Beranda / Romansa / Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini / Bab 280. Si Kecil Merindukan Papanya

Share

Bab 280. Si Kecil Merindukan Papanya

Penulis: Te Anastasia
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-03 17:01:32

Seperti yang Elizabeth duga, anak-anaknya marah dan merajuk. Pauline sempat menangis, dan Exel hanya diam kecewa.

Elizabeth duduk bersama mereka di ruang keluarga. Ia memeluk kedua anaknya dan mencoba untuk menjelaskan pada mereka berdua.

"Kenapa tidak jadi pergi, Ma? Papa ke mana memangnya? Sibuk lagi ya, sampai Papa membatalkan jalan-jalannya?" tanya Exel, anak itu masih tertunduk memeluk sang Mama.

"Sayang, Papa kan sibuk, banyak sekali pekerjaan Papa yang harus diselesaikan dalam waktu yang sangat cepat. Kita harus mengerti dan memahami kesibukan Papa. Meskipun Papa sebenarnya juga ingin pulang dan berkumpul dengan kita," ujar Elizabeth pada kedua anaknya.

"Tapi kan kita sudah semangat menunggu Papa. Heumm ... sedih sekali, Ma," ucap Exel memejamkan matanya dan memeluk Elizabeth erat-erat.

"Iya, Pauline ingin jalan-jalan sama Papa," ujar Pauline cemberut.

Elizabeth menghela napasnya panjang. Wanita itu terdiam memeluk mereka berdua. Pasti mereka kecewa, kemarin juga Evan ing
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
sabar Evan...kamu pasti bisa...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 281. Sesuatu yang Tidak Biasa

    Saat pagi tiba, Exel dan Pauline yang baru saja bangun langsung bergegas turun ke lantai satu. Sekolah mereka sedang libur, baru saja mereka menyelesaikan ujian di sekolahnya, hingga anak-anak menghabiskan banyak waktu di rumah. Kedua anak itu berjalan ke lantai satu, mereka berdua menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari. "Selamat pagi, Sayang ... ayo sini, sarapan dulu," sapa Elizabeth yang terlihat sibuk menata hidangan sarapan di ruang makan. Exel menarik pelan lengan sang adik dan membawanya mendekati sang Mama. "Ma, Papa di mana?" tanya Pauline mendongak Mamanya dengan wajah menanti-nanti. "Papa sudah berangkat ke kantor, Sayang. Ada urusan penting yang harus Papa selesaikan. Jadi—""Papa kok sibuk terus sih, Ma? Semalam tidak bertemu Papa karena kita tidur, sekarang kita bangun pagi, Papa juga sudah tidak ada." Exel memasang wajah protes dan kecewa."Pauline kan, masih kangen sama Papa..." Kedua bocah itu kembali memasang wajah sedih seperti semalam. Elizabeth tidak tega

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 282. Pulang Hingga Menjelang Pagi

    Sama seperti kemarin-kemarin, tiap malam Elizabeth selalu menunggu kepulangan Evan dengan perasaan jemu. Elizabeth tidak pernah mencoba berpikir yang tidak-tidak pada suaminya. Namun, wanita itu sedih saat Exel dan Pauline selalu menanyakan ke mana Papanya hingga malam hari tidak kunjung pulang. Saat ini, Elizabeth berdiri di dekat jendela rumahnya, menatap pemandangan luar yang malam ini sedang gerimis. "Kau di mana, Evan? Kenapa tidak menjawab panggilanku? Kau bilang kau akan lembur, tapi ini sudah terlalu malam..." Elizabeth menoleh menatap ke arah jam dinding kayu yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Wanita itu meremas selendang bermotif kotak-kotak dari kain flanel tebal, yang kini menutupi kedua pundaknya. Elizabeth tertunduk kecewa. 'Kalau seperti ini terus, harus dengan cara apa lagi aku membohongi anak-anak ... bagaimana kalau besok mereka marah lagi?' Elizabeth memejamkan kedua matanya dan mengembuskan napasnya panjang. Perlahan, ia menarik gorden putih di depa

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 283. Sayang, Jelaskan Semuanya Padaku!

    Elizabeth menghindari pertanyaan anak-anaknya yang melulu menanyakan tentang Papanya yang tidak pernah ada waktu untuk mereka. Siang ini, Elizabeth mengajak Exel dan Pauline ke rumah lamanya, di sana, anak-anaknya bermain ditemani oleh Bibi Meria yang sangat menyayangi dua bocah manis tersebut. Dari jauh Elizabeth duduk diam dan perasaannya bercampur aduk saat ia memperhatikan buah hatinya. "Elize..." Suara sang Nenek membuyarkan lamunannya. Elizabeth menoleh cepat, wanita muda berparas cantik itu mendongak dan langsung mengelap air matanya dengan cepat. "Nenek?" Elizabeth tertunduk dan menyeka air matanya lagi. "Loh, kenapa kau menangis, Nak?" tanya Nenek Berta menyentuh pundak Elizabeth dan duduk di sampingnya. "Tidak papa, Nek," jawab Elizabeth mencoba tersenyum. "Tidak mungkin tidak ada apa-apa kau menangis. Kenapa? Elize ... kau bertengkar dengan Evan?" Berta mengusap rambut panjang Elizabeth. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tertunduk dan berusaha untuk men

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 284. Wanita Licik itu, Ternyata...

    Keesokan harinya, Evan kembali fokus pada pekerjaannya lagi. Setelah ia mengatakan yang sejujurnya pada sang istri tentang apa yang terjadi pada perusahaannya. Hari ini menjadi penentu bagi nasib perusahaan milik Evan. Meeting penting yang kembali diulang, setelah proyek sudah setengah jalan, hal ini sangat melelahkan untuk Evan. Di dalam ruangan yang luas, di perusahaan besar milik seorang Kian Arlando, laki-laki yang berusia empat puluh lima tahunan lebih, yang beberapa menit memimpin rapat penting di perusahaannya, bersama banyak orang-orang luar biasa di dalamnya. "Tuan..." Suara Jericho terdengar, ajudan itu menatap Tuannya yang duduk di sampingnya. Evan yang tadinya berbincang dengan salah satu rekannya, kini menoleh ke arah Jericho. "Ada apa, Jer?" tanya Evan. "Sepertinya, Tuan akan dipanggil oleh si Pak Tua itu," ujar Jericho berbisik. Dengan cepat Evan mempertahankan Tuan Kian di depan sana yang kini menyisihkan berkas milik Evan.Laki-laki tua itu membuka berkas bersa

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 285. Dalang Di Balik Kegaduhan

    Evan mengejar Clarisa yang kini berjalan di depan sana hendak menuju ke sebuah lift. Langkah lebar Evan semakin membuatnya dekat dengan wanita itu. "Tunggu!" Suara tegas laki-laki itu menghentikan langkah kaki Tania. Wanita cantik dengan rambut sebahu dan dress mewah berwarna biru itu, kini menoleh menatapnya. Dia memperhatikan Evan lekat-lekat. "Ya, Tuan?" Dia tersenyum seolah tak terjadi apapun. Evan mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan benci dan marahnya. "Apa maksudmu dengan semua ini?" desis Evan, wajahnya memerah saat ia berhadapan dengan Tania. "Apa maksudmu menyamar menjadi pembantu, lalu kau pergi begitu saja, dan muncul sebagai orang yang baru! Kau pikir kau siapa, hah?!" Ucapan Evan yang penuh penekanan, mendesak, dan menyudutkan ini membuat Tania terdiam sejenak sebelum dia terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu bersedekap angkuh dan tersenyum. "Apa maksud Anda, Tuan?" Tania menaikkan kedua alisnya dan wanita itu terkekeh tiba-tiba sebelum d

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 286. Tak Ingin Diganggu Lebih Dulu

    Makan malam sudah siap, anak-anak sengaja menolak makan lebih awal, mereka ingin makan bersama dengan Papanya. Exel dan Pauline menunggu Evan di ruang makan. Mereka nampak menanti-nanti, sementara Elizabeth masih membantu Bibi di dapur. "Ma, Exel panggil Papa dulu ya, setelah itu makan malam bersama-sama," ujar Exel menatap sang Mama. "Iya Sayang," jawab Elizabeth. Anak laki-laki itu bergegas turun dari atas kursi dan berjalan ke depan. Exel melangkah pelan, dia mengintip dari balik pintu kayu ke arah ruangan kerja Papanya. Anak itu melihat ruangan kerja Papanya yang berantakan, semua kertas seperti sampah yang berhamburan di lantai. Kedua pupil mata Exel melebar saat anak itu melihat Papanya marah-marah dan menyapu beberapa map berkas di atas meja, hanya dengan sekali sapuan tangannya. "Papa..." Suara Exel membuat Evan yang tengah marah-marah pun menoleh cepat. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar melihat ada putranya di sana. "Papa kenapa?" Exel berjalan masuk ke dalam ruan

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 287. Seorang Teman yang Selalu Ada Dalam Segala Keadaan

    Keesokan paginya, Elizabeth kembali menjalani hari seperti biasa. Suaminya pun kini bersiap untuk pergi, jauh lebih pagi dari sebelum-sebelumnya. Elizabeth yang kini berada di dapur, wanita itu memperhatikan Evan yang berjalan menuruni tangga lengkap dengan tuxedo hitam yang dia pakai. "Sayang, kau tidak sarapan dulu?" tanya Elizabeth mendekatinya. "Mau aku buatkan bekal? Tunggu sepuluh menit saja, atau aku siapkan sandwich, atau—" "Tidak Eli, aku harus berangkat cepat. Siang nanti aku akan ada pertemuan, jadi aku harus berangkat lebih pagi," ujar Evan menolaknya. "Tapi kau harus sarapan, Evan..." "Aku akan membelinya di luar," jawab Evan sembari berjalan ke arah teras. Elizabeth pun berjalan di belakangnya dan terus mengikuti suaminya. "Apa nanti kau juga akan pulang malam?" tanya Elizabeth lagi. "Entahlah, mungkin tidak. Yang jelas, jangan menungguku," jawab Evan sebelum dia masuk ke dalam mobil. "Kalau besok?"Elizabeth bertanya lagi, kali ini nada suaranya merendah tiba-t

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06
  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 288. Bantuan dari Daniel

    "Om Daniel mau kan, antarkan kita dan Mama pulang? Exel dan Adik Pauline capek jalan kaki…" Exel mendongak menatap Daniel saat mereka hendak beranjak dari taman bermain. Mendengar permintaan anak laki-laki itu, Daniel pun langsung terkekeh. Ia mengusap pucuk kepala Exel dengan gemas."Tentu saja, tumben sekali Exel ... biasanya Exel akan marah saat Mama dekat sama Om," ujar Daniel pada anak itu. "Iya. Tapi kan sekarang karena Mama sedang membawa belanjaan, mengajak Exel dan Pauline, jadi kalau jalan kaki akan repot, Om," jelas anak itu. Daniel terkekeh mendengarnya. "Oh ... seperti itu?" Sementara Elizabeth hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja dengan tingkah Exel. Anak laki-laki itu mengajak adiknya masuk ke dalam mobil milik Daniel. Mereka pun bergegas pergi, Daniel mengantarkan Elizabeth pulang ke rumahnya. "Ma, nanti malam janji ya sama Exel dan Adik Pauline, kalau Mama mau telfon Papa," ujar Exel pada sang Mama. “Pokoknya Papa harus pulang! Papa kan tidak boleh lupa ha

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06

Bab terbaru

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 511. (PAULINE STORY) Pemilik Hatiku yang Sebenarnya

    Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 510. (PAULINE STORY) Hubungan yang Dulunya Retak, Kini Terjalin Kembali

    Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 509. (PAULINE STORY) Pauline, Bukalah Pintu Hatimu untuk Xander

    Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 508. (PAULINE STORY) Sebuah Restu

    Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 507. (PAULINE STORY) Sosok Laki-laki yang Setia

    Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 506. (PAULINE STORY) Sosok Papa yang Diinginkan Alicia

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 505. (PAULINE STORY) Alicia Ingin Punya Seorang Papa

    Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 504. (PAULINE STORY) Sosok Papa untuk Alicia

    Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja

  • Suamiku, Mari Akhiri Pernikahan Ini   Bab 503. (PAULINE STORY) Siapa Papanya Alicia?

    Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status