Pasar desa pagi itu tampak ramai seperti biasa. Pedagang jajanan pasar, penjual kembang, hingga penjual ayam hidup semua buka lapak. Suara tawar-menawar terdengar bersahut-sahutan, menciptakan kontras dari suasana mencekam yang tadi Reza alami.Reza berhenti sejenak di dekat gerobak penjual bunga. “Mbak, ada bunga tujuh rupa?” tanyanya. Si penjual, seorang ibu paruh baya, mengangguk cepat.“Ada mas, ini baru ngambil dari kebun. Segar.”Setelah memastikan semua kebutuhan ritual sudah didapat — bunga tujuh rupa, ayam jago hitam putih, tujuh macam jajanan pasar, dan sebungkus rokok daun jagung — Reza memutuskan pulang. Jalanan menuju desa sedikit berkabut, padahal matahari mulai naik tinggi. Tapi seperti kata Ki Harjo, “Selama hati bersih dan niatmu lurus, jalan akan terbuka.”Sesampainya di depan rumah Bu Darmi, Reza menghela napas lega. Ia menurunkan semua barang bawaan satu per satu, dan mengetuk pintu.Bu Darmi membuka pintu sambil tersenyum lebar, “Alhamdulillah, kamu selamat, Za.”
Angin sore itu berhembus pelan, mengibaskan tirai anyaman bambu di rumah Bu Darmi. Reza duduk bersila, keringat masih membasahi pelipisnya usai menjalani ritual pembersihan. Di hadapannya, Ki Harjo menatapnya dalam-dalam, seperti hendak membaca jauh ke dalam jiwanya."Anak muda…" suara Ki Harjo serak namun dalam, "ada hal yang harus kau ketahui, sebelum semuanya menjadi lebih berat dari yang bisa kau pikul."Reza mengangguk, tak berani menyela. Sejak kedatangan lelaki tua itu, hidupnya berubah. Mimpi buruk datang saban malam, dan tiap kali ia terbangun, selalu ada bayangan samar di sudut kamarnya—menatap, diam, menunggu.Ki Harjo mengambil sebatang rokok lintingan dari daun jagung, menyalakannya perlahan, asap mengepul tipis. Matanya memandang jauh, seperti menembus waktu."Dulu… sebelum kita semua lahir, tanah ini bukanlah milik manusia," ucap Ki Harjo lirih. "Daerah bukit kecil, rawa, dan dua pohon beringin itu adalah wilayah suci bangsa lelembut. Mereka tinggal berdampingan, tak me
Malam turun pelan-pelan seperti kabut yang menggulung desa. Angin terasa lebih dingin dari biasanya, dan suara jangkrik mendadak lenyap seolah alam sedang menahan napas. Di langit, bulan mengintip setengah malu dari balik awan hitam tebal.Reza terjaga dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara begitu menusuk tulang. Mimpi tadi begitu nyata—ia melihat dirinya berjalan di atas air rawa, diiringi bayangan-bayangan tinggi besar yang berjalan di belakangnya. Salah satunya berbisik tepat di telinganya:"Saat waktumu datang, tak ada pintu yang bisa kau tutup lagi, Reza..."Reza bangkit dari tikarnya, berjalan ke dapur untuk minum. Saat ia melewati ruang tengah, lampu minyak berkedip pelan. Sesuatu terasa aneh. Dinding kayu rumah seperti berdetak… pelan tapi jelas… duk… duk… duk…Langkah kakinya terhenti. Ia menajamkan pendengaran.Duk… duk…Sumber suara itu berasal dari luar rumah. Dengan hati-hati, ia membuka pintu depan. Tak ada siapa pun. Hanya gelap dan sebatang po
Langit masih kelabu ketika fajar menyapa desa. Embun menggantung di pucuk-pucuk ilalang, dan udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Seolah alam pun merasakan bahwa sesuatu yang besar sedang bergerak pelan dari balik tirai dunia tak kasat mata.Reza duduk termenung di beranda rumah Bu Darmi. Matanya sembab, wajahnya pucat. Tangannya menggenggam segelas teh yang sudah dingin sejak tadi. Pandangannya kosong, menatap rerumputan yang bergoyang pelan tertiup angin.Bu Darmi muncul dari dapur membawa sepiring pisang goreng, tapi Reza hanya menoleh sebentar, lalu kembali terdiam.“Masih kepikiran kejadian semalam?” tanya Bu Darmi, pelan.Reza menelan ludah, kemudian mengangguk.“Bukan cuma itu, Bu. Saya… mimpi.”Bu Darmi menoleh cepat. “Mimpi apa, Za?”Reza menarik napas dalam. “Saya ketemu… kakek-kakek tua. Jenggotnya panjang, pakai blangkon, dan duduk di bawah pohon randu yang besar sekali. Dia bilang, ‘Za, waktumu sudah tiba. Pergilah ke rumahku… ambillah peninggalanku. Itu akan memb
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas permukaan tanah saat Reza dan Ki Harjo melangkah keluar dari rumah Bu Darmi. Langit mendung, seolah tahu bahwa perjalanan mereka bukan perjalanan biasa. Mereka tak banyak bicara. Tongkat warisan leluhur dibawa Ki Harjo dalam balutan kain mori, dan Reza membawa bunga tujuh rupa serta dupa yang sudah disiapkan sejak semalam.Tujuan mereka: makam Kyai Reksonegoro.Letaknya di pojok desa, di dekat sumber air tua yang dikenal warga sebagai “Sendang Wening”. Tak banyak yang berani ke sana, bahkan di siang hari. Namun pagi ini, dua sosok itu berjalan perlahan, menembus pepohonan jati yang mengelilingi area tersebut.---Makam Tua dan Batu PenandaMakam Kyai Reksonegoro terlihat berbeda dari yang lain. Batu nisannya besar, tertutup lumut tebal. Di sekelilingnya terdapat batu-batu kecil dengan ukiran aksara Jawa kuno, nyaris tak terbaca. Ki Harjo berhenti di depan nisan itu, lalu berlutut dan merapalkan doa dalam bahasa Jawa halus yang tak dimen
Sejak kotak warisan itu dibuka dan kalung batu hitam menyala, hawa desa mulai berubah. Warga merasa sering dihantui mimpi buruk, anjing melolong tak menentu setiap malam, dan burung gagak mulai terlihat di sekitar ladang. Bahkan, pohon beringin tua yang selama ini menjadi pusat tanah larangan, mulai mengeluarkan bau anyir yang menusuk hidung saat malam hari.Namun semua itu belum seberapa.Ki Harjo terus memantau kalender Jawa. Ia menunggu malam istimewa yang disebutnya “Tulung Garing”, malam ketika bulan mati dan langit gelap sepenuhnya. Malam itu diyakini menjadi waktu ketika batas dunia manusia dan dunia lelembut paling tipis.“Kita harus ke bukit itu malam nanti, Za,” ucap Ki Harjo ketika sore mulai menjelang. “Waktu kita tak banyak. Sesuatu sudah bangkit, dan mereka tahu kau sudah membuka kotak warisan.”---Persiapan RitualReza mempersiapkan diri. Di dalam tasnya ia membawa peta kulit kayu, bunga tujuh rupa, dupa, dan kain mori. Kalung batu hitam kini ia kenakan di leher, meski
Sosok pria asing itu kini duduk di ruang tamu rumah Bu Darmi. Penampilannya rapi dan terawat, seperti orang kota. Di meja, ia menaruh sebuah map tebal berwarna coklat dan sebuah tas kecil dari kulit hitam.Bu Darmi menatapnya dalam, sementara Reza dan Ki Harjo berdiri tak jauh dari pintu, memperhatikan dengan penuh rasa curiga.“Maaf kalau kedatangan saya tiba-tiba, Bu,” ujar pria itu. Suaranya tenang, namun ada nada dingin yang tersembunyi. “Nama saya Arman. Saya peneliti budaya dan sejarah kuno. Saya sudah lama mencari seseorang bernama Darmi… dan sebuah tempat yang disebut Tanah Larangan.”Ki Harjo menyipitkan mata. “Peneliti budaya, sampeyan bilang? Sampeyan dari mana asale?”“Dari Jakarta,” jawab Arman. “Tapi saya bukan peneliti biasa. Saya pernah belajar di Leiden dan menelusuri banyak peninggalan masa kolonial di tanah Jawa, termasuk yang berkaitan dengan... hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika modern.”Reza saling pandang dengan Ki Harjo. Perkataan Arman bukan omon
Pagi belum sepenuhnya datang saat Reza mengetuk pintu kamar Ki Harjo dengan napas memburu. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti orang habis menangis atau baru terbangun dari mimpi buruk.Ki Harjo membuka pintu, hanya mengenakan kain lusuh yang dililit di pinggang dan selendang kecil di bahu. “Kenapa, Za?”“Gerbang, Ki… Gerbang terakhir itu akan terbuka. Dalam mimpi saya, kakek bilang harus segera dikunci sebelum malam ketiga. Kalau tidak, sesuatu yang lebih besar akan bangkit.”Ki Harjo menatap dalam ke mata Reza. Sorot matanya berubah, seperti mengerti bahwa waktunya telah datang. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kain hitam dari atas dipan, lalu memanggil Bu Darmi dari dapur.“Bu, siapkan air doa dan segenggam tanah dari bawah pohon beringin itu,” ujar Ki Harjo.Bu Darmi tak bertanya. Ia hanya mengangguk dan berjalan pelan ke luar rumah, meninggalkan aroma dupa yang samar masih menyelimuti seluruh ruangan.---Perjalanan Kembali ke BukitBeberapa saat kemudian, Arman sudah siap de
Sejak kepergian Reza dan Ki Harjo, Desa Waringin Sepuh seolah kehilangan cahaya.Hari-hari berlalu dalam selimut ketakutan. Udara desa yang biasanya hangat berubah menjadi berat dan dingin, membuat bulu kuduk warga berdiri tanpa sebab.Bu Darmi, satu-satunya penjaga yang tersisa, berusaha sekuat tenaga mempertahankan ketenangan. Ia membakar dupa dan kemenyan setiap sore di empat penjuru desa, membacakan doa-doa kuno yang diajarkan nenek moyangnya.Namun, kekuatan Bu Darmi tidak cukup untuk menahan amarah yang sudah bangkit.Malam pertama setelah ritual penyucian Reza, seorang pemuda, Toni, ditemukan pingsan di tepi rawa. Tubuhnya penuh bekas cakaran aneh, seperti dicabik oleh cakar makhluk besar. Ketika ia siuman, Toni hanya bisa berteriak-teriak histeris, matanya kosong tanpa fokus."Mereka... mereka menari di atas air... mereka memanggilku...," gumam Toni sambil terisak.Warga yang ketakutan mulai mengunci diri di rumah masing-masing sebelum senja. Tidak ada yang berani keluar, bahk
Sinar mentari pagi baru saja mengintip dari balik pegunungan jauh ketika Reza dan Ki Harjo melangkahkan kaki meninggalkan desa. Udara masih basah oleh embun, dan kabut tipis menggantung rendah, seolah-olah menahan langkah mereka untuk pergi.Bu Darmi berdiri di ambang pintu, menatap kepergian mereka dengan mata sendu yang diselimuti kecemasan. Ia tahu perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah awal dari perubahan besar—bagi Reza, bagi desa, dan mungkin, bagi seluruh wilayah yang dihuni oleh bangsa lelembut.Dengan membawa bekal secukupnya, serta beberapa kain putih yang telah dirituali, Reza mengikuti Ki Harjo menembus hutan tua yang berada di luar batas desa. Hutan yang bahkan di siang bolong pun terasa gelap dan lembap. Burung-burung pun tampaknya enggan berkicau, seolah mengetahui bahwa hari ini ada sesuatu yang sedang bergerak di antara semak-semak tua itu.Sementara itu, di dalam desa, setelah Reza dan Ki Harjo pergi, sesuatu mulai berubah.Angin yang bertiup teras
Malam itu, setelah suasana sedikit mereda, Ki Harjo mengajak Reza duduk bersila di ruang tengah. Dupa wangi terus mengepul, membentuk asap tipis yang mengambang di langit-langit rumah."Reza," Ki Harjo membuka percakapan dengan nada berat, "apa yang kau alami malam ini... baru permulaan."Reza menatapnya, masih dengan sisa ketakutan di mata. Tapi kini ada juga api kecil yang mulai berkobar dalam dirinya — semangat untuk memahami, untuk melawan kalau perlu."Aku akan mengajarkanmu dasar-dasar bertahan," lanjut Ki Harjo. "Bukan dengan kekuatan otot, tapi kekuatan hati dan pikiran."Bu Darmi datang membawa segenggam bunga kenanga dan segelas air putih dalam kendi tanah liat. Ia duduk di sebelah Reza, menatapnya dengan penuh harap dan doa."Yang harus kau ingat," kata Ki Harjo sambil mengambil bunga kenanga dan meremasnya perlahan, "bangsa lelembut itu tidak bisa menyentuh kita... kecuali kita membiarkan mereka masuk."Reza mengernyit. "Membiarkan masuk, gimana maksudnya, Ki?"Ki Harjo te
Malam makin larut. Angin bertiup keras, membawa aroma tanah basah dan bau aneh seperti kayu lapuk yang membusuk. Reza dan Ki Harjo tiba kembali di rumah Bu Darmi dengan langkah terseok, membawa peti kayu hitam yang terasa lebih berat dari sebelumnya — seolah bukan hanya benda, tapi juga beban tak kasat mata.Bu Darmi sudah menunggu di teras, membawa dupa yang asapnya mengepul pelan ke atas, membentuk pusaran aneh di udara. Wajahnya serius, matanya menatap tajam pada peti di tangan Reza."Letakkan di tengah lingkaran garam," perintah Ki Harjo cepat.Reza mengikuti tanpa banyak bicara. Lingkaran garam dan bunga tujuh rupa sudah disiapkan di ruang tengah. Begitu peti diletakkan di sana, suasana seketika berubah — udara terasa lebih berat, suhu di dalam rumah turun drastis. Lampu minyak bergoyang-goyang padahal tidak ada angin.Ki Harjo duduk bersila, matanya terpejam. Ia mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa Kuno yang terdengar seperti gemuruh dari dasar bumi. Suaranya berat, bergema
Matahari baru saja tenggelam di balik bukit, menyisakan garis merah tipis di cakrawala saat Reza dan Ki Harjo bersiap berangkat. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk kulit seperti jarum-jarum halus yang tak kasat mata. Langit malam di atas desa seolah tertutup selimut hitam tanpa bintang.Mereka berjalan melewati jalan setapak yang menuju ke area makam leluhur, hanya berbekal obor kecil yang cahayanya bergetar diterpa angin. Setiap langkah terasa berat, seolah tanah itu sendiri menolak mereka untuk melanjutkan perjalanan."Jaga langkahmu, Reza," Ki Harjo berbisik lirih, hampir seperti gumaman. "Tempat ini sudah lama tidur. Jangan sampai kita membangunkan sesuatu yang lebih tua dari sekadar bangsa lelembut."Reza menelan ludah. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan tak kasat mata mengawasinya dari balik semak, dari balik bayang-bayang pohon besar yang menjulang seperti raksasa di dalam kegelapan. Di kejauhan, samar, terdengar suara seperti batu-batu kecil yang bergulir...
Malam itu, setelah meminum air dari kendi tanah liat pemberian Ki Harjo, Reza merasa tubuhnya mulai ringan, seolah pelan-pelan tercerabut dari dunia nyata. Ia masih duduk di ruang depan rumah Bu Darmi, namun pandangannya kabur, suara di sekelilingnya mulai menjauh, dan tubuhnya terasa berat seperti ditarik ke kedalaman yang gelap. Dalam sekejap, Reza berada di sebuah tempat asing. Hamparan kabut tebal menyelimuti tanah yang basah dan berbau anyir. Di kejauhan, tampak pepohonan tua menjulang bengkok, seperti tangan-tangan raksasa yang ingin meraih langit. Tak ada bulan, hanya langit kelam dengan bintang-bintang yang redup seperti nyawa yang sekarat. "Reza…" Suara parau memanggil namanya dari balik kabut. Reza berbalik, mencari sumber suara itu. Dari balik kabut, muncul sosok... bukan manusia. Ia tinggi, kurus, kulitnya pucat kebiruan, dan matanya kosong. Mulutnya tersenyum lebar, penuh gigi tajam. "Siapakah kau?!" teriak Reza, meski suaranya terdengar kecil. Sosok itu melangkah
Malam itu, hujan turun tak seperti biasanya. Air seakan tak hanya jatuh dari langit, tapi juga menyusup dari balik tanah. Langit hitam pekat, tak ada bintang, dan bulan pun tertutup awan gelap yang bergulung seperti naga tidur. Desa sepi, tapi udara terasa berat. Seolah-olah desa sedang menahan napas menunggu sesuatu yang tak kasatmata. Di tengah hutan bambu, tempat makam tua berada, tampak samar nyala api. Bukan api biasa. Warna merahnya terlalu pekat, menyala-nyala seperti darah yang membara. Api itu berdansa di udara, berputar, naik turun, seolah membentuk sesuatu. Lalu... terdengar suara. Pelan. Parau. Berdesis seperti lidah yang terbakar. “Segel... telah dibuka... Waktu... telah hampir tiba...” Di dalam rumah Bu Darmi, Reza terbangun dari tidurnya dengan napas terengah. Dadanya sesak, dan matanya terasa perih. Ia melihat ke sekeliling—tak ada apa-apa. Tapi ia tahu, malam ini berbeda. Sesuatu bergerak di luar. Ki Harjo sudah duduk di ruang depan, mata tuanya menatap lampu miny
Subuh belum menampakkan cahaya, langit masih pekat diselimuti kabut kelabu. Namun rumah Bu Darmi sudah ramai. Suara kidung Jawa lirih terdengar dari ruang belakang, tempat Ki Harjo dan Reza bersiap menuju lokasi segel terakhir. Kali ini, perjalanan mereka tak bisa sembarangan. Bu Darmi menyiapkan bekal berupa kemenyan, bunga telon, minyak kelapa campur kembang kantil, serta seikat tali janur yang sudah dibacakan mantra pelindung. “Kali ini kau akan berjalan di antara dua dunia, Za. Dunia kita dan dunia mereka. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu... segel ketiga ini tak hanya dikunci oleh bangsa lelembut. Ia dikunci oleh darah.” Reza menatap wajah Bu Darmi dengan ragu. “Darah siapa, Bu?” “Darahmu.” Langkah mereka menembus kabut pagi, menyusuri jalan setapak yang menuju sebuah bukit kecil di timur desa. Dulu bukit ini dianggap tempat biasa, tempat warga mencari kayu atau sekadar berteduh. Tapi sejak tragedi tanah larangan terjadi, tak ada satu pun warga yang berani mendekat. Tiga
Langit menggantung kelabu, nyaris tanpa cahaya. Kabut dari rawa makin merangsek masuk ke desa, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Malam itu, udara terasa berat, dan keheningan yang menggantung bukan keheningan biasa—seolah alam menahan napas menanti sesuatu yang mengerikan akan datang.Reza duduk bersila di depan api kecil yang menyala redup. Wajahnya murung. Di belakangnya, Ki Harjo tengah membuat lingkar pelindung dari abu dupa dan bunga tujuh rupa, mengitari tubuh Reza dengan mantra-mantra pelindung. Bu Darmi menyiapkan ramuan dari akar-akaran dan air dari sumber mata air tua, yang katanya bisa menguatkan jiwa dalam menghadapi gangguan astral.“Segel kedua... dijaga oleh penjaga yang tak lagi berbentuk manusia,” ucap Ki Harjo pelan.Reza menoleh, bulu kuduknya berdiri.“Penjaga segel itu... dulunya manusia?” tanyanya.“Ya. Ia dulunya penjaga pertama tanah larangan. Karena melanggar sumpah, dia dihukum menjadi penunggu segel. Abadi, tanpa wujud pasti, hanya bisa dilihat oleh o