Alvaro menuangkan minuman ke dalam gelasnya dengan gerakan kasar, lalu menenggaknya sekaligus. Cairan alkohol yang membakar tenggorokannya terasa tak sebanding dengan api yang membakar hatinya.Sial.Semua yang dia lakukan, semua cara yang dia tempuh untuk membuat Elena berpaling darinya, tetap tidak mengubah kenyataan bahwa wanita itu masih memilih Vincent.Tangannya meremas gelas kosong itu dengan geram.Ia merogoh ponselnya, lalu menekan kontak Jose."Di mana kau?" tanyanya, suaranya berat oleh alkohol dan frustasi.“Aku sedang di rumah, bos. Ada apa?”"Datanglah ke klub. Aku butuh teman."Tanpa menunggu jawaban Jose, Alvaro menutup teleponnya dan kembali menuang minuman ke dalam gelasnya.Pikirannya saat ini, benar-benar berantakan karena Elena. Jose akhirnya tiba, dia melihat Alvaro yang sudah dalam kondisi mabuk. Dia duduk di sebelah pria itu, menatap gelas-gelas kosong yang berserakan di meja. Dokumen yang akan diserahkan ke Alvaro pun tak jadi dia berikan. "Bos, kau sudah te
Elena membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lelah setelah semalam sibuk menjaga Alvaro. Dia bangkit dari tempat tidur, dan melihat ke arah sofa.Alvaro masih tertidur di sana. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam, meski kantung mata di bawah kelopak matanya menunjukkan betapa lelahnya pria itu. Kemejanya kusut, dan satu lengannya terjuntai di sisi sofa.Elena menghela napas. Dia masih bisa mendengar suara Alvaro dari semalam."Kenapa bukan aku?""Kenapa Vincent?""Aku tak rela..."Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya. Semua itu hanya omong kosong pria mabuk, bukan? Alvaro hanya terbawa emosi.Namun, kenapa hatinya terasa sesak?Tiba-tiba, suara erangan pelan terdengar. Alvaro menggeliat di tempatnya, lalu mengerang sambil menekan pelipisnya."Sial... kepalaku..." gumamnya serak.Elena buru-buru mengambil segelas air putih yang sudah disiapkan Jose di meja. "Minumlah," katanya sambil menyodorkan gelas itu.Alvaro membuka matanya, me
“Tunggu!” kata Don. Langkah Alvaro pun terhenti, saat mendengar seruan ayahnya itu. Dia sedikit berbalik, menatap ayahnya itu. “Baik, aku tak akan ikut campur lagi. Tapi, kau harus berhati-hati. Kau tahu konsekuensinya jika berani menyinggung Morgan.” Alvaro tersenyum tipis, seolah tak ada apapun yang dia takuti. “Aku bisa jaga diri,” jawabnya enteng. Sambil berlalu begitu saja dari kamar ayahnya. Tetapi teriakan ayahnya masih terdengar, “Kau mungkin bisa, bagaimana dengan Elena.” Setelah itu, kepala pelayan masuk dan sibuk menenangkan Don, agar tidak terbawa emosi yang akan membuat sakitnya semakin parah. Alvaro bukan tidak mendengar peringatan ayahnya itu, tetapi dia sudah memperhitungkan semuanya. Ayahnya sudah menyukai Elena, dan itu caranya melindungi wanita itu. Yaitu dengan menjauhkan wanita itu darinya. Seperti yang dia lakukan pada ibunya. Pria itu sangat mencintai ibunya, terbukti dari semenjak ibunya pergi, Don tak pernah lagi dekat dengan wanita manapun. Ibunya adal
Setelah itu, Alvaro pergi entah kemana. Elena sendiri memilih untuk kembali ke kamar. Suara ketukan di pintu mengagetkan dirinya. Ternyata Jose di depan pintu dengan satu koper bersamanya. “Ini koper Tuan, Nyonya.”“Tinggalkan di sana, Jose. Aku akan membawanya masuk.”Jose membantu Elena memasukkan koper hingga didepan pintu. Lalu sebelum dia berbalik, Elena kembali menahan pria itu. “Apakah Tuan akan pergi?” tanya Elena, ragu-ragu.“Iya, Tuan akan ke perusahaan, Nyonya. Apa ada yang ingin disampaikan? Biar saya sampaikan ke Tuan.”“Tidak Jose, aku hanya tanya. Terima kasih.”Elena kembali menutup pintu kamar, saat Jose meninggalkannya. Karena tak ada yang dia kerjakan, Elena membuka koper itu dan menata pakaian Alvaro dari koper ke lemari pakaian. Tanpa dia sadari matahari sudah sangat terik di luar sana. Elena telah selesai merapikan pakaian miliknya dan Alvaro dari koper ke dalam lemari. Baru saja ia menutup pintu lemari, ponselnya berdering. Tubuhnya langsung menegang, saat m
Darah Elena seketika mengalir lebih cepat. Jantungnya terasa berhenti berdetak.Perlahan, ia menoleh.Di sana, berdiri seorang pria berseragam serba hitam, kedua tangannya bersedekap, matanya menatapnya dengan tajam ke arahnya.Tubuh Elena menegang. Otaknya bekerja cepat. Jika ia tidak segera bertindak, ia akan kehilangan kesempatan untuk kabur."Apa yang harus aku lakukan?" batinnya panik.Elena menelan ludah saat penjaga itu mulai melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di koridor yang sunyi, membuat jantung Elena berdebar semakin kencang.Dia menundukkan kepala sedikit, memperbaiki letak masker yang menutupi hampir setengah wajahnya. Jika pria itu mengenalinya, maka semua usaha pelariannya ini akan sia-sia.Namun, saat dia mengatur napas dan berusaha tetap tenang, sesuatu menggelitik hidungnya."Hhhtsuuuh!"Elena bersin.Seketika, penjaga itu menghentikan langkahnya."Kau sedang pilek?" tanyanya dengan nada sedikit waspada.Elena menahan napas sesaat sebelum buru-buru
Elena terkejut ketika melihat seorang wanita muda, mungkin beberapa tahun lebih muda darinya, menatapnya dengan tatapan sinis dan curiga. Rambut hitam lurus wanita itu tergerai rapi di bahunya, dan gaun merah yang membalut tubuhnya terlihat mahal. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya dingin, seolah kehadirannya adalah sesuatu yang mengganggu.Elena mengerutkan kening. Siapa dia?Wanita itu tidak menjawab, dia melipat tangan di dada dan mengamati Elena dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu siapa?" suaranya tajam, penuh kecurigaan.Elena semakin bingung. "Aku yang seharusnya bertanya seperti itu," balas Elena, suaranya tegas meskipun jantungnya berdetak kencang. "Di mana Vincent?"Wanita itu mengangkat satu alis, lalu tersenyum miring. "Oh…kau pasti Elena?" katanya, seolah namanya adalah sesuatu yang menjijikkan baginya.Wanita itu menyeringai sinis sebelum akhirnya bicara lagi, "Akhirnya kamu kembali, bagaimana apa kamu sudah memuaskan pria itu?"Darah Elena seketika membeku. Matanya menata
Mata Elena terbelalak begitu melihat pria tua yang lebih pantas menjadi kakeknya itu. Tatapan memuakkan dari pria itu membuat Elena mual, dan bergidik takut. Dia melangkah mundur. Tetapi sial, tak ada lagi ruang di belakangnya. Jika jendela itu bisa dibuka, mungkin sekarang dia akan memilih lompat dari jendela itu.“Siapa kamu, aku tidak akan pergi kemana-mana.” Elena menatap pria itu dengan marah.Patrick menyeringai, matanya menelusuri tubuh Elena dengan cara yang membuatnya semakin ingin muntah. “Oh, gadis muda yang keras kepala. Aku suka tantangan ini.”Pria itu adalah Patrick, seorang pengusaha tua yang dikenal memiliki kekuasaan besar di dunia bisnis. Di balik citranya sebagai pria terhormat, ia sebenarnya sosok licik dan mesum yang sering memanfaatkan kekayaannya untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya, termasuk wanita. Banyak rumor beredar bahwa bisnisnya berkembang pesat karena transaksi kotor dan kesepakatan di balik layar.Dia terkenal sulit dibujuk, tetapi memiliki kel
Patrick menyeringai sinis, matanya menyala penuh kebencian saat melihat Alvaro berdiri di hadapannya. "Lihat siapa yang datang," katanya dengan nada mengejek. "Anak kecil yang selalu ikut campur urusan orang dewasa." "Berani sentuh milikku," Alvaro menatapnya tajam, rahangnya mengeras. "Kupastikan kau menyesal, Patrick." Patrick tertawa sumbang. "Kau pikir aku tak tahu siapa kau? Kau cuma bocah yang hidup di bawah bayang-bayang Don! Semua yang kau miliki, semua kekuatan yang kau pamerkan, itu hanya karena ayahmu!" Alvaro melangkah maju, tatapannya seperti hendak membunuh. "Hancurkan bajingan sepertimu, aku tak butuh ayahku." Patrick mendecak marah, wajahnya memerah. "Aku muak denganmu, bocah! Aku sudah kehilangan banyak bisnis gara-gara ulahmu. Tapi aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan membalas semua ini. Aku akan membuatmu jatuh!" Alvaro tersenyum miring. "Coba saja, kau tahu akhirnya." Adegan pertarungan antara Alvaro dan Patrick berlangsung sengit. Pistol Alvaro t
“Kamu yakin? Tidak takut?”“Aku sudah lama membiarkannya, ini saatnya menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa dia injak seenaknya.”Alvaro hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita di sampingnya itu. Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Alvaro segera keluar lebih dulu. Dengan langkah tenang, ia membuka pintu untuk Elena, membuat wanita itu menatapnya sesaat.“Keluar,” ucap Alvaro singkat.Elena menghela napas, lalu turun dari mobil. Saat mereka melangkah masuk, Jose dan beberapa pengawal berjalan di belakang mereka.Begitu sampai di lantai tertinggi gedung ini. Sebelum masuk ke ruangan Alvaro. “Jose.”“Ya, Tuan?”“Ajari dia pekerjaanmu.”Jose menatap Elena sekilas sebelum kembali menatap Alvaro, memastikan ia tidak salah dengar. “Maksud Tuan, saya harus mengajarkan pekerjaan saya kepada Nyonya?”Alvaro mengangguk tanpa ragu. “Ya.”Elena mengernyit. “Tunggu, maksudmu aku bekerja dengan Jose?”Alvaro yang semula hendak melangkah ke ruangannya,
Keesokan paginya, Elena terbangun dalam pelukan Alvaro. Pria itu mendekapnya. Karena masih kesal semalam, Elena perlahan beringsut mengubah posisi menjadi membelakangi. Namun, tak disangka Alvaro menyadari gerakannya. Sehingga saat dia berhasil mengubah posisi. Alvaro kembali mendekapnya dari belakang. “Masih marah?” Bisiknya pelan. Elena diam, tak ingin bicara. Alvaro semakin mendekatkan tubuh Elena dalam pelukannya. “Sudah pagi, aku harus pergi.”“Kemana pagi-pagi?”“Bekerja, aku sadar aku cuma wanita simpanan yang bisa kamu buang kapan saja.”Elena hendak bangun, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Alvaro. “Kita pergi bersama.”“Tidak perlu,” ucap Elena, ketus.Akhirnya Alvaro menyerah, dan membiarkan Elena pergi dari pelukannya. Berdebat dengan wanita itu saat marah tak akan bisa menang. Karena itu, dia memberikan Elena waktu untuk meredakan kemarahannya. Saat melihat Elena masuk ke dalam kamar mandi, Alvaro mengambil ponselnya di atas nakas. “Bagaimana?”“Kami sudah dapat
Pyar!Botol bir di tangannya dihantamkan ke meja kaca, pecahannya berhamburan ke lantai. Wanita-wanita di samping pria itu menjerit kecil dan mundur, sementara para pengawal langsung menodongkan pistol ke arahnya.Alvaro tetap berdiri tegak, menatap pria tua itu dengan mata dingin.Tidak ada yang berani menarik pelatuk lebih dulu.Mereka tahu siapa Alvaro.Pria yang berdiri di depan mereka bukan sekadar seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Dia adalah sosok yang namanya bergema di dunia bisnis. Orang yang tidak akan ragu mengotori tangannya jika diperlukan.Pria tua itu menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat dengan satu gerakan tangan. Seketika, para pengawalnya menurunkan pistol mereka, meskipun tatapan mereka masih penuh kewaspadaan."Jadi benar, kau lemah karena wanita itu?"Alvaro mencengkeram kerahnya dan menariknya mendekat."Omong kosong!" suaranya rendah, penuh ancaman. "Aku tak butuh bisnismu."Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah memberi isya
Delisa menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Foto-foto Alvaro dan Elena dari informan yang disewanya terpampang di atas meja.“Seharusnya aku yang ada di sana… Seharusnya aku yang dia tatap seperti itu…” gumamnya dengan suara bergetar.Tangannya mengepal erat. Sudah cukup lama menahan diri, berharap Alvaro akhirnya melihatnya, memilihnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Elena muncul dan merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya.Tidak lagi.Jika Alvaro tidak bisa menjadi miliknya, maka Elena juga tidak boleh memilikinya.Delisa tahu bahwa Alvaro bukan pria yang mudah dipermainkan. Dia tidak bisa langsung menyerang Elena secara fisik, itu terlalu berisiko. Jadi, ia memutuskan untuk menyerang dari sisi lain, yaitu kepercayaan Alvaro.“Dasar wanita jalang, kita lihat apakah Alvaro masih mau denganmu.”Malam itu juga, Delisa menghubungi seorang. “Aku punya pekerjaan untukmu,” katanya dengan nada dingin.Pria di seberang telepon tertawa kecil.“Baik.”***Ha
Elena memutar bola matanya, berusaha mengabaikan cara Alvaro menatapnya. Ia tahu pria itu sedang mencoba menggodanya lagi, dan ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak begitu saja.Elena mengernyit. “Al, pinggangku hampir patah karena ulahmu. Tidak lagi, lagi pula lukamu belum sembuh benar. Kamu ingin aku mengganti perbanmu lagi?”Alvaro menarik napas pelan, lalu dengan satu tarikan lembut, ia membuat Elena kembali terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya. Tatapan matanya yang intens membuat Elena sulit untuk berpaling."Ini salahmu.""Salahku? Bagaimana bisa?"Alvaro mulai meraba bibir Elena lembut, “kamu membuatku candu."Elena menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia ingin marah tetapi entah kenapa dia merasa tersanjung dengan pujian pria itu. Melihat Elena hanya diam, Alvaro tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya untuk menyelipkan helai rambut yang jatuh di wajahnya. “Aku tahu kamu khawatir.”Elena mendesah, akhirnya memalingkan wajahnya. “Kamu
Alvaro menatap Elena dengan intens, seolah mencoba membaca pikirannya. Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu, tetapi Elena tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Iya, dia mengkhawatirkanmu,” ucapnya santai. “Dia bertanya tentang keadaanmu dan memintaku untuk menjagamu.” “Hanya itu?” tanyanya kembali. Seolah-olah dia tak puas dengan jawaban yang diberikan Elena barusan. Alvaro terdiam sesaat, menatapnya tanpa ekspresi yang jelas. Suasana di antara mereka sedikit canggung, seakan ada sesuatu yang menggantung di udara, tetapi Elena berusaha mengabaikannya. “Beristirahatlah,” katanya akhirnya, bangkit dari tempat tidur. “Aku akan menyiapkan makanan untuk kita.” Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, Alvaro tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidur dengan gerakan cepat. Elena tersentak saat mendapati dirinya terduduk di pangkuannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Hawa panas tubuh Alvaro begitu dekat, membuat jantungnya ber
Alvaro menatap Elena dengan lembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Walau tubuhnya masih lemah, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis.Pria itu menatapnya tanpa berkata-kata. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara mesin medis yang berbunyi pelan.Lalu, tiba-tiba, Alvaro mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Elena. Jangan pergi dariku."Elena terdiam. Kata-kata Don kembali terngiang di benaknya. "Jika kau benar-benar mencintainya, tinggalkan dia."Tapi, saat menatap Alvaro yang masih menunggunya dengan tatapan serius, dia tahu… dia tidak bisa melakukannya.Perlahan, Elena menggenggam erat tangan Alvaro."Aku…tidak akan pergi," bisiknya.Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan keluar sebentar," katanya.Alvaro menatapnya sebentar, seolah enggan membiarkannya pergi, tapi akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama."Elena hanya tersenyum kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya dengan pelan.Begitu Elena pergi, Jose masuk ke
Elena membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di depan pintu—seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, penuh wibawa.Don.Ayah Alvaro.“Mari kita bicara,” suara Don terdengar dalam dan penuh otoritas.Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Di dalam ruangan, Alvaro masih terbaring lemah. Dia tidak ingin pergi jauh, tapi tatapan Don memberinya isyarat bahwa dia tidak punya pilihan.“Baik,” jawabnya pelan.Don berbalik, melangkah dengan tenang menuju lorong rumah sakit. Elena ragu sejenak sebelum akhirnya mengikuti di belakangnya.Ketika mereka sampai di area yang lebih sepi, Don berhenti dan berbalik menatapnya.“Apa kamu mencintainya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.Elena mengerjap. Dia bisa merasakan ketegangan yang begitu kuat dari cara pria itu menatapnya."Aku..." Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian.“Jika iya, tinggalkan dia.”Mata Elena terbelalak, hatinya seolah berhenti berd
Bab 68 - Elena tersentak, dia mendengar perintah Alvaro dengan jelas. Tetapi tubuhnya membeku di tempat. Semua terjadi begitu cepat, pria bersenjata lain langsung mengangkat pistol mereka.DOR!Tembakan pertama melesat, nyaris mengenai Alvaro yang dengan cekatan menjadikan tubuh pria yang tadi diserangnya sebagai perisai. Darah muncrat saat peluru menghantam dada pria itu, membuatnya limbung sebelum jatuh tak bernyawa.“Lari!” Alvaro mengulang perintahnya lebih keras, tapi Elena masih terpaku.Salah satu pria menodongkan pistol ke arahnya.DOR!Elena menjerit dan memejamkan mata, namun tubuhnya tetap utuh. Saat membuka mata, yang dilihatnya justru Alvaro—berdiri di depannya, dadanya tertembus peluru.Tubuh Alvaro tersentak ke belakang, nafasnya tercekat. Darah dengan cepat merembes dari luka di dada kirinya, mengalir membasahi kemeja yang dikenakannya.Elena menjerit, “ALVARO!”Tatapannya nanar saat melihat tubuh pria itu melemah. Alvaro masih berdiri, tapi lututnya tampak goyah. Tan