Elena duduk di tepi tempat tidur, hatinya terasa seperti dihantam gelombang kekecewaan yang begitu besar. Ucapan Alvaro tadi masih menggema di kepalanya. Begitu mudahnya pria itu mengingatkan bahwa dia hanya sebatas jaminan hutang, seakan-akan dirinya tak lebih dari barang yang bisa ditukar. Dia terlalu berharap bahwa Alvaro akan melihatnya sebagai seorang wanita, tetapi dirinya salah.Di dalam kamar mandi, Alvaro bersandar pada dinding dengan air mengalir deras membasahi tubuhnya. Dia merutuki dirinya sendiri. Dia tahu bahwa kata-katanya telah menyakiti Elena. Tatapan terpukul wanita itu sebelum dia masuk ke kamar mandi terus menghantui pikirannya. Namun, dia tak bisa menunjukkan kelemahannya. Dia tak rela jika Elena kembali ke Vincent, pria yang begitu sering menyakitinya. Alvaro menggertakkan giginya, perasaan tak nyaman mulai merayapi hatinya. Sejak kapan dia peduli pada Elena? Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, dia ingin menjauhkan wanita itu dari Vincent, dengan cara apa
“Tidak!” tolak Elena. “Kenapa?” tanya Alvaro. Elena tak mungkin mengiyakan ucapan Alvaro padanya barusan, itu artinya, dia tak akan bebas dari pria itu. Sedangkan dia ingin hidupnya kembali. Sudah cukup dia dipandang sebelah mata. Selama tinggal dengan Alvaro, Elena sadar bahwa selama ini dia melakukan kebodohan yang membuat dirinya dikendalikan oleh Vincent dan dirinya tak punya daya untuk melawan. Karena itu dia tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dia ingin mencintai seseorang tanpa harus memiliki kesepakatan apapun. Karena itu dia ingin mengakhiri semuanya. “Katakan padaku, kenapa aku harus memilihmu?” Alvaro mundur satu langkah, tetapi tatapan matanya masih tertuju pada Elena. Pria itu diam, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain beberapa saat lalu kembali menatap Elena. “Kau akan tahu nanti,” kata Alvaro. Alvaro kembali memakai jurus intimidasinya, untuk menyembunyikan kebingungannya. Pria itu masih belum yakin dengan perasaan yang dia rasakan. Apakah itu cinta
Alvaro menuangkan minuman ke dalam gelasnya dengan gerakan kasar, lalu menenggaknya sekaligus. Cairan alkohol yang membakar tenggorokannya terasa tak sebanding dengan api yang membakar hatinya.Sial.Semua yang dia lakukan, semua cara yang dia tempuh untuk membuat Elena berpaling darinya, tetap tidak mengubah kenyataan bahwa wanita itu masih memilih Vincent.Tangannya meremas gelas kosong itu dengan geram.Ia merogoh ponselnya, lalu menekan kontak Jose."Di mana kau?" tanyanya, suaranya berat oleh alkohol dan frustasi.“Aku sedang di rumah, bos. Ada apa?”"Datanglah ke klub. Aku butuh teman."Tanpa menunggu jawaban Jose, Alvaro menutup teleponnya dan kembali menuang minuman ke dalam gelasnya.Pikirannya saat ini, benar-benar berantakan karena Elena. Jose akhirnya tiba, dia melihat Alvaro yang sudah dalam kondisi mabuk. Dia duduk di sebelah pria itu, menatap gelas-gelas kosong yang berserakan di meja. Dokumen yang akan diserahkan ke Alvaro pun tak jadi dia berikan. "Bos, kau sudah te
Elena membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lelah setelah semalam sibuk menjaga Alvaro. Dia bangkit dari tempat tidur, dan melihat ke arah sofa.Alvaro masih tertidur di sana. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam, meski kantung mata di bawah kelopak matanya menunjukkan betapa lelahnya pria itu. Kemejanya kusut, dan satu lengannya terjuntai di sisi sofa.Elena menghela napas. Dia masih bisa mendengar suara Alvaro dari semalam."Kenapa bukan aku?""Kenapa Vincent?""Aku tak rela..."Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya. Semua itu hanya omong kosong pria mabuk, bukan? Alvaro hanya terbawa emosi.Namun, kenapa hatinya terasa sesak?Tiba-tiba, suara erangan pelan terdengar. Alvaro menggeliat di tempatnya, lalu mengerang sambil menekan pelipisnya."Sial... kepalaku..." gumamnya serak.Elena buru-buru mengambil segelas air putih yang sudah disiapkan Jose di meja. "Minumlah," katanya sambil menyodorkan gelas itu.Alvaro membuka matanya, me
“Tunggu!” kata Don. Langkah Alvaro pun terhenti, saat mendengar seruan ayahnya itu. Dia sedikit berbalik, menatap ayahnya itu. “Baik, aku tak akan ikut campur lagi. Tapi, kau harus berhati-hati. Kau tahu konsekuensinya jika berani menyinggung Morgan.” Alvaro tersenyum tipis, seolah tak ada apapun yang dia takuti. “Aku bisa jaga diri,” jawabnya enteng. Sambil berlalu begitu saja dari kamar ayahnya. Tetapi teriakan ayahnya masih terdengar, “Kau mungkin bisa, bagaimana dengan Elena.” Setelah itu, kepala pelayan masuk dan sibuk menenangkan Don, agar tidak terbawa emosi yang akan membuat sakitnya semakin parah. Alvaro bukan tidak mendengar peringatan ayahnya itu, tetapi dia sudah memperhitungkan semuanya. Ayahnya sudah menyukai Elena, dan itu caranya melindungi wanita itu. Yaitu dengan menjauhkan wanita itu darinya. Seperti yang dia lakukan pada ibunya. Pria itu sangat mencintai ibunya, terbukti dari semenjak ibunya pergi, Don tak pernah lagi dekat dengan wanita manapun. Ibunya adal
Setelah itu, Alvaro pergi entah kemana. Elena sendiri memilih untuk kembali ke kamar. Suara ketukan di pintu mengagetkan dirinya. Ternyata Jose di depan pintu dengan satu koper bersamanya. “Ini koper Tuan, Nyonya.”“Tinggalkan di sana, Jose. Aku akan membawanya masuk.”Jose membantu Elena memasukkan koper hingga didepan pintu. Lalu sebelum dia berbalik, Elena kembali menahan pria itu. “Apakah Tuan akan pergi?” tanya Elena, ragu-ragu.“Iya, Tuan akan ke perusahaan, Nyonya. Apa ada yang ingin disampaikan? Biar saya sampaikan ke Tuan.”“Tidak Jose, aku hanya tanya. Terima kasih.”Elena kembali menutup pintu kamar, saat Jose meninggalkannya. Karena tak ada yang dia kerjakan, Elena membuka koper itu dan menata pakaian Alvaro dari koper ke lemari pakaian. Tanpa dia sadari matahari sudah sangat terik di luar sana. Elena telah selesai merapikan pakaian miliknya dan Alvaro dari koper ke dalam lemari. Baru saja ia menutup pintu lemari, ponselnya berdering. Tubuhnya langsung menegang, saat m
Darah Elena seketika mengalir lebih cepat. Jantungnya terasa berhenti berdetak.Perlahan, ia menoleh.Di sana, berdiri seorang pria berseragam serba hitam, kedua tangannya bersedekap, matanya menatapnya dengan tajam ke arahnya.Tubuh Elena menegang. Otaknya bekerja cepat. Jika ia tidak segera bertindak, ia akan kehilangan kesempatan untuk kabur."Apa yang harus aku lakukan?" batinnya panik.Elena menelan ludah saat penjaga itu mulai melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di koridor yang sunyi, membuat jantung Elena berdebar semakin kencang.Dia menundukkan kepala sedikit, memperbaiki letak masker yang menutupi hampir setengah wajahnya. Jika pria itu mengenalinya, maka semua usaha pelariannya ini akan sia-sia.Namun, saat dia mengatur napas dan berusaha tetap tenang, sesuatu menggelitik hidungnya."Hhhtsuuuh!"Elena bersin.Seketika, penjaga itu menghentikan langkahnya."Kau sedang pilek?" tanyanya dengan nada sedikit waspada.Elena menahan napas sesaat sebelum buru-buru
Elena terkejut ketika melihat seorang wanita muda, mungkin beberapa tahun lebih muda darinya, menatapnya dengan tatapan sinis dan curiga. Rambut hitam lurus wanita itu tergerai rapi di bahunya, dan gaun merah yang membalut tubuhnya terlihat mahal. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya dingin, seolah kehadirannya adalah sesuatu yang mengganggu.Elena mengerutkan kening. Siapa dia?Wanita itu tidak menjawab, dia melipat tangan di dada dan mengamati Elena dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu siapa?" suaranya tajam, penuh kecurigaan.Elena semakin bingung. "Aku yang seharusnya bertanya seperti itu," balas Elena, suaranya tegas meskipun jantungnya berdetak kencang. "Di mana Vincent?"Wanita itu mengangkat satu alis, lalu tersenyum miring. "Oh…kau pasti Elena?" katanya, seolah namanya adalah sesuatu yang menjijikkan baginya.Wanita itu menyeringai sinis sebelum akhirnya bicara lagi, "Akhirnya kamu kembali, bagaimana apa kamu sudah memuaskan pria itu?"Darah Elena seketika membeku. Matanya menata
“Apa? Tidak mungkin!” sanggah Alvaro. Dalam beberapa bulan terakhir ini, hanya Elena wanita yang dia sentuh. Bagaimana bisa Delisa hamil. Alvaro memejamkan mata, mencoba mengingat siapa saja wanita yang dekat dengannya. Tetapi tak ada dalam ingatannya dia pernah menyentuh Delisa sekalipun. Yang ada, wanita itu yang agresif mendekatinya tetapi selalu berhasil dia gagalkan. “Jangan berkelit lagi, nikahi Delisa.” Alvaro tertawa sinis, “sampai kapanpun, tidak!” Alvaro masih teguh dengan pendiriannya. Terlebih lagi dia tidak pernah merasa menyentuh Delisa. Jelas ada sesuatu yang tidak beres. Wanita itu pasti ingin menjebaknya. “Beraninya dia,” gumamnya. “Kepala pelayan, tunjukkan video itu.” Kepala pelayan mengambil sebuah ponsel di atas meja dan kemudian mendekat ke Alvaro. Lalu dia memberikan ponsel itu pada Alvaro. Garis bibir Alvaro tertarik ke dalam. Sekarang dia benar-benar merasa yakin bahwa ini salah satu akal bulus Delisa untuk menjebaknya. “Video ini sudah di edit.” “Apakah
“Apa isi dokumen itu?” kata Kakek. Pria tua itu berdiri, dan menarik dokumen dari tangan Vincent. Elena sendiri hanya bisa menatap kedua orang yang sedang saling berebut dokumen itu. Sesaat wanita itu melirik Alvaro yang sedang menahan senyum di sampingnya. “Kira-kira apa isi dokumen itu?” batin Elena.“Lepaskan Vincent!” teriak Kakek. Tangannya menarik paksa dokumen dari tangan Vincent, terlihat jelas bahwa Vincent sangat tidak ingin Kakek mengetahui isi dokumen itu. Begitu Kakek melihat dokumen yang ada di map itu, dia seperti terpukul. Dia mundur satu langkah, dan terduduk lemas. “Vincent beraninya kau! Kau membohongiku selama ini?” Wajah Kakek sudah merah karena amarah. “Ampun Kek, ini semua bohong. Ini hanya rekayasa bajingan ini.”Vincent masih saja berkelit, dan tidak mengakui kesalahannya. “Maaf Kek, bisa saya lihat dokumen itu?” tanya Elena, penasaran. Bagaimanapun juga ini berhubungan dengan hidupnya. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kau tidak tahu tent
Keesokan paginya, Elena sudah di dapur. Dia memang sengaja bangun lebih dulu karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Alvaro. Berbeda dengan di Mansion, di Penthouse ini tidak ada satu pun pelayan. Tetapi, entah kenapa Elena merasa senang di sini. Di Mansion dia merasa seperti tahanan. Elena memasak dengan sesekali bergumam lagu kesukaannya. Sampai kemudian…“Ah!” pekik Elena, kaget. Saat Alvaro memeluknya dari belakang. Kepalanya menyusup di leher Elena. “Kau membuatku kaget, untung aku tidak memukulmu pakai ini.”Elena mengangkat alat untuk menggoreng ke atas. Tetapi sepertinya ucapannya tak berpengaruh pada pria ini. Alvaro memutar tubuh Elena menghadapnya, lalu menatapnya dengan kedua tangan mengukung tubuh wanita itu. “Kenapa tak membangunkanku?” tanya Alvaro, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Alvaro mengubah posisi kepalanya yang semula miring ke kiri jadi ke kanan. Seolah menuntut penjelasan atas pertanyaannya itu. Tetapi tatapannya masih intens ke Elena.
Bug! Pukulan demi pukulan diberikan Alvaro pada Vincent. Hingga pria itu tak sempat berdiri. Pria itu terlihat begitu marah. Kini Alvaro sudah diatas tubuh Vincent, bersiap untuk memberikan bogem mentah kembali. Vincent sudah terkapar tak berdaya di lantai, wajahnya babak belur.Elena berusaha bangkit, meskipun dia sangat membenci Vincent, dia tak mau melihat siapapun mati karenanya. Elena menahan tangan Alvaro.“Hentikan,” kata Elena, sembari menggelengkan kepalanya.Alvaro menoleh, melihat Elena yang terlihat lemas. Dia berdiri, lalu menatap Elena dengan cemas.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Alvaro. Kedua tangannya dan netranya melihat seluruh tubuh Elena. Seolah memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.Elena mengangguk. “Aku ingin pulang,” kata Elena, suaranya lemah. “Jose bereskan sisanya.”“Baik Tuan.”Alvaro segera mengangkat tubuh Elena ala bridal style dan membawanya ke mobil. Dia perlahan menurunkan Elena ke jok penumpang. Lalu duduk di sebelahnya. Dia mengambil kotak obat
Tetapi Elena memikirkan ancaman Vincent, meskipun sekarang ibunya dalam penjagaan anak buah Alvaro. Tetapi, Vincent orang yang licik. Dia bisa saja melakukan apapun untuk menyakiti ibunya. Tangan Elena terkepal. “Aku harus menemuinya, dan mengetahui apa maunya.”Elena melihat sekitarnya, Alvaro sudah pergi beberapa saat yang lalu. Bagaimana jika Vincent memaksanya ikut dengannya. Elena segera bangkit. Dia menuju dapur, dia mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai pelindung. “Sepertinya ini cukup,” kata Elena, tangannya menggenggam pisau dapur kecil. Lalu dia kembali ke kamar dan menyimpan pisau itu di tasnya. Dia membawa tas itu bersamanya, dan pergi keluar untuk menemui Vincent. Tidak perlu waktu lama, Elena sudah sampai di alamat yang diberikan Vincent padanya. Di depannya sebuah rumah makan mewah yang tidak jauh dari kawasan Penthouse Alvaro. Elena tetap waspada, dia kenal betul watak suaminya itu. Elena masuk ke rumah makan itu, dia melihat sekitar. Hanya ada beberapa tam
“Aku harus berpisah dulu, untuk itu,” batin Elena. Tetapi dia tak ingin memprovokasi pria disebelahnya. Karena itu, dia memilih diam. Selain itu, bayangan wajah Don yang terlihat sangat marah terus menghantui benaknya. Pria tua itu jelas kecewa setelah Alvaro menolak permintaannya untuk menikahi Delisa. Sejak meninggalkan rumah Don, Elena tak banyak bicara, bahkan setelah mereka sampai di gedung penthouse Alvaro. Alvaro, yang sejak tadi memperhatikan Elena, akhirnya tak tahan untuk bertanya. "Ada yang mengganggumu?" suaranya dalam, penuh ketertarikan. Elena tersentak saat merasakan sentuhan hangat di pundaknya. Dia menoleh, menatap pria itu dengan ragu. "Aku hanya kepikiran dengan ayahmu... apakah sikap kita tadi tidak membuatnya semakin sakit?" Alvaro menarik sudut bibirnya ke dalam, lalu memegang kedua pundak Elena dengan lembut. "Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," katanya, seolah ingin menghapus keraguan dari mata Elena. "Syukurlah kalau begitu," gumam Elena pelan. Mereka
Elena melihat kontrak perjanjian yang ditawarkan Alvaro saat di Penthouse tadi. Tetapi hatinya masih sedikit ragu, dia mungkin akan bisa lepas dari genggaman Vincent tapi hidupnya akan terikat dengan pria di depannya sekarang entah sampai kapan. “Tanda tangani, dia tak akan mengganggumu lagi.” Nada bicara Alvaro terdengar memaksa, tetapi juga sangat serius. “Tapi…haruskah aku?” Elena mencoba mengatakan sesuatu tetapi sebelum dia menyelesaikan bicaranya, Alvaro berbicara. “Menikah denganku, sebagai imbalannya.” Kepala Alvaro mengangguk, seolah mengerti apa yang akan dia bicarakan. Elena terdiam, menatap kontrak di tangannya. Dia memikirkan segala yang mungkin bisa terjadi. Alvaro terlihat menghela napas, lalu berkata dengan nada dingin. “Aku pilihan terbaikmu.” Elena mengangkat wajahnya, menatap pria itu. “Kenapa kau begitu yakin?” Alvaro mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Elena tanpa ragu. “Aku bisa melindungimu dari Vincent.” Elena terdiam, merem
Elena menegang saat melihat layar ponselnya. Video call dari Vincent membuat nafasnya tercekat, tetapi yang benar-benar membuat darahnya membeku adalah pemandangan di balik layar. Vincent berdiri di kamar rumah sakit ibunya, jari-jarinya dengan santai menyentuh alat bantu pernapasan yang menopang hidup wanita itu. “Apa yang kau lakukan?!” suara Elena bergetar, panik. Vincent hanya menyeringai. "Kau tahu, Elena, aku bisa membuat semuanya berakhir sekarang juga," katanya santai, sementara jemarinya melayang di atas alat bantu itu, seolah siap mencabutnya kapan saja. Elena hendak berteriak, tetapi panggilan itu tiba-tiba terputus. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melompat dari tempat duduknya dengan napas terengah-engah. "Aku harus pergi!" Alvaro yang duduk di sofa, menatapnya tajam. "Ada apa?" “Vincent—dia—dia mengancam akan membunuh ibuku sekarang!” suara Elena nyaris putus asa. "Aku harus ke rumah sakit!" Tanpa banyak bertanya lagi, Alvaro berdiri. "Aku antar." Mereka be
Siapa yang tidak kenal dengan kawasan elite di pusat kota ini. Kawasan bisnis di jantung kota yang letaknya sangat strategis, dekat dengan rumah sakit, perusahaan besar dan hunian prestige yang mewah. Dulu Elena ingin sekali tinggal di salah satu apartemen kawasan ini, karena dia tidak perlu jauh dari ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit. Tetapi Vincent selalu menolak, bukan dengan alasan harga apartemen yang mahal. Tetapi lebih karena Vincent menganggap Elena tak pantas tinggal di sana. Tetapi hari ini dia bahkan menginjakkan kakinya di penthouse termahal di gedung ini karena Alvaro. Hal ini membuat Elena semakin menyadari kebodohannya selama ini. Karena selalu tulis melayani Vincent dengan harapan pria itu akan menganggapnya sebagai seorang istri. Tetapi ternyata, bagi Vincent, dia tak lebih dari barang dagangan yang bisa dilempar kesana kemari. Karena itu, tekadnya semakin bulat untuk berpisah dengan bajingan itu. “Silakan Nyonya Elena,” kata Jose. Elena tersadar dari lam