Seekor ular tiba-tiba melompat keluar dari kotak! Tubuhnya berpola lingkaran hitam dan putih dengan ekor yang panjang dan ramping, jelas seekor ular berbisa! Nadine segera bereaksi dan melemparkan kotak itu.Namun, ular itu sudah terangkat tinggi dan memperlihatkan taringnya yang siap menyerang. Pembawa acara tampak pucat ketakutan dan memegang mikrofon sambil berteriak. Suasana menjadi kacau. Orang-orang langsung mundur karena ingin menjauh dari bahaya.Nadine tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Dia hanya bisa menyaksikan dengan ngeri saat ular berbisa itu melompat ke arah pergelangan tangannya. Tepat pada saat itu, muncul dua sosok yang melompat secara bersamaan.Reagan yang berada lebih dekat dengannya, langsung menarik Nadine dari bahaya sebelum Stendy mendekat. Namun, Reagan sendiri malah menjadi sasaran gigitan ular itu di bagian tengkuknya."Awas!""Jangan!"Nadine dan Eva berseru bersamaan. Nadine berada dalam pelukan Reagan, sedangkan Eva melompat ke depan dan mengguna
Mulai saat ini, Reagan telah didiskualifikasi.....Eva memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik. Ditambah dengan penanganan yang tepat berupa serum, kini kondisinya telah berangsur-angsur stabil. Setelah pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit dan memastikan tidak ada masalah serius, Reagan dan Eva pun kembali ke pulau.Untuk berjaga-jaga, Reagan mengatur seorang dokter untuk menemani mereka demi menjaga kesehatan Eva. Di kamar, Eva terbaring lemah di tempat tidur sementara dokter memeriksanya. Reagan duduk di sisi tempat tidur. Beberapa kali dia ingin pergi untuk merokok, tetapi Eva menahannya."Sayang, aku takut ...," gumam Eva lemah. "Kamu jangan tinggalkan aku sendiri, ya? Gimana kalau ada ular lagi yang menggigitku? Huhu ...."Mengingat bagaimana Eva memilih mengorbankan diri untuk menyelamatkannya, hati Reagan langsung luluh. "Baiklah, aku nggak akan pergi. Kamu istirahat saja, biarkan dokter periksa."Eva mengangguk dengan mata berkaca-kaca.Setelah dokter selesai memeriksa da
"Aku mencintaimu seperti kamu mencintai Kak Nadine. Kamu nggak bisa memilikinya dan aku juga nggak bisa memilikimu. Jadi, kalau kamu tanya apa yang kuinginkan, aku hanya ingin kesempatan untuk berada di sisimu."Eva berbicara dengan suara lembut dan matanya memancarkan ketulusan. Selain itu, dia tampak begitu ... rapuh. Reagan merasakan sedikit getaran di hatinya. "Tenang saja, kelak aku akan menjagamu dengan baik. Nggak akan biarkan kamu terluka."Eva tersenyum tipis sambil bersandar di dadanya. Dia memeluk lengan Reagan dengan erat dan berkata, "Aku tahu, aku juga selalu percaya seperti itu."Reagan mempererat pelukannya, tetapi ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Perasaan yang membuat dadanya terasa sesak ... tetapi dia tidak tahu kenapa.....Setelah insiden besar di acara tersebut, staf hotel segera menangani situasi dengan cepat. Karena insiden ini menyangkut keselamatan tamu, manajer hotel langsung melaporkan kejadian itu ke pihak berwenang. Malam itu, polisi datang untuk m
Pemilik toko yang tampaknya mengenali Nadine sebagai sesama orang Florasia, langsung menyambutnya dengan hangat, "Kamu punya selera yang bagus, ya. Patung-patung ini semuanya buatan tanganku sendiri. Kalau kamu bawa pulang sebagai oleh-oleh, pasti cocok untuk hadiah."Nadine tersenyum dan setelah menanyakan harganya, dia berkata, "Baiklah, bungkuskan untukku.""Siap!" jawab pemilik toko sambil membungkuskan patung itu dan memasukkan sebuah kartu pos ke dalam tas. "Kalau ada hal yang ingin kamu katakan tapi susah diungkapkan, tulis saja di sini."Nadine hanya mengangguk pelan. Meskipun dia merasa tidak perlu karena tidak ada hal yang sulit diungkapkannya, menolak pemberian itu juga rasanya tidak sopan.Setelah kembali ke penginapan, Nadine mandi dan melihat tas belanjaan di atas meja. Dia mengeluarkan kartu pos itu yang menampilkan pemandangan laut indah di Madagar, lalu meletakkannya dengan sembarangan di atas meja. Lagi pula kartu itu juga tidak akan terpakai.....Keesokan paginya, S
Saat Stendy pergi, dia kebetulan berpapasan dengan Reagan yang datang ke restoran untuk sarapan. Reagan mengerutkan alis, dengan diam-diam mengamati sekeliling, tetapi tidak melihat Nadine."Sayang, kamu lagi nyari apa?" tanya Eva berpura-pura tidak tahu sambil melihat Reagan yang tampak berkeliling.Reagan menarik pandangan dan menatapnya. "Kakimu sedang terluka, seharusnya nggak perlu memaksakan diri datang ke sini.""Meskipun ada yang bisa mengantar makanan ke kamar, aku sudah terlalu lama berbaring dan ingin keluar menghirup udara segar. Kalau nggak, rasanya seluruh tubuhku akan berjamur ...," katanya sambil menjulurkan lidahnya dengan manja.Reagan mengangguk pelan. "Mau makan apa?""Sandwich dan susu. Terima kasih, Sayang ...."Siang harinya, Reagan mencari Nadine di empat restoran di pulau itu, tetapi tidak menemukannya. Sore harinya dia berjalan-jalan di tepi pantai, tetapi tetap saja tidak bertemu dengan Nadine. Menjelang malam, dia akhirnya melihat Kelly di salah satu restora
Mengetahui perbedaan suhu yang cukup besar antara kedua tempat, Nadine sudah mengenakan jaket panjang berbulu sebelum pesawat mendarat. Namun, tetap saja itu belum cukup.Beberapa hari yang lalu, hujan es baru saja turun. Di pepohonan serta tiang listrik terdapat tetesan es yang menggantung. Begitu tetesan hujan gerimis mengenai tubuh, pakaian yang basah mulai membeku menjadi lapisan es.Jalan ini biasanya sangat ramai. Namun, karena saat ini adalah musim dingin dan waktu sudah larut malam, Nadine kesulitan untuk menemukan taksi.Dengan tubuh yang gemetar karena kedinginan, dia mengeluarkan ponsel dan memeriksa posisi taksi online yang dipesannya. Tiga menit yang lalu tertulis bahwa mobil tersebut akan tiba lima menit lagi, tetapi sekarang malah berubah menjadi setengah jam.Melihat warna peta yang memerah, dia tahu bahwa sopir taksi itu terjebak macet. Saat sedang ragu-ragu apakah hendak membatalkan pesanan, muncul sebuah mobil yang berhenti perlahan-lahan di sampingnya.Begitu jendel
Nadine tersenyum ceria sambil membela selera pilihannya, "Mana ada. Lihat saja ekspresinya, mirip sekali, 'kan?" Dia mengayun-ayunkan boneka kecil itu dan Arnold pun tertawa."Kalau sekarang sih, sudah nggak mirip lagi," jawabnya sambil menggeleng. Akhirnya, Arnold tetap menerima hadiah itu dan berterima kasih.Nadine menjawab dengan santai, "Sama-sama, lampunya sudah hijau ...."....Setibanya di rumah, hari sudah lewat tengah malam. Sebelum berangkat, Nadine sudah memastikan rumahnya bersih dan rapi. Sebelum kembali ke negara asal, dia juga memesan layanan kebersihan untuk memastikan semuanya siap saat dia pulang. Rumahnya tidak tampak seperti tempat yang ditinggalkan beberapa hari.Setelah mandi, Nadine pun rebahan di tempat tidurnya sambil menikmati aroma segar dari sabun mandi dan memejamkan mata dengan puas. Mau pergi ke mana pun, rumah tetap merupakan tempat paling nyaman.Di sisi lain, Arnold masih belum tidur. Proyek penelitiannya sudah memasuki fase pertama dan dia sangat si
Pukul 10 malam, salju kembali turun dengan deras. Arnold menutup payungnya dan salju yang menumpuk di atasnya pun berjatuhan. Tak lama, butiran salju yang menempel meleleh menjadi air.Eksperimen di laboratoriumnya mengalami masalah bertubi-tubi, sehingga Arnold merasa agak lelah mengatasinya.Saat menjelang akhir tahun, suasana tahun baru semakin terasa. Sudah beberapa hari ini Arnold tidak bisa tidur nyenyak. Kali ini, karena data eksperimen akhirnya mencapai nilai yang aman, dia memutuskan untuk memberikan dua hari liburan bagi seluruh tim.Arnold mengeluarkan kunci dan hendak membuka pintu. Namun, di belakangnya terdengar suara pintu terbuka.Cahaya lampu yang hangat bersinar dari celah pintu dan menyinari lorong yang gelap tersebut. Setelah itu, terdengar suara Nadine yang hangat menyapanya."Cepat sekali Pak Arnold pulang hari ini. Cucu perempuan dari bibi lantai tiga baru saja lahir. Tadi sore dia mengantarkan telur merah ke sini. Jatahmu dititipkan padaku. Tunggu sebentar ya, b
Langit telah gelap sepenuhnya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan konferensi akademik itu pun sampai pada penghujung acara. Saat pembawa acara menyebutkan nama Arnold, semua mata tertuju padanya. Dia melangkah ke atas panggung, bersiap menyampaikan pidato penutup.Di tengah pidatonya, ponselnya bergetar dua kali. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk menjawab.Entah mengapa, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya. Kelopak matanya juga berkedut tanpa henti. Arnold buru-buru merangkum beberapa topik utama konferensi. Gaya penyampaiannya tetap mantap, pandangannya luas, dan isi pidatonya berbobot.Para hadirin mendengarkan dengan antusias dan terus mengangguk.Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mendengarkan laporan-laporannya, jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Arnold. Biasanya, Arnold memaparkan materi dengan runtut dan terperinci. Namun hari ini, dia seperti ingin buru-buru menyelesaikan semuanya.Setelah mengakhiri pidatonya dengan s
Rasanya Kaeso ingin melompat untuk memberikannya tamparan. "Kamu bodoh ya? Sudah jam segini, staf kebun pasti sudah pulang! Kamu kira bisa ketemu mereka?"Marvin menggaruk kepala, ragu sejenak. Dia akhirnya memutuskan, "Entah bisa atau nggak, tetap harus dicoba. Kita nggak bisa cuma diam saja!"Tanpa menunggu tanggapan dari Kaeso, dia langsung berbalik dan berlari ke tempat staf biasanya berada.Menyadari tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka harapkan dari Kaeso, Darius dan Mikha memutuskan untuk terus melanjutkan pencarian mereka.Namun, ini aneh. Sepanjang perjalanan, mereka sudah melintasi hampir seluruh zona A, tetapi tak menemukan satu orang pun.Mikha hampir menangis. "Gimana ini? Kak Nadine hilang hampir 2 jam dan kita masih mutar-mutar tanpa solusi!"Melihat air mata Mikha mulai berlinang, Darius yang awalnya masih bisa tenang, akhirnya benar-benar panik juga."Kamu ... kamu jangan nangis, kita 'kan sedang berusaha ....""Tapi, sudah ada solusinya belum? Belum! Hiks .... A
"Oke!"Tanpa membuang waktu, Mikha dan Darius langsung berlari ke arah zona A, area terdekat yang kemungkinan masih ramai.Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Kaeso dan rombongannya. Melihat wajah keduanya yang panik, Kaeso segera menebak ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, mengingat hubungan mereka selama ini tidak akur, dia sengaja menghalangi jalan mereka."Eh, kenapa buru-buru begitu? Mau ke mana sih? Cerita dong," ucapnya dengan nada mengejek.Mikha sudah malas berurusan dengannya. Kalau ini situasi biasa, dia pasti akan membalas dengan beberapa sindiran tajam. Namun, sekarang yang ada di kepalanya hanya keselamatan Nadine.Namun, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Kaeso ini sangat pintar cari muka. Di perjalanan tadi, Kaeso terus mengobrol dengan dosen pembimbing. Mungkin dia punya nomor kontaknya?"Kaeso, kamu tahu nomor dosen pembimbing nggak? Kita butuh bantuan mereka, ini benar-benar darurat!"Kaeso mengangkat alis dan memutar bola matanya. Darurat ya .... "Kebetulan ba
Nadine hanya bisa mencari tempat untuk berteduh. Semua orang tahu bahwa pohon dapat menarik petir, jadi berlindung di bawahnya bukan pilihan.Dalam kilatan cahaya saat petir menyambar, langit sesaat menjadi terang. Nadine melihat tidak jauh dari sana ada sebuah batu besar setinggi pinggang, dengan bagian tengahnya cekung membentuk celah alami. Meskipun sempit, jika dipaksakan, mungkin cukup untuk satu orang berteduh.Hujan semakin deras. Rintikannya menghantam tubuh Nadine hingga terasa agak menyakitkan. Dia mempercepat langkahnya, berusaha berjalan menuju batu itu sesuai perkiraan arah.Namun, tepat saat hampir sampai, dia malah terpeleset. Dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh ke depan.Tempat ini adalah lereng yang cukup curam. Begitu jatuh, tubuhnya langsung terguling ke bawah tanpa bisa dihentikan. Dia refleks menutup kepala dan wajah dengan tangan, mencoba melindungi diri.Satu-satunya hal yang sedikit melegakan adalah lereng ini ditumbuhi tanaman sehingga terasa cukup e
Itu adalah hutan entada yang sangat besar!"Ayo cepat ke sini! Di depan ada hutan entada yang sangat besar!" seru Nadine dengan gembira. Mendengar itu, Mikha dan Darius segera berlari mendekat.Entada adalah tanaman kacang yang sangat terkenal. Asalnya dari Provinsi Walo, Florasia, lalu diperkenalkan ke daratan utama. Biasanya, entada tumbuh di lereng gunung atau di hutan campuran, merambat di pohon-pohon besar.Darius mendongak, menatap pohon-pohon entada yang menjulang. Batangnya yang tebal saling melilit, akarnya menjulur hingga 50 meter ke sumber air, membentang di antara pepohonan seperti raksasa yang sedang bersembunyi.Awalnya Darius hanya terkagum, tetapi sekarang dia merasa sangat senang. "Entada bisa tumbuh hingga satu meter panjangnya. Bisa digunakan sebagai obat atau koleksi, dan harganya di pasaran sangat mahal. Ini jelas bisa dihitung sebagai tanaman langka."Nadine mengangguk. "Tapi, hutan entada ini cukup luas. Menemukan entada mungkin nggak mudah. Matahari juga hampir
Darius sampai tidak tahu harus merespons apa.Nadine berujar, "Masih ada banyak waktu tersisa, kita coba cari tanaman langka saja."Siapa yang tidak ingin mendapatkan nilai penuh?Mikha berkata, "Ayo, ayo! Sebenarnya dapat 100 atau 80 poin itu nggak terlalu penting buatku, yang penting aku bisa jalan-jalan bareng kalian ...."Setelah beristirahat sebentar, mereka bertiga kembali bergerak. Tanaman langka tidak memiliki daftar tetap seperti soal terbuka. Mereka hanya menemukan tanaman yang diakui sebagai spesies langka.Namun, kali ini pencarian mereka tidak semudah sebelumnya. Menjelang senja, langit mulai gelap dan Mikha kelelahan sampai terengah-engah. "Kita sudah menyusuri hampir 10 zona kecil, 'kan? Nggak ada tanaman langka yang terlihat. Kapan kita baru bisa menemukannya? Aku lapar, mau makan dulu ...."Akhir-akhir ini, Mikha sering diajak Darius untuk lari pagi. Entah karena itu atau alasan lain, dia merasa lebih cepat lapar dibanding sebelumnya. Kini, kakinya terasa lemas dan tid
Di sampingnya, ada Kaeso yang tersenyum patuh sambil membawa termos air. Di belakangnya, Marvin membawa banyak barang bawaan.Nadine mengalihkan pandangannya. Lagi pula, dia tidak begitu akrab dengan Jinny."Kak Nadine!" Mikha berlari dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Di punggungnya, ada tas ransel besar yang terlihat penuh dan berat. Di dalamnya berisikan tabir surya, obat nyamuk, topi, air, dan tentu saja camilan yang tidak boleh ketinggalan.Mikha berkata, "Aku sudah menyiapkan banyak, nanti kita makan bareng ya."Nadine mengangguk. "Oke.""Eh? Darius mana? Dia belum datang?" Karena takut terlambat, Mikha berlari sepanjang jalan dan bahkan tiba 5 menit lebih awal.Darius yang sudah tiba lebih dulu, menatapnya dan membalas, "Dari mana datangnya kepercayaan dirimu kalau aku akan lebih telat darimu?"Mikha mencebik. "Datang 2 menit lebih awal juga bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, oke? Aku cuma nggak sengaja ketiduran sebentar tadi. Omong-omong ... kenapa tas kalian kecil
Kenangan yang tertidur kembali terbangun. Beberapa potongan ingatan melintas di benak Inez. Dia kembali teringat pada sepasang mata putus asa yang penuh air mata, mata yang sudah berkali-kali menghantuinya dalam mimpi buruk.Dengan suara serak, dia berkata, "Aileen diculik karena musuh keluarga ingin balas dendam. Apa hubungannya denganku? Hanya karena aku pergi bersamanya saat itu, lalu tiba-tiba kehilangan dia? Jadi, ini salahku? Kamu pikir itu adil?""Kalau aku tahu ini akan terjadi, lebih baik aku saja yang diculik waktu itu. Mungkin sekarang kakek dan nenekmu akan terus mengingat aku, bukan dia."Inez tampak terjebak dalam pusaran kenangannya sendiri. Matanya kosong, air matanya mengalir tanpa henti, seakan-akan tenggelam dalam rasa bersalah yang mendalam.Melihat ibunya menangis seperti ini, Stendy akhirnya merasa tidak tega. Teringat bahwa belakangan ini Safir sangat terobsesi dengan novel misteri berjudul Seven Days, dia pun memberi ibunya sebuah saran."Nenek akhir-akhir ini s
Siapa sih anak konglomerat yang waktu muda tidak pernah bertingkah liar? Namun, jangan sampai kebablasan dan malah menghancurkan diri sendiri.Ada beberapa hal yang sebenarnya Inez ingin katakan dengan terus terang, tetapi karena itu hanya sebatas dugaan tanpa bukti, dia memilih untuk memberi peringatan secara halus."Soal urusan pria dan wanita, kamu tetap harus berhati-hati. Jangan karena sudah punya banyak pengalaman, jadi menganggap remeh wanita. Hati-hati kalau suatu hari nanti justru kamu yang terluka paling dalam."Stendy bingung. "Ibu, sebenarnya kamu mau bilang apa?"Inez tidak ingin membahas lebih lanjut, jadi dia mengalihkan pembicaraan ke hal lain. "Beberapa hari lalu, aku sudah menghubungi Dokter Cedric. Dia bilang kondisi mata dan kesehatan nenekmu sudah jauh membaik. Atur waktumu, aku ingin bertemu mereka."Cedric adalah dokter spesialis mata terkenal di rumah sakit milik Keluarga Sanjaya dan juga dokter pribadi Safir selama bertahun-tahun.Inez sudah lebih dulu memberi