Larasati Wijaya (Rara) baru saja berusia 19 tahun. Dia seharusnya sedang menikmati masa mudanya dan berkuliah, bukan justru hamil oleh pria yang lebih tua 10 tahun darinya, Abimanyu Wicaksono (Abi). Kebersamaan mereka mengorbankan banyak hal, mulai dari murkanya orang tua Rara, diusirnya Rara hingga belum siapnya dia menjadi seorang Ibu. Di luar itu, Abi belum sepenuhnya dewasa dan belum memahami arti Rara dalam hidupnya. "Kita cukup sampai di sini aja."
View More"Selamat ulang tahun, istriku."
Abimanyu, dipanggil Abi, menciumi puncak kepala istrinya mesra. Istrinya hari itu resmi menginjak usia 19. Larasati Wijaya yang baru bangun dari tidurnya langsung kesenangan. Dia memegangi punggungnya, dan nafasnya sedikit terengah saat mencoba beranjak dari kasur. Segera Abi singkiran kue black forest yang baru dia beli semalam, dan membantu berdiri.
"Makasih, mas." Ditiuplah lilin itu, lalu memeluk Abi erat. Tapi agak terhalang oleh perut Laras yang sudah persis bola. Ada dedek bayik. Sudah 9 bulan betah di sana.
"Iya, Ra. Cuman bisa ini aja. Maapin mas ya."
Rara adalah panggilan sedari kecil seorang Larasati.
"Apa sih mas. Aku udah seneng banget tau." Rara terkekeh, mencomot kue itu dengan jarinya, diikuti matanya berbinar. "Mas beli di mana? Enak ih."
"Di deket tempat kerja. Masa? Coba sini suapin."
Manja sekali. Sudah 29 tahun masih merengek minta disuapi. Namun tetap Rara lakukan. Mereka berakhir suap-suapan di atas kasur. Black forest yang sebenarnya tidak seberapa, entah secara harga ataupun rasa, tapi bagi Rara ini luar biasa. Pasalnya gaji Abi di tempat baru tidak sebesar saat menjadi guru di SMA Bakti Persada. Mereka pun banyak berhemat, sehingga kue ini bisa dikategorikan mewah.
"Lucu juga pake tulisan. Tapi kok sebutannya mama? Kan aku baru mau otw jadi mama, belum resmi loh."
Di kue itu ada tulisan; Selamat Ulang Tahun, Mama. Ada gambar hati juga.
"Tanpa kamu ngisi pun, kamu tetep mama. Mamanya Abimanyu Wicaksono."
"Gede dong anakku, mas? Tua juga." Candanya geli.
Abi terkekeh dan menciumi pipi istrinya yang semakin hari semakin gembul saja. Jujur Abi jadi kian senang untuk mencubit dua bongkah daging itu. Pipi maksudnya. "Tua tua gini juga kamu sayang, kan?"
"Heem."
Kalau bisa Abi ingin mengunjungi dedek bayik mereka sebentar saja. Dia kangen. Walau Rara memang ada di pelupuk matanya, dia tetap kangen, dalam artian lain tentu saja. Tapi ini sudah hampir jam setengah tujuh, dia harus berangkat. Abimanyu bekerja di bagian produksi sebuah perusahaan sepatu. Dia merasa sulit kembali ke dunia mengajar selepas namanya menjadi perbincangan hangat selama satu tahun terkahir. Setidaknya, di tempat baru itu tak ada yang mengenalinya.
"Nanti malam kita makan di luar ya. Itung-itung rayain ulang tahun kamu."
"Beneran?!"
"Duh, Ra. Mas nggak budek."
Rara tidak peduli. Dia anteng memeluk tangan Abi. Mesra-mesra tak kenal waktu. Mereka masih punya beberapa menit sebelum Abi pergi untuk menancapkan motor kesayangannya. Rara awalnya bergumam dia mau makan bebek goreng. Berganti ke ayam geprek, lalu ke steak. Abi beristigfar dalam hati. Banyak sekali pilihan Rara.
"Emangnya perut kamu muat?"
"Muat dong. Dedek bayik kan ikut makan. Porsi dia satu, akunya satu."
Abi hanya menggeleng gemas. Rara memang mirip abege, atau bisa dibilang Rara masih pantas disebut demikian karena secara umur saja belum menginjak kepala 2.
"Mau makan apa dong, ma?"
Yang disebut ma shock. Wajah cantik itu bahkan sampai memerah. Rara tahu harus membiasakan diri sebelum si kecil lahir. Mengingat bulan depan sudah memasuki HPL (Hari Perkiraan Lahir). Namun Rara tak bisa menghindar bahwa perasaannya berbunga-bunga.
"Terserah mas aja. Aku ikut." Mendadak Rara kalem maksimal.
"Terserah? Yakin?"
"Iya."
"Yaudah. Nanti papa riset dulu di tempat kerja. Kan mama nggak boleh asal makan."
Rara mengangguk dengan wajah bersemu persis kepiting rebus. Tangannya terulur mengambil sepasang kaus kaki bersih dekat kasur, sebelum diberikan kepada si pemilik. Abi langsung mengenakannya dan mencium bibir Rara secepat kilat.
"Assalamualaikum." Pamit Abi buru-buru usai rapih.
"Walaikumsalam."
Rara melihat Abi melambaikan tangan dari jok motornya dan pergi. Dengan semangat 45, Rara berniat membersikan kamar kosan mereka. Ah ya, nyuci aja dulu deh, pikir Rara. Selanjutnya dia sudah siap perang dengan sikat dan sabun cuci.
Tunggu aku, bebek goreng! Batin Rara kegirangan.
*****
Rara: Jae, keadaan di rumah gimana?
Dikirimkanlah pesan singkat dari Rara ke Jae, adik satu-satunya. Usia mereka terpaut dua tahun saja, jadi mereka bisa dibilang seperti teman. Tak lama balasan dari adiknya datang.
Jae: Mereka ga perlu ditanyain. Lo yang gimana? Udah dapet rumah belum?
Rara menatap kesekeliling kamar kosan berukuran 3x4 ini. Memang cukup besar, tapi jika boleh jujur lebih besar kamar mandi dirinya ketika masih memiliki rumah. Ah, rumah. Rara kehilangan rumah semenjak ketahuan memiliki janin di kandungannya. Orang tuanya mengusir Rara. Jadi jembatan penghubung yang dia punya sekarang hanyalah Jae.
Rara: Udah. Mama sama papa sehat?
Jae: Mereka lagi liburan ke Jepang.
Hati Rara tercubit. Bukan perkara liburannya, tapi ada rasa kesal yang dia rasakan. Untuk ke Jepang bisa. Lalu sesulit itukah menanyakan kabar Rara? Sekali saja? Bukan apa-apa. Rara hanya rindu mama dan papanya.
Jae: Kak, lo kapan lahirannya sih?
Rara: Perkiraan bulan depan. Kasih gue kado ya!
Jae: Mau apa?
Mau pulang...
Tiba-tiba air mata Rara menetes teringat sosok mama. Rindu sekali. Terakhir mereka bertemu yaitu saat mamanya mengusir Rara. Dia sadar sudah membuat mamahnya sakit hati, terkhianati, malu. Akan tetapi dia juga tak bisa mengambil pilihan yang mamanya tawarkan; gugurkan anak itu atau kamu nggak akan pernah lihat mama lagi.
"Heh! Lo tuh kenapa nangis terus sih? Capek gue dengernya!"
Pintu kamarnya dipukul keras-keras. Tentangga kosan. Rara otomatis menggigit bibirnya dan menangis dalam diam. Memang jika Abi sedang bekerja, Rara jadi tidak punya teman bicara. Pikirannya langsung kemana-mana. Istilahnya overthinking. Mau mencari kenalan di kamar kiri kanan pun ditolak duluan. Mereka tahu dirinya hamil di luar nikah. Sekalipun Abi sudah menjadi suaminya, cap sebagai gadis nakal seolah masih lekat.
"M-maaf." Lirih Rara dengan suara kecil.
Lelah berbenah dan menangis menjadikan Rara ketiduran di sore hari. Bangun-bangun dia sudah menemukan Abi yang baru keluar dari kamar mandi. Suaminya hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, dan rambut basahnya dikibas-kibas terus. Padahal potongan rambut itu pendek nan cepak.
"Mas, tuh liat lantainya jadi becek kan."
Entah kenapa dia tiba-tiba sewot pada Abi. Kepalanya pusing dan perutnya sakit serasa kram. Lalu Abi dengan santainya mengotori lantai yang sudah dipel. Terlebih lagi baju kotor Abi ditaruh asal saja. Rara jadi sebal.
"Iya, nanti mas bersihkan. Kamu belum mandi, Ra? Kita jadi pergi nggak?"
"Kenapa emang? Mas nggak mau keluarin uang buat aku jajan?"
Yang kemudian Abi sesalkan pertanyaannya. Betulan bukan itu maksud Abi. Dirinya hanya heran kenapa istrinya terlihat berantakan, seperti habis menangis lama. Jadi Abi khawatir dan pergi keluar untuk makan bersama tidak lagi jadi prioritas. Namun pertanyaan nyelekit Rara menyingkirkan rasa penasarannya.
"Ayo, kita makan di luar. Kamu bebas pilih tempat." Jawab Abi aman. Dia menghindari keributan, walau Abi di kantor sudah membuat list tempat yang aman bagi ibu hamil.
Kini Rara bergantian ngeloyor ke kamar mandi, mulai membersihkan diri. 10 menit berlalu, Rara sudah siap dengan helm yang nangkring di kepalanya, menutupi rambut sebahu yang sengaja dia ikat.
"Makan bebek goreng Haji Slamet gimana, mas? Terus pulangnya jajan ciki sama minuman manis boleh?" Tanya Rara beruntun sambil melingkarkan tangan di perut Abi.
"Boleh dong, sayang. Kamu udah siap?" Motor Abi melesat. Sangat pelan tentunya, ada Rara dan perut besarnya yang mengharuskan Abi ekstra hati-hati. "Tadi kamu kesel karena lapar, ya?"
"Iya." Rara asal jawab saja. Jalanan terlalu berisik dan entah kenapa Abi sejak dulu senang mengajak ngobrol di atas motor. Kalau di atas kasur mah tidak usah ditanya, ehem! Katanya sih Abi senang buat percakapan di jalan biar romantis. Padahal yang Rara dengar cuma suara knalpot motor sang suami.
"Kamu mau kado apa? Shopee kamu mau mas check out-in?" Abi berinisiatif, walau hatinya dagdigdugser. Was-was lantaran tabungannya jauh dari kata banyak, tapi niatan hati selalu ingin menyenangkan perasaan Rara.
"Iya, nanti sekalian pesen pete." Balas Rara lagi.
Abi tertawa sendiri. Dia akhirnya memilih melontarkan sejumlah pertanyaan nanti saat sudah di tempat makan. Setibanya di tempat yang dimaksudkan Rara, mereka turun. Namun belum sempat pesan ini itu, Rara terlebih dahulu meringis kesakitan. Dia memegangi perut buncitnya, menahan nyeri yang perlahan menular pada si suami.
"Mas, sakit..."
Dipegangi dahi Rara yang banjir keringat dingin. "Ra, k-kamu kenapa?"
"Kayaknya dedeknya mau keluar sekarang..."
Abimanyu pun sukses dibuat panik.
-----
"Serius gini doang nggak bisa?" Cibir Rara. Padahal soal ekonomi dari buku paket milik Jae ini, berhasil membuat dirinya migren alias pusing 7 keliling."Emang lo bisa haa?!" Senga Jae."Hahaha ya jelas nggaklah! Lagian kalau gue bisa, ogah juga gue jelasin ke lo. Buang-buang waktu!" Jawab Rahee sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Abi. Dia ndusel-ndusel di bahu kokoh itu, sementara sang suami hanya mampu menggelengkan kepala. Sungguh kakak-beradik ini memang sulit bicara tanpa perlu pakai urat. Selalu saja saling ngegas. "Mas, kita bobo aja yuk nemenin Airin. Biarin Jae pusing sendiri.""Bang, gue besok uts." Ujar Jae dengan raut wajah memelas."Makanya jangan main basket terus. Lagian Mas Abi pernahnya ngajar bimbingan konseling, bukan mapel ekonomi.""Gapapa, Ra. Mas kayaknya masih inget beberapa sub bahasannya."Ugh, Rara kalau gini jadi tambah gemas. Kenapa suaminya harus serba bisa? Padahal tadi usai maaf-maafan, Rara harap mere
Sore hari tiba.Rara sedang makan keripik ketika Abi memasuki rumah utama. Ingin berlari ke kamar tentu terlambat. Selain karena Airin tengah anteng di pangkuannya, Abi juga sudah terlanjur melihat sosok dirinya yang kumal. Maklum, baru kena air saat siang tadi kelelep di kolam renang. Jadi dia lanjutkan saja sesi ngemil, dan berusaha cuek."Cium tangan suaminya kek. Jangan masuk list calon-calon istri durhaka." Jae yang tadi membukakan pintu untuk Abi, kini berjalan melewati keduanya sambil menyindir sang kakak.Kontan Rara memincingkan mata. "Lo mau dihapus dari Kartu Keluarga? Mau gue aduin?"Jae langsung ngibrit pergi. Dalam hati Rara tertawa puas. Ada untungnya dia jatuh ke kolam renang, terbukti Rara jadi punya kartu agar Jae tidak asal bicara lagi.Pun perlahan Rara menarik tangan kanan sang suami. Cup. Sama halnya dengan tangan mungil Airin yang juga Rara arahkan untuk mencium punggung tangan Abi. Abi tersenyum senang, sambil membelai rambu
"Hei, jangan ngelamun."Rara menoleh ke sumber suara. Pria berseragam SMA itu datang, bergabung bersama Rara yang duduk santai di pingir kolam renang. Darwin melipat ujung celana abu-abunya, meniru Rara memasukan kakinya ke air."Loh, itu celana lo basah." Seru Rara, tahu usaha Darwin melipat celananya berakhir sia-sia. Sedengkul sudah air membasahi celana pria tersebut."Gampang, nanti tinggal pinjem punya Jae.""Terus kenapa dilipet segala? Buang-buang tenaga." Rara menggelengkan kepala, lalu ujung bibirnya tertarik ke atas, tergelak singkat. Memang Darwin satu spesies dengan adiknya, sama-sama aneh."Biar lo ketawa, Ra. Dari tadi gue perhatiin lo cemberut terus."
"Istri kamu kemana? Dari kemarin pergi sama temennya yang namanya Jasmine, dan sampai sekarang nggak pulang-pulang." Kalimat Tia meluncur begitu Abi datang sambil menyeka keringat. Semalaman Abi susah tidur, merasa aneh karena Rara tidak ada di sampingnya. Padahal ini baru satu hari, tapi Abi sudah seperti kehilangan arah. Sehingga pagi-pagi buta Abi memilih jogging disekitar komplek selama satu jam penuh."Rara nginep di rumah orang tuanya." Jawab Abi setelah meminum segelas air mineral."Jangan terlalu manjain istri kamu. Lihat, dia jadi seenaknya sendiri. Masa sudah berkeluarga, masih numpang tidur di sana. Apa kata tetangga nanti?" Ujar Tia seiring membuat teh hangat dalam wadah jar."Gapapa, bu. Rara juga sudah lama nggak mampir ke rumah utama. Pasti kangen mama papanya.""Makanya kamu jangan nikahin anak kecil kayak dia. Sudah manja, nggak bisa kerjain pekerjaan rumah lagi. Repot sendiri, kan?" Sindir Tia, lalu menaruh cangkir teh tepat di depan putrany
Sudah lama Rara tidak menginjakan kaki di rumah utama. Terakhir yaitu saat datang bersama Abi, memberi tahu pada kedua orang tuanya bahwa dirinya hamil dan berakhir dengan diusir. Kini dia kembali bersama putri kecilnya. Terasa aneh begitu Rara memasuki kamarnya, karena semua tetap sama, sementara dirinya telah mengalami banyak perubahan. Menjadi ibu sekaligus istri di usianya yang bahkan belum memasuki kepala 2. Hidupnya persis permainan roller coaster."Sayang, kamarnya mau mama dekor ulang?" Inisiatif Irana. "Atau kamu mau beli furniture baru? Wallpaper baru? Nanti mama atur semua.""Aku cuma nginep sehari, ma." Geleng Rara lemah. "Makasih udah bolehin aku pulang ke rumah ya, ma.""Jangan bilang gitu. Ini kan rumah kamu juga. Kamu bebas ke sini kapanpun." Irana agaknya lupa kalau kedatangan Rara bukanlah untuk liburan, melainkan akibat sedang selisih paham dengan Abi. Rara bukanlah anak kecil lagi, dia sudah menjadi istri orang. Beberapa saat yang lalu Irana
Dio, ayah dari Larasati Wijaya, baru saja selesai meeting dengan kliennya di gedung FWC. Kumpulan orang di lobby membuat fokusnya teralihkan. Semula dia tak terlalu ambil pusing, namun setelah melihat sosok yang ditandu oleh tim paramedis, Dio berhasil bergeming di tempat. Pria berkacamata itu segera berlari tergesa-gesa. Kenapa Rara bisa di sini? Dan apabila dilihat sekilas Rara jelas mengalami serangan panik lagi! Astaga, dunia Dio langsung runtuh!"Maaf, pak. Hanya yang berkepentingan yang dapat menemani pasien." Tahan seorang tim paramedis ketika Dio akan ikut naik ke ambulance."Saya ayahnya Rara. Dia putri saya."Pun sirene ambulance membelah jalanan siang Jakarta yang padat. Ketika orang-orang mulai berjubel keluar untuk mencari makan siang, di sini ada Dio yang terus memegang erat tangan Rara dengan perasaaan teriris. Kesadaran Rara masih terjaga, tapi sulit bernapas dan harus terhubung dengan bantuan oksigen. Sementara bagian paramedis mengecek tekanan
Rara coba telpon Abi. Satu kali. Dua kali. Tidak ada jawaban. Mine sebelumnya turun dari mobil untuk bertanya tentang tempat kerja baru Abi kepada security. Hasilnya nihil. Dengan pikiran semrawut Rara mencari kontak yang sekiranya dapat dihubungi, namun baru beberapa detik berselang, dia terdiam. Rara tidak kenal satupun teman Abi. Serenggang ini kah hubungan mereka?"Kenapa kamu tanya ke ibu? Bukannya kamu yang harusnya lebih tahu?" Kalimat Tia di ujung ponselnya terdengar. Ya, dengan nekat Rara bertanya pada sang mertua. Sungguh dia tak memiliki pilihan lain untuk menjawab rasa penasarannya."Rara lupa nama perusahaan Mas Abi yang baru, bu. Ini Rara mau nyusul ke sana. Kasian bekal makan siangnya ketinggalan.""Bukan ketinggalan, tapi sengaja. Toh bekal yang kamu buat nggak pantas dimakan." Tanpa sadar, Rara mencengkram ponselnya kuat-kuat. "Abi kerja di FWC bareng mantan tunangannya. Sudah kamu nggak usah anter ke sana. Biarin Abi lepas rindu sama Marine."
Bahagianya Rara adalah perkara mudah. Contohnya saja soal makanan. Abi tak hanya membelikan Rara martabak asin plus manis, tapi juga sushi. Iya, sebelum mengantar Marine pulang, mereka makan malam bersama di restoran tersebut."Mas, bener nggak mau?""Iya, mas udah makan di luar." Jawab Abi, mulai membuka kancing kemejanya."Sama siapa?"Abi menelan air liurnya susah payah dan seketika merasa bersalah. "Temen kerja. Gimana enak, Ra?" Langsung Abi yang balik bertanya, takutnya Rara mengajukan pertanyaan macam-macam. Abi menemukan istrinya tahu-tahu sudah duduk bersila di lantai kamar dan terlihat lahap."BANGET. Dulu pas sekolah aku sering ke tempat sushi ini sama Mine." Antusias Rara sambil mengigit ujung sumpit, sesenang itu. "Oh ya, kenapa chat aku yang bahas film azab nggak dibales-bales? Aku kan bukan koran, masa chatnya dibaca doang.""Tenggelam, Ra.""Pin makanya. Biar chat dari aku ada di atas.""Nggak ngerti. Lagian kamu juga u
Abi baru saja bersantai di kubikelnya seusai beres dengan berbagai kerjaan. Sejak pagi hingga pukul 7, dia disibukkan dengan tampilan excel dan macam-macam angka. Memang ini hari pertamanya bekerja di tempat baru dan ada perkenalan singkat dengan karyawan lain, namun setelahnya jadwalnya padat. Pun Abi mengeluarkan ponselnya untuk mengabari Rara. Belum sempat bertanya Rara ingin martabak asin atau manis, Abi ternyata sudah menerima banyak chat dari sang istri. Ada 25 chat yang tenggelam. Astagfirullah. Ini sih bisa-bisa Abi kena amuk.Larasati Wijaya:-Mas, pernah nonton film azab? Judulnya mertua jahat pada menantu, liang lahatnya menyempit.-Mertuanya nampar si menantu-Padahal menantunya baik. Ya... walaupun nggak sempurna-sempurna amat. Masakannya kurang enak, bangunnya kadang siang, tapi dia mau belajar.-Mas? Ih dicuekin :(-Aku VN aja. Capek ngetik.Lalu Abi dengarkan satu persatu pesan suara itu. Tak jarang, Abi terkekeh selagi merap
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments