Dengan langkah cekatan, Xuan Li melintasi bayangan malam tanpa suara, tubuhnya menyatu dengan kegelapan. Ia bergerak luwes, menghindari cahaya obor yang melingkar di tangan para penjaga. Teknik Langkah Hantu yang dia pelajari dari Tabib Hantu Wu selama bertahun-tahun terbukti berguna."Seperti ini seharusnya," pikirnya sambil melompat ke atap tertinggi kompleks istana, pandangannya menyapu penjagaan di bawah. Gerakannya yang mulus dan cepat, membuatnya lolos dari pengawasan.Setelah beberapa saat, ia tiba di dinding luar istana. Di hadapannya, sebuah kubah transparan melingkupi kompleks istana dengan kilauan samar. Ia menyipitkan mata, merasakan tekanan energi yang dipancarkan dari pelindung itu."Armor energi..." gumamnya. Ia merentangkan tangan, membiarkan energi spiritualnya menyentuh lapisan pelindung tersebut. Namun, begitu jari-jarinya mendekat, sebuah dorongan kuat menghempaskannya mundur. Tubuhnya bergeser beberapa langkah dan nyaris jatuh."Sial, ini lebih rumit dari yang kud
Xuan Li terus berlari, napasnya memburu, hingga tiba di sebuah persimpangan lorong yang bercabang dua. Dia menghentikan langkahnya, matanya menyapu ke kiri dan kanan. Kegelapan menyelimuti kedua lorong, tak ada tanda yang bisa memberitahu mana yang mengarah ke pintu keluar. Tidak ada jejak runtuhan di sini, memberinya sedikit waktu untuk berpikir.“Dua jalan ini… mana yang benar?” Xuan Li mengusap dagunya, berpikir keras. “Jika salah satu tak memberi jalan keluar, aku hanya perlu kembali dan mencoba yang lain,” gumamnya pelan. Dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk memilih lorong di sebelah kanan terlebih dahulu. Langkahnya ringan, tetapi setiap suara kakinya menggema di dinding batu yang dingin. Tak butuh waktu lama hingga mekanisme jebakan pertama menyambutnya. Sebuah bilah tajam melesat dari dinding, hampir menyambar bahunya. Xuan Li melompat mundur dengan cepat, napasnya tertahan. “Hah… ini tidak akan mudah,” ujarnya sambil menarik napas panjang.Dengan kewaspadaan penuh
Xuan Li bersandar pada dinding batu yang dingin, menggosok pelipisnya dengan gerakan lelah. Napasnya pelan, namun berat. "Sialan," gumamnya sambil melirik wanita yang terbaring di hadapannya. “Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Kalau bukan karena nasihat Guru, aku tidak akan repot-repot menyelamatkan orang asing.”Matanya kembali mengamati ruangan sempit di sekelilingnya. Cahaya remang dari obor di sudut tembok menari pelan, memantulkan bayangan buram yang seolah mengejek kebuntuannya. Bau lembap bercampur tanah basah memenuhi udara, menyatu dengan aroma samar herbal yang ia gunakan untuk menyelamatkan wanita itu.“Dia pasti tahu sesuatu tentang tempat ini,” pikir Xuan Li. “Hanya saja, bagaimana caranya aku mendapatkan jawaban darinya? Bahkan aku tidak tahu kapan dia akan tersadar.”Namun, pikiran Xuan Li terpotong saat mendadak wanita itu bergerak. Tubuhnya yang sebelumnya diam mulai menggeliat pelan. Matanya terbuka, namun kosong, seperti kaca tanpa pantulan.Xuan
Xuan Li bolak-balik berjalan di dalam ruangan itu, seperti harimau di dalam sangkar. Raut wajahnya memancarkan kebosanan yang tak tertahankan. Matanya sesekali melirik ke arah wanita asing yang terbaring tak sadarkan diri di tengah ruangan.“Berapa lama lagi dia akan tidur?” gumam Xuan Li, memutar matanya dengan kesal. Ia mendekati dinding, bersandar dengan malas sambil menghembuskan napas panjang.Waktu terasa melambat di ruangan itu, seakan udara pun terperangkap dan berhenti bergerak. Akhirnya, tubuhnya merosot, duduk di lantai dingin dengan punggung menyandar ke dinding. Kelopak matanya mulai berat, dan tanpa disadari, ia tertidur.Matanya terbuka hanya untuk menemukan dirinya dalam situasi yang tidak mengenakkan. Sebuah kaki menekan keras dadanya, membuat napasnya sesak. Wajahnya berkerut menahan sakit, sementara mata tajam milik wanita asing itu menatapnya dengan penuh curiga.“Siapa kamu?” bentak wanita itu, suara dinginnya menggema di dalam ruangan yang sempit. Sebilah pisau
"Tabib Wu Yu sudah kembali!" seru salah seorang pengawal yang melihat kedatangan Xuan Li.Mereka menyambutnya dengan wajah tegang, menyiratkan kecemasan yang tak terungkapkan."Tuan Penasihat, apakah ada yang bisa kubantu?" tanya Xuan Li setelah memberi salam penghormatan."Benar, Tabib Muda. Tuan Putri Jing Yue telah sadar, tetapi..."Ucapannya menggantung, dan ia memutar tubuhnya dengan cepat, matanya tertuju pada dua utusan yang mendekat dengan langkah tergesa.Xuan Li pun memutar tubuhnya mengikuti arah pandang penasihat istana. Kedua alisnya bertaut, menebak sesuatu yang tidak ia mengerti."Tabib Muda, Yang Mulia Raja Jing memerintahkan kami untuk memanggilmu ke kediaman Putri Jing Yue."Banyak pertanyaan muncul di kepala Xuan Li, tetapi situasi tidak memungkinkan untuk bertanya."Baiklah, bawa aku ke sana."Xuan Li memilih untuk melihat secara langsung tentang apa yang terjadi.Penasihat istana berjalan mengikutinya di belakang. Ia belum sempat menjelaskan kepada Xuan Li tentang
Xuan Li menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Api spiritual di dantiannya mulai stabil, itulah satu-satunya senjata yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkan Putri Jing Yue.“Yang Mulia, bantu aku menegakkan tubuh putri dan memeganginya dengan kuat,” pintanya kepada Raja Jing.Tanpa sepatah kata, Raja Jing mengangguk, meskipun wajahnya memancarkan kecemasan. Ia menopang tubuh putrinya yang lemah, sementara Xuan Li duduk bersila di belakang sang putri.Xuan Li menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Putri Jing Yue. Energi spiritual hangat mengalir dari tubuhnya, menembus kulit sang putri. Aura gelap yang mengunci meridian tubuhnya bergetar, seperti makhluk yang melawan sebelum musnah.Racun belenggu jiwa itu tidak mudah ditangani. Xuan Li menggertakkan giginya, memusatkan seluruh konsentrasinya. Energi gelap itu mulai terbakar oleh api spiritualnya, sebagian lenyap menjadi abu, sementara sebagian lainnya, yang lebi
Koridor istana tampak lengang. Matahari siang menyorot terang, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Tidak ada pelayan atau penjaga yang terlihat, membuat suasana terasa ganjil."Aneh... ke mana semua orang?" pikirnya. Matanya menyisir setiap sudut, tetapi koridor itu kosong.Tanpa arah pasti, ia berjalan menuju istana utama. Namun, sesampainya di sana, ia hanya menemukan dua penjaga berdiri tegak di depan pintu besar yang tertutup rapat.“Aku ingin bertemu Raja Jing,” katanya dengan nada tegas, berharap bisa mendapatkan penjelasan.Salah satu penjaga meliriknya dari kepala hingga kaki, lalu menjawab dingin, “Raja Jing sedang tidak di sini. Seluruh penghuni istana sedang berada di Aula Merak, merayakan kesembuhan Putri Jing Yue.”Xuan Li mengerutkan kening. "Aula Merak? Merayakan? Mereka bahkan tidak memberitahuku," gumamnya dengan nada tak percaya. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia berbalik dan berjalan menuju aula yang dimaksud.Begitu sampai di halaman Aula Mera
Jenderal Liu, seorang pria bertubuh tegap dengan baju perang yang berkilauan, melangkah maju dengan wajah merah padam, penuh amarah yang tak terkendali.“Yang Mulia!” serunya, suaranya menggema di aula besar istana. “Ginseng itu terlalu berharga untuk diberikan kepada anak muda seperti dia! Apa yang bisa dilakukan seorang pemula dengan sesuatu yang begitu berharga?”Raja Jing hanya meliriknya sekilas, senyum tipis terukir di wajahnya, menunjukkan sikap santai namun penuh wibawa.“Jenderal Liu,” jawabnya dengan nada datar yang penuh tekanan, “Aku adalah raja. Keputusanku adalah mutlak.”Xuan Li menerima ginseng merah itu dengan sikap tenang. Ia menundukkan kepala sebagai bentuk hormat dan ucapan terima kasih, kemudian menyimpan ginseng tersebut dengan hati-hati. Ia sepenuhnya menyadari beratnya tanggung jawab yang kini berada di tangannya.Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Jenderal Liu melangkah maju, tatapannya seperti bara api yang menyala.“Serahkan ginseng itu!” teriaknya
Suasana di Ruang Utama Istana Api Abadi tetap tegang setelah pertemuan para tetua berakhir. Feng Ru duduk di singgasananya, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme pelan namun terukur. Matanya yang tajam menatap kosong ke depan, pikirannya terus berputar mencari jalan keluar.Keberadaan Bai Xian adalah berkah sekaligus ancaman. Ia adalah pewaris sah Klan Phoenix, namun noda yang melekat pada dirinya membuat posisinya rapuh. Jika kabar ini menyebar ke dunia luar, banyak yang akan mempertanyakan kelayakannya sebagai penerus.Dan lebih dari itu, ia belum bisa memastikan darah siapa yang mengalir dalam diri Bai Xian.Feng Ru tidak bisa mengambil risiko.Karena itu, hanya ada satu cara untuk mengamankan status Bai Xian sekaligus mengontrol situasi, yaitu pernikahan.Feng Ru menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada salah satu pelayan istana. “Panggil Bai Xian dan Xuan Li ke aula utama.”Pelayan itu segera bergegas pergi.Di sudut ruangan, salah satu Tetua mengamati
Suasana di Ruang Utama Istana Api Abadi terasa tegang. Ratu Feng Ru duduk di singgasananya dengan punggung tegak, tetapi ekspresi wajahnya suram. Matanya yang biasanya berkilau kini redup, menyimpan kemarahan dan kekecewaan yang tak terucap.Di hadapannya, para tetua Klan Phoenix berdiri dengan kepala tertunduk, tak seorang pun berani membuka suara. Keheningan mencekam, hanya sesekali dipecahkan oleh suara bara api yang berderak di tungku raksasa di sudut ruangan.Feng Ru menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan gejolak emosi di dadanya. “Aku tidak ingin membahas masa lalu Bai Xian di sini,” suaranya tenang tetapi sarat dengan ketegasan. “Ini bukan sesuatu yang perlu didengar oleh semua orang.”Tetua pertama, Feng Rui, yang berdiri di samping, mengangguk dengan hormat. “Kami memahami, Yang Mulia.”Namun, meski tidak diucapkan, semua orang di ruangan itu tahu apa yang ada di benak mereka masing-masing. Bai Xian, pewaris yang hilang selama dua puluh tahun, akhirnya ditemukan. Tapi da
Di dalam Istana Api Abadi, kediaman para pemimpin Klan Phoenix, suasana terasa hening meski udara dipenuhi kehangatan dari bara yang tak pernah padam. Aroma belerang tipis menguar di udara, bercampur dengan jejak mistis api Phoenix yang mengalir di seluruh tempat ini.Di dalam kamar yang diterangi cahaya merah keemasan, Xuan Li terbaring di ranjang batu giok api. Napasnya stabil, tetapi tubuhnya masih menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Bai Xian duduk di sisi ranjang, wajahnya menyiratkan kelegaan sekaligus kecemasan.Di luar kamar, Qing Peng berdiri dengan tangan terlipat di dada, matanya waspada terhadap setiap gerakan di lorong istana.Pemimpin Klan Phoenix, Feng Ru, yang juga nenek Bai Xian, telah memberikan tempat peristirahatan bagi Xuan Li. Sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh wibawa, ia memahami pentingnya memberi waktu bagi mereka untuk pulih sebelum membicarakan masa depan.Beberapa tetua klan sebelumnya telah menawarkan pengobatan khusus untuk Xuan Li. Mereka mengusulka
Langit di atas Bukit Obat dihiasi warna merah keemasan, memancarkan aura mistis yang membakar. Suhu di sekeliling semakin meningkat seiring riak energi yang mengguncang udara. Di pusat area itu, Xuan Li berdiri dengan tubuh berlumuran darah, napasnya berat, tetapi matanya tetap tajam.Di hadapannya, Bai Xian menatapnya dengan mata lebar. Ia tahu betapa berbahayanya ini bagi Xuan Li."Wu Yu, hentikan! Kau akan terluka!" serunya panik.Tetapi Xuan Li tidak mendengarkan. Tangannya bergetar saat energi dalam tubuhnya bergejolak hebat. Keringat dingin membasahi pelipisnya, tetapi ia tetap bertahan.Akhirnya, cairan emas bercahaya merembes keluar dari pori-porinya, melayang di udara. Itu adalah Darah Leluhur Phoenix.Para tetua Phoenix menatapnya dengan takjub, tetapi ekspresi mereka segera berubah menjadi khawatir saat Xuan Li terhuyung ke belakang, nyaris jatuh."Wu Yu!" Bai Xian buru-buru menangkapnya, tetapi Xuan Li hanya tersenyum samar.Dengan napas terengah, ia mendorong darah leluhu
Tetua berjubah merah menyipitkan mata. "Kau ingin bernegosiasi?" suaranya mengandung ejekan, seakan tak percaya bahwa seorang manusia berani berbicara sejajar dengan Klan Phoenix.Xuan Li mengangguk, tatapan matanya tetap tajam. "Ya. Aku akan menyerahkan darah leluhur Phoenix yang ada dalam tubuhku, tetapi dengan satu syarat, Bai Xian harus bebas untuk pergi bersamaku."Kata-kata itu membuat atmosfer semakin tegang. Bai Xian membelalakkan mata, sementara para tetua menatap Xuan Li dengan penuh kecurigaan."Berani sekali kau menyebutkan syarat seperti itu," geram tetua lain, seorang pria tua dengan janggut api yang berkilauan. "Putri kami adalah pewaris klan. Kau pikir kami akan begitu saja menyerahkannya kepadamu?"Tetua wanita berambut perak menatap Xuan Li dalam diam. Tidak seperti yang lain, sorot matanya lebih tajam, seakan menimbang sesuatu."Aku tidak meminta kalian menyerahkannya sepenuhnya," lanjut Xuan Li, suaranya tetap tenang. "Aku tahu betapa berharganya darah leluhur in
Langit di atas Bukit Obat masih bergejolak setelah kemunculan energi Phoenix yang membelah malam. Suasana yang seharusnya tenang kini dipenuhi tekanan mengerikan, membuat para penghuni bukit merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.Di dalam kediaman megah yang baru saja terbentuk, Bai Xian duduk di tepi ranjang, menatap Xuan Li yang tengah duduk bersila.Hawa panas dan dingin terus berputar di sekelilingnya, menandakan konflik energi di dalam tubuhnya.Xuan Li tidak stabil.Setelah menyerap sebagian energi Bai Xian, darah Phoenix yang seharusnya menjadi takdir Bai Xian malah mengalir dalam tubuhnya, bertabrakan dengan tubuh gioknya yang murni.Dua kekuatan besar itu tidak selaras, menciptakan ketidakseimbangan berbahaya.Bai Xian bisa merasakan bagaimana aura Xuan Li melonjak naik, tetapi pada saat yang sama, wajahnya sedikit pucat, menunjukkan bahwa tubuhnya sedang berada di ambang batas.“Wu Yu… kau baik-baik saja?” tanyanya pelan, suaranya penuh kekhawatiran.Xuan Li membuka matanya
Langit malam Bukit Obat seharusnya sunyi seperti biasa. Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda.Udara mendadak berubah. Suhu meningkat, seakan api tak kasatmata menyebar di seluruh penjuru langit. Angin tidak lagi berembus lembut, melainkan berputar liar seperti tarian roh-roh kuno yang baru terbangun dari tidurnya.Kemudian, semuanya terjadi dalam sekejap.Cahaya merah keemasan membelah kegelapan, melesat ke langit seperti tombak yang ditempa oleh api surgawi. Dari dalam cahaya itu, sesosok makhluk agung muncul, seorang penguasa langit yang telah lama terlupakan. Sayapnya yang menyala menebar percikan api suci ke segala arah, sementara jeritan nyaringnya menggema hingga ke sudut dunia.Di tempat yang jauh, di kedalaman wilayah tersembunyi Klan Phoenix, para tetua yang sedang bermeditasi serempak membuka mata."Ini… darah leluhur kita telah bangkit!" seru seorang tetua, suaranya bergetar antara keterkejutan dan harapan.Di sudut ruangan, seorang wanita tua dengan rambut perak yang
Angin bertiup lembut saat Xuan Li mengeluarkan artefak terbang, sebuah perahu roh dengan pola ukiran kuno yang memancarkan cahaya samar. Tanpa banyak bicara, ia melangkah ke atasnya, diikuti oleh Bai Xian dan Qing Peng.“Bersiaplah, kita berangkat,” ujar Xuan Li dengan nada datar sebelum mengaktifkan artefak itu.Wuusshh!Dalam sekejap, perahu roh melesat ke langit, meninggalkan Lembah Angin yang kini berada dalam kehancuran. Bai Xian menoleh sekali ke belakang, melihat tempat yang selama ini menjadi rumahnya, sebelum akhirnya menghela napas panjang.Qing Peng, yang masih terluka, berusaha duduk dengan stabil. “Ke mana kita akan pergi?”“Ke tempat yang aman,” jawab Xuan Li singkat.Mereka melintasi pegunungan dan hutan yang luas, hingga akhirnya memasuki wilayah utara Kekaisaran Bulan Perak. Tempat ini masih alami, dikelilingi oleh lembah hijau, aliran sungai yang jernih, serta bukit yang dipenuhi tanaman obat.Xuan Li memperlambat laju perahu roh dan akhirnya mendarat di salah satu b
Langit di atas Lembah Angin bergetar saat formasi pelindung runtuh, meninggalkan lembah itu dalam keadaan tanpa perlindungan. Para tetua yang baru saja merebut kekuasaan terperangah, menyaksikan kehancuran yang terjadi di depan mata mereka.Tetua Zhao, yang sebelumnya penuh kemenangan, kini menatap Xuan Li dengan mata membelalak penuh amarah. “Wu Yu! Kau benar-benar berani…”Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, udara di sekitar mereka berubah drastis.Wuusshh!Sebuah aura membunuh yang dingin dan mengerikan menyelimuti seluruh aula. Rasanya seperti ribuan pedang tak kasat mata menggantung di atas kepala mereka, siap menebas dalam sekejap. Para tetua yang hendak melancarkan serangan langsung membeku di tempat.Braaak!Satu per satu, mereka jatuh berlutut, tubuh mereka gemetar hebat. Beberapa di antara mereka bahkan sulit bernapas, wajah mereka memucat seolah hidup mereka sedang berada di ujung tanduk.Mata emas Xuan Li menatap mereka tanpa emosi. “Kalian ingin menyerangku