Home / Romansa / TAWANAN HASRAT SANG MAFIA / Bab 34 - Cuma Anggur

Share

Bab 34 - Cuma Anggur

Author: Farsheed Mo
last update Last Updated: 2025-01-30 22:48:06
Alvaro menatap layar ponsel dengan ekspresi datar. Nama yang tertera di layar adalah Delisa.

"Kita harus bertemu," katanya dengan suara dingin.

Di seberang telepon, Delisa terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada yang menggoda, "kebetulan aku sedang di hotel. Maukah kau menemuiku di sini?"

Alvaro mengangguk kecil meskipun tahu Delisa tak bisa melihatnya.

"Kirimkan lokasinya. Aku datang."

Tak butuh waktu lama bagi Alvaro untuk tiba di hotel tempat Delisa menginap. Begitu masuk lobi, seorang pelayan langsung mengantarnya ke kamar suite di lantai atas. Saat pintu terbuka, Delisa menyambutnya dengan senyum penuh arti. Dia mengenakan gaun sutra merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna.

"Aku tahu kau pasti datang," ucapnya dengan nada penuh kemenangan.

Alvaro tidak merespons. Dia hanya berjalan masuk, matanya mengamati ruangan dengan seksama sebelum akhirnya duduk di sofa.

Delisa menuangkan anggur merah ke dalam dua gelas kristal lalu menyerahkannya pada Alvaro. "Untuk menyambut ked
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 35 - Ancaman Vincent

    Alvaro melangkah keluar dari kamar Delisa dengan wajah dingin. Rasa jijik masih menguasai dirinya setelah nyaris dijebak oleh wanita itu. Ia merapikan jasnya, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju lobi hotel dengan langkah tegap.Begitu tiba di lobi, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang dia kenal. Alvaro menyipitkan matanya, memastikan penglihatannya tak salah. Pria itu sedang menggandeng mesra seorang wanita, dengan sesekali mencium pipi wanita itu. Rahangnya seketika mengeras. Apakah dia berselingkuh?“Brengsek!” umpat Alvaro.Tetapi kemudian, ponselnya bergetar di saku jasnya. Dengan cepat ia mengeluarkannya dan melihat nama yang tertera di layar. Ternyata Jose yang menghubunginya."Tuan, bukti sudah di tangan, ternyata benar dialah yang memberikan obat perangsang itu," kata suara Jose di seberang telepon.Alvaro yang semula terpaku pada sosok pria itu sedikit mengernyit. "Kau yakin?""Sangat yakin. Aku baru saja mengirimkan videonya. Anda bisa memeriksanya sekarang

    Last Updated : 2025-01-31
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 36 - Biarkan Aku Pergi

    Elena duduk di tepi tempat tidur, hatinya terasa seperti dihantam gelombang kekecewaan yang begitu besar. Ucapan Alvaro tadi masih menggema di kepalanya. Begitu mudahnya pria itu mengingatkan bahwa dia hanya sebatas jaminan hutang, seakan-akan dirinya tak lebih dari barang yang bisa ditukar. Dia terlalu berharap bahwa Alvaro akan melihatnya sebagai seorang wanita, tetapi dirinya salah.Di dalam kamar mandi, Alvaro bersandar pada dinding dengan air mengalir deras membasahi tubuhnya. Dia merutuki dirinya sendiri. Dia tahu bahwa kata-katanya telah menyakiti Elena. Tatapan terpukul wanita itu sebelum dia masuk ke kamar mandi terus menghantui pikirannya. Namun, dia tak bisa menunjukkan kelemahannya. Dia tak rela jika Elena kembali ke Vincent, pria yang begitu sering menyakitinya. Alvaro menggertakkan giginya, perasaan tak nyaman mulai merayapi hatinya. Sejak kapan dia peduli pada Elena? Dia tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, dia ingin menjauhkan wanita itu dari Vincent, dengan cara apa

    Last Updated : 2025-01-31
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 37 - Frustasi

    “Tidak!” tolak Elena. “Kenapa?” tanya Alvaro. Elena tak mungkin mengiyakan ucapan Alvaro padanya barusan, itu artinya, dia tak akan bebas dari pria itu. Sedangkan dia ingin hidupnya kembali. Sudah cukup dia dipandang sebelah mata. Selama tinggal dengan Alvaro, Elena sadar bahwa selama ini dia melakukan kebodohan yang membuat dirinya dikendalikan oleh Vincent dan dirinya tak punya daya untuk melawan. Karena itu dia tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dia ingin mencintai seseorang tanpa harus memiliki kesepakatan apapun. Karena itu dia ingin mengakhiri semuanya. “Katakan padaku, kenapa aku harus memilihmu?” Alvaro mundur satu langkah, tetapi tatapan matanya masih tertuju pada Elena. Pria itu diam, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain beberapa saat lalu kembali menatap Elena. “Kau akan tahu nanti,” kata Alvaro. Alvaro kembali memakai jurus intimidasinya, untuk menyembunyikan kebingungannya. Pria itu masih belum yakin dengan perasaan yang dia rasakan. Apakah itu cinta

    Last Updated : 2025-01-31
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 38 - Mabuk Cinta

    Alvaro menuangkan minuman ke dalam gelasnya dengan gerakan kasar, lalu menenggaknya sekaligus. Cairan alkohol yang membakar tenggorokannya terasa tak sebanding dengan api yang membakar hatinya.Sial.Semua yang dia lakukan, semua cara yang dia tempuh untuk membuat Elena berpaling darinya, tetap tidak mengubah kenyataan bahwa wanita itu masih memilih Vincent.Tangannya meremas gelas kosong itu dengan geram.Ia merogoh ponselnya, lalu menekan kontak Jose."Di mana kau?" tanyanya, suaranya berat oleh alkohol dan frustasi.“Aku sedang di rumah, bos. Ada apa?”"Datanglah ke klub. Aku butuh teman."Tanpa menunggu jawaban Jose, Alvaro menutup teleponnya dan kembali menuang minuman ke dalam gelasnya.Pikirannya saat ini, benar-benar berantakan karena Elena. Jose akhirnya tiba, dia melihat Alvaro yang sudah dalam kondisi mabuk. Dia duduk di sebelah pria itu, menatap gelas-gelas kosong yang berserakan di meja. Dokumen yang akan diserahkan ke Alvaro pun tak jadi dia berikan. "Bos, kau sudah te

    Last Updated : 2025-02-03
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 39 - Aku Pergi

    Elena membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lelah setelah semalam sibuk menjaga Alvaro. Dia bangkit dari tempat tidur, dan melihat ke arah sofa.Alvaro masih tertidur di sana. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam, meski kantung mata di bawah kelopak matanya menunjukkan betapa lelahnya pria itu. Kemejanya kusut, dan satu lengannya terjuntai di sisi sofa.Elena menghela napas. Dia masih bisa mendengar suara Alvaro dari semalam."Kenapa bukan aku?""Kenapa Vincent?""Aku tak rela..."Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya. Semua itu hanya omong kosong pria mabuk, bukan? Alvaro hanya terbawa emosi.Namun, kenapa hatinya terasa sesak?Tiba-tiba, suara erangan pelan terdengar. Alvaro menggeliat di tempatnya, lalu mengerang sambil menekan pelipisnya."Sial... kepalaku..." gumamnya serak.Elena buru-buru mengambil segelas air putih yang sudah disiapkan Jose di meja. "Minumlah," katanya sambil menyodorkan gelas itu.Alvaro membuka matanya, me

    Last Updated : 2025-02-03
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 40 - Tak Tahan Lagi

    “Tunggu!” kata Don. Langkah Alvaro pun terhenti, saat mendengar seruan ayahnya itu. Dia sedikit berbalik, menatap ayahnya itu. “Baik, aku tak akan ikut campur lagi. Tapi, kau harus berhati-hati. Kau tahu konsekuensinya jika berani menyinggung Morgan.” Alvaro tersenyum tipis, seolah tak ada apapun yang dia takuti. “Aku bisa jaga diri,” jawabnya enteng. Sambil berlalu begitu saja dari kamar ayahnya. Tetapi teriakan ayahnya masih terdengar, “Kau mungkin bisa, bagaimana dengan Elena.” Setelah itu, kepala pelayan masuk dan sibuk menenangkan Don, agar tidak terbawa emosi yang akan membuat sakitnya semakin parah. Alvaro bukan tidak mendengar peringatan ayahnya itu, tetapi dia sudah memperhitungkan semuanya. Ayahnya sudah menyukai Elena, dan itu caranya melindungi wanita itu. Yaitu dengan menjauhkan wanita itu darinya. Seperti yang dia lakukan pada ibunya. Pria itu sangat mencintai ibunya, terbukti dari semenjak ibunya pergi, Don tak pernah lagi dekat dengan wanita manapun. Ibunya adal

    Last Updated : 2025-02-04
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 41 - Pelarian

    Setelah itu, Alvaro pergi entah kemana. Elena sendiri memilih untuk kembali ke kamar. Suara ketukan di pintu mengagetkan dirinya. Ternyata Jose di depan pintu dengan satu koper bersamanya. “Ini koper Tuan, Nyonya.”“Tinggalkan di sana, Jose. Aku akan membawanya masuk.”Jose membantu Elena memasukkan koper hingga didepan pintu. Lalu sebelum dia berbalik, Elena kembali menahan pria itu. “Apakah Tuan akan pergi?” tanya Elena, ragu-ragu.“Iya, Tuan akan ke perusahaan, Nyonya. Apa ada yang ingin disampaikan? Biar saya sampaikan ke Tuan.”“Tidak Jose, aku hanya tanya. Terima kasih.”Elena kembali menutup pintu kamar, saat Jose meninggalkannya. Karena tak ada yang dia kerjakan, Elena membuka koper itu dan menata pakaian Alvaro dari koper ke lemari pakaian. Tanpa dia sadari matahari sudah sangat terik di luar sana. Elena telah selesai merapikan pakaian miliknya dan Alvaro dari koper ke dalam lemari. Baru saja ia menutup pintu lemari, ponselnya berdering. Tubuhnya langsung menegang, saat m

    Last Updated : 2025-02-05
  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 42 - Siapa dia?

    Darah Elena seketika mengalir lebih cepat. Jantungnya terasa berhenti berdetak.Perlahan, ia menoleh.Di sana, berdiri seorang pria berseragam serba hitam, kedua tangannya bersedekap, matanya menatapnya dengan tajam ke arahnya.Tubuh Elena menegang. Otaknya bekerja cepat. Jika ia tidak segera bertindak, ia akan kehilangan kesempatan untuk kabur."Apa yang harus aku lakukan?" batinnya panik.Elena menelan ludah saat penjaga itu mulai melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di koridor yang sunyi, membuat jantung Elena berdebar semakin kencang.Dia menundukkan kepala sedikit, memperbaiki letak masker yang menutupi hampir setengah wajahnya. Jika pria itu mengenalinya, maka semua usaha pelariannya ini akan sia-sia.Namun, saat dia mengatur napas dan berusaha tetap tenang, sesuatu menggelitik hidungnya."Hhhtsuuuh!"Elena bersin.Seketika, penjaga itu menghentikan langkahnya."Kau sedang pilek?" tanyanya dengan nada sedikit waspada.Elena menahan napas sesaat sebelum buru-buru

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 76 - Jalankan Rencana

    “Kamu yakin? Tidak takut?”“Aku sudah lama membiarkannya, ini saatnya menunjukkan bahwa tidak semua orang bisa dia injak seenaknya.”Alvaro hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita di sampingnya itu. Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Alvaro segera keluar lebih dulu. Dengan langkah tenang, ia membuka pintu untuk Elena, membuat wanita itu menatapnya sesaat.“Keluar,” ucap Alvaro singkat.Elena menghela napas, lalu turun dari mobil. Saat mereka melangkah masuk, Jose dan beberapa pengawal berjalan di belakang mereka.Begitu sampai di lantai tertinggi gedung ini. Sebelum masuk ke ruangan Alvaro. “Jose.”“Ya, Tuan?”“Ajari dia pekerjaanmu.”Jose menatap Elena sekilas sebelum kembali menatap Alvaro, memastikan ia tidak salah dengar. “Maksud Tuan, saya harus mengajarkan pekerjaan saya kepada Nyonya?”Alvaro mengangguk tanpa ragu. “Ya.”Elena mengernyit. “Tunggu, maksudmu aku bekerja dengan Jose?”Alvaro yang semula hendak melangkah ke ruangannya,

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 75 - Rencana Pembalasan

    Keesokan paginya, Elena terbangun dalam pelukan Alvaro. Pria itu mendekapnya. Karena masih kesal semalam, Elena perlahan beringsut mengubah posisi menjadi membelakangi. Namun, tak disangka Alvaro menyadari gerakannya. Sehingga saat dia berhasil mengubah posisi. Alvaro kembali mendekapnya dari belakang. “Masih marah?” Bisiknya pelan. Elena diam, tak ingin bicara. Alvaro semakin mendekatkan tubuh Elena dalam pelukannya. “Sudah pagi, aku harus pergi.”“Kemana pagi-pagi?”“Bekerja, aku sadar aku cuma wanita simpanan yang bisa kamu buang kapan saja.”Elena hendak bangun, tetapi tubuhnya ditarik kembali oleh Alvaro. “Kita pergi bersama.”“Tidak perlu,” ucap Elena, ketus.Akhirnya Alvaro menyerah, dan membiarkan Elena pergi dari pelukannya. Berdebat dengan wanita itu saat marah tak akan bisa menang. Karena itu, dia memberikan Elena waktu untuk meredakan kemarahannya. Saat melihat Elena masuk ke dalam kamar mandi, Alvaro mengambil ponselnya di atas nakas. “Bagaimana?”“Kami sudah dapat

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 74 - Jadi Ini Ulahnya?

    Pyar!Botol bir di tangannya dihantamkan ke meja kaca, pecahannya berhamburan ke lantai. Wanita-wanita di samping pria itu menjerit kecil dan mundur, sementara para pengawal langsung menodongkan pistol ke arahnya.Alvaro tetap berdiri tegak, menatap pria tua itu dengan mata dingin.Tidak ada yang berani menarik pelatuk lebih dulu.Mereka tahu siapa Alvaro.Pria yang berdiri di depan mereka bukan sekadar seorang pengusaha muda yang sedang naik daun. Dia adalah sosok yang namanya bergema di dunia bisnis. Orang yang tidak akan ragu mengotori tangannya jika diperlukan.Pria tua itu menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat dengan satu gerakan tangan. Seketika, para pengawalnya menurunkan pistol mereka, meskipun tatapan mereka masih penuh kewaspadaan."Jadi benar, kau lemah karena wanita itu?"Alvaro mencengkeram kerahnya dan menariknya mendekat."Omong kosong!" suaranya rendah, penuh ancaman. "Aku tak butuh bisnismu."Pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah memberi isya

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 73 - Perangkap Delisa

    Delisa menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kebencian. Foto-foto Alvaro dan Elena dari informan yang disewanya terpampang di atas meja.“Seharusnya aku yang ada di sana… Seharusnya aku yang dia tatap seperti itu…” gumamnya dengan suara bergetar.Tangannya mengepal erat. Sudah cukup lama menahan diri, berharap Alvaro akhirnya melihatnya, memilihnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Elena muncul dan merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya.Tidak lagi.Jika Alvaro tidak bisa menjadi miliknya, maka Elena juga tidak boleh memilikinya.Delisa tahu bahwa Alvaro bukan pria yang mudah dipermainkan. Dia tidak bisa langsung menyerang Elena secara fisik, itu terlalu berisiko. Jadi, ia memutuskan untuk menyerang dari sisi lain, yaitu kepercayaan Alvaro.“Dasar wanita jalang, kita lihat apakah Alvaro masih mau denganmu.”Malam itu juga, Delisa menghubungi seorang. “Aku punya pekerjaan untukmu,” katanya dengan nada dingin.Pria di seberang telepon tertawa kecil.“Baik.”***Ha

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 72 - Ada yang Cemburu

    Elena memutar bola matanya, berusaha mengabaikan cara Alvaro menatapnya. Ia tahu pria itu sedang mencoba menggodanya lagi, dan ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak begitu saja.Elena mengernyit. “Al, pinggangku hampir patah karena ulahmu. Tidak lagi, lagi pula lukamu belum sembuh benar. Kamu ingin aku mengganti perbanmu lagi?”Alvaro menarik napas pelan, lalu dengan satu tarikan lembut, ia membuat Elena kembali terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya. Tatapan matanya yang intens membuat Elena sulit untuk berpaling."Ini salahmu.""Salahku? Bagaimana bisa?"Alvaro mulai meraba bibir Elena lembut, “kamu membuatku candu."Elena menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia ingin marah tetapi entah kenapa dia merasa tersanjung dengan pujian pria itu. Melihat Elena hanya diam, Alvaro tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya untuk menyelipkan helai rambut yang jatuh di wajahnya. “Aku tahu kamu khawatir.”Elena mendesah, akhirnya memalingkan wajahnya. “Kamu

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 71 - Jangan Mulai Lagi

    Alvaro menatap Elena dengan intens, seolah mencoba membaca pikirannya. Tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu, tetapi Elena tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. “Iya, dia mengkhawatirkanmu,” ucapnya santai. “Dia bertanya tentang keadaanmu dan memintaku untuk menjagamu.” “Hanya itu?” tanyanya kembali. Seolah-olah dia tak puas dengan jawaban yang diberikan Elena barusan. Alvaro terdiam sesaat, menatapnya tanpa ekspresi yang jelas. Suasana di antara mereka sedikit canggung, seakan ada sesuatu yang menggantung di udara, tetapi Elena berusaha mengabaikannya. “Beristirahatlah,” katanya akhirnya, bangkit dari tempat tidur. “Aku akan menyiapkan makanan untuk kita.” Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, Alvaro tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidur dengan gerakan cepat. Elena tersentak saat mendapati dirinya terduduk di pangkuannya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Hawa panas tubuh Alvaro begitu dekat, membuat jantungnya ber

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 70 - Jangan Pergi

    Alvaro menatap Elena dengan lembut, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Walau tubuhnya masih lemah, bibirnya melengkung dalam senyuman tipis.Pria itu menatapnya tanpa berkata-kata. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara mesin medis yang berbunyi pelan.Lalu, tiba-tiba, Alvaro mengulurkan tangannya yang lemah ke arah Elena. Jangan pergi dariku."Elena terdiam. Kata-kata Don kembali terngiang di benaknya. "Jika kau benar-benar mencintainya, tinggalkan dia."Tapi, saat menatap Alvaro yang masih menunggunya dengan tatapan serius, dia tahu… dia tidak bisa melakukannya.Perlahan, Elena menggenggam erat tangan Alvaro."Aku…tidak akan pergi," bisiknya.Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan keluar sebentar," katanya.Alvaro menatapnya sebentar, seolah enggan membiarkannya pergi, tapi akhirnya mengangguk. "Jangan lama-lama."Elena hanya tersenyum kecil sebelum melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya dengan pelan.Begitu Elena pergi, Jose masuk ke

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 69 - Cinta adalah Kelemahan

    Elena membeku di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan sosok yang berdiri di depan pintu—seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, penuh wibawa.Don.Ayah Alvaro.“Mari kita bicara,” suara Don terdengar dalam dan penuh otoritas.Elena menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Di dalam ruangan, Alvaro masih terbaring lemah. Dia tidak ingin pergi jauh, tapi tatapan Don memberinya isyarat bahwa dia tidak punya pilihan.“Baik,” jawabnya pelan.Don berbalik, melangkah dengan tenang menuju lorong rumah sakit. Elena ragu sejenak sebelum akhirnya mengikuti di belakangnya.Ketika mereka sampai di area yang lebih sepi, Don berhenti dan berbalik menatapnya.“Apa kamu mencintainya?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.Elena mengerjap. Dia bisa merasakan ketegangan yang begitu kuat dari cara pria itu menatapnya."Aku..." Dia menarik napas, mencoba mengumpulkan keberanian.“Jika iya, tinggalkan dia.”Mata Elena terbelalak, hatinya seolah berhenti berd

  • TAWANAN HASRAT SANG MAFIA   Bab 68 - Kita Perlu Bicara

    Bab 68 - Elena tersentak, dia mendengar perintah Alvaro dengan jelas. Tetapi tubuhnya membeku di tempat. Semua terjadi begitu cepat, pria bersenjata lain langsung mengangkat pistol mereka.DOR!Tembakan pertama melesat, nyaris mengenai Alvaro yang dengan cekatan menjadikan tubuh pria yang tadi diserangnya sebagai perisai. Darah muncrat saat peluru menghantam dada pria itu, membuatnya limbung sebelum jatuh tak bernyawa.“Lari!” Alvaro mengulang perintahnya lebih keras, tapi Elena masih terpaku.Salah satu pria menodongkan pistol ke arahnya.DOR!Elena menjerit dan memejamkan mata, namun tubuhnya tetap utuh. Saat membuka mata, yang dilihatnya justru Alvaro—berdiri di depannya, dadanya tertembus peluru.Tubuh Alvaro tersentak ke belakang, nafasnya tercekat. Darah dengan cepat merembes dari luka di dada kirinya, mengalir membasahi kemeja yang dikenakannya.Elena menjerit, “ALVARO!”Tatapannya nanar saat melihat tubuh pria itu melemah. Alvaro masih berdiri, tapi lututnya tampak goyah. Tan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status