cocok berteman dengan Ruby karena keduanya seumuran di perkuliahan semester pertama yang notabennya banyak anak muda yang masih belasan tahun baru lulus SMA, meskipun yang umurnya lebih tua darinya atau seumuran juga tidak sedikit.

"Dan lagi, gue bukan tipe anak rumahan." Karin mengangguk setuju mendegar itu.

"Style pakaian elo aja, gak menunjukan kalau elo anak gadis pendiem yang anggun dan lembut." Ujar Karin menatap Ruby yang memakai atasan baju lengan polos dengan celana pendek di atas paha.

"Lihat pakaian elo sendiri, Rin. Udah kayak jalan sama cowok gue." Ujar Ruby mendapati Karin yang memang berpakaian seperti laki-laki, kaos oblong dengan kalung perak dan celana jeans yang berlubang di lututnya.

"Eh, tapi apa Pak Dosen kita gak tergoda lihat pakaian sehari-hari elo di rumah yang menurut gue gak jauh beda dari sekarang?" Tanya Karin yang sudah mengetahui cerita lengkap kisah hidup Ruby yang sekarang tinggal bersama Andra dan Ibunya.

"Gak lah. Dia itu gila kerja, dan kayaknya gak tertarik sama cewek, deh! Lihat ada dia lajang sampai sekarang." Jawab Ruby menyeruput Ice Americanonya

"Nungguin elo dewasa, kali." Celetuk Karin asal.

Ruby merinding, "Bukan tipe gue, anj*r. Masa gue jalan sama om-om!"

**

Andra melengos pelan sebelum menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap datar pada sekeliling bar yang ramai pengunjung sebelum menatap pria paruh baya yang seumuran dengannya menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Mukanya slow aja kali, Ndra! Nikmatin aja, kapan lagi kita bisa nongkrong bareng, iya gak, Wil?" Tanya Brian pada Wili yang sedang bermain biliard.

"Yoi."

"Gue disini karena kalian maksa." Jawab Andra.

Brian berdecak pelan sebelum merangkul pundak Andra. "Jangan terlalu workaholic lah! Sekali-kali nikmatin hidup, uang udah banyak sayang banget kalau nggak di hamburkan!"

Andra menggeleng pelan.

"Lagian elo mau sampai kapan ngurung diri di kamar? Sampai kita punya anak cucuk sementara elo masih pacaran sama laptop?" Sindir Wili.

"Lo harus cari cewek, bro! Kita ngajak nongkrong karena mau bantu elo! Kalau elo diem mulu di rumah, ya gak bakal datang lah jodohnya! Harus di cari!" Ujar Brian sebelum menyalakan rokok dan menghisapnya.

"Kalau elo berharap diem terus jodoh turun dari langit kayak duren montok, mending jangan berekspetasi, deh!Cuman Wili Saputra yang bisa gitu!" Ujar Brian membuat Wili mengangkat alisnya bangga.

"Yang modelan kayak Wili itu jarang banget kejadian. Enak banget setiap hari lembur di kantor, eh ... jodohnya malah sekantor! Ketiban Durian runtuh gak, tuh?!" Ujar Brian jadi iri, mengingat dirinya yang bekerja sebagai PNS hanya bisa meratapi diri karena LDR dengan pacarnya yang juga PNS namun di tempatkan di provinsi lain.

"Yang LDR, sabar ya! Gak bisa peluk cium!" Ejek Wili membuat Brian melempar bungkus rokoknya.

"Udah ini ronde dua, kuy! Main ps di rumah Andra. Mengenang jaman kuliah, asik!" Ajak Wili.

"Nyokap elo lagi gak ada di rumah kan? Yaudah, kuy!"

"Jangan, ada Ruby." Jawab Andra membuat mereka tersadar.

"Oh iya, anaknya almarhum temen elo tinggal bareng ya? Gue lupa." Ujar Brian mengacak belakang rambutnya sendiri.

"Dia seleb tiktok, kan? Meskipun masih muda tapi keterampilan pake make-upnya bagus. Pacar gue yang awalnya buta tentang make-up, gara-gara lihat konten dia jadi ngerti sedikit-sedikit. Ngebantu buat yang pemula." Ujar Wili mendekat dan duduk di sebrang keduanya.

"Mana cantik banget kan? Gila! Gue lupa ada cewek cantik dan sexy tinggal di rumah elo! Gimana keadaan lo? Aman?" Tanya Brian dengan nada menggoda sebelum tertawa bersama Wili.

"Maksudnya?" Tanya Andra mengangkat sebelah alisnya.

"Lo gak mungkin gak pernah tergoda sama dia, kan?" Tanya Wili menyeringai dengan menaik turunkan alisnya.

"Gila, ya? Dia masih anak-anak! Apalagi dia mahasiswa gue." Ujar Andra menggeleng pelan, tidak mengerti jalan pikiran kedua temannya.

"Udah dewasalah, ege!"

"Gue gak mungkin tergoda sama anak-anak!" Ujar Andra tegas membuat Wili dan Brian saling melirik dengan mulut gatal ingin menggoda.

**

"Ibu kapan pulang?" Tanya Andra merapihkan dasinya sebelum menghampiri Hani dan meraih tangannya untuk dia cium.

"Tadi jam lima pagi, Ibu baru sampai." Ujar Hani merapihkan meja makan untuk sarapan.

"Gimana Paman? Penyakitnya serius?"

Hani menggeleng, "Cuman demam, dia udah membaik. Ibu kesana karena mau silaturahmi sekalian ada hal penting yang harus di bahas."

Andra mengangguk pelan sebelum meneguk air putihnya dan mengambil koran untuk dia baca hari ini.

"Sana kamu bangunin Ruby!" Titah Hani membuat Andra mengangkat sebelah alisnya protes.

"Dia belum bangun? Bukannya seharusnya dia yang nyiapin sarapan?"

"Ibu sengaja matiin alarmnya, kasihan dia selama ini bekerja keras. Ibu baru bisa senang saat dia mulai kerja bikin konten karena perlahan tubuh Ruby mulai sehat dan wajahnya ceria lagi. Beda ketika kerja di pabrik, tubuhnya sangat kurus kering, dan kelelahan. Sebenarnya Ibu gak tega lihatnya. Tapi syukurlah, sekarang semuanya baik-baik aja berkat kerja kerasnya sendiri. Dia jadi terlihat seperti anak muda seumurannya." Ujar Hani tersenyum kecil.

"Udah sana cepat bangunkan untuk sarapan!"

Andra melengos pelan sebelum beranjak dengan membawa koran. Dia mengetuk pintu setelah sampai di depan kamarnya namun tidak ada sahutan.

"Ruby! Cepat turun untuk sarapan!" Ujar Andra.

"Ruby!" Andra berdecak, "Apa dia masih tidur? Anak gadis mana yang belum bangun sesiang ini?!" Andra mengomel sambil mengetuk pintunya dengan tidak sabar.

Andra tersentak kecil ketika pintu kamarnya terbuka sebelum menggeleng pelan.

"Apa dia gak ngunci pintu?! Dasar ceroboh!" Gumam Andra sebelum membuka pintu.

"Ruby bangun! Sarapan udah si---,"

Netra Andra membelalak sampai korannya terjatuh tatkala mendapati Ruby yang tidur dengan posisi memunggungi dirinya tanpa mengenakan pakaian membuat Andra dapat melihat punggungnya yang polos dan bagian bawahnya di tutupi selimut tebal sampai lutut dengan betis mulusnya yang terekspos.

Sinting!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   5. Tertangkap Kiss

    Andra sontak menutup pintu kamar Ruby dengan keras sebelum menyandarkan punggungnya dengan napas memburu. Andra mengusap keningnya, tiba-tiba badannya terasa panas ketika bayangan punggung polos Ruby kembali hinggap di kepalanya membuat Andra memukul kepalanya sendiri ketika otaknya sudah tidak bisa dia kontrol."Ruby! Cepet turun sarapan!" Teriak Andra sebelum berlari turun.Tangannya terulur mengisi gelas dengan air putih sampai penuh dan sedikit tumpah sebelum menghabiskannya dalam satu kali tegukan ketika tenggorokannya tiba-tiba kering.Andra menghidupkan AC, menambah suhu mendapati badannya tiba-tiba panas. Andra menarik napas dalam, mencoba untuk tenang tapi reaksi tubuhnya tidak dapat dia kontrol.Hani yang duduk di depan Andra jadi mengerjap, mendapati anak bungsunya yang biasa tenang kini bergerak-gerak gelisah.Andra berdecak sebelum kembali mengambil air mineral dan menenggaknya sebelum dia menyemburkan airnya ketika mendapati Ruby turun dari tangga dengan rambut acak-acak

    Last Updated : 2025-01-18
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   6. Mari menikah

    "Kamu tahu apa salahmu?"Ruby menundukkan kepala, meremas ujung sofa yang dia duduki sambil mengangguk, mengakui bahwa dia salah."Lain kali jangan bawa pacar kamu ke sini!" Andra memperingatkan membuat Ruby mendongkak menatapnya yang berdiri menjulang di depannya."Kalau gitu saya mau keluar dari rumah ini untuk ngekos."Andra sontak mengangkat alis sambil menatapnya tidak percaya."Kamu meminta saya mengijinkan kamu tinggal sendiri setelah saya melihat kamu dan pacar kamu hampir ciuman?!""Bukannya kalau pacaran, ciuman itu hal biasa, Pak?" Tanya Ruby melengos kasar."Saya mengerti, untuk hubungan asmara anak muda yang membara itu adalah hal yang sama dengan pegangan tangan. Tapi bagaimana jika kalian kebablasan saat sedang berdua di kosan? Tidak ada yang tahu! Nafsu bisa datang saat berduaan, maka dari itu yang ketiganya setan!" Ujar Andra membuat Ruby menunduk."Maafkan saya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya." Ujar Ruby ketika menyadari bahwa memang dialah yang salah membawa ora

    Last Updated : 2025-01-18
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   7. Rasa Suka

    Andra membanting pintu kamarnya sebelum mengacak belakang rambutnya sendiri dengan gusar. Andra berjalan mondar-mandir sebelum berdecak dan duduk di kursi kerjanya sambil kembali mengacak rambutnya kesal.Netra Andra melirik pada ponsel yang berada di atas meja, menimang-nimang sebelum meraih dan menekan nomor Brian. "Wah, ada apa Pak Dosen nelpon malem-malem?" Tanya Brian di seberang telpon."Bri, gue ... ehm kenapa ya, gue?" Tanya Andra sambil mengernyit dan mengacak rambutnya sendiri."Lah? Mana gue tahulah, nyet! Lo kenapa? Kok kayak lagi gelisah gitu? Gak biasanya, padahal elo itu tipe yang paling tenang diantara kita." Ujar Brian."Gue juga gak tahu kenapa gue kayak gini.""Ck, ceritain pelan-pelan."Brian tertawa setelah mendengar Andra bercerita bahwa dia marah karena Ruby akan berciuman dengan pacarnya."Fiks, sih! Elo suka sama anak yang namanya Ruby! Eh, sorry! Bukan anak-anak ya? Udah dewasa!" Ujar Brian sambil tertawa geli."Suka sama Ruby? Gak mungkin. Apa mungkin gue u

    Last Updated : 2025-01-18
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   8. Dihukum

    "Ha? Dihukum? Pak Andra ngomomg apa, sih?" Tanya Ruby meneguk ludah gugup tatkala Andra mengikis jarak, tangan Ruby terjulur mendorong dada Andra namun gagal tatkala Andra menyingkirkan tangannya sebelum mendorong bahu Ruby.Memojokannya membuat punggung Ruby menyentuh pintu kulkas, Ruby tidak bisa kabur tatkala Andra mengurung tubuhnya dengan kedua tangan membuat Ruby meneguk ludah, melirik takut-takut pada Andra yang menatapnya tajam dengan raut wajah mengeras."Dari kapan mau merokok?" tanya Andra membuat Ruby meneguk ludah."U-udah lama, Pak. Tapi saya gak sering kok." Ujar Ruby meringis pelan sebelum tersentak tatkala Andra merampas rokok di tangannya sebelum melemparkannya pada tempat sampah."Saya memang bukan siapapun, saya tidak punya hak melarang kamu merokok, tapi mohon mengikuti peraturan di rumah ini, jangan merokok di sekitaran apalagi di dalam rumah karena orang tua saya masih tinggal di sini, Ruby. Asap rokok bisa sangat berbahaya jika dihirup dan mengepul dalam rumah.

    Last Updated : 2025-01-26
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   9. Modus

    "Ruby, kamu gak sarapan?" Langkah Ruby terhenti, dia meneguk ludah, perilaku Andra padanya tadi malam masih membekas di setiap ingatan atau kulit dan bibir yang Andra sentuh. Kepala Ruby menggeleng kuat, mengenyahkan pikiran gilanya. "Aku mau sarapan di kampus aja, bareng pacar aku." Jawab Ruby, menekankan kalimat terakhir sebelum tersenyum sopan dan menunduk untuk pamit. Andra yang tengah duduk di meja makan jadi menatap punggung Ruby yang menghilang dari balik pintu sebelum menghembuskan napas kasar. Sepertinya akan sulit sekali mendapat hati gadis itu meskipun Andra sudah terang-terangan, apalagi masih ada nama lelaki lain dalam hatinya. * "Lo ngapain bengong di sini?" Ruby tersentak tatkala Karin sudah ada di sampingnya. "Gue lagi nungguin Dika." jawab Ruby meringis pelan, berdiri di samping pintu kelas yang tertutup sebelum pintunya terbuka, para mahasiswa dan mahasiswi mulai keluar. Sementara kelas Ruby sudah selesai lebih awal, dia berniat pulang bersama Dika."Kal

    Last Updated : 2025-02-01
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   10. Jambret

    "Permisi, Pak Andra."Ruby sontak mendorong Andra menjauh sampai tubuh lelaki itu terjungkal ke tepi sofa, Ruby refleks berdehem canggung, berpura-pura sibuk pada kertas lagi sebelum mendongkak menemukan Sinta yang membuka pintunya barusan.Ternyata Dosennya yang lain."Ada apa, Bu?" tanya Andra setelah berdehem pelan."Bapak sibuk? Saya mau mendiskusikan hal yang kemarin saya bilang. Bapak ada waktu?" tanya Sinta, melirik Ruby sebelum membalas senyum mahasiswinya.Andra sontak mengangguk sebelum mempersilahkan Sinta duduk. Senyum segaris sontak tersungging dari bibir Ruby, harus bagaimana dia sekarang? Entah kenapa ini canggung sekali, mana pekerjaan yang dimintai tolong oleh Andra belum selesai. Ini terasa canggung karena Ruby sesekali melirik pada Sinta yang seperti tidak nyaman dengan kehadiran Ruby di ruangan ini.Ruby mengerti sekali tatapan Sinta pada Andra. Sudah jelas dosen perempuannya itu menyukai om-om modus di sebelahnya ini. Tatapan netranya persis seperti saat Ruby mena

    Last Updated : 2025-02-08
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   11. Bicara tentang perasaan

    "Padahal saya bisa pulang sendiri." Tukas Ruby setelah masuk ke dalam mobil Andra, duduk di sebelahnya yang mengemudi."Padahal kalau ada kejadian seperti tadi, kamu bisa memberitahu saya." Tukas Andra."Kenapa saya harus? Itu kan urusan saya bukan urusan Pak Andra." Tukas Ruby heran membuat Andra menghela napas.Ruby tersentak saat Andra mencondongkan tubuh ke arahnya sampai ujung hidung keduanya hampir bersentuhan membuat Ruby menahan napas."A-apa? Kenapa?" Tanya Ruby terbata sebelum mengerjap tatkala Andra hanya memasangkan sabuk pengamannya sebelum kembali mundur ke jok mobilnya sendiri.Ruby menakan dadanya sendiri dengan ujung jari sebelum menghembuskan napas panjang. Seharusnya dia tidak boleh berdebar pada lelaki lain apalagi Andra. Ruby sudah punya kekasih, jika begini, dia akan menyakiti kekasihnya Dika."Lain kali jangan begitu, bilang aja. Saya punya tangan sendiri." Tegur Ruby, menatap keluar jendela.Andra meliriknya, dia sadar bahwa Ruby kesal dengan tindakannya, tapi

    Last Updated : 2025-02-19
  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   12. Kalah jauh

    "Kamu dimana? Kenapa gak ngabarin? Aku udah spam chat padahal." Ujar Ruby pada sebrang telepon.Andra menipiskan bibirnya dengan perasaan bergemuruh, padahal selama ini Ruby yang dia kenal adalah perempuan pekerja keras akan hidupnya, mandiri, tegas dan tidak ragu dalam mengambil keputusan. Ruby adalah perempuan yang bisa segalanya sendiri.Namun saat ini saat mendengar nada bicara Ruby yang clingy pada pacarnya, Andra baru mengetahui sisi Ruby yang lain. Ternyata dia bisa semanja dengan orang yang dia sayangi.Genggaman tangan Andra pada stir mobil menguat dengan api panas di kepalanya yang pening, dia berharap sifat manja Ruby hanya ditunjukan padanya. Dia ingin membuat Ruby menunjukan seluruh sifatnya.Andra jadi menghela napas panjang, dia harus sabar untuk mengejar Ruby. Sebenarnya sikap Ruby saat ini wajar mengingat hubungan keduanya sebelumnya, pasti sangat canggung untuk gadis itu jika tiba-tiba Andra mendekati layaknya pria dewasa.Dia harus mengubah persepsi Ruby padanya. Bu

    Last Updated : 2025-02-27

Latest chapter

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   22. Jika Ruby sakit, maka Andra jauh lebih sakit.

    Netra Andra melebar dengan jantung mencelos tatkala mendapati untuk pertama kalinya Ruby menginginkan untuk menyentuh bahkan memeluk Andra dengan kesadarannya sendiri. Kening Andra mengernyit, hatinya ikut sakit saat mendapati pundak Ruby bergetar dengan tangisnya yang menyayat pilu. Andra segera membawanya ke pelukan lebih erat, mengusap punggungnya mencoba menenangkan sebelum menggendong Ruby tanpa mengubah posisinya dengan muda dan membawanya masuk ke mobil.Andra menempatkan Ruby di kursi samping kemudi sebelum dia beralih ke kursinya sendiri. Andra mengambil selimut, memakaikannya pada tubuh Ruby yang menggigil kedinginan baru Andra mendekat untuk membantu memasangkan sealt belt. Tangis Ruby tidak reda, namun bibirnya tetap bergetar dan terisak.Andra mengambil beberapa lembar tisu, melap wajahnya yang basah juga sisi wajahnya yang kotor karena tanah kuburan yang menempel di sana. Setelahnya Andra baru memberikan mug hangat berisi air hangat, memaksa kedua tel

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   21. Cinta tidak selalu berakhir baik

    Tangan Ruby bergetar, napasnya memberat dengan netra memburam karena air mata melesak berlomba agar keluar dan turun membasahi mata. Napasnya mulai memburu namun dengan cepat dia memfoto semua riwayat chat Dika dan wanita itu yang diberi nama 'Penjual Galon' oleh Dika. Setelah mendapatkan semua bukti, Ruby melempar ponsel Dika ke kursi, dia menyambar tasnya dan segera berlari keluar dari sana dengan kaki pincang dan menjeritkan tangis pilu. Ruby masih terus berlari menjauhi rumah Dika, dia membelah jalanan komplek sebelum berbelok ke gang sempit antar celah rumah setelah mendengar suara Dika meneriakan namanya keluar rumah. Ruby memaksa kakinya yang pincang untuk berlari keluar dari gang sempit, dia menginjak jalanan besar perumahan kembali sebelum berlari untuk keluar dari sana. Tangisnya tidak berhenti, malah semakin keras dan keras. Dia mematikan ponselnya agar Dika tidak bisa melacak keberadaannya lewat aplikasi track girlfriend. Air

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   20. Menjilat ludah sendiri

    "Kemana pacar kamu? Udah pulang?" Tanya Andra setelah menginjak anak tangga terakhir. Wajahnya sudah lebih segar setelah mandi, mengenakan kaos rumahan dan celana joger panjang.Ruby yang tengah duduk di sofa jadi menoleh. "Dika di toilet. Kita mau jalan sekarang."Andra bisa melihat Ruby tampil lebih segar dengan dress polkadot merah semata kaki dibalut kardigan berwarna tulang. Rambut panjang diikat kuda.'Cantik seperti biasa.' Puji Andra dalam benaknya."Jalan kemana? Mau kukuh padahal kaki kamu lagi sakit?" Tanya Andra tidak habis pikir."Mau kemana pun bukan urusan Bapak, kan? Lagipula saya cuman main ke rumah Dika. Itupun gak akan banyak gerak, karena dia bisa gendong saya kapanpu. Kita cuman mau nonton." Jawab Ruby agak kesal karena tidak mau dikekang oleh seseorang yang bahkan bukan siapa-siapanya.Andra jadi mengernyit, nonton film? Di rumah cowok? Berduaan?Andra jadi teringat pernah menggep Ruby dan Dika yang

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   19. Pendapat Brian tentang komitmen untuk pria tuwir

    "Kenapa? Lo ketemu pacarnya Ruby?" Tanya Brian, nadanya lebih tenang sambil menahan tawa geli. Ini pertama kalinya, sahabatnya Andra uring-uringan karena seorang wanita.Mungkin ini akan menjadi hal penting dalam pertumbuhan perasaannya, sepertinya Brian akan merecord percakapan ini dan menyebarkan ceritanya di grup chatting circle mereka. Hitung-hitung hiburan di tengah hiruk pikuknya dunia kerja. Dan Andra yang menjadi topik hiburannya.Andra menghela napas kotor, menyugar rambutnya frutasi sebelum menahan tubuhnya pada tembok. "Dia datang ke rumah, jemput Ruby buat date. Kaki Ruby lagi cedera, gue pikir itu bisa jadi alesan buat mereka gagal date. Sialannya, mereka malah mesra-mesraan depan gue, mana nyokap welcome dan nawarin sarapan bareng lagi."Brian sontak terbahak lebar, bisa dipastikan dia tengah menahan perutnya yang geli sambil memukuli pahanya sendiri berkali-kali sekarang."Udah ketawanya?" Tanya Andra jengah."Ha ha ha. Hab

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   18. Andra cemburu

    Andra menghela napas panjang, membiarkan suara bel berdenting memenuhi pendengarannya dengan emosi naik turun dan napas memburu. Melihat Andra tidak ingin beranjak membuat Hani mengambil alih untuk membukakan pintu. "Maaf ngerepotin, Nek." Ujar Ruby meringis bersalah karena kakinya. Hani hanya menggeleng pelan sebelum berlalu, meninggalkan Ruby dan Andra yang berada dalam keheningan. Tidak ada yang menyentuh alat makan mereka. Ruby merasakan aura dingin kuat yang menguar dari Andra tapi dia bungkam. "Apa gak sebaiknya janji kalian dibatalkan?" Tanya Andra setelah bergeming lama, menyahut datar dan penuh penekanan. Ruby sontak menoleh protes, "gak bisa dong, Pak! Kita udah gak ketemu seminggu ini dan cuman ngabarin lewat chat. Ini udah hari yang aku tungguin dari kemarin." Hati Andra serasa diremas mendengar jawabannya, panas, emosi dan cemburu bercampur aduk menjadi satu. Namun Andra menahannya meskipun raut

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   17. Keputusan pindah rumah dan Dika

    Begitu melihat Hani, sakit di pergelangan kaki Ruby sontak menghilang. Dia mendorong Andra sampai terjungkal ke belakang sebelum berdehem canggung."Tadi biaya diurutnya berapa, Nek? Aku ganti." Ujar Ruby, mengalihkan topik."Gak usah. Saya yang tanggung. Lagian jumlahnya gak banyak, kamu gak perlu ngerasa gak enak." Tolak Andra, beranjak berdiri sebelum meneguk segelas air dari atas meja.Hani mengangguk, mengambil alih duduk di sebelah Ruby sebelum mengusap bahunya penuh sayang. "Kamu jangan pikirin biayanya, ya? Lagipula, masalah kamu bayar karena tinggal di sini juga, Nenek masih kurang setuju sampai sekarang."Ruby terkekeh pelan, meraih jemari Hani yang sudah layu dengan permukaan tangan kasar namun hangat. "Ini kan kemauan aku sendiri, gapapa. Efek positivenya aku bisa mandiri. Meskipun kedepannya mungkin, aku bakal pikirin buat keluar dari sini dan ngekos."Sontak Andra maupun Hani terkejut samar."Kamu mau keluar dari rumah ini?" Tanya Hani."Kenapa mendadak?" Tanya Andra.Ru

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   16. Diurut

    Andra menaikan alisnya saat mendapati seorang pria kepala tiga, mungkin sebaya dengannya tengah melambai tinggi ke arah Ruby dengan senyumnya yang lebar. Andra tidak pernah melihatnya sebelumnya."Dia siapa?" Tanya Andra menoleh pada Ruby."Ah, itu ... Bapak inget waktu aku kecopetan? Beliau yang bantuin ngurus semuanya di kantor polisi. Dia aparat polisi, pak." Jawab Ruby agak berbisik, Andra sampai teralihkan karena panasnya napas Ruby yang menyentuh ujung telinganya, membuatnya tergelitik dalam perasaan senang."Hai.""Halo, pak Juan." Sapa Ruby melempar senyum sopan dan mengangguk.Juan jadi ikut tersenyum, agak terpana melihat Ruby yang berkeringat dengan seragam jogging, membuatnya nampak sangat segar dan muda. Andra yang menyadari tatapan terpana itu jadi menggeser tubuh membuat kini tubuh Andra yang menghadap Juan dengan Ruby di belakangnya."Ah, ini?" Tanya Juan melirik pada Ruby di belakang Andra."Saya—,""Ini saudara saya." Jawab Ruby cepat membuat Andra melotot samar, tid

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   15. Awal hubungan

    Andra menipiskan bibir saat Ruby menampilkan raut wajah enggan dan canggung yang kentara, entah kenapa membuat hatinya teremas sakit. Sebegitu tidak maunya kah Ruby bersentuhan dengan dirinya? Padahal Andra tidak punya penyakit menular yang menyebabkan kematian.Jika tahu Ruby akan canggung dan menghindarinya seperti ini, Andra agak menyesal telah mengungkapkan perasaannya. Seharusnya Andra menahan diri, namun ternyata perasaannya bisa meledak begitu saja hanya dengan melihat wajah Ruby."Pak?" Panggil Ruby sebelum mengerjap tatkala menemukan raut wajah Andra yang menurun dengan gurat murung."Ruby, kamu tunggu di sini, ya? Saya bakalan pulang buat ambil kendaraan. Gak akan sampai lima menit, habis itu kita langsung ke klinik." Ujar Andra setelah termenung lama. Andra tidak bisa memaksa jika Ruby tidak ingin dia gendong. Lagipula wajar, dia wanita yang sudah dewasa dan Andra juga pria dewasa."Pak! Tunggu! Nanti Bapak bakal bolak-balik kalau gitu!" Tukas Ruby membuat langkah Andra yan

  • Teman Ayahku Yang Panas Menginginkanku!   14. Jogging

    "Tumben udah bangun. Mau kemana kamu?" Tanya Hani, menyimpan segelas air putih di meja makan sebelum meniti penampilan Andra dari atas ke bawah. Biasanya saat wekeend seperti ini, Andra akan bangun lebih siang karena ini merupakan kesempatan liburnya dari rutinitas harian dan menumpuknya pekerjaan.Tapi kali ini, putranya sudah siap dengan kaos hitam dengan bahan menyerap keringat dan celana joger abu-abu."Olahraga. Udah lama badan gak gerak." Jawab Andra, mendekat pada Hani sambil melakukan peregangan."Gimana keadaan Bang Putra ? Udah sehat? Aku gak enak karena gak jenguk." Ujar Andra mengingat Hani menginap di rumahnya beberapa hari ini.Hani menggeleng sekilas, "Putra sendiri yang larang kamu datang. Dia gak mau repotin kamu apalagi tahu kalau kamu selalu sibuk sama kerjaan. Ini juga bukan operasi gede. Usus Putra udah baik-baik saja. Untung istrinya Putra baik, perhatian dan bisa ngurus suaminya dengan baik." Ujar Hani membuat Andra mengangguk, turut merasa lega."Kamu kapan pun

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status