"Kamu siapkan saja presentasinya untuk meeting kita hari ini. Aku mau semuanya sudah siap."
Sayup - sayup kudengar Mas Aldo berbicara dengan seseorang. Entah Mas Aldo berbicara dengan siapa. Segera kutepuk pundak Mas Aldo. Seketika dia terkejut dan buru - buru mematikan ponselnya.
"Mas Aldo sedang berbicara dengan siapa?"
"Sayang kamu sudah bangun? Maaf tadi temanku yang menelepon."
"Kok langsung dimatikan mas. Memang jadi tukang ojol ada meetingnya ya mas."
Tampak wajah Mas Aldo berubah menjadi gugup. Namun setelah itu wajahnya kembali tenang.
"Oh itu ada donk sayang. Biasanya sesama ojol membicarakan tarif untuk para pelanggan agar mereka tidak kecewa nantinya."
"Memang ada ya seperti itu. Aku baru tahu mas. Ya sudah kita sholat Shubuh dulu yuk mas. Lalu kita kepasar. Takut keburu siang."
"Siap istriku."
Aku tak mau ambil pusing. Mungkin memang tukang ojol ada meetingnya. Akhirnya kami melaksanakan sholat Shubuh berjamaah. Setelah itu Mas Aldo mengantarkanku pergi ke pasar untuk membeli bahan - bahan membuat rendang. Sepulang dari berbelanja kami mampir ke warung soto langganan kami.
"Bang pesen dua mangkok ya, seperti biasa."
"Siap neng."
Dua mangkok soto panasdengan aroma yang menggiurkan sudah berada di hadapan kami. Tanpa banyak kata, aku dan Mas Ado melahap soto itu sampai habis. Tak lama kemudian datang seorang laki - laki berpakaian rapi dengan jas melekat di tubuhnya meghampiri meja kami.
"Selamat pagi Pak Aldo."
Mas Aldo menghentikan makannya dan melihat sosok laki - laki yang berpakaian rapi itu.
"Eh selamat pagi Pak Candra. Silahkan duduk. Sayang tolong pesankan soto satu lagi ya."
Aku pun menganggukan kepalaku dan segera menuju abang penjual soto itu. Samar - samar dari kejauhan, aku melihat mereka sedang terlibat pembicaraan serius. Namun karena jarajnya yang jauh, aku tak bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, laki - laki yang bernama Pak Candra itu mengeluarkan beberapa map dari dalam tasnya.
"Neng, mau pesan lagi?"
"Eh iya bang. Pesan satu lagi ya. Buat temannya mas Aldo."
"Oke siap neng. Sebentar lagi saya antar."
"Terima kasih bang."
Aku kembali berjalan menuju meja kami. Bisa kulihat Mas Aldo sedang serius membaca isi dari map itu lalu menandatanganinya. Sebenarnya siapa Pak Candra itu? Mengapa begitu hormat dengan suamiku?
"Mas, sudah ku pesankan sotonya."
"Eh iya sayang, terima kasih ya. Pak Candra makan dulu ya. Saya yakin anda belum sarapan kan?"
"Iya Pak ALdo. Terima kasih. Jadi merepotkan."
Kulihat Mas Aldo mengembalikan map itu kepada Pak Candra. Ingin aku bertanya namun nanti sajalah saat berada di rumah. Pak Candra pun mulai menghabiskan makanannya itu.
Tak lama kemudian Pak Candra pamit untuk pergi. Beliau mengucapkan terimakasih karena sudah diizinkan makan bersama. Namun aku tercengang kala melihat mobil mewah yang dinaiki beliau. Sebenarnya siapa Pak Candra itu? Lagi - lagi aku di buat penasaran dengan sosok laki - laki itu.
"Mas, Pak Candra orang kaya ya. Lihat saja mobilnya mewah sekali. Tapi beliau tak sombong karena mau diajak makan soto dipinggir jalan."
"Ya sayang, dia teman mas. Kamu mau naik mobil mewah itu. Kalau mau, nanti ku ajak naik mobil itu."
"Jangan mas. Mana pantas aku naik mobil itu. Terus kalau rusak gimana? Pasti biayanya mahal. Lagipula aku mabuk kendaraan mas."
"Hahaha...masa sih sayang. Tapi naik angkot kamu tidak mabuk?"
"Bedalah mas, mobil bagus sama angkot. Enak angkotlah, ac nya lebih alami."
Seketika Mas Aldo tertawa dan langsung mengajakku pulang. Mas Aldo harus segera berangkat narik ojol. Sedangkan aku harus segera mengolah rendang ini. Karena waktu memasak rendang cukuplah lama.
"Sayang, aku langsung berangkat ya. Takut kesiangan, nanti gak dapat duit lagi."
"Ya mas, hati - hati ya dijalan. Semoga hari ini banyak yang pesan ojol mas."
"Amin sayang, aku berangkat ya. Oh ya nanti sore mas sudah pulang. Mas akan mengantarkanmu ke rumah ibu."
"Siap mas, aku tunggu kepulanganmu."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Seperti biasanya, aku akan mencium punggung tangan suamiku. Mas Aldo akan membalasnya dengan langsung mencium keningku. Kami selalu melakukan hal itu agar rumah tangga kami tetap harmonis. Ku lambaikan tanganku ke arahnya saat mas Aldo sudah menjalankan motornya. Dalam hati aku berdoa semoga Mas Aldo selalu diberikan kesehatan, keselamatan, dan rejeki yang banyak.
Setelah motor mas Aldo menghilang, Aku bergegas menuju ke dapur untuk mengolah daging sapi ini menjadi rendang. Setelah membuat bumbunya, aku langsung memasaknya di wajan yang besar. Setelah bumbu itu tercium harum, kumasukkan santan di wajan itu. Dan yang terakhir daging sapi kumasukkan kedalam sana. Tinggal menunggu dagingnya empuk dan kuahnya menyusut. Dan tentu saja membutuhkan waktu berjam - jam.
Sembari menunggu daging matang, aku menuju ke kamar untuk mengambil cucian yang kotor. Setelah itu kumasukkan ke dalam mesin cuci. Kurogoh saku - saku celana, karena terkadang aku meninggalkan kertas atau tisu di dalam saku itu.
Giliran celana Mas Aldo, kurogoh sakunya terdapat bukti struk ATM penarikan. Kulihat ada penarikan sebesar 150.000. Kok nominalnya sama dengan uang yang diberikan Mas Aldo kemarin. Namun bukan itu yang membuatku terkejut. Sisa saldo rekening yang tertera di struk ATM itu membuatku membelalakkan mataku.
Ini kenapa angkanya banyak banget. Mulai kuhitung angka yang tertera pada struk ATM itu. Apa aku tak salah lihat. Dikertas itu tertera angka 23.547.165.175 . Itu artinya saldo ATM mas Aldo sudah puluhan milyar. Aku duduk termenung melihat tulisan di struk itu. Apa mungkin mesin ATM nya eror ya . Sebaiknya kusimpan kertas ini dan kutanyakan pada Mas Aldo nanti.Setelah semua pakaian sudah masuk ke mesin cuci, segera kuputar mesin itu. Dan berlanjut membersihkan rumah ini. Sejak aku menikah, Mas Aldo melarangku bekerja. Dia berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku. Karena tugas seorang suami memberikan nafkah untuk istrinya.Akhirnya aku menyetujui perintah Mas Aldo. Karena bagaimanapun juga statusku sekarang adalah seorang istri. Jadi sudah kewajibanku untuk menuruti semua perintahnya. Mas Aldo pun menepati janjinya. Dia selalu memberikan nafkah yang cukup untukku.Kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Rendang sapi buatanku juga sudah matang. Kupindahkan ke dalam kotak dan ku s
Aku tak menghiraukan tatapan tajam Mas Hendra. Aku mengajak Mas Aldo untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku bergegas ke dapur untuk memberikan rendang itu pada ibuku."Bu ini rendangnya."Kulihat ibu begitu kerepotan menyiapkan hidangan untuk menyambut keluarga mas Hendra. Sedangkan kulihat Mbak Sari bersantai sembari memainkan ponselnya. "Kamu lama sekali datangnya. Lihatlah aku kerepotan menyiapkan semuanya.""Bu, bukannya ada mbak Sari disini. Kenapa tak minta tolong padanya.""Jangan asal bicara kamu. Sari tak biasa mengerjakan ini semua. Yang ada dapurku akan berantakan jika dia berada di sini."Sejenak aku teringat saat ada arisan keluarga dulu. Ibu meminta bantuan mbak Sari untuk mencuci piring. Namun yang ada semua piring ibu pecah, karena mbak Sari tak becus membawanya. Sejak saat itu, mbak Sari tak diijinkan ke dapur. Entah bagaimana dia melayani suaminya, jika dia tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga."Aldo kamu bantu istrimu di dapur! Ibu mau mandi dulu.""Baik Bu."
Aku tak peduli dengan sikap Mama Hendra yang acuh padaku. Toh aku tak pernah berbuat salah pada beliau. Yang ada malah anaknya yang sudah tega menghianatiku. Segera kubawa minuman yang sudah kami siapkan sedari tadi di dapur. "Biar kubantu sayang."Tiba - tiba saja Mas Aldo sudah berada disampingku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aku membawa nampan berisi gelas - gelas. Sedangkan Mas Aldo membawa mangkok berisi es buah. "Bagaimana jeng, apa pernikahan anak kita jadi dilakukan di hotel bintang lima?""Terserah mereka saja jeng. Kami sebagai orang tua hanya bisa menurut saja. Bagaimana Hendra, apa kamu ingin dirayakan di hotel bintang lima? Secara kamu anak mama satu - satunya.""Jangan khawatir ma. Mas Hendra pasti setuju. Betulkan sayang? Lagipula pernikahan kita hanya terjadi sekali saja. Jadi aku ingin pesta pernikahan ini menjadi pesta pernikahan yang mewah.""Terserah kalian saja. Aku hanya mengikuti saja. Maaf aku kedepan dulu untuk merokok. Kalian bicarakan saja sem
"Sabar dong ma. Tinggal sebulan lagi ujian untuknya. Setelah itu aku akan membawanya kesana. Tolong mama mengerti keinginanku.""Ya... aku yakin dia akan lulus ujian ini ma. Aku harap mama bisa bersabar sedit lagi. Sudah dulu ya ma. Nanti kutelepon lagi. Aku tak mau rencanaku gagal."Segera aku berpura - pura bermain ponsel. Sebenarnya apa yang mas Aldo sembunyikan. Mas Aldo sedang menguji siapa. Lalu apa orang tua Mas Aldo sudah kembali kr Indonesia, setelah menjadi TKI di luar negeri?Teringat saat menikah dulu, keluarga Mas Aldo tak ada yang hadir. Mas Aldo beralasan jika kedua orangtuanya bekerja menjadi TKI diluar negeri. Karena kontrak kerja yang belum selesai, akhirnya mereka belum bisa pulang.Namun Mas Aldo beberapa kali melakukan video call dengan mamanya. Kulihat mamanya sangat cantik, dan papanya juga tampan. Entah mengapa mereka tak cocok menjadi seorang TKI. Bagaimana tidak, pakaian yang kulihat saat melakukan panggilan video call sangatlah mewah. Seperti bukan bekerja
Seketika ibu merebut sisa brownies yang aku pegang dan membuangnya di lantai. Lebih dari itu, bahkan ibu menginjak sisa brownies itu. Tak terasa air mataku menetes melihatnya. Ibu rela membuang kue ini daripada kumakan. "Kau mau makan brownies ini? Tuh ambil kuenya. Itu hukumanmu karena kamu begitu lancang mencuri kue ini. Aku lebih ikhlas kue ini jatuh kelantai daripada kau makan."Kutatap ibuku dengan tatapan tajamku. Mas Aldo berusaha menenangkanku. Kuhampiri ibu yang sudah melahirkanku itu."Apa lihat - lihat. Sudah tahu kau tak akan mampu membeli kue ini, sok - sok an memakannya."Dengan geram kuambil tasku. Kuambil 5 lembar uang berwarna merah dan kulemparkan kewajah ibuku. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku durhaka kepada ibuku ini. Tetapi hatiku sakit sekali, karena ibu sudah begitu melukai perasaanku."Siapa bilang Bu, aku tak bisa membelinya. Ambil uang ini Bu! Ambil!""Dasar anak kurang ajar, sini kau!""Ayo mas, kita pergi. Kita disini tak pernah dihargai. Yang ada kit
"Mas kenapa kita berhenti disini?""Kita makanlah sayang. Bukannya tadi kamu lapar?""Tapi mas, ini restoran mahal. Lihat saja yang datang kesini, mereka orang kaya semuanya."Bagaimana aku tak khawatir, kulihat diparkiran motor hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir . Mungkin semua motor ini milik karyawan restoran ini. Sedangkan disana penuh terpampang mobil - mobil mewah yang terpakir. "Kamu tenang saja. Aku dapat voucher makan gratis disini. Sayang dong kalau tidak di gunakan.""Oh ya... wah beruntung sekali ya kita bisa makan direstoran mewah ini.""Tentu dong sayang, ya sudah kita masuk yuk."Mas Aldo melepaskan helm yang kupakai dan menghapus sisa air mataku yang jatuh tadi. Aku seketika tersenyum merasakan perhatian mas Aldo."Jangan menangis lagi ya. Aku tak bisa melihatmu begini."Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah Mas Aldo. Hanya dia yang bisa membuat hatiku tenang saat ini.Mas Aldo langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam restoran ini. Tampak seor
"Mas, maafkan ibu ya. Seharusnya Mas Aldo jangan membaca pesan ini.""Ini sudah tak bisa dibiarkan sayang. Aku sudah cukup bersabar selama ini menerima hinaan ibumu. Waktunya kita tunjukan pada mereka, kalau mereka tak bisa lagi meremehkan kita.""Sudahlah mas, biarkan saja. Yang paling penting saat ini kan bagaimana perasaanku padamu. Apapun keadaan suamiku, aku akan menerimanya. Dan selamanya aku akan tetap mencintaimu.""Maafkan aku ya dek, belum bisa membahagiakanmu. Bahkan saat ini kita hanya tinggal di kontrakan yang sempit itu.""Asal tinggal bersamamu, dimanapun akan merasa nyaman mas.""Terimakasih ya sayang, sudah menerimaku apa adanya."Aku tersenyum dan langsung menggandeng lengan Mas Aldo. Mas Aldo mengajakku menunggu di depan, karena pelayan sedang membungkuskan makanan maish utuh. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawakan banyak kotak berisi makanan. Aku sedikit terkejut karena mereka membawa kotak makanan yang tidak sedikit."Pak Aldo ini pesanannya," beber
Karena Mas Aldo merengek terus, dengan terpaksa aku membuatkan sambal rujak untuknya. Tapi tentunya dengan cabe yang sedikit. Aku tak mau perutnya sakit karena memakan sambal rujak yang pedas.Tak lama kemudian aku hidangkan mangga muda itu beserta sambal rujaknya. Kulihat matanya berbinar - binar seperti saat melihat rujak mangga itu.Mas Aldo langsung menyantapnya dengan lahap. Aku begitu sangat terkejut saat melihat Mas Aldo memakan mangga muda itu begitu lahapnya. Mas Aldo seperti tak merasakan asamnya mangga muda itu. Aku mencoba mencicipi sedikit mangga itu. Namun baru satu gigit, bahuku sudah berkedik karena rasanya sangat asam sekali. Astaga mengapa Mas Aldo sangat lahap memakannya. Kulihat raut wajah suamiku berubah bahagia setelah menyantap mangga muda itu. Aku hanya berharap semoga saja Mas Aldo tidak sakit perut setelah ini.Aku melanjutkan kegiatanku memasak yang sempat tertunda. Sedangkan Mas Aldo sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mem
Barang yang diberikan oleh perawat itu adalah sebuah alat tes kehamilan. Aku tak asing dengan benda itu karena aku pernah membelinya untuk temanku. Apakah aku hamil saat ini?Namun aku tak ingin berharap dulu sebelum semuanya terbukti. Aku juga tak merasakan tanda - tanda kehamilan seperti temanku dulu. Seperti mual di pagi hari dan mengidam makanan tertentu. Tiba - tiba saja dokter itu melontarkan pertanyaan padaku."Boleh saya bertanya, kapan terakhir ibu haid?""Hmnn sekitar satu bulan lalu dok. Memang apa hubungannya dengan haid saya dok. Kan yang sakit suami saya," aku di buat bingung dengan ucapan dokter itu."Suster tolong antar ibu ini ya, untuk diperiksa urine nya.""Baik dokter."Suster mengantarkanku menuju ke kamar mandi. Aku tahu jika dokter menyuruhku melakukan tes kehamilan. Akhirnya aku menurut saja. Siapa tahu memang aku sedang dalam keadaan hamil.Suster memberikanku wadah untuk tempat urineku. Aku menurut dan melakukan apa yang di suruh suster itu. Setelah melakuka
Karena Mas Aldo merengek terus, dengan terpaksa aku membuatkan sambal rujak untuknya. Tapi tentunya dengan cabe yang sedikit. Aku tak mau perutnya sakit karena memakan sambal rujak yang pedas.Tak lama kemudian aku hidangkan mangga muda itu beserta sambal rujaknya. Kulihat matanya berbinar - binar seperti saat melihat rujak mangga itu.Mas Aldo langsung menyantapnya dengan lahap. Aku begitu sangat terkejut saat melihat Mas Aldo memakan mangga muda itu begitu lahapnya. Mas Aldo seperti tak merasakan asamnya mangga muda itu. Aku mencoba mencicipi sedikit mangga itu. Namun baru satu gigit, bahuku sudah berkedik karena rasanya sangat asam sekali. Astaga mengapa Mas Aldo sangat lahap memakannya. Kulihat raut wajah suamiku berubah bahagia setelah menyantap mangga muda itu. Aku hanya berharap semoga saja Mas Aldo tidak sakit perut setelah ini.Aku melanjutkan kegiatanku memasak yang sempat tertunda. Sedangkan Mas Aldo sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mem
"Mas, maafkan ibu ya. Seharusnya Mas Aldo jangan membaca pesan ini.""Ini sudah tak bisa dibiarkan sayang. Aku sudah cukup bersabar selama ini menerima hinaan ibumu. Waktunya kita tunjukan pada mereka, kalau mereka tak bisa lagi meremehkan kita.""Sudahlah mas, biarkan saja. Yang paling penting saat ini kan bagaimana perasaanku padamu. Apapun keadaan suamiku, aku akan menerimanya. Dan selamanya aku akan tetap mencintaimu.""Maafkan aku ya dek, belum bisa membahagiakanmu. Bahkan saat ini kita hanya tinggal di kontrakan yang sempit itu.""Asal tinggal bersamamu, dimanapun akan merasa nyaman mas.""Terimakasih ya sayang, sudah menerimaku apa adanya."Aku tersenyum dan langsung menggandeng lengan Mas Aldo. Mas Aldo mengajakku menunggu di depan, karena pelayan sedang membungkuskan makanan maish utuh. Tak lama kemudian datang beberapa pelayan membawakan banyak kotak berisi makanan. Aku sedikit terkejut karena mereka membawa kotak makanan yang tidak sedikit."Pak Aldo ini pesanannya," beber
"Mas kenapa kita berhenti disini?""Kita makanlah sayang. Bukannya tadi kamu lapar?""Tapi mas, ini restoran mahal. Lihat saja yang datang kesini, mereka orang kaya semuanya."Bagaimana aku tak khawatir, kulihat diparkiran motor hanya ada beberapa sepeda motor yang terparkir . Mungkin semua motor ini milik karyawan restoran ini. Sedangkan disana penuh terpampang mobil - mobil mewah yang terpakir. "Kamu tenang saja. Aku dapat voucher makan gratis disini. Sayang dong kalau tidak di gunakan.""Oh ya... wah beruntung sekali ya kita bisa makan direstoran mewah ini.""Tentu dong sayang, ya sudah kita masuk yuk."Mas Aldo melepaskan helm yang kupakai dan menghapus sisa air mataku yang jatuh tadi. Aku seketika tersenyum merasakan perhatian mas Aldo."Jangan menangis lagi ya. Aku tak bisa melihatmu begini."Aku pun mengangguk dan tersenyum ke arah Mas Aldo. Hanya dia yang bisa membuat hatiku tenang saat ini.Mas Aldo langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam restoran ini. Tampak seor
Seketika ibu merebut sisa brownies yang aku pegang dan membuangnya di lantai. Lebih dari itu, bahkan ibu menginjak sisa brownies itu. Tak terasa air mataku menetes melihatnya. Ibu rela membuang kue ini daripada kumakan. "Kau mau makan brownies ini? Tuh ambil kuenya. Itu hukumanmu karena kamu begitu lancang mencuri kue ini. Aku lebih ikhlas kue ini jatuh kelantai daripada kau makan."Kutatap ibuku dengan tatapan tajamku. Mas Aldo berusaha menenangkanku. Kuhampiri ibu yang sudah melahirkanku itu."Apa lihat - lihat. Sudah tahu kau tak akan mampu membeli kue ini, sok - sok an memakannya."Dengan geram kuambil tasku. Kuambil 5 lembar uang berwarna merah dan kulemparkan kewajah ibuku. Maafkan aku Ya Allah, bukan maksudku durhaka kepada ibuku ini. Tetapi hatiku sakit sekali, karena ibu sudah begitu melukai perasaanku."Siapa bilang Bu, aku tak bisa membelinya. Ambil uang ini Bu! Ambil!""Dasar anak kurang ajar, sini kau!""Ayo mas, kita pergi. Kita disini tak pernah dihargai. Yang ada kit
"Sabar dong ma. Tinggal sebulan lagi ujian untuknya. Setelah itu aku akan membawanya kesana. Tolong mama mengerti keinginanku.""Ya... aku yakin dia akan lulus ujian ini ma. Aku harap mama bisa bersabar sedit lagi. Sudah dulu ya ma. Nanti kutelepon lagi. Aku tak mau rencanaku gagal."Segera aku berpura - pura bermain ponsel. Sebenarnya apa yang mas Aldo sembunyikan. Mas Aldo sedang menguji siapa. Lalu apa orang tua Mas Aldo sudah kembali kr Indonesia, setelah menjadi TKI di luar negeri?Teringat saat menikah dulu, keluarga Mas Aldo tak ada yang hadir. Mas Aldo beralasan jika kedua orangtuanya bekerja menjadi TKI diluar negeri. Karena kontrak kerja yang belum selesai, akhirnya mereka belum bisa pulang.Namun Mas Aldo beberapa kali melakukan video call dengan mamanya. Kulihat mamanya sangat cantik, dan papanya juga tampan. Entah mengapa mereka tak cocok menjadi seorang TKI. Bagaimana tidak, pakaian yang kulihat saat melakukan panggilan video call sangatlah mewah. Seperti bukan bekerja
Aku tak peduli dengan sikap Mama Hendra yang acuh padaku. Toh aku tak pernah berbuat salah pada beliau. Yang ada malah anaknya yang sudah tega menghianatiku. Segera kubawa minuman yang sudah kami siapkan sedari tadi di dapur. "Biar kubantu sayang."Tiba - tiba saja Mas Aldo sudah berada disampingku. Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aku membawa nampan berisi gelas - gelas. Sedangkan Mas Aldo membawa mangkok berisi es buah. "Bagaimana jeng, apa pernikahan anak kita jadi dilakukan di hotel bintang lima?""Terserah mereka saja jeng. Kami sebagai orang tua hanya bisa menurut saja. Bagaimana Hendra, apa kamu ingin dirayakan di hotel bintang lima? Secara kamu anak mama satu - satunya.""Jangan khawatir ma. Mas Hendra pasti setuju. Betulkan sayang? Lagipula pernikahan kita hanya terjadi sekali saja. Jadi aku ingin pesta pernikahan ini menjadi pesta pernikahan yang mewah.""Terserah kalian saja. Aku hanya mengikuti saja. Maaf aku kedepan dulu untuk merokok. Kalian bicarakan saja sem
Aku tak menghiraukan tatapan tajam Mas Hendra. Aku mengajak Mas Aldo untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku bergegas ke dapur untuk memberikan rendang itu pada ibuku."Bu ini rendangnya."Kulihat ibu begitu kerepotan menyiapkan hidangan untuk menyambut keluarga mas Hendra. Sedangkan kulihat Mbak Sari bersantai sembari memainkan ponselnya. "Kamu lama sekali datangnya. Lihatlah aku kerepotan menyiapkan semuanya.""Bu, bukannya ada mbak Sari disini. Kenapa tak minta tolong padanya.""Jangan asal bicara kamu. Sari tak biasa mengerjakan ini semua. Yang ada dapurku akan berantakan jika dia berada di sini."Sejenak aku teringat saat ada arisan keluarga dulu. Ibu meminta bantuan mbak Sari untuk mencuci piring. Namun yang ada semua piring ibu pecah, karena mbak Sari tak becus membawanya. Sejak saat itu, mbak Sari tak diijinkan ke dapur. Entah bagaimana dia melayani suaminya, jika dia tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga."Aldo kamu bantu istrimu di dapur! Ibu mau mandi dulu.""Baik Bu."
Ini kenapa angkanya banyak banget. Mulai kuhitung angka yang tertera pada struk ATM itu. Apa aku tak salah lihat. Dikertas itu tertera angka 23.547.165.175 . Itu artinya saldo ATM mas Aldo sudah puluhan milyar. Aku duduk termenung melihat tulisan di struk itu. Apa mungkin mesin ATM nya eror ya . Sebaiknya kusimpan kertas ini dan kutanyakan pada Mas Aldo nanti.Setelah semua pakaian sudah masuk ke mesin cuci, segera kuputar mesin itu. Dan berlanjut membersihkan rumah ini. Sejak aku menikah, Mas Aldo melarangku bekerja. Dia berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku. Karena tugas seorang suami memberikan nafkah untuk istrinya.Akhirnya aku menyetujui perintah Mas Aldo. Karena bagaimanapun juga statusku sekarang adalah seorang istri. Jadi sudah kewajibanku untuk menuruti semua perintahnya. Mas Aldo pun menepati janjinya. Dia selalu memberikan nafkah yang cukup untukku.Kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Rendang sapi buatanku juga sudah matang. Kupindahkan ke dalam kotak dan ku s