Nadine mendongak dan menyadari bahwa dagu Arnold hampir menyentuh kepalanya. Jika bukan karena lengan pria itu yang menahan tubuhnya, Nadine pasti sudah jatuh ke dalam pelukan Arnold. Menyadari situasinya, Nadine buru-buru mundur dua langkah.Arnold menelan ludah dan menarik kembali tangannya, lalu berkata dengan suara lembut, "Pakai sepatu hak tinggi mudah jatuh, sebaiknya pakai flat saja."Nadine tertawa kecil mendengar ucapannya. Setelah beberapa saat, dia berkata, "Terima kasih."Sementara itu, Kelly yang sudah lama menunggu di luar berteriak setelah mendengar suara dari dalam gedung, "Nadine? Itu kamu ya?"Nadine melirik ke arah luar. "Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa.""Hm," jawab Arnold dengan singkat. Saat berjalan naik ke lantai atas, Arnold masih bisa mendengar percakapan dari lantai bawah."Kenapa lama sekali?" tanya Kelly dengan heran."Ada sedikit insiden," jawab Nadine sambil tersenyum."Ketemu kakakku nggak?" Kelly hanya tahu bahwa Arnold tinggal di sekitar sini, t
Sebelum memasuki ruang ujian, Nadine memeriksa kembali kartu ujian, pena, dan alat hitung yang diperlukan untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Kelly sempat bercanda ingin memakai kebaya untuk mengantarkan Nadine ke lokasi ujian sebagai simbol kesuksesan. Namun, Nadine tahu Kelly sedang sibuk dengan dua proyek besar dan tidak mungkin bangun pagi, apalagi di musim dingin seperti ini.Sesuai dugaan, Nadine melihat di sekeliling lokasi ujian, tetapi tidak menemukan sosok Kelly. Namun, dia juga tidak merasa kecewa. Terkadang, memang ada teman yang tidak sering berkomunikasi dengan kita, tetapi tetap terasa sangat dekat. Orang-orang zaman sekarang menyebutnya "persahabatan yang tidak memerlukan balasan".Ujian berlangsung selama dua jam. Ketika waktu habis, para peserta menunjukkan berbagai ekspresi. Ada yang bersemangat dan ada yang kecewa. Sementara itu, Nadine tampak sangat tenang.Saat baru keluar dari ruang ujian, hujan rintik-rintik mulai turun. Daerah di sekitar sini juga sulit
Nadine memahami maksud dari perkataan Clarine dan hanya tersenyum tipis tanpa banyak membantah.Clarine bertanya lagi, "Kalau nggak salah, kamu dulu kuliah di Universitas Brata, 'kan? Kali ini kamu mau coba ke mana?"Nadine menjawab, "Tetap di Universitas Brata.""Master akademik atau master profesional?" tanya Clarine lebih lanjut."Master akademik," jawab Nadine.Clarine mengangkat alisnya, terkejut karena Nadine memilih jurusan yang sama dengannya. "Jurusan apa?""Biologi," jawab Nadine.Clarine semakin penasaran karena mengingat mereka mengambil jurusan yang sama. "Kamu sudah punya calon pembimbing?"Nadine mengangguk dan berkata dengan terus terang, "Ya, Bu Freya.""Siapa? Bu Freya Salim?" tanya Clarine dengan terkejut."Iya," jawab Nadine.Clarine tiba-tiba teringat pernah melihat Nadine bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah Freya. Ekspresinya berubah agak aneh. "Jangan bilang, kamu pikir dengan membantu membersihkan rumah profesor, dia akan melunak dan menerimamu sebagai m
Malam lebih panjang saat musim dingin. Sebelum pukul 7 malam, lampu jalanan sudah menyala, memberikan kehangatan pada cuaca malam yang dingin.Dari stasiun MRT sampai Universitas Brata, ada banyak pedagang kaki lima. Bisa dibilang semuanya lengkap di sini.Ketika melewati jembatan, Nadine mendengar suara penjual ubi. Dia mengejapkan matanya karena matanya agak perih tertiup angin. Kemudian, dia menoleh dan berkata kepada Arnold, "Tunggu aku sebentar."Arnold berdiri diam di tempatnya. Dua menit kemudian, terlihat Nadine yang kembali dengan memegang dua buah ubi panas. "Nah."Ubi panas itu masih mengepul. Rasanya manis saat digigit. Nadine memegangnya sambil meniupnya, lalu mencoba menggigit lagi. Setelah merasakan rasa manis, dia tersenyum lebar.Nadine menoleh dan bertanya, "Punyamu manis nggak?"Arnold mengangguk. Ini pertama kalinya dia makan ubi semanis ini.Nadine terlihat agak bangga. "Ya, 'kan? Aku sangat beruntung. Tiap kali pasti dapat yang manis."Arnold ikut tersenyum meliha
Hari Sabtu, cuaca sangat bagus. Sinar matahari menembus awan tebal. Nadine berkeringat sedikit setelah lari pagi. Dia pulang untuk mandi, lalu berganti pakaian dan mengambil obat yang baru dibelinya. Setelah itu, dia memesan taksi ke rumah Freya."Bu, obat-obat ini harus diminum tiga kali sehari. Sekarang cuaca dingin, jadi nggak perlu taruh di kulkas. Sebelum diminum, ingat dihangatkan dulu."Freya tidak takut pada apa pun. Yang paling dibencinya adalah obat tradisional. Bukan cuma pahit, tetapi juga bau.Freya menatap obat berwarna hitam itu. Dia mundur sedikit, lalu bertanya, "Ini harus diminum?""Tentu saja. Aku sudah berpesan pada bibi di rumah. Dia harus mengawasimu minum obat," sahut Nadine.Ekspresi Freya tampak masam, "Ya sudah, aku sudah ngerti."Freya tidak mungkin menolak niat baik muridnya. Ketika melihat Freya yang merajuk seperti anak kecil, Nadine diam-diam tersenyum. "Obatnya memang pahit. Makanya, aku buatkan kue kacang hijau untukmu. Makan sepotong setiap kali kamu m
Nadine tentu tahu betapa pedulinya Freya terhadap dirinya. "Tenang saja, Bu. Aku nggak bakal membuatmu kecewa."....Setelah pulang, Nadine mulai membaca materi. Dibandingkan dengan buku pelajaran untuk ujian masuk pascasarjana, materi ini lebih sulit karena melibatkan operasi dan hasil penelitian tertentu.Nadine sampai lupa waktu. Setelah melihat jam, ternyata sekarang sudah dini hari. Nadine pun mengucek mata dan berniat tidur sebentar. Begitu berbaring, tiba-tiba ada yang menggedor pintu."Nadine, buka pintu! Aku tahu kamu di dalam!" Meskipun Nadine di kamarnya, suara Reagan tetap terdengar jelas.Bam, bam, bam! Reagan menggedor dengan makin kuat. Ketika teringat Reagan hampir menodainya di vila hari itu, bibir Nadine memucat. Tangannya mencengkeram seprai dengan erat."Nadine! Buka pintu! Nadine!" seru Reagan tanpa henti.Nadine menutup telinganya, berharap Reagan pergi karena tidak mendapat respons apa pun. Akan tetapi, lima menit telah berlalu dan Reagan masih menggedor pintu. P
Reagan termangu. "Kamu ...."Nadine teringat pada kejadian hari itu di vila. Tatapannya dipenuhi kewaspadaan. "Jangan bergerak! Mundur sedikit!""Nadine ...." Hati Reagan terasa sakit. "Hari itu, aku ....""Jangan dibahas lagi! Pergi sana, nggak ada yang perlu dibicarakan di antara kita!""Nadine ...." Mata Reagan memerah. Dia mematung di tempatnya. "Maaf, aku sudah salah. Tolong hentikan pertengkaran ini ya? Aku tahu aku nggak seharusnya bicara begitu dan melakukan itu ....""Aku ... aku terlalu merindukanmu, makanya bertindak gegabah .... Kali ini aku datang cuma supaya kamu pulang bersamaku ....""Pulang?" Nadine mendongak dan menatap Reagan dengan sinis. "Untuk apa pulang? Jadi perusak hubungan orang?""Asalkan kamu kembali, aku bakal langsung putusin Eva.""Aku menolak." Nadine menggeleng."Nadine ...." Ketika Reagan mencoba mendekat, Nadine langsung berbalik dan berlari ke kamarnya. Kemudian, dia menutup pintu.Entah berapa lama kemudian, setelah tidak terdengar suara apa pun, Na
Jelas-jelas tidak ingin berpisah, tetapi masih sok kuat. Sekarang, Reagan yang serbasalah sendiri. Benar-benar cari masalah!....Kemarin, Reagan mengacak-acak rumah Nadine. Setelah Reagan pergi, Nadine pun bersih-bersih. Karena sudah malam, Nadine tidak pergi ke perpustakaan lagi dan hanya menyelesaikan dua set soal untuk mengakhiri pelajaran hari ini.Malam hari, Nadine membuat dua gulung gimbap untuk diri sendiri. Sisanya cukup banyak. Setelah membereskan dapur, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.Nadine berniat menyelesaikan satu set soal lagi sebelum tidur. Sesudah menyetel alarm, tiba-tiba ponsel Nadine berdering.Nadine melirik sekilas. Itu adalah permohonan pertemanan. Nama yang ada di layar adalah Stendy. Nadine pun mengejapkan mata dengan heran. Untuk apa Stendy menambahkan kontaknya?Stendy memang teman Reagan, tetapi mereka tidak dekat. Nadine pernah makan beberapa kali dengan Stendy, tetapi mereka hampir tidak pernah mengobrol.Setelah merenung sejenak, Nadine akhirnya
Saat ini, Nadine tertarik pada sesuatu di rak lain, sama sekali tidak menyadari bahwa dua pria di sampingnya sedang berkonflik sengit.Setelah Arnold selesai membayar, dia menoleh dan melihat Nadine sedang menatap sebuah kue fondan di dalam etalase. Lima tingkat, setiap tingkat menampilkan figur karakter yang unik."Bagus?""Bagus." Nadine mengangguk. "Dibuat dengan sangat detail."Dia menunjuk ke tingkat kedua. "Pak, menurutmu orang yang berkacamata dan mengerutkan dahi ini mirip kamu nggak?"Arnold menatapnya sejenak, lalu menyahut dengan serius, "Nggak mirip. Aku 'kan nggak sering mengerutkan dahi."Nadine berujar, "Tapi, bisa jadi kamu sering mengerutkan dahi tanpa sadar? Misalnya, sekarang ini."Arnold langsung termangu, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan. Dia mendadak merasa malu dan canggung."Hahaha ...." Nadine tidak bisa menahan tawa. "Kamu lucu juga."Saat mereka bertiga baru saja keluar dari toko kue, ponsel Arnold berbunyi."Halo, Ibu?""Arnold, pulang ke
Selesai makan, Inez pergi membayar tagihan.Keduanya hampir tidak menyentuh makanan mereka, masih tersisa cukup banyak di meja.Kedua ibu ini tenggelam dalam pikirannya masing-masing, dengan kekhawatiran yang berbeda. Sementara itu, Stendy dan Arnold bisa dibilang sama-sama mendapatkan hasil yang memuaskan.Yang satu membeli jas, yang satu membeli sepatu kulit. Semuanya berjalan lancar.Stendy menawarkan, "Di depan ada jual teh susu, mau beli?"Arnold juga menawarkan, "Toko kue di sebelah situ cukup terkenal ...."Keduanya berbicara hampir bersamaan. Kemudian, mereka saling bertukar pandang, seakan-akan ada ketegangan yang tak terlihat.Stendy bertanya, "Nad, kita beli teh susu?"Arnold bertanya, "Mau lihat-lihat nggak?"Dua pria dewasa itu sama-sama menatapnya dengan penuh harap.Nadine sungguh kehabisan kata-kata. Lagi-lagi begini!"Gimana kalau kalian pergi beli sendiri dan aku ke toilet?"Stendy mengangguk. "Oke." Kemudian, dia menoleh ke Arnold dan bertanya dengan nada santai, "Pa
Begitu mendongak dan melihat Nadine, wajah yang awalnya tanpa ekspresi langsung tersenyum tipis.Nadine berpikir, karena ini untuk orang tua, memilih sepatu tidak bisa hanya mempertimbangkan modelnya, tetapi juga kenyamanannya. Namun, tidak bisa juga hanya mengutamakan kenyamanan dan mengabaikan modelnya.Dia teringat pertemuan di toko buku. Pria tua itu bertongkat, mengenakan rompi, rambut tersisir rapi, memancarkan aura seorang gentleman dari ujung kepala hingga kaki. Dalam hal berpakaian, beliau pasti juga sangat memperhatikan detail.Karena itu, Nadine menghabiskan lebih banyak waktu untuk memilih.Umumnya, bahan kulit untuk sepatu hanya ada beberapa jenis. Dia menunjuk 2 sepatu yang paling nyaman, lalu meminta pramuniaga untuk mengeluarkan semua model yang tersedia dengan bahan tersebut.Sementara itu, Arnold pergi ke toilet.Tak lama kemudian, Nadine sudah memilih 2 pasang."Menurutku dua-duanya bagus. Pak Stendy, kamu pilih salah satu?"Stendy langsung mengeluarkan kartu. "Pilih
Arnold berpikir sejenak. "Abu muda saja."Mata Nadine langsung berbinar-binar. Itu juga warna yang dia sukai!Arnold memberi isyarat pada pramuniaga. "Ambil yang ini, tolong gesek kartunya."Setelah Arnold berganti kembali ke pakaiannya sendiri, Nadine menunjuk ke kerah bajunya. "Ini belum rapi."Arnold mencoba merapikannya, tetapi tetap belum benar. Akhirnya, Nadine mengambil inisiatif untuk membantunya.Arnold cukup tinggi, jadi Nadine harus sedikit berjinjit. Keduanya berdiri sangat dekat, begitu dekat hingga bisa merasakan napas satu sama lain.Aroma khas dari tubuh Nadine meresap ke dalam indra penciuman Arnold. Jantungnya berdetak kencang, bahkan dia refleks menelan ludah.Arnold bisa merasakan dengan jelas jari-jari ramping Nadine yang merapikan kerah bajunya. Ujung jari hangatnya tanpa sengaja menyentuh kulit lehernya, mengirimkan sensasi seolah-olah ada aliran listrik yang menyentuh jiwanya.....Hari ini, Yenny ada janji makan malam dengan seseorang. Karena masih ada waktu, d
Henry langsung bersemangat. Bukan hanya memasukkan patung tanah liat ke dalam kotak, tetapi juga memberikan tas kertas sebagai tambahan."Hati-hati di jalan! Kapan-kapan mampir lagi ...."Henry melambaikan tangan ke arah punggung Arnold, lalu mendekat ke layar ponsel dengan bangga dan berkata, "Lihat, 'kan? Aku sudah bilang kalau aku jago membuat patung. Kakak tadi jelas sangat menyukainya!"[ Ehem! Sadar sedikit! Yang dia suka itu wanita tadi, bukan patung tanah liatmu! ][ Jadi, cowok tadi diam-diam kembali sendiri untuk membeli patungnya? ][ Aku tebak mereka berdua pasti masih belum mengungkapkan perasaan untuk satu sama lain. ][ Detektif di atas, aku salut padamu! ]....Nadine melihat Arnold kembali dengan sebotol air, tetapi di tangannya ada satu tas tambahan. Dia tidak bisa menahan rasa penasaran. "Itu apa?"Arnold menjawab dengan santai, "Cuma beli sedikit barang sekalian."Nadine tidak berpikir terlalu jauh. Mereka menyeberang dan berjalan menyusuri pusat perbelanjaan di dep
"Maaf!""Maaf ya ...."Keduanya berbicara dan mundur pada saat yang sama. Tatapan mereka bertemu. Selain rasa canggung, ada juga sedikit kehangatan yang mulai muncul."Kamu ....""Aku ....""Pak, gimana kalau kamu bicara dulu?"Arnold menunduk sedikit, seperti sedang berpikir atau mungkin ragu. Saat dia mendongak, sepertinya dia sudah mengambil keputusan besar. "Nad, sebenarnya aku ....""Lihat, sudah jadi ...." Suara santai dari pemilik lapak terdengar.Nadine yang wajahnya sudah merah karena malu, merasa seperti diselamatkan. Dia buru-buru menoleh ke arah pemilik lapak. "Secepat ini?""Gimana lagi? Aku memang seberbakat itu." Sambil menanggapi, dia menyodorkan patung tanah liat ke arah Nadine.Nadine hanya melirik sekilas, lalu sudut bibirnya langsung berkedut. Benar saja, tidak boleh berharap terlalu banyak.Patung-patung sebelumnya memang tidak begitu jelas, tetapi setidaknya masih memiliki fitur wajah. Namun, yang ini ....Tidak ada wajah, hanya dua bentuk manusia yang samar, deng
Arnold mengamati figur tanah liat itu dengan saksama. Sekilas memang terlihat seperti sosok manusia, tapi bentuknya hanya berupa garis besar yang samar. Bahkan, jika dibilang berbentuk manusia pun rasanya agak dipaksakan.Apalagi tentang detail ekspresi dan gerakannya, tidak ada satu pun yang terlihat! Akhirnya, Arnold mengutarakan pendapatnya dengan jujur. "Hmm ... sepertinya dibuat agak asal-asalan. Aku nggak bisa tebak."Dia melirik ke arah kerajinan lain yang dipajang di lapak itu. Ternyata, semua figur tanah liat di sini memiliki gaya yang sama. Singkatnya, mereka semua jelek. Namun, yang lebih aneh lagi, tidak ada penjual di lapak ini.Di sana hanya ada sebuah tripod dengan sebuah ponsel terpasang di atasnya. Yang lebih mencurigakan lagi, kamera ponsel itu menghadap ke arah mereka.Nadine berpikir sejenak, lalu berkata, "Memang terlihat asal-asalan, tapi kalau dilihat dari sudut ini ... sepertinya agak mirip Cupid, bukan?"Begitu dia selesai berbicara, seseorang tiba-tiba muncul
"Sudah makan siang?" tanya Arnold."Belum. Kamu?""Kebetulan, aku juga belum."Tatapan mereka bertemu. Sesuatu yang disebut "kekompakan" perlahan menyelimuti mereka.Dua puluh menit kemudian ....Nadine dan Arnold duduk di sebuah restoran barbeku. Di atas panggangan, lemak dari potongan daging sapi mulai meleleh dan mengeluarkan suara desisan menggoda.Daging yang sedang dipanggang itu berwarna keemasan dengan sedikit bagian yang renyah, menciptakan perpaduan sempurna antara lemak dan daging. Dengan gerakan terampil, Arnold membalikkan daging beberapa kali, memastikan bagian luarnya matang sempurna.Kemudian, dia mengambil selembar selada segar, meletakkan daging di atasnya, membungkusnya dengan rapi, lalu menyodorkannya ke arah Nadine.Nadine yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, tidak langsung menyadari. Ketika mendongak, dia terkejut sesaat. "Pak Arnold, aku bisa ambil sendiri ...."Namun, Arnold tidak menarik kembali tangannya. "Buka mulut."Nadine terdiam.Arnold terkekeh
Nadine bercanda, "Kak, kamu mau berinvestasi di semua proyek laboratorium kami hanya dengan 200 juta? Murah sekali!"Aditya tertawa. "Mana berani aku punya mimpi sebesar itu? Satu proyek saja sudah cukup!"Karena dia sudah berbicara sejauh ini, Nadine akhirnya menerima uang itu.Aditya sendiri tidak pernah menyangka bahwa 200 juta yang dia berikan begitu saja dengan alasan sederhana ini, suatu hari nanti akan membawa keuntungan yang luar biasa besar baginya.....Setelah laboratorium baru mulai beroperasi, laboratorium sementara di Universitas Teknologi dan Bisnis tidak lagi digunakan. Dulu, Moesda berbaik hati meminjamkan tempat itu kepada mereka. Meskipun itu lebih karena koneksi dengan Arnold, Nadine tetap sangat berterima kasih.Oleh karena itu, dia membeli bunga dan buah-buahan pada hari Sabtu, lalu datang langsung untuk mengembalikan kunci laboratorium serta mengungkapkan rasa terima kasihnya.Kantor Moesda berada di lantai tiga gedung administrasi Universitas Teknologi dan Bisni